Arsip Tag: dosen milenial

Edisi Lengkap dan Terbaru Jurnal Terakreditasi Dikti (Update 9 Juli 2018)

Dear rekan-rekan semua, bersama ini saya posting Jurnal Elektronik Terakreditasi edisi I 2018. Nah untuk kali pertama jurnal terakreditasi menggunakan sistem peringkat, I-6 dengan ratusan jurnal masuk ke dalam kategori terakreditasi.

Screenshot 2018-07-20 09.29.16Screenshot 2018-07-20 09.29.27

Mangga disimak

Baca lebih lanjut

Iklan

Perpustakaan Kampus

Saya beruntung pernah menikmati beberapa kampus dengan perpustaan yang luar biasa. Di Kyoto sewaktu saya studi S3 di Doshisha, perpustakaan adalah tempat saya menghabiskan waktu. Selain meminjam buku, juga untuk belajar. Perpustakaan berada beberapa lantai ke dalam bumi. Terdapat ruang baca di permukaan tempat membaca beberapa hardcopy jurnal dan buku. Di kampus terpisah terdapat ruang belajar yang bisa dipakai untuk berdiskusi, semacam study room, lengkap dengan layar besar untuk latihan pesentasi kelompok di setiap meja-nya. Nah di ruangan belajar tersebut saya dan Pak Ishaq membimbing beberapa mahasiswa master dari Afghanistan menyelesaikan tesisnya.

14171838312_ba76eb88ac_o

Oh ya, jika kita membutuhkan buku dan koleksinya tak tersedia, bahkan kita bisa memanfaatkan jaringan perpustakaan atau bahkan meminta perpustakaan untuk membelikan. Kadang minta Sensei membelikan juga sih pake anggarannya. What? Dosen diberi anggaran untuk beli buku? Ya begitulah…

Masih di Kyoto, selama dua kali menjadi Visiting Researcher di CSEAS Kyoto University, perpustakaan CSEAS menjadi tempat favorit untuk mendapatkan (baca: meminjam dan baca) koleksi buku-buku super lengkap tentang Asia tenggara, wabilkhusus Asia Tenggara. Kita bisa mendapatkan koleksi majalah Tempo atau bahkan Sabili lengkap. Karena itu, jika kita menulis tentang Indonesia, khususnya Indonesia modern, perpustakaan ini menjadi salah satu pilihan utama untuk studi pustaka.

Saya paham seriusnya perpustakaan CSEAS berburu bahan pustaka, karena pernah beberapa kali menemani Okamoto Sensei berburu buku langka. Kantor CSEAS-Jakarta di Kertanegara adalah tempat transit buku-buku tersebut sebelum dikapalkan ke Jepun.

Terakhir ketika saya short-course di Belanda, tentu saja perpustakaan Leiden menjadi tempat favorit. Sebagian besar waktu saya habis di perpustakaan universitas yang menyimpan koleksi amat lengkap, hardcopy maupun digital. Librarian mengatakan bahwa koleksi Indonesia jika disusun-panjang, sekitar 12km. Tentu inilah tempat terbaik di dunia untuk studi pustaka Indonesia.

whatsapp-image-2017-10-26-at-13-43-20

***

Saya tentu tidak mau mengeluh tentang kondisi perpustakaan di tanah air, apalagi di kampus tempat saya bekerja. Oh ya, kampus tempat saya dulu kuliah di Depok sejatinya punya konsep yang keren. Perpustakaannya seperti bukit telletubies yang ditutupi rumput-rumput. Ndilalah ketika bulan lalu ke sana, ternyata konstruksi bangunannya gak kuat, kabarnya bocor dan retak di beberapa tempat. jadilah tanah dan rumputnya dibuangin. Sayang banget ya

Perpustakaan_Universitas_Indonesia

Nah karena malam ini karena tidak bisa tidur, maka secara random saya searching foto-foto perpustakaan terbaik di dunia menurut beberapa website. Hmm, saya sepakat bahwa walaupun sebagian besar naskah yang dibutuhkan untuk belajar atau meneliti sekarang berbentuk digital, peran perpustakaan tidak bisa diremehkan, malah menjadi semakin penting.

Maka saya sudah tidak terkesima dengan perpustakaan kampus yang grande ala ruang makan di Hogwart, tapi lebih ke perpustakaan yang nyaman untuk belajar dan bekerja, dengan akses internet kecepatan tinggi serta menyediakan ruang untuk berdiskusi. Tentu tanpa mengganggu yang lain.

