Arsip Tag: Pendidikan Jepang

Bagaimana Melanjutkan S3 ke Luar Negeri?

Tulisan ini diilhami beberapa hal. Pertama, adanya kawan yang minta rekomendasi untuk sekolah ke luar negeri; kedua, teman yang bertanya tentang proses untuk bersekolah; ketiga, pertemuan dengan Ken Miichi Sensei yang juga menyinggung tentang kesempatan studi di Waseda; kelima, email Sensei beberapa waktu lalu yang minta rekomendasi tentang seorang pelamar; dan keenam, kamu. Ya tulisan ini dibuat untukmu 🙂

***

Tentu saja tulisan ini memiliki beberapa keterbatasan, utamanya pengalaman, waktu dan tempat studi saya. Saya mulai studi S3 di Jepun tahun 2012 dan selesai di tahun 2015. Pasti ada beberapa perubahan yang terjadi.

Baiklah kita mulai saja. Baca lebih lanjut

Iklan

Foto-foto Kunjungan Ke Sekolah Ayu dan Ilham

Hari ini mendapat kesempatan mengunjungi sekolah Ayu dan Ilham. Ya, pada waktu-waktu tertentu SD Negeri Yotouku memang mengundang orang tua untuk melihat langsung bagaimana anaknya dididik. Waktu kami datang Ayu sedang belajar di kelas, sementara Ilham sedang pelajaran berenang.

Ini sekolah dasar negeri gan.

Dengan membenahi tata kelola pemerintahan, memberantas korupsi dengan serius, mensejahterakan guru tanpa proses yang ribet (Ibu, alm.bapak, teteh2 saya guru), menjadikan pendidikan sebagai prioritas diatas semua yang lain, saya yakin kita juga bisa menjadikan SD Negeri kita tidak kalah dengan apa yang saya lihat hari ini. Semoga pemerintahan baru nanti memberikan kita optimisme untuk pembenahan pendidikan dasar kita.

Klik gambarnya biar besar 😉

Artikel terkait: Membangun manusianya.

Membangun Manusianya

Suatu ketika, saya pernah menulis status:

Screenshot 2014-07-05 07.32.36

 

 

 

 

Saat itu saya pulang dari kampus dalam kondisi sepi, hujan rintik-rintik, perut lapar, jalanan lengang, dan jelas tidak ada polisi lalu lintas. Saya ingat, sempat mempertimbangkan menerobos, namun akhirnya memilih menunggu saja lampu merah berubah warna menjadi hijau. Saya mencoba melawan diri sendiri yang ingin cepat sampai rumah, lekas makan makanan hangat, terbebas dari rintik hujan, apalagi tidak ada polisi.

Adalah sebuah keberuntungan saya bisa tinggal di Jepun untuk studi. Saya jatuh cinta kepada negeri ini sejak pandangan pertama datang pertama kali tahun 2008 untuk sebuah seminar. Bukan karena banyak gadis berkimono yang membuat saya takjub, tapi bagaimana manusia-manusia di sini berintegritas dalam hidup.

Ya, jika anda bertanya duluan mana ayam atau telor manusia atau sistem yang dibangun, saya sekarang sudah tahu jawabannya.  Jawabannya jelas: manusia. Manusia yang membentuk keluarga, komunitas, masyarakat, negara dan dunia. Walaupun secara simultan, sistem dibenahi.

Di sini kualitas manusia bisa dilihat dari tertib membuang sampah, cara berlalu lintas, etika menemukan barang hilang, dan sebagainya.

Bertahun lalu, Pak Uga Praceka, putra dari Ajip Rosidi yang tinggal di Kobe bercerita bahwa dia beberapa kali kehilangan dompet, dan selalu berhasil ditemukan lengkap dengan isinya, entah dikembalikan atau dia ambil ke kantor polisi. Istri saya pernah ketinggalan tas dalam bis kota, dan bisa kembali. Saya pernah kehilangan kamera DSLR bersama dua lensa, dan diselamatkan seseorang yang kemudian menitipkannya di kantor satpam kampus.  Oh ya, ini salah satu tulisan soal bagaimana polisi Jepun berinteraksi dengan masyarakat. 

