Diaspora Indonesia Dipermudah Jadi Dosen PNS? Yang Bener aja ;)

Lagi-lagi saya geleng-geleng kepala.

Kemeriting (Kementerian Riset, teknologi dan perguruan tinggi) ini memang sedang demen-demennya bikin aturan instant, tidak berbasis persoalan riil yang ada di dunia pendidikan tinggi, dalam hal ini negeri.

Sebagaimana judul tulisan ini, beberapa media melansir kesepakatan KeMenPAN RB dan Kemeriting tentang rekrutmen diaspora Indonesia menjadi dosen PNS tanpa test.

Baca: JPNN, Okezone, dan Republika.

Screenshot 2018-03-27 19.46.08.png

Ada beberapa komentar saya tentang hal ini.

  1. Rekrutmen dosen PNS memang secara keseluruhan bermasalah, penekanan kepada test dan bukan portofolio di bidang akademik bidang yang spesifik, hanya akan menghasilkan rookie dan bukan ilmuwan yang sudah jadi. Seleksi dosen PNS cenderung menghasilkan birokrat yang kemudian ditempatkan sebagai dosen, bukan mencari ilmuwan.
  2. Pemerintah terutama Kemeriting harusnya mencari tahu, mengapa talenta-talenta terbaik tidak tertarik menjadi dosen, tapi memilih bekerja di sektor swasta atau memilih menjadi dosen di luar negeri. Kenapa pekerjaan dosen di Indonesia less atractive?
  3. Salah satu jawaban untuk nomor (2) adalah rendahnya penghargaan terhadap dosen di Indonesia. Dengan requirement minimal master dan didorong untuk doktor, tingkat penghasilan tidak berbeda, bahkan bisa lebih rendah dibandingkan guru yang requirementnya S1. Untuk daerah seperti DKI Jakarta, di mana guru mendapatkan tunjangan daerah yang amat besar, pendapatan dosen PNS jauh lebih kecil. Sebagai catatan, tunjangan profesi dosen persis sama dengan tunjangan profesi guru, padahal jelas requirement, tugas dan kewajiban berbeda.
  4. Pemerintah dalam hal ini utamanya Kemeriting cenderung memaksakan target-targetnya dipenuhi dosen dan memberikan ancaman, tapi tidak memberikan reward sepadan. Sebagai contoh, dosen berjabatan fungsional lektor kepala (Associate Professor) diharuskan menghasilkan publikasi internasional dan atau di jurnal terakreditasi, dan jika tidak maka tunjangan profesi dosennya dihentikan (baca permenristek dikti 20 2017). Padahal tidak ada reward atau tunjangan khusus bagi lektor kepala.
  5. Tunjangan fungsional lektorkepala (Associate Professor) hanya Rp. 900.000,-. Jadi jika tunjangan profesi dosen dihentikan, pendapatannya jelas lebih kecil dari lektor atau asisten ahli. Diskriminasi dan aneh banget serta gak masuk akal. Gemes deh…
Screenshot 2018-03-27 19.15.23

Tunjangan Fungsional Dosen, Perpres 65 2007

6. Nah tunjangan di point (5) diatur dalam Perpres No. 65 2007, aturan yang sudah berumur 11 tahun. Padahal tunjangan fungsional peneliti terbaru di tahun 2012. Mendesak bagi pemerintah dalam hal ini Kemeriting mengusulkan revisi PP No. 65 2007 jika memang memperhatikan kesejahteraan dosen.

screen-shot-2013-11-27-at-6-42-33-pm

Tunjangan Fungsional Peneliti

7. Jadi sebelum memanggil pulang diaspora untuk menjadi dosen di Indonesia, saran saya perbaiki tingkat kesejahteraan dosen PNS. Paling tidak tunjukkan niat baik dengan menaikkan tunjangan fungsional dosen minimal sebesar peneliti. Atau kalau mau langsung bikin survey ke Malaysia atau Brunei, buat kesejahteraan dosen minimal sebesar di negara-negara itu. Kalau ndak  mereka (baca: diaspora) akan balik lagi ke negara tempat mereka sekarang bekerja. Percayalah.

