Arsip Tag: dosen ganteng

Menjadi Dosen di Indonesia #Edisi Revisi

(Seorang fans pembaca mengirim permintaan agar saya merevisi tulisan ini. Ditambah pula tetiba ada lonjakan traffic blog ini kemarin, khususnya di topik pendidikan tinggi. Saya putuskan pagi-pagi habis subuh merevisi tulisan berikut ini, agar tidak banyak yang tersesat tulisan lama, he he. Semoga bermanfaat terutama memberi gambaran awal dunia persilatan, eh perdosenan dari perspektif karir. Begitu pemirsah. )

Semua profesi tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya, pun menjadi dosen.

Salah satu hal baik menjadi dosen di Indonesia adalah kemudahannya menjadi dosen tetap/ tenure. Di beberapa negara lain, tak mudah menjadi dosen tetap. Kawan-kawan saya yang bergelar Doktor di Jepang atau Perancis, misalnya mesti mengikuti post-doc dulu, menerbitkan disertasi-nya menjadi buku, baru bisa melamar menjadi dosen tetap, itupun kalau ada lowongan (kabarnya semakin jarang). Kompetisi-nya juga cukup ketat karena portofolio di bidang akademik seperti publikasi ilmiah amat menentukan. Kalaupun ada kasus master menjadi dosen tetap, ini hal yang amat langka sekali, mungkin hanya untuk orang-orang super-cemerlang saja.

Di indonesia, syarat menjadi dosen hanya bergelar master saja, sedikit yang rekrutmen awalnya doktor. Bahkan beberapa tahun lalu, orang bergelar sarjana bisa menjadi dosen tetap. Saya menjadi dosen tetap PNS ketika masih sarjana di tahun 2006 Baca lebih lanjut

Iklan

Meluluskan Mahasiswa

Kemarin saya memposting beberapa foto sidang dan yudisium mahasiswa MAP Untirta di instagram.

Menyenangkan sekaligus mengharukan.

WhatsApp Image 2018-01-30 at 14.25.15

Sebagai Kaprodi, pembimbing sekaligus penguji untuk beberapa mahasiswa, saya tahu betul bagaimana teman-teman mahasiswa ini berjibaku dengan segala upayanya menyelesaikan studinya di MAP. Bahasa saya, lolos lubang jarum. Telat sedikit, mesti bayaran lagi 🙂

Nah, karena saya mengajar di kelas sejak sebagian mereka semester satu, dan jumlah mahasiswa Pasca tidak banyak. Saya agak paham proses perjuangan mereka.

Kelulusan dan menyelesaikan studi, ternyata tidak begitu berkorelasi dengan nilai di transkrip, keaktifan bertanya atau berdiskusi di kelas, atau penguasaan mahasiswa terhadap materi perkuliahan. Bukan berarti aspek-aspek ini tidak penting, tapi ini mah sudah seharusnya melekat dengan sendirinya karena proses belajar. Baca lebih lanjut

Bagaimana Melanjutkan S3 ke Luar Negeri?

Tulisan ini diilhami beberapa hal. Pertama, adanya kawan yang minta rekomendasi untuk sekolah ke luar negeri; kedua, teman yang bertanya tentang proses untuk bersekolah; ketiga, pertemuan dengan Ken Miichi Sensei yang juga menyinggung tentang kesempatan studi di Waseda; kelima, email Sensei beberapa waktu lalu yang minta rekomendasi tentang seorang pelamar; dan keenam, kamu. Ya tulisan ini dibuat untukmu 🙂

***

Tentu saja tulisan ini memiliki beberapa keterbatasan, utamanya pengalaman, waktu dan tempat studi saya. Saya mulai studi S3 di Jepun tahun 2012 dan selesai di tahun 2015. Pasti ada beberapa perubahan yang terjadi.

Baiklah kita mulai saja. Baca lebih lanjut

Kabar Gembira dan Kabar Sedih

Hmmm, mau kabar gembira dulu atau kabar sedih?

Sedih dulu aja ya, biar diakhiri dengan gembira.

Kabar sedihnya tentu saja ketika proposal riset PKLN saya dan kawan-kawan tak berhasil lolos seleksi. Sedih? Ya iya lah, manusiawi, udah berusaha pake keras.

