Arsip Tag: blogger dosen

Edisi Lengkap dan Terbaru Jurnal Terakreditasi Dikti (Update 9 Juli 2018)

Dear rekan-rekan semua, bersama ini saya posting Jurnal Elektronik Terakreditasi edisi I 2018. Nah untuk kali pertama jurnal terakreditasi menggunakan sistem peringkat, I-6 dengan ratusan jurnal masuk ke dalam kategori terakreditasi.

Screenshot 2018-07-20 09.29.16Screenshot 2018-07-20 09.29.27

Mangga disimak

Baca lebih lanjut

Iklan

Kenapa 60% Riset tentang Indonesia ditulis Orang Asing?

Tulisan ini saya buat dalam perjalanan ke Pattaya. Ya akan menginap semalam di sebuah pulau di sekitar sana sebelum kembali ke tanah air.

Sebelumnya sekira dua minggu saya tinggal di kantor Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Bangkok. Kantor yang merangkap apartemen, dua lantai. Ada ratusan buku tentang Asia tenggara, khususnya negara-negara di Mainland Asia. Ya, CSEAS punya dua kantor besar di Asia Tenggara, satu di Jakarta dan satu di Bangkok. Selain menjadi field station bagi para peneliti, tempat ini jadi persinggahan buku-buku tentang Asia tenggara sebelum akhirnya dikirim ke perpustakaan CSEAS di Kyoto.

Pekerjaan kepala kantor CSEAS salah satunya juga adalah mengumpukan buku-buku tentang Asia Tenggara. Di Jakarta misalnya, saya dulu kerapkali menemani Professor Okamoto untuk belanja buku-buku langka dari pedagang entah dari Senen, Blok M atau Taman Mini.

Jangan heran rasanya koleksi buku dan majalah tentang Indonesia amat sangat lengkap, jika dibandingkan dengan perpustakaan di Indonesia. Katakanlah mencari edisi lengkap majalah Sabili atau Tempo bisa dilakukan di perpustakaan CSEAS di Kyoto. Apakah ada di perpustakaan UI atau UGM atau Untirta?

***

Hal-hal semacam ini yang sebetulnya ingin saya sampaikan ketika para pejabat menyampaikan pandangannya yang seringkali jump to conclusion. Katakanlah Dirjen SDM Dikti yang mengatakan bahwa “..60% tulisan tentang Indonesia ditulis orang Asing”. (Republika, 17/3)

Judul tulisan ini mencoba memberi penjelasan yang berangkat dari sudut pandang orang dalam: kamsudnya dosen biasa. Tulisannya ndak bermaksud memberi penjelasan yang menyeluruh, nanti di jurnal itu mah. Judulnya saja yang dibuat bombastis seperti pernyataan Dirjen yang juga bombastis. Kali ini tulisan ya Pak, nggak video dulu 😉

Screenshot 2017-03-24 18.40.40

Pak Dirjen mengatakan:

“Padahal menurutnya, dengan banyaknya jumlah dosen dan mahasiswa di Indonesia, seharusnya banyak riset dan inovasi yang dihasilkan. Ia menyebut, banyak potensi riset di Indonesia yang dapat diangkat untuk meningkatkan daya saing bangsa.”

Statemen di atas dipakai sebagai dasar bagi program World Class Professor 2017, mendatangkan Professor kelas dunia untuk bertugas di beberapa kampus Indonesia terpilih. Tugas mereka, sebagaimana dikutip Republika adalah:

“…melaksanakan perbaikan kualitas artikel, joint publication untuk disubmit ke jurnal internasional bereputasi, melaksanakan joint supervision bagi mahasiswa S2 dan S3.

Serta melakukan joint research dengan dosen muda maupun senior, joint study program; membantu analisis data bagi mahasiswa S3, melaksanakan program pemagangan penelitian bagi mahasiswa S3 dan dosen di laboratorium World Class Professor (WCP), membantu PUI-PT, PT dan LPNK membuat proposal untuk memperoleh dana penelitian atau pengembangan proyek pendidikan yang akan diajukan ke pemerintah masing-masing atau ke penyandang dana internasional, membantu set-up global satellite laboratory di PUI-PT dan mencantumkan PUI-PT di situs grup WCP sebagai bagian dari global satellite laboratory.”

Sekilas program ini amat baik. Meningkatkan kualitas para dosen dan laboratorium. Tapi sebentar, bukankah problem pendidikan tinggi kita tidak cukup sederhana sehingga selesai dengan mendatangkan Profesor kelas dunia?

Katakanlah begini, problem pertama kita misalnya pustaka.

Sistem pustaka mereka (baca: kampus asing) amat baik dan pro ilmu pengetahuan. Kita yang pernah belajar di kampus LN tentu sudah paham bahwa pustaka katakanlah bukan sebuah persoalan.Perpustakaan sudah cukup lengkap dan  jika ada buku yang kita butuhkan dan tidak tersedia biasanya bisa memesan di perpustakaan lain (yang berjaringan) atau memesan untuk dibelikan. Kalau saya dulu bahkan bisa dibelikan dari anggaran Professor, ditanya: “Hamid Kun, kamu butuh buku apa tahun ini?“.

