Arsip Tag: dosen blogger

Dosen Milenial (2)

Baiklah, saya mau menggunakan kisaran waktu kelahiran 1981 – 2000 untuk menyebut generasi millenial. Generasi sebelumnya, yaitu yang lahir tahun 1965 – 1980 sebagai generasi X, dan yang lahir 1946 – 1964 sebagai generasi baby boomers. Generasi setelah milenial disebut generasi Z. Kenapa ini dipilih, karena saya lahir di tahun 1981, jadi bisa dengan belagu menyebut diri saya sebagai milenial senior 🙂

Berikut gambar dari hasil risetnya  Alvara :

Screenshot 2018-03-19 18.55.15

Nah berdasarkan kategorisasi di atas, maka generasi milenial sekarang berusia antara: 18 – 37 tahun. Nggak terlalu muda juga, tapi memang sedang ranum-ranumnya di bagian paling muda. Saya sendiri merupakan milenial senior karena lahir di tahun 1981, yah milenial muka kolonial, he he.

Generasi paling junior adalah generasi yang baru masuk kuliah. Jadi kalau saya mengajar, sesungguhnya itu adalah milenial mengajar milenial, bukan jeruk makan jeruk, he he

Screenshot 2018-03-19 19.33.57

Masih dari Alvara yang mengambil data dari BPS, maka jumlah perkiraan penduduk di tahun 2000 bisa digambarkan melalui piramida sebagai berikut:

Screenshot 2018-03-19 19.01.13Jumlah penduduk milenial pada tahun 2020 diperkirakan berjumlah 34% dari populasi. Lebih besar dari penduduk per-kategori, dan menariknya berada di usia yang lucu-lucunya produktif-produktifnya.

Nah bagaimana di dunia pendidikan tinggi?

Berikut data dari buku Buku-Statistik-Pendidikan-Tinggi-2017:

Screenshot 2018-03-19 18.49.03Dosen berusia di bawah 25 tahun sebanyak 1.892 orang, ditambah berusia 26-35 tahun sebanyak 73.223, jika dijumlahkan sebanyak 75.115 orang atau sebanyak 30.38% dari total 247.269 dosen di seluruh Indonesia. Sebagai catatan angka ini agak berbeda dengan angka 113.965 dosen milenial yang diumumkan Kemeriting (Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi) yang dikutip Pikiran Rakyat. 

Bisa jadi karena data yang diumumkan Kementerian mencakup juga Dosen di Kementerian agama dan sekolah kedinasan. Maklum di NKRI ini banyak sekali kategori perguruan tinggi. Sementara yang di buku Statistik Pendidikan Tinggi 2017 hanya Perguruan Tinggi di bawah Kemeriting saja.

Apapun, jumlah dosen milenial lebih banyak dibandingkan dengan dosen di kategori yang lain. Hal ini juga terkait status dosen. Perhatikan data berikut, masih dari statistik pendidikan tinggi

Screenshot 2018-03-19 18.45.55

Sayangnya saya tidak memiliki data usia dosen dibandingkan dengan tingkat pendidikan dan jabatan fungsional. Kalau kemeriting merilis data tersebut atau menyediakan data mentahnya, asik tuh.

Namun saya percaya bahwa kesadaran dosen milenial untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral dan berupaya mendapatkan gelar Profesor di usia lebih muda lebih besar dibandingkan kategori usia yang lain.

Beberapa milenial junior misalnya, begitu memutuskan menjadi dosen sebagai jalan hidup akan menyegerakan menempuh studi ke jenjang doktoral. Beda sekali dengan milenial senior apalagi generasi sebelumnya yang malah menyegerakan menikah.

Maka saya beruntung semenjak Bulan lalu diangkat menjadi Kaprodi Ilmu Pemerintahan Untirta, Prodi yang semua dosen tetapnya berada dalam kategori milenial. Menyenangkan berada di tengah-tengah anak-anak muda dan mengajar anak-anak muda.

Sebelumnya saya Kaprodi S2 Magister Administrasi Publik, selain mengajar juga belajar kearifan dan kebijaksanaan dari mahasiswa saya yang sebagian besar lebih senior usianya daripada saya.

kelas-gabriel

***

Hmm, dunia pendidikan tinggi memang sedang bergerak.

