Arsip Kategori: Kuliner dan Perjalanan

Mengurus Paspor Secara Online

Sewaktu pulang ke tanah air, saya menyelesaikan beberapa urusan administratif. Di tulisan sebelumnya bagaimana mengurus ATM BNI yang hilang dan mengurus mutasi SIM sudah saya ceritakan. Nah sekarang bagaimana mengurus papor secara online.

Saya sebetulnya berada di Jepang dengan menggunakan paspor dinas yang bersampul biru, maklum PNS. Namun paspor dinas punya banyak kelemahan, masa berlakunya hanya dua tahun dan perpanjangan hanya bisa enam bulan saja. Persis sebelum pulang saya mengalami masalah, KJRI Osaka hanya mau memperpanjang enam bulan, padahal aturan penerbangan mensyaratkan ketika check in masa berlaku paspor mesti setidaknya enam bulan. Artinya perpanjangan enam bulan dua minggu atau bahkan sehari sebelum terbangpun membuat kita ditolak ketika check in. Ini pernah terjadi menimpa sahabat saya Pak Ishaq. Apalagi perjalanan saya waktu itu tak langsung, mesti ganti maskapai di Malaysia, maklum berhemat dan pengen pelesiran sebentar di KL.

Namun pihak KJRI tetap keukeuh, tidak bisa. Kalau mau saya mesti melampirkan surat dari instansi asal untuk meminta perpanjangan lebih panjang lagi. Hadeuh mbulet. Untunglah persoalan waktu itu diselesaikan dengan bantuan Dekan dan Pak Anis yang membuatkan surat ke KJRI.

Nah itu latar belakang kenapa saya mesti punya paspor hijau.

Ya, paspor hijau saya yang dibuat di Semarang sudah tak berlaku sejak 2013.

Sebetulnya tahun lalu ketika pulang saya mengajukan pembuatan paspor. Semua berjalan lancar, hanya ketika diambil ternyata tidak bisa dan paspor baru yang sebenarnya sudah jadi mesti dimusnahkan. Alasannya karena ketika pendaftaran online, saya mengajukan pembuatan paspor baru, padahal mestinya penggantian paspor yang habis masa berlakunya. Nah sistem ternyata mencatat saya pernah punya paspor, jadi ndak bisa diberikan. Lha wong paspor lamanya ada di Kyoto jeh.

Maka tahun ini saya bertekad gak boleh gagal maning.

Maka saya buka web imigrasi untuk memulai pembuatan paspor: http://www.imigrasi.go.id/index.php/layanan-publik/paspor-biasa.

Screen Shot 2015-04-22 at 5.51.51 PM

Nah setelah klik layanan paspor online tinggal isi data-data dan ikuti saja instruksinya, gampang kok. Perhatikan ketika memilih tempat wawancara dan foto. Ketika pertama memilih Jakarta Selatan ternyata baru bisa tanggal 22 April, padahal tiket ke Kyoto tanggal 20 April. Akhirnya saya memilih Kantor imigrasi Serang saja yang lebih sepi, bisa langsung besoknya. Oh ya, mesti dibold bahwa kita bisa membuat paspor di kantor imigrasi di mana saja, ndak mesti sesuai domisili KTP.

Nah setelah proses online ini ada email masuk berisi slip pembayaran ke Bank BNI sebesar Rp. 330.000.

Screen Shot 2015-04-22 at 5.56.53 PM

Nah slipnya diprint dan kemudian bayar ke BNI. Beberapa jam saat setelah itu ada email baru dari Imigrasi, undangan untuk wawancara dan pemotretan di Kanim (Kantor Imigrasi) yang diminta.

Screen Shot 2015-04-22 at 5.57.16 PM

Nah besoknya saya ke Kanim Serang. Ternyata ramai oleh para calon peserta umroh yang mengajukan paspor juga. Nah jangan lupa bawa KTP asli (dicopy dua sisinya bersebelahan), kartu keluarga (dicopy) dan juga akta kelahiran atau ijazah (dicopy) serta paspor lama. Lama memang menunggu giliran foto. Beres jam 13.00 dan saya langsung makan sate.

Paspornya jadi dua hari kemudian. Saya pemotretan selasa, paspor saya ambil jumat. Ini keuntungan melakukan aplikasi secara online karena kalau tidak setelah pemotretan mesti ke bank dan balik lagi ke imigrasi, lebih lama dan repot gitu.

Ketika mengambil paspor inilah saya bertemu orang gila, ah nanti aja diceritakannya ya.

Iklan

Minum Gratis di Kyoto

Berolahraga di ruang terbuka?