Kemewahan  yang ketika pulang dan menjadi pengajar dengan status Associate professor (Lektor Kepala) di kampus dalam negeri, jelas sulit diulangi. Mengajukan pembelian buku-buku asing ke perpustakaan? He he

Maka biasanya hampir semua dosen memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya, buku-buku yang dibeli dari kocek pribadi yang sebetulnya untuk kepentingan mengajar dan meneliti. Di kampus, kecuali punya jabatan struktural tak ada lemari buku yang cukup menampung.

Pilihan logis ketimbang terus menerus ngedumel tanpa solusi bukan?

Jadi katakanlah Samuel Huntington datang ke Indonesia jadi mitra World Class Professor dan kemudian meminta setumpuk buku berbahasa inggris untuk dibeli apakah bisa dikabulkan? Apakah Profesor lokal juga meminta setumpuk buku untuk mendukung pendidikan dan pengajaran, apakah bisa dikabulkan?

(Mohon tidak dijawab dengan, kan bisa download dari Sci-hub, he he)

Indikator perbaikan yang sederhana bukan? Pembelian buku harus lebih penting daripada pernambahan bangku taman, pemasangan cctv dan videotron atau pengecetan tembok yang belum kusam.

Oh ya, pernyataan Dirjen soal 60% riset Indonesia ditulis ilmuwan asing di atas juga bisa dijelaskan dengan cukup memadainya dana-dana penelitian yang dimiliki dosen asing. Mustahil mereka menulis dengan cukup baik tanpa data yang akurat. Data akurat hanya bisa didapatkan dengan field research atau bagi ilmu tertentu bisa juga membeli data yang harganya cukup mahal. Teman-teman saya jagoan ahli asia tenggara dari Jepang bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan di Jakarta, Bangkok atau Manila. Tentu mereka bisa meneliti dengan tenang, membangun network, menyewa apartemen, membeli buku-buku karena ada dana yang memadai. Nggak mungkin sambil puasa atau irit-iritan menunggu dana gak cair-cair sambil membuat kwitansi dan nota palsu.

Ditambah hak untuk sabbatical setiap beberapa tahun, cuti untuk menulis atau penelitian dengan tetap mendapatkan pendapatan secara penuh, bahkan mendapatkan dana penelitian.

Lha kebijakan kita belum ke arah sana jeh.

Penelitian saya ndak mau komen. Sudah terlalu banyak masalah, utamanya administratif. Kalau ingin tahu lebih banyak terjun saja ke grup dosen Indonesia di Facebook yang ebranggotakan belasan ribu orang, banyak cerita sedih di sana.

Sabbatical sebetulnya sudah menjadi kebijakan dalam PP 37 2009 tentang Dosen. Dosen berhak mengajukan cuti untuk penelitian secara berkala, empat tahun sekali bagi dosen LK dan Gubes, lima tahun sekali bagi dosen AA dan L.

Namun apakah sudah ada pedoman implementasinya? Rasanya belum.

Ada memang program SAME Dikti, tapi tentu alokasinya amat terbatas. Yang saya maksud adalah implementasi di kampus sehingga dosen memang bisa mengajukan hak sabbatical tersebut secara berkala.

Yang sebetulnya juga menyedihkan adalah kebijakan maksimal satu bulan berada di Indonesia untuk penelitian dosen yang kuliah dengan beasiswa luar negeri Dikti. Saat menempuh S3 di luar negeri sesungguhnya adrenalin dosen sedang berada di puncak. Kesempatan untuk mendapatkan data lapangan bagi mereka yang penelitiannya di Indonesia adalah kesempatan untuk mendapatkan data berkualitas untuk menjadi karya bermutu tinggi.Sayangnya pendekatan kementerian bersifat administratif dan terlalu mencurigai karyasiswa.

Padahal membatasi satu bulan untuk field research sangat membatasi. Ancamannya tidak main-main, besaran beasiswa LN diubah menjadi sebesar beasiswa DN.

***

Dengan dua ilustrasi di atas saja, jelas bahwa wajar dan masuk akal jika karya-karya terbaik tentang Indonesia masih dan masih akan ditulis oleh peneliti asing.

Dan mendatangkan Profesor asing membenahi hal-hal di atas hanya mengobati satu kaki dari dua kaki yang pincang. Tetap tertatih-tatih.

Ujian apakah kaki yang pincang keduanya sudah sembuh, sesungguhnya mengundang World Class Professor tadi untuk menjadi Profesor Tenure (Dosen tetap) di Indonesia, dengan standar yang sama dengan Professor (Baca: Dosen) di Indonesia, termasuk menunggu rapelan serdos dan finger print dua kali sehari seperti minum antibiotik. Jika mereka mau berarti sistem kita sudah baik dan pendidikan tinggi kita bisa betul-betul berlari kencang. Jika tidak dan mereka senyum-senyum simpul, maka sistem yang harus dibenahi.