Berkendara juga menarik, trotoar cukup lebar dan biasanya terbagi dua, sebagian untuk pejalan kaki, sebagian untuk sepeda. Menariknya, walaupun lebar dan datar, tak ada cerita trotoar dikuasai oleh pedagang kaki lima, mobil atau motor yang saling serobot seperti di trotoar sepanjang jalan raya kalibata di pagi hari. Trotoar tetap menjadi tempat yang nyaman, dimana pejalan kaki dan pesepeda saling menghormati.

2013-09-23 09.22.20

Saya dan keluarga seringkali menghabiskan waktu di sungai yang tak hanya bersih karena dirawat oleh pemerintah, tapi juga karena semua orang disana membawa pulang sampahnya. Ya, karena disana tidak ada tempat sampah. Jadi kami harus memasukkan sampah ke kantong plastik dan membawanya pulang, dimasukan ke tempat sampah di rumah masing-masing. Hal yang sama yang harus dilakukan di semua tempat publik lainnya.

Ini jelas soal manusianya.

Ini jelas hasil dari pendidikan. Pendidikan yang memanusiakan manusia.

Ya, saya bisa mengatakan itu, karena kedua anak saya masuk sekolah negeri di Jepun, dalam kondisi awal tidak bisa bahasa Jepun, termasuk buta huruf hiragana, katakana apalagi kanji.

Pertama saya dan keluarga datang ke Jepun, langsung mendapatkan KTP (Residence Card) di bandara. Tak pakai lama dan ribet, apalagi menyogok. Pokoknya keluar bandara, langsung pegang kartu itu.

Beberapa hari kemudian, kami mendaftarkan alamat di Sakyo Ward Office (Semacam Kecamatan), langsung dilayani, sekaligus mendaftar asuransi (semacam kartu Jepang Sehat yang kalau berobat di klinik semahal apapun cukup bayar maksimal 30%), mendaftar subsidi anak (anak dapat subsidi setiap bulan 10.000 yen/bulan, kartu penerima dikirim setiap tahun),  juga yang terpenting mendaftar sekolah Ayu.

Ya, tak ada keribetan, pihak Ward Office langsung melayani pendaftaran sekolah, menunjukkan alamat sekolah dasar terdekat yang harus didatangi dua hari kemudian. Tanpa ribet, tanpa harus lobby sana-sini, tanpa sogok.

Dua hari kemudian, kami ke sekolah, disambut oleh Wakil Kepala Sekolah dan beberapa guru, mengobrol hangat, ditanyakan berbagai preferensi (karena kami muslim), dan Ayu tentu saja langsung ditunjukkan kelas dan teman-temannya. Tak ada test calistung.

Tapi, apakah ada pembicaraan soal duit?

Ya, ADA. Kami diharuskan membayar biaya makan siang 4000 yen (monggo dikalikan 120 rupiah) setiap bulannya. Namun uang itu akan digantikan juga setiap bulannya, melalui skema subsidi, karena Abahnya Ayu berpendapatan kurang dari garis kemiskinan di Jepun. Malah ada subsidi macam-macam dari pemerintah kota dan provinsi yang secara berkala dikirim ke rekening kami.

Meminjam bahasa media, kami terpelongo. Menyekolahkan anak, bukannya keluar duit, malah dapat duit.

Sekolah Ayu juga menyediakan seorang Sensei yang mengajari bahasa Jepang setelah jam sekolah, seminggu dua kali. Gratis.

Ketika Ilham masuk SD Negeri selulus TK, prosesnya hampir sama. Tak ada keribetan berurusan dengan birokrasi. Aturannya jelas, anak masuk SD Negeri yang terdekat dengan tempat tinggal. Tak ada SD Negeri favorit, semua memiliki fasilitas standard: ruang kelas ber-AC, lapangan luas yang cukup bermain bola, kolam renang, dan perpustakaan yang baik.

Ya, ini jelas bukan hanya soal sistem, tapi juga soal integritas manusia yang menjalankan sistem. Kalau wakil kepala sekolah mau mbohongi, kami juga ndak tau toh?

