Ngopi Enak

Orang punya gaya ngopi yang berbeda-beda.

Mulai dari mau kopi yang digiling apa disobek?

Kopi hitam atau kopi berwarna?

Kopi pahit, pake gula merah, atau pake gula putih?

Kopi panas, sedang, atau pake es?

(NG)opi di ruangan ber-AC atau ruangan berkeringat?

Kopi Arabika atau Robusta?

de el el.. de es be

Saya mau cerita gaya ngopi saya aja yaa, lagi bosen nulis yang serius-serius

Oh ya, ini nulisnya di Voyage, salah satu cafe nyaman di Gading Serpong, sepelemparan batu dari Mesjid Asmaul Husna.

WhatsApp Image 2018-02-02 at 13.46.43WhatsApp Image 2018-02-02 at 13.47.05

Pertama, saya suka kopi panas, panas banget. Walupun para Barista bilang 90-96 derajat adalah suhu terbaik, saya masih pake gaya abah-abah: Mulai dari 100 derajat. Disesep pelan-pelan. Nah ada suhu tertentu yang menurut saya sempurna banget. Rasanya kayak dapet jackpot, he he. Jika lagi pas dapet, maka saya akan sesep terus menerus sampai habis. Nah saya sendiri belum pernah mengukur suhu berapa itu. Yang jelas, suhu-nya bisa membuat rasanya terasa sempurna, dan menghangatkan (baca: memansakan) kepala sampai perut. Pas gitu lah. Lebih dikit atau kurang dikit, gak dapet sensasinya.

Kedua, saya suka kopi pahit, kalaupun manis pake gula merah saja. Ya kopi pahit akan terasa manis jika memandangmu toh? he he. Nggak lah, hidup saya udah manis, jadi minumnya kopi pahit saja. Nggak juga lah, pengen menikmati manisnya sehat, bukan manisnya gula. Jika udah kebanyakan ngopi item, saya ganti cappucino, pahit gak pake gula sama sekali.

Ketiga, belakangan ini suka arabika. Asemnya, asal gak terlalu asem, enak. Kalau lebih spesifik, single origin model gayo, bali atau wamena, enak. Garut juga boleh.

WhatsApp Image 2018-01-31 at 11.13.22

Keempat, ngopi di ruangan ber-AC yang meja-nya dekat colokan dan wifi-nya kencang lebih menyenangkan. Bukan karena saya sok cihuy. Buat saya semedi di Cafe sambil bercumbu dengan laptop adalah saat-saat paling menyenangkan. Kafein bisa membuat inspirasi saya meluap-luap, dan dituliskan. Skripsi, Tesis, dan Disertasi saya dibuat di Cafe, sambil menikmati kopi, tentu saja. Mulai dari Cafe Buku di Margonda, Cafe F1 di Menteng, sampai Cafe Putri Duyung di Kyoto.

cropped-20150524_135725.jpg

Tapi ngopi di pasar juga gak keberatan kok, he he. Di pasar Sinpasa, ada Rumah Kopi Celebes yang juga enaaak es kopi susunya.

WhatsApp Image 2017-07-03 at 19.07.03

Ah….

Yuks ngopi 🙂

Iklan

Menjadi Dosen di Indonesia #Edisi Revisi

(Seorang fans pembaca mengirim permintaan agar saya merevisi tulisan ini. Ditambah pula tetiba ada lonjakan traffic blog ini kemarin, khususnya di topik pendidikan tinggi. Saya putuskan pagi-pagi habis subuh merevisi tulisan berikut ini, agar tidak banyak yang tersesat tulisan lama, he he. Semoga bermanfaat terutama memberi gambaran awal dunia persilatan, eh perdosenan dari perspektif karir. Begitu pemirsah. )

Semua profesi tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya, pun menjadi dosen.

Salah satu hal baik menjadi dosen di Indonesia adalah kemudahannya menjadi dosen tetap/ tenure. Di beberapa negara lain, tak mudah menjadi dosen tetap. Kawan-kawan saya yang bergelar Doktor di Jepang atau Perancis, misalnya mesti mengikuti post-doc dulu, menerbitkan disertasi-nya menjadi buku, baru bisa melamar menjadi dosen tetap, itupun kalau ada lowongan (kabarnya semakin jarang). Kompetisi-nya juga cukup ketat karena portofolio di bidang akademik seperti publikasi ilmiah amat menentukan. Kalaupun ada kasus master menjadi dosen tetap, ini hal yang amat langka sekali, mungkin hanya untuk orang-orang super-cemerlang saja.