Ini dua tempat yang memberikan ide. Pertama adalah Walter C. Langsam Library – University of Cincinnati. (sumberfoto:http://www.collegerank.net/amazing-college-libraries/) Ini oke dan lucu banget, instagrammable. langsam-library-univ-cincinnati

Rasanya kok fresh banget ya. Suasana fresh begini penting, apalagi jika sedang menulis paper, skripsi, tesis atau disertasi. Pasti melancarkan peredaran darah di otak 😉

He he, sok tau ya?

Nah kalau satu lagi, Princeton University’s Julian Street Library (Sumberfoto: https://www.ecollegefinder.org/2014/04/28/worlds-coolest-college-libraries/)

Julian-Street-LibrarySaya kesengsem (baca: suka banget) sama sofa dan cahanya. Kayaknya tenaaang banget untuk membaca. Pasti membaca yang sulit-sulit jadi lebih mudah ya, he he, apalagi sambil minum kopi yang enak, hmmm

Tentu sudah ada kali ya, kampus dengan suasana macam begini di tanah air (CMIIW).  Yang jelas aspirasi saya sebagai dosen jelata millennial ya apa yang saya tulis di instagram:

Perpustakaan mestinya bisa menjadi tempat yang paling nyaman di kampus. Ia bisa digunakan untuk membaca, merenung, bekerja atau berdiskusi (ada ruang khusus yang privat). Koleksi yang lengkap dan berjaringan dengan kampus lain, akses internet kencang, ruangan sejuk, sofa empuk, meja dengan banyak colokan dan beberapa komputer siap akses koleksi digital.

Nah tentu saja, ini mesti jadi investasi terbesar ketika membangun sebuah kampus. Walaupun tentu saja jika sedikit kreatif bisa berkolaborasi dengan berbagai perusahaan sekitar kampus atas nama CSR. Masak sih nggak bisa?

 

Respon-respon Terhadap Isu Dosen Asing

Media sosial menjadi sarana berkespresi yang menarik untuk melihat berbagai sudut pandang terhadap isu dosen asing yang mau digaji Kemeriting (Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi). Saya sendiri juga cukup aktif di medsos, sebagai sarana berbagi dan tukar pikiran.

Terdapat berbagai sudut pandang mengenai rencana masuknya dosen asing tersebut. Saya ambil tiga ekspresi yang menurut saya menarik. Oh ya satu sudut pandang dari HA sudah saya tampilkan di tulisan sebelumnya.

Ekspresi menarik datang dari Dr. Wahyu Prasteyawan, sahabat baik, Dosen UIN Syahid Jakarta yang dalam setahun, selama 3 bulan mengajar di GRIPS, Tokyo. Ia menulis

Screenshot 2018-04-24 08.51.02

Belakangan beliau Japri rencana bukunya yang segera terbit di NUS

Screenshot 2018-04-24 09.06.38

Nah itu Mas Wahyu, bisa ikut jawab pertanyaan beliau?

Apakah dosen lokal dengan kualifikasi setara dosen asing berhak atas gaji yang sama dengan dosen asing?

Nah pendapat Prof Arief Anshory Yusuf juga menarik,

Screenshot 2018-04-24 11.20.04

Yang lebih senior, Prof Khairurijal, role model saya di dunia ghoib akademik salah satu Ilmuwan Produktif Indonesia, Ketua LPPM ITB dan Awardee Habibie Award juga menyampaikan ekspresi yang hmm, provokatif 🙂

Screenshot 2018-04-24 09.08.52

Menarik ya..

Dan ekspresi tersebut tak berlebihan, karena prestasi akademik Prof. Khairurrijal memang wow banget. Beliau juga banyak membidani lahirnya berbagai upaya meningkatkan publikasi di banyak kampus, termasuk kampus tempat saya mengajar. Berikut profil Sinta Prof Khairurrijal…

Screenshot 2018-04-24 09.10.44

Ah saya gak tega membandingkan dengan screenshot profil Sinta Bos pengambil kebijakan pendidikan tinggi yang sedang ramai beredar karena tidak memiliki publikasi terindeks scopus padahal keras sekali menyuruh dosen publikasi terindeks scopus.

Ada komentar?

Atau masih nyuruh mingkem karena dianggap gagal paham?

 

Masih Soal Dosen Asing

Banyak yang tidak mengerti, seakan-akan akan dimasukannya dosen asing dengan gaji sekitar Rp.65 juta/bulan hanya sekedar persoalan keirian dosen pribumi terhadap mereka.

Padahal naiknya isu ini adalah gunung es dari persoalan manajemen SDM pendidikan tinggi kita yang betul-betul buruk.

