Arsip Tag: dosen millenial

Respon-respon Terhadap Isu Dosen Asing

Media sosial menjadi sarana berkespresi yang menarik untuk melihat berbagai sudut pandang terhadap isu dosen asing yang mau digaji Kemeriting (Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi). Saya sendiri juga cukup aktif di medsos, sebagai sarana berbagi dan tukar pikiran.

Terdapat berbagai sudut pandang mengenai rencana masuknya dosen asing tersebut. Saya ambil tiga ekspresi yang menurut saya menarik. Oh ya satu sudut pandang dari HA sudah saya tampilkan di tulisan sebelumnya.

Ekspresi menarik datang dari Dr. Wahyu Prasteyawan, sahabat baik, Dosen UIN Syahid Jakarta yang dalam setahun, selama 3 bulan mengajar di GRIPS, Tokyo. Ia menulis

Screenshot 2018-04-24 08.51.02

Belakangan beliau Japri rencana bukunya yang segera terbit di NUS

Screenshot 2018-04-24 09.06.38

Nah itu Mas Wahyu, bisa ikut jawab pertanyaan beliau?

Apakah dosen lokal dengan kualifikasi setara dosen asing berhak atas gaji yang sama dengan dosen asing?

Nah pendapat Prof Arief Anshory Yusuf juga menarik,

Screenshot 2018-04-24 11.20.04

Yang lebih senior, Prof Khairurijal, role model saya di dunia ghoib akademik salah satu Ilmuwan Produktif Indonesia, Ketua LPPM ITB dan Awardee Habibie Award juga menyampaikan ekspresi yang hmm, provokatif 🙂

Screenshot 2018-04-24 09.08.52

Menarik ya..

Dan ekspresi tersebut tak berlebihan, karena prestasi akademik Prof. Khairurrijal memang wow banget. Beliau juga banyak membidani lahirnya berbagai upaya meningkatkan publikasi di banyak kampus, termasuk kampus tempat saya mengajar. Berikut profil Sinta Prof Khairurrijal…

Screenshot 2018-04-24 09.10.44

Ah saya gak tega membandingkan dengan screenshot profil Sinta Bos pengambil kebijakan pendidikan tinggi yang sedang ramai beredar karena tidak memiliki publikasi terindeks scopus padahal keras sekali menyuruh dosen publikasi terindeks scopus.

Ada komentar?

Atau masih nyuruh mingkem karena dianggap gagal paham?

 

Iklan

Masih Soal Dosen Asing

Banyak yang tidak mengerti, seakan-akan akan dimasukannya dosen asing dengan gaji sekitar Rp.65 juta/bulan hanya sekedar persoalan keirian dosen pribumi terhadap mereka.

Padahal naiknya isu ini adalah gunung es dari persoalan manajemen SDM pendidikan tinggi kita yang betul-betul buruk.

Dengan isu ini, sebetulnya, semua sepakat bahwa gaji tinggi (baca: pantas) adalah prasyarat mutlak bagi dihasilkannya produktivitas ilmiah yang pantas. Sederhananya, dosen cukup ngurusi ngajar dan riset tanpa mencari penghasilan tambahan di luar sana. Sibuk jadi anggota komisi ini dan itu, bisa menolak tampil di TV untuk jadi komentator segala hal, atau gak mesti jadi calo tanah.

Kalau memang Kemeriting (Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi) memang menganggap gaji dosen kita sudah pantas, berikan saja gaji yang sama untuk dosen asing. Jika menganggap itu tak pantas dikaitkan dengan target yang hendak dicapai, berarti memang selama ini gaji dosen Indonesia tak pantas.

Gak mungkin kalau dosen asing protes soal gaji trus dibilang bahwa pintu rezeki itu banyak, silahkan ngobyek, harus ikhlas dan mari bersyukur kan?

Inilah ketidak adilan, mental inlander dan diskriminasi yang ada di bawah sadar para pengambil kebijakan pendidikan tinggi kita.

Alih-alih menaikkan tunjangan fungsional dosen yang sebelas tahun gak naik (Baca Perpres 65 tahun 2007), kebijakan terakhir terhadap dosen pribumi adalah mengancam menghentikan tunjangan sertifikasi dosen bagi lektor kepala (Baca Permenristekdikti 20 2017) terkait publikasi. Jadi mental inlandernya kentara sekali, menginjak bangsa sendiri dan memuja asing setinggi-tingginya.

Manajemen SDM pendidikan tinggi kita jadi terlihat betul-butul buruk, menggaji dosen pribumi terlalu rendah tapi mengharapkan mereka berproduksi seperti dosen asing yang (akan) dibayar tinggi.