Begitu Bos…

Mengubah Blog .wordpress menjadi .com

  1. Pertama anda mesti punya blog dulu di wordpress.com, klik di sini.
  2. Setelah punya blog wordpress, kita akan mengubah menjadi blog yang domainnya lebih profesional, berakhiran .com; .net atau yang lainnya. baiklah, saya bersimulasi dengan blog saya: http://www.jiwapatah.wordpress.com.
  3. Caranya, buka dashboard blog wordpress anda, klik store, akan muncul:

Screen Shot 2014-08-15 at 6.23.55 PM

4. Klik “learn more” di “add a domain” dan silahkan baca:

Screen Shot 2014-08-15 at 6.23.28 PM

 

 

5. Nah jika niatnya dilanjutkan, klik “buy now”, akan masuk ke halaman berikut

Screen Shot 2014-08-15 at 6.33.33 PM

6. Nah karena jiwapatah belum punya domain sendiri, maka saya klik “register a new domain name”

Screen Shot 2014-08-15 at 6.33.43 PM

7. Setelah itu memilih nama domain yang diinginkan, tentu saja ada beberapa pilihan. Saya coba jiwapatah.com

Screen Shot 2014-08-15 at 6.33.50 PM

 

8. Selanjutnya silahkan lakukan proses seperti pengisian biodata dan pembayaran. Biasanya sih menggunakan kartu kredit, namun sepertinya Paypal juga bisa.

Lakukan sampai selesai, dan yang terpenting percantik tampilan blog dan menulis di blognya !

Salam,

Dosen Ganteng

IMG_0669

Tentu ini bukan soal gambar dosen di atas yang yah, cukup ganteng sih.

Ini soal bagaimana kita menguasai keyword “dosen ganteng”.

Hmm coba ketik di mesin pencari google – google.com – kata “dosen ganteng“, maka di halaman pertama hasil ke-empat akan ditampilkan http://www.abdul-hamid.com.

Screenshot 2016-04-30 19.51.44

Kalau di google.co.id, blog ini nangkring di halaman pertama nomor urut ke-7, di sini.

Screenshot 2016-04-30 19.51.44

Yah tentu saja, pemilik blog ini dengan jujur mengakui sedikit kalah ganteng oleh Pietro Boselli yang nangkring di halaman pertama nomor urut pertama.

Tapi bukan itu masalahnya. Upaya “memaksa” google mengakui kegantengan (blog) saya (ehemm) adalah upaya keras melakukan apa yang saya sebut Personal Branding melalui SEO (Search Engine Optimization). Dan SEO yang saya gunakan adalah SEO alami, gak pake ramuan berbagai engine, backlink, ramuan madura, plugin atau berbagai settingan lain. Hanya menggunakan keyword secara konsisten. Hasilnya maksnyuss, google mengakui kegantengan (blog) saya walaupun prosesnya cukup lama.

“Seorang blogger gak cuma mesti jago dan rajin nulis, tapi mesti ngerti bagaimana menggunakan keyword secara tepat”(Abah Hamid, 2016)

Caranya, nanti saya ceritakan di postingan berikutnya. Ini masih mau pamer dulu, he he

Atau anda mau dibranding dengan keyword: “dosen mesum”?

***

Catatan: Pencarian “blogger dosen” dan “dosen blogger” juga menempatkan blog ini (www.abdul-hamid.com) di halaman pertama. Ehemm #benerinkacamatapadahalgakpakekacamata.

Ibuku Sayang

Hari ini 20 April, genap 69 tahun usia Ibuku.

Namanya Mursinah, nama kecilnya Bayi, jadi lengkapnya: Bayi Mursinah. Jangan heran ya, di Menes memang banyak nama Bayi. Lha urang menes mah menyebut dirinya Orok Menes ;).

Dari rahimnya telah dilahirkan tiga orang doktor, dua master dan dua lainnya sarjana. Satu orang meninggal dunia semasa kuliah. Ini bukan soal menyombongkan, tapi memang inilah nilai yang dianut di keluarga kami. Pendidikan menjadi prioritas paling utama, diatas segalanya. Karena memang hanya pendidikan yang diberikan sebagai bekal, karena tak ada sawah, ladang ataupun perhiasan yang bisa diwariskan.

abah 1989

Tebak, saya yang mana? hintnya: awak sampayan 😉

Jadi ketika banyak orang meributkan peran Ibu, apakah dia seharusnya berada di rumah mengurus anak atau di kantor mencari nafkah, bagi kami ini debat yang sudah selesai sejak puluhan tahun lalu .

Mamah (begitu kami memanggilnya) menyandang peran ganda. Ia mengajar di SMP 2 Pandeglang sekaligus mengurusi kami, delapan anak-anaknya. Dan rasa-rasanya cukup berhasil di kedua bidang tersebut.

Ibu saya mencari nafkah karena memang tak mungkin penghasilan Apa (panggilan untuk almarhum Bapak saya) sebagai Guru di MAN Cihideung Pandeglang mencukupi. Apa dan Mamah memang punya niat kuat, anak-anaknya mesti jadi sarjana. Mamah hanya lulusan SMEA dan Apa berstatus DO dari IAIN Syarif Hidayatullah karena persoalan biaya.