2014-10-09 18.24.38

Cappucino dengan latte Art Sedih

 

Tapi gak usah pembelaan macam-macam. Gagal ya gagal saja, seorang kawan mengatakan, “Belum rejeki X (baca= kali)”. Temen saya ini memang kalau WA singkat-singkat 🙂

Ya, rejeki tak akan tertukar, emang putri pake tertukar segala, he he

***

Tapi duka lara ini terkurangi beberapa kabar gembira. Baca lebih lanjut

Darurat Pendidikan Tinggi

Akhirnya puzzle itu terjawab ketika seorang kawan mengirim pesan dengan lampiran, sebuah Universitas terkemuka memberhentikan (Baca:DO) 767 mahasiswa S3 dan 600 mahasiswa S2.

***

Beberapa waktu ini Pak Supriadi Rustad (SR) bermain tebak-tebakan. Ia  menulis di blognya bahwa bersama tim Eka, sedang melakukan sebuah operasi cesar besar, membenahi aktivitas akademik sebuah universitas besar. Tak tanggung-tanggung, judul tulisannya adalah: ROBOHNYA UNIVERSITAS KAMI (1): BILA UNIVERSITAS JADI SUAKA PLAGIASI.

Screenshot 2017-06-12 21.31.03

Dalam tulisannya ia menyampaikan:

Rekomendasi Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) yang secara khusus ditujukan kepada Menteri terkait usulan sanksi kepada pelaku tindak plagiat telah bocor merembes mengalir ke mana-mana terutama grup-grup media sosial komunitas pendidikan tinggi. Saya menyadari kebocoran itu setelah ditunjukkan melalui wa oleh seorang teman (rektor) yang dulu sering sama-sama cari rendeng (batang tubuh dan daun kacang tanah sisa panen sebagai pakan ternak) di kampung. Kami bertemu pada upacara 1 Juni yang lalu di Kemdagri.

Saya baru menyadari juga kebocoran itulah yang kemudian memicu peristiwa sebelumnya dua minggu yang lalu.  Tampaknya pada hari itu pemimpin perguruan tinggi (PT) tersebut mengundang dan mengerahkan  alumni doktor untuk menyikapi rekomendasi SR (mestinya nama saya) kepada Menteri.  Di dalam undangan kepada alumni sang pemimpin menyatakan bahwa SR mengusulkan kepada Menteri agar seluruh ijazah doktor dari PT itu dibatalkan.

Saya sendiri tak paham Universitas yang dimaksud oleh Pak SR.  Sampai sebuah mini reuni dengan kawan zaman hidup susah di kampus dulu kebetulan bercerita tentang apa yang terjadi di kampusnya sekolah sekarang:767 mahasiswa S3 dan 600 mahasiswa S2. di-DO karena alasan-alasan akademik dan mereka sedang berjuang agar status DO tersebut dicabut.

Konon, sanksi akademik superberat ini juga dampak dari audit akademik dari Tim Pak SR. Collateral damage? wallahua’lam. Namun nampaknya Rektorat Universitas tersebut menghindari temuan atau sanksi lebih besar dari Kementerian.

Yang menarik adalah walaupun Pak SR di atas mengatakan bahwa kebocoran sudah ke-mana-mana, namun media masih adem ayem saja.

Mungkin bomnya memang belum meledak, masih petasan-petasan kecil.

Bomnya akan meledak ketika lulusan doktor kampus tersebut yang memang amat cepat lulus dan punya kedudukan penting melakukan fight-back terhadap pembongkaran plagiasi yang sedang dilakukan oleh Pak SR dan timnya. Baca saja lanjutan tulisan di blog Pak SR:

Dugaan awal terjadinya tindak plagiat dari sejumlah peserta doktor didasarkan kepada analisis meta data file disertasi yang menunjukan sejumlah disertasi diproduksi dari satu komputer dengan akun user yang sama. Sejumlah dokumen soft copy disertasi diperoleh secara resmi dari kiriman Direktur PPs terkait melalui email yang hingga kini tersimpan dan tercatat dengan baik. Berdasaran meta data tersebut diketahui pula bahwa file disertasi di “create” pertama kali sekitar 40 hari sebelum yang bersangkutan dinyatakan lulus. Saya berpendapat tidak perlu menjelaskan fakta ini karena saya yakin pembaca sudah dapat memahaminya dengan logika sederhana.

