Arsip Tag: jurnal internasional

Beberapa Pertanyaan tentang Jurnal Internasional

Dalam beberapa waktu ini saya menerima cukup banyak email yang berkonsultasi (Baca: mengajak diskusi) tentang jurnal internasional. Alhamdulillah, ada juga yang percaya sama (tulisan di blog) saya, he he. Padahal saya newbie dalam penulisan di jurnal internasional, baru punya empat tulisan sahaja itupun banyak dibantu orang2 hebat. Beberapa waktu lalu saya juga terlibat diskusi cukup seru soal jurnal internasional dengan Pak Darwis di ruang dosen.

Nah, secara bersamaan hari senin lalu saya beruntung ikut pelatihan tentang jurnal internasional di FISIP Untirta. Lumayan merefresh beberapa hal. Namun ada beberapa hal yang nampaknya menjadi isu-isu penting dalam kaitannya dengan jurnal internasional baik disampaikan melalui beberapa email japri ke saya maupun berkembang dalam diskusi kemarin dan belum terbahas secara mendalam.

Kemarin saya memilih lebih banyak menjadi pendengar yang manis, namun beberapa isu tersebut akan saya coba ulas dalam tulisan di blog ini. Metodenya seperti metode di buku2 jaman baheula dan kitab2 pesantren. Tanya jawab šŸ˜‰

Pertanyaan pertama. Apakah jurnal yang diindeks oleh Thompson reuters lebih tinggi nilainya daripada jurnal yang diindeks oleh Scopus.

Lebih tinggi dalam pertanyaan ini merujuk kepada penghitungan akngka kredit. Maklumlah aktivitas (dan karier) dosen banyak ditentukan oleh hal ini. Wajar, namun tentu tak boleh semata-mata karena angka kredit bukan? Mesti berangkat dari keinginan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan.

Namun saya menjawabnya dalam konteks kacamata sistem dikti sahaja.

Pada dasarnya Dikti mengkategorikan jurnal kedalam empat kasta, dan masing-masing memiliki nilai angka kredit yang berbeda.

a. Jurnal Nasional

b. Jurnal Nasional Terakreditasi

c. Jurnal Internasional

d. Jurnal Internasional Bereputasi

Jurnal nasional adalah jurnal yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: (1) Karya ilmiah ditulis dengan memenuhi kaidah ilmiah dan etika keilmuan (2) Memiliki ISSN (3) Memiliki terbitan versi online (4) Bertujuan menampung/mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian ilmiah dan atau konsep ilmiah dalam disiplin ilmu tertentu  (5) Ditujukan kepada masyarakat ilmiah/peneliti yang mempunyai disiplin-disiplin keilmuan yang relevan. (6) Diterbitkan oleh Penerbit/ Badan Ilmiah/ Organisasi Profesi/ Organisasi Keilmuan/ Perguruan Tinggi dengan unit-unitnya. (7) Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia dan atau Bahasa Inggris dengan abstrak dalam Bahasa Indonesia. (8) Memuat karya ilmiah dari penulis yang berasal dari minimal dua institusi yang berbeda  (9) Mempunyai dewan redaksi/editor yang terdiri dari para ahli dalam bidangnya dan berasal dari minimal dua institusi yang berbeda. Nah angka kredit bagi tulisan di jurnal nasional adalah 10 sedangkan  tulisan di jurnal nasional yang memenuhi kriteria di atas dan terindeks oleh DOAJ (https://doaj.org/)   diberi nilai yang lebih tinggi dari jurnal nasional yaitu maksimal 15.

Jurnal nasional terakreditasi adalah majalah ilmiah yang memenuhi kriteria sebagai jurnal nasional dan mendapat status terakreditasi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dengan masa berlaku hasil akreditasi yang sesuai. Btw database Jurnal Terakreditasi Dikti yang masih berlaku bisa dibaca di: https://abdul-hamid.com/2015/05/01/edisi-lengkap-dan-terbaru-jurnal-terakreditasi-dikti/.

