Arsip Tag: dosenmilenial

Menjadi Dosen di Indonesia #Edisi Revisi

(Seorang fans pembaca mengirim permintaan agar saya merevisi tulisan ini. Ditambah pula tetiba ada lonjakan traffic blog ini kemarin, khususnya di topik pendidikan tinggi. Saya putuskan pagi-pagi habis subuh merevisi tulisan berikut ini, agar tidak banyak yang tersesat tulisan lama, he he. Semoga bermanfaat terutama memberi gambaran awal dunia persilatan, eh perdosenan dari perspektif karir. Begitu pemirsah. )

Semua profesi tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya, pun menjadi dosen.

Salah satu hal baik menjadi dosen di Indonesia adalah kemudahannya menjadi dosen tetap/ tenure. Di beberapa negara lain, tak mudah menjadi dosen tetap. Kawan-kawan saya yang bergelar Doktor di Jepang atau Perancis, misalnya mesti mengikuti post-doc dulu, menerbitkan disertasi-nya menjadi buku, baru bisa melamar menjadi dosen tetap, itupun kalau ada lowongan (kabarnya semakin jarang). Kompetisi-nya juga cukup ketat karena portofolio di bidang akademik seperti publikasi ilmiah amat menentukan. Kalaupun ada kasus master menjadi dosen tetap, ini hal yang amat langka sekali, mungkin hanya untuk orang-orang super-cemerlang saja.

Di indonesia, syarat menjadi dosen hanya bergelar master saja, sedikit yang rekrutmen awalnya doktor. Bahkan beberapa tahun lalu, orang bergelar sarjana bisa menjadi dosen tetap. Saya menjadi dosen tetap PNS ketika masih sarjana di tahun 2006 Baca lebih lanjut

Iklan

Bagaimana Melanjutkan S3 ke Luar Negeri?

Tulisan ini diilhami beberapa hal. Pertama, adanya kawan yang minta rekomendasi untuk sekolah ke luar negeri; kedua, teman yang bertanya tentang proses untuk bersekolah; ketiga, pertemuan dengan Ken Miichi Sensei yang juga menyinggung tentang kesempatan studi di Waseda; kelima, email Sensei beberapa waktu lalu yang minta rekomendasi tentang seorang pelamar; dan keenam, kamu. Ya tulisan ini dibuat untukmu 🙂

***

Tentu saja tulisan ini memiliki beberapa keterbatasan, utamanya pengalaman, waktu dan tempat studi saya. Saya mulai studi S3 di Jepun tahun 2012 dan selesai di tahun 2015. Pasti ada beberapa perubahan yang terjadi.

Baiklah kita mulai saja. Baca lebih lanjut

Publikasi Jurnal Internasional Bereputasi Semasa Sekolah Diakui, Horeee !

Kemarin, Dekan FISIP Untirta membagikan file pdf berjudul “Arah Kebijakan Jabatan Akademik Dosen”. Nah karena file presentasi tersebut bentuk pdfnya agak tidak jelas, saya mencari ppt aslinya. Dapat ! Sila baca presentasi lengkap dengan membaca secara daring di bawah atau mengklik  tautan ini.


Ada beberapa hal menarik di sana, terutama terkait pertanyaan-pertanyaan yang masih menggantung dan belum kunjung mendapat jawabannya.

Utamanya adalah soal apakah paper di jurnal terakreditasi dan jurnal internasional berputasi yang dihasilkan selama kuliah S2/S3 yang merupakan bagian dari tesis/disertasi diakui atau tidak?

Jawabannya adalah diakui, bisa dilihat di halaman 60

Screenshot 2017-12-28 09.23.21

Hal ini melegakkan dan seharusnya membuat para reviewer/Tim PAK memiliki perspektif yang sama dalam menilai publikasi yang dihasilkan selama sekolah.

Oh ya, hal ini memberikan penguatan terhadap sebuah surat edaran yang menjelaskan bahwa karya ketika tugas belajar diakui.Screenshot 2017-12-29 07.35.46

Nah penjelasan dalam paparan Prof. Bunyamin tidak hanya memperkuat surat di atas, tapi membuat jelas bahwa paper dalam jurnal internasional dan terakreditasi yang merupakan bagian atau sintesis dari tesis dan disertasi diakui dan dapat dipergunakan untuk kenaikan pangkat/jabatan setelah selesai pendidikan.