Di indonesia, syarat menjadi dosen hanya bergelar master saja, sedikit yang rekrutmen awalnya doktor. Bahkan beberapa tahun lalu, orang bergelar sarjana bisa menjadi dosen tetap. Saya menjadi dosen tetap PNS ketika masih sarjana di tahun 2006 Baca lebih lanjut

Meluluskan Mahasiswa

Kemarin saya memposting beberapa foto sidang dan yudisium mahasiswa MAP Untirta di instagram.

Menyenangkan sekaligus mengharukan.

WhatsApp Image 2018-01-30 at 14.25.15

Sebagai Kaprodi, pembimbing sekaligus penguji untuk beberapa mahasiswa, saya tahu betul bagaimana teman-teman mahasiswa ini berjibaku dengan segala upayanya menyelesaikan studinya di MAP. Bahasa saya, lolos lubang jarum. Telat sedikit, mesti bayaran lagi 🙂

Nah, karena saya mengajar di kelas sejak sebagian mereka semester satu, dan jumlah mahasiswa Pasca tidak banyak. Saya agak paham proses perjuangan mereka.

Kelulusan dan menyelesaikan studi, ternyata tidak begitu berkorelasi dengan nilai di transkrip, keaktifan bertanya atau berdiskusi di kelas, atau penguasaan mahasiswa terhadap materi perkuliahan. Bukan berarti aspek-aspek ini tidak penting, tapi ini mah sudah seharusnya melekat dengan sendirinya karena proses belajar. Baca lebih lanjut

Setelah Menjadi Doktor

 

Ini renungan di hari Jumat

Menjadi Doktor ini bukan pencapaian puncak di dunia akademik.

Ia adalah sebuah terminal saja, semacam mendapatkan lisensi untuk meneliti.

Seorang Doktor telah dianggap mampu untuk secara independen melakukan proses penelitian sampai selesai dalam bentuk laporan dengan kualitas tertentu, bahkan terpublikasi.

Soal kualitas pun tentu tidak dianggap sempurna. Karena itulah ada yang disebut Post-Doctoral, menyempurnakan riset atau karya ilmiah yang dibuat semasa S3.

Namun sayangnya  di negara tetangga, disertasi kerapkali dianggap puncak karya seseorang di bidang akademik. Begitu didapatkan gelar doktor, turun pula, kan udah sampe puncak 😉

Baca lebih lanjut

Bagaimana Melanjutkan S3 ke Luar Negeri?

Tulisan ini diilhami beberapa hal. Pertama, adanya kawan yang minta rekomendasi untuk sekolah ke luar negeri; kedua, teman yang bertanya tentang proses untuk bersekolah; ketiga, pertemuan dengan Ken Miichi Sensei yang juga menyinggung tentang kesempatan studi di Waseda; kelima, email Sensei beberapa waktu lalu yang minta rekomendasi tentang seorang pelamar; dan keenam, kamu. Ya tulisan ini dibuat untukmu 🙂

***

Tentu saja tulisan ini memiliki beberapa keterbatasan, utamanya pengalaman, waktu dan tempat studi saya. Saya mulai studi S3 di Jepun tahun 2012 dan selesai di tahun 2015. Pasti ada beberapa perubahan yang terjadi.

Baiklah kita mulai saja. Baca lebih lanjut

Kabar Gembira dan Kabar Sedih

Hmmm, mau kabar gembira dulu atau kabar sedih?

Sedih dulu aja ya, biar diakhiri dengan gembira.

Kabar sedihnya tentu saja ketika proposal riset PKLN saya dan kawan-kawan tak berhasil lolos seleksi. Sedih? Ya iya lah, manusiawi, udah berusaha pake keras.

2014-10-09 18.24.38

Cappucino dengan latte Art Sedih

 

Tapi gak usah pembelaan macam-macam. Gagal ya gagal saja, seorang kawan mengatakan, “Belum rejeki X (baca= kali)”. Temen saya ini memang kalau WA singkat-singkat 🙂

Ya, rejeki tak akan tertukar, emang putri pake tertukar segala, he he

***

Tapi duka lara ini terkurangi beberapa kabar gembira. Baca lebih lanjut

Ngopi Beberapa Waktu Ini

Saya suka ngopi, anda pasti tahu 🙂

Bagi saya, ngopi itu yang penting enak. Ya gara2 kenal beberapa kopi enak, maka jadi agak rewel soal kopi. Yups kopi enak bisa ada di pasar, di rumah atau di cafe. Ini mau cerita random aja sih.