Dua hari lalu di sebuah acara kawinan, saya berkenalan dengan seseorang yang menjadi dosen setelah terlebih dahulu meraih gelar doktor di Eropa dalam usia di bawah 30 tahun. Seorang kawan menjadi doktor di usia 32 tahun, adiknya di usia 26 tahun. Adik kelas saya di UI meraih gelar doktor di Jepang di usia di bawah 30 (Lulus S1 lanjut S2 dan lanjut S3) dan sekarang menjadi Kaprodi di sana. Kawan se-almamater saya yang meraih gelar doktor di usia belia dan ditolak menjadi dosen di almamaternya sekarang menjadi associate Professor di Jepang, sama dengan kawan lain yang juga memilih menjadi associate Professor di Malaysia daripada di Depok. Kemarin ketika belanja di Lu-Lu, saya juga bertemu doktor muda belia ahli kebijakan-energi dari Jepang yang mengajar di perguruan tinggi khusus kebijakan. Sekitar tiga tahun lalu ketika menunggu kereta ke Kyoto saya bertemu anak muda yang baru wisuda S1 hari sabtu dan hari seninnya sudah berada di Jepang untuk memulai S2.

Hal-hal begini membuat saya merasa tua dan merinding dangdut bahagia.

Merasa tua karena saya merasa adik-adik saya, para milenial junior seperti berpacu dengan waktu menyelesaikan studi doktoral dan mencapainya jauh lebih muda dibandingkan saya yang meraih Ph.D (permanent head damage) di usia 34 tahun.

Merinding bahagia karena saya bisa sedikit optimis, merasa masa depan pendidikan tinggi Indonesia akan beranjak membaik. Bukan karena kebijakan Dikti yang memaksa para dosen publikasi dengan segala ancamannya, tapi karena generasi millenial ini pelan-pelan akan mengambil alih dunia pendidikan tinggi secara alamiah. Milenial muda ini produktif, jago bahasa Inggris, publikasinya banyak, serta memiliki jejaring internasional. Keren pokoknya.

Maka semenjak menempuh pendidikan S3 dan rajin menulis soal-soal pendidikan tinggi saya selalu memotivasi diri saya dan kawan-kawan untuk tidak abai dengan persoalan semacam jabatan fungsional. Saya mendorong generasi muda dosen Indonesia untuk mengurus jabatan fungsional dan jadi Profesor selekas mungkin, karena dengan begitu dunia pendidikan tinggi bisa berada di tangan generasi muda ini. Revolusi senyap, bahasa gagah-nya.

Revolusi bukan semacam berebutan jabatan. Tapi lebih ke arah membangun arus-utama pemikiran baru. Kira-kira begitu.

Yah, nasib milenial senior semacam saya memang jadi provokator untuk milenial junior yang lebih pintar, lebih berjaringan dan lebih produktif.

Milenial bersatu tak bisa dikalahkan !

Iklan

Meluluskan Mahasiswa

Kemarin saya memposting beberapa foto sidang dan yudisium mahasiswa MAP Untirta di instagram.

Menyenangkan sekaligus mengharukan.

WhatsApp Image 2018-01-30 at 14.25.15

Sebagai Kaprodi, pembimbing sekaligus penguji untuk beberapa mahasiswa, saya tahu betul bagaimana teman-teman mahasiswa ini berjibaku dengan segala upayanya menyelesaikan studinya di MAP. Bahasa saya, lolos lubang jarum. Telat sedikit, mesti bayaran lagi 🙂

Nah, karena saya mengajar di kelas sejak sebagian mereka semester satu, dan jumlah mahasiswa Pasca tidak banyak. Saya agak paham proses perjuangan mereka.

Kelulusan dan menyelesaikan studi, ternyata tidak begitu berkorelasi dengan nilai di transkrip, keaktifan bertanya atau berdiskusi di kelas, atau penguasaan mahasiswa terhadap materi perkuliahan. Bukan berarti aspek-aspek ini tidak penting, tapi ini mah sudah seharusnya melekat dengan sendirinya karena proses belajar. Baca lebih lanjut

Bagaimana Melanjutkan S3 ke Luar Negeri?

Tulisan ini diilhami beberapa hal. Pertama, adanya kawan yang minta rekomendasi untuk sekolah ke luar negeri; kedua, teman yang bertanya tentang proses untuk bersekolah; ketiga, pertemuan dengan Ken Miichi Sensei yang juga menyinggung tentang kesempatan studi di Waseda; kelima, email Sensei beberapa waktu lalu yang minta rekomendasi tentang seorang pelamar; dan keenam, kamu. Ya tulisan ini dibuat untukmu 🙂

***

Tentu saja tulisan ini memiliki beberapa keterbatasan, utamanya pengalaman, waktu dan tempat studi saya. Saya mulai studi S3 di Jepun tahun 2012 dan selesai di tahun 2015. Pasti ada beberapa perubahan yang terjadi.

