Setelah Menjadi Doktor

 

Ini renungan di hari Jumat

Menjadi Doktor ini bukan pencapaian puncak di dunia akademik.

Ia adalah sebuah terminal saja, semacam mendapatkan lisensi untuk meneliti.

Seorang Doktor telah dianggap mampu untuk secara independen melakukan proses penelitian sampai selesai dalam bentuk laporan dengan kualitas tertentu, bahkan terpublikasi.

Soal kualitas pun tentu tidak dianggap sempurna. Karena itulah ada yang disebut Post-Doctoral, menyempurnakan riset atau karya ilmiah yang dibuat semasa S3.

Namun sayangnya  di negara tetangga, disertasi kerapkali dianggap puncak karya seseorang di bidang akademik. Begitu didapatkan gelar doktor, turun pula, kan udah sampe puncak 😉

Baca lebih lanjut

Iklan

Bagaimana Melanjutkan S3 ke Luar Negeri?

Tulisan ini diilhami beberapa hal. Pertama, adanya kawan yang minta rekomendasi untuk sekolah ke luar negeri; kedua, teman yang bertanya tentang proses untuk bersekolah; ketiga, pertemuan dengan Ken Miichi Sensei yang juga menyinggung tentang kesempatan studi di Waseda; kelima, email Sensei beberapa waktu lalu yang minta rekomendasi tentang seorang pelamar; dan keenam, kamu. Ya tulisan ini dibuat untukmu 🙂

***

Tentu saja tulisan ini memiliki beberapa keterbatasan, utamanya pengalaman, waktu dan tempat studi saya. Saya mulai studi S3 di Jepun tahun 2012 dan selesai di tahun 2015. Pasti ada beberapa perubahan yang terjadi.

Baiklah kita mulai saja. Baca lebih lanjut

Kabar Gembira dan Kabar Sedih

Hmmm, mau kabar gembira dulu atau kabar sedih?

Sedih dulu aja ya, biar diakhiri dengan gembira.

Kabar sedihnya tentu saja ketika proposal riset PKLN saya dan kawan-kawan tak berhasil lolos seleksi. Sedih? Ya iya lah, manusiawi, udah berusaha pake keras.

2014-10-09 18.24.38

Cappucino dengan latte Art Sedih

 

Tapi gak usah pembelaan macam-macam. Gagal ya gagal saja, seorang kawan mengatakan, “Belum rejeki X (baca= kali)”. Temen saya ini memang kalau WA singkat-singkat 🙂

Ya, rejeki tak akan tertukar, emang putri pake tertukar segala, he he

***

Tapi duka lara ini terkurangi beberapa kabar gembira. Baca lebih lanjut

Ngopi Beberapa Waktu Ini

Saya suka ngopi, anda pasti tahu 🙂

Bagi saya, ngopi itu yang penting enak. Ya gara2 kenal beberapa kopi enak, maka jadi agak rewel soal kopi. Yups kopi enak bisa ada di pasar, di rumah atau di cafe. Ini mau cerita random aja sih.

2018-01-05 16.53.142018-01-11 15.58.08

Dua hari lalu saya ke Surabaya. Dari pagi belum ngopi dan mulai merasa butuh kafein. Maka di ruang tunggu, kebetulan ada minimarket kecil yang namanya lupa (heuh kayak snack bar sih) yang jual minuman dan makanan. Pucuk dicinta, kopi-pun tiba, pikir saya. Pesan lah kopi. Alamaaak, ternyata kopi disobek, merek kapal api, hanya ditaro di gelas kertas biar agak keren. Harganya 16rb. Yasudah, diminum saja, sudah beli toh. Baca lebih lanjut

RIP Website MAP Untirta

Hari ini saya sedih dan marah, tepatnya berduka.

Website MAP Untirta (http://map.pasca.untirta.ac.id/) yang merupakan upaya keras, sukarela dan menghimpun berbagai informasi dan data tentang prodi MAP yang saya pimpin terhapus, tepatnya dihapus oleh hacker yang rajatega.