2018-01-05 16.53.142018-01-11 15.58.08

Dua hari lalu saya ke Surabaya. Dari pagi belum ngopi dan mulai merasa butuh kafein. Maka di ruang tunggu, kebetulan ada minimarket kecil yang namanya lupa (heuh kayak snack bar sih) yang jual minuman dan makanan. Pucuk dicinta, kopi-pun tiba, pikir saya. Pesan lah kopi. Alamaaak, ternyata kopi disobek, merek kapal api, hanya ditaro di gelas kertas biar agak keren. Harganya 16rb. Yasudah, diminum saja, sudah beli toh. Baca lebih lanjut

RIP Website MAP Untirta

Hari ini saya sedih dan marah, tepatnya berduka.

Website MAP Untirta (http://map.pasca.untirta.ac.id/) yang merupakan upaya keras, sukarela dan menghimpun berbagai informasi dan data tentang prodi MAP yang saya pimpin terhapus, tepatnya dihapus oleh hacker yang rajatega.

Sebetulnya sekarang masih dalam proses penelusuran oleh kawan-kawan di Pusdainfo. Saya juga nggak tahu kenapa hal ini terjadi. Apakah karena unsur serangan acak, atau ada motif pribadi. Embuh, gak ngerti. Baca lebih lanjut

Pengumuman: 3 Blog Terbaik Mahasiswa Abah

Sebagai Blogger yang menyamar menjadi dosen, rasanya saya perlu menjerumuskan para mahasiswa saya untuk masuk dunia digital juga, syukur-syukur ada yang keterusan jadi blogger serius kayak dosennya.

Nah dalam materi digital personal branding, saya meminta mahasiswa kelas pemasaran politik untuk masing-masing membuat blog. Posting awal tentang bagaimana mereka melakukan personal branding diri mereka sendiri. Saya menjanjikan 3 besar akan mendapatkan souvenir dari Belanda.

Nah setelah blog-walking ke sekitar 37 blog yang mereka buat, saatnya membuat pengumuman 3 terbaik. Secara umum bagus-bagus dan unik-unik. Para mahasiswa ini mencoba mendeskripsikan diri mereka secara berbeda, ada yang membangun brand sebagai traveller, santri, pecinta futsal, anak bekasi, bahkan mahasiswa supir ojek online. Keren-keren pokoknya lah.

Saya sebagai dosen blogger, senang dan terharu, makanya nilainya bagus-bagus…

Nah, bagaimanapun saya harus memilih 3 yang menurut saya terbaik. Pemirsah boleh punya pilihan berbeda ya

  1. https://sifanurfadilah.wordpress.com/

Taglinenya Jawara Perempuan, Perempuan bisa jadi jawara. Nah ini tentu saja eye catching karena biasanya jawara identik dengan sesuatu yang maskulin. Sifa menangkap ini, ditambah fotonya yang memegang toa dan sedang berorasi. Kalau konsisten dibangun, maka keyword: jawara perempuan bisa dikuasai Sifa. Selamat ya…

Tinggal jumlah posting yang harus diperbanyak dan penggunaan keyword yang musti ajeg dan konsisten.

 

2. http://apudsantrikampus.blogspot.co.id/

Apud ini sebetulnya lebih terkenal sebagai anak pinter di kelasnya. Runtut dalam menjelaskan segala sesuatu dan berwawasan luas. Nah, ia memilih sisi lain dari dirinya, yaitu sebagai santri. Jadilah tagline Santri Kampus, Ngaji Politik a la Mahasiswa. Secara Banten dikenal sebagai kawasan agamis, ini masuk banget. Jadi kuat di tema, walaupun eksekusi teknisnya tidak terlalu baik.

 

3.https://drivermahasiswa7.blogspot.co.id/

Nah ini dia yang unik banget, mahasiswa driver ojek online. Tanpa malu-malu dan gengsi, Maulana memposisikan dirinya sebagai mahasiswa yang juga bekerja sebagai driver ojek online. Ini tipe mahasiswa kekinian, mengedepankan benefit jangka panjang daripada gengsi sesaat. Lagipula apa yang ditampilkan Maulana membongkar pemikiran banyak mahasiswa yang harusnya membaca blognya. Keep blogging…

Nah, souvenir sebagai hadiah bisa diambil di ruangan Kaprodi MAP Pascasarjana Lt. 2 ya.

Blogger bersatu tak bisa dikalahkan !