8. Atau setelah membaca tulisan saya ini, para diaspora gak jadi dan gak mau balik ke Indonesia? he he, jangan marahin saya ya Pak Menteri dan Pak Dirjen, maklum saya hanya nubitol.

catatan: tulisan ini terinspirasi demo ojek online (27/3) yang bisa memaksa presiden menemui mereka. Hal yang belum pernah bisa dilakukan sekelompok “intelektual” yang berprofesi sebagai dosen.

Iklan

Dosen Milenial (2)

Baiklah, saya mau menggunakan kisaran waktu kelahiran 1981 – 2000 untuk menyebut generasi millenial. Generasi sebelumnya, yaitu yang lahir tahun 1965 – 1980 sebagai generasi X, dan yang lahir 1946 – 1964 sebagai generasi baby boomers. Generasi setelah milenial disebut generasi Z. Kenapa ini dipilih, karena saya lahir di tahun 1981, jadi bisa dengan belagu menyebut diri saya sebagai milenial senior 🙂

Berikut gambar dari hasil risetnya  Alvara :

Screenshot 2018-03-19 18.55.15

Nah berdasarkan kategorisasi di atas, maka generasi milenial sekarang berusia antara: 18 – 37 tahun. Nggak terlalu muda juga, tapi memang sedang ranum-ranumnya di bagian paling muda. Saya sendiri merupakan milenial senior karena lahir di tahun 1981, yah milenial muka kolonial, he he.

Generasi paling junior adalah generasi yang baru masuk kuliah. Jadi kalau saya mengajar, sesungguhnya itu adalah milenial mengajar milenial, bukan jeruk makan jeruk, he he

Screenshot 2018-03-19 19.33.57

Masih dari Alvara yang mengambil data dari BPS, maka jumlah perkiraan penduduk di tahun 2000 bisa digambarkan melalui piramida sebagai berikut:

Screenshot 2018-03-19 19.01.13Jumlah penduduk milenial pada tahun 2020 diperkirakan berjumlah 34% dari populasi. Lebih besar dari penduduk per-kategori, dan menariknya berada di usia yang lucu-lucunya produktif-produktifnya.

Nah bagaimana di dunia pendidikan tinggi?

Berikut data dari buku Buku-Statistik-Pendidikan-Tinggi-2017:

Screenshot 2018-03-19 18.49.03Dosen berusia di bawah 25 tahun sebanyak 1.892 orang, ditambah berusia 26-35 tahun sebanyak 73.223, jika dijumlahkan sebanyak 75.115 orang atau sebanyak 30.38% dari total 247.269 dosen di seluruh Indonesia. Sebagai catatan angka ini agak berbeda dengan angka 113.965 dosen milenial yang diumumkan Kemeriting (Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi) yang dikutip Pikiran Rakyat. 

Bisa jadi karena data yang diumumkan Kementerian mencakup juga Dosen di Kementerian agama dan sekolah kedinasan. Maklum di NKRI ini banyak sekali kategori perguruan tinggi. Sementara yang di buku Statistik Pendidikan Tinggi 2017 hanya Perguruan Tinggi di bawah Kemeriting saja.

Apapun, jumlah dosen milenial lebih banyak dibandingkan dengan dosen di kategori yang lain. Hal ini juga terkait status dosen. Perhatikan data berikut, masih dari statistik pendidikan tinggi

Screenshot 2018-03-19 18.45.55

Sayangnya saya tidak memiliki data usia dosen dibandingkan dengan tingkat pendidikan dan jabatan fungsional. Kalau kemeriting merilis data tersebut atau menyediakan data mentahnya, asik tuh.

Namun saya percaya bahwa kesadaran dosen milenial untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral dan berupaya mendapatkan gelar Profesor di usia lebih muda lebih besar dibandingkan kategori usia yang lain.

Beberapa milenial junior misalnya, begitu memutuskan menjadi dosen sebagai jalan hidup akan menyegerakan menempuh studi ke jenjang doktoral. Beda sekali dengan milenial senior apalagi generasi sebelumnya yang malah menyegerakan menikah.

Maka saya beruntung semenjak Bulan lalu diangkat menjadi Kaprodi Ilmu Pemerintahan Untirta, Prodi yang semua dosen tetapnya berada dalam kategori milenial. Menyenangkan berada di tengah-tengah anak-anak muda dan mengajar anak-anak muda.