Baiklah kita mulai saja. Baca lebih lanjut

Edisi Lengkap dan Terbaru Jurnal Terakreditasi Dikti (Update 15 Januari 2018)

Dear rekan-rekan semua, secara mengejutkan di laman simlitabmas terdapat surat Keputusan Dirjen Penguatan Risbang Kemeriting (Kementerian Ristek dan Perguruan Tinggi) yang mengubah lampiran 48a/Kpt/2017 yang sempat diposting di blog ini.

Nah, jadilah surat keputusan tersebut saya posting menggantikan yang sebelumnya. Monggo disimak

Baca lebih lanjut

Mengubah Blog .wordpress menjadi .com

  1. Pertama anda mesti punya blog dulu di wordpress.com, klik di sini.
  2. Setelah punya blog wordpress, kita akan mengubah menjadi blog yang domainnya lebih profesional, berakhiran .com; .net atau yang lainnya. baiklah, saya bersimulasi dengan blog saya: http://www.jiwapatah.wordpress.com.
  3. Caranya, buka dashboard blog wordpress anda, klik store, akan muncul:

Screen Shot 2014-08-15 at 6.23.55 PM

4. Klik “learn more” di “add a domain” dan silahkan baca:

Screen Shot 2014-08-15 at 6.23.28 PM

 

 

5. Nah jika niatnya dilanjutkan, klik “buy now”, akan masuk ke halaman berikut

Screen Shot 2014-08-15 at 6.33.33 PM

6. Nah karena jiwapatah belum punya domain sendiri, maka saya klik “register a new domain name”

Screen Shot 2014-08-15 at 6.33.43 PM

7. Setelah itu memilih nama domain yang diinginkan, tentu saja ada beberapa pilihan. Saya coba jiwapatah.com

Screen Shot 2014-08-15 at 6.33.50 PM

 

8. Selanjutnya silahkan lakukan proses seperti pengisian biodata dan pembayaran. Biasanya sih menggunakan kartu kredit, namun sepertinya Paypal juga bisa.

Lakukan sampai selesai, dan yang terpenting percantik tampilan blog dan menulis di blognya !

Salam,

Dosen Ganteng

IMG_0669

Tentu ini bukan soal gambar dosen di atas yang yah, cukup ganteng sih.

Ini soal bagaimana kita menguasai keyword “dosen ganteng”.

Hmm coba ketik di mesin pencari google – google.com – kata “dosen ganteng“, maka di halaman pertama hasil ke-empat akan ditampilkan http://www.abdul-hamid.com.

Screenshot 2016-04-30 19.51.44

Kalau di google.co.id, blog ini nangkring di halaman pertama nomor urut ke-7, di sini.

Screenshot 2016-04-30 19.51.44

Yah tentu saja, pemilik blog ini dengan jujur mengakui sedikit kalah ganteng oleh Pietro Boselli yang nangkring di halaman pertama nomor urut pertama.

Tapi bukan itu masalahnya. Upaya “memaksa” google mengakui kegantengan (blog) saya (ehemm) adalah upaya keras melakukan apa yang saya sebut Personal Branding melalui SEO (Search Engine Optimization). Dan SEO yang saya gunakan adalah SEO alami, gak pake ramuan berbagai engine, backlink, ramuan madura, plugin atau berbagai settingan lain. Hanya menggunakan keyword secara konsisten. Hasilnya maksnyuss, google mengakui kegantengan (blog) saya walaupun prosesnya cukup lama.

“Seorang blogger gak cuma mesti jago dan rajin nulis, tapi mesti ngerti bagaimana menggunakan keyword secara tepat”(Abah Hamid, 2016)

Caranya, nanti saya ceritakan di postingan berikutnya. Ini masih mau pamer dulu, he he

Atau anda mau dibranding dengan keyword: “dosen mesum”?

***

Catatan: Pencarian “blogger dosen” dan “dosen blogger” juga menempatkan blog ini (www.abdul-hamid.com) di halaman pertama. Ehemm #benerinkacamatapadahalgakpakekacamata.

Ibuku Sayang

Hari ini 20 April, genap 69 tahun usia Ibuku.

Namanya Mursinah, nama kecilnya Bayi, jadi lengkapnya: Bayi Mursinah. Jangan heran ya, di Menes memang banyak nama Bayi. Lha urang menes mah menyebut dirinya Orok Menes ;).