Jurnal internasional adalah jurnal yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: (1) Karya ilmiah yang diterbitkan ditulis dengan memenuhi kaidah ilmiah dan etika keilmuan (2) Memiliki ISSN. (3) Ditulis dengan menggunakan bahasa resmi PBB (Arab, Inggris, Perancis, Rusia, Spanyol dan Tiongkok). (4) Memiliki terbitan versi online. (5) Dewan Redaksi (Editorial Board) adalah pakar di bidangnya paling sedikit berasal dari 4 (empat) negara. (6) Artikel ilmiah yang diterbitkan dalam 1 (satu) terbitan paling sedikit penulisnya berasal dari 4 (empat) negara. (7) Terindek oleh database internasional: Web of Science, Scopus, Microsoft Academic Search, dan/atau laman sesuai dengan pertimbangan Ditjen Dikti.

Nah jadi jelas, bahwa ada tiga database yang sampai sekarang digunakan Dikti yaitu: Web of Science (Thomson Reuters), Scopus, Microsoft Academic Search. Adapun laman lain yang digunakan Dikti antara lain http://www.scholarlyoa.com untuk memastikan apakah sebuah jurnal merupakan predator atau tidak.

Yag menentukan besar tidaknya nilai angka kredit bukan soal di indeks mana sebuah jurnal bisa ditemukan, tapi apakah tulisan tersebut memiliki faktor dampak (impact factor) dari ISI Web of Science (Thomson Reuters) atau Scimago Journal Rank (SJR) dari Scopus.

Jurnal internasional bereputasi adalah jurnal yang memenuhi kriteria jurnal internasional di atas, dengan kriteria tambahan terindek pada Web of Science dan/atau Scopus serta mempunyai faktor dampak (impact factor) dari ISI Web of Science (Thomson Reuters) atau Scimago Journal Rank (SJR) mempunyai urutan tertinggi dalam penilaian karya ilmiah dan dinilai paling tinggi 40.

Impact factor didefinisikan sebagai:

…….Average number of times articles from the journal published in the past two years have been cited in the JCR year. (http://admin-apps.webofknowledge.com/JCR/help/h_glossary.htm#JCR_year_g)

Sementara SJR didefinisikan sebagai

The SJR indicator measures the scientific influence of the average article in a journal, it expresses how central to the global scientific discussion an average article of the journal is. Cites per Doc. (2y) measures the scientific impact of an average article published in the journal, it is computed using the same formula that journal impact factor ā„¢ (Thomson Reuters). (http://www.scimagojr.com/journalsearch.php?q=28773&tip=sid&clean=0)

Sehingga tidak benar kalau jurnal yang terindeks Thomson Reuters lebih tinggi daripada jurnal terindeks Scopus karena posisi Impact factor dan Scimago Journal Rank adalah sama, sama-sama dapat dinilai paling tinggi 40.

Namun lebih jelasnya dalam konteks penghitungan angka kredit ketentuannya adalah:

(1) Jurnal yang memenuhi kriteria jurnal internasional pada butir 8 dan terindek oleh database internasional (Web of Science, Scopus, atau Microsoft Academic Search) namun belum mempunyai faktor dampak (impact factor) dari ISI Web of Science (Thomson Reuters) atau Scimago Journal Rank (SJR) dalam penilaian karya ilmiah dan dinilai paling tinggi 30.

(2) Jurnal yang memenuhi kriteria jurnal internasional pada butir 8 yang belum terindek pada database internasional bereputasi (Web of Science, Scopus, atau Microsoft Academic Search) namun telah terindek pada database internasional seperti DOAJ, CABI, Copernicus, dan/atau laman sesuai dengan pertimbangan Ditjen Dikti dan dapat dinilai karya ilmiah paling tinggi 20.

Pertanyaan kedua. Jika saya memasukkan paper ke sebuah konferensi yang menjanjikan tulisannya terbit di jurnal, bagaimana memastikan jurnalnya berkualitas atau tidak?

