Arsip Kategori: Perdosenan dan Perguruan Tinggi

Menjadi Dosen di Indonesia #Edisi Revisi

(Seorang fans pembaca mengirim permintaan agar saya merevisi tulisan ini. Ditambah pula tetiba ada lonjakan traffic blog ini kemarin, khususnya di topik pendidikan tinggi. Saya putuskan pagi-pagi habis subuh merevisi tulisan berikut ini, agar tidak banyak yang tersesat tulisan lama, he he. Semoga bermanfaat terutama memberi gambaran awal dunia persilatan, eh perdosenan dari perspektif karir. Begitu pemirsah. )

Semua profesi tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya, pun menjadi dosen.

Salah satu hal baik menjadi dosen di Indonesia adalah kemudahannya menjadi dosen tetap/ tenure. Di beberapa negara lain, tak mudah menjadi dosen tetap. Kawan-kawan saya yang bergelar Doktor di Jepang atau Perancis, misalnya mesti mengikuti post-doc dulu, menerbitkan disertasi-nya menjadi buku, baru bisa melamar menjadi dosen tetap, itupun kalau ada lowongan (kabarnya semakin jarang). Kompetisi-nya juga cukup ketat karena portofolio di bidang akademik seperti publikasi ilmiah amat menentukan. Kalaupun ada kasus master menjadi dosen tetap, ini hal yang amat langka sekali, mungkin hanya untuk orang-orang super-cemerlang saja.

Di indonesia, syarat menjadi dosen hanya bergelar master saja, sedikit yang rekrutmen awalnya doktor. Bahkan beberapa tahun lalu, orang bergelar sarjana bisa menjadi dosen tetap. Saya menjadi dosen tetap PNS ketika masih sarjana di tahun 2006 Baca lebih lanjut

Iklan

Meluluskan Mahasiswa

Kemarin saya memposting beberapa foto sidang dan yudisium mahasiswa MAP Untirta di instagram.

Menyenangkan sekaligus mengharukan.

WhatsApp Image 2018-01-30 at 14.25.15

Sebagai Kaprodi, pembimbing sekaligus penguji untuk beberapa mahasiswa, saya tahu betul bagaimana teman-teman mahasiswa ini berjibaku dengan segala upayanya menyelesaikan studinya di MAP. Bahasa saya, lolos lubang jarum. Telat sedikit, mesti bayaran lagi 🙂

Nah, karena saya mengajar di kelas sejak sebagian mereka semester satu, dan jumlah mahasiswa Pasca tidak banyak. Saya agak paham proses perjuangan mereka.

Kelulusan dan menyelesaikan studi, ternyata tidak begitu berkorelasi dengan nilai di transkrip, keaktifan bertanya atau berdiskusi di kelas, atau penguasaan mahasiswa terhadap materi perkuliahan. Bukan berarti aspek-aspek ini tidak penting, tapi ini mah sudah seharusnya melekat dengan sendirinya karena proses belajar. Baca lebih lanjut

Setelah Menjadi Doktor

 

Ini renungan di hari Jumat

Menjadi Doktor ini bukan pencapaian puncak di dunia akademik.

Ia adalah sebuah terminal saja, semacam mendapatkan lisensi untuk meneliti.

Seorang Doktor telah dianggap mampu untuk secara independen melakukan proses penelitian sampai selesai dalam bentuk laporan dengan kualitas tertentu, bahkan terpublikasi.

Soal kualitas pun tentu tidak dianggap sempurna. Karena itulah ada yang disebut Post-Doctoral, menyempurnakan riset atau karya ilmiah yang dibuat semasa S3.

Namun sayangnya  di negara tetangga, disertasi kerapkali dianggap puncak karya seseorang di bidang akademik. Begitu didapatkan gelar doktor, turun pula, kan udah sampe puncak 😉

Baca lebih lanjut

Darurat Pendidikan Tinggi

Akhirnya puzzle itu terjawab ketika seorang kawan mengirim pesan dengan lampiran, sebuah Universitas terkemuka memberhentikan (Baca:DO) 767 mahasiswa S3 dan 600 mahasiswa S2.

***

Beberapa waktu ini Pak Supriadi Rustad (SR) bermain tebak-tebakan. Ia  menulis di blognya bahwa bersama tim Eka, sedang melakukan sebuah operasi cesar besar, membenahi aktivitas akademik sebuah universitas besar. Tak tanggung-tanggung, judul tulisannya adalah: ROBOHNYA UNIVERSITAS KAMI (1): BILA UNIVERSITAS JADI SUAKA PLAGIASI.