Dulu, di rumah, walaupun tak ada TV berwarna, sepeda atau mainan yang ngehits, selalu ada majalah Panji Masyarakat, Intisari atau kadang-kadang Majalah Bobo yang bisa dibaca. Membaca di goah (bahasa sunda utk gudang) adalah kegiatan favorit saya  untuk melarikan diri dari perintah Apa bekerja di kebon.

Mamah juga tempat pelarian ketika Apa marah-marah. Mamah penyabar dan selalu berusaha memberikan pengertian. Mamah juga suka memujiku sebagai awak sampayan, ha ha.

Mamah bangun sebelum subuh, menyiapkan sarapan, bekerja ke sekolah, pulang lantas memasak atau beberes. Rambut panjang yang disisir serit nampaknya menjadi simbol kesabarannya. Karena itulah Ayal bercita-cita memberikan kado sisir untuk neneknya itu.

ultah

Kini Mamah sudah sepuh dan pensiun. Kegiatannya hanya mengaji, ke pengajian, nonton pengajian atau sinetron di TV, mengasuh cucu, ikan dan kucing-kucing di belakang rumah. Anak mantunya sudah beranak pinak, sedang belajar jadi orang.

Selamat ulang tahun dan tetap sehat ya…

 

DSC_0209

 

 

Blogger jadi Kaprodi

Tiga minggu sudah jadi kaprodi MAP.

Alhamdulillah, memiliki tim yang keren dan solid. Ya, gak butuh Superman di sini, butuhnya Superteam. He he, jadi inget masa-mas suka jadi motivator yang meracuni para audiens. Hadeuh.

Nah, masih berkaitan dengan dunia ngeblog.

Jadi ternyata belum ada Prodi S2 yang punya website. Bu Nia kabarnya menerima komplain dari mahasiswa, demikian juga Pak Riswanda yang mengajar E Government.

Saya sebagai blogger seriusan merasa malu.

Maka pake jurus eksekusi cepat. Saya minta Kang Mirza bikin surat ke Pusdainfo, minta domain. Sementara saya bikin website sementara pake wordpress, kalau dapet domain tinggal dimapping saja.

Alhamdulillah, besoknya gak sengaja ketemu Pak Adha, jadilah eksekusi berjalan cepat karena seninnya langsung dapet domain map.pasca.untirta.ac.id. Ternyata yang dikirim link cpanel. Wah jadilah mesti bikin ulang.

Beberapa hari termasuk akhir pekan mengotak-atik cpanel, belajar lagi dan memasukkan berbagai informasi.

Alhamdulillah, hasilnya walaupun ndak bagus, tapi cukup untuk menjadi sumber informasi bagi dosen, mahasiswa atau calon mahasiswa.

Nanti akan ada saatnya website ini dilaunching setelah mendapatkan sentuhan dan nasihat profesional. Lha kenapa ngaku kalau website dibikin sama Kaprodi? Biar kalau ada yang bilang website jelek, cukup saya yang disalahkan, he he

Mangga main-main ke map.pasca.untirta.ac.id

Screenshot 2016-03-26 11.30.21

 

 

Menjadi Anggota DRD (lagi)

Kemarin pagi saya dan empat belas kolega lainnya dilantik menjadi anggota Dewan Riset Daerah Provinsi Banten.

Pelantikan ini di tengah sorotan publik yang menandai ekspektasi sekaligus sikap skeptis terhadap keberadaan DRD dan anggota DRD.

Saya sendiri mendapatkan kepastian pelantikan beberapa waktu lalu ketika ditelepon seorang staf di balitbangda yang mengecek nama dan gelar dan malam sebelum pelantikan menerima surat undangan.

Bahwa sebelumnya ada rumor ini dan itu, saya cenderung ndak ambil pusing. Saya berada dalam posisi tidak pernah akan kasak-kusuk untuk sebuah posisi. Apalagi setelah sebelumnya lelah ketika nyaris menempati sebuah posisi di kampus namun batal karena satu dan lain hal. Jika Gus Dur menyatakan bahwa tak ada jabatan yang perlu dipertahankan mati-matian, maka prinsip saya, tak ada posisi yang perlu dikejar mati-matian. Posisi yang harus dikejar ketika mati beneran (bukan mati-matian) adalah khusnul khotimah, bukan khusnul yang lain 🙂

Lagipula saya pernah di DRD tahun 2009-2012. DRD yang menurut sahabat saya Kang Rohman (28/1 Radar Banten) menjadi ajang kongkow-kongkow para pejabat, akademisi, aktivis dan intelektual belaka.

Lantas kenapa saya menerima menjadi anggota DRD?

Sederhana saja, dunia saya adalah dunia riset. Saya pernah tinggal di negara yang kemajuannya karena riset. Saya belakangan ini getol menulis tentang dunia pendidikan tinggi dan rendahnya kualitas dan kuantitas riset-riset kita. Sejujurnya, saya sedang mengalami culture shock ketika jangankan fasilitas riset, bahkan untuk bekerja (baca: membaca, menulis, dll) di tempat kerja sekalipun harus berebut meja. (meja ya, bukan kursi, he he).

Screenshot 2016-02-24 16.10.03

Nah ketika kesempatan berada di posisi mendorong riset menjadi penting sebagai dasar lahirnya kebijakan yang baik di Banten dengan dukungan otoritas dan anggaran yang memadai, saya tak punya kuasa menolak. Ini kesempatan berbuat baik man !.