Mesti dipahami bahwa tujuan mengikuti konferensi pada hakikatnya adalah untuk menyampaikan progress hasil penelitian dan mendapatkan feedback dari pembicara/peserta yang hadir. Nah karena itulah paper yang disampaikan tidak bersifat final dalam arti masih terbuka kepada berbagai masukan dan kritik. Masih bisa meluas, menyempit atau malah dibongkar.

Nah, proceeding adalah kumpulan dari paper-paper yang dipresentasikan (Internasional angka kreditnya 15, nasional 10) dalam sebuah konferensi.

Jika kemudian paper-paper tersebut hendak dipublikasikan dalam sebuah jurnal, maka proses penerbitannya sesungguhnya tidak berbeda dengan proses memasukkan kedalam jurnal seperti biasa. paper yang telah dipresentasikan diperbaiki berdasarkan berbagai masukan dan kritik kemudian dikirimkan ke pengelola jurnal. Walaupun bisa saja pihak panitia konferensi/panel bekerjasama dengan satu penerbit jurnal tertentu untuk menerbitkan satu edisi jurnal.

Jika jurnalnya merupakan jurnal edisi khusus, maka penilaiannya sama dengan jurnal internasional di atas (baca jawaban nomor satu) namun tidak bisa digunakan untuk memenuhi persyaratan khusus (Misalnya syarat khusus menerbitkan tulisan di jurnal internasional bereputasi sebagai calon guru besar).

Nah mengetahui predator atau bukan, gampangnya adalah memastikan apakah jurnal atau penerbitnya masuk kedalam daftar di http://scholarlyoa.com/publishers/. Kriteria jurnal predator versi Jeffrey Beal bisa dibaca di sini: https://scholarlyoa.files.wordpress.com/2015/01/criteria-2015.pdf.

Yups terdapat banyak debat soal predatory journal ini, namun ciri yang paling mudah adalah proses review yang tak masuk akal (bahkan mungkin tapa proses review langsung accepted) dan juga fee yang tidak masuk akal, mahal dan beberapa minta dibayarkan sebelum sebuah jurnal dinyatakan accepted (baca: processing fee). Beberapa kriteria lain juga adalah juga ketidakjelasan editorial board dan institusi. Sebagai contoh misalnya, beberapa bulan lalu seorang kawan pernah menanyakan jurnal yang dari namanya seakan-akan berafiliasi dengan Oxford University.

Screenshot 2015-10-13 11.17.33

Menurut penelusuran saya akhirnya saya menemukan bahwa jurnal tersebut tidak berafiliasi dengan Oxford University dan dikategorikan sebagai “Potential, possible, or probable predatory scholarly open-access publishers” oleh Jeffrey Beal.

Nah ketika hari ini saya mengecek laman jurnal tersebut, ternyata hasilnya:

Screenshot 2015-10-13 11.21.41

Ndilalah nama publisher beserta lamat websitenya telah berubah. Saya sendiri tak mengikuti apakah karena pihak Oxford melakukan protes. Ini dia website terbarunya.
Screenshot 2015-10-13 11.17.49

Nah satu masalah lagi ada di pertanyaan ketiga. Bagaimana menghadapi jurnal predator yang ternyata terindeks di Scopus atau Thomson Reuters?

Saran saya: lupakan saja, cari yang lain. OASP/Oxford ASP di atas juga mengaku (saya ndak mengecek) bahwa mereka terindeks Thomson Reuters.

Dan dalam kacamata Dikti, sepertinya jurnal yang terindikasi predator tak dapat dinilai walaupun mereka terindeks scopus/Thomson reuters.  Saya pernah mengikuti perdebatan (baca: komplain) dari seorang calon guru besar yag merasa karya tulisnya terindeks scopus namun ternyata masuk kedalam list predatory journal juga sehingga tidak bisa dinilai.

***

Nah biasanya sahabat saya protes: “Mid kok elu kayak juru bicara Dikti atau Gubermen aja”

Saya menjawab: “Biarin ah, gw cuma mau meluruskan banyak tahayul”

Sumber:

Antara lain Pedoman Operasional PAK Dosen.