Mengerikan sekali bukan? saya membacanya saja mual

Tulisan ini juga hendaknya dibaca bersama tulisan-tulisan Pak SR sebelumnya.

Semoga nilai-nilai akademik betul-betul ditegakkan dan tak terjadi penyelesaian secara adat.

Maju terus Pak SR, Blogger bersatu tak bisa dikalahkan 😉

Sumber:

Blog Pak SR

Pesan Seorang kawan beserta lampiran

Catatan: Data di tulisan ini dibetulkan berdasarkan info Kang Anton Rahmadi dan benar adanya setelah datanya saya telusuri. Saya kecepetan bacanya, ternyata lebih mengerikan.

Doktor-doktor di Keluarga Kami

Dok .. dok .. dok

Kemarin beberapa kawan dari KPU Banten memanggilku dengan sebutan Dok. Tentu saja bukan singkatan dari Kodok, tapi Doktor.

Ya, bulan puasa dua tahun lalu saya memang resmi jadi Doktor. Lewat sebuah sidang yang dihadiri hanya sekitar 15 orang termasuk saya dan tiga penguji. Tanpa konsumsi, bukan karena bulan puasa, tapi karena memang gak ada aturan mesti menyiapkan konsumsi. Singkat, padat, fokus ke substansi riset. Lewat tanya – jawab yang menyenangkan, alhamdulillah gelar Doktor diraih.

11701002_10153512644469015_5883690641642036619_o

Gelarnya Ph.D (Doctor of Philosophy) dalam Contemporary Asian Studies. Nah, surat pengaktifan di kampus menulisnya: Doktor dalam Filsafat. Gak apa-apa, he he

Yang jelas, gelar ini masih suka ditulis secara keliru, kadang PHD (Pizza Hut delivery), P.Hd (Paeh <geh> hade), atau kadang ditulis: Dr. Abdul Hamid, Ph.D. Padahal saya gak punya dua gelar doktor. Hmm ada sih kawan yang kerajinan lulus S3 dari UI dan Harvard sekaligus yang pake dua gelar S3 sekaligus tersebut.

Baiklah, ada yang mau saya ceritakan, maafkan kalau agak sombong. InsyaAllah semangatnya pencitraan menebar motivasi.

***

Di keluarga kami terdapat empat doktor.

Saya adalah Doktor ke-3. Gelar doktor pertama diraih kakak saya, Zainal Muttaqin diikuti istrinya Tri Lestari. Mereka meraih Ph.D-nya di Jepang. Zainal di Hiroshima University, Istrinya di Kobe University. Selisihnya satu semester. Nah saya di Doshisha University, di semester berikutnya, jadi berurut-urutan.

424145_10151355365109015_1035295221_n

Jadilah kami bertiga sempat merasakan tinggal di Jepang, di tiga Kota berbeda dalam waktu yang bersamaan. Kami kadang ngumpul di Kobe, Hiroshima, Kyoto atau pernah juga di Tokyo. Kadang-kadang hanami, main ski atau sekedar babacakan. Kami bertiga mendapat beasiswa: Zaenal dari Bappenas, saya dan Mbak Tri dari Dikti. Alhamdulillah, semua selesai 3 tahun.

Doktor keempat di keluarga kami yaitu Abdul Malik yang meraih gelar Doktor dari Universitas Sahid. Gelar ini diraih sambil menjalankan amanah sebagai Dekan di FISIP UNSERA. Dekan jalan, gelar doktor diraih. Disertasinya bahkan sudah jadi buku.

1785_41463034014_8098_n

Selebihnya di keluarga kami: master dan sarjana.

***

Nilai pendidikan sebagai hal terpenting memang diajarkan (alm.) Apa dan Mamah. Saya paham perjuangan membesarkan 8 anak sampai sarjana (lebih dari sarjana usaha sendiri) tidak mudah bagi suami-istri yang keduanya kebetulan berprofesi sebagai guru. Apa di MAN Cihideung dan Mamah di SMPN 2 Pandeglang. Berat, dan saya sering curi dengar mereka betul-betul memaksakan diri, gali lobang-tutup lobang, pontang-panting kesana-kemari untuk sekolah kami, anak-anaknya. Maka hidup kami betul-betul sederhana, lha uangnya buat biaya sekolah.