Dengan isu ini, sebetulnya, semua sepakat bahwa gaji tinggi (baca: pantas) adalah prasyarat mutlak bagi dihasilkannya produktivitas ilmiah yang pantas. Sederhananya, dosen cukup ngurusi ngajar dan riset tanpa mencari penghasilan tambahan di luar sana. Sibuk jadi anggota komisi ini dan itu, bisa menolak tampil di TV untuk jadi komentator segala hal, atau gak mesti jadi calo tanah.

Kalau memang Kemeriting (Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi) memang menganggap gaji dosen kita sudah pantas, berikan saja gaji yang sama untuk dosen asing. Jika menganggap itu tak pantas dikaitkan dengan target yang hendak dicapai, berarti memang selama ini gaji dosen Indonesia tak pantas.

Gak mungkin kalau dosen asing protes soal gaji trus dibilang bahwa pintu rezeki itu banyak, silahkan ngobyek, harus ikhlas dan mari bersyukur kan?

Inilah ketidak adilan, mental inlander dan diskriminasi yang ada di bawah sadar para pengambil kebijakan pendidikan tinggi kita.

Alih-alih menaikkan tunjangan fungsional dosen yang sebelas tahun gak naik (Baca Perpres 65 tahun 2007), kebijakan terakhir terhadap dosen pribumi adalah mengancam menghentikan tunjangan sertifikasi dosen bagi lektor kepala (Baca Permenristekdikti 20 2017) terkait publikasi. Jadi mental inlandernya kentara sekali, menginjak bangsa sendiri dan memuja asing setinggi-tingginya.

Manajemen SDM pendidikan tinggi kita jadi terlihat betul-butul buruk, menggaji dosen pribumi terlalu rendah tapi mengharapkan mereka berproduksi seperti dosen asing yang (akan) dibayar tinggi.

Ada juga tanggapan di beberapa orang yang pernah mengajar di negara asing, bahwa angka segitu sudah pantas, tidak berlebihan. Misalnya orang ini:

Screenshot 2018-04-23 08.17.05

Lha kalau logika Kemeriting diaminin, maka jika gaji HA sebagai dosen asing sebesar 50-60 juta maka gaji dosen pribumi Jepangnya cuma seperlimanya atau  5-10 juta? Nggak kan Bro?

Itulah, butuh berpikir dan bukan hawa nafsu sebelum membuat posting atau berkomentar, jadinya ngawur.

Dosen asing yang masuk ya mestinya ikut sistem di mana dia bekerja. HA digaji segitu ya karena segitulah standard gaji dosen di level dia di Jepang. Kalaupun lebih tinggi karena kualifikasi, reputasi dan portofolio yang lebih baik, bukan karena soal asing dan pribumi.

Lantas bagaimana?

Tentu saja saya ndak menolak dosen asing. Tapi mereka musti terintegrasi dengan sistem yang ada. Bukan diistimewakan dengan kebijakan double standard seperti sekarang. Kalau situasinya masih seperti sekarang ya berikan gaji seperti kepada dosen Indonesia. Kalau sakit ya disuruh berobat pake BPJS 🙂

Saya yakin banyak anak-anak muda Indonesia yang punya potensi besar jadi promising top scientist di masa depan. Tapi mereka mungkin merinding dan melipir duluan melihat dunia pendidikan tinggi kita yang ajaib. Jadilah memilih kerja di perusahaan swasta, ngajar di kampus luar, dan tempat-tempat lain yang memperlakukan secara pantas.

Jadi tantangannya ya  dengan membuat profesi dosen menjadi atraktif, dan digaji pantas. Kalau ndak ya mereka-mereka yang terbaik (Katakanlah alumni lpdp yang lulus dari kampus-kampus terbaik di dunia dan dibiayai negara selama kuliah) pasti akan memilih bekerja di sektor yang memperlakukan mereka dengan lebih pantas.

Begitu, btw gak usah bikin tagar-tagaran kan?

 

 

 

Diaspora Indonesia Dipermudah Jadi Dosen PNS? Yang Bener aja ;)

Lagi-lagi saya geleng-geleng kepala.

Kemeriting (Kementerian Riset, teknologi dan perguruan tinggi) ini memang sedang demen-demennya bikin aturan instant, tidak berbasis persoalan riil yang ada di dunia pendidikan tinggi, dalam hal ini negeri.

Sebagaimana judul tulisan ini, beberapa media melansir kesepakatan KeMenPAN RB dan Kemeriting tentang rekrutmen diaspora Indonesia menjadi dosen PNS tanpa test.

Baca: JPNN, Okezone, dan Republika.

Screenshot 2018-03-27 19.46.08.png

Ada beberapa komentar saya tentang hal ini.