Serang, 13 Oktober 2015. Sambil menunggu Ketoprak.

Iklan

Akses Jurnal via E-Resources Perpustakaan Nasional RI

Malam ini saya berpikir, akses saya ke berbagai jurnal internasional melalui Doshisha University akan berakhir satu bulan lagi. Berarti saya akan segera bertemu persoalan klasik akademisi Indonesia, terbatasnya akses ke sumber2 bacaan berkualitas.

Hmm dalam beberapa waktu ini saya akan menyiapkan (dan membagi) akses ke jurnal dari beberapa sumber. Tulisan pertama ini tentang e-resources Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI/Perpusnas) yang sebetulnya menyediakan berbagai akses ke jurnal internasional, buku elektronik, dan sebagainya. Sebetulnya sudah lama saya jadi anggota, namun agak jarang digunakan. Pernah sekali ketika butuh buku terbitasn ISEAS SIngapore, akses perpusnas ini membantu sekali karena buku2 ISEAS yang mihil2 bisa dibaca versi elektroniknya, walaupun gak bisa disimpen pdfnya. Kalau untuk jurnal tentu saja bisa disimpan full text pdfnya.

Hmm ini dia cara akses e-resurces PNRI

  1. Masuk keĀ http://e-resources.perpusnas.go.id/, lakukan pendaftaran jika belum terdaftar melaluiĀ http://keanggotaan.pnri.go.id

Screenshot 2015-08-31 21.43.39 Screenshot 2015-08-31 21.43.59

  1. Setelah terdaftar, konfirmasi via email, maka anda bisa melakukan login kembali di halamanĀ http://e-resources.perpusnas.go.id/
  2. Nah setelah login ini dia tampilannya, anda bisa memulai melakukan penelusuran jurnal dan buku eletronik

Screenshot 2015-08-31 21.44.33

Screenshot 2015-08-31 21.45.23

Nah, jika ada masalah, admin Perpusnas siap membantu:

Via email :Ā layanan_eresources@pnri.go.idĀ (sebutkan Nama dan nomor anggota anda).
Call Center Jasa Layanan Perpusnas :Ā 0800-1-737787

Oh ya jika anda dosen ber-NIDN bisa juga mengakses jurnal via simlitabmas.

Jurnal yang Diragukan Dikti (?)

Dikti memiliki mekanisme tentang jurnal yang “perlu dipertimbangkan” untuk kenaikan pangkat/ jabatan dosen. Misalnya ada yang disebut sebagai Ā jurnal palsu baik nasional maupun internasional. Selain itu ada jurnal internasional “meragukan”, Dikti – salah satunya — menggunakan list Jeaffrey Beal sebagai acuan.

Niatnya sih baik, maklum ada saja dosen nakal yang menggunakan sejumlah cara tak halal untuk naik pangkat, termasuk menggunakan jurnal, palsu, bodong atau rakitan. Namun penggunaan database tertentu tanpa cross-check tentu saja bisa membuat masalah baru. Misalnya dalam kolom komentar di halaman ini (http://pak.dikti.go.id/portal/?p=41.), terdapat banyak dosen yang mengeluh karena tulisannya berada di jurnal yang berada dalam database “meragukan” padahal menurut mereka Ā (penulis-nya) cukup bereputasi.

Di sisi lain Dikti juga misalnya amat memfavoritkan databaseĀ Ā ISI Knowledge -Thomson Reuter (USA ),Ā SCOPUS (Netherland), (http://www.scimagojr.com) danĀ Microsoft Academic Search,( http://academic.research.microsoft.com), tanpa mempertimbangkan apakah semua bidang ilmu tercakup di database tersebut. Untuk masalah ini silahkan klik disini (Saya akan buat tulisan sendiri soal ini)

Parahnya, Microsoft academic research sebetulnya masih berstatus “beta”, jadi masih amat meragukan sebagai referensi database jurnal ilmiah. Saya sendiri mencoba mencari Journal Indonesia dari Cornell University (http://seap.einaudi.cornell.edu/indonesia_journal) yang reputasinya tak diragukan dalam kajian Indonesia, tak ditemukan di ketiga database tersebut.