Sebetulnya sekarang masih dalam proses penelusuran oleh kawan-kawan di Pusdainfo. Saya juga nggak tahu kenapa hal ini terjadi. Apakah karena unsur serangan acak, atau ada motif pribadi. Embuh, gak ngerti. Baca lebih lanjut

Pengumuman: 3 Blog Terbaik Mahasiswa Abah

Sebagai Blogger yang menyamar menjadi dosen, rasanya saya perlu menjerumuskan para mahasiswa saya untuk masuk dunia digital juga, syukur-syukur ada yang keterusan jadi blogger serius kayak dosennya.

Nah dalam materi digital personal branding, saya meminta mahasiswa kelas pemasaran politik untuk masing-masing membuat blog. Posting awal tentang bagaimana mereka melakukan personal branding diri mereka sendiri. Saya menjanjikan 3 besar akan mendapatkan souvenir dari Belanda.

Nah setelah blog-walking ke sekitar 37 blog yang mereka buat, saatnya membuat pengumuman 3 terbaik. Secara umum bagus-bagus dan unik-unik. Para mahasiswa ini mencoba mendeskripsikan diri mereka secara berbeda, ada yang membangun brand sebagai traveller, santri, pecinta futsal, anak bekasi, bahkan mahasiswa supir ojek online. Keren-keren pokoknya lah.

Saya sebagai dosen blogger, senang dan terharu, makanya nilainya bagus-bagus…

Nah, bagaimanapun saya harus memilih 3 yang menurut saya terbaik. Pemirsah boleh punya pilihan berbeda ya

  1. https://sifanurfadilah.wordpress.com/

Taglinenya Jawara Perempuan, Perempuan bisa jadi jawara. Nah ini tentu saja eye catching karena biasanya jawara identik dengan sesuatu yang maskulin. Sifa menangkap ini, ditambah fotonya yang memegang toa dan sedang berorasi. Kalau konsisten dibangun, maka keyword: jawara perempuan bisa dikuasai Sifa. Selamat ya…

Tinggal jumlah posting yang harus diperbanyak dan penggunaan keyword yang musti ajeg dan konsisten.

 

2. http://apudsantrikampus.blogspot.co.id/

Apud ini sebetulnya lebih terkenal sebagai anak pinter di kelasnya. Runtut dalam menjelaskan segala sesuatu dan berwawasan luas. Nah, ia memilih sisi lain dari dirinya, yaitu sebagai santri. Jadilah tagline Santri Kampus, Ngaji Politik a la Mahasiswa. Secara Banten dikenal sebagai kawasan agamis, ini masuk banget. Jadi kuat di tema, walaupun eksekusi teknisnya tidak terlalu baik.

 

3.https://drivermahasiswa7.blogspot.co.id/

Nah ini dia yang unik banget, mahasiswa driver ojek online. Tanpa malu-malu dan gengsi, Maulana memposisikan dirinya sebagai mahasiswa yang juga bekerja sebagai driver ojek online. Ini tipe mahasiswa kekinian, mengedepankan benefit jangka panjang daripada gengsi sesaat. Lagipula apa yang ditampilkan Maulana membongkar pemikiran banyak mahasiswa yang harusnya membaca blognya. Keep blogging…

Nah, souvenir sebagai hadiah bisa diambil di ruangan Kaprodi MAP Pascasarjana Lt. 2 ya.

Blogger bersatu tak bisa dikalahkan !

 

 

Kembali Ke Haribaan Apple

Duh, saya kembali ke haribaan Apple setelah ponsel pintar robot ijo sebelumnya remuk…

Sebenernya paling geli dengan sebutan Apple Fan Boys, he he

Tapi saya gak mengingkari bahwa sebagian besar gadget saya berlogo apel coak.

Saya jadi ingat ketika kemarin mengupdate Macbook Pro 2011 yang biasanya saya simpan di laci kampus. Maklum, internet rumah lebih macho, jadi saya bawa, bersihkan, charge, dan upgrade macOs ke High Sierra, serta update puluhan sofware di dalamnya semaleman. Beres dan gegas lagi.

Walaupun tampilan fisiknya menyedihkan, batere yang minta diganti dan wifi card yang musti pake eksternal. Selebihnya? he he bisa diadu lah.