Ada juga tanggapan di beberapa orang yang pernah mengajar di negara asing, bahwa angka segitu sudah pantas, tidak berlebihan. Misalnya orang ini:

Screenshot 2018-04-23 08.17.05

Lha kalau logika Kemeriting diaminin, maka jika gaji HA sebagai dosen asing sebesar 50-60 juta maka gaji dosen pribumi Jepangnya cuma seperlimanya atau  5-10 juta? Nggak kan Bro?

Itulah, butuh berpikir dan bukan hawa nafsu sebelum membuat posting atau berkomentar, jadinya ngawur.

Dosen asing yang masuk ya mestinya ikut sistem di mana dia bekerja. HA digaji segitu ya karena segitulah standard gaji dosen di level dia di Jepang. Kalaupun lebih tinggi karena kualifikasi, reputasi dan portofolio yang lebih baik, bukan karena soal asing dan pribumi.

Lantas bagaimana?

Tentu saja saya ndak menolak dosen asing. Tapi mereka musti terintegrasi dengan sistem yang ada. Bukan diistimewakan dengan kebijakan double standard seperti sekarang. Kalau situasinya masih seperti sekarang ya berikan gaji seperti kepada dosen Indonesia. Kalau sakit ya disuruh berobat pake BPJS 🙂

Saya yakin banyak anak-anak muda Indonesia yang punya potensi besar jadi promising top scientist di masa depan. Tapi mereka mungkin merinding dan melipir duluan melihat dunia pendidikan tinggi kita yang ajaib. Jadilah memilih kerja di perusahaan swasta, ngajar di kampus luar, dan tempat-tempat lain yang memperlakukan secara pantas.

Jadi tantangannya ya  dengan membuat profesi dosen menjadi atraktif, dan digaji pantas. Kalau ndak ya mereka-mereka yang terbaik (Katakanlah alumni lpdp yang lulus dari kampus-kampus terbaik di dunia dan dibiayai negara selama kuliah) pasti akan memilih bekerja di sektor yang memperlakukan mereka dengan lebih pantas.

Begitu, btw gak usah bikin tagar-tagaran kan?

 

 

 

Dosen Asing vs Dosen Pribumi

Screenshot 2018-04-20 22.35.30

Membaca berita bahwa dosen asing mau digaji 5000 US dolar (sekitar 65 juta rupiah)  (https://www.jpnn.com/news/datangkan-200-dosen-asing-gaji-hingga-rp-65-juta) oleh Kemeriting, dan itu pastinya pakek duit mbahmu rakyat , maka setelah geleng-geleng kepala, ada beberapa hal yang mau saya sampaikan, sebagai dosen pribumi (baca: WNI) yang merasa (lagi-lagi) terdiskriminasi.

  1. Di dunia akademik mancanegara, sepemahaman saya yang terjadi adalah kesetaraan (CMIIW). Tak ada beda yang njomplang antara dosen asing dengan dosen pribumi. Kamsudnya, kalau dosen asing asal Indonesia jadi Associate Professor di Jepang, maka rate-nya akan mengikuti  standar take home pay Associate Professor di Jepang. Kalaupun dibayar agak istimewa, itu karena keahlian dan reputasi, bukan soal asing atau pribumi. Sampai sini paham?
  2. Ketika Kemeriting membuat ancer-ancer gaji hingga 65 juta rupiah untuk dosen asing, maka sesungguhnya Kemeriting paham bahwa pendapatan dosen pribumi di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan standar internasional. Karena kalau kemeriting tidak paham, maka dosen asing akan digaji sama seperti dosen universitas negeri (sebagai standar) di Indonesia. Yang kalau mau lebih sejahtera silahkan mengajukan jabatan fungsional yang besaran tunjangannya kecil banget dan gak naek-naek dari tahun 2007. Kalau masih kekecilan suruh dosen asing itu ikut ngantri sertifikasi dosen, termasuk ikut test bahasa inggrisnya. Lho kok test bahasa lagi? ya musti ikut, lha wong dosen pribumi alumni UK, USA atau Aussie juga mesti kok. Ini demi kesetaraan dan keadilan. Lha kalau dosen asing sudah dapet serdos masih merasa pendapatannya kecil, maka dipersilahkan saja ngobyek dan bersyukur. Lho nanti ngajar dan risetnya gak optimal? berarti bapak-bapak di kemeriting mulai paham toh problem kenapa pendidikan tinggi Indonesia gak maju?
  3. Kalau menganggap point nomor (2) berlebihan dan berpikir “wah dosen asing nggak bakalan mau”, dan tetep ngotot bahwa secara wajar mereka musti digaji sekitar 65 juta untuk menghasilkan riset dan publikasi berkualitas, saya punya solusi lebih menyenangkan. Jadikan gaji 65 juta sebagai standar gaji dosen yang wajar di Indonesia. Katakanlah dosen Asisten ahli (Instructor)THP-nya mulai 30 juta, dosen lektor (Assistant Professor) 40 juta, Lektor kepala (Associate Professor) 50 juta dan dosen Professor 65 juta. Asyik kan?
  4. Kalau usul nomor (3) dianggap aneh, ya berarti kemeriting yang aneh, berada dalam sesat pikir, berpikir a la  inlander, rendah diri dan selalu menganggap yang serba asing itu hebat dan tinggi.
  5. Hmm, trus piye? Saya kasih saran gratis. (1) Naikkan dulu standar pendapatan dosen Indonesia, katakanlah minimal dua kali lipat take home pay guru SD Negeri di Jakarta (https://megapolitan.kompas.com/read/2018/01/11/17331311/gaji-guru-pns-di-dki-maksimal-rp-14-juta-sebulan),  (2) Rekrut anak-anak bangsa sendiri menjadi dosen tetap, doktor-doktor alumni kampus-kampus terbaik dunia, katakanlah lulusan beasiswa LPDP yang kuliahnya dibiayai dari uang negara juga. (3) Proses rekrutmen tentu saja diperbaiki dengan mengedepankan portofolio akademik untuk mencari ilmuwan, bukan semacam tes yang sama untuk mencari pegawai Pemda.
  6. Tiga hal di nomor (5) saja dijalankan, kita tidak butuh mengimpor dosen asing, perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia akan berkembang secara cepat dan alamiah, tidak instant.
  7. Semoga kali ini Bapak-bapak di Kemeriting paham, rasanya saya sudah menjelaskan dengan bahasa dan logika yang sederhana.