Dari rahimnya telah dilahirkan tiga orang doktor, dua master dan dua lainnya sarjana. Satu orang meninggal dunia semasa kuliah. Ini bukan soal menyombongkan, tapi memang inilah nilai yang dianut di keluarga kami. Pendidikan menjadi prioritas paling utama, diatas segalanya. Karena memang hanya pendidikan yang diberikan sebagai bekal, karena tak ada sawah, ladang ataupun perhiasan yang bisa diwariskan.

abah 1989

Tebak, saya yang mana? hintnya: awak sampayan 😉

Jadi ketika banyak orang meributkan peran Ibu, apakah dia seharusnya berada di rumah mengurus anak atau di kantor mencari nafkah, bagi kami ini debat yang sudah selesai sejak puluhan tahun lalu .

Mamah (begitu kami memanggilnya) menyandang peran ganda. Ia mengajar di SMP 2 Pandeglang sekaligus mengurusi kami, delapan anak-anaknya. Dan rasa-rasanya cukup berhasil di kedua bidang tersebut.

Ibu saya mencari nafkah karena memang tak mungkin penghasilan Apa (panggilan untuk almarhum Bapak saya) sebagai Guru di MAN Cihideung Pandeglang mencukupi. Apa dan Mamah memang punya niat kuat, anak-anaknya mesti jadi sarjana. Mamah hanya lulusan SMEA dan Apa berstatus DO dari IAIN Syarif Hidayatullah karena persoalan biaya.

Dulu, di rumah, walaupun tak ada TV berwarna, sepeda atau mainan yang ngehits, selalu ada majalah Panji Masyarakat, Intisari atau kadang-kadang Majalah Bobo yang bisa dibaca. Membaca di goah (bahasa sunda utk gudang) adalah kegiatan favorit saya  untuk melarikan diri dari perintah Apa bekerja di kebon.

Mamah juga tempat pelarian ketika Apa marah-marah. Mamah penyabar dan selalu berusaha memberikan pengertian. Mamah juga suka memujiku sebagai awak sampayan, ha ha.

Mamah bangun sebelum subuh, menyiapkan sarapan, bekerja ke sekolah, pulang lantas memasak atau beberes. Rambut panjang yang disisir serit nampaknya menjadi simbol kesabarannya. Karena itulah Ayal bercita-cita memberikan kado sisir untuk neneknya itu.

ultah

Kini Mamah sudah sepuh dan pensiun. Kegiatannya hanya mengaji, ke pengajian, nonton pengajian atau sinetron di TV, mengasuh cucu, ikan dan kucing-kucing di belakang rumah. Anak mantunya sudah beranak pinak, sedang belajar jadi orang.

Selamat ulang tahun dan tetap sehat ya…

 

DSC_0209

 

 

Blogger jadi Kaprodi

Tiga minggu sudah jadi kaprodi MAP.

Alhamdulillah, memiliki tim yang keren dan solid. Ya, gak butuh Superman di sini, butuhnya Superteam. He he, jadi inget masa-mas suka jadi motivator yang meracuni para audiens. Hadeuh.

Nah, masih berkaitan dengan dunia ngeblog.

Jadi ternyata belum ada Prodi S2 yang punya website. Bu Nia kabarnya menerima komplain dari mahasiswa, demikian juga Pak Riswanda yang mengajar E Government.

Saya sebagai blogger seriusan merasa malu.

Maka pake jurus eksekusi cepat. Saya minta Kang Mirza bikin surat ke Pusdainfo, minta domain. Sementara saya bikin website sementara pake wordpress, kalau dapet domain tinggal dimapping saja.

Alhamdulillah, besoknya gak sengaja ketemu Pak Adha, jadilah eksekusi berjalan cepat karena seninnya langsung dapet domain map.pasca.untirta.ac.id. Ternyata yang dikirim link cpanel. Wah jadilah mesti bikin ulang.

Beberapa hari termasuk akhir pekan mengotak-atik cpanel, belajar lagi dan memasukkan berbagai informasi.

Alhamdulillah, hasilnya walaupun ndak bagus, tapi cukup untuk menjadi sumber informasi bagi dosen, mahasiswa atau calon mahasiswa.

Nanti akan ada saatnya website ini dilaunching setelah mendapatkan sentuhan dan nasihat profesional. Lha kenapa ngaku kalau website dibikin sama Kaprodi? Biar kalau ada yang bilang website jelek, cukup saya yang disalahkan, he he

Mangga main-main ke map.pasca.untirta.ac.id

Screenshot 2016-03-26 11.30.21

 

 

Menjadi Anggota DRD (lagi)

Kemarin pagi saya dan empat belas kolega lainnya dilantik menjadi anggota Dewan Riset Daerah Provinsi Banten.