Belakangan saya paham, ini semacam dendam kesumat (alm.) Apa yang terpaksa DO dari kuliahnya di IAIN Ciputat karena persoalan biaya. Ia membalas dengan mati-matian men-sarjana-kan anak-anaknya, at all cost.

Dari aspek harta tak ada yang bisa diwariskan orangtua kami, kecuali sebuah rumah yang menjadi rumah induk di Pandeglang. Untuk Mamah tinggal dan tempat kami berkumpul ketika liburan. Ada juga sih, satu lemari buku-buku, mulai dari tulisan Hamka, beberapa tafsir, sampai buku Sayid Qutb.

Jadi ketika Apa meninggal sekalipun, tak ada perdebatan apapun soal harta peninggalan harus dibagaimanakan, lha wong gak ada, he he.

Warisan yang terbesar dan terpenting justru melekat di diri masing-masing anaknya: pendidikan, nilai kerja keras, dan semangat memberi manfaat.

Inilah yang dipercaya mengubah nasib, dan hal tersebut terbukti.

Setidaknya di keluarga kami.

Salam Super duper

 

 

Kenapa 60% Riset tentang Indonesia ditulis Orang Asing?

Tulisan ini saya buat dalam perjalanan ke Pattaya. Ya akan menginap semalam di sebuah pulau di sekitar sana sebelum kembali ke tanah air.

Sebelumnya sekira dua minggu saya tinggal di kantor Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Bangkok. Kantor yang merangkap apartemen, dua lantai. Ada ratusan buku tentang Asia tenggara, khususnya negara-negara di Mainland Asia. Ya, CSEAS punya dua kantor besar di Asia Tenggara, satu di Jakarta dan satu di Bangkok. Selain menjadi field station bagi para peneliti, tempat ini jadi persinggahan buku-buku tentang Asia tenggara sebelum akhirnya dikirim ke perpustakaan CSEAS di Kyoto.

Pekerjaan kepala kantor CSEAS salah satunya juga adalah mengumpukan buku-buku tentang Asia Tenggara. Di Jakarta misalnya, saya dulu kerapkali menemani Professor Okamoto untuk belanja buku-buku langka dari pedagang entah dari Senen, Blok M atau Taman Mini.

Jangan heran rasanya koleksi buku dan majalah tentang Indonesia amat sangat lengkap, jika dibandingkan dengan perpustakaan di Indonesia. Katakanlah mencari edisi lengkap majalah Sabili atau Tempo bisa dilakukan di perpustakaan CSEAS di Kyoto. Apakah ada di perpustakaan UI atau UGM atau Untirta?

***

Hal-hal semacam ini yang sebetulnya ingin saya sampaikan ketika para pejabat menyampaikan pandangannya yang seringkali jump to conclusion. Katakanlah Dirjen SDM Dikti yang mengatakan bahwa “..60% tulisan tentang Indonesia ditulis orang Asing”. (Republika, 17/3)

Judul tulisan ini mencoba memberi penjelasan yang berangkat dari sudut pandang orang dalam: kamsudnya dosen biasa. Tulisannya ndak bermaksud memberi penjelasan yang menyeluruh, nanti di jurnal itu mah. Judulnya saja yang dibuat bombastis seperti pernyataan Dirjen yang juga bombastis. Kali ini tulisan ya Pak, nggak video dulu 😉

Screenshot 2017-03-24 18.40.40

Pak Dirjen mengatakan:

“Padahal menurutnya, dengan banyaknya jumlah dosen dan mahasiswa di Indonesia, seharusnya banyak riset dan inovasi yang dihasilkan. Ia menyebut, banyak potensi riset di Indonesia yang dapat diangkat untuk meningkatkan daya saing bangsa.”

Statemen di atas dipakai sebagai dasar bagi program World Class Professor 2017, mendatangkan Professor kelas dunia untuk bertugas di beberapa kampus Indonesia terpilih. Tugas mereka, sebagaimana dikutip Republika adalah:

“…melaksanakan perbaikan kualitas artikel, joint publication untuk disubmit ke jurnal internasional bereputasi, melaksanakan joint supervision bagi mahasiswa S2 dan S3.