Screenshot 2017-06-12 21.31.03

Dalam tulisannya ia menyampaikan:

Rekomendasi Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) yang secara khusus ditujukan kepada Menteri terkait usulan sanksi kepada pelaku tindak plagiat telah bocor merembes mengalir ke mana-mana terutama grup-grup media sosial komunitas pendidikan tinggi. Saya menyadari kebocoran itu setelah ditunjukkan melalui wa oleh seorang teman (rektor) yang dulu sering sama-sama cari rendeng (batang tubuh dan daun kacang tanah sisa panen sebagai pakan ternak) di kampung. Kami bertemu pada upacara 1 Juni yang lalu di Kemdagri.

Saya baru menyadari juga kebocoran itulah yang kemudian memicu peristiwa sebelumnya dua minggu yang lalu.  Tampaknya pada hari itu pemimpin perguruan tinggi (PT) tersebut mengundang dan mengerahkan  alumni doktor untuk menyikapi rekomendasi SR (mestinya nama saya) kepada Menteri.  Di dalam undangan kepada alumni sang pemimpin menyatakan bahwa SR mengusulkan kepada Menteri agar seluruh ijazah doktor dari PT itu dibatalkan.

Saya sendiri tak paham Universitas yang dimaksud oleh Pak SR.  Sampai sebuah mini reuni dengan kawan zaman hidup susah di kampus dulu kebetulan bercerita tentang apa yang terjadi di kampusnya sekolah sekarang:767 mahasiswa S3 dan 600 mahasiswa S2. di-DO karena alasan-alasan akademik dan mereka sedang berjuang agar status DO tersebut dicabut.

Konon, sanksi akademik superberat ini juga dampak dari audit akademik dari Tim Pak SR. Collateral damage? wallahua’lam. Namun nampaknya Rektorat Universitas tersebut menghindari temuan atau sanksi lebih besar dari Kementerian.

Yang menarik adalah walaupun Pak SR di atas mengatakan bahwa kebocoran sudah ke-mana-mana, namun media masih adem ayem saja.

Mungkin bomnya memang belum meledak, masih petasan-petasan kecil.

Bomnya akan meledak ketika lulusan doktor kampus tersebut yang memang amat cepat lulus dan punya kedudukan penting melakukan fight-back terhadap pembongkaran plagiasi yang sedang dilakukan oleh Pak SR dan timnya. Baca saja lanjutan tulisan di blog Pak SR:

Dugaan awal terjadinya tindak plagiat dari sejumlah peserta doktor didasarkan kepada analisis meta data file disertasi yang menunjukan sejumlah disertasi diproduksi dari satu komputer dengan akun user yang sama. Sejumlah dokumen soft copy disertasi diperoleh secara resmi dari kiriman Direktur PPs terkait melalui email yang hingga kini tersimpan dan tercatat dengan baik. Berdasaran meta data tersebut diketahui pula bahwa file disertasi di “create” pertama kali sekitar 40 hari sebelum yang bersangkutan dinyatakan lulus. Saya berpendapat tidak perlu menjelaskan fakta ini karena saya yakin pembaca sudah dapat memahaminya dengan logika sederhana.

Mengerikan sekali bukan? saya membacanya saja mual

Tulisan ini juga hendaknya dibaca bersama tulisan-tulisan Pak SR sebelumnya.

Semoga nilai-nilai akademik betul-betul ditegakkan dan tak terjadi penyelesaian secara adat.

Maju terus Pak SR, Blogger bersatu tak bisa dikalahkan 😉

Sumber:

Blog Pak SR

Pesan Seorang kawan beserta lampiran

Catatan: Data di tulisan ini dibetulkan berdasarkan info Kang Anton Rahmadi dan benar adanya setelah datanya saya telusuri. Saya kecepetan bacanya, ternyata lebih mengerikan.

Doktor-doktor di Keluarga Kami

Dok .. dok .. dok

Kemarin beberapa kawan dari KPU Banten memanggilku dengan sebutan Dok. Tentu saja bukan singkatan dari Kodok, tapi Doktor.

Ya, bulan puasa dua tahun lalu saya memang resmi jadi Doktor. Lewat sebuah sidang yang dihadiri hanya sekitar 15 orang termasuk saya dan tiga penguji. Tanpa konsumsi, bukan karena bulan puasa, tapi karena memang gak ada aturan mesti menyiapkan konsumsi. Singkat, padat, fokus ke substansi riset. Lewat tanya – jawab yang menyenangkan, alhamdulillah gelar Doktor diraih.