Ah lega…

Kenapa 60% Riset tentang Indonesia ditulis Orang Asing?

Tulisan ini saya buat dalam perjalanan ke Pattaya. Ya akan menginap semalam di sebuah pulau di sekitar sana sebelum kembali ke tanah air.

Sebelumnya sekira dua minggu saya tinggal di kantor Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Bangkok. Kantor yang merangkap apartemen, dua lantai. Ada ratusan buku tentang Asia tenggara, khususnya negara-negara di Mainland Asia. Ya, CSEAS punya dua kantor besar di Asia Tenggara, satu di Jakarta dan satu di Bangkok. Selain menjadi field station bagi para peneliti, tempat ini jadi persinggahan buku-buku tentang Asia tenggara sebelum akhirnya dikirim ke perpustakaan CSEAS di Kyoto.

Pekerjaan kepala kantor CSEAS salah satunya juga adalah mengumpukan buku-buku tentang Asia Tenggara. Di Jakarta misalnya, saya dulu kerapkali menemani Professor Okamoto untuk belanja buku-buku langka dari pedagang entah dari Senen, Blok M atau Taman Mini.

Jangan heran rasanya koleksi buku dan majalah tentang Indonesia amat sangat lengkap, jika dibandingkan dengan perpustakaan di Indonesia. Katakanlah mencari edisi lengkap majalah Sabili atau Tempo bisa dilakukan di perpustakaan CSEAS di Kyoto. Apakah ada di perpustakaan UI atau UGM atau Untirta?

***

Hal-hal semacam ini yang sebetulnya ingin saya sampaikan ketika para pejabat menyampaikan pandangannya yang seringkali jump to conclusion. Katakanlah Dirjen SDM Dikti yang mengatakan bahwa “..60% tulisan tentang Indonesia ditulis orang Asing”. (Republika, 17/3)

Judul tulisan ini mencoba memberi penjelasan yang berangkat dari sudut pandang orang dalam: kamsudnya dosen biasa. Tulisannya ndak bermaksud memberi penjelasan yang menyeluruh, nanti di jurnal itu mah. Judulnya saja yang dibuat bombastis seperti pernyataan Dirjen yang juga bombastis. Kali ini tulisan ya Pak, nggak video dulu 😉

Screenshot 2017-03-24 18.40.40

Pak Dirjen mengatakan:

“Padahal menurutnya, dengan banyaknya jumlah dosen dan mahasiswa di Indonesia, seharusnya banyak riset dan inovasi yang dihasilkan. Ia menyebut, banyak potensi riset di Indonesia yang dapat diangkat untuk meningkatkan daya saing bangsa.”

Statemen di atas dipakai sebagai dasar bagi program World Class Professor 2017, mendatangkan Professor kelas dunia untuk bertugas di beberapa kampus Indonesia terpilih. Tugas mereka, sebagaimana dikutip Republika adalah:

“…melaksanakan perbaikan kualitas artikel, joint publication untuk disubmit ke jurnal internasional bereputasi, melaksanakan joint supervision bagi mahasiswa S2 dan S3.

Serta melakukan joint research dengan dosen muda maupun senior, joint study program; membantu analisis data bagi mahasiswa S3, melaksanakan program pemagangan penelitian bagi mahasiswa S3 dan dosen di laboratorium World Class Professor (WCP), membantu PUI-PT, PT dan LPNK membuat proposal untuk memperoleh dana penelitian atau pengembangan proyek pendidikan yang akan diajukan ke pemerintah masing-masing atau ke penyandang dana internasional, membantu set-up global satellite laboratory di PUI-PT dan mencantumkan PUI-PT di situs grup WCP sebagai bagian dari global satellite laboratory.”

Sekilas program ini amat baik. Meningkatkan kualitas para dosen dan laboratorium. Tapi sebentar, bukankah problem pendidikan tinggi kita tidak cukup sederhana sehingga selesai dengan mendatangkan Profesor kelas dunia?

Katakanlah begini, problem pertama kita misalnya pustaka.