Mestinya Dikti bisa membangun database sendiri dengan ahli dari berbagai bidang ilmu dengan kriteria tersendiri, katakanlah Profesor yang menjadi editor di jurnal bereputasi.

Silahkan dibaca suratnya dibawah ini tentang Jurnal yang “perlu dipertimbangkan”, disalin-ulang dari halamanĀ http://pak.dikti.go.id/portal/?p=41.:

Kami informasikan kepada para dosen pengusul/calon pengusul kenaikan pangkat/jabatan akademik dosen, terkait jurnal palsu yang tidak boleh dipergunakan dalam usulan serta informasi tentangĀ questionable journalĀ yang perlu diketahui dan diwaspadai.

A. Jurnal Palsu Berdasarkan Surat Direktur Diktendik
Pada tahun 2012, Direktur Diktendik mengeluarkan surat resmi tertuju pada tiga pengelola jurnal Nasional (JAM, Didaktika, dan Agritek. Surat-surat tersebut menginformasikan kepada pengelola bahwa jurnal tersebut tidak lagi dinilai untuk kenaikan pangkat/jabatan akademik dosen. File surat dan tampilan jurnal-jurnal tersebut dapat diunduh melalui halaman ā€˜Ketentuan PAKā€™ atauĀ klik disini.

B. Jurnal Nasional tidak Terakreditasi dan Meragukan
Beberapa jurnal nasional tidak terakreditasi dan tergolong meragukan, antara lain:

  1. PERCIKAN, Ikatan Keluarga Besar Universitas Jambi (IKBUJ) ā€“ Bandung
  2. INOVASI, Jurnal Kajian Pendidikan, Jurnal Himpunan Mahasiswa dan Alumni Pasca Sarjana asal SUMUT
  3. Aktualita, Kantor KPN ā€“ Bung Kopertis Wilayah IX Sulawesi
  4. PROSPEK, Kantor Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta Wilayah IX Sulawesi
  5. IQRA Journal Ilmiah LP2S UMI
  6. Jurnal Tadulako, Alamat : Jl. Sekeloa Gg. Loa II RT 01 RW 02 Bandung

File tampilan jurnal nasional yang tidak terakreditasi dan dinilai meragukan dapat diunduh melalui halaman ā€˜Ketentuan PAKā€™ atauĀ klik disini.

C. Jurnal Internasional Palsu
File tampilan jurnal internasional palsu dapat diunduh melalui halaman ā€˜Ketentuan PAKā€™ atauĀ klik disini. Beberapa diantara jurnal internasional palsu tersebut antara lain:

  1. International Journal of Business and Social Science (USA)
  2. Asian Social Science (Canada)

D. Questionable Journals
Karya ilmiah di jurnal internasional yang diusulkan dalam kenaikan jabatan akan di periksa apakah terindeks di laman Thomson ISI Knowledge atau di Scopus SJR Journal Ranking atau Microsoft academic search. Apabila ditemukan di salah satu laman tersebut maka akan memenuhi kriteria sebagai jurnal internasional. Bila karya ilmiah tidak ditemukan disalah satu laman tersebut maka akan di periksa di lamanĀ scholarlyoa.com/publishers/Ā danĀ scholarlyoa.com/individual-journalsĀ yang memberikan informasi tentang publisher dan jurnal-jurnal meragukan (questionable journal). Dilaman ini juga dijelaskan alasan mengapa suatu jurnal sebagai jurnal meragukan. Bila jurnal yang diusulkan tidak pernah ditemukan sebagai jurnal yang tidak patut dalam penilaian Tim PAK maka jurnal yang diragukan tetap dinilai tetapi karya ilmiahnya tidak dapat dijadikan pemenuhan syarat kenaikan jabatan ke Guru Besar atau kenaikan jabatan ke Lektor Kepala dalam masa mukim 1-3 tahun. Jika jurnal meragukan tersebut telah ditemukan oleh Tim PAK dan ada hal-hal yang tidak patut, contohnya ada karya ilmiah di suatu jurnal internasional dibuat dari suatu template karya ilmiah dan lupa di delete maka jurnal tersebut tidak dinilai.