Atau bikin acara makan-makan di tepi sungai?

Gak usah ribet mikir air putih layak minum.

Di Kyoto, di beberapa tempat seperti tepi sungai kamo dan taman-taman bermain, terdapat keran yang airnya layak untuk diminum. Sebetulnya tak hanya keran di tempat semacam ini, keran di rumah yang buat cuci piring sekalipun (baca: wastafel), layak untuk diminum.

Jadi kalau sekedar air putih mah, insyaAllah tidak sulit.

minum gratis

Obrol punya obrol dengan pegawai PAM Kyoto sewaktu main ke sana, dia yang pernah membantu PAM Jakarta mengatakan, air minum hasil pengolahan PAM di Jakarta sebetulnya bisa langsung diminum. Yang membuatnya tidak layak minum ketika sampai di rumah adalah kualitas pipa (kebocoran, karat, dsb) dari tempat pengolahan sampai ke tujuan. Begitu katanya.

Jalan-jalan di Pasar Santa

Hmm kemarin  puas juga jalan-jalan di pasar Santa.

Ha ha, tentu saja ndak beneran nongol di sana.

Ya, saya (baca: akun instagram @abahamid) cuma berkeliling di beberapa akun instagram mereka.

Pasar Santa kabarnya memang jadi tempat nongkrong yang lagi seru di Jakarta. Buat yang bosen sama mall, cafe dan berbagai tempat mainstream lainnya, rasanya ini memang menarik. Nongkrong di pasar gitu loh.

Beberapa kedai makanan juga nampaknya dibuat nggak asal-asalan. Pake konsep yang serius gitu.

Mereka juga memanfaatkan jejaring sosial dengan antusias. Misalnya beberapa kedai buka secara iregular, untuk mengetahui jadwal kapan buka mesti memantau akun instagram mereka.

Jadilah saya yang ribuan kilometer jauhnya cuma bisa ngiler melihat @roti_eneng, @roastbeefgusto, @abcd_coffe, @kedaiaput, @barnana_jkt, @mie.chino, atau @papricano_mexicacantina.

Hmmm di bawah ini hasil blusukan kemarin di pasar Santa, tentunya via instagram.

Kalo punya akun di sana, follow aja akun mereka yang tertera di foto ya.

15695623334_43fa0abcc9_o 15698164833_9a11a1466c_o 16130663850_9dda0d3df4_o 16131856969_4509411275_o 16132182317_9005ce1639_o 16292101986_5cf2345e60_o 16292102766_69a0a75d48_o 16317178502_9cdef53526_o 16318045425_71a1a8a813_o 16318045985_18ae29036c_o

Membuat Bakso Disertasi

Hmm entah kenapa ini selalu terjadi.

Semakin mendekati deadline atau masa ujian, semakin pula saya rajin di dapur.

Minggu depan saya akan menghadapi Preliminary examination, semacam oral examination untuk bab 1-4 disertasi saya.

Nah buku-buku juga sudah banyak yang saya pinjem dari perpustakaan.

Namun saya lebih tertartik masuk dapur. Apalagi musim dingin, terkangen-kangen pada bakso di tanah air.

Hmm untunglah Ayu punya resep rahasia yang ditulisnya di blognya. Jadi aku intip dan praktekkan saja, kebetulan punya daging sapi giling.

Hasilnya, luar biasa saudara-saudara. Namanya yang cocok apa ya? Bakso disertasi mungkin 😉

Selamat menikmati gambarnya ya, he he

IMG_0625 IMG_0627 IMG_0629

Fukubukuro Montbell

Sudah baca tulisan saya soal fukubukuro?

Nah karena satu dan lain hal maka saya mengubur dalam-dalam niat berburu fukubukuro. Walaupun sudah ngidam antri di apple store di tahun ke tiga ini.

Ndilalah seorang kawan menghubungi, ia berada di toko montbell dan menawari untuk membeli fukubukuro montbell. Sempat bingung, tapi akhirnya memutuskan mengambil juga. Pertimbangannya jaket yang sekarang saya pakai sudah berumur dan mulai ada tanda-tanda kerusakan. Padahal musim dingin masih panjang.

Lagipula montbell merek outdoor yang keren, yang kalau nggak diskon harganya bikin pening.

Nah begitu paket sampai, ini dia isinya:

1. Jacket lightdown seharga 16.000 yen

2. Celana panjang daleman musim dingin seharga 5000 yen

3. kaos seharga 3000 yen

4. Dompet serbaguna seharga 1200 yen

Total jenderal dapet barang seharga 25.200 yen. Harga fukubukuronya 10.000 yen, jadi untung 15.200 yen.