Dari cerita Ayu tentang sekolahnya kami lantas belajar bagaimana integritas dibangun.

Dengan segenap kemajuan teknologi, anak-anak sejak sekolah dasar justru dibangun mental dan semangatnya, dan bukan dimanjakan.

13997910542_6bd1295941_b

Ini beberapa cerita dari sekolah Ayu dan Ilham:

  • Ayu dan Ilham harus berangkat jalan kaki ke sekolah, tak ada cerita diantar pake kendaraan atau ojek. 😉
  • Ayu dan Ilham bersama teman-teman sekolah kebagian membersihkan kelas (menyapu, mengepel, mengelap meja) bersama-sama setiap siang. Di jam tersebut, semua murid kelas 1-6 tanpa terkecuali harus beres-beres.
  • Ayu bercerita bahwa Kepala Sekolah memegang kunci sekolah, datang paling pagi dan pulang paling sore/malam. Oh ya, Kepala Sekolah juga harus mencicipi makanan yang disajikan untuk makan siang, menjamin tidak beracun.
  • Ayu secara berkala mendapat giliran kebagian mengurusi (mengambil, menyajikan dan membereskan) makan siang teman-temannya.
  • Sekolah memberi tanda di jadwal makan mingguan, mana saja makanan yang terkategorikan haram, sehingga Ayu dan Ilham membawa bento (bekal).
  • Kadangkala guru bahkan kepala sekolah datang ke Apato (rumah) kami hanya untuk menyapa, menyampaikan pengumuman, atau bahkan minta maaf. Ya, jam 8 malam, kepala sekolah pernah datang membungkuk berkali-kali minta maaf soal kesalahan menandai makanan mengandung babi di menu. itupun sebetulnya tak masalah karena Ayu dan Ilham tak memakannya setelah diberitahu guru.
  • Oh satu lagi, yang paling menyentuh adalah bagaimana anak-anak berkebutuhan khusus (di kelas khusus Himawari) diperlakukan dengan amat baik di sekolah. Dalam Undokai (Semacam porseni), bahkan guru dan anak Himawari berada dalam satu tim, melakukan kegiatan olahraga.
Ayu in Classroom

Ayu Beres-beres di Sekolah

Masih banyak cerita lain.

Tulisan ini tak hendak mengajak anda pindah ke Jepun. Kami juga akan pulang tahun depan dan anak-anak akan bersekolah di Indonesia.

Tulisan ini hanya mengingatkan bahwa jika kita mau, kita juga bisa membangun hal yang sama di negeri kita.

Ya, membangun manusianya.

Saya masih bermimpi bahwa sekolah bisa jadi tempat anak-anak belajar membangun integritas. Sekolah memiliki guru dan kepala yang berintegritas. Proses mendaftarkan juga berintegritas, sesuai aturan dan tidak ada main belakang.

Saya masih berharap bahwa di sekolah anak-anak belajar tentang menjadi manusia bertanggung jawab, membuang sampah pada tempatnya, menyayangi teman, menghormati guru dan orang tua.

Sekolah yang baik akan menghasilkan manusia yang baik sehingga kita bisa memiliki petani yang baik, nelayan yang baik, PNS yang baik, tentara yang baik, polisi yang baik, pengendara motor dan mobil yang baik, pedagang yang baik, menantu yang baik, pokoknya manusia yang baik.

Ini menjadi awal bagi terwujudnya harapan memiliki birokrasi dan polisi yang baik, sehingga berurusan dengan mereka bukanlah mimpi buruk karena harus menyiapkan uang terima kasih dan prosedur tidak jelas lainnya.

Ya, membangun manusianya.

Semoga kita dikaruniai pemimpin baru yang punya keinginan, program, dan kemampuan melakukan pembenahan manusia Indonesia. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

 

 

 

 

 

 

Sekolah Ayu dan Ilham

Saya jarang ke sekolahnya Ayu dan Ilham. Oh ya, sekarang mereka sekolah di tempat yang sama, Yotoku Shouggakou. Sekolahnya bukan sekolah swasta apalagi sekolah internasional, tapi sekolah negeri biasa yang tentu saja menggunakan pengantar bahasa Jepang.