Pelantikan ini di tengah sorotan publik yang menandai ekspektasi sekaligus sikap skeptis terhadap keberadaan DRD dan anggota DRD.

Saya sendiri mendapatkan kepastian pelantikan beberapa waktu lalu ketika ditelepon seorang staf di balitbangda yang mengecek nama dan gelar dan malam sebelum pelantikan menerima surat undangan.

Bahwa sebelumnya ada rumor ini dan itu, saya cenderung ndak ambil pusing. Saya berada dalam posisi tidak pernah akan kasak-kusuk untuk sebuah posisi. Apalagi setelah sebelumnya lelah ketika nyaris menempati sebuah posisi di kampus namun batal karena satu dan lain hal. Jika Gus Dur menyatakan bahwa tak ada jabatan yang perlu dipertahankan mati-matian, maka prinsip saya, tak ada posisi yang perlu dikejar mati-matian. Posisi yang harus dikejar ketika mati beneran (bukan mati-matian) adalah khusnul khotimah, bukan khusnul yang lain 🙂

Lagipula saya pernah di DRD tahun 2009-2012. DRD yang menurut sahabat saya Kang Rohman (28/1 Radar Banten) menjadi ajang kongkow-kongkow para pejabat, akademisi, aktivis dan intelektual belaka.

Lantas kenapa saya menerima menjadi anggota DRD?

Sederhana saja, dunia saya adalah dunia riset. Saya pernah tinggal di negara yang kemajuannya karena riset. Saya belakangan ini getol menulis tentang dunia pendidikan tinggi dan rendahnya kualitas dan kuantitas riset-riset kita. Sejujurnya, saya sedang mengalami culture shock ketika jangankan fasilitas riset, bahkan untuk bekerja (baca: membaca, menulis, dll) di tempat kerja sekalipun harus berebut meja. (meja ya, bukan kursi, he he).

Screenshot 2016-02-24 16.10.03

Nah ketika kesempatan berada di posisi mendorong riset menjadi penting sebagai dasar lahirnya kebijakan yang baik di Banten dengan dukungan otoritas dan anggaran yang memadai, saya tak punya kuasa menolak. Ini kesempatan berbuat baik man !.

Contoh kecilnya, bayangkan kalau bisa mempertemukan riset2 canggih soal energi di kampus2 di Tangerang dengan desa-desa di Pandeglang atau Lebak yang butuh energi alternatif ! keren kan!

Screenshot 2016-02-25 10.34.54

Screenshot 2016-02-25 10.33.26

Tapi tentu saja saya tak punya posisi menilai kepantasan diri sendiri di DRD, mangga dilihat profil saya di sini. Kalo gak pantes, punten pisan 😉

Nah saya bersyukur karena kolega-kolega saya di DRD sekarang adalah para senior dan sebaya yang rasanya memiliki kapasitas di berbagai hal: ada antropolog senior, ahli rayap, pakar dan aktivis literasi, ahli pemerintahan, ahli pertanian, ahli penanggulangan bencana, peneliti korupsi sekaligus aktivis anti korupsi, pakar media, pakar pemberdayaan masyarakat dan lain-lain. Saya bisa banyak belajar :).

Saya sendiri mesti menjadi flag carrier Untirta, membawa nama baik setidaknya henteu ngisinkeun.

Sebetulnya posisi di DRD lamun ceuk urang Pandeglang mah siga “katempuhan buntut maung”. Berada dalam sorotan dan menghadapi momentum yang ndak tepat: Pilkada Provinsi Banten, sehingga bisa jadi apapun yang dilakukan diframing secara politis.

Dan ketika tudingan tukcing (ditunjuk cicing), makan gaji buta, pemburu rente atau tuduhan beraroma politis muncul, saya (baca: kami) sepakat menjawabnya dengan bekerja.

 

Beberapa jam setelah dilantik kami langsung bekerja dengan Balitbangda, berdiskusi dengan utusan SKPD dan utusan perguruan tinggi tentang rencana penelitian setahun ke depan. Setidaknya ini awal interaksi dan menyerap berbagai hal dari kawan2 berbagai SKPD dan kampus2 di Banten.

Saya sendiri tiba-tiba ditodong harus menjadi pembicara menggantikan Pak Zaenal Muttaqien dari Bappeda (kayaknya kenal deh) hadeuh.

abah pembicara

***

Dan Ayu di rumah hanya bisa ngomel karena Abahnya tiga hari gak pulang, “Abah pulang dong, aku mau ikut lomba pidato anti korupsi hari sabtu, minta diajarin“, hadeuh….