Serta melakukan joint research dengan dosen muda maupun senior, joint study program; membantu analisis data bagi mahasiswa S3, melaksanakan program pemagangan penelitian bagi mahasiswa S3 dan dosen di laboratorium World Class Professor (WCP), membantu PUI-PT, PT dan LPNK membuat proposal untuk memperoleh dana penelitian atau pengembangan proyek pendidikan yang akan diajukan ke pemerintah masing-masing atau ke penyandang dana internasional, membantu set-up global satellite laboratory di PUI-PT dan mencantumkan PUI-PT di situs grup WCP sebagai bagian dari global satellite laboratory.”

Sekilas program ini amat baik. Meningkatkan kualitas para dosen dan laboratorium. Tapi sebentar, bukankah problem pendidikan tinggi kita tidak cukup sederhana sehingga selesai dengan mendatangkan Profesor kelas dunia?

Katakanlah begini, problem pertama kita misalnya pustaka.

Sistem pustaka mereka (baca: kampus asing) amat baik dan pro ilmu pengetahuan. Kita yang pernah belajar di kampus LN tentu sudah paham bahwa pustaka katakanlah bukan sebuah persoalan.Perpustakaan sudah cukup lengkap dan  jika ada buku yang kita butuhkan dan tidak tersedia biasanya bisa memesan di perpustakaan lain (yang berjaringan) atau memesan untuk dibelikan. Kalau saya dulu bahkan bisa dibelikan dari anggaran Professor, ditanya: “Hamid Kun, kamu butuh buku apa tahun ini?“.

Kemewahan  yang ketika pulang dan menjadi pengajar dengan status Associate professor (Lektor Kepala) di kampus dalam negeri, jelas sulit diulangi. Mengajukan pembelian buku-buku asing ke perpustakaan? He he

Maka biasanya hampir semua dosen memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya, buku-buku yang dibeli dari kocek pribadi yang sebetulnya untuk kepentingan mengajar dan meneliti. Di kampus, kecuali punya jabatan struktural tak ada lemari buku yang cukup menampung.

Pilihan logis ketimbang terus menerus ngedumel tanpa solusi bukan?

Jadi katakanlah Samuel Huntington datang ke Indonesia jadi mitra World Class Professor dan kemudian meminta setumpuk buku berbahasa inggris untuk dibeli apakah bisa dikabulkan? Apakah Profesor lokal juga meminta setumpuk buku untuk mendukung pendidikan dan pengajaran, apakah bisa dikabulkan?

(Mohon tidak dijawab dengan, kan bisa download dari Sci-hub, he he)

Indikator perbaikan yang sederhana bukan? Pembelian buku harus lebih penting daripada pernambahan bangku taman, pemasangan cctv dan videotron atau pengecetan tembok yang belum kusam.

Oh ya, pernyataan Dirjen soal 60% riset Indonesia ditulis ilmuwan asing di atas juga bisa dijelaskan dengan cukup memadainya dana-dana penelitian yang dimiliki dosen asing. Mustahil mereka menulis dengan cukup baik tanpa data yang akurat. Data akurat hanya bisa didapatkan dengan field research atau bagi ilmu tertentu bisa juga membeli data yang harganya cukup mahal. Teman-teman saya jagoan ahli asia tenggara dari Jepang bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan di Jakarta, Bangkok atau Manila. Tentu mereka bisa meneliti dengan tenang, membangun network, menyewa apartemen, membeli buku-buku karena ada dana yang memadai. Nggak mungkin sambil puasa atau irit-iritan menunggu dana gak cair-cair sambil membuat kwitansi dan nota palsu.

Ditambah hak untuk sabbatical setiap beberapa tahun, cuti untuk menulis atau penelitian dengan tetap mendapatkan pendapatan secara penuh, bahkan mendapatkan dana penelitian.

Lha kebijakan kita belum ke arah sana jeh.

Penelitian saya ndak mau komen. Sudah terlalu banyak masalah, utamanya administratif. Kalau ingin tahu lebih banyak terjun saja ke grup dosen Indonesia di Facebook yang ebranggotakan belasan ribu orang, banyak cerita sedih di sana.

Sabbatical sebetulnya sudah menjadi kebijakan dalam PP 37 2009 tentang Dosen. Dosen berhak mengajukan cuti untuk penelitian secara berkala, empat tahun sekali bagi dosen LK dan Gubes, lima tahun sekali bagi dosen AA dan L.