Catatan: Penggunaan kata pribumi hanya untuk menaikkan tensi biar menjadi isu publik lebih luas dan menjadi kontras untuk kata “asing”. Makna pribumi di sini adalah Warga Negara Indonesia.

-AH

Dosen Milenial (2)

Baiklah, saya mau menggunakan kisaran waktu kelahiran 1981 – 2000 untuk menyebut generasi millenial. Generasi sebelumnya, yaitu yang lahir tahun 1965 – 1980 sebagai generasi X, dan yang lahir 1946 – 1964 sebagai generasi baby boomers. Generasi setelah milenial disebut generasi Z. Kenapa ini dipilih, karena saya lahir di tahun 1981, jadi bisa dengan belagu menyebut diri saya sebagai milenial senior 🙂

Berikut gambar dari hasil risetnya  Alvara :

Screenshot 2018-03-19 18.55.15

Nah berdasarkan kategorisasi di atas, maka generasi milenial sekarang berusia antara: 18 – 37 tahun. Nggak terlalu muda juga, tapi memang sedang ranum-ranumnya di bagian paling muda. Saya sendiri merupakan milenial senior karena lahir di tahun 1981, yah milenial muka kolonial, he he.

Generasi paling junior adalah generasi yang baru masuk kuliah. Jadi kalau saya mengajar, sesungguhnya itu adalah milenial mengajar milenial, bukan jeruk makan jeruk, he he

Screenshot 2018-03-19 19.33.57

Masih dari Alvara yang mengambil data dari BPS, maka jumlah perkiraan penduduk di tahun 2000 bisa digambarkan melalui piramida sebagai berikut:

Screenshot 2018-03-19 19.01.13Jumlah penduduk milenial pada tahun 2020 diperkirakan berjumlah 34% dari populasi. Lebih besar dari penduduk per-kategori, dan menariknya berada di usia yang lucu-lucunya produktif-produktifnya.

Nah bagaimana di dunia pendidikan tinggi?

Berikut data dari buku Buku-Statistik-Pendidikan-Tinggi-2017:

Screenshot 2018-03-19 18.49.03Dosen berusia di bawah 25 tahun sebanyak 1.892 orang, ditambah berusia 26-35 tahun sebanyak 73.223, jika dijumlahkan sebanyak 75.115 orang atau sebanyak 30.38% dari total 247.269 dosen di seluruh Indonesia. Sebagai catatan angka ini agak berbeda dengan angka 113.965 dosen milenial yang diumumkan Kemeriting (Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi) yang dikutip Pikiran Rakyat. 

Bisa jadi karena data yang diumumkan Kementerian mencakup juga Dosen di Kementerian agama dan sekolah kedinasan. Maklum di NKRI ini banyak sekali kategori perguruan tinggi. Sementara yang di buku Statistik Pendidikan Tinggi 2017 hanya Perguruan Tinggi di bawah Kemeriting saja.

Apapun, jumlah dosen milenial lebih banyak dibandingkan dengan dosen di kategori yang lain. Hal ini juga terkait status dosen. Perhatikan data berikut, masih dari statistik pendidikan tinggi

Screenshot 2018-03-19 18.45.55

Sayangnya saya tidak memiliki data usia dosen dibandingkan dengan tingkat pendidikan dan jabatan fungsional. Kalau kemeriting merilis data tersebut atau menyediakan data mentahnya, asik tuh.