Bismillah.

 

Dosen Blogger atau Blogger Dosen?

 

Sesuai judul, saya memang dua punya aktivitas yang saya geluti serius: ngeblog dan nge-dosen (baca: kerja di kampus untuk mengajar dan meneliti).

Sebagai dosen saya lakukan sepenuh hati. Senang saja misalnya mengajar anak-anak muda yang penuh semangat dan lutju-lutju. Meracuni pikiran mereka dengan ilmu yang semoga bermanfaat. Menumbuhkan kesadaran kritis melihat dunia sekeliling mereka, biar berwarna dan tidak hitam putih.

Sebagai dosen saya juga meneliti, menemukan hal baru dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala. Oh ya, sebagai dosen seriusan senang juga hasil penelitian saya yang terbit di jurnal internasional dihargai. Ceritanya kemarin pas upacara kesadaran nasional dipanggil ke depan menerima SK-nya oleh Rektor:) (Padahal saya jarang upacara dan pake baju korpri, he he)

reward jurnal

Sumber foto: Fesbuk Pak Kurnia

Sebagai blogger, rasanya saya juga cukup serius. Dulu gara-gara baca blognya Pak Budi Rahardjo, jadinya pernah punya ambisi satu tulisan satu hari. Ah jadinya keteteran.

Sekarang intensitas saya ngeblog makin berkurang. Selalu ada alasan, padahal semua gadget saya (ipad merek ipad dan smartphone samsul) memiliki aplikasi wordpress.

Dulu di Jepun rasanya lebih bisa mengalokasikan menulis, bahkan jika di atas kereta. Namun karena banyak di belakang kemudi, rasanya gak mungkin nyetir sambil ngeblog, bisi cilaka.

Tapi jika ada waktu luang saya pasti menulis. Jika ada hal menarik di dunia perdosenan dan pendidikan tinggi saya juga pasti luangkan waktu untuk ditulis. Sila dilihat tulisan-tulisan paling populer di bulan Oktober lalu.

Screenshot 2015-11-18 08.25.30

Karena itulah blog ini konon kabarnya cukup populer di kalangan dosen. Senang juga sih bisa bermanfaat 🙂

Nah jadinya saya itu dosen blogger atau blogger dosen ya?

Seminggu Setelah Sidang Disertasi

Saya punya kebiasaan buruk. Menulis sebuah refleksi ketika momentum sudah lewat.

Selain itu menulis di blog berbanding lurus dengan stress. Semakin stress semakin piawai dan rajin saya menulis. Jadi ketika seminggu ini tak menulis, sesungguhnya saya sudah agak tidak stress :).

***

Minggu lalu, 30 Juni merupakan salah satu tonggak terpenting dalam kehidupan (akademik) saya. Saya melaksanakan sidang disertasi. Ini seperti klimaks dalam proses belajar saya dalam 3 tahun terakhir ini di Jepun. Proses yang melelahkan, lahir dan batin. Lebih khusus dalam tiga bulan terakhir, dimana segala upaya dikerahkan menuju penyelesaian disertasi.

Apalagi keluarga sudah pulang duluan ke tanah air. Jadilah malam-malam sibuk dengan laptop sambil mendengarkan lagu yang liriknya “di dalam keramaian aku merasa sepi…“. Pas banget dah dengan suasana hati. Untunglah Ayu menghibur dan mendoakan “Semoga sidangnya lancar ya Bah, Abah nggak ditahan“. Dikiranya sidangnya sidang pengadilan dan saya jadi terdakwa, kebanyakan nonton tipi.

Selama tiga tahun ke belakang saya memang serius studi. Terlalu serius malah, termasuk memutuskan untuk tidak aktif berorganisasi selama jadi pelajar di Kyoto. Fokus ke riset sehingga nggak serius belajar bahasa Jepang (Ini mah ngeles kayaknya). Menahan diri untuk tidak terlalu muncul di publik karena memang belum saatnya, terutama ketika isu korupsi di Banten mengemuka. Mengeluarkan segala upaya agar syarat kelulusan seperti publikasi dua peer review jurnal bisa selekasnya dipenuhi. Menarik diri dari ikut cawe-cawe urusan politik, termasuk politik kampus. Termasuk mengurangi jalan-jalan yang sering bikin Ibun sebel. Saya sadar diri, sebagai orang yang nggak pinter-pinter banget saya mesti berusaha berkali-kali lipat daripada mereka yang pinter.

