Arsip Tag: jurnal terakreditasi

Edisi Lengkap dan Terbaru Jurnal Terakreditasi Dikti (Update 9 Juli 2018)

Dear rekan-rekan semua, bersama ini saya posting Jurnal Elektronik Terakreditasi edisi I 2018. Nah untuk kali pertama jurnal terakreditasi menggunakan sistem peringkat, I-6 dengan ratusan jurnal masuk ke dalam kategori terakreditasi.

Screenshot 2018-07-20 09.29.16Screenshot 2018-07-20 09.29.27

Mangga disimak

Baca lebih lanjut

Iklan

Panduan Akreditasi Jurnal Dikti

Siang ini seorang sahabat meminta saya mencarikan panduan akreditasi jurnal Dikti. Nah rupanya sulit sekali didapatkan, terutama yang terbaru. Jadilah saya membuat tulisan ini.

Panduan akreditasi jurnal mengacu kepada dua produk hukum, pertama adalah Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Nomor 49/DIKTI/Kep/2011. Tahun ini, akreditasi jurnal edisi cetak masih mengacu ke PerDirjen ini. Sebetulnya ada produk hukum terbaru, yaitu PerDirjen Dikti No. 1 tahun 2014. Akreditasi jurnal online mengacu ke produk hukum yang ini sesuai surat edaran Direktur Litabmas No. 0252/E5.4/HP/2015.
Screenshot 2015-09-07 13.37.41

Nah berikut silahkan disedot

  1. Surat Edaran Direktur Litabmas No. 0252/E5.4/HP/2015.
  2. PerDirjen Dikti No.49 tahun 2011
  3. PerDirjen Dikti No. 1 tahun 2014

Oh ya sebagai catatan, Dikti dan Lipi memang sedang mengusahakan sistem akreditasi tunggal. Selama ini (Baca: sampai saat ini) jurnal yang terakreditasi LIPI dikategorikan jurnal tidak terakreditasi oleh Dikti. Tapi sampai sekarang belum ada ketentuan bersama dari Dikti dan LIPI. Jadi akreditasi jurnal di perguruan tinggi tetap menggunakan panduan Dikti.

Oh ya, untuk mengetahui jurnal mana saja yang terakreditasi Dikti, silahkan dibaca daftar lengkap jurnal yang terakreditasi Dikti di sini.

Potensi Bahaya Dosen Menulis Paper di Jurnal dari Skripsi Mahasiswa

Lazada Indonesia
Judulnya sudah pas belum ya?

Hmm begini awal mula kenapa tulisan ini dibuat.

Awalnya adalah perbincangan dengan seorang kawan di tepi Kamo sambil makan liwet.

Ia menyampaikan bahwa banyak dosen yang mempublikasikan artikel di jurnal yang bersumber dari skripsi mahasiswa. Lho kok bisa?

Ya bisa, lha wong entah atas dasar wangsit dari mana ada kewajiban menulis jurnal bagi mahasiswa S1, S2 dan S3. Kewajiban ini berdasarkan SE152/E/T/2012.  Nah, SE-nya itu sampe nyebut-nyebut negara tetangga segala saking bersemangatnya, he he. (Sila unduh di sini)

Jadilah kemudian, tugas membimbing skripsi termasuk juga menjadikan skripsi tersebut ke dalam format artikel di jurnal dan diterbitkan, biasanya di jurnal milik internal kampus. Nah, di banyak kampus, nama pembimbing dimasukkan menjadi salah satu penulis. Jadi jika mahasiswanya namanya Udin, pembimbing 1 Durno dan pembimbing 2 Dasamuko, maka penulis dalam jurnal akan ditulis: Udin, Durno, dan Dasamuko.

Hal ini konon juga kelaziman di beberapa negara, di mana pembimbing tesis atau disertasi juga namanya ditulis sebagai penulis ke sekian, yang jelas tidak pertama.

Nah sekilas memang semua baik-baik saja. Banyak dosen menikmati benefit ini. Namanya tercantum di banyak publikasi yang notabene berasal dari skripsi mahasiswa. Jika IT kampus rajin dan publikasi2 tersebut dimasukkan ke dalam repository yang tersambung ke garuda dikti atau google, bisa jadi karya ilmiah yang diproduksi dengan cara begini lebih banyak dari yang betul2 ditulis sendiri.

Tapi teman saya tersebut mengingatkan, ada potensi persoalan besar, ini seperti pisau bermata dua. betul memang sekilas kuantitas tulisan banyak. Tapi bagaimana jika artikel jurnalnya tidak berkualitas? Bagaimana jika ada plagiasi dalam karya tersebut? Bagaimana jika proses pengeditannya tidak tuntas? Mengubah karya tulis dari format skripsi menjadi artikel jurnal tidak semudah menggunakan fitur find and replace kata “skripsi” menjadi “paper” atau “artikel”.

Jika hal-hal tersebut terjadi, kiamatlah karir sang dosen. Ia yang tak cermat memeriksa (karena load skripsi banyak) bisa tersangkut persoalan plagiarisme.  Plagiarism by accident. Mengerikan bukan?

Apa yang terjadi dengan salah satu artikel di jurnal Phinisi dimana masih ada kata-kata:“adapun permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah merupakan…”  adalah gunung es dari sekian banyak kasus yang saya yakin akan banyak terjadi.  Sila ke TKP di http://pak.dikti.go.id/portal/?p=193.

Screenshot 2015-06-13 11.16.05

Sumber:

Bisa jadi memang artikel tersebut tak berasal dari modus di tulisan ini, karena bisa jadi artikel di Phinisi memang didapatkan dari skripsi penulis duluuuu waktu S1, diambil begitu saja dari skripsi mahasiswa tanpa permisi atau menurut seorang kawan bisa saja diambil dari biro jasa pengerjaan skripsi. Fiuh.

Namun modus menjadikan skripsi sebagai artikel jurnal (yang dibenarkan dan legal oleh banyak kampus) dan kemudian menjadi bagian dari PAK berpotensi menimbulkan persoalan di kemudian hari dan membahayakan karir Bapak/Ibu Dosen.

jadi saya ingin mengatakan: Berhati-hatilah !
Lazada Indonesia

Jurnal Terakreditasi Periode I 2013

Dear Rekans, silahkan dapatkan Jurnal terakreditasi dikti terbaru, periode I 2013 disini. 

Jurnal akreditasi menjadi syarat bagi dosen yang hendak mengajukan jabatn fungsional lektor kepala.

Jurnal terakreditasi dikti periode sebelumnya bisa dilihat disini.