Ayu yang kelas 3 menjadi Senpai-nya Ilham yang baru masuk. Proses pendaftaran Ilham masuk SD berlangsung dengan lancar. Pendaftaran dilakukan kolektif di TK nya berbasiskan lokasi rumah. Karena itulah sebagain besar teman TK nya Ilham masuk SD yang sama. Tidak ada rebutan kursi, titip-menitip atau sogok menyogok dalam penerimaan siswa baru.

Sekarang, setiap pagi Ayu dan Ilham berangkat bersama berjalan kaki. Mereka juga mendapatkan kelas tambahan bahasa Jepang, gratis dari sekolahnya. Tapi yang membuat saya senang, di sekolah mereka juga diwajibkan beberes (bahasa sunda artinya bersih-bersih), jadi sekitar lima belas menit setiap harinya semua murid membersihkan kelas bergotong royong.

Ayu dan temannya beberes di kelas

13997910542_6bd1295941_b

Bagaimana dengan biaya? Alhamdulillah gratis. Malah sebagai mahasiswa kismin, yang pendapatannya di bawah garis kemiskinan kami mendapat berbagai subsidi, mulai dari kodomo teate (subsidi anak), subsidi makan siang, dan beberapa lagi, baik dari kota maupun provinsi.

Biaya yang keluar hanyalah untuk membeli kebutuhan tertentu, seperti alat tulis (kecuali buku paket, karena gratis), pakaian olahraga, sepatu dalam ruangan dan baju berenang. Oh ya, kadangkala ada kebutuhan tertentu seperti pianika, recorder atau alat membuat kaligrafi yang mesti dibeli sendiri.

Nah, minggu lalu saya datang ke SD Yotoku untuk menghadiri Undokai. Undokai adalah kegiatan olahraga tahunan sekolah. Murid-murid dari kelas 1-6 dibagi kedalam tiga kelompok: Merah, Biru, dan Kuning. Setiap kelompok lantas bertanding dalam olahraga dan permainan tertentu: lari, lari halang rintang, memasukkan bola ke keranjang, tarik tambang, lari estafet, joget persembahan kelas-kelompok, dan lain-lain.    14195264853_459922c600_b

Setiap kelompok mengumpulkan point untuk kemudian mencari  juara tahun ini.

Selain nonton Undokai, saya menyempatkan berkeliling. Sekolahnya luas, seperti sekolah Nobita di film Doraemon. Selain ruang kelas, ada lapangan yang besar. Lapangan ini dipakai setiap harinya untuk berolahraga dan bermain. Jika hujan, anak-anak berolahraga di ruang serba guna yang juga bisa dipakai untuk pertunjukkan drama (Hapyokai) dan upacara penerimaan siswa baru.

14370923316_66a92f6aa8_b

Selain itu ada juga kolam renang. Nah, kolam renang ini digunakan hanya di musim panas, dimana anak-anak diwajibkan untuk berenang.

13988510250_d1e8e8dc79_b

Adanya lapangan dan kolam renang ini membuat saya berpikir bahwa aspek fisik nampaknya juga diperhatikan oleh pemerintah Jepang dalam pendidikan dasar. Gile, ini sekolah negeri, men. Adanya ruang yang cukup membuat anak-anak bisa berlari, main bola, bersepeda roda satu, berlatih senam ketangkasan, tanpa harus khawatir terserempet sepeda motor. Pantas Ayu dan Ilham nampak lebih sehat dan kuat.

14362724721_1492ee0e5a_b

Di sisi yang lain, ada kebun kecil dimana murid-murid mempelajari biologi. Oh ya, Ilham cerita, di kelasnya Ia sedang menunggu munculnya kupu-kupu keluar dari kepompong. Ia dan teman-temannya memelihara ulat sampai jadi kepompong dan nanti jadi kupu-kupu.