Selama tiga bulan terakhir, malam jadi siang, pagi jadi malam. Hidup saya seperti hidupnya Bruce Wayne, melek di malam hari, tak bisa tidur karena tertekan dan memang harus menyelesaikan menulis dan mengedit bagian demi bagian dari disertasi sambil diselingi main Marvel Contest of Champions. Melelahkan juga secara finansial, karena harus menempuh proofreading untuk manuskrip dalam waktu hanya sebulan dari waktu normal sekitar tiga sampai empat bulan. Proofreading harus diselesaikan karena manuskrip yang disubmit adalah final dan tak boleh direvisi lagi. Jadilah keluar biaya ekstra karena kampus hanya menanggung biaya normal proofreading. Tak apa-apa, jer besuki mawa beya.

Saya memang ngotot untuk selesai karena semester ini hanya punya satu skenario: lulus.

Sensei memang sempat mengajak bicara soal beberapa skenario: (1) lulus atau (2) menunda kelulusan satu semester.

Saya menolak skenario kedua, saya mesti selesai:  “I have something to do“.

Sensei mengira karena saya mau maju jadi Dekan selepas lulus, padahal saya tak tahan ingin mencium bau kecut rambut Ilham yang tak bisa dirasakan lewat skype 🙂

Jadilah Sensei sepakat mencoret plan (2) dan mendorong saya selesai dengan pertemuan intensif, membahas draft secara teliti dan cepat.

Hidup saya kemudian seperti apa yang saya tulis di awal, hidup seperti Batman yang celakanya terbawa sampai sekarang.

Alhamdulillah, naskah selesai beberapa hari sebelum jadwal submit 29 Mei. Begitu juga dengan berbagai dokumen dan aplikasi yang bolak-balik mesti diperbaiki. Tanggal 28 Mei, saya menyerahkan ke GS (Global Studies) office. Fiuh.

***

Sidang berjalan lancar. Saya tampil dengan keren, memakai jas dan dasi (Bener gak ya cara make kancing jasnya?). Rambut yang saya cukur sendiri sekitar dua minggu lalu juga sudah agak tumbuh walaupun malu-malu.

Sidang dimulai jam satu, selepas saya sholat zuhur di mushola kampus. Hadirin yang datang sekitar 10 orang saja. Saya, penguji 3 orang (termasuk Sensei pembimbing), dan penonton sekitar 6 orang, termasuk Okamoto Sensei dari CSEAS yang sibuk memotret :). Tak ada karangan bunga atau prosesi seremonial. Juga tak ada konsumsi, bukan karena menghormati kami yang berpuasa, tapi itulah sidang disertasi di Jepun.

Acaranya seperti seminar biasa. Sensei membuka sekaligus jadi moderator, mempersilahkan saya presentasi selama 40 menit. Dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan tajam dari dua penguji yang menguliti isi disertasi. tanya jawab juga selama 40 menit saja, tanpa perpanjangan waktu.  Alhamdulillah, rasanya (jangan-jangan perasaan Dek Hamid saja) semua pertanyaan bisa diberikan jawabannya, dan semua masukan bisa diterima tanpa membongkar apa yang sudah saya tuliskan.

20150630_140153   share_tempory

Setelah selesai, saya dan semua hadirin diminta keluar. Sensei dan dua penguji rapat, memutuskan nasib saya.

Sekitar sepuluh menit, Sensei keluar dari ruangan dengan senyum terkembang “Good job“, katanya. “Mereka agree untuk merekomendasikan kamu lulus, tinggal nanti hasil resmi faculty meeting 21 Juli” (Sensei memang suka campur bahasa Indonesia dan Inggris karena lama dulu di Indonesia).

Wah saya senang sekali, membuncah. Namun harus tetap kelihatan cool bukan? Saya tersenyum tipis “Domo Arigatou Sensei”.

***

Sorenya, sahabat saya Pak Ishaq teman satu Sensei, satu Lab, satu Apato, sesama tukang ngopi dan begadang juga melaksanakan sidang Preliminary Examination dengan amat sukses, menuai pujian dari para pengujinya. Saya bergantian jadi fotografernya sidang beliau. Jadilah kebahagiaan kami waktu itu berlipat-lipat. Sensei juga nampak sumringah dan tersenyum terus, padahal pagi hari dan hari-hari sebelumnya, dahinya yang selalu berlipat.

***

Kebahagiaan kami dirayakan Doshisha. Lepas maghrib Doshisha melaksanakan Iftar Party. Tentu saja bukan khusus merayakan sidang kami, tapi memang kebetulan waktunya berurutan di hari yang sama. Jadilah tak perlu bikin pesta sendiri 🙂

20150630_185038

20150630_190125

Ketika iftar party berlangsung, seorang Sensei dari Turki menyampaikan selamat atas sidang, dan bertanya “Bagaimana perasaanmu?” Ia menjawab sendiri pertanyaannya “Ya, saya bisa merasakan apa yang kamu rasakan, dulu ketika selesai sidang, rasanya lega bukan main“.