Namun apakah sudah ada pedoman implementasinya? Rasanya belum.

Ada memang program SAME Dikti, tapi tentu alokasinya amat terbatas. Yang saya maksud adalah implementasi di kampus sehingga dosen memang bisa mengajukan hak sabbatical tersebut secara berkala.

Yang sebetulnya juga menyedihkan adalah kebijakan maksimal satu bulan berada di Indonesia untuk penelitian dosen yang kuliah dengan beasiswa luar negeri Dikti. Saat menempuh S3 di luar negeri sesungguhnya adrenalin dosen sedang berada di puncak. Kesempatan untuk mendapatkan data lapangan bagi mereka yang penelitiannya di Indonesia adalah kesempatan untuk mendapatkan data berkualitas untuk menjadi karya bermutu tinggi.Sayangnya pendekatan kementerian bersifat administratif dan terlalu mencurigai karyasiswa.

Padahal membatasi satu bulan untuk field research sangat membatasi. Ancamannya tidak main-main, besaran beasiswa LN diubah menjadi sebesar beasiswa DN.

***

Dengan dua ilustrasi di atas saja, jelas bahwa wajar dan masuk akal jika karya-karya terbaik tentang Indonesia masih dan masih akan ditulis oleh peneliti asing.

Dan mendatangkan Profesor asing membenahi hal-hal di atas hanya mengobati satu kaki dari dua kaki yang pincang. Tetap tertatih-tatih.

Ujian apakah kaki yang pincang keduanya sudah sembuh, sesungguhnya mengundang World Class Professor tadi untuk menjadi Profesor Tenure (Dosen tetap) di Indonesia, dengan standar yang sama dengan Professor (Baca: Dosen) di Indonesia, termasuk menunggu rapelan serdos dan finger print dua kali sehari seperti minum antibiotik. Jika mereka mau berarti sistem kita sudah baik dan pendidikan tinggi kita bisa betul-betul berlari kencang. Jika tidak dan mereka senyum-senyum simpul, maka sistem yang harus dibenahi.

Begitu Bos…

Edisi Lengkap dan Terbaru Jurnal Terakreditasi Dikti (Update 15 Januari 2018)

Dear rekan-rekan semua, secara mengejutkan di laman simlitabmas terdapat surat Keputusan Dirjen Penguatan Risbang Kemeriting (Kementerian Ristek dan Perguruan Tinggi) yang mengubah lampiran 48a/Kpt/2017 yang sempat diposting di blog ini.

Nah, jadilah surat keputusan tersebut saya posting menggantikan yang sebelumnya. Monggo disimak

Baca lebih lanjut

Empat Kategori Mahasiswa Berdasarkan Cara Menulis Nama Dosennya di Lembar Ujian

Judulnya panjang ya?

Ceritanya sambil ngoreksi (telaaaat banget) saya mencoba mengklasifikasi mahasiswa berdasarkan bagaimana mereka menulis nama dosennya. Inilah hasilnya:

1.Mahasiswa Formal

Tipe mahasiswa ini menuliskan gelar dosennya dengan lengkap. Membanggakan juga ya, gelar permanent head damage ada di lembar jawaban. Nah jika ada gelar Haji, Raden, Raden Ayu, Tubagus, Entol, Ayu, mungkin juga akan dituliskan lengkap oleh mahasiswa macam ini 🙂

13549145_10154406973714015_1476789773_o2. Mahasiswa Menghormati Dosen

Nah ini tipe mahasiswa yang menuliskan “Bapak/Pak” atau “Ibu” di depan nama. Ia menganggap dosen adalah orang tua keduanya, so sweet. Asal jangan minta uang jajan atau manggil “Papa” di kampus aja ya, itu gawat 😉

13569845_10154406973594015_370113997_o

3. Mahasiswa Akrab

Ini tipe mahasiswa yang menarik, memanggil dengan sebutan yang diminta oleh dosennya. Dari awal perkuliahan saya memang tidak mau dipanggil Bapak/Pak apalagi Ibu. Dulu di UI waktu kuliah atau ngajar saya dan dosen lelaki lain, kecuali Prof. Maswadi Rauf biasa dipanggil Mas. Nah biar anti mainstream kayak Juki, maka saya maunya dipanggil Abah Hamid, seperti nama di fesbuk. Nah, mahasiswa akrab menuliskan nama dosennya: Abah Hamid. Semoga berkharisma seperti Abah yang itu.

