Arsip Tag: jurnal ilmiah

Edisi Lengkap dan Terbaru Jurnal Terakreditasi Dikti (Update 9 Juli 2018)

Dear rekan-rekan semua, bersama ini saya posting Jurnal Elektronik Terakreditasi edisi I 2018. Nah untuk kali pertama jurnal terakreditasi menggunakan sistem peringkat, I-6 dengan ratusan jurnal masuk ke dalam kategori terakreditasi.

Screenshot 2018-07-20 09.29.16Screenshot 2018-07-20 09.29.27

Mangga disimak

Baca lebih lanjut

Iklan

Akses Jurnal via E-Resources Perpustakaan Nasional RI

Malam ini saya berpikir, akses saya ke berbagai jurnal internasional melalui Doshisha University akan berakhir satu bulan lagi. Berarti saya akan segera bertemu persoalan klasik akademisi Indonesia, terbatasnya akses ke sumber2 bacaan berkualitas.

Hmm dalam beberapa waktu ini saya akan menyiapkan (dan membagi) akses ke jurnal dari beberapa sumber. Tulisan pertama ini tentang e-resources Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI/Perpusnas) yang sebetulnya menyediakan berbagai akses ke jurnal internasional, buku elektronik, dan sebagainya. Sebetulnya sudah lama saya jadi anggota, namun agak jarang digunakan. Pernah sekali ketika butuh buku terbitasn ISEAS SIngapore, akses perpusnas ini membantu sekali karena buku2 ISEAS yang mihil2 bisa dibaca versi elektroniknya, walaupun gak bisa disimpen pdfnya. Kalau untuk jurnal tentu saja bisa disimpan full text pdfnya.

Hmm ini dia cara akses e-resurces PNRI

  1. Masuk ke http://e-resources.perpusnas.go.id/, lakukan pendaftaran jika belum terdaftar melalui http://keanggotaan.pnri.go.id

Screenshot 2015-08-31 21.43.39 Screenshot 2015-08-31 21.43.59

  1. Setelah terdaftar, konfirmasi via email, maka anda bisa melakukan login kembali di halaman http://e-resources.perpusnas.go.id/
  2. Nah setelah login ini dia tampilannya, anda bisa memulai melakukan penelusuran jurnal dan buku eletronik

Screenshot 2015-08-31 21.44.33

Screenshot 2015-08-31 21.45.23

Nah, jika ada masalah, admin Perpusnas siap membantu:

Via email : layanan_eresources@pnri.go.id (sebutkan Nama dan nomor anggota anda).
Call Center Jasa Layanan Perpusnas : 0800-1-737787

Oh ya jika anda dosen ber-NIDN bisa juga mengakses jurnal via simlitabmas.

Potensi Bahaya Dosen Menulis Paper di Jurnal dari Skripsi Mahasiswa

Lazada Indonesia
Judulnya sudah pas belum ya?

Hmm begini awal mula kenapa tulisan ini dibuat.

Awalnya adalah perbincangan dengan seorang kawan di tepi Kamo sambil makan liwet.

Ia menyampaikan bahwa banyak dosen yang mempublikasikan artikel di jurnal yang bersumber dari skripsi mahasiswa. Lho kok bisa?

Ya bisa, lha wong entah atas dasar wangsit dari mana ada kewajiban menulis jurnal bagi mahasiswa S1, S2 dan S3. Kewajiban ini berdasarkan SE152/E/T/2012.  Nah, SE-nya itu sampe nyebut-nyebut negara tetangga segala saking bersemangatnya, he he. (Sila unduh di sini)

Jadilah kemudian, tugas membimbing skripsi termasuk juga menjadikan skripsi tersebut ke dalam format artikel di jurnal dan diterbitkan, biasanya di jurnal milik internal kampus. Nah, di banyak kampus, nama pembimbing dimasukkan menjadi salah satu penulis. Jadi jika mahasiswanya namanya Udin, pembimbing 1 Durno dan pembimbing 2 Dasamuko, maka penulis dalam jurnal akan ditulis: Udin, Durno, dan Dasamuko.

Hal ini konon juga kelaziman di beberapa negara, di mana pembimbing tesis atau disertasi juga namanya ditulis sebagai penulis ke sekian, yang jelas tidak pertama.

Nah sekilas memang semua baik-baik saja. Banyak dosen menikmati benefit ini. Namanya tercantum di banyak publikasi yang notabene berasal dari skripsi mahasiswa. Jika IT kampus rajin dan publikasi2 tersebut dimasukkan ke dalam repository yang tersambung ke garuda dikti atau google, bisa jadi karya ilmiah yang diproduksi dengan cara begini lebih banyak dari yang betul2 ditulis sendiri.