Sebelumnya saya Kaprodi S2 Magister Administrasi Publik, selain mengajar juga belajar kearifan dan kebijaksanaan dari mahasiswa saya yang sebagian besar lebih senior usianya daripada saya.

kelas-gabriel

***

Hmm, dunia pendidikan tinggi memang sedang bergerak.

Dua hari lalu di sebuah acara kawinan, saya berkenalan dengan seseorang yang menjadi dosen setelah terlebih dahulu meraih gelar doktor di Eropa dalam usia di bawah 30 tahun. Seorang kawan menjadi doktor di usia 32 tahun, adiknya di usia 26 tahun. Adik kelas saya di UI meraih gelar doktor di Jepang di usia di bawah 30 (Lulus S1 lanjut S2 dan lanjut S3) dan sekarang menjadi Kaprodi di sana. Kawan se-almamater saya yang meraih gelar doktor di usia belia dan ditolak menjadi dosen di almamaternya sekarang menjadi associate Professor di Jepang, sama dengan kawan lain yang juga memilih menjadi associate Professor di Malaysia daripada di Depok. Kemarin ketika belanja di Lu-Lu, saya juga bertemu doktor muda belia ahli kebijakan-energi dari Jepang yang mengajar di perguruan tinggi khusus kebijakan. Sekitar tiga tahun lalu ketika menunggu kereta ke Kyoto saya bertemu anak muda yang baru wisuda S1 hari sabtu dan hari seninnya sudah berada di Jepang untuk memulai S2.

Hal-hal begini membuat saya merasa tua dan merinding dangdut bahagia.

Merasa tua karena saya merasa adik-adik saya, para milenial junior seperti berpacu dengan waktu menyelesaikan studi doktoral dan mencapainya jauh lebih muda dibandingkan saya yang meraih Ph.D (permanent head damage) di usia 34 tahun.

Merinding bahagia karena saya bisa sedikit optimis, merasa masa depan pendidikan tinggi Indonesia akan beranjak membaik. Bukan karena kebijakan Dikti yang memaksa para dosen publikasi dengan segala ancamannya, tapi karena generasi millenial ini pelan-pelan akan mengambil alih dunia pendidikan tinggi secara alamiah. Milenial muda ini produktif, jago bahasa Inggris, publikasinya banyak, serta memiliki jejaring internasional. Keren pokoknya.

Maka semenjak menempuh pendidikan S3 dan rajin menulis soal-soal pendidikan tinggi saya selalu memotivasi diri saya dan kawan-kawan untuk tidak abai dengan persoalan semacam jabatan fungsional. Saya mendorong generasi muda dosen Indonesia untuk mengurus jabatan fungsional dan jadi Profesor selekas mungkin, karena dengan begitu dunia pendidikan tinggi bisa berada di tangan generasi muda ini. Revolusi senyap, bahasa gagah-nya.

Revolusi bukan semacam berebutan jabatan. Tapi lebih ke arah membangun arus-utama pemikiran baru. Kira-kira begitu.

Yah, nasib milenial senior semacam saya memang jadi provokator untuk milenial junior yang lebih pintar, lebih berjaringan dan lebih produktif.

Milenial bersatu tak bisa dikalahkan !

Dosen Milenial

Saya masih bingung sebenarnya, Dosen Millennial atau Milenial. Tapi karena beberapa media menggunakan milenial (dengan satu n san satu l), judul tulisan ini jadinya Dosen Milenial.

Belakangan istilah milenial ramai diperbincangkan di mana-mana. Istilah ini merujuk kepada sebuah generasi yang lahir di akhir 70-an atau awal 80-an sampai tahun 1995. Perhatikan infografik dari Tirto berikut ini:

Screenshot 2018-03-04 16.07.26

Atau infografik di bawah ini:

 

millenial-3

Sumber: https://thefrontofthejersey.com/2015/01/01/welcome-to-the-new-millenials-4-ways-the-generation-gap-can-be-leaped/

 

Hmm di lingkungan kerja, ini dia

 

Millennial_Printable_960

Sumber: https://www.onwardsearch.com/career-center/hiring-millennials/

 

Yang jelas nampaknya generasi ini akan menjadi generasi dominan dalam beberapa waktu ke depan, menggantikan emak-bapaknya, generasi X.