11701002_10153512644469015_5883690641642036619_o

Gelarnya Ph.D (Doctor of Philosophy) dalam Contemporary Asian Studies. Nah, surat pengaktifan di kampus menulisnya: Doktor dalam Filsafat. Gak apa-apa, he he

Yang jelas, gelar ini masih suka ditulis secara keliru, kadang PHD (Pizza Hut delivery), P.Hd (Paeh <geh> hade), atau kadang ditulis: Dr. Abdul Hamid, Ph.D. Padahal saya gak punya dua gelar doktor. Hmm ada sih kawan yang kerajinan lulus S3 dari UI dan Harvard sekaligus yang pake dua gelar S3 sekaligus tersebut.

Baiklah, ada yang mau saya ceritakan, maafkan kalau agak sombong. InsyaAllah semangatnya pencitraan menebar motivasi.

***

Di keluarga kami terdapat empat doktor.

Saya adalah Doktor ke-3. Gelar doktor pertama diraih kakak saya, Zainal Muttaqin diikuti istrinya Tri Lestari. Mereka meraih Ph.D-nya di Jepang. Zainal di Hiroshima University, Istrinya di Kobe University. Selisihnya satu semester. Nah saya di Doshisha University, di semester berikutnya, jadi berurut-urutan.

424145_10151355365109015_1035295221_n

Jadilah kami bertiga sempat merasakan tinggal di Jepang, di tiga Kota berbeda dalam waktu yang bersamaan. Kami kadang ngumpul di Kobe, Hiroshima, Kyoto atau pernah juga di Tokyo. Kadang-kadang hanami, main ski atau sekedar babacakan. Kami bertiga mendapat beasiswa: Zaenal dari Bappenas, saya dan Mbak Tri dari Dikti. Alhamdulillah, semua selesai 3 tahun.

Doktor keempat di keluarga kami yaitu Abdul Malik yang meraih gelar Doktor dari Universitas Sahid. Gelar ini diraih sambil menjalankan amanah sebagai Dekan di FISIP UNSERA. Dekan jalan, gelar doktor diraih. Disertasinya bahkan sudah jadi buku.

1785_41463034014_8098_n

Selebihnya di keluarga kami: master dan sarjana.

***

Nilai pendidikan sebagai hal terpenting memang diajarkan (alm.) Apa dan Mamah. Saya paham perjuangan membesarkan 8 anak sampai sarjana (lebih dari sarjana usaha sendiri) tidak mudah bagi suami-istri yang keduanya kebetulan berprofesi sebagai guru. Apa di MAN Cihideung dan Mamah di SMPN 2 Pandeglang. Berat, dan saya sering curi dengar mereka betul-betul memaksakan diri, gali lobang-tutup lobang, pontang-panting kesana-kemari untuk sekolah kami, anak-anaknya. Maka hidup kami betul-betul sederhana, lha uangnya buat biaya sekolah.

Belakangan saya paham, ini semacam dendam kesumat (alm.) Apa yang terpaksa DO dari kuliahnya di IAIN Ciputat karena persoalan biaya. Ia membalas dengan mati-matian men-sarjana-kan anak-anaknya, at all cost.

Dari aspek harta tak ada yang bisa diwariskan orangtua kami, kecuali sebuah rumah yang menjadi rumah induk di Pandeglang. Untuk Mamah tinggal dan tempat kami berkumpul ketika liburan. Ada juga sih, satu lemari buku-buku, mulai dari tulisan Hamka, beberapa tafsir, sampai buku Sayid Qutb.

Jadi ketika Apa meninggal sekalipun, tak ada perdebatan apapun soal harta peninggalan harus dibagaimanakan, lha wong gak ada, he he.

Warisan yang terbesar dan terpenting justru melekat di diri masing-masing anaknya: pendidikan, nilai kerja keras, dan semangat memberi manfaat.

Inilah yang dipercaya mengubah nasib, dan hal tersebut terbukti.

Setidaknya di keluarga kami.

Salam Super duper

 

 

Mediocre is Mentality

Mas Ishaq, sahabat saya beberapa waktu lalu dilantk menjadi Kepala Humas dan Protokoler Universitas Hasanudin. Saya sebagai teman ngopi, ikut bangga sekali.

Jadilah posting fesbuk kawan saya tersebut selanjutnya banyak tentang Unhas. Salah satunya mengabarkan tentang akreditasi berbagai Prodi di Unhas.

Screenshot 2017-05-27 10.55.08

Keren bingits, 50 dari 60 prodi S1 di Unhas terakreditasi A.