Namun saya percaya bahwa kesadaran dosen milenial untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral dan berupaya mendapatkan gelar Profesor di usia lebih muda lebih besar dibandingkan kategori usia yang lain.

Beberapa milenial junior misalnya, begitu memutuskan menjadi dosen sebagai jalan hidup akan menyegerakan menempuh studi ke jenjang doktoral. Beda sekali dengan milenial senior apalagi generasi sebelumnya yang malah menyegerakan menikah.

Maka saya beruntung semenjak Bulan lalu diangkat menjadi Kaprodi Ilmu Pemerintahan Untirta, Prodi yang semua dosen tetapnya berada dalam kategori milenial. Menyenangkan berada di tengah-tengah anak-anak muda dan mengajar anak-anak muda.

Sebelumnya saya Kaprodi S2 Magister Administrasi Publik, selain mengajar juga belajar kearifan dan kebijaksanaan dari mahasiswa saya yang sebagian besar lebih senior usianya daripada saya.

kelas-gabriel

***

Hmm, dunia pendidikan tinggi memang sedang bergerak.

Dua hari lalu di sebuah acara kawinan, saya berkenalan dengan seseorang yang menjadi dosen setelah terlebih dahulu meraih gelar doktor di Eropa dalam usia di bawah 30 tahun. Seorang kawan menjadi doktor di usia 32 tahun, adiknya di usia 26 tahun. Adik kelas saya di UI meraih gelar doktor di Jepang di usia di bawah 30 (Lulus S1 lanjut S2 dan lanjut S3) dan sekarang menjadi Kaprodi di sana. Kawan se-almamater saya yang meraih gelar doktor di usia belia dan ditolak menjadi dosen di almamaternya sekarang menjadi associate Professor di Jepang, sama dengan kawan lain yang juga memilih menjadi associate Professor di Malaysia daripada di Depok. Kemarin ketika belanja di Lu-Lu, saya juga bertemu doktor muda belia ahli kebijakan-energi dari Jepang yang mengajar di perguruan tinggi khusus kebijakan. Sekitar tiga tahun lalu ketika menunggu kereta ke Kyoto saya bertemu anak muda yang baru wisuda S1 hari sabtu dan hari seninnya sudah berada di Jepang untuk memulai S2.

Hal-hal begini membuat saya merasa tua dan merinding dangdut bahagia.

Merasa tua karena saya merasa adik-adik saya, para milenial junior seperti berpacu dengan waktu menyelesaikan studi doktoral dan mencapainya jauh lebih muda dibandingkan saya yang meraih Ph.D (permanent head damage) di usia 34 tahun.

Merinding bahagia karena saya bisa sedikit optimis, merasa masa depan pendidikan tinggi Indonesia akan beranjak membaik. Bukan karena kebijakan Dikti yang memaksa para dosen publikasi dengan segala ancamannya, tapi karena generasi millenial ini pelan-pelan akan mengambil alih dunia pendidikan tinggi secara alamiah. Milenial muda ini produktif, jago bahasa Inggris, publikasinya banyak, serta memiliki jejaring internasional. Keren pokoknya.

Maka semenjak menempuh pendidikan S3 dan rajin menulis soal-soal pendidikan tinggi saya selalu memotivasi diri saya dan kawan-kawan untuk tidak abai dengan persoalan semacam jabatan fungsional. Saya mendorong generasi muda dosen Indonesia untuk mengurus jabatan fungsional dan jadi Profesor selekas mungkin, karena dengan begitu dunia pendidikan tinggi bisa berada di tangan generasi muda ini. Revolusi senyap, bahasa gagah-nya.

Revolusi bukan semacam berebutan jabatan. Tapi lebih ke arah membangun arus-utama pemikiran baru. Kira-kira begitu.

Yah, nasib milenial senior semacam saya memang jadi provokator untuk milenial junior yang lebih pintar, lebih berjaringan dan lebih produktif.

Milenial bersatu tak bisa dikalahkan !

Dosen Milenial

Saya masih bingung sebenarnya, Dosen Millennial atau Milenial. Tapi karena beberapa media menggunakan milenial (dengan satu n san satu l), judul tulisan ini jadinya Dosen Milenial.

Belakangan istilah milenial ramai diperbincangkan di mana-mana. Istilah ini merujuk kepada sebuah generasi yang lahir di akhir 70-an atau awal 80-an sampai tahun 1995. Perhatikan infografik dari Tirto berikut ini:

Screenshot 2018-03-04 16.07.26

Atau infografik di bawah ini:

 

millenial-3

Sumber: https://thefrontofthejersey.com/2015/01/01/welcome-to-the-new-millenials-4-ways-the-generation-gap-can-be-leaped/

 

Hmm di lingkungan kerja, ini dia

 

Millennial_Printable_960

Sumber: https://www.onwardsearch.com/career-center/hiring-millennials/

 

Yang jelas nampaknya generasi ini akan menjadi generasi dominan dalam beberapa waktu ke depan, menggantikan emak-bapaknya, generasi X.