2015-01-02 22.12.31

Jadi Tester Makanan Halal

Sebagai mahasiswa kismin, makanan gratis pastinya menggembirakan. Ceritanya sekitar sebulan setengah yang lalu ada tawaran menjadi tester makanan halal. Nah kami bersemangat ndaftar. Jadi memang pemerintah dan UKM di Jepun sedang bersemangat menggenjot pariwisata, termasuk dari negara-negara muslim. Tentu saja makanan jadi masalah besar karena banyak makanan di Jepun dikategorikan harom.

Salam partner salah satu inkubator bisnis (CMIIW) di Kyoto bersama beberapa UKM menggelar test makanan halal. Nah saya sekeluarga dan Pak Muhar sekeluarga ikutan. Masakannya ternyata disediakan rumah makan melayu – india yang dimiliki orang Jepun muslim. Kari begitu dan rasanya pedes-pedes enak. Selain itu ada juga camilan dan roti dengan label halal.

Kami diminta mengisi lembar penilaian soal rasa dan juga kisaran harga yang pas.

2014-10-19 13.13.00

Nah yang saya tulis di lembar evaluasi: Turis tentunya datang ke Jepang untuk makan makanan Jepun. Tentu saja akan lebih baik jika yang disediakan adalah makanan Jepun seperti udon, ramen, soba, sushi, tempura, dll berbahan dasar halal.

Setuju kan?

Bagaimana ngopi anda pagi ini? (1)

Anda sudah ngopi?

Ya, minum kopi pagi hari bisa mempercepat kerja otak, he he. Saya percaya, apalagi setelah semalam isi kepala didefrag dengan tidur lelap. Hmm lebih mantap lagi karena pagi di Kyoto amat dingin selepas musim gugur berlalu.

Bukan ngopi apa pagi ini yang saya tanyakan, tapi, bagaimana ngopi anda?

Ya, ada berbagai macam menikmati kopi atau cara bikin kopi.

Dalam beberapa waktu ini, saya sedang nggak nubruk. Maklum persediaan kopi dari Indonesia yang enak ditubruk sedang habis. Ya baik kopi bubuk beneran maupun kopi instan. Hmm nubruk a la Indonesia, terlebih kopi instan memang nggak perlu disaring, ampas terbenam nyaman di dasar cangkir. Karena rasa ampas ada di gelas, maka rasa kopi bertahan lama. Terlepas dari kualitas kopi instan yang … begitulah.

Tapi kalau kopi spesialiti, misalnya kopi aceh, rasanya perlu disaring. Karena bubuk kopi sering mengapung di permukaan mengganggu kenikmatan kopi aceh yang nikmat banget itu. Saya sampai sekarang suka banget kopi Ulee kareng. Ini kopi yang tegukan pertamanya membuat saya tersenyum bahagia. Suer.

Hmm tapi saya sedang kehabisan kopi Indonesia, jadi terpaksa beli kopi Jepun. Maksudnya kopi blue mountain dari Jamaica yang diolah di Jepun. Dipanggang dan digiling terus diberi kemasan. Kebetulan ada toko kopi di dekat rumah. Kita bisa minta digilingkan, jadi rasanya segar.

Setidaknya ada empat cara bikin kopi yang selama ini saya praktekkan

1. Disaring

Ini cara yang paling gampang, asal punya saringan. Air dimasak sampai mendidih, bubuk kopi disimpan di cangkir. Nah kemudian air mendidih dimasukkan ke cangkir dan ditutup agar keluar aromanya dan mengembang. Kemudian saring ke cangkir yang lain. Rasanya enak


20141203_163126

2. Pake alat penyeduh kopi (Coffee machine)

Yups, kalau ini sih tinggal masukkan kopi ke  tempatnya yang sudah diberi kertas drip coffee. Kemudian masukkan air sesuai takaran, pencet tombol power. Air akan menguap dan turun ke bubuk kopi. Kopi bisa dinikmati. Cukup enak.

Belum sempat dipotret, mesin penyeduh kopi saya lagi rusak, he he.

3. Drip Coffee

Hmm bagaimana menjelaskannya ya?

Cara menyeduh kopi dengan drip kopi mesti ada drip-nya (kayak cangkir, tapi berlobang), kertas drip coffee-nya (untuk menaruh kopi). Kertas drip ditaro di drip (menurut kabar dibasahi dulu lebih enak hasilnya), kemudian masukkan kopi secukupnya, dan taruh di atas cangkir. Kemudian air mendidih dituang pelan-pelan. Kopi akan tergenang air dan air kopi akan mengalir ke cangkir di bawahnya.