  1. Rekrutmen dosen PNS memang secara keseluruhan bermasalah, penekanan kepada test dan bukan portofolio di bidang akademik bidang yang spesifik, hanya akan menghasilkan rookie dan bukan ilmuwan yang sudah jadi. Seleksi dosen PNS cenderung menghasilkan birokrat yang kemudian ditempatkan sebagai dosen, bukan mencari ilmuwan.
  2. Pemerintah terutama Kemeriting harusnya mencari tahu, mengapa talenta-talenta terbaik tidak tertarik menjadi dosen, tapi memilih bekerja di sektor swasta atau memilih menjadi dosen di luar negeri. Kenapa pekerjaan dosen di Indonesia less atractive?
  3. Salah satu jawaban untuk nomor (2) adalah rendahnya penghargaan terhadap dosen di Indonesia. Dengan requirement minimal master dan didorong untuk doktor, tingkat penghasilan tidak berbeda, bahkan bisa lebih rendah dibandingkan guru yang requirementnya S1. Untuk daerah seperti DKI Jakarta, di mana guru mendapatkan tunjangan daerah yang amat besar, pendapatan dosen PNS jauh lebih kecil. Sebagai catatan, tunjangan profesi dosen persis sama dengan tunjangan profesi guru, padahal jelas requirement, tugas dan kewajiban berbeda.
  4. Pemerintah dalam hal ini utamanya Kemeriting cenderung memaksakan target-targetnya dipenuhi dosen dan memberikan ancaman, tapi tidak memberikan reward sepadan. Sebagai contoh, dosen berjabatan fungsional lektor kepala (Associate Professor) diharuskan menghasilkan publikasi internasional dan atau di jurnal terakreditasi, dan jika tidak maka tunjangan profesi dosennya dihentikan (baca permenristek dikti 20 2017). Padahal tidak ada reward atau tunjangan khusus bagi lektor kepala.
  5. Tunjangan fungsional lektorkepala (Associate Professor) hanya Rp. 900.000,-. Jadi jika tunjangan profesi dosen dihentikan, pendapatannya jelas lebih kecil dari lektor atau asisten ahli. Diskriminasi dan aneh banget serta gak masuk akal. Gemes deh…
Screenshot 2018-03-27 19.15.23

Tunjangan Fungsional Dosen, Perpres 65 2007

6. Nah tunjangan di point (5) diatur dalam Perpres No. 65 2007, aturan yang sudah berumur 11 tahun. Padahal tunjangan fungsional peneliti terbaru di tahun 2012. Mendesak bagi pemerintah dalam hal ini Kemeriting mengusulkan revisi PP No. 65 2007 jika memang memperhatikan kesejahteraan dosen.

screen-shot-2013-11-27-at-6-42-33-pm

Tunjangan Fungsional Peneliti

7. Jadi sebelum memanggil pulang diaspora untuk menjadi dosen di Indonesia, saran saya perbaiki tingkat kesejahteraan dosen PNS. Paling tidak tunjukkan niat baik dengan menaikkan tunjangan fungsional dosen minimal sebesar peneliti. Atau kalau mau langsung bikin survey ke Malaysia atau Brunei, buat kesejahteraan dosen minimal sebesar di negara-negara itu. Kalau ndak  mereka (baca: diaspora) akan balik lagi ke negara tempat mereka sekarang bekerja. Percayalah.

8. Atau setelah membaca tulisan saya ini, para diaspora gak jadi dan gak mau balik ke Indonesia? he he, jangan marahin saya ya Pak Menteri dan Pak Dirjen, maklum saya hanya nubitol.

catatan: tulisan ini terinspirasi demo ojek online (27/3) yang bisa memaksa presiden menemui mereka. Hal yang belum pernah bisa dilakukan sekelompok “intelektual” yang berprofesi sebagai dosen.

Dosen Milenial (2)

Baiklah, saya mau menggunakan kisaran waktu kelahiran 1981 – 2000 untuk menyebut generasi millenial. Generasi sebelumnya, yaitu yang lahir tahun 1965 – 1980 sebagai generasi X, dan yang lahir 1946 – 1964 sebagai generasi baby boomers. Generasi setelah milenial disebut generasi Z. Kenapa ini dipilih, karena saya lahir di tahun 1981, jadi bisa dengan belagu menyebut diri saya sebagai milenial senior 🙂

Berikut gambar dari hasil risetnya  Alvara :

Screenshot 2018-03-19 18.55.15

Nah berdasarkan kategorisasi di atas, maka generasi milenial sekarang berusia antara: 18 – 37 tahun. Nggak terlalu muda juga, tapi memang sedang ranum-ranumnya di bagian paling muda. Saya sendiri merupakan milenial senior karena lahir di tahun 1981, yah milenial muka kolonial, he he.