Saya akan membuat serangkaian tulisan tentang dosen milenial. Topik ini penting karena Menristekdikti menganggap dosen milenial siap melaksanakan revolusi. Kamsudnya revolusi 4.0, salah satunya melalui pembelajaran daring.

Perguruan tinggi nasional memiliki sebanyak 113.965 dosen ‘milenial’ (rentan usia 18-36 tahun) yang siap melaksanakan sistem perkuliahan jarak jauh berbasis internet (daring). (http://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/02/28/indonesia-miliki-113965-dosen-milenial-420337)

Sebenernya sebal juga sih melihat pernyataan di atas, seakan-akan dosen millenial hanya berada dalam posisi “siap online”.

Maka saya berencana menulis serangkaian tulisan soal dosen milenial dan wajah masa depan perguruan tinggi di Indonesia.

Karena mestinya berubahnya gak cuma perubahan kelas konvensional trus jadi online, simple amat ya mikirnya mbah-mbah kita di Kemristekdikti, he he

Baiklah, nantikan tulisan-tulisan berikutnya ya 🙂

Menjadi Dosen di Indonesia #Edisi Revisi

(Seorang fans pembaca mengirim permintaan agar saya merevisi tulisan ini. Ditambah pula tetiba ada lonjakan traffic blog ini kemarin, khususnya di topik pendidikan tinggi. Saya putuskan pagi-pagi habis subuh merevisi tulisan berikut ini, agar tidak banyak yang tersesat tulisan lama, he he. Semoga bermanfaat terutama memberi gambaran awal dunia persilatan, eh perdosenan dari perspektif karir. Begitu pemirsah. )

Semua profesi tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya, pun menjadi dosen.

Salah satu hal baik menjadi dosen di Indonesia adalah kemudahannya menjadi dosen tetap/ tenure. Di beberapa negara lain, tak mudah menjadi dosen tetap. Kawan-kawan saya yang bergelar Doktor di Jepang atau Perancis, misalnya mesti mengikuti post-doc dulu, menerbitkan disertasi-nya menjadi buku, baru bisa melamar menjadi dosen tetap, itupun kalau ada lowongan (kabarnya semakin jarang). Kompetisi-nya juga cukup ketat karena portofolio di bidang akademik seperti publikasi ilmiah amat menentukan. Kalaupun ada kasus master menjadi dosen tetap, ini hal yang amat langka sekali, mungkin hanya untuk orang-orang super-cemerlang saja.

Di indonesia, syarat menjadi dosen hanya bergelar master saja, sedikit yang rekrutmen awalnya doktor. Bahkan beberapa tahun lalu, orang bergelar sarjana bisa menjadi dosen tetap. Saya menjadi dosen tetap PNS ketika masih sarjana di tahun 2006 Baca lebih lanjut

Meluluskan Mahasiswa

Kemarin saya memposting beberapa foto sidang dan yudisium mahasiswa MAP Untirta di instagram.

Menyenangkan sekaligus mengharukan.

WhatsApp Image 2018-01-30 at 14.25.15

Sebagai Kaprodi, pembimbing sekaligus penguji untuk beberapa mahasiswa, saya tahu betul bagaimana teman-teman mahasiswa ini berjibaku dengan segala upayanya menyelesaikan studinya di MAP. Bahasa saya, lolos lubang jarum. Telat sedikit, mesti bayaran lagi 🙂

Nah, karena saya mengajar di kelas sejak sebagian mereka semester satu, dan jumlah mahasiswa Pasca tidak banyak. Saya agak paham proses perjuangan mereka.

Kelulusan dan menyelesaikan studi, ternyata tidak begitu berkorelasi dengan nilai di transkrip, keaktifan bertanya atau berdiskusi di kelas, atau penguasaan mahasiswa terhadap materi perkuliahan. Bukan berarti aspek-aspek ini tidak penting, tapi ini mah sudah seharusnya melekat dengan sendirinya karena proses belajar. Baca lebih lanjut

Setelah Menjadi Doktor

 

Ini renungan di hari Jumat

Menjadi Doktor ini bukan pencapaian puncak di dunia akademik.

Ia adalah sebuah terminal saja, semacam mendapatkan lisensi untuk meneliti.

Seorang Doktor telah dianggap mampu untuk secara independen melakukan proses penelitian sampai selesai dalam bentuk laporan dengan kualitas tertentu, bahkan terpublikasi.

Soal kualitas pun tentu tidak dianggap sempurna. Karena itulah ada yang disebut Post-Doctoral, menyempurnakan riset atau karya ilmiah yang dibuat semasa S3.

