Arsip Tag: jurnal nasional terakreditasi

Edisi Lengkap dan Terbaru Jurnal Terakreditasi Dikti (Update 9 Juli 2018)

Dear rekan-rekan semua, bersama ini saya posting Jurnal Elektronik Terakreditasi edisi I 2018. Nah untuk kali pertama jurnal terakreditasi menggunakan sistem peringkat, I-6 dengan ratusan jurnal masuk ke dalam kategori terakreditasi.

Screenshot 2018-07-20 09.29.16Screenshot 2018-07-20 09.29.27

Mangga disimak

Baca lebih lanjut

Iklan

Meningkatkan Publikasi ilmiah Dosen Indonesia

Surat edaran dirjen dikti no 152/E/T/2012Β amat menggemparkan pada masanya. Betapa tidak, mahasiswa di Indonesia dipersyaratkan untuk menulis paper dan menerbitkannya di jurnal ilmiah. Mahasiswa S1 musti publish paper di jurnal ilmiah, mahasiswa S2 di jurnal nasional, utamanya yang terakreditasi dikti dan mahasiswa S3 di jurnal internasional.

Selain menggemparkan, edaran itu juga sekaligus menggelikan. Betapa tidak, alasan dalam edaran kenapa Indonesia mesti meningkatkan jumlah publikasi ilmiah adalah karena jumlah publikasi ilmiah di Indonsia masih sepertujuh dari jumlah publikasi ilmiah di Malaysia. Sayangnya tak ada lampiran yang menunjang klaim tersebut.

Oke-lah katakanlah klaim tersebut benar, lantas harus bagaimana?

Pertama, Dikti harus menghilangkan aturan yang mendorong dosen untuk TIDAK berkarya. Misalnya, selama ini, publikasi selama tugas belajar tidak bisa dihitung dalam Penghitungan Angka Kredit. Akibatnya, dosen-dosen yang sedang studi — terutama di luar negeri, memilih tidak melakukan publikasi ilmiah semaksimal mungkin. Mereka hanya melakukan publikasi sesuai syarat yang diminta kampus atau supervisor saja. Padahal sarana selama studi amatlah mendukung untuk menghasilkan publikasi internasional yang berkualitas. Akses ke sumber pustaka bermutu, waktu melakukan riset dan menulis, dukungan proof reading bahasa dan tentu saja ruang bekerja yang memadai. Sarana-sarana ini merupakan hal langka yang bisa didapatkan ketika lulus dan pulang ke tanah air. Tentu saja selama studi yang bisa ditulis bukan hanya paper dalam jurnal, tapi juga buku teks/ajar/referensi yang bermutu karena tersedianya sumber-sumber bacaan asli yang sukar ditemukan di perpustakaan di dalam negeri. Walaupun tentu saja publikasi yang diakui dikti tentu saja harus mencantumkan institusi asal di Indonesia. Percaya deh, jika Dikti menyatakan dalam aturan (sehingga tidak multitafsir) bahwa publikasi selama tugas belajar/izin belajar yang mencantumkan institusi asal di Indonesia dapat dihitung dalam penghitungan angka kredit, maka jumlah publikasi internasional dosen Indonesia akan melonjak tajam. Pun calon doktor yang studi di dalam negeri tak melakukan publikasi internasional hanya untuk melengkapi syarat kelulusan saja.

Tapi karena tak ada pengakuan untuk publikasi selama studi, maka sekali lagi dosen-dosen yang melakukan tugas belajar hanya melakukan publikasi ilmiah secukupnya saja, memenuhi permintaan kampus dan supervisor.

Aturan lain yang menghambat adalah adanya batas kepatutan terhadap jumlah publikasi ilmiah. Mengherankan Dikti malah membatasi jumlah publikasi ilmiah yang bisa dihasilkan Dosen. Dalam Pedoman Operasional Penilaian Agka Kredit (PAK) kenaikan jabatan Fungsional Dosen ke Lektor Kepala dan Guru BesarΒ , diterangkan bahwa MAKSIMAL jumlah publikasi dosen yang diakui dalam penghitungan PAK adalah: buku ajar/buku teks 1 buku per-tahun, diktat/modul 1 per-semester, buku monograf/referensi 1 buku per-tahun, paper di jurnal internasional 1 per-semester, paper di jurnal terakreditasi 1 per-semester, paper di jurnal nasional 2 per-semester, paper disajikan dalam seminar internasional 1 per semester, paper disajikan dalam seminar nasional 2 per-semester, dan sebagainya.