Macbook Pro jadul ini seperti pahlawan, menyimpan banyak kenangan dan jasa baik. Oh ya, saya membeli ini setelah diracuni oleh Mas Suaedy, di sebuah Mall di Bangkok. Maka ada aksara Thai-nya.

Ketika musim gawat menyusun disertasi, macbook ini kecapekan dan ngadat. Di sela-sela panik, saya melakukan operasi. Mencari obeng yang pas, mencari panduan di berbagai situs, dan alhamdulillah berhasil diperbaiki. Sekalian waktu itu saya upgrade RAM-nya jadi 16GB dan ganti hardisknya dengan SSD. Termasuk melakukan upaya menghidupkan diri yang suseeeeeh banget, alhamdulilahnya berhasil.

Screenshot 2016-04-26 10.52.56

Jadi inget cerita seseorang yang juga mengalami hal yang sama dengan macbook pro-nya. Ngoprek pake obeng juga ternyata doi, he he. Kok bisa ya? Walaupun terakhir ia mengalami gagal booting dan terpaksa menyerahkan ke professional 🙂

13072294_10154240789309015_1802854227_o

***

Makanya kalau nyari keyword “memperbaiki macbook”, blog ini masuk di halaman satu google, he he. Padahal mah udah lama gak ngoprek juga, lupa…

Nah waktu itu masalahnya saya sudah mengambil dengan harga murah satu macbook pro 15 dari seorang kawan yg gak tega melihat saya kesulitan menyusun disertasi sambil ngoprek macbook. Ditambah ternyata saya berhasil ikut auction di yahoo jp untuk sebuah macbook air. Yang terakhir inilah yang menemani kemanapun saya pergi demi kebaikan tulang punggung. Pro 15 buat kerja di rumah, yang Pro 2011 untuk kerja di kantor.

Sekarang saya sok gaya hidup paperless, saya membaca Kompas, Tempo dan berbagai majalah di Ipad mini, yang layarnya sebetulnya sudah terluka, tapi tetap tangguh dan setia. Sementara sebetulnya ada Ipad versi pertama yang masih kuat secara fisik namun sudah lemah secara jiwa (baca: gak bisa diupdate dan gak bisa aplikasi macem2).

Jadi begitulah man-teman, cerita yang menurut Ayal, adalah kisah (cinta) saya bersama Apple.

Ngoprek dulu aaaah

 

 

 

Publikasi Jurnal Internasional Bereputasi Semasa Sekolah Diakui, Horeee !

Kemarin, Dekan FISIP Untirta membagikan file pdf berjudul “Arah Kebijakan Jabatan Akademik Dosen”. Nah karena file presentasi tersebut bentuk pdfnya agak tidak jelas, saya mencari ppt aslinya. Dapat ! Sila baca presentasi lengkap dengan membaca secara daring di bawah atau mengklik  tautan ini.


Ada beberapa hal menarik di sana, terutama terkait pertanyaan-pertanyaan yang masih menggantung dan belum kunjung mendapat jawabannya.

Utamanya adalah soal apakah paper di jurnal terakreditasi dan jurnal internasional berputasi yang dihasilkan selama kuliah S2/S3 yang merupakan bagian dari tesis/disertasi diakui atau tidak?

Jawabannya adalah diakui, bisa dilihat di halaman 60

Screenshot 2017-12-28 09.23.21

Hal ini melegakkan dan seharusnya membuat para reviewer/Tim PAK memiliki perspektif yang sama dalam menilai publikasi yang dihasilkan selama sekolah.

Oh ya, hal ini memberikan penguatan terhadap sebuah surat edaran yang menjelaskan bahwa karya ketika tugas belajar diakui.Screenshot 2017-12-29 07.35.46

Nah penjelasan dalam paparan Prof. Bunyamin tidak hanya memperkuat surat di atas, tapi membuat jelas bahwa paper dalam jurnal internasional dan terakreditasi yang merupakan bagian atau sintesis dari tesis dan disertasi diakui dan dapat dipergunakan untuk kenaikan pangkat/jabatan setelah selesai pendidikan.