Namun sayangnya  di negara tetangga, disertasi kerapkali dianggap puncak karya seseorang di bidang akademik. Begitu didapatkan gelar doktor, turun pula, kan udah sampe puncak 😉

Baca lebih lanjut

Bagaimana Melanjutkan S3 ke Luar Negeri?

Tulisan ini diilhami beberapa hal. Pertama, adanya kawan yang minta rekomendasi untuk sekolah ke luar negeri; kedua, teman yang bertanya tentang proses untuk bersekolah; ketiga, pertemuan dengan Ken Miichi Sensei yang juga menyinggung tentang kesempatan studi di Waseda; kelima, email Sensei beberapa waktu lalu yang minta rekomendasi tentang seorang pelamar; dan keenam, kamu. Ya tulisan ini dibuat untukmu 🙂

***

Tentu saja tulisan ini memiliki beberapa keterbatasan, utamanya pengalaman, waktu dan tempat studi saya. Saya mulai studi S3 di Jepun tahun 2012 dan selesai di tahun 2015. Pasti ada beberapa perubahan yang terjadi.

Baiklah kita mulai saja. Baca lebih lanjut

Pengumuman: 3 Blog Terbaik Mahasiswa Abah

Sebagai Blogger yang menyamar menjadi dosen, rasanya saya perlu menjerumuskan para mahasiswa saya untuk masuk dunia digital juga, syukur-syukur ada yang keterusan jadi blogger serius kayak dosennya.

Nah dalam materi digital personal branding, saya meminta mahasiswa kelas pemasaran politik untuk masing-masing membuat blog. Posting awal tentang bagaimana mereka melakukan personal branding diri mereka sendiri. Saya menjanjikan 3 besar akan mendapatkan souvenir dari Belanda.

Nah setelah blog-walking ke sekitar 37 blog yang mereka buat, saatnya membuat pengumuman 3 terbaik. Secara umum bagus-bagus dan unik-unik. Para mahasiswa ini mencoba mendeskripsikan diri mereka secara berbeda, ada yang membangun brand sebagai traveller, santri, pecinta futsal, anak bekasi, bahkan mahasiswa supir ojek online. Keren-keren pokoknya lah.

Saya sebagai dosen blogger, senang dan terharu, makanya nilainya bagus-bagus…

Nah, bagaimanapun saya harus memilih 3 yang menurut saya terbaik. Pemirsah boleh punya pilihan berbeda ya

  1. https://sifanurfadilah.wordpress.com/

Taglinenya Jawara Perempuan, Perempuan bisa jadi jawara. Nah ini tentu saja eye catching karena biasanya jawara identik dengan sesuatu yang maskulin. Sifa menangkap ini, ditambah fotonya yang memegang toa dan sedang berorasi. Kalau konsisten dibangun, maka keyword: jawara perempuan bisa dikuasai Sifa. Selamat ya…

Tinggal jumlah posting yang harus diperbanyak dan penggunaan keyword yang musti ajeg dan konsisten.

 

2. http://apudsantrikampus.blogspot.co.id/

Apud ini sebetulnya lebih terkenal sebagai anak pinter di kelasnya. Runtut dalam menjelaskan segala sesuatu dan berwawasan luas. Nah, ia memilih sisi lain dari dirinya, yaitu sebagai santri. Jadilah tagline Santri Kampus, Ngaji Politik a la Mahasiswa. Secara Banten dikenal sebagai kawasan agamis, ini masuk banget. Jadi kuat di tema, walaupun eksekusi teknisnya tidak terlalu baik.

 

3.https://drivermahasiswa7.blogspot.co.id/

Nah ini dia yang unik banget, mahasiswa driver ojek online. Tanpa malu-malu dan gengsi, Maulana memposisikan dirinya sebagai mahasiswa yang juga bekerja sebagai driver ojek online. Ini tipe mahasiswa kekinian, mengedepankan benefit jangka panjang daripada gengsi sesaat. Lagipula apa yang ditampilkan Maulana membongkar pemikiran banyak mahasiswa yang harusnya membaca blognya. Keep blogging…

Nah, souvenir sebagai hadiah bisa diambil di ruangan Kaprodi MAP Pascasarjana Lt. 2 ya.

Blogger bersatu tak bisa dikalahkan !

 

 

Publikasi Jurnal Internasional Bereputasi Semasa Sekolah Diakui, Horeee !

Kemarin, Dekan FISIP Untirta membagikan file pdf berjudul “Arah Kebijakan Jabatan Akademik Dosen”. Nah karena file presentasi tersebut bentuk pdfnya agak tidak jelas, saya mencari ppt aslinya. Dapat ! Sila baca presentasi lengkap dengan membaca secara daring di bawah atau mengklik  tautan ini.


Ada beberapa hal menarik di sana, terutama terkait pertanyaan-pertanyaan yang masih menggantung dan belum kunjung mendapat jawabannya.