Batasan-batasan ini dalam prakteknya membuat dosen malas berkarya. Dosen cemerlang dan produktif tak mendapatkan insentif atas kerja kerasnya. Kadangkala paper-paper yang ditulis dan dikirim dalam waktu berbeda diterbitkan dalam satu semester atau bahkan bulan yang sama. Bukankah dosen tak mungkin mengontrol atau memaksa editor untuk menerbitkan paper kita sesuai rencana kita? “emang jurnal punya nenek moyang loe” begitu kira-kira kata editor.

Memang sih ada dosen senior yang berkata “jangan terlalu memikirkan kum, yang penting reputasi di dunia akademik” . Hmm nggak begitu juga kali, insentif itu bukan hanya duit, tapi penghargaan dan pengakuan terhadap hasil karya, serta kepastian bahwa karya kita yang dikerjakan serius berelasi dengan karir sebagai dosen. Jangan dipisah-pisah, sebagaimana dulu orang mengatakan bahwa pendidik adalah profesi tanpa tanda jasa sehingga kesejahteraannya selalu diabaikan.

Percaya deh sama saya, begitu batas kepatutan dihilangkan. Akan banyak publikasi-publikasi serius dari dosen-dosen Indonesia.

Kedua, Dikti seharusnya mendorong atau memaksa kampus-kampus untuk memiliki fasilitas dengan standar tinggi untuk melakukan riset. Fasilitas pertama adalah ruang kerja dosen yang memadai untuk berkonsentrasi menulis. Bukan soal mewah atau dengan fasilitas wah, tapi asal nyaman untuk membaca dan menulis dan tentu saja memiliki akses internet. Dalam beberapa tahun ini dosen di Indonesia sudah dituntut untuk masuk kerja jam 8 dan pulang jam 4 dan dikontrol dengan absen yang ketat bahkan pake finger-print. Diharapkan dosen bisa melakukan pekerjaannya di kampus, tak hanya mengajar, tapi juga menulis, membaca, melayani konsultasi mahasiswa, membimbing skripi/tesis/disertasi atau mengoreksi ujian.

Tapi apa daya, masih banyak kampus yang tak menyediakan ruang kerja, bahkan sekedar meja kerja untuk dosen. Akibatnya banyak dosen yang ke kampus hanya jam mengajar saja dan lebih nyaman bekerja di rumah karena di kampus tak kondusif bekerja, tapi kondusif mengobrol πŸ™‚

Fasilitas kedua adalah perpustakaan yang baik. Baik disini artinya menyediakan material yang dibutuhkan dalam riset, baik text book/referensi dan terutama jurnal-jurnal ilmiah terbaru. Pengembangan perpustakaan seharusnya menjadi proyek besar dikti untuk memastikan bahwa kualitas riset di kampus-kampus di Indonesia tidak kalah dengan kampus-kampus di luar negeri. Bagaimana bisa dosen di Indonesia dituntut menghasilkan paper di jurnal internasional bereputasi jika masih terhambat dengan lemahnya akses ke sumber-sumber bacaan terbaik?

Yups, tentu saja kreatifitas dosen di Indonesia memang tak ada tandingannya. Ada yang rajin mengunduh di internet, membangun komunitas file sharing digital dengan kawan-kawan dosen yang sedang studi di luar negeri, dan sebagainya.

Tapi bukankah negara kita sebenarnya punya cukup uang untuk (anggaran pendidikan 20% lho) untuk sekedar membuat perpustakaan yang baik dan berlangganan jurnal-jurnal terbaru?

Hmm ini ideku untuk membuat publikasi ilmiah internasional di Indonesia meningkat baik kualitas dan kuantitasnya.

bagaimana menurutmu?