Saya akan membuat serangkaian tulisan tentang dosen milenial. Topik ini penting karena Menristekdikti menganggap dosen milenial siap melaksanakan revolusi. Kamsudnya revolusi 4.0, salah satunya melalui pembelajaran daring.

Perguruan tinggi nasional memiliki sebanyak 113.965 dosen ‘milenial’ (rentan usia 18-36 tahun) yang siap melaksanakan sistem perkuliahan jarak jauh berbasis internet (daring). (http://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/02/28/indonesia-miliki-113965-dosen-milenial-420337)

Sebenernya sebal juga sih melihat pernyataan di atas, seakan-akan dosen millenial hanya berada dalam posisi “siap online”.

Maka saya berencana menulis serangkaian tulisan soal dosen milenial dan wajah masa depan perguruan tinggi di Indonesia.

Karena mestinya berubahnya gak cuma perubahan kelas konvensional trus jadi online, simple amat ya mikirnya mbah-mbah kita di Kemristekdikti, he he

Baiklah, nantikan tulisan-tulisan berikutnya ya 🙂

Masih Tentang Kepemimpinan

Dari sekian banyak kisah kepemimpinan, ada dua kisah yang sampai sekarang menjadi pedoman saya.

***

1

Kisah pertama adalah kisah Rasulullah Muhammad dan Pengemis Buta Yahudi.

Sebagai pemimpin, Rasulullah tentu bisa saja memaksa siapapun di Madinah untuk memeluk Islam. Namun itu tidak dilakukannya.

Pembuktiannya sederhana. Ada seorang pengemis Yahudi yang mengemis di tepi jalan yang setiap hari dilalui Rasulullah. Dan setiap hari Rasulullah melewati tempat itu, Beliau menyuapi pengemis buta tersebut. Si pengemis, pembenci Rasulullah tidak tahu yang menyuapinya adalah Rasulullah. Ia seringkali mengungkapkan kebenciannya kepada Rasulullah dalam bentuk makian.

Sampai suatu hari, tidak ada lagi yang menyuapinya.

Tetiba ada yang datang menyuapinya, dan si pengemis sadar bahwa yang menyuapinya bukanlah orang yang biasanya. Ia adalah Abu Bakar yang hendak mengamalkan kebiasaan-kebiasaan Rasulullah.

Ketika pengemis buta tersebut complain bahwa ia bukanlah orang yang biasa menyuapinya, Abu Bakar menangis, menyampaikan bahwa yang biasa menyuapi si pengemis adalah Rasulullah yang baru saja meninggal.

Si pengemis buta menangis dan spontan mengucapkan syahadat. Ia tak sadar selama ini menerima kebaikan dari orang yang dibencinya.

***

Dari kisah ini jelas bahwa kepemimpinan dan seruan kepada Islam memang ditegakkan Rasulullah dengan akhlak, bukan dengan paksaan, kekerasan, apalagi bersikap nyinyir.

Kepemimpinannya adalah kepemimpinan dengan kasih sayang, kepemimpinan berkelas.

 

***

2

Kisah kedua adalah kisah Khalid bin Walid.

Ia adalah musuh terbesar Ummat islam sebelum akhirnya bergabung dengan Rasululllah.

Khalid pertama menjadi Komandan pasukan muslim ketika tiga komandan lain yang ditunjuk Rasulullah gugur dalam Perang Mu’tah: Zaid bin Haritsah, Ja`far bin Abu Thalib dan Abdullah bin Rawahah. Setelah tiga sahabat tersebut gugur, Rasulullah mempersilahkan pasukan untuk memilih pemimpinnya. Khalid terpilih dan berhasil menyelamatkan pasukan muslim dari kehancuran, maklum 3 ribu pasukan muslim musti berhadapan dengan 200 ribu pasukan Romawi.

Masa-masa setelah itu adalah kegemilangan Khalid sebagai Jenderal pasukan muslimin di berbagai medan tempur. Tak terkalahkan, keren pokoknya Gan.

Namun yang menarik adalah akhir kariernya.

Khalid dicopot oleh Khalifah Umar bin Khatab justru di puncak kejayaannya sebagai Panglima. Di tengah puja-puji keberhasilannya sebagai Syaifullah, Pedang Allah.