 

 

Kembali Ke Haribaan Apple

Duh, saya kembali ke haribaan Apple setelah ponsel pintar robot ijo sebelumnya remuk…

Sebenernya paling geli dengan sebutan Apple Fan Boys, he he

Tapi saya gak mengingkari bahwa sebagian besar gadget saya berlogo apel coak.

Saya jadi ingat ketika kemarin mengupdate Macbook Pro 2011 yang biasanya saya simpan di laci kampus. Maklum, internet rumah lebih macho, jadi saya bawa, bersihkan, charge, dan upgrade macOs ke High Sierra, serta update puluhan sofware di dalamnya semaleman. Beres dan gegas lagi.

Walaupun tampilan fisiknya menyedihkan, batere yang minta diganti dan wifi card yang musti pake eksternal. Selebihnya? he he bisa diadu lah.

Macbook Pro jadul ini seperti pahlawan, menyimpan banyak kenangan dan jasa baik. Oh ya, saya membeli ini setelah diracuni oleh Mas Suaedy, di sebuah Mall di Bangkok. Maka ada aksara Thai-nya.

Ketika musim gawat menyusun disertasi, macbook ini kecapekan dan ngadat. Di sela-sela panik, saya melakukan operasi. Mencari obeng yang pas, mencari panduan di berbagai situs, dan alhamdulillah berhasil diperbaiki. Sekalian waktu itu saya upgrade RAM-nya jadi 16GB dan ganti hardisknya dengan SSD. Termasuk melakukan upaya menghidupkan diri yang suseeeeeh banget, alhamdulilahnya berhasil.

Screenshot 2016-04-26 10.52.56

Jadi inget cerita seseorang yang juga mengalami hal yang sama dengan macbook pro-nya. Ngoprek pake obeng juga ternyata doi, he he. Kok bisa ya? Walaupun terakhir ia mengalami gagal booting dan terpaksa menyerahkan ke professional 🙂

13072294_10154240789309015_1802854227_o

***

Makanya kalau nyari keyword “memperbaiki macbook”, blog ini masuk di halaman satu google, he he. Padahal mah udah lama gak ngoprek juga, lupa…

Nah waktu itu masalahnya saya sudah mengambil dengan harga murah satu macbook pro 15 dari seorang kawan yg gak tega melihat saya kesulitan menyusun disertasi sambil ngoprek macbook. Ditambah ternyata saya berhasil ikut auction di yahoo jp untuk sebuah macbook air. Yang terakhir inilah yang menemani kemanapun saya pergi demi kebaikan tulang punggung. Pro 15 buat kerja di rumah, yang Pro 2011 untuk kerja di kantor.

Sekarang saya sok gaya hidup paperless, saya membaca Kompas, Tempo dan berbagai majalah di Ipad mini, yang layarnya sebetulnya sudah terluka, tapi tetap tangguh dan setia. Sementara sebetulnya ada Ipad versi pertama yang masih kuat secara fisik namun sudah lemah secara jiwa (baca: gak bisa diupdate dan gak bisa aplikasi macem2).

Jadi begitulah man-teman, cerita yang menurut Ayal, adalah kisah (cinta) saya bersama Apple.

Ngoprek dulu aaaah

 

 

 

Publikasi Jurnal Internasional Bereputasi Semasa Sekolah Diakui, Horeee !

Kemarin, Dekan FISIP Untirta membagikan file pdf berjudul “Arah Kebijakan Jabatan Akademik Dosen”. Nah karena file presentasi tersebut bentuk pdfnya agak tidak jelas, saya mencari ppt aslinya. Dapat ! Sila baca presentasi lengkap dengan membaca secara daring di bawah atau mengklik  tautan ini.


Ada beberapa hal menarik di sana, terutama terkait pertanyaan-pertanyaan yang masih menggantung dan belum kunjung mendapat jawabannya.

Utamanya adalah soal apakah paper di jurnal terakreditasi dan jurnal internasional berputasi yang dihasilkan selama kuliah S2/S3 yang merupakan bagian dari tesis/disertasi diakui atau tidak?

Jawabannya adalah diakui, bisa dilihat di halaman 60

Screenshot 2017-12-28 09.23.21

Hal ini melegakkan dan seharusnya membuat para reviewer/Tim PAK memiliki perspektif yang sama dalam menilai publikasi yang dihasilkan selama sekolah.