14195266793_38e89c9c9d_b

Lain hari Ayu cerita, untuk pelajaran IPS ia mesti berkeliling lingkungan sekitar sekolah untuk mencatat apa saja yang ada, dan kemudian membuat peta kawasan sekolahnya dan juga mewawancara orang dengan profesi tertentu. Ayu kebagian wawancara kasir di Family Mart. Oh ya, ini dia buku pelajarannya, kata Ayu IPS nya khusus tentang Kyoto saja, mungkin semacam Mulok begitu.

14195746998_24f5c71336_b

Oh ya, soal makanan sekolah amat membantu. Mereka menandai makanan yang dikategorikan haram dengan stabillo. Jadi di hari dimana ada stabillo, maka Anak-anak membawa bento. Nah, suatu hari jam 8 malam, Kepala Sekolah datang ke Apato kami. Ia membungkukkan badan beberapa kali meminta maaf karena lalai memberikan tanda pada jadwal makanan. Walaupun ternyata di sekolah, pada jam makan siang guru tersadar dan memberitahu Ayu dan Ilham untuk tidak memakan makanan yang mengandung butaniku tersebut. jadi sebetulnya tidak ada persoalan.

Menurut Ayu, (Koucho Sensei) kepala sekolah juga memegang kunci sekolah. Jadi Koucho Sensei lah yang membuka gerbang di pagi hari dan juga menutup gerbang sekolah di malam hari. Ia juga wajib mencicipi makanan yang disajikan untuk makan siang, menjamin anak-anak tidak keracunan.

Guru juga beberapa kali datang ke rumah, untuk mengobrol dengan orang tua tentang perkembangan anak. Guru mengatakan Ayu cukup berisik di sekolah dan butuh banyak belajar matematika. Gurunya Ilham menyampaikan kalau Ilham amat pendiam tapi sering dikelilingi teman-teman perempuannya karena hasil gambarnya bagus-bagus. Teman-temannya Ayu juga sering bilang kalau Ilham Kawaiii.

14171844311_9e01da67ec_b

Senang rasanya mendapatkan bahwa anak-anak saya sempat merasakan tumbuh di tempat yang baik. Walaupun seringkali kami menyampaikan juga realitas di negeri asal mereka, biar Ayu dan Ilham selalu bersyukur. Masih banyak anak SD yang bersekolah tanpa sepatu, banyak bangunan sekolah rubuh yang tak kunjung mendapat bantuan, ada anak sekolah yang mesti bergelantungan di kawat untuk sampai ke sekolah, atau Si Budi kecil yang mesti jualan koran untuk biaya sekolah.

Saya sampaikan ke anak-anak, bahwa negeri mereka bukan tak punya uang. Uang berlimpah, tapi dicuri orang-orang jahat dan serakah. Akibatnya banyak saudara-saudara mereka tak bisa bersekolah dengan baik. Ayu yang kebanyakan baca detik.com nampaknya mulai mengerti, sementara Ilham hanya mengangguk-angguk.

Semoga pemerintahan baru nanti punya komitmen tinggi terhadap dunia pendidikan dan bekerja keras sehingga anak-anak Indonesia bisa bersekolah dengan riang gembira. Seperti kata Ayu “Semoga kita nggak dapet Presiden berhati Jelek”

 

 

 

Kalau Anak Diculik

Ini ceritanya Ayu, anakku yang kelas 2 SD di Yotoku Shougaku. Pulang sekolah ia menceritakan bahwa ada tempat-tempat khusus bagi anak kecil untuk berlindung jika ada gelagat hendak diculik. Nama tempatnya こども110 番  (Kodomo 110 Ban). Ini sign tempatnya yang ternyata banyak ditemukan di pertokoan, Bank, atau tempat-tempat ramai lain. Ini dia beberapa:

2014-01-02 15.46.26 11729467114_7da2b8ed79_b 11729072515_bd5f97e114_b

Kepala Sekolah yang Mengatur Lalu Lintas

Sambil Brunch (breakfast and lunch)  sarden dan mengamati pergerakan Petisi Dosen Indonesia saya mau cerita.

Tadi pagi, habis Sholat subuh yang kesiangan Ayu cerita. Di sekolahnya, orang yang datang paling pagi adalah Kepala Sekolah dan Wakilnya. Lho kenapa? karena mereka yang bawa kunci.