Marahkah Khalid? Tidak

Ia tidak mengalami post power syndrom, apalagi menyiapkan kudeta. he he. Biasa aja. Ia tetap berperang sebagai prajurit biasa.

Walaupun tentu saja, yang menyedihkan bagi Khalid adalah kematiannya, tidak di medan perang, tapi di atas tempat tidur.

***

begitu gan…

 

Tentang Kepemimpinan

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.47 (1)Saya pernah berdiskusi tentang kepemimpinan dengan seorang sahabat.

Kapan dan mengapa kita mesti menjadi pemimpin?

Kira-kira itu topiknya.

Saya sendiri selalu menganggap bahwa pemimpin itu tak selalu harus bermahkota. Ia adalah tindakan, bukan jabatan.

Perhatikan saja. Kadangkala dalam sebuah organisasi, kalaupun ada pemimpin formal di sana, seringkali kita menemukan ada orang yang lebih dihormati, lebih didengar, atau kadang lebih dituakan, dibandingkan sang pemimpin formal.

Inilah yang disebut pemimpin tanpa mahkota.

Nah kadang-kadang efektivitas pemimpin tanpa mahkota ini terhambat karena tidak adanya otoritas (keabsahan). Dan kadangkala otoritas ini berada di tangan yang salah. Katakanlah seperti DPR di tangan Setya Novanto.

Jadi dalam situasi tertentu, kepemimpinan formal terpaksa harus kita yang mengisi. Saya seringkali menyebutnya keterpanggilan.

Ukurannya adalah ketika situasi bisa menjadi lebih baik ketika kita yang memimpin, bukan orang lain. Jika masih ada orang lain yang lebih baik? Serahkan saja atau biarkan saja. Kerjakan hal-hal lain yang bermanfaat. Seperti kata Dilan Parlan, amanah itu berat, lebih berat daripada rindu. Karena kita akan diminta pertanggungjawabannya.

Trus kenapa bisa merasa diri layak? narsis dong?

Hmm sulit sih menjawabnya. Ini gabungan antara thinking sama feeling gitu. Tentu ada proses mengamati rekam jejak, membandingkan, dan juga merasakan. Apalagi jika ada keterikatan dengan organisasinya.

Jika perenungan mendalam, diskusi dengan kawan dan mengadu pada Allah memang membulatkan dirimu harus memimpin, ya bismillah saja.

Nah bagaimana menyiapkan diri jadi pemimpin?

Memantaskan diri dengan selalu belajar, itu kuncinya. Pemimpin organisasi sopir, ya mesti bisa nyopir dengan baik tho? Memimpin organisasi nelayan ya musti bisa nangkep ikan. Kalau bukan pengusaha ya gak usah mimpin organisasi pengusaha. Di dunia akademik? ya sama juga…

itu kuncinya, terus berusaha memantaskan diri. Jika terus belajar, ujungnya akan ada satu titik: keteladanan. Orang lain melihat kita sebagai referensi, kira-kira begitu.

Begitu pemirsah…

 

 

Ngopi Enak

Orang punya gaya ngopi yang berbeda-beda.

Mulai dari mau kopi yang digiling apa disobek?

Kopi hitam atau kopi berwarna?

Kopi pahit, pake gula merah, atau pake gula putih?

Kopi panas, sedang, atau pake es?

(NG)opi di ruangan ber-AC atau ruangan berkeringat?

Kopi Arabika atau Robusta?

de el el.. de es be

Saya mau cerita gaya ngopi saya aja yaa, lagi bosen nulis yang serius-serius

Oh ya, ini nulisnya di Voyage, salah satu cafe nyaman di Gading Serpong, sepelemparan batu dari Mesjid Asmaul Husna.

WhatsApp Image 2018-02-02 at 13.46.43WhatsApp Image 2018-02-02 at 13.47.05

Pertama, saya suka kopi panas, panas banget. Walupun para Barista bilang 90-96 derajat adalah suhu terbaik, saya masih pake gaya abah-abah: Mulai dari 100 derajat. Disesep pelan-pelan. Nah ada suhu tertentu yang menurut saya sempurna banget. Rasanya kayak dapet jackpot, he he. Jika lagi pas dapet, maka saya akan sesep terus menerus sampai habis. Nah saya sendiri belum pernah mengukur suhu berapa itu. Yang jelas, suhu-nya bisa membuat rasanya terasa sempurna, dan menghangatkan (baca: memansakan) kepala sampai perut. Pas gitu lah. Lebih dikit atau kurang dikit, gak dapet sensasinya.