13570341_10154406973754015_342669792_o4. Mahasiswa Amit-amit

Kalau ini menjelaskannya gimana ya? saya tulis amit-amit karena menuliskan nama saya Abdul Hamit 😉

13575636_10154406973579015_509502139_o

Bagaimana menurut anda ada kategori lain?

Mohon maaf lahir dan batin 🙂

 

 

Surat Terbuka dari Trian Untuk Cinta


Screen Shot 2016-05-09 at 13.37.46Sumber foto: http://assets.kompas.com/data/photo/2016/04/26/135044820160425KP51-KCM-21780×390.%20JPG

Cinta,

Aku tulis surat ini di atas kapal pesiar menuju Macau

Aku pikir, menghabiskan sedikit dolar di kasino bisa membuatku melupakanmu,

Oh ya, surat ini aku sampaikan secara terbuka untuk mengingatkanmu bahwa dalam kisah romantismu, aku yang menderita, sakit.

Padahal Kamu Bukan Sinta, Rangga bukan Rama dan aku bukan Rahwana.

Cinta,

Ketika sore itu aku berpapasan dengan Rangga yang legendaris itu, hatiku berdesir.

Aku paham itu saatnya aku kehilangan kamu.

Yang kamu lakukan padaku itu jahat, Cinta.

Setelah belasan purnama aku berusaha menarikmu dari kesedihan

Mengobati hatimu yang luka

Membuatmu bisa tersenyum melupakan dia yang meninggalkanmu,

Kamu anggap itu apa?

Cinta,

Aku memang tak pandai menirukan Soe Hok Gie, tapi bukankah aku seganteng Ario Bayu?

Aku mapan sejak lahir Cinta,

Dan percayalah, di dunia nyata, intuisi dan koneksiku dalam bisnis jauh lebih berguna untukmu dan anak-anak kita kelak, daripada sekedar bualan mulut manis belaka.

Cinta,

Kamu menganggap kesibukanku membuatku abai padamu, padahal semua itu demi kamu.

Aku sudah menyiapkan pernikahan megah kita di Balai Kartini dan bulan madu ke Maldives, bersama boneka beruang besar.

Kini semua selesai sudah.

Cinta,

Aku sebenarnya hanya berpura-pura tak tahu tentang apa yang terjadi di Jogjakarta,

Kawanku yang bersepeda mengamatimu, bercerita bahwa kamu menampar Rangga, dan aku bahagia

Aku merasa kamu bisa terbebas dari mantra penyair urakan yang mengingatkanku pada Arya Dwipangga,

Tapi ketika kamu tiba di Jakarta bermata sembab,

aku paham, separuh jiwamu tinggal di Jogja bersama Rangga,

Menahanmu lebih lama hanya membuatmu menderita,

Kembalikan cincin pertunangan kita dan pergilah ke New York

Aku akan mencari gadis yang pikirannya tak terbelenggu asmara masa lalu.

Cinta,

Hubungan kita berakhir sudah, kandas dan hancur berkeping-keping.

Tapi ingat, hubungan kita tak sekedar asmara.

Peminjaman cuma-cuma gedung yang dipakai untuk gallerymu berakhir satu purnama lagi, dan aku tak berniat meminjamkannya lagi untukmu.

Semoga Rangga bisa menolongmu dengan puisi-puisinya.

Jakarta, 8 Mei 2016

Trian yang dikhianati

Dosen Ganteng

IMG_0669

Tentu ini bukan soal gambar dosen di atas yang yah, cukup ganteng sih.

Ini soal bagaimana kita menguasai keyword “dosen ganteng”.

Hmm coba ketik di mesin pencari google – google.com – kata “dosen ganteng“, maka di halaman pertama hasil ke-empat akan ditampilkan http://www.abdul-hamid.com.

Screenshot 2016-04-30 19.51.44

Kalau di google.co.id, blog ini nangkring di halaman pertama nomor urut ke-7, di sini.

Screenshot 2016-04-30 19.51.44

Yah tentu saja, pemilik blog ini dengan jujur mengakui sedikit kalah ganteng oleh Pietro Boselli yang nangkring di halaman pertama nomor urut pertama.