Oleh karenanya, disarankan berhati hati untuk melakukan publikasi karya ilmiah dalam jurnal yang meragukan .

LamanĀ fakejournals.wordpress.comĀ menampilkan daftar jurnal yang di curigai palsu di bidang Computer Science dan sebaiknya berhati hati bila akan mempublikasikan karya ilmiah.

Daftar publisher yang terdapat di dalamĀ laman iniĀ merupakan contoh publisher yang diragukan. Oleh karenanya, sebaiknya dosen berhati hati jika akan publikasi artikel ilmiah di jurnal tersebut. Salah satu contoh daftar yang ada di dalam laman tersebut adalahĀ Beallā€™s List of Predatory, Open-Access Publishers by Jeffrey Beall 2012 EditionĀ yang selalu diupdate oleh beliau (klik judul untuk detail).

Beberapa contoh publisher yang diragukan:

  1. David Publishing Company
  2. IJENS
  3. Dove Medical Press

Di dalam website tersebut juga terdapat artikel yang perlu kita cermati, berjudulĀ Criteria for Determining Predatory Open-AccessĀ Publishers.

Selain itu di dalamĀ laman iniĀ berisi daftar jurnal palsu di bidangĀ Computer Science.

Informasi tentang Laman Acuan Jurnal Ilmiah

Repost dariĀ Ā :Ā http://pak.dikti.go.id/portal/?p=115

Sebagai informasi, Kami sampaikan beberapa laman yang sering diacu oleh jurnal ilmiah:
1. ISI Knowledge -Thomson Reuter (USA )
2. SCOPUS (Netherland), http://www.scimagojr.com
3. Microsoft Academic Search, http://academic.research.microsoft.com
4. Ulrichā€™sPeriodicals Directory (Proquest)
5. Academic Search Complete (EBSCO)
6. Zentralblatt MATH ( Springer ā€“ Verlag)
7. DOAJ (Lund University Swedia)
8. Peridoque (EP Lausanne Switzerland)
9. SHERPA/RoMEO (Nottingham University, UK)
10. Index Copernicus(Poland)
11. Google Scholar

Informasi terkait dengan laman-laman di atas adalah sebagai berikut:

  1. Nomor 1, 2 dan 3Ā dipakai sebagai acuan oleh Tim PAKĀ untuk melihat apakah sebuah jurnal dikategorikan sebagai jurnal internasional bereputasi.
  2. Nomor 4,5 dan 6 tidak memberikan informasi pemeringkatan jurnal.
  3. Di laman no 7 DOAJ dalam Tahun 2013, jurnal terbitan Indonesia yang masuk dalam DOAJ sudah melewati angka 100 dan selalu bertambah setiap bulan. Jurnal yang masuk dalam DOAJ kualitasnya lebih baik dari jurnal nasional tidak terakreditasi
  4. Laman nomor 8, 9 dan 10 tidak memberikan informasi seperti di laman no 1, 2 dan 3 . Ada yang harus mendaftar dahulu agar bisa masuk kelaman tsb.
  5. Dari Scopus (www.scimagojr.com) akhir Agustus 2013, terdapat dua belas jurnal terbitan dari Indonesia terindeks di scopus dan diantaranya ada jurnal yang belum terakreditasi Dikti. Jurnal-jurnal tersebut sudah terindeks Scopus sejak tahun 2010 dan mempunyai SJR (indikator seperti IF di ISI Knowledge). Salah satu Jurnal belum terakreditasi Dikti tetapi sudah terindeks dan mempunyai SJR. Tim PAK berpendapat jurnal yang masuk dalam list scopus meskipun belum terakreditasi dikategorikan sebagai jurnal internasional bereputasi.
  6. Nomor 11 tidak memberikan informasi tentang pemeringkatan jurnal.