Utamanya adalah soal apakah paper di jurnal terakreditasi dan jurnal internasional berputasi yang dihasilkan selama kuliah S2/S3 yang merupakan bagian dari tesis/disertasi diakui atau tidak?

Jawabannya adalah diakui, bisa dilihat di halaman 60

Screenshot 2017-12-28 09.23.21

Hal ini melegakkan dan seharusnya membuat para reviewer/Tim PAK memiliki perspektif yang sama dalam menilai publikasi yang dihasilkan selama sekolah.

Oh ya, hal ini memberikan penguatan terhadap sebuah surat edaran yang menjelaskan bahwa karya ketika tugas belajar diakui.Screenshot 2017-12-29 07.35.46

Nah penjelasan dalam paparan Prof. Bunyamin tidak hanya memperkuat surat di atas, tapi membuat jelas bahwa paper dalam jurnal internasional dan terakreditasi yang merupakan bagian atau sintesis dari tesis dan disertasi diakui dan dapat dipergunakan untuk kenaikan pangkat/jabatan setelah selesai pendidikan.

Ah lega…

Minggu-minggu Terakhir di Leiden

Tulisan ini mulai dibuat di tengah presentasi kawan-kawan yang hebat.

Dalam keseharian konyol, banyak becanda dan banyak belanja, ups. Tapi presentasinya hebat-hebat, memukau, fascinating !

Ini adalah akhir dari short course kami, menunjukkan kepada para pengajar bahwa kami belajar. Pak Wim, Prof. Susan, Prof.Henk, Dr. Ward dan Nancy hadir untuk bertanya dan memberikan masukan. Such as wonderful moment…

WhatsApp Image 2017-11-22 at 08.00.55

Judul tulisan ini memang minggu terakhir, tapi saya akan menceritakan kelas-kelas yang belum saya ceritakan dan ujungnya ya, malam perpisahan. Jadi sabar, ini akan jadi salah satu posting dengan foto terbanyak, itupun gak semua masuk, he he.

***

Pada tanggal enam November kami punya dua Dosen keren, Dr.David Kloss dan Dr. Yatun Sastramidjaja.

Dr David Kloss menyampaikan “Female islamic leadership in Southeast Asia and question of citizenship, a gender studies approach”. Kloss menyampaikan risetnya di Malaysia dan Aceh, serta observasinya di kegiatan KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia). Penyampaian Kloss amat menari, segera saja ia menjadi favorit para peserta short course dari kalangan Ibu-ibu 🙂

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.42

Kelas selanjutnya dari Bu Yatun, Ia menyampaikan kuliah: “Global youth and citizenship”. Terdapat diskusi panas tentang definisi pemuda, dan para peserta shortcourse harus menerima bahwa mereka tidak muda lagi, he he

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.42 (1)

Besoknya kami harus ke Vrije University (VU), dimana ada beberapa kelas yang akan kami dapatkan. Mbak Nancy dan Mbak Widya menjemput kami di Amsterdam Zuid. Makasih yaaa.

Trus kami jalan deh ke VU

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.42 (2)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.44

Nah di VU Prof. Thijl Sunier, menyampaikan kuliah:  “Islam in Europe in a comparative perspective”. Ia menyampaikan berbagai data dan persepektif tentang orang islam dan islam di Eropa.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.37.50

Setelah itu dilanjutkan dengan kelas dari Prof. Susan Legene: Lecture and skills lab on “Colonial histories, histories of imperialism, national historiographies: how we conceptualize and deal with its sources for citizenship problems” 

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.29.14

Kegiatan hari itu belum selesai, kami  menghadiri pengukuhan Prof. Wyne Modest yang akan menyampaikan orasi ilmiah berjudul: “Pressing Matter: Reckoning with Colonial Heritage”

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.43 (1)

Tak nampak karangan bunga besar-besar, atau kresek berisi bingkisan dan makanan kotak. Bahkan Professornya tetap dengan rambut gondrong reggae, he he. Tentu dilanjutkan dengan memberikan ucapan selamat dan makan-makan, walaupun tentu hanya minum jus dan snack dari snack bar.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.43 (2)

Ternyata belum selesai juga, beberapa kawan memutuskan melakukan observasi ke kawasan red-light. Observasi merupakan bagian penting untuk memahami kondisi sosial sebuah daerah (halah, alesan)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.43 (4)

Observasi diakhiri (atau diawali?) dengan makan ayam panas (hot chicken) yang enak sekali 🙂 Tenang saja, ayam beneran.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.54.40

***

Hari rabu ada dua kuliah lagi. Pertama dari Dr. Tom Hoogervorst, lecture on “Globalizing acces to manuscripts”. Tom menyampaikan bagaimana dunia digital berelasi dengan upayanya melestarikan naskah bagaimana naskah-naskah tersebut  dimanfaatkan. Sebelumnya saya sudah mendengar reputasi Tom sebagai social linguist terkemuka. Senang diajar beliau 🙂