Nah kemarin juga kebetulan reuni di sebuah kegiatan di Bali dengan beberapa kawan dari Prodi Ilmu Politik UI. Kebetulan saya sempat mengajar juga di sana, hanya tak bertahan. Sementara Adit, Ipul dan Hurriyah, bertahan dan malahan menjadi para pejabat, he he. Iseng saya tanya Ipul, akreditasi prodi Ilmu Politik sudah A, bahkan sedang persiapan untuk akreditasi AUN. Maklumlah, jaman saya kuliah dulu beberapa kawan pernah memprotes prodi yang akreditasinya C dengan membuat kaos. Yang saya inget pake kaus itu adalah Eko.

Jadi kampus-kampus besar sekarang nampaknya sudah menjadikan akreditasi A sebagai standar minimal dan beranjak ke akreditasi internasional.

Sebagai Ketua Prodi S2 yang terakreditasi C, saya merasa tergugah juga. Saya kan ngajar di PTN juga, dan rasanya usia PTN kami udah gak muda-muda banget. Kebangetan selalu ngumpet dengan alasan ini.

Nah, kebetulan saya mengawas SBMPTN di STMIK Raharja, Kota Tangerang, sebagai Penanggungjawab lokasi. Saya sendiri tak terlalu mengenal kampus ini, walaupun lokasinya di pusat kota.

Namun saya kaget, ternyata 3 prodi di STMIK Raharja terakreditasi A. Mereka bahkan menerapkan ISO dalam tata kelola kampus. Obrol-obrol saya juga mendapatkan informasi bahwa Kaprodi mendapatkan pendapatan cukup besar untuk ukuran kampus di Banten.

Saya lantas ingat diskusi tahun lalu ketika mengawas di UMT dengan rektor UMT. Pak Rektor menyampaikan bahwa anggaran akreditasi untuk setiap Prodi mencapai 50 juta rupiah.

***

Hmm jadi mikir juga ya. Sekarang saya meniatkan merancang ini dan itu dengan anggaran amat minim. Menargetkan diri untuk mencapai akreditasi A, nyaris tanpa anggaran akreditasi. Duh.

Saya pikir kampus saya harus belajar. Jika kampus besar menargetkan A itu sudah biasa. Namun kampus yang tidak terlalu besar bisa mendapatkan akreditasi A untuk beberapa Prodi, itu hasil kerja keras dan tentu kebijakan anggaran yang berpihak.

Saya percaya, mediocre is not about position, it is mentality.

Meritokrasi di Kampus

Sekira satu bulan lalu saya berkesempatan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Komisi ASN dan Komisi ASN-nya Australia. Pelatihan tersebut nampaknya mempersiapkan para calon penyeleksi Jabatan Tinggi ASN baik di pusat maupun di daerah.


Hal yang cukup banyak didiskusikan adalah tentang merit sistem. Maklum selama ini ada banyak anggapan dan nampaknya benar terjadi bahwa promosi di kalangan ASN lebih karna faktor-faktor di luar kapasitas dan prestasi. Istilahnya PGPS : Pintar Goblok Pendapatan Sama.

Saya merefleksikan ini ke dunia kampus. Universitas tempat di mana orang belajar ilmu lebih banyak dibanding kebanyakan orang, harusnya menerapkan sistem meritokrasi ini by default. Orang dengan jejaring internasional yang luas dan dalam mustinya ngurusi kantor internasional, lembaga yang mengurusi riset ya mustinya diisi mereka yang punya reputasi penelitian, h index tinggi, ngerti persoalan jurnal dan punya publikasi di jurnal internasional bereputasi, urusan akademik ya musti diurus mereka yang sekolahnya sudah selesai (baca: doktor), dan sebagainya dan sebagainya.

Simpel, dan dengan demikian sebuah Universitas akan berkembang.

Jika menggunakan pendekatan kekuasaan, balas jasa, transaksional atau koncoisme, yang berkembang hanyalah perut sebagian orang saja. Institusi jalan, di tempat.

Ok, selanjutnya kita bahas talent pool di kampus.
Salam.

Pulang dari Singapore

Rombongan dengan bis kampus sudah meluncur pulang dari Bandara. Saya masih terpaku di bangku besi, menunggu istri yang akan mendarat beberapa jam lagi dari Beijing. Sejam lalu saya pulang dari Singapore, bersama Bu Nia membawa mahasiswa MAP sebanyak 26 orang menengok Merlion yang kesepian.