Contoh kecilnya, bayangkan kalau bisa mempertemukan riset2 canggih soal energi di kampus2 di Tangerang dengan desa-desa di Pandeglang atau Lebak yang butuh energi alternatif ! keren kan!

Screenshot 2016-02-25 10.34.54

Screenshot 2016-02-25 10.33.26

Tapi tentu saja saya tak punya posisi menilai kepantasan diri sendiri di DRD, mangga dilihat profil saya di sini. Kalo gak pantes, punten pisan 😉

Nah saya bersyukur karena kolega-kolega saya di DRD sekarang adalah para senior dan sebaya yang rasanya memiliki kapasitas di berbagai hal: ada antropolog senior, ahli rayap, pakar dan aktivis literasi, ahli pemerintahan, ahli pertanian, ahli penanggulangan bencana, peneliti korupsi sekaligus aktivis anti korupsi, pakar media, pakar pemberdayaan masyarakat dan lain-lain. Saya bisa banyak belajar :).

Saya sendiri mesti menjadi flag carrier Untirta, membawa nama baik setidaknya henteu ngisinkeun.

Sebetulnya posisi di DRD lamun ceuk urang Pandeglang mah siga “katempuhan buntut maung”. Berada dalam sorotan dan menghadapi momentum yang ndak tepat: Pilkada Provinsi Banten, sehingga bisa jadi apapun yang dilakukan diframing secara politis.

Dan ketika tudingan tukcing (ditunjuk cicing), makan gaji buta, pemburu rente atau tuduhan beraroma politis muncul, saya (baca: kami) sepakat menjawabnya dengan bekerja.

 

Beberapa jam setelah dilantik kami langsung bekerja dengan Balitbangda, berdiskusi dengan utusan SKPD dan utusan perguruan tinggi tentang rencana penelitian setahun ke depan. Setidaknya ini awal interaksi dan menyerap berbagai hal dari kawan2 berbagai SKPD dan kampus2 di Banten.

Saya sendiri tiba-tiba ditodong harus menjadi pembicara menggantikan Pak Zaenal Muttaqien dari Bappeda (kayaknya kenal deh) hadeuh.

abah pembicara

***

Dan Ayu di rumah hanya bisa ngomel karena Abahnya tiga hari gak pulang, “Abah pulang dong, aku mau ikut lomba pidato anti korupsi hari sabtu, minta diajarin“, hadeuh….

Bismillah.

 

Dosen Blogger atau Blogger Dosen?

 

Sesuai judul, saya memang dua punya aktivitas yang saya geluti serius: ngeblog dan nge-dosen (baca: kerja di kampus untuk mengajar dan meneliti).

Sebagai dosen saya lakukan sepenuh hati. Senang saja misalnya mengajar anak-anak muda yang penuh semangat dan lutju-lutju. Meracuni pikiran mereka dengan ilmu yang semoga bermanfaat. Menumbuhkan kesadaran kritis melihat dunia sekeliling mereka, biar berwarna dan tidak hitam putih.

Sebagai dosen saya juga meneliti, menemukan hal baru dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala. Oh ya, sebagai dosen seriusan senang juga hasil penelitian saya yang terbit di jurnal internasional dihargai. Ceritanya kemarin pas upacara kesadaran nasional dipanggil ke depan menerima SK-nya oleh Rektor:) (Padahal saya jarang upacara dan pake baju korpri, he he)

reward jurnal

Sumber foto: Fesbuk Pak Kurnia

Sebagai blogger, rasanya saya juga cukup serius. Dulu gara-gara baca blognya Pak Budi Rahardjo, jadinya pernah punya ambisi satu tulisan satu hari. Ah jadinya keteteran.

Sekarang intensitas saya ngeblog makin berkurang. Selalu ada alasan, padahal semua gadget saya (ipad merek ipad dan smartphone samsul) memiliki aplikasi wordpress.

Dulu di Jepun rasanya lebih bisa mengalokasikan menulis, bahkan jika di atas kereta. Namun karena banyak di belakang kemudi, rasanya gak mungkin nyetir sambil ngeblog, bisi cilaka.

Tapi jika ada waktu luang saya pasti menulis. Jika ada hal menarik di dunia perdosenan dan pendidikan tinggi saya juga pasti luangkan waktu untuk ditulis. Sila dilihat tulisan-tulisan paling populer di bulan Oktober lalu.

Screenshot 2015-11-18 08.25.30

Karena itulah blog ini konon kabarnya cukup populer di kalangan dosen. Senang juga sih bisa bermanfaat 🙂

Nah jadinya saya itu dosen blogger atau blogger dosen ya?

Potensi Bahaya Dosen Menulis Paper di Jurnal dari Skripsi Mahasiswa

Lazada Indonesia
Judulnya sudah pas belum ya?

Hmm begini awal mula kenapa tulisan ini dibuat.

Awalnya adalah perbincangan dengan seorang kawan di tepi Kamo sambil makan liwet.

Ia menyampaikan bahwa banyak dosen yang mempublikasikan artikel di jurnal yang bersumber dari skripsi mahasiswa. Lho kok bisa?