Generasi paling junior adalah generasi yang baru masuk kuliah. Jadi kalau saya mengajar, sesungguhnya itu adalah milenial mengajar milenial, bukan jeruk makan jeruk, he he

Screenshot 2018-03-19 19.33.57

Masih dari Alvara yang mengambil data dari BPS, maka jumlah perkiraan penduduk di tahun 2000 bisa digambarkan melalui piramida sebagai berikut:

Screenshot 2018-03-19 19.01.13Jumlah penduduk milenial pada tahun 2020 diperkirakan berjumlah 34% dari populasi. Lebih besar dari penduduk per-kategori, dan menariknya berada di usia yang lucu-lucunya produktif-produktifnya.

Nah bagaimana di dunia pendidikan tinggi?

Berikut data dari buku Buku-Statistik-Pendidikan-Tinggi-2017:

Screenshot 2018-03-19 18.49.03Dosen berusia di bawah 25 tahun sebanyak 1.892 orang, ditambah berusia 26-35 tahun sebanyak 73.223, jika dijumlahkan sebanyak 75.115 orang atau sebanyak 30.38% dari total 247.269 dosen di seluruh Indonesia. Sebagai catatan angka ini agak berbeda dengan angka 113.965 dosen milenial yang diumumkan Kemeriting (Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi) yang dikutip Pikiran Rakyat. 

Bisa jadi karena data yang diumumkan Kementerian mencakup juga Dosen di Kementerian agama dan sekolah kedinasan. Maklum di NKRI ini banyak sekali kategori perguruan tinggi. Sementara yang di buku Statistik Pendidikan Tinggi 2017 hanya Perguruan Tinggi di bawah Kemeriting saja.

Apapun, jumlah dosen milenial lebih banyak dibandingkan dengan dosen di kategori yang lain. Hal ini juga terkait status dosen. Perhatikan data berikut, masih dari statistik pendidikan tinggi

Screenshot 2018-03-19 18.45.55

Sayangnya saya tidak memiliki data usia dosen dibandingkan dengan tingkat pendidikan dan jabatan fungsional. Kalau kemeriting merilis data tersebut atau menyediakan data mentahnya, asik tuh.

Namun saya percaya bahwa kesadaran dosen milenial untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral dan berupaya mendapatkan gelar Profesor di usia lebih muda lebih besar dibandingkan kategori usia yang lain.

Beberapa milenial junior misalnya, begitu memutuskan menjadi dosen sebagai jalan hidup akan menyegerakan menempuh studi ke jenjang doktoral. Beda sekali dengan milenial senior apalagi generasi sebelumnya yang malah menyegerakan menikah.

Maka saya beruntung semenjak Bulan lalu diangkat menjadi Kaprodi Ilmu Pemerintahan Untirta, Prodi yang semua dosen tetapnya berada dalam kategori milenial. Menyenangkan berada di tengah-tengah anak-anak muda dan mengajar anak-anak muda.

Sebelumnya saya Kaprodi S2 Magister Administrasi Publik, selain mengajar juga belajar kearifan dan kebijaksanaan dari mahasiswa saya yang sebagian besar lebih senior usianya daripada saya.

kelas-gabriel

***

Hmm, dunia pendidikan tinggi memang sedang bergerak.

Dua hari lalu di sebuah acara kawinan, saya berkenalan dengan seseorang yang menjadi dosen setelah terlebih dahulu meraih gelar doktor di Eropa dalam usia di bawah 30 tahun. Seorang kawan menjadi doktor di usia 32 tahun, adiknya di usia 26 tahun. Adik kelas saya di UI meraih gelar doktor di Jepang di usia di bawah 30 (Lulus S1 lanjut S2 dan lanjut S3) dan sekarang menjadi Kaprodi di sana. Kawan se-almamater saya yang meraih gelar doktor di usia belia dan ditolak menjadi dosen di almamaternya sekarang menjadi associate Professor di Jepang, sama dengan kawan lain yang juga memilih menjadi associate Professor di Malaysia daripada di Depok. Kemarin ketika belanja di Lu-Lu, saya juga bertemu doktor muda belia ahli kebijakan-energi dari Jepang yang mengajar di perguruan tinggi khusus kebijakan. Sekitar tiga tahun lalu ketika menunggu kereta ke Kyoto saya bertemu anak muda yang baru wisuda S1 hari sabtu dan hari seninnya sudah berada di Jepang untuk memulai S2.

Hal-hal begini membuat saya merasa tua dan merinding dangdut bahagia.

Merasa tua karena saya merasa adik-adik saya, para milenial junior seperti berpacu dengan waktu menyelesaikan studi doktoral dan mencapainya jauh lebih muda dibandingkan saya yang meraih Ph.D (permanent head damage) di usia 34 tahun.