WhatsApp Image 2017-05-11 at 10.07.27 PM

***

Kegiatan ini tak sepenuhnya studi dan tak sepenuhnya jalan-jalan. Fifty-fifty lah begitu. Bahasa kerennya company visit. Kalau dulu disebut study tour, kalau DPR menyebutnya study banding. Suka-suka.

Namun kunjungan ini penting dan sesuai saran Prof Rhenald Kasali yang termasyhur itu di tulisannya yang berjudul paspor. Mengajak mahasiswa untuk melihat negara lain, ke luar dari tempurung dan zona nyaman. Kami juga tak main-main, menginjakkan kaki ke kampus nomor satu di Asia, National University of Singapore, berdiskusi dengan civitas akademika di sana dan mendapat banyak pencerahan. Siapa tahu kampus kami, Untirta bisa ikut maju pula. Jika keluarga Riady yang domisilinya di Banten (Karawaci banten tho) bisa menyumbang banyak untuk NUS, masak ndak bisa untuk Untirta, he he. Mosok nunggu saya jadi Rektor dulu 😉

WhatsApp Image 2017-05-11 at 8.39.18 PM

WhatsApp Image 2017-05-10 at 7.39.31 PM

Saya amaaat menikmati reuni dan diskusi dengan Mbak Ai, kandidat Doktor di NUS, senior saya di FISIP UI (Kami sama-sama mantan Ketua Senat FISIP UI, cie cie) yang memang pintar. Ia mampu menjelaskan bagaimana Singapore bisa survive dengan cara membangun manusia-manusia unggul dengan kompetisi sejak pra-sekolah. Sebagai sosiolog, Mbak Ai membuat saya dan mahasiswa saya jadi cukup paham konstruksi bangunan sosial masyarakat Singapore.

WhatsApp Image 2017-05-10 at 7.38.09 PM

WhatsApp Image 2017-05-10 at 6.28.25 PM

Dari kunjungan ke NUS tersebut, tentu mahasiswa saya juga bisa melihat keseriusan pemerintah dalam pendidikan tinggi tercermin juga dari apa yang bisa disaksikan dengan mata: fasilitas belajar yang aduhai, kampus yang luas, fasilitas olahraga yang setara olimpiade, dan lain-lain tak bisa disebutkan di sini.

Oh ya, penjelasan tentang pelayanan publik juga mengesankan. Harap maklum, tujuan utama ke Singapore memang untuk belajar (baca: melihat dan merasakan) bagaimana pelayanan publik diberikan oleh pemerintah. Itu mata kuliahnya Bu Nia, sekprodi sekaligus pimpinan rombongan.  Bahasa kerennya Participatory Observation. Melihat bagaimana layanan transportasi, fasilitas khusus difabel, dan tentu saja pendidikan.

Tentu juga membuktikan kalau denda untuk yang makan minum atau merokok di kereta itu memang tidak hoax, termasuk untuk memberi makan burung sembarangan.

WhatsApp Image 2017-05-11 at 10.08.08 PM

***

Alhamdulillah semua sudah sampai ke tanah air dengan selamat. Pasti ada banyak manfaat lain. Ada yang phobia pesawat sudah bisa menumpak (ini bahasa Pandeglang artinya naik tapi secara harafiah) pesawat di dekat jendela, ada yang sudah punya keberanian mempraktekkan bahasa inggris (walaupun bahasa inggris salah paham: biar salah yang penting paham), ada yang sudah paham bagaimana membeli tiket MRT via mesin dan membaca peta jaringan MRT, ada pula yang terus berusaha tidak menjomblo lagi, eh.

Yang jelas masih ada tugas tersisa: menerbitkan buku tentang pelayanan publik berbasis pengalaman dan tentu teori di perkuliahan. Ini akan menjadi buku pertama yang diterbitkan MAP Untirta.

Oh ya, sepanjang perjalanan juga terjadi interaksi dan diskusi-diskusi yang dalam dan berkesan. Sudah dua mahasiswa MAP yang bertekad untuk study lanjut ke S3 luar negeri selepas lulus S2. Ada diskusi panjang yang dalam soal isu-isu agraria, pendidikan, politik dan kampus, sambil makan nasi briyani. Saya belajar banyak. Ada juga mahasiswa yang curi-curi waktu mendiskusikan tema tesisnya. We time ini sungguh berkualitas. Bahkan ada yang nekad nitip barang ke Kaprodinya karena belanja banyak sekali, he he

Btw..

Mau punya pengalaman seperti mahasiswa MAP di atas? ayo daftar ke MAP Untirta: Link Penerimaan Mahasiswa Baru. 