Kedua, saya suka kopi pahit, kalaupun manis pake gula merah saja. Ya kopi pahit akan terasa manis jika memandangmu toh? he he. Nggak lah, hidup saya udah manis, jadi minumnya kopi pahit saja. Nggak juga lah, pengen menikmati manisnya sehat, bukan manisnya gula. Jika udah kebanyakan ngopi item, saya ganti cappucino, pahit gak pake gula sama sekali.

Ketiga, belakangan ini suka arabika. Asemnya, asal gak terlalu asem, enak. Kalau lebih spesifik, single origin model gayo, bali atau wamena, enak. Garut juga boleh.

WhatsApp Image 2018-01-31 at 11.13.22

Keempat, ngopi di ruangan ber-AC yang meja-nya dekat colokan dan wifi-nya kencang lebih menyenangkan. Bukan karena saya sok cihuy. Buat saya semedi di Cafe sambil bercumbu dengan laptop adalah saat-saat paling menyenangkan. Kafein bisa membuat inspirasi saya meluap-luap, dan dituliskan. Skripsi, Tesis, dan Disertasi saya dibuat di Cafe, sambil menikmati kopi, tentu saja. Mulai dari Cafe Buku di Margonda, Cafe F1 di Menteng, sampai Cafe Putri Duyung di Kyoto.

cropped-20150524_135725.jpg

Tapi ngopi di pasar juga gak keberatan kok, he he. Di pasar Sinpasa, ada Rumah Kopi Celebes yang juga enaaak es kopi susunya.

WhatsApp Image 2017-07-03 at 19.07.03

Ah….

Yuks ngopi 🙂

Menjadi Dosen di Indonesia #Edisi Revisi

(Seorang fans pembaca mengirim permintaan agar saya merevisi tulisan ini. Ditambah pula tetiba ada lonjakan traffic blog ini kemarin, khususnya di topik pendidikan tinggi. Saya putuskan pagi-pagi habis subuh merevisi tulisan berikut ini, agar tidak banyak yang tersesat tulisan lama, he he. Semoga bermanfaat terutama memberi gambaran awal dunia persilatan, eh perdosenan dari perspektif karir. Begitu pemirsah. )

Semua profesi tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya, pun menjadi dosen.

Salah satu hal baik menjadi dosen di Indonesia adalah kemudahannya menjadi dosen tetap/ tenure. Di beberapa negara lain, tak mudah menjadi dosen tetap. Kawan-kawan saya yang bergelar Doktor di Jepang atau Perancis, misalnya mesti mengikuti post-doc dulu, menerbitkan disertasi-nya menjadi buku, baru bisa melamar menjadi dosen tetap, itupun kalau ada lowongan (kabarnya semakin jarang). Kompetisi-nya juga cukup ketat karena portofolio di bidang akademik seperti publikasi ilmiah amat menentukan. Kalaupun ada kasus master menjadi dosen tetap, ini hal yang amat langka sekali, mungkin hanya untuk orang-orang super-cemerlang saja.

Di indonesia, syarat menjadi dosen hanya bergelar master saja, sedikit yang rekrutmen awalnya doktor. Bahkan beberapa tahun lalu, orang bergelar sarjana bisa menjadi dosen tetap. Saya menjadi dosen tetap PNS ketika masih sarjana di tahun 2006 Baca lebih lanjut

Meluluskan Mahasiswa

Kemarin saya memposting beberapa foto sidang dan yudisium mahasiswa MAP Untirta di instagram.

Menyenangkan sekaligus mengharukan.

WhatsApp Image 2018-01-30 at 14.25.15

Sebagai Kaprodi, pembimbing sekaligus penguji untuk beberapa mahasiswa, saya tahu betul bagaimana teman-teman mahasiswa ini berjibaku dengan segala upayanya menyelesaikan studinya di MAP. Bahasa saya, lolos lubang jarum. Telat sedikit, mesti bayaran lagi 🙂

Nah, karena saya mengajar di kelas sejak sebagian mereka semester satu, dan jumlah mahasiswa Pasca tidak banyak. Saya agak paham proses perjuangan mereka.