Merinding bahagia karena saya bisa sedikit optimis, merasa masa depan pendidikan tinggi Indonesia akan beranjak membaik. Bukan karena kebijakan Dikti yang memaksa para dosen publikasi dengan segala ancamannya, tapi karena generasi millenial ini pelan-pelan akan mengambil alih dunia pendidikan tinggi secara alamiah. Milenial muda ini produktif, jago bahasa Inggris, publikasinya banyak, serta memiliki jejaring internasional. Keren pokoknya.

Maka semenjak menempuh pendidikan S3 dan rajin menulis soal-soal pendidikan tinggi saya selalu memotivasi diri saya dan kawan-kawan untuk tidak abai dengan persoalan semacam jabatan fungsional. Saya mendorong generasi muda dosen Indonesia untuk mengurus jabatan fungsional dan jadi Profesor selekas mungkin, karena dengan begitu dunia pendidikan tinggi bisa berada di tangan generasi muda ini. Revolusi senyap, bahasa gagah-nya.

Revolusi bukan semacam berebutan jabatan. Tapi lebih ke arah membangun arus-utama pemikiran baru. Kira-kira begitu.

Yah, nasib milenial senior semacam saya memang jadi provokator untuk milenial junior yang lebih pintar, lebih berjaringan dan lebih produktif.

Milenial bersatu tak bisa dikalahkan !

Dosen Milenial

Saya masih bingung sebenarnya, Dosen Millennial atau Milenial. Tapi karena beberapa media menggunakan milenial (dengan satu n san satu l), judul tulisan ini jadinya Dosen Milenial.

Belakangan istilah milenial ramai diperbincangkan di mana-mana. Istilah ini merujuk kepada sebuah generasi yang lahir di akhir 70-an atau awal 80-an sampai tahun 1995. Perhatikan infografik dari Tirto berikut ini:

Screenshot 2018-03-04 16.07.26

Atau infografik di bawah ini:

 

millenial-3

Sumber: https://thefrontofthejersey.com/2015/01/01/welcome-to-the-new-millenials-4-ways-the-generation-gap-can-be-leaped/

 

Hmm di lingkungan kerja, ini dia

 

Millennial_Printable_960

Sumber: https://www.onwardsearch.com/career-center/hiring-millennials/

 

Yang jelas nampaknya generasi ini akan menjadi generasi dominan dalam beberapa waktu ke depan, menggantikan emak-bapaknya, generasi X.

Saya akan membuat serangkaian tulisan tentang dosen milenial. Topik ini penting karena Menristekdikti menganggap dosen milenial siap melaksanakan revolusi. Kamsudnya revolusi 4.0, salah satunya melalui pembelajaran daring.

Perguruan tinggi nasional memiliki sebanyak 113.965 dosen ‘milenial’ (rentan usia 18-36 tahun) yang siap melaksanakan sistem perkuliahan jarak jauh berbasis internet (daring). (http://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/02/28/indonesia-miliki-113965-dosen-milenial-420337)

Sebenernya sebal juga sih melihat pernyataan di atas, seakan-akan dosen millenial hanya berada dalam posisi “siap online”.

Maka saya berencana menulis serangkaian tulisan soal dosen milenial dan wajah masa depan perguruan tinggi di Indonesia.

Karena mestinya berubahnya gak cuma perubahan kelas konvensional trus jadi online, simple amat ya mikirnya mbah-mbah kita di Kemristekdikti, he he

Baiklah, nantikan tulisan-tulisan berikutnya ya 🙂

Masih Tentang Kepemimpinan

Dari sekian banyak kisah kepemimpinan, ada dua kisah yang sampai sekarang menjadi pedoman saya.

***

1

Kisah pertama adalah kisah Rasulullah Muhammad dan Pengemis Buta Yahudi.

Sebagai pemimpin, Rasulullah tentu bisa saja memaksa siapapun di Madinah untuk memeluk Islam. Namun itu tidak dilakukannya.

Pembuktiannya sederhana. Ada seorang pengemis Yahudi yang mengemis di tepi jalan yang setiap hari dilalui Rasulullah. Dan setiap hari Rasulullah melewati tempat itu, Beliau menyuapi pengemis buta tersebut. Si pengemis, pembenci Rasulullah tidak tahu yang menyuapinya adalah Rasulullah. Ia seringkali mengungkapkan kebenciannya kepada Rasulullah dalam bentuk makian.

Sampai suatu hari, tidak ada lagi yang menyuapinya.