Up to the next level…

 

 

Kenapa 60% Riset tentang Indonesia ditulis Orang Asing?

Tulisan ini saya buat dalam perjalanan ke Pattaya. Ya akan menginap semalam di sebuah pulau di sekitar sana sebelum kembali ke tanah air.

Sebelumnya sekira dua minggu saya tinggal di kantor Center for Southeast Asian Studies (CSEAS) Bangkok. Kantor yang merangkap apartemen, dua lantai. Ada ratusan buku tentang Asia tenggara, khususnya negara-negara di Mainland Asia. Ya, CSEAS punya dua kantor besar di Asia Tenggara, satu di Jakarta dan satu di Bangkok. Selain menjadi field station bagi para peneliti, tempat ini jadi persinggahan buku-buku tentang Asia tenggara sebelum akhirnya dikirim ke perpustakaan CSEAS di Kyoto.

Pekerjaan kepala kantor CSEAS salah satunya juga adalah mengumpukan buku-buku tentang Asia Tenggara. Di Jakarta misalnya, saya dulu kerapkali menemani Professor Okamoto untuk belanja buku-buku langka dari pedagang entah dari Senen, Blok M atau Taman Mini.

Jangan heran rasanya koleksi buku dan majalah tentang Indonesia amat sangat lengkap, jika dibandingkan dengan perpustakaan di Indonesia. Katakanlah mencari edisi lengkap majalah Sabili atau Tempo bisa dilakukan di perpustakaan CSEAS di Kyoto. Apakah ada di perpustakaan UI atau UGM atau Untirta?

***

Hal-hal semacam ini yang sebetulnya ingin saya sampaikan ketika para pejabat menyampaikan pandangannya yang seringkali jump to conclusion. Katakanlah Dirjen SDM Dikti yang mengatakan bahwa “..60% tulisan tentang Indonesia ditulis orang Asing”. (Republika, 17/3)

Judul tulisan ini mencoba memberi penjelasan yang berangkat dari sudut pandang orang dalam: kamsudnya dosen biasa. Tulisannya ndak bermaksud memberi penjelasan yang menyeluruh, nanti di jurnal itu mah. Judulnya saja yang dibuat bombastis seperti pernyataan Dirjen yang juga bombastis. Kali ini tulisan ya Pak, nggak video dulu 😉

Screenshot 2017-03-24 18.40.40

Pak Dirjen mengatakan:

“Padahal menurutnya, dengan banyaknya jumlah dosen dan mahasiswa di Indonesia, seharusnya banyak riset dan inovasi yang dihasilkan. Ia menyebut, banyak potensi riset di Indonesia yang dapat diangkat untuk meningkatkan daya saing bangsa.”

Statemen di atas dipakai sebagai dasar bagi program World Class Professor 2017, mendatangkan Professor kelas dunia untuk bertugas di beberapa kampus Indonesia terpilih. Tugas mereka, sebagaimana dikutip Republika adalah:

“…melaksanakan perbaikan kualitas artikel, joint publication untuk disubmit ke jurnal internasional bereputasi, melaksanakan joint supervision bagi mahasiswa S2 dan S3.

Serta melakukan joint research dengan dosen muda maupun senior, joint study program; membantu analisis data bagi mahasiswa S3, melaksanakan program pemagangan penelitian bagi mahasiswa S3 dan dosen di laboratorium World Class Professor (WCP), membantu PUI-PT, PT dan LPNK membuat proposal untuk memperoleh dana penelitian atau pengembangan proyek pendidikan yang akan diajukan ke pemerintah masing-masing atau ke penyandang dana internasional, membantu set-up global satellite laboratory di PUI-PT dan mencantumkan PUI-PT di situs grup WCP sebagai bagian dari global satellite laboratory.”

Sekilas program ini amat baik. Meningkatkan kualitas para dosen dan laboratorium. Tapi sebentar, bukankah problem pendidikan tinggi kita tidak cukup sederhana sehingga selesai dengan mendatangkan Profesor kelas dunia?

Katakanlah begini, problem pertama kita misalnya pustaka.

Sistem pustaka mereka (baca: kampus asing) amat baik dan pro ilmu pengetahuan. Kita yang pernah belajar di kampus LN tentu sudah paham bahwa pustaka katakanlah bukan sebuah persoalan.Perpustakaan sudah cukup lengkap dan  jika ada buku yang kita butuhkan dan tidak tersedia biasanya bisa memesan di perpustakaan lain (yang berjaringan) atau memesan untuk dibelikan. Kalau saya dulu bahkan bisa dibelikan dari anggaran Professor, ditanya: “Hamid Kun, kamu butuh buku apa tahun ini?“.