Ah lega…

Keteladanan

Beberapa hari sebelum keberangkatan ke Belanda,  pada tanggal 20 Oktober Himpunan Mahasiswa MAP menggelar diskusi publik bertajuk Policy Forum. Temanya tentang arah pendidikan tinggi di Indonesia. Saya bareng Prof. Dodi Nandika dan Dr. Fatah Sulaiman menjadi pembicara.

IMG_20171020_170222

Yang menarik dari keseluruhan acara adalah pertanyaan dari salah satu peserta, Dr. Firmanul. Ia menanyakan tentang role-model di kampus. Adakah sosok dosen/peneliti/ilmuwan yang bisa menjadi role model, baik dari produktivitas, integritas, karakter yang bisa menjadi contoh bagi para dosen muda?

Ini pertanyaan ringan dan berat, dan tercetus di saat yang tepat.

Pertanyaan ini menghantui saya cukup lama sampai saya memutuskan berhenti mencari dan memulai saja, dari diri sendiri.

***

Namun sesungguhnya saya bohong jika tidak menemukan role model.

Kebetulan dalam dua tahun belakangan, saya beruntung bisa menjadi kolega di dari tiga orang senior di DRD provinsi Banten yang tentu tidak hanya umur, tapi pengalaman, pengetahuan dan kebijaksanaan. Semua bertemu dalam satu kata: keteladanan.

Prof. Tihami atau Prof. Imat adalah ketua kami. Ia mantan Rektor IAIN SMH Banten. Prof Imat adalah pemimpin berkelas: santun, sederhana, dan ketika bicara selalu penuh makna. Namun demikian, ada satu kata yg menggambarkan ketaatan berbasis respek ke Prof Imat, yaitu: parentah. Jika ada tugas tertentu dari Prof. Imat, maka itu adalah parentah, harus dilaksanakan.

Namun aspek humor tak bisa terlepas dari beliau. Dari Prof. Imat saya mengenal istilah semacam Sakinah (Sanajan Aki-aki geh ngeunah) atau dongeng Demang Ciruas yang ngerjain para Jaro.

Tihami

***

Yang kedua adalah Kak Masduki. Saya memanggilnya Kakak bukan karena saya kurang ajar. Beliau adalah Ketua Kwarda Gerakan Pramuka, dan tentu saja kami memanggilnya Kakak. Pramuka selalu muda bukan?

Kak Masduki ini juga mantan Wagub Provinsi Banten dan birokrat yang sarat pengalaman. Namun kebesaran Kak Masduki justru membuatnya amat berwibawa dan bersahaja. Beliau salah satu sosok paling rajin di DRD, paling berkontribusi terutama ketika menemukan sumbatan-sumbatan administrasi dan birokrasi. Bagi saya, beliau tetaplah Wagub. Yang lain penggantinya, he he

masduki

***

Yang ketiga adalah Prof. Dodi Nandika. Tenang Prof, ini urutan penulisan saja, bukan kehebatan, he he

Prof. Dodi tentu saja sosok yang amat bereputasi di bidang akademik sebagai Guru Besar IPB ahli rayap, yang mengaku kalau malam hari ahli merayap :).  Ia juga mantan Sekjen Kementerian Pendidikan Nasional.

Satu hal yang menonjol dan saya pelajari, beliau perfeksionis. Segala hal dilakukan dengan detail, sempurna dan segera. Walaupun tinggal di Bogor, Prof. Dodi seringkali datang paling awal di rapat minggon DRD setiap hari jumat jam 8. Jam berapa berangkat dari Bogor?

Satu hal yang terpenting, Prof. Dodi selalu memberikan nilai lebih dari apapun substansi yang kami kerjakan. Terobosan, ide-ide baru, dan penguatan.

Dodi

***

Hemm, cerita di atas tentu saja tak bisa menggambarkan bagaimana trio senior DRD tersebut memberikan pelajaran keteladanan. Bagi saya yang jauuuuh lebih muda, ini dua tahun belajar, sesuatu yang tak bisa dipelajari di bangku kampus, di jepun sekalipun.