Dalam usulan kenaikan jabatan/pangkat sering ditemui karya ilmiah yang diterbitkan di jurnal tidak terakreditasi (terbitan PT sendiri) dan penulis adalah salah satu dari editor jurnal. Dosen disarankan untuk menulis karya ilmiah di jurnal yang bidang keilmuannya sebidang dan tidak diterbitkan hanya dalam jurnal yang diterbitkan di jurnal PT sendiri.

Posted on 06 October 2013 by Administrator

 

Meningkatkan Publikasi ilmiah Dosen Indonesia

Surat edaran dirjen dikti no 152/E/T/2012Ā amat menggemparkan pada masanya. Betapa tidak, mahasiswa di Indonesia dipersyaratkan untuk menulis paper dan menerbitkannya di jurnal ilmiah. Mahasiswa S1 musti publish paper di jurnal ilmiah, mahasiswa S2 di jurnal nasional, utamanya yang terakreditasi dikti dan mahasiswa S3 di jurnal internasional.

Selain menggemparkan, edaran itu juga sekaligus menggelikan. Betapa tidak, alasan dalam edaran kenapa Indonesia mesti meningkatkan jumlah publikasi ilmiah adalah karena jumlah publikasi ilmiah di Indonsia masih sepertujuh dari jumlah publikasi ilmiah di Malaysia. Sayangnya tak ada lampiran yang menunjang klaim tersebut.

Oke-lah katakanlah klaim tersebut benar, lantas harus bagaimana?

Pertama, Dikti harus menghilangkan aturan yang mendorong dosen untuk TIDAK berkarya. Misalnya, selama ini, publikasi selama tugas belajar tidak bisa dihitung dalam Penghitungan Angka Kredit. Akibatnya, dosen-dosen yang sedang studi — terutama di luar negeri, memilih tidak melakukan publikasi ilmiah semaksimal mungkin. Mereka hanya melakukan publikasi sesuai syarat yang diminta kampus atau supervisor saja. Padahal sarana selama studi amatlah mendukung untuk menghasilkan publikasi internasional yang berkualitas. Akses ke sumber pustaka bermutu, waktu melakukan riset dan menulis, dukungan proof reading bahasa dan tentu saja ruang bekerja yang memadai. Sarana-sarana ini merupakan hal langka yang bisa didapatkan ketika lulus dan pulang ke tanah air. Tentu saja selama studi yang bisa ditulis bukan hanya paper dalam jurnal, tapi juga buku teks/ajar/referensi yang bermutu karena tersedianya sumber-sumber bacaan asli yang sukar ditemukan di perpustakaan di dalam negeri. Walaupun tentu saja publikasi yang diakui dikti tentu saja harus mencantumkan institusi asal di Indonesia. Percaya deh, jika Dikti menyatakan dalam aturan (sehingga tidak multitafsir) bahwa publikasi selama tugas belajar/izin belajar yang mencantumkan institusi asal di Indonesia dapat dihitung dalam penghitungan angka kredit, maka jumlah publikasi internasional dosen Indonesia akan melonjak tajam. Pun calon doktor yang studi di dalam negeri tak melakukan publikasi internasional hanya untuk melengkapi syarat kelulusan saja.

Tapi karena tak ada pengakuan untuk publikasi selama studi, maka sekali lagi dosen-dosen yang melakukan tugas belajar hanya melakukan publikasi ilmiah secukupnya saja, memenuhi permintaan kampus dan supervisor.

Aturan lain yang menghambat adalah adanya batas kepatutan terhadap jumlah publikasi ilmiah. Mengherankan Dikti malah membatasi jumlah publikasi ilmiah yang bisa dihasilkan Dosen. Dalam Pedoman Operasional Penilaian Agka Kredit (PAK) kenaikan jabatan Fungsional Dosen ke Lektor Kepala dan Guru BesarĀ , diterangkan bahwa MAKSIMAL jumlah publikasi dosen yang diakui dalam penghitungan PAK adalah: buku ajar/buku teks 1 buku per-tahun, diktat/modul 1 per-semester, buku monograf/referensi 1 buku per-tahun, paper di jurnal internasional 1 per-semester, paper di jurnal terakreditasi 1 per-semester, paper di jurnal nasional 2 per-semester, paper disajikan dalam seminar internasional 1 per semester, paper disajikan dalam seminar nasional 2 per-semester, dan sebagainya.