Kelulusan dan menyelesaikan studi, ternyata tidak begitu berkorelasi dengan nilai di transkrip, keaktifan bertanya atau berdiskusi di kelas, atau penguasaan mahasiswa terhadap materi perkuliahan. Bukan berarti aspek-aspek ini tidak penting, tapi ini mah sudah seharusnya melekat dengan sendirinya karena proses belajar. Baca lebih lanjut

Setelah Menjadi Doktor

 

Ini renungan di hari Jumat

Menjadi Doktor ini bukan pencapaian puncak di dunia akademik.

Ia adalah sebuah terminal saja, semacam mendapatkan lisensi untuk meneliti.

Seorang Doktor telah dianggap mampu untuk secara independen melakukan proses penelitian sampai selesai dalam bentuk laporan dengan kualitas tertentu, bahkan terpublikasi.

Soal kualitas pun tentu tidak dianggap sempurna. Karena itulah ada yang disebut Post-Doctoral, menyempurnakan riset atau karya ilmiah yang dibuat semasa S3.

Namun sayangnya  di negara tetangga, disertasi kerapkali dianggap puncak karya seseorang di bidang akademik. Begitu didapatkan gelar doktor, turun pula, kan udah sampe puncak 😉

Baca lebih lanjut

Bagaimana Melanjutkan S3 ke Luar Negeri?

Tulisan ini diilhami beberapa hal. Pertama, adanya kawan yang minta rekomendasi untuk sekolah ke luar negeri; kedua, teman yang bertanya tentang proses untuk bersekolah; ketiga, pertemuan dengan Ken Miichi Sensei yang juga menyinggung tentang kesempatan studi di Waseda; kelima, email Sensei beberapa waktu lalu yang minta rekomendasi tentang seorang pelamar; dan keenam, kamu. Ya tulisan ini dibuat untukmu 🙂

***

Tentu saja tulisan ini memiliki beberapa keterbatasan, utamanya pengalaman, waktu dan tempat studi saya. Saya mulai studi S3 di Jepun tahun 2012 dan selesai di tahun 2015. Pasti ada beberapa perubahan yang terjadi.

Baiklah kita mulai saja. Baca lebih lanjut

Kabar Gembira dan Kabar Sedih

Hmmm, mau kabar gembira dulu atau kabar sedih?

Sedih dulu aja ya, biar diakhiri dengan gembira.

Kabar sedihnya tentu saja ketika proposal riset PKLN saya dan kawan-kawan tak berhasil lolos seleksi. Sedih? Ya iya lah, manusiawi, udah berusaha pake keras.

2014-10-09 18.24.38

Cappucino dengan latte Art Sedih

 

Tapi gak usah pembelaan macam-macam. Gagal ya gagal saja, seorang kawan mengatakan, “Belum rejeki X (baca= kali)”. Temen saya ini memang kalau WA singkat-singkat 🙂

Ya, rejeki tak akan tertukar, emang putri pake tertukar segala, he he

***

Tapi duka lara ini terkurangi beberapa kabar gembira. Baca lebih lanjut

Ngopi Beberapa Waktu Ini

Saya suka ngopi, anda pasti tahu 🙂

Bagi saya, ngopi itu yang penting enak. Ya gara2 kenal beberapa kopi enak, maka jadi agak rewel soal kopi. Yups kopi enak bisa ada di pasar, di rumah atau di cafe. Ini mau cerita random aja sih.

2018-01-05 16.53.142018-01-11 15.58.08

Dua hari lalu saya ke Surabaya. Dari pagi belum ngopi dan mulai merasa butuh kafein. Maka di ruang tunggu, kebetulan ada minimarket kecil yang namanya lupa (heuh kayak snack bar sih) yang jual minuman dan makanan. Pucuk dicinta, kopi-pun tiba, pikir saya. Pesan lah kopi. Alamaaak, ternyata kopi disobek, merek kapal api, hanya ditaro di gelas kertas biar agak keren. Harganya 16rb. Yasudah, diminum saja, sudah beli toh. Baca lebih lanjut