Kemewahan  yang ketika pulang dan menjadi pengajar dengan status Associate professor (Lektor Kepala) di kampus dalam negeri, jelas sulit diulangi. Mengajukan pembelian buku-buku asing ke perpustakaan? He he

Maka biasanya hampir semua dosen memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya, buku-buku yang dibeli dari kocek pribadi yang sebetulnya untuk kepentingan mengajar dan meneliti. Di kampus, kecuali punya jabatan struktural tak ada lemari buku yang cukup menampung.

Pilihan logis ketimbang terus menerus ngedumel tanpa solusi bukan?

Jadi katakanlah Samuel Huntington datang ke Indonesia jadi mitra World Class Professor dan kemudian meminta setumpuk buku berbahasa inggris untuk dibeli apakah bisa dikabulkan? Apakah Profesor lokal juga meminta setumpuk buku untuk mendukung pendidikan dan pengajaran, apakah bisa dikabulkan?

(Mohon tidak dijawab dengan, kan bisa download dari Sci-hub, he he)

Indikator perbaikan yang sederhana bukan? Pembelian buku harus lebih penting daripada pernambahan bangku taman, pemasangan cctv dan videotron atau pengecetan tembok yang belum kusam.

Oh ya, pernyataan Dirjen soal 60% riset Indonesia ditulis ilmuwan asing di atas juga bisa dijelaskan dengan cukup memadainya dana-dana penelitian yang dimiliki dosen asing. Mustahil mereka menulis dengan cukup baik tanpa data yang akurat. Data akurat hanya bisa didapatkan dengan field research atau bagi ilmu tertentu bisa juga membeli data yang harganya cukup mahal. Teman-teman saya jagoan ahli asia tenggara dari Jepang bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan di Jakarta, Bangkok atau Manila. Tentu mereka bisa meneliti dengan tenang, membangun network, menyewa apartemen, membeli buku-buku karena ada dana yang memadai. Nggak mungkin sambil puasa atau irit-iritan menunggu dana gak cair-cair sambil membuat kwitansi dan nota palsu.

Ditambah hak untuk sabbatical setiap beberapa tahun, cuti untuk menulis atau penelitian dengan tetap mendapatkan pendapatan secara penuh, bahkan mendapatkan dana penelitian.

Lha kebijakan kita belum ke arah sana jeh.

Penelitian saya ndak mau komen. Sudah terlalu banyak masalah, utamanya administratif. Kalau ingin tahu lebih banyak terjun saja ke grup dosen Indonesia di Facebook yang ebranggotakan belasan ribu orang, banyak cerita sedih di sana.

Sabbatical sebetulnya sudah menjadi kebijakan dalam PP 37 2009 tentang Dosen. Dosen berhak mengajukan cuti untuk penelitian secara berkala, empat tahun sekali bagi dosen LK dan Gubes, lima tahun sekali bagi dosen AA dan L.

Namun apakah sudah ada pedoman implementasinya? Rasanya belum.

Ada memang program SAME Dikti, tapi tentu alokasinya amat terbatas. Yang saya maksud adalah implementasi di kampus sehingga dosen memang bisa mengajukan hak sabbatical tersebut secara berkala.

Yang sebetulnya juga menyedihkan adalah kebijakan maksimal satu bulan berada di Indonesia untuk penelitian dosen yang kuliah dengan beasiswa luar negeri Dikti. Saat menempuh S3 di luar negeri sesungguhnya adrenalin dosen sedang berada di puncak. Kesempatan untuk mendapatkan data lapangan bagi mereka yang penelitiannya di Indonesia adalah kesempatan untuk mendapatkan data berkualitas untuk menjadi karya bermutu tinggi.Sayangnya pendekatan kementerian bersifat administratif dan terlalu mencurigai karyasiswa.

Padahal membatasi satu bulan untuk field research sangat membatasi. Ancamannya tidak main-main, besaran beasiswa LN diubah menjadi sebesar beasiswa DN.

***

Dengan dua ilustrasi di atas saja, jelas bahwa wajar dan masuk akal jika karya-karya terbaik tentang Indonesia masih dan masih akan ditulis oleh peneliti asing.

Dan mendatangkan Profesor asing membenahi hal-hal di atas hanya mengobati satu kaki dari dua kaki yang pincang. Tetap tertatih-tatih.