***

Alhamdulillah.

Satu proses terpenting sudah selesai. Semoga tanggal 21 Juli nanti faculty meeting memutuskan saya berhak memakai gelar Ph.D. Sebelum gelar didapat toh saya memang sudah Ph.D: Permanent Head Damage yang ditandai dengan insomnia sampai hari ini.

Potensi Bahaya Dosen Menulis Paper di Jurnal dari Skripsi Mahasiswa

Lazada Indonesia
Judulnya sudah pas belum ya?

Hmm begini awal mula kenapa tulisan ini dibuat.

Awalnya adalah perbincangan dengan seorang kawan di tepi Kamo sambil makan liwet.

Ia menyampaikan bahwa banyak dosen yang mempublikasikan artikel di jurnal yang bersumber dari skripsi mahasiswa. Lho kok bisa?

Ya bisa, lha wong entah atas dasar wangsit dari mana ada kewajiban menulis jurnal bagi mahasiswa S1, S2 dan S3. Kewajiban ini berdasarkan SE152/E/T/2012.  Nah, SE-nya itu sampe nyebut-nyebut negara tetangga segala saking bersemangatnya, he he. (Sila unduh di sini)

Jadilah kemudian, tugas membimbing skripsi termasuk juga menjadikan skripsi tersebut ke dalam format artikel di jurnal dan diterbitkan, biasanya di jurnal milik internal kampus. Nah, di banyak kampus, nama pembimbing dimasukkan menjadi salah satu penulis. Jadi jika mahasiswanya namanya Udin, pembimbing 1 Durno dan pembimbing 2 Dasamuko, maka penulis dalam jurnal akan ditulis: Udin, Durno, dan Dasamuko.

Hal ini konon juga kelaziman di beberapa negara, di mana pembimbing tesis atau disertasi juga namanya ditulis sebagai penulis ke sekian, yang jelas tidak pertama.

Nah sekilas memang semua baik-baik saja. Banyak dosen menikmati benefit ini. Namanya tercantum di banyak publikasi yang notabene berasal dari skripsi mahasiswa. Jika IT kampus rajin dan publikasi2 tersebut dimasukkan ke dalam repository yang tersambung ke garuda dikti atau google, bisa jadi karya ilmiah yang diproduksi dengan cara begini lebih banyak dari yang betul2 ditulis sendiri.

Tapi teman saya tersebut mengingatkan, ada potensi persoalan besar, ini seperti pisau bermata dua. betul memang sekilas kuantitas tulisan banyak. Tapi bagaimana jika artikel jurnalnya tidak berkualitas? Bagaimana jika ada plagiasi dalam karya tersebut? Bagaimana jika proses pengeditannya tidak tuntas? Mengubah karya tulis dari format skripsi menjadi artikel jurnal tidak semudah menggunakan fitur find and replace kata “skripsi” menjadi “paper” atau “artikel”.

Jika hal-hal tersebut terjadi, kiamatlah karir sang dosen. Ia yang tak cermat memeriksa (karena load skripsi banyak) bisa tersangkut persoalan plagiarisme.  Plagiarism by accident. Mengerikan bukan?

Apa yang terjadi dengan salah satu artikel di jurnal Phinisi dimana masih ada kata-kata:“adapun permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah merupakan…”  adalah gunung es dari sekian banyak kasus yang saya yakin akan banyak terjadi.  Sila ke TKP di http://pak.dikti.go.id/portal/?p=193.

Screenshot 2015-06-13 11.16.05

Sumber:

Bisa jadi memang artikel tersebut tak berasal dari modus di tulisan ini, karena bisa jadi artikel di Phinisi memang didapatkan dari skripsi penulis duluuuu waktu S1, diambil begitu saja dari skripsi mahasiswa tanpa permisi atau menurut seorang kawan bisa saja diambil dari biro jasa pengerjaan skripsi. Fiuh.

Namun modus menjadikan skripsi sebagai artikel jurnal (yang dibenarkan dan legal oleh banyak kampus) dan kemudian menjadi bagian dari PAK berpotensi menimbulkan persoalan di kemudian hari dan membahayakan karir Bapak/Ibu Dosen.

jadi saya ingin mengatakan: Berhati-hatilah !
Lazada Indonesia