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.21.03

Kuliah selanjutnya yang tidak kalah menarik adalah kuliah Dr. Guno Jones, lecture on “The instability of postcolonial citizenship”

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.21.03 (1)

Hari jumatnya kuliah di VU lagi, Dr. Ratna Saptari memberikan kuliah  “Gendering research on Southeast Asian citizenship”. Bu Ratna membongkar pemikiran kami tentang kultur dan identitas. Bu Laxmi saking semangatnya sampai menangis terharu ketika  menyampaikan pandangannya.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.43 (5)

Nah  setelah makan siang Prof. Ruard Ganzevoort, menyampaikan kuliah “Global interaction and citizenship, interrelegious studies approach. Ruard ini selain Professor, juga Dekan Fakultas Teologi dan Anggota Senat di Belanda.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.44 (1)

Hari sabtu, bersama Susan Legene, Nancy Jouwe, dan Pak Ron Habiboe,  berangkat ke Brussel visiting House of European history and Europalia. Di House of European History kami utamanya melihat perkembangan peradaban Eropa. Setiap lantai menunjukkan kurun tertentu. Berikut beberapa fotonya.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.44 (3)WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.44 (2)

Sementara di Europalia, kami menyaksikan dua pameran: Ancestor and Ritual and Power and Other Thing

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.44 (4)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.03.06 (1)WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.03.06 (2)WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.03.06

***

Nah 14 November 2017, kami kembali bertemu dengan Prof Susan Legene, on “Photography skills lab” di VU Amsterdam. Kami mendiskusikan hasil kunjungan lapangan ke Belgia dan juga mempelajari bagaimana menggunakan foto dalam riset.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.45

Kelas dari Susan mengakhir kelas-kelas yang kami harus lalui.

***

Namun kegiatan masih harus diikuti dengan kunjungan ke Denhaag, menuju Pusat Pemerintahan Belanda (Binnenhof), Mahkamah Internasional dan Institut of Social Studies (ISS)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.47WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.46 (2)WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.47 (1)WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.46 (1)WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.45 (2)WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.45 (1)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.45 (3)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.46

***

Nah, hari ini kami menghadapi final presentation. Berikut beberapa foto peserta yang presentasi. Mohon maaf jika belum semua masuk…

WhatsApp Image 2017-11-22 at 23.33.32

Fitri dari ISI Surakarta

 

WhatsApp Image 2017-11-22 at 23.52.11

Lilis, UNNES

 

 

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.18

Monika dari UNS

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.19

Netty dari UnLam

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.20

Iqbal dari UPI

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.21

Natalia dari Univ Kristen Satya Wacana

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.22

Angga dari UM

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.23

Adityo dari UNIB

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.16.18

Laxmi dari UnHalu

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.16.19 (2)

Abah dari Untirta

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.16.19 (3)

Rakhmat dari UNJ

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.16.19 (4)

Shofa dari Univ. HamzanWadi

WhatsApp Image 2017-11-22 at 15.01.11 (1)

Abdul Aziz dari UNMUH Makassar

 

WhatsApp Image 2017-11-22 at 22.55.58

Matrissya, Universitas Gunadarma

WhatsApp Image 2017-11-22 at 15.01.11

Juhansar, UTY

WhatsApp Image 2017-11-22 at 21.31.54

Dina, Univ. Dayanu Ihsanudin

 

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.16.19

Lely dari UnSyiah

Nah, sorenya diadakan penyerahan sertifikat gelar M.Sc (Master of Short Course, he he) oleh Prof. Susan dari VU. Saya memiliki kesan mendalam terhadap Prof. Susan ini, berkharisma, berilmu, tapi nampak sederhana. Ia paginya mengatakan bahwa ia naik sepeda dari Leiden Centraal ke kampus. Oh ya kami punya kesamaan, sama-sama punya tas kanken, he he

whatsapp-image-2017-11-22-at-20-54-24-e1511388603725.jpeg

WhatsApp Image 2017-11-22 at 16.21.24

WhatsApp Image 2017-11-22 at 16.21.40WhatsApp Image 2017-11-22 at 16.21.25

Malamnya kami makan-makan di the Sumatera House. Ada penyerahan bingkisan untuk para Tutor. Kebetulan yang hadir Pak Ron, Pak Wim dan Mbak Nancy. Dilanjutkan tentu saja foto-foto

WhatsApp Image 2017-11-22 at 20.53.51WhatsApp Image 2017-11-22 at 20.53.27WhatsApp Image 2017-11-22 at 20.51.50WhatsApp Image 2017-11-22 at 20.50.32

Waaaaaah selesai sudah. Sampai ketemu di Tanah air. Saya mau tidur dulu, badan minta haknya untuk diperhatikan.