Ya bisa, lha wong entah atas dasar wangsit dari mana ada kewajiban menulis jurnal bagi mahasiswa S1, S2 dan S3. Kewajiban ini berdasarkan SE152/E/T/2012.  Nah, SE-nya itu sampe nyebut-nyebut negara tetangga segala saking bersemangatnya, he he. (Sila unduh di sini)

Jadilah kemudian, tugas membimbing skripsi termasuk juga menjadikan skripsi tersebut ke dalam format artikel di jurnal dan diterbitkan, biasanya di jurnal milik internal kampus. Nah, di banyak kampus, nama pembimbing dimasukkan menjadi salah satu penulis. Jadi jika mahasiswanya namanya Udin, pembimbing 1 Durno dan pembimbing 2 Dasamuko, maka penulis dalam jurnal akan ditulis: Udin, Durno, dan Dasamuko.

Hal ini konon juga kelaziman di beberapa negara, di mana pembimbing tesis atau disertasi juga namanya ditulis sebagai penulis ke sekian, yang jelas tidak pertama.

Nah sekilas memang semua baik-baik saja. Banyak dosen menikmati benefit ini. Namanya tercantum di banyak publikasi yang notabene berasal dari skripsi mahasiswa. Jika IT kampus rajin dan publikasi2 tersebut dimasukkan ke dalam repository yang tersambung ke garuda dikti atau google, bisa jadi karya ilmiah yang diproduksi dengan cara begini lebih banyak dari yang betul2 ditulis sendiri.

Tapi teman saya tersebut mengingatkan, ada potensi persoalan besar, ini seperti pisau bermata dua. betul memang sekilas kuantitas tulisan banyak. Tapi bagaimana jika artikel jurnalnya tidak berkualitas? Bagaimana jika ada plagiasi dalam karya tersebut? Bagaimana jika proses pengeditannya tidak tuntas? Mengubah karya tulis dari format skripsi menjadi artikel jurnal tidak semudah menggunakan fitur find and replace kata “skripsi” menjadi “paper” atau “artikel”.

Jika hal-hal tersebut terjadi, kiamatlah karir sang dosen. Ia yang tak cermat memeriksa (karena load skripsi banyak) bisa tersangkut persoalan plagiarisme.  Plagiarism by accident. Mengerikan bukan?

Apa yang terjadi dengan salah satu artikel di jurnal Phinisi dimana masih ada kata-kata:“adapun permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah merupakan…”  adalah gunung es dari sekian banyak kasus yang saya yakin akan banyak terjadi.  Sila ke TKP di http://pak.dikti.go.id/portal/?p=193.

Screenshot 2015-06-13 11.16.05

Sumber:

Bisa jadi memang artikel tersebut tak berasal dari modus di tulisan ini, karena bisa jadi artikel di Phinisi memang didapatkan dari skripsi penulis duluuuu waktu S1, diambil begitu saja dari skripsi mahasiswa tanpa permisi atau menurut seorang kawan bisa saja diambil dari biro jasa pengerjaan skripsi. Fiuh.

Namun modus menjadikan skripsi sebagai artikel jurnal (yang dibenarkan dan legal oleh banyak kampus) dan kemudian menjadi bagian dari PAK berpotensi menimbulkan persoalan di kemudian hari dan membahayakan karir Bapak/Ibu Dosen.

jadi saya ingin mengatakan: Berhati-hatilah !
Lazada Indonesia

Prosedur Baru Mengurus ATM BNI yang Hilang

Sejak di Jepun ATM BNI sudah raib entah kemana. Padahal ini adalah rekening gaji.

Jadilah ketika mendarat ini yang pertama kali diurus.

Awalnya ketika saya ke Bank BNI di Kalibata City hanya hendak melapor saja, sambil mengambil uang untuk sebuah keperluan mendesak. Penggantian kartu kan biasanya membutuhkan surat keterangan hilang dari kepolisian. Saya belum sempat ngurus.

Namun ternyata, Satpam memberi kejutan. “Sekarang bisa diurus langsung Pak, nanti membuat surat pernyataan diatas materai”

Wah ini info berharga. Jadilah saat itu juga saya urus dan ternyata betul, saya cukup membuat surat pernyataan ATM hilang, ditandatangani di atas materai yang disediakan pihak Bank (diganti 6000 rupiah) membuat aplikasi (bayar lagi 20.000), ATM langsung jadi. Alhamdulillah.

Informasi Besaran Remunerasi Dosen

Saya sebenarnya menunggu feedback dari teman-teman di PTN BLU yang sudah remunerasi tentang tulisan saya sebelumnya. Karena tak ada yang cukup memadai (kecuali dari Pak Arbyn), maka saya memutuskan blusukan di belantara internet. Penasaran aja sih daripada jadi jerawat. Akhirnya ketemu juga, besaran remunerasi dosen di sebuah PTN BLU.

Hmm angkanya sih tidak terlalu wah. Jika anda bekerja normal (12SKS) maka dapet senilai 30% total remunerasi sesuai jabatan fungsional. Jika ada kelebihan SKS bisa dikalikan dengan besaran nilai per-SKS. Nah disana tertera angka 100% (kelebihan 12 SKS) dan 150% (kelebihan 18 SKS) sebagai batas maksimal.