Tetiba ada yang datang menyuapinya, dan si pengemis sadar bahwa yang menyuapinya bukanlah orang yang biasanya. Ia adalah Abu Bakar yang hendak mengamalkan kebiasaan-kebiasaan Rasulullah.

Ketika pengemis buta tersebut complain bahwa ia bukanlah orang yang biasa menyuapinya, Abu Bakar menangis, menyampaikan bahwa yang biasa menyuapi si pengemis adalah Rasulullah yang baru saja meninggal.

Si pengemis buta menangis dan spontan mengucapkan syahadat. Ia tak sadar selama ini menerima kebaikan dari orang yang dibencinya.

***

Dari kisah ini jelas bahwa kepemimpinan dan seruan kepada Islam memang ditegakkan Rasulullah dengan akhlak, bukan dengan paksaan, kekerasan, apalagi bersikap nyinyir.

Kepemimpinannya adalah kepemimpinan dengan kasih sayang, kepemimpinan berkelas.

 

***

2

Kisah kedua adalah kisah Khalid bin Walid.

Ia adalah musuh terbesar Ummat islam sebelum akhirnya bergabung dengan Rasululllah.

Khalid pertama menjadi Komandan pasukan muslim ketika tiga komandan lain yang ditunjuk Rasulullah gugur dalam Perang Mu’tah: Zaid bin Haritsah, Ja`far bin Abu Thalib dan Abdullah bin Rawahah. Setelah tiga sahabat tersebut gugur, Rasulullah mempersilahkan pasukan untuk memilih pemimpinnya. Khalid terpilih dan berhasil menyelamatkan pasukan muslim dari kehancuran, maklum 3 ribu pasukan muslim musti berhadapan dengan 200 ribu pasukan Romawi.

Masa-masa setelah itu adalah kegemilangan Khalid sebagai Jenderal pasukan muslimin di berbagai medan tempur. Tak terkalahkan, keren pokoknya Gan.

Namun yang menarik adalah akhir kariernya.

Khalid dicopot oleh Khalifah Umar bin Khatab justru di puncak kejayaannya sebagai Panglima. Di tengah puja-puji keberhasilannya sebagai Syaifullah, Pedang Allah.

Marahkah Khalid? Tidak

Ia tidak mengalami post power syndrom, apalagi menyiapkan kudeta. he he. Biasa aja. Ia tetap berperang sebagai prajurit biasa.

Walaupun tentu saja, yang menyedihkan bagi Khalid adalah kematiannya, tidak di medan perang, tapi di atas tempat tidur.

***

begitu gan…

 

Menjadi Dosen di Indonesia #Edisi Revisi

(Seorang fans pembaca mengirim permintaan agar saya merevisi tulisan ini. Ditambah pula tetiba ada lonjakan traffic blog ini kemarin, khususnya di topik pendidikan tinggi. Saya putuskan pagi-pagi habis subuh merevisi tulisan berikut ini, agar tidak banyak yang tersesat tulisan lama, he he. Semoga bermanfaat terutama memberi gambaran awal dunia persilatan, eh perdosenan dari perspektif karir. Begitu pemirsah. )

Semua profesi tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya, pun menjadi dosen.

Salah satu hal baik menjadi dosen di Indonesia adalah kemudahannya menjadi dosen tetap/ tenure. Di beberapa negara lain, tak mudah menjadi dosen tetap. Kawan-kawan saya yang bergelar Doktor di Jepang atau Perancis, misalnya mesti mengikuti post-doc dulu, menerbitkan disertasi-nya menjadi buku, baru bisa melamar menjadi dosen tetap, itupun kalau ada lowongan (kabarnya semakin jarang). Kompetisi-nya juga cukup ketat karena portofolio di bidang akademik seperti publikasi ilmiah amat menentukan. Kalaupun ada kasus master menjadi dosen tetap, ini hal yang amat langka sekali, mungkin hanya untuk orang-orang super-cemerlang saja.

Di indonesia, syarat menjadi dosen hanya bergelar master saja, sedikit yang rekrutmen awalnya doktor. Bahkan beberapa tahun lalu, orang bergelar sarjana bisa menjadi dosen tetap. Saya menjadi dosen tetap PNS ketika masih sarjana di tahun 2006 Baca lebih lanjut

Meluluskan Mahasiswa

Kemarin saya memposting beberapa foto sidang dan yudisium mahasiswa MAP Untirta di instagram.

Menyenangkan sekaligus mengharukan.

WhatsApp Image 2018-01-30 at 14.25.15

Sebagai Kaprodi, pembimbing sekaligus penguji untuk beberapa mahasiswa, saya tahu betul bagaimana teman-teman mahasiswa ini berjibaku dengan segala upayanya menyelesaikan studinya di MAP. Bahasa saya, lolos lubang jarum. Telat sedikit, mesti bayaran lagi 🙂

Nah, karena saya mengajar di kelas sejak sebagian mereka semester satu, dan jumlah mahasiswa Pasca tidak banyak. Saya agak paham proses perjuangan mereka.