Karena itulah kemarin saya berpose dengan beliau-beliau, berharap barokah dan keteladanannya nempel 🙂

 

 

 

 

 

Tahun 2018

Tahun 2018 akan menjadi tahun terberat di dunia akademik saya. Ia akan menentukan apa yang akan terjadi di tahun-tahun setelahnya. Mungkin juga tak hanya di dunia akademik, tapi dunia yang lainnya. Entahlah…

WhatsApp Image 2016-09-24 at 4.44.11 AM

Saya sering mengatakan, bahwa musuh terbesar seorang akademisi adalah dirinya sendiri. Zona nyaman itu melenakan, seakan-akan tidak banyak pekerjaan, padahal bertumpuk dan bisa membunuhmu. Jika dalam dunia ekonomi ada middle-income trap, dalam dunia karir akademik, saya menyebutnya mediocre trap.

Dalam beberapa tulisan terdahulu, saya menyebut kampus yang tak terkelola dengan baik –apalagi hanya mempertontonkan keserakahan — akan menjadi kampus medioker bahkan kampus dinosaurus, pun untuk orang-orang di dalamnya.

Bagi dosen, jika hanya menjadi kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) dan sibuk dengan kegiatan lain mencari penghasilan tambahan di bisnis palugada (apa elo mau gw ada), maka sulit untuk bisa sampai ke puncak, paling hanya jadi medioker.

Apalagi posisi kejepit seperti saya ini di lektor kepala. Ancaman berpenghasilan lebih rendah daripada dosen dengan jabatan fungsional lektor terus membayangi. Jadi Guru Besar, diancam tunjangan dicabutpun worth-it. Ada tunjangan kehormatan. Kalau dicabut paling jadi Guru Besar tanpa (tunjangan) kehormatan.

Lha jadi Lektor kepala, diancam iya, tunjangan cuma beda 200rebu dengan Lektor. Malah secara keseluruhan lebih kecil karena PPN-nya 15% 🙂 Dunia kebalik kalau kata salah satu episode Doraemon-mah.

Dan tolong jangan dipahami sebatas urusan dompet, ini soal bagaimana situasi semacam ini hanya mengekalkan keterbelakangan pendidikan tinggi kita. Pernah dengar brain-drain kan?

Jadilah pilihannya hanya satu buat saya, riset dan publikasi, secepatnya jadi Guru Besar. Kalau perlu jadi Guru Besarnya di Malaysia, Brunei, Jepang, Swahili, Timbuktu,  atau Eropa saja, he he

Saya tidak sedang mengatakannya dengan gagah berani dan membusungkan dada, tapi sambil meneguk ludah, menghela nafas dan geleng2 kepala.

Ini bukan persoalan saya, tapi pendidikan tinggi negara ini.

Saya rasanya sudah maksimal menyampaikan (baca: memprotes) sampai ke Dirjen, kami bahkan berbalas pantun vlog. Tapi birokrasi memang selalu mempertontonkan keangkuhannya sendiri, merasa gagah justru kalau harus menindas protes. Soal logika urusan belakangan.

Semua orang hanya butuh panggung dan pamer angka statistik toh !

Jadi tahun depan saya akan fokus ke akademik dan diri sendiri dulu. Ada banyak yang harus diselesaikan Brader !

Minggu-minggu Terakhir di Leiden

Tulisan ini mulai dibuat di tengah presentasi kawan-kawan yang hebat.

Dalam keseharian konyol, banyak becanda dan banyak belanja, ups. Tapi presentasinya hebat-hebat, memukau, fascinating !

Ini adalah akhir dari short course kami, menunjukkan kepada para pengajar bahwa kami belajar. Pak Wim, Prof. Susan, Prof.Henk, Dr. Ward dan Nancy hadir untuk bertanya dan memberikan masukan. Such as wonderful moment…

WhatsApp Image 2017-11-22 at 08.00.55

Judul tulisan ini memang minggu terakhir, tapi saya akan menceritakan kelas-kelas yang belum saya ceritakan dan ujungnya ya, malam perpisahan. Jadi sabar, ini akan jadi salah satu posting dengan foto terbanyak, itupun gak semua masuk, he he.

***

Pada tanggal enam November kami punya dua Dosen keren, Dr.David Kloss dan Dr. Yatun Sastramidjaja.