Tadi pagi juga sempet ke sekolah Ilham. Ada acara pentas drama musikal dan Ilham pengen ditonton sama Abahnya. Di depan TK nya, yang mengatur lalu lintas parkir sepeda adalah kepala sekolahnya. Dia mengatur lalu lintas depan sekolah memegang bendera, memastikan semua aman dan menyapa murid-murid TK yang kecil-kecil itu.

Nah, begitu sampai di aula. Tiba-tiba Kepala Sekolah datang lagi ikut membantu mempersiapkan drama, memasang lilin, mengecek lampu, tirai, dsb. Acara mulai, ternyata Kepala Sekolah juga kebagian mendongeng, ia bercerita soal Rubah dan Babi.

Setelah beberapa lagu, dia muncul lagi memberi sambutan. He he, ajaib ya.

Oh ya, dulu waktu Undokai (pesta olahraga( dia juga ikut sibuk  angkat-angkat peralatan, nggak pake gengsi. Lha yang lain ngapain?

Sibuk juga, para guru menangani murid-murid (ada juga yang berkebutuhan khusus sehingga mesti dapat penanganan khusus), mengatur pergantian kostum, ada yang bermain piano, dan sebagainya.

Nah, penampakan si Bapak Kepala sekolah yang oleh Ilham dipanggil Encho Sensei tersebut terekam di street view google depan sekolahnya, lagi mengatur lalu lintas pagi-pagi. Ini saya capture-kan gambarnya.

Screen Shot 2013-12-20 at 11.25.02 AM

Jika Bapak/ Ibu jadi Rektor atau Kepala Sekolah, mau gak ngatur lalu lintas?

Sekolah Ayal di Kyoto

“Kalau di Indonesia, Aku pasti gak naik kelas”

(Ayal)

Ayal, demikian dia memanggil dirinya yang berambut Ikal. Singkatan dari Ayu Alia. Kadang-kadang Ayaru, karena orang jepang gak bisa huruf L. Dulu di Indonesia pernah dipanggil Mbak Aya, Ayu dan Alia. Tapi jangan sekali-kali memanggilnya Cantik, perdebatannya bisa panjang.

Sudah hampir enam bulan Ayu (panggilan kesayangan dari Aku) ikut Abah di Kyoto, pindah sekolah ke SD Yotoku (Yotoku 小学校 –Shougakkou). Yups, Ayu masuk ke sekolah publik di Kyoto. Proses sekolahnya dimulai ketika aku mendaftarkan keluargaku di Ward Office. Ayu karena usia sekolah langsung dicarikan sekolah oleh petugas disana. Kriteria sekolahnya sederhana: terdekat dari rumah. Tak ada urusan dengan biaya pendaftaran, test masuk, atau kewarganegaraan. Begitu terdaftar sebagai warga Kyoto (artinya punya residence card), negara menunaikan kewajibannya. Ayu yang berada di usia wajib belajar (compulsory), mesti sekolah. Ilham (Alias Iruhamu) sebagai anak pra SD, tidak bisa masuk ke Hoikuen (daycare punya negara) karena ibu-nya berstatus tidak bekerja, berarti musti masuk Yochien (private kindergarten). Dibawah ini gambar singkat soal compulsory education di Jepang.

illust_edu2

sumber: http://www.tokyo-icc.jp/guide_eng/educ/01.html

Nah kembali ke Ayu. Setelah proses di Ward Office beres, lusa-nya berangkatlah kami ke Yotoku 小学校. Oh ya, sebelumnya Oyamada Sensei-lah yang membuatkan janji dengan Kepala Sekolah. Sedangkan semua proses di Ward Office maupun sekolah dibantu sangat oleh Mihoko San, kawan di lab.