Screenshot 2015-01-13 19.52.50

Jadi BKD diisi lebih dari 12 SKS ya dan kelebihannya dihitung juga sampai maksimal (kelebihan) 18 SKS.
Oh ya silahkan badingkan dengan besaran remunerasi BLU UNPAD.

Saya sih belum bikin simulasi, apakah dengan remunerasi ini sebanding atau tidak dengan honor-honor yang hilang. Ini yang kabarnya memicu ketidakpuasan di sebagian dosen di PTN yang sudah BLU.

Yang jelas mestinya penghitungan SKS sudah memasukkan variabel membimbing, mengajar S1,S2 atau S3, dan sebagainya.

Termasuk dosen yang tugas belajar mendapat remunerasi sebesar 30% (gaji) tadi.

Hmm rasa penasaran saya terobati, gak jadi punya jerawat baru. Jadi bola sekarang di PTN masing-masing, cepat atau lambat tergantung kemauan dan kecakapan manajemen PTN BLU masing-masing.

Tapi kalau PTN tidak BLU bagaimana ya? pake SBML?

Oh ya saya sendiri ndak share suratnya secara lengkap karena ada nama-nama dosen di PTN BLU tersebut. Saya juga ndak paham apakah SK ini masih berlaku atau sudah direvisi.

Mangga berkomentar jika anda punya info lebih lanjut 😉

Perbandingan Gaji Dosen Indonesia dan Negara-negara Lain

Lazada IndonesiaKalau di tulisan ini saya menulis soal perbandingan produktivitas riset Indonesia, maka saya mau membandingkan hal lain dan sedikit bersimulasi.

Belakangan ini kalangan akademisi di berbagai belahan dunia banyak berdiskusi soal pendapatan mereka. Di Jepun, persoalan ini mengemuka beberapa kali di Japan Times (Silahkan baca tulisan ini dan itu). Namun sebuah artikel Faculty Pay, Around The World oleh Scott Jaschik di Inside Higher Education memaksa saya menulis tulisan ini.

Dalam tulisan tersebut terdapat sebuah tabel, menggambarkan perbandingan gaji dosen di berbagai negara berdasarkan tiga kategori: Entry, Average, dan Top. Entry maksudnya mereka yang baru jadi dosen, Average itu rata-rata, dan Top adalah mereka di posisi puncak, Full Professor yang senior, begitu kira-kira.

Oke, kita lihat dulu tabelnya:

Monthly Average Salaries of Public Higher Education Faculty,

Using U.S. PPP Dollars

 Country Entry Average Top
Armenia    $405    $538    $665
Russia    433    617    910
China    259    720 1,107
Ethiopia    864 1,207 1,580
Kazakhstan 1,037 1,553 2,304
Latvia 1,087 1,785 2,654
Mexico 1,336 1,941 2,730
Czech Republic 1,655 2,495 3,967
Turkey 2,173 2,597 3,898
Colombia 1,965 2,702 4,058
Brazil 1,858 3,179 4,550
Japan 2,897 3,473 4,604
France 1,973 3,484 4,775
Argentina 3,151 3,755 4,385
Malaysia 2,824 4,628 7,864
Nigeria 2,758 4,629 6,229
Israel 3,525 4,747 6,377
Norway 4,491 4,940 5,847
Germany 4,885 5,141 6,383
Netherlands 3,472 5,313 7,123
Australia 3,930 5,713 7,499
United Kingdom 4,077 5,943 8,369
Saudi Arabia 3,457 6,002 8,524
United States 4,950 6,054 7,358
India 3,954 6,070 7,433
South Africa 3,927 6,531 9,330
Italy 3,525 6,955 9,118
Canada 5,733 7,196 9,485

Sayangnya Indonesia gak ada ya?

Oke, kita lupakan dulu Indonesia. Mesti kita pahami dulu bahwa angka-angka di atas memakai PPP (Purchasing Power parity) dolar, yaitu kurs yang mengukur berapa banyak sebuah mata uang dapat membeli dalam pengukuran internasional (biasanya dolar), karena barang dan jasa memiliki harga berbeda di beberapa negara. Ini memastikan perbandingan di atas setara karena tentu saja harga kontrakan di Karawaci Tangerang dengan Kawaramachi Kyoto itu berbeda, he he (Lihat di sini penjelasan tambahannya).

Nah, menurut data di atas, ternyata Kanada juaranya (horeee, tepuk tangan). Dia teratas baik di level entry, average maupun top. Malaysia, tetangga baik kita berada dalam posisi menengah, namun ternyata berada di atas Jepang.

Nah bagaimana dengan Indonesia?

Hmm saya mencoba menghitung menggunakan PPP conversion factor yang dikeluarkan world bank. Tahun 2013, index PPP Indonesia sebesar 3.800,35 (tiga ribu delapan ratus koma tiga lima).

Kemudian bagaimana mendefinisikan early, average dan top.