Oh ya, hal ini memberikan penguatan terhadap sebuah surat edaran yang menjelaskan bahwa karya ketika tugas belajar diakui.Screenshot 2017-12-29 07.35.46

Nah penjelasan dalam paparan Prof. Bunyamin tidak hanya memperkuat surat di atas, tapi membuat jelas bahwa paper dalam jurnal internasional dan terakreditasi yang merupakan bagian atau sintesis dari tesis dan disertasi diakui dan dapat dipergunakan untuk kenaikan pangkat/jabatan setelah selesai pendidikan.

Ah lega…

Keteladanan

Beberapa hari sebelum keberangkatan ke Belanda,  pada tanggal 20 Oktober Himpunan Mahasiswa MAP menggelar diskusi publik bertajuk Policy Forum. Temanya tentang arah pendidikan tinggi di Indonesia. Saya bareng Prof. Dodi Nandika dan Dr. Fatah Sulaiman menjadi pembicara.

IMG_20171020_170222

Yang menarik dari keseluruhan acara adalah pertanyaan dari salah satu peserta, Dr. Firmanul. Ia menanyakan tentang role-model di kampus. Adakah sosok dosen/peneliti/ilmuwan yang bisa menjadi role model, baik dari produktivitas, integritas, karakter yang bisa menjadi contoh bagi para dosen muda?

Ini pertanyaan ringan dan berat, dan tercetus di saat yang tepat.

Pertanyaan ini menghantui saya cukup lama sampai saya memutuskan berhenti mencari dan memulai saja, dari diri sendiri.

***

Namun sesungguhnya saya bohong jika tidak menemukan role model.

Kebetulan dalam dua tahun belakangan, saya beruntung bisa menjadi kolega di dari tiga orang senior di DRD provinsi Banten yang tentu tidak hanya umur, tapi pengalaman, pengetahuan dan kebijaksanaan. Semua bertemu dalam satu kata: keteladanan.

Prof. Tihami atau Prof. Imat adalah ketua kami. Ia mantan Rektor IAIN SMH Banten. Prof Imat adalah pemimpin berkelas: santun, sederhana, dan ketika bicara selalu penuh makna. Namun demikian, ada satu kata yg menggambarkan ketaatan berbasis respek ke Prof Imat, yaitu: parentah. Jika ada tugas tertentu dari Prof. Imat, maka itu adalah parentah, harus dilaksanakan.

Namun aspek humor tak bisa terlepas dari beliau. Dari Prof. Imat saya mengenal istilah semacam Sakinah (Sanajan Aki-aki geh ngeunah) atau dongeng Demang Ciruas yang ngerjain para Jaro.

Tihami

***

Yang kedua adalah Kak Masduki. Saya memanggilnya Kakak bukan karena saya kurang ajar. Beliau adalah Ketua Kwarda Gerakan Pramuka, dan tentu saja kami memanggilnya Kakak. Pramuka selalu muda bukan?

Kak Masduki ini juga mantan Wagub Provinsi Banten dan birokrat yang sarat pengalaman. Namun kebesaran Kak Masduki justru membuatnya amat berwibawa dan bersahaja. Beliau salah satu sosok paling rajin di DRD, paling berkontribusi terutama ketika menemukan sumbatan-sumbatan administrasi dan birokrasi. Bagi saya, beliau tetaplah Wagub. Yang lain penggantinya, he he

masduki

***

Yang ketiga adalah Prof. Dodi Nandika. Tenang Prof, ini urutan penulisan saja, bukan kehebatan, he he

Prof. Dodi tentu saja sosok yang amat bereputasi di bidang akademik sebagai Guru Besar IPB ahli rayap, yang mengaku kalau malam hari ahli merayap :).  Ia juga mantan Sekjen Kementerian Pendidikan Nasional.

Satu hal yang menonjol dan saya pelajari, beliau perfeksionis. Segala hal dilakukan dengan detail, sempurna dan segera. Walaupun tinggal di Bogor, Prof. Dodi seringkali datang paling awal di rapat minggon DRD setiap hari jumat jam 8. Jam berapa berangkat dari Bogor?

Satu hal yang terpenting, Prof. Dodi selalu memberikan nilai lebih dari apapun substansi yang kami kerjakan. Terobosan, ide-ide baru, dan penguatan.

Dodi

***

Hemm, cerita di atas tentu saja tak bisa menggambarkan bagaimana trio senior DRD tersebut memberikan pelajaran keteladanan. Bagi saya yang jauuuuh lebih muda, ini dua tahun belajar, sesuatu yang tak bisa dipelajari di bangku kampus, di jepun sekalipun.

Karena itulah kemarin saya berpose dengan beliau-beliau, berharap barokah dan keteladanannya nempel 🙂