Sistem pustaka mereka (baca: kampus asing) amat baik dan pro ilmu pengetahuan. Kita yang pernah belajar di kampus LN tentu sudah paham bahwa pustaka katakanlah bukan sebuah persoalan.Perpustakaan sudah cukup lengkap dan  jika ada buku yang kita butuhkan dan tidak tersedia biasanya bisa memesan di perpustakaan lain (yang berjaringan) atau memesan untuk dibelikan. Kalau saya dulu bahkan bisa dibelikan dari anggaran Professor, ditanya: “Hamid Kun, kamu butuh buku apa tahun ini?“.

Kemewahan  yang ketika pulang dan menjadi pengajar dengan status Associate professor (Lektor Kepala) di kampus dalam negeri, jelas sulit diulangi. Mengajukan pembelian buku-buku asing ke perpustakaan? He he

Maka biasanya hampir semua dosen memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya, buku-buku yang dibeli dari kocek pribadi yang sebetulnya untuk kepentingan mengajar dan meneliti. Di kampus, kecuali punya jabatan struktural tak ada lemari buku yang cukup menampung.

Pilihan logis ketimbang terus menerus ngedumel tanpa solusi bukan?

Jadi katakanlah Samuel Huntington datang ke Indonesia jadi mitra World Class Professor dan kemudian meminta setumpuk buku berbahasa inggris untuk dibeli apakah bisa dikabulkan? Apakah Profesor lokal juga meminta setumpuk buku untuk mendukung pendidikan dan pengajaran, apakah bisa dikabulkan?

(Mohon tidak dijawab dengan, kan bisa download dari Sci-hub, he he)

Indikator perbaikan yang sederhana bukan? Pembelian buku harus lebih penting daripada pernambahan bangku taman, pemasangan cctv dan videotron atau pengecetan tembok yang belum kusam.

Oh ya, pernyataan Dirjen soal 60% riset Indonesia ditulis ilmuwan asing di atas juga bisa dijelaskan dengan cukup memadainya dana-dana penelitian yang dimiliki dosen asing. Mustahil mereka menulis dengan cukup baik tanpa data yang akurat. Data akurat hanya bisa didapatkan dengan field research atau bagi ilmu tertentu bisa juga membeli data yang harganya cukup mahal. Teman-teman saya jagoan ahli asia tenggara dari Jepang bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan di Jakarta, Bangkok atau Manila. Tentu mereka bisa meneliti dengan tenang, membangun network, menyewa apartemen, membeli buku-buku karena ada dana yang memadai. Nggak mungkin sambil puasa atau irit-iritan menunggu dana gak cair-cair sambil membuat kwitansi dan nota palsu.

Ditambah hak untuk sabbatical setiap beberapa tahun, cuti untuk menulis atau penelitian dengan tetap mendapatkan pendapatan secara penuh, bahkan mendapatkan dana penelitian.

Lha kebijakan kita belum ke arah sana jeh.

Penelitian saya ndak mau komen. Sudah terlalu banyak masalah, utamanya administratif. Kalau ingin tahu lebih banyak terjun saja ke grup dosen Indonesia di Facebook yang ebranggotakan belasan ribu orang, banyak cerita sedih di sana.

Sabbatical sebetulnya sudah menjadi kebijakan dalam PP 37 2009 tentang Dosen. Dosen berhak mengajukan cuti untuk penelitian secara berkala, empat tahun sekali bagi dosen LK dan Gubes, lima tahun sekali bagi dosen AA dan L.

Namun apakah sudah ada pedoman implementasinya? Rasanya belum.

Ada memang program SAME Dikti, tapi tentu alokasinya amat terbatas. Yang saya maksud adalah implementasi di kampus sehingga dosen memang bisa mengajukan hak sabbatical tersebut secara berkala.

Yang sebetulnya juga menyedihkan adalah kebijakan maksimal satu bulan berada di Indonesia untuk penelitian dosen yang kuliah dengan beasiswa luar negeri Dikti. Saat menempuh S3 di luar negeri sesungguhnya adrenalin dosen sedang berada di puncak. Kesempatan untuk mendapatkan data lapangan bagi mereka yang penelitiannya di Indonesia adalah kesempatan untuk mendapatkan data berkualitas untuk menjadi karya bermutu tinggi.Sayangnya pendekatan kementerian bersifat administratif dan terlalu mencurigai karyasiswa.