1. Early saya definisikan dosen yang baru diangkat. Dia saya definisikan PNS Dosen golongan IIIB, Masa kerja 0 tahun S2, belum memiliki jabatan fungsional,  belum sertifikasi dan single. Gajinya berdasarkan PP 34 2014 adalah sebesar Rp. 2.415.600. Katakanlah memiliki pendapatan lain-lain (uang makan, dll) sebesar Rp. 500.000, maka total Rp. 2. 915.600,-.

Menggunakan indeks PPP maka didapatkan: 2915600:3.800,35 =  767 (hasil pembulatan).

2. Average, terus terang sulit mencari angka rata-ratanya. Nah saya menggunakan PNS Dosen IIID masa kerja 10 tahun, Lektor, sudah sertifikasi. Maka gaji pokok sebesar Rp. 3.064.400,- ditambah sertifikasi satu kali gaji (3.064.400,-) ditambah fungsional lektor Rp.700.000,- dan tunjangan keluarga, dll katakanlah Rp.500.000,-. Nah dijumlahkan menjadi sebesar Rp.7.328.800,-, dibagi dengan indeks PPP, dihasilkan angka 1927 (hasil pembulatan)

3. Top. Nah profil dosen top markotop adalah golongan IVD, profesor, tentu tersertifikasi dan masa kerja paling poll yaitu selama Soeharto berkuasa: 32 tahun. Maka gaji pokok Rp.5,302,100, ditambah tunjangan serdos satu kali gaji pokok dan tunjangan kehormatan dua kali gaji pokok, dan tunjangan fungsional Rp.1.300.000,- ditambah katakanlah pendapatan lain, Rp.500.000,-. Nah didapatkan angka Rp. 22.958.000,-. Angka yang mantap, namun karena di puncak dan masa kerja sudah 32 tahun mungkin sudah mau pensiun juga, he he. Berapa jika dibagi PPP index, hasilnya 6036 (Hasil pembulatan).

Nah, bagaimana analisisnya:

Yang kasihan memang yang baru jadi dosen alias kategori early, cuma dapet 767. Dibandingkan dengan negara lain di tabel di atas, maka didapatkan posisinya empat terbawah, berada di bawah Eithopia, walaupun berada di atas China dan Rusia. Namun jauh berada di bawah Malaysia (seperempatnya) yang untuk kategori early mendapatkan angka nominal 2.824.

Untuk kategori average, angka 1.927 hampir sama dengan Meksiko, masih berada di klasemen bawah. Angka ini kurang dari setengahnya dibandingkan dengan Malaysia yang mendapatkan 4.628.

Nah, untuk top, kita cukup boleh gembira. Angka 6.036 ini berada di klasemen tengah, dekat dengan Nigeria 6.229 atau israel 6.377. Juga tidak terpaut jauh dengan Malaysia 7.864

Yang jelas menjadi catatan saya adalah gap yang teramat tinggi antara top – average – early di Indonesia: 6.036:1.927:767. Perbandingan terendah dengan tertinggi, kira-kira 8:3:1. Bandingkan dengan Malaysia: 7.864:4.628:2.824 yang kira-kira perbandingan antar kategorinya: 4:2:1, rendah sekali gapnya.

Sekedar mengingatkan, berdasarkan data dikti sendiri, jumlah Profesor di Indonesia hanya 3% dari keseluruhan dosen di Indonesia, super minoritas. Terbesar adalah dosen berstatus tenaga pengajar alias belum punya fungsional sebesar 34%, lektor 25%, asisten ahli 21%, lektor kepala 17% (Cek tautan ini).

Catatan lain adalah, dosen yang sudah tersertifikasi juga baru 43%, sebanyak 57% belum tersertifikasi.

Oh ya, kenapa Malaysia dari tadi jadi contoh melulu, soalnya tulisan saya sebelumnya juga membandingkan produktivitas riset Indonesia dan Malaysia, kita tertinggal enam kali lipat.

Atau Indonesia gak perlu dibandingkan? Bagaimana kalau bikin kompetisi membangun Univeristas Kelas Akhirat saja, jangan Universitas Kelas Dunia?

***

Nah, pasti ada yang berkomentar bahwa angka pendapatan tidaklah riil karena dosen kebanyakan hanya mengajar dan memiliki pekerjaan dan pendapatan sampingan lain. Saya bilang, inilah biang keladi ketertinggalan dunia pendidikan tinggi kita 😉

Jangan kira saya mau rekomendasikan kenaikan gaji atau tunjangan, sudah capex. Kalau pembaca mau, boleh-boleh saja sih, he he. Saya cuma mau bilang ke dosen-dosen muda dan pinter, ayo berkaryalah maksimal dan jujur biar cepat jadi Profesor dan hidup layak bersama keluarga tanpa melalaikan kewajiban pekerjaan. Nggak ngurus jabatan fungsional berarti mendzolimi keluarga lho.

Salam

@Abah Hamid

Catatan: Simulasi ini menggunakan kriteria penulis untuk setiap kategori namun berdasarkan angka yang sebisa mungkin valid (gaji pokok, tunjangan fungsional, dll), dipersilahkan sekali mensimulasikan dengan kategori yang lebih anda sepakati.
Lazada Indonesia