Tapi bukan itu masalahnya. Upaya “memaksa” google mengakui kegantengan (blog) saya (ehemm) adalah upaya keras melakukan apa yang saya sebut Personal Branding melalui SEO (Search Engine Optimization). Dan SEO yang saya gunakan adalah SEO alami, gak pake ramuan berbagai engine, backlink, ramuan madura, plugin atau berbagai settingan lain. Hanya menggunakan keyword secara konsisten. Hasilnya maksnyuss, google mengakui kegantengan (blog) saya walaupun prosesnya cukup lama.

“Seorang blogger gak cuma mesti jago dan rajin nulis, tapi mesti ngerti bagaimana menggunakan keyword secara tepat”(Abah Hamid, 2016)

Caranya, nanti saya ceritakan di postingan berikutnya. Ini masih mau pamer dulu, he he

Atau anda mau dibranding dengan keyword: “dosen mesum”?

***

Catatan: Pencarian “blogger dosen” dan “dosen blogger” juga menempatkan blog ini (www.abdul-hamid.com) di halaman pertama. Ehemm #benerinkacamatapadahalgakpakekacamata.

Ibuku Sayang

Hari ini 20 April, genap 69 tahun usia Ibuku.

Namanya Mursinah, nama kecilnya Bayi, jadi lengkapnya: Bayi Mursinah. Jangan heran ya, di Menes memang banyak nama Bayi. Lha urang menes mah menyebut dirinya Orok Menes ;).

Dari rahimnya telah dilahirkan tiga orang doktor, dua master dan dua lainnya sarjana. Satu orang meninggal dunia semasa kuliah. Ini bukan soal menyombongkan, tapi memang inilah nilai yang dianut di keluarga kami. Pendidikan menjadi prioritas paling utama, diatas segalanya. Karena memang hanya pendidikan yang diberikan sebagai bekal, karena tak ada sawah, ladang ataupun perhiasan yang bisa diwariskan.

abah 1989

Tebak, saya yang mana? hintnya: awak sampayan 😉

Jadi ketika banyak orang meributkan peran Ibu, apakah dia seharusnya berada di rumah mengurus anak atau di kantor mencari nafkah, bagi kami ini debat yang sudah selesai sejak puluhan tahun lalu .

Mamah (begitu kami memanggilnya) menyandang peran ganda. Ia mengajar di SMP 2 Pandeglang sekaligus mengurusi kami, delapan anak-anaknya. Dan rasa-rasanya cukup berhasil di kedua bidang tersebut.

Ibu saya mencari nafkah karena memang tak mungkin penghasilan Apa (panggilan untuk almarhum Bapak saya) sebagai Guru di MAN Cihideung Pandeglang mencukupi. Apa dan Mamah memang punya niat kuat, anak-anaknya mesti jadi sarjana. Mamah hanya lulusan SMEA dan Apa berstatus DO dari IAIN Syarif Hidayatullah karena persoalan biaya.

Dulu, di rumah, walaupun tak ada TV berwarna, sepeda atau mainan yang ngehits, selalu ada majalah Panji Masyarakat, Intisari atau kadang-kadang Majalah Bobo yang bisa dibaca. Membaca di goah (bahasa sunda utk gudang) adalah kegiatan favorit saya  untuk melarikan diri dari perintah Apa bekerja di kebon.

Mamah juga tempat pelarian ketika Apa marah-marah. Mamah penyabar dan selalu berusaha memberikan pengertian. Mamah juga suka memujiku sebagai awak sampayan, ha ha.

Mamah bangun sebelum subuh, menyiapkan sarapan, bekerja ke sekolah, pulang lantas memasak atau beberes. Rambut panjang yang disisir serit nampaknya menjadi simbol kesabarannya. Karena itulah Ayal bercita-cita memberikan kado sisir untuk neneknya itu.

ultah

Kini Mamah sudah sepuh dan pensiun. Kegiatannya hanya mengaji, ke pengajian, nonton pengajian atau sinetron di TV, mengasuh cucu, ikan dan kucing-kucing di belakang rumah. Anak mantunya sudah beranak pinak, sedang belajar jadi orang.

Selamat ulang tahun dan tetap sehat ya…

 

DSC_0209