Pihak SD menyambut Ayu dengan hangat. Ayu langsung diperkenalkan ke kelas, teman-teman dan guru-nya. Ayu juga mendapatkan  pelajaran tambahan bahasa jepang seminggu dua kali. Gratis dari sekolah, dan muridnya cuma Ayu saja. Ternyata besoknya langsung mesti masuk, jadilah sore kami mencari perlengkapan: kaos olahraga, topi, alat bekal sekolah, sepatu dalam ruangan. Untunglah untuk  randoseru (tas khas anak SD), Ayu mendapatkan hadiah dari Bude Tari yang tinggal di Kobe. Oh ya, setiap bulan Ayu harusnya membayar 4000 yen untuk makan siang, namun kami dapat subsidi karena Abahnya mahasiswa beasiswa.

Besoknya, Ayu yang sama sekali tak bisa berbahasa Jepang masuk ke sekolah. Ini penampakan Ayu pertama kali masuk sekolah. Tampangnya masygul.

2012-11-15 08.32.41

Hari pertama Ayu diantar Ibun. Namun Ibun langsung dilarang masuk ke sekolah, sedangkan Ayu digandeng gurunya ke ruang kelas.

Ilham betul-betul merasa kesepian karena Ayu sudah mulai sekolah sedangkan Ilham masih mencari TK yang sesuai (dengan kantong Abahnya, he he). Jadilah ia semakin akrab dengan Miffy.

Seminggu pertama Ayu diantar Ibun. Seminggu selanjutnya dibuntuti dari jauh. Selanjutnya berangkat dan pulang sendiri, berjalan kaki. Alhamdulillah, semua berjalan lancar walaupun pernah nabrak tembok karena ngelamun.

So far, nyaris tak ada keluhan berarti dari Ayu, entah memang dia gembira ataupun memendam stress. Paling Ayu selalu curhat bahwa merasa digosipkan oleh teman-temannya. Aku sendiri memahami betul bahwa Ayu berjuang super keras baik dalam pelajaran maupun  dalam berinteraksi. Persoalannya memang soal bahasa. Awalnya Ayu tak mengerti apa-apa, namun sekarang pelan-pelan mulai paham (Nihongo-nya sudah lebih baik dari Abah). Tapi anehnya setiap hari ia selalu tak sabar bersekolah. Jam 8.15 pagi tepat Ayu sudah pasti berangkat dengan riang gembira.

Teman-temannya juga baik. Ada beberapa kawan yang sering diceritakan Ayu seperti Cindy, Yamaguchi atau Ayaka Chan (Ayu memanggilnya Aya Kacang). Beberapa mungkin penasaran dengan Ayu, sampai ada yang menemani (atau membuntuti ya?) Ayu pulang sampai ke Apato. Mungkin mereka heran, dari planet mana Ayu berasal?

Nah, selain bermain pianika,  kegiatan yang cukup sering adalah olahraga. jadwal olahraga seminggu dua kali. Ayu nampaknya mesti bekerja keras mengejar teman-temannya yang ramping-ramping (“mengejar”dalam arti sebenarnya lho). Anak-anak jepang nampaknya senang sekali beraktivitas di luar ruang. Walaupun rumahnya mungil-mungil, namun setiap sore meeka biasanya bermain di lapangan yang ada di setiap blok. Mirip lapangan tempat ngumpul Nobita dan kawan-kawan di film Doraemon.

Marathon di sungai Kamo menjadi salah satu ujian terberat Ayu. Untunglah, ekspresinya tak kalah dengan Jenny Rachman dalam Gadis Marathon.

Beberapa waktu lalu Ayu menerima raport. Raportnya dalam bahasa Jepun. Namun Sensei-nya menuliskan dalam bahasa Inggris untuk Ayu. Silahkan dibaca isinya:

raport aya 001

waaaah luar biasa. Isinya semua positif, menghargai dan memotivasi. Yoshida Sensei paham bahwa Ayu datang dari negara antah berantah ke Jepun hanya dengan modal semangat belaka. Semangat itulah yang dijaga olehnya agar tidak padam. Betul-betul pendidik sejati. Kini aku paham, kenapa Ayu selalu bersemangat sekolah setiap hari. 😉 Arigatou gozaimasu

***

NB: Oh ya, ungkapan di paling atas tulisan ini adalah ucapan spontan Ayu ketika kami bersama-sama membaca raportnya……..