Padahal membatasi satu bulan untuk field research sangat membatasi. Ancamannya tidak main-main, besaran beasiswa LN diubah menjadi sebesar beasiswa DN.

***

Dengan dua ilustrasi di atas saja, jelas bahwa wajar dan masuk akal jika karya-karya terbaik tentang Indonesia masih dan masih akan ditulis oleh peneliti asing.

Dan mendatangkan Profesor asing membenahi hal-hal di atas hanya mengobati satu kaki dari dua kaki yang pincang. Tetap tertatih-tatih.

Ujian apakah kaki yang pincang keduanya sudah sembuh, sesungguhnya mengundang World Class Professor tadi untuk menjadi Profesor Tenure (Dosen tetap) di Indonesia, dengan standar yang sama dengan Professor (Baca: Dosen) di Indonesia, termasuk menunggu rapelan serdos dan finger print dua kali sehari seperti minum antibiotik. Jika mereka mau berarti sistem kita sudah baik dan pendidikan tinggi kita bisa betul-betul berlari kencang. Jika tidak dan mereka senyum-senyum simpul, maka sistem yang harus dibenahi.

Begitu Bos…

Soal Permenristek Dikti 20 2017

Kemarin pagi ada WA masuk dari Wakil Rektor 1, saya diminta merapat waktu itu juga ke Cilegon, dipanggil Menteri untuk mendiskusikan Permenristekdikti 20 2017.

Kebetulan Menteri ada di Cilegon meresmikan gedung dekanat FT Untirta dan setelahnya menggelar dialog. Waduh, kesempatan emas sebetulnya, hanya sayang saya masih di Bangkok untuk menulis dan diskusi. Jadilah saya ndak bisa bertemu dan menyampaikan langsung pendapat saya dan juga mendengarkan langsung sikap Menteri.

Jadilah cukup saya tulis di sini, moga-moga ada yang mau baca, siapa tahu Pak Menteri.

Sikap saya masih sama. Saya menganggap Perpres 20 2017 diksriminatif dan tak masuk akal. harus dicabut. Alasannya sudah berkali-kali saya sampaikan.

Lektor kepala tak punya tunjangan khusus sehingga tak bisa di berikan kewajiban khusus. Tak masuk akal.

Apalagi sanksinya pencabutan tunjangan profesi. Ini khusus lektor kepala pula. Tak masuk akal dan diskriminatif.

Udah, gitu.

Bahwa dosen (yang sekaligus peneliti) mesti didorong dan dipaksa untuk meneliti itu benar. Namun tentu semua itu ada caranya yang benar, tidak dengan cara diancam dicabut tunjangannya. Itu sih gaya saya ke Ilham: Kalo gak makan sayur gak boleh ke Planet Dinosaurus 😉

Tentu ada banyak cara yang bermartabat dan saya amat siap bersdiskusi. Jika dipaksa bisa saya siapkan makalah, kita adu argumentasi, tapi bukan maen otoritas: saya atasan, kamu dosen biasa bawahan saja.

karena pake atasan gak pake bawahan bisa malu kan?

Saya sedang membuat tulisan untuk edisi pertama jurnal tentang pendidikan tinggi di Indonesia yang akan diterbitkan oleh Forum Dosen Indonesia. Sudah separo jalan dan semakin nampak bahwa berbagai kebijakan di pendidikan tinggi kita tak memperkuat dunia riset dalam jangka panjang. Hanya main dalam tempo-tempo singkat saja.

Telrihat juga bahwa berbagai aturan tak dibaca seksama sebagai konsideran. Misalnya PP 39 No. 37 tahun 2009, berisikan hal-hal progresif yang sampai sekarang tak dijalankan. Katakanlah soal sabbatical, maslahat tambahan, dan sebagainya.

Jadi begitu kira-kira. Moga-moga dalam sebulan nanti sudah ada tulisan-tulisan ilmiah tentang kebijakan pendidikan tinggi. Nampaknya ini bisa jadi pilihan topik riset baru setelah lama terbenam dalam politik lokal yang makin membosankan.

Salam