Batasan-batasan ini dalam prakteknya membuat dosen malas berkarya. Dosen cemerlang dan produktif tak mendapatkan insentif atas kerja kerasnya. Kadangkala paper-paper yang ditulis dan dikirim dalam waktu berbeda diterbitkan dalam satu semester atau bahkan bulan yang sama. Bukankah dosen tak mungkin mengontrol atau memaksa editor untuk menerbitkan paper kita sesuai rencana kita? “emang jurnal punya nenek moyang loe” begitu kira-kira kata editor.

Memang sih ada dosen senior yang berkata “jangan terlalu memikirkan kum, yang penting reputasi di dunia akademik” . Hmm nggak begitu juga kali, insentif itu bukan hanya duit, tapi penghargaan dan pengakuan terhadap hasil karya, serta kepastian bahwa karya kita yang dikerjakan serius berelasi dengan karir sebagai dosen. Jangan dipisah-pisah, sebagaimana dulu orang mengatakan bahwa pendidik adalah profesi tanpa tanda jasa sehingga kesejahteraannya selalu diabaikan.

Percaya deh sama saya, begitu batas kepatutan dihilangkan. Akan banyak publikasi-publikasi serius dari dosen-dosen Indonesia.

Kedua, Dikti seharusnya mendorong atau memaksa kampus-kampus untuk memiliki fasilitas dengan standar tinggi untuk melakukan riset. Fasilitas pertama adalah ruang kerja dosen yang memadai untuk berkonsentrasi menulis. Bukan soal mewah atau dengan fasilitas wah, tapi asal nyaman untuk membaca dan menulis dan tentu saja memiliki akses internet. Dalam beberapa tahun ini dosen di Indonesia sudah dituntut untuk masuk kerja jam 8 dan pulang jam 4 dan dikontrol dengan absen yang ketat bahkan pake finger-print. Diharapkan dosen bisa melakukan pekerjaannya di kampus, tak hanya mengajar, tapi juga menulis, membaca, melayani konsultasi mahasiswa, membimbing skripi/tesis/disertasi atau mengoreksi ujian.

Tapi apa daya, masih banyak kampus yang tak menyediakan ruang kerja, bahkan sekedar meja kerja untuk dosen. Akibatnya banyak dosen yang ke kampus hanya jam mengajar saja dan lebih nyaman bekerja di rumah karena di kampus tak kondusif bekerja, tapi kondusif mengobrol šŸ™‚

Fasilitas kedua adalah perpustakaan yang baik. Baik disini artinya menyediakan material yang dibutuhkan dalam riset, baik text book/referensi dan terutama jurnal-jurnal ilmiah terbaru. Pengembangan perpustakaan seharusnya menjadi proyek besar dikti untuk memastikan bahwa kualitas riset di kampus-kampus di Indonesia tidak kalah dengan kampus-kampus di luar negeri. Bagaimana bisa dosen di Indonesia dituntut menghasilkan paper di jurnal internasional bereputasi jika masih terhambat dengan lemahnya akses ke sumber-sumber bacaan terbaik?

Yups, tentu saja kreatifitas dosen di Indonesia memang tak ada tandingannya. Ada yang rajin mengunduh di internet, membangun komunitas file sharing digital dengan kawan-kawan dosen yang sedang studi di luar negeri, dan sebagainya.

Tapi bukankah negara kita sebenarnya punya cukup uang untuk (anggaran pendidikan 20% lho) untuk sekedar membuat perpustakaan yang baik dan berlangganan jurnal-jurnal terbaru?

Hmm ini ideku untuk membuat publikasi ilmiah internasional di Indonesia meningkat baik kualitas dan kuantitasnya.

bagaimana menurutmu?