Dr David Kloss menyampaikan “Female islamic leadership in Southeast Asia and question of citizenship, a gender studies approach”. Kloss menyampaikan risetnya di Malaysia dan Aceh, serta observasinya di kegiatan KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia). Penyampaian Kloss amat menari, segera saja ia menjadi favorit para peserta short course dari kalangan Ibu-ibu 🙂

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.42

Kelas selanjutnya dari Bu Yatun, Ia menyampaikan kuliah: “Global youth and citizenship”. Terdapat diskusi panas tentang definisi pemuda, dan para peserta shortcourse harus menerima bahwa mereka tidak muda lagi, he he

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.42 (1)

Besoknya kami harus ke Vrije University (VU), dimana ada beberapa kelas yang akan kami dapatkan. Mbak Nancy dan Mbak Widya menjemput kami di Amsterdam Zuid. Makasih yaaa.

Trus kami jalan deh ke VU

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.42 (2)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.44

Nah di VU Prof. Thijl Sunier, menyampaikan kuliah:  “Islam in Europe in a comparative perspective”. Ia menyampaikan berbagai data dan persepektif tentang orang islam dan islam di Eropa.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.37.50

Setelah itu dilanjutkan dengan kelas dari Prof. Susan Legene: Lecture and skills lab on “Colonial histories, histories of imperialism, national historiographies: how we conceptualize and deal with its sources for citizenship problems” 

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.29.14

Kegiatan hari itu belum selesai, kami  menghadiri pengukuhan Prof. Wyne Modest yang akan menyampaikan orasi ilmiah berjudul: “Pressing Matter: Reckoning with Colonial Heritage”

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.43 (1)

Tak nampak karangan bunga besar-besar, atau kresek berisi bingkisan dan makanan kotak. Bahkan Professornya tetap dengan rambut gondrong reggae, he he. Tentu dilanjutkan dengan memberikan ucapan selamat dan makan-makan, walaupun tentu hanya minum jus dan snack dari snack bar.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.43 (2)

Ternyata belum selesai juga, beberapa kawan memutuskan melakukan observasi ke kawasan red-light. Observasi merupakan bagian penting untuk memahami kondisi sosial sebuah daerah (halah, alesan)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.43 (4)

Observasi diakhiri (atau diawali?) dengan makan ayam panas (hot chicken) yang enak sekali 🙂 Tenang saja, ayam beneran.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.54.40

***

Hari rabu ada dua kuliah lagi. Pertama dari Dr. Tom Hoogervorst, lecture on “Globalizing acces to manuscripts”. Tom menyampaikan bagaimana dunia digital berelasi dengan upayanya melestarikan naskah bagaimana naskah-naskah tersebut  dimanfaatkan. Sebelumnya saya sudah mendengar reputasi Tom sebagai social linguist terkemuka. Senang diajar beliau 🙂

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.21.03

Kuliah selanjutnya yang tidak kalah menarik adalah kuliah Dr. Guno Jones, lecture on “The instability of postcolonial citizenship”

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.21.03 (1)

Hari jumatnya kuliah di VU lagi, Dr. Ratna Saptari memberikan kuliah  “Gendering research on Southeast Asian citizenship”. Bu Ratna membongkar pemikiran kami tentang kultur dan identitas. Bu Laxmi saking semangatnya sampai menangis terharu ketika  menyampaikan pandangannya.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.43 (5)

Nah  setelah makan siang Prof. Ruard Ganzevoort, menyampaikan kuliah “Global interaction and citizenship, interrelegious studies approach. Ruard ini selain Professor, juga Dekan Fakultas Teologi dan Anggota Senat di Belanda.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.44 (1)

Hari sabtu, bersama Susan Legene, Nancy Jouwe, dan Pak Ron Habiboe,  berangkat ke Brussel visiting House of European history and Europalia. Di House of European History kami utamanya melihat perkembangan peradaban Eropa. Setiap lantai menunjukkan kurun tertentu. Berikut beberapa fotonya.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.44 (3)WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.44 (2)

Sementara di Europalia, kami menyaksikan dua pameran: Ancestor and Ritual and Power and Other Thing

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.44 (4)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.03.06 (1)WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.03.06 (2)WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.03.06

***

Nah 14 November 2017, kami kembali bertemu dengan Prof Susan Legene, on “Photography skills lab” di VU Amsterdam. Kami mendiskusikan hasil kunjungan lapangan ke Belgia dan juga mempelajari bagaimana menggunakan foto dalam riset.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.45

Kelas dari Susan mengakhir kelas-kelas yang kami harus lalui.