Kelulusan dan menyelesaikan studi, ternyata tidak begitu berkorelasi dengan nilai di transkrip, keaktifan bertanya atau berdiskusi di kelas, atau penguasaan mahasiswa terhadap materi perkuliahan. Bukan berarti aspek-aspek ini tidak penting, tapi ini mah sudah seharusnya melekat dengan sendirinya karena proses belajar. Baca lebih lanjut

Setelah Menjadi Doktor

 

Ini renungan di hari Jumat

Menjadi Doktor ini bukan pencapaian puncak di dunia akademik.

Ia adalah sebuah terminal saja, semacam mendapatkan lisensi untuk meneliti.

Seorang Doktor telah dianggap mampu untuk secara independen melakukan proses penelitian sampai selesai dalam bentuk laporan dengan kualitas tertentu, bahkan terpublikasi.

Soal kualitas pun tentu tidak dianggap sempurna. Karena itulah ada yang disebut Post-Doctoral, menyempurnakan riset atau karya ilmiah yang dibuat semasa S3.

Namun sayangnya  di negara tetangga, disertasi kerapkali dianggap puncak karya seseorang di bidang akademik. Begitu didapatkan gelar doktor, turun pula, kan udah sampe puncak 😉

Baca lebih lanjut

Pengumuman: 3 Blog Terbaik Mahasiswa Abah

Sebagai Blogger yang menyamar menjadi dosen, rasanya saya perlu menjerumuskan para mahasiswa saya untuk masuk dunia digital juga, syukur-syukur ada yang keterusan jadi blogger serius kayak dosennya.

Nah dalam materi digital personal branding, saya meminta mahasiswa kelas pemasaran politik untuk masing-masing membuat blog. Posting awal tentang bagaimana mereka melakukan personal branding diri mereka sendiri. Saya menjanjikan 3 besar akan mendapatkan souvenir dari Belanda.

Nah setelah blog-walking ke sekitar 37 blog yang mereka buat, saatnya membuat pengumuman 3 terbaik. Secara umum bagus-bagus dan unik-unik. Para mahasiswa ini mencoba mendeskripsikan diri mereka secara berbeda, ada yang membangun brand sebagai traveller, santri, pecinta futsal, anak bekasi, bahkan mahasiswa supir ojek online. Keren-keren pokoknya lah.

Saya sebagai dosen blogger, senang dan terharu, makanya nilainya bagus-bagus…

Nah, bagaimanapun saya harus memilih 3 yang menurut saya terbaik. Pemirsah boleh punya pilihan berbeda ya

  1. https://sifanurfadilah.wordpress.com/

Taglinenya Jawara Perempuan, Perempuan bisa jadi jawara. Nah ini tentu saja eye catching karena biasanya jawara identik dengan sesuatu yang maskulin. Sifa menangkap ini, ditambah fotonya yang memegang toa dan sedang berorasi. Kalau konsisten dibangun, maka keyword: jawara perempuan bisa dikuasai Sifa. Selamat ya…

Tinggal jumlah posting yang harus diperbanyak dan penggunaan keyword yang musti ajeg dan konsisten.

 

2. http://apudsantrikampus.blogspot.co.id/

Apud ini sebetulnya lebih terkenal sebagai anak pinter di kelasnya. Runtut dalam menjelaskan segala sesuatu dan berwawasan luas. Nah, ia memilih sisi lain dari dirinya, yaitu sebagai santri. Jadilah tagline Santri Kampus, Ngaji Politik a la Mahasiswa. Secara Banten dikenal sebagai kawasan agamis, ini masuk banget. Jadi kuat di tema, walaupun eksekusi teknisnya tidak terlalu baik.

 

3.https://drivermahasiswa7.blogspot.co.id/

Nah ini dia yang unik banget, mahasiswa driver ojek online. Tanpa malu-malu dan gengsi, Maulana memposisikan dirinya sebagai mahasiswa yang juga bekerja sebagai driver ojek online. Ini tipe mahasiswa kekinian, mengedepankan benefit jangka panjang daripada gengsi sesaat. Lagipula apa yang ditampilkan Maulana membongkar pemikiran banyak mahasiswa yang harusnya membaca blognya. Keep blogging…

Nah, souvenir sebagai hadiah bisa diambil di ruangan Kaprodi MAP Pascasarjana Lt. 2 ya.

Blogger bersatu tak bisa dikalahkan !