Tapi teman saya tersebut mengingatkan, ada potensi persoalan besar, ini seperti pisau bermata dua. betul memang sekilas kuantitas tulisan banyak. Tapi bagaimana jika artikel jurnalnya tidak berkualitas? Bagaimana jika ada plagiasi dalam karya tersebut? Bagaimana jika proses pengeditannya tidak tuntas? Mengubah karya tulis dari format skripsi menjadi artikel jurnal tidak semudah menggunakan fitur find and replace kata “skripsi” menjadi “paper” atau “artikel”.

Jika hal-hal tersebut terjadi, kiamatlah karir sang dosen. Ia yang tak cermat memeriksa (karena load skripsi banyak) bisa tersangkut persoalan plagiarisme.  Plagiarism by accident. Mengerikan bukan?

Apa yang terjadi dengan salah satu artikel di jurnal Phinisi dimana masih ada kata-kata:“adapun permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah merupakan…”  adalah gunung es dari sekian banyak kasus yang saya yakin akan banyak terjadi.  Sila ke TKP di http://pak.dikti.go.id/portal/?p=193.

Screenshot 2015-06-13 11.16.05

Sumber:

Bisa jadi memang artikel tersebut tak berasal dari modus di tulisan ini, karena bisa jadi artikel di Phinisi memang didapatkan dari skripsi penulis duluuuu waktu S1, diambil begitu saja dari skripsi mahasiswa tanpa permisi atau menurut seorang kawan bisa saja diambil dari biro jasa pengerjaan skripsi. Fiuh.

Namun modus menjadikan skripsi sebagai artikel jurnal (yang dibenarkan dan legal oleh banyak kampus) dan kemudian menjadi bagian dari PAK berpotensi menimbulkan persoalan di kemudian hari dan membahayakan karir Bapak/Ibu Dosen.

jadi saya ingin mengatakan: Berhati-hatilah !
Lazada Indonesia

Informasi tentang Laman Acuan Jurnal Ilmiah

Repost dari  : http://pak.dikti.go.id/portal/?p=115

Sebagai informasi, Kami sampaikan beberapa laman yang sering diacu oleh jurnal ilmiah:
1. ISI Knowledge -Thomson Reuter (USA )
2. SCOPUS (Netherland), http://www.scimagojr.com
3. Microsoft Academic Search, http://academic.research.microsoft.com
4. Ulrich’sPeriodicals Directory (Proquest)
5. Academic Search Complete (EBSCO)
6. Zentralblatt MATH ( Springer – Verlag)
7. DOAJ (Lund University Swedia)
8. Peridoque (EP Lausanne Switzerland)
9. SHERPA/RoMEO (Nottingham University, UK)
10. Index Copernicus(Poland)
11. Google Scholar

Informasi terkait dengan laman-laman di atas adalah sebagai berikut:

  1. Nomor 1, 2 dan 3 dipakai sebagai acuan oleh Tim PAK untuk melihat apakah sebuah jurnal dikategorikan sebagai jurnal internasional bereputasi.
  2. Nomor 4,5 dan 6 tidak memberikan informasi pemeringkatan jurnal.
  3. Di laman no 7 DOAJ dalam Tahun 2013, jurnal terbitan Indonesia yang masuk dalam DOAJ sudah melewati angka 100 dan selalu bertambah setiap bulan. Jurnal yang masuk dalam DOAJ kualitasnya lebih baik dari jurnal nasional tidak terakreditasi
  4. Laman nomor 8, 9 dan 10 tidak memberikan informasi seperti di laman no 1, 2 dan 3 . Ada yang harus mendaftar dahulu agar bisa masuk kelaman tsb.
  5. Dari Scopus (www.scimagojr.com) akhir Agustus 2013, terdapat dua belas jurnal terbitan dari Indonesia terindeks di scopus dan diantaranya ada jurnal yang belum terakreditasi Dikti. Jurnal-jurnal tersebut sudah terindeks Scopus sejak tahun 2010 dan mempunyai SJR (indikator seperti IF di ISI Knowledge). Salah satu Jurnal belum terakreditasi Dikti tetapi sudah terindeks dan mempunyai SJR. Tim PAK berpendapat jurnal yang masuk dalam list scopus meskipun belum terakreditasi dikategorikan sebagai jurnal internasional bereputasi.
  6. Nomor 11 tidak memberikan informasi tentang pemeringkatan jurnal.

Dalam usulan kenaikan jabatan/pangkat sering ditemui karya ilmiah yang diterbitkan di jurnal tidak terakreditasi (terbitan PT sendiri) dan penulis adalah salah satu dari editor jurnal. Dosen disarankan untuk menulis karya ilmiah di jurnal yang bidang keilmuannya sebidang dan tidak diterbitkan hanya dalam jurnal yang diterbitkan di jurnal PT sendiri.

Posted on 06 October 2013 by Administrator