***

Namun kegiatan masih harus diikuti dengan kunjungan ke Denhaag, menuju Pusat Pemerintahan Belanda (Binnenhof), Mahkamah Internasional dan Institut of Social Studies (ISS)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.47WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.46 (2)WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.47 (1)WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.46 (1)WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.45 (2)WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.45 (1)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.45 (3)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.46

***

Nah, hari ini kami menghadapi final presentation. Berikut beberapa foto peserta yang presentasi. Mohon maaf jika belum semua masuk…

WhatsApp Image 2017-11-22 at 23.33.32

Fitri dari ISI Surakarta

 

WhatsApp Image 2017-11-22 at 23.52.11

Lilis, UNNES

 

 

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.18

Monika dari UNS

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.19

Netty dari UnLam

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.20

Iqbal dari UPI

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.21

Natalia dari Univ Kristen Satya Wacana

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.22

Angga dari UM

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.23

Adityo dari UNIB

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.16.18

Laxmi dari UnHalu

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.16.19 (2)

Abah dari Untirta

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.16.19 (3)

Rakhmat dari UNJ

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.16.19 (4)

Shofa dari Univ. HamzanWadi

WhatsApp Image 2017-11-22 at 15.01.11 (1)

Abdul Aziz dari UNMUH Makassar

 

WhatsApp Image 2017-11-22 at 22.55.58

Matrissya, Universitas Gunadarma

WhatsApp Image 2017-11-22 at 15.01.11

Juhansar, UTY

WhatsApp Image 2017-11-22 at 21.31.54

Dina, Univ. Dayanu Ihsanudin

 

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.16.19

Lely dari UnSyiah

Nah, sorenya diadakan penyerahan sertifikat gelar M.Sc (Master of Short Course, he he) oleh Prof. Susan dari VU. Saya memiliki kesan mendalam terhadap Prof. Susan ini, berkharisma, berilmu, tapi nampak sederhana. Ia paginya mengatakan bahwa ia naik sepeda dari Leiden Centraal ke kampus. Oh ya kami punya kesamaan, sama-sama punya tas kanken, he he

whatsapp-image-2017-11-22-at-20-54-24-e1511388603725.jpeg

WhatsApp Image 2017-11-22 at 16.21.24

WhatsApp Image 2017-11-22 at 16.21.40WhatsApp Image 2017-11-22 at 16.21.25

Malamnya kami makan-makan di the Sumatera House. Ada penyerahan bingkisan untuk para Tutor. Kebetulan yang hadir Pak Ron, Pak Wim dan Mbak Nancy. Dilanjutkan tentu saja foto-foto

WhatsApp Image 2017-11-22 at 20.53.51WhatsApp Image 2017-11-22 at 20.53.27WhatsApp Image 2017-11-22 at 20.51.50WhatsApp Image 2017-11-22 at 20.50.32

Waaaaaah selesai sudah. Sampai ketemu di Tanah air. Saya mau tidur dulu, badan minta haknya untuk diperhatikan.

BAHAN BACAAN IV PIP: POLITIK LUAR NEGERI

Ini masuk minggu terakhir saya di Leiden. Hari ini saya akan menyampaikan presentasi final di hadapan para pengajar. Deg-degan juga ya…

WhatsApp Image 2017-11-22 at 08.00.55
Btw, di bawah ini adalah bahan bacaan untuk pertemuan kita di minggu ini, tulisan dari Prof. Yanyan, UNPAD.
Selebihnya, kita akan bertemu di kelas minggu depan..
Screenshot 2017-11-22 07.51.48

Bahannya bisa didownload di sini: politik_luar_negeri

Absen seperti biasa ya. Bedanya, tampikan beberapa kalimat, apa yg anda pelajari dari tulisan ini di kolom komentar.

Salam