Ujian apakah kaki yang pincang keduanya sudah sembuh, sesungguhnya mengundang World Class Professor tadi untuk menjadi Profesor Tenure (Dosen tetap) di Indonesia, dengan standar yang sama dengan Professor (Baca: Dosen) di Indonesia, termasuk menunggu rapelan serdos dan finger print dua kali sehari seperti minum antibiotik. Jika mereka mau berarti sistem kita sudah baik dan pendidikan tinggi kita bisa betul-betul berlari kencang. Jika tidak dan mereka senyum-senyum simpul, maka sistem yang harus dibenahi.

Begitu Bos…

Edisi Lengkap dan Terbaru Jurnal Terakreditasi Dikti (Update 15 Januari 2018)

Dear rekan-rekan semua, secara mengejutkan di laman simlitabmas terdapat surat Keputusan Dirjen Penguatan Risbang Kemeriting (Kementerian Ristek dan Perguruan Tinggi) yang mengubah lampiran 48a/Kpt/2017 yang sempat diposting di blog ini.

Nah, jadilah surat keputusan tersebut saya posting menggantikan yang sebelumnya. Monggo disimak

Baca lebih lanjut

Universitas, Mau Ke Mana?

Beberapa waktu ini saya menemukan beberapa posting di medsos, mengabarkan posisi kampus mereka dalam ranking dunia.

UI dengan bangga mengabarkan pada dunia bahwa berdasarkan QS World University Rankings, UI menempati posisi nomor wahid di Indonesia, 67 asia dan 325 dunia.

screenshot-2016-09-11-12-17-58

Keren banget itu.

Ndilalah, tak lama kemudian, seorang kolega yang bekerja di negeri jiran menampilkan foto lain:

malaya

Ehem, University of Malaya ternyata menempati posisi yang jauh lebih baik, ranking 133 dunia dan 27 Asia. Bisa dilihat dari gambar di atas kenaikan signifikannya dari tahun 2014.

Soal metodologi, bisa dilihat di sini.

Hmm soal ranking-rankingan ini memang ada juga yang tidak setuju.

Saya sendiri berada dalam posisi menjadikan ranking-rankingan ini sebagai indikator dan rangsangan memperbaiki mutu. Maklum, kampus tempat saya mengabdi sekarang ndak masuk 😉

screenshot-2016-09-11-12-30-49

 

 

Dosen Blogger atau Blogger Dosen?

 

Sesuai judul, saya memang dua punya aktivitas yang saya geluti serius: ngeblog dan nge-dosen (baca: kerja di kampus untuk mengajar dan meneliti).

Sebagai dosen saya lakukan sepenuh hati. Senang saja misalnya mengajar anak-anak muda yang penuh semangat dan lutju-lutju. Meracuni pikiran mereka dengan ilmu yang semoga bermanfaat. Menumbuhkan kesadaran kritis melihat dunia sekeliling mereka, biar berwarna dan tidak hitam putih.

Sebagai dosen saya juga meneliti, menemukan hal baru dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala. Oh ya, sebagai dosen seriusan senang juga hasil penelitian saya yang terbit di jurnal internasional dihargai. Ceritanya kemarin pas upacara kesadaran nasional dipanggil ke depan menerima SK-nya oleh Rektor:) (Padahal saya jarang upacara dan pake baju korpri, he he)

reward jurnal

Sumber foto: Fesbuk Pak Kurnia

Sebagai blogger, rasanya saya juga cukup serius. Dulu gara-gara baca blognya Pak Budi Rahardjo, jadinya pernah punya ambisi satu tulisan satu hari. Ah jadinya keteteran.

Sekarang intensitas saya ngeblog makin berkurang. Selalu ada alasan, padahal semua gadget saya (ipad merek ipad dan smartphone samsul) memiliki aplikasi wordpress.

Dulu di Jepun rasanya lebih bisa mengalokasikan menulis, bahkan jika di atas kereta. Namun karena banyak di belakang kemudi, rasanya gak mungkin nyetir sambil ngeblog, bisi cilaka.

Tapi jika ada waktu luang saya pasti menulis. Jika ada hal menarik di dunia perdosenan dan pendidikan tinggi saya juga pasti luangkan waktu untuk ditulis. Sila dilihat tulisan-tulisan paling populer di bulan Oktober lalu.

Screenshot 2015-11-18 08.25.30

Karena itulah blog ini konon kabarnya cukup populer di kalangan dosen. Senang juga sih bisa bermanfaat 🙂

Nah jadinya saya itu dosen blogger atau blogger dosen ya?