Untuk hasil lebih nikmat, tuang pertama sedikit saja hanya untuk membasahi kopi. Tunggu lima detik sampai aroma keluar. Setelah itu tuang lagi memutar pelan-pelan sampai keluar buih berwarna cokelat. Jangan sampai luber lho.

Kopi siap dinikmati. Enak juga.

20141203_163106

20141203_1634134. French Press

Nah metode ini baru saya pakai beberapa minggu. Tepatnya setelah saya berhasil mendapatkan sebuah alat french press dari bazaar, seharga 35 yen 😉

Ajaibnya ini langsung menjadi cara favorit saya ngopi. Soalnya menyeduh kopi dengan cara ini menghasilkan cita rasa yang kuat.

Sederhananya, kopi dituang ke tabung french press-nya, kemudian diberi air mendidih secukupnya, setelah itu pasang jaring dan tutupnya. Tunggu sekitar 15 detik sampai kopi mengembang dan aroma keluar. Tekan jaringnya ke bawah. Proses menekan ini menyenangkan karena ampas kopi akan tertekan ke bawah dan akan dihasilkan kopi yang bersih dari ampas tapi memiliki cita rasa kuat. Nah tinggal kemudian disaring ke cangkir dan dinikmati.

Hasilnya: Enak banget 😉

2014-11-15 19.25.50

Kue-Kue Lucu di Jepun

Dalam seminggu ini saya berkesempatan makan kue-kue yang tak hanya enak, namun juga lucu. Kue ini tentu saja temannya kopi atau teh, jadi dimakan sambil menyeruput kopi atau teh, hmm uenak. Lebih enak sebetulnya karena ditraktir 😉

Kue pertama dinikmati di kedai teh ippodo. Bentuknya seperti Gunung Daimonji, lengkap dengan kanji Dai (大)

2014-08-08 15.12.30

Nah ini dia gunung Daimonji yang asli:

kalau yang ini, cheese cake yang dimakan semalam di Ninja Restaurant. Bentuknya seperti kodok, lengkap dengan payung daun sebagai hiasan.

2014-08-09 21.31.51

Ini brosur Restoran ninja

2014-08-09 21.08.41

Oh ya, di tempat ini Pak Ishaq memesan kue yang cukup aneh namanya:”Merchant and Corrupt Officer”, ini bentuknya:

Masak Ayam Goreng Kremes

Lagi bosen dengan ayam goreng tepung, opor dan soto. Tiba-tiba pengen ayam kremes. Baca beberapa situs yang menyediakan resep online, akhirnya terjun ke dapur.

Dimulai dari memotong ayam beku yang sudah mencair. Oh ya, ayamnya beli di mesjid Kyoto, ada cap halalnya. Kemudian menyiapkan bumbu ayam goreng. Aku mencampur bumbu ayam goreng bikinan sendiri (bawang putih, bawang merah, garam, dan temen-temennya), trus dicampur dengan bumbu instan ayam goreng, demi stabilitas rasa.

Nah, kemudian ayamnya direbus dengan api kecil, sampai matang dan air menyusut. Tapi tidak boleh sampai benar-benar habis, karena kaldunya akan dipakai menjadi kremesnya. Setelah dianggap cukup. Ayam ditiriskan, dan setelah nggak panas dimasukkin wadan dan ditaro di kulkas. Aku sempat menonton anime The Cat Returns bareng anak-anak, dilanjutkan dengan Kungfu Panda 😉

Nah menjelang makan siang, anak-anak pamit mengembalikan buku ke Tosyokan (perpustakaan), mengembalikan dan meminjam buku. Kebetulan Tosyokan punya Sakyo Ku hanya berjarak 500 meter dari rumah.

Aku kembali ke dapur dan mulai menggoreng ayam. Menggoreng ayam tentu saja kita semua sudah tahu caranya, minyak agak banyak, digoreng sampai ayam tenggelam dengan api sedang, sampai coklat keemasan.

Karena ayam goreng paling cihuy dimakan dengan sambal. AKu membuat sambal sendiri. Sambal sederhana saja, campur beberapa butir cabe, bawang merah dan putih, tomat, gula dan garam, ditambah satu sendok minyak goreng. Karena sedang malas mengulek, diblender saja, he he. Warnanya kurang asyik, tapi rasanya mantap juga.

Sekarang giliran bikin kremesnya. Nah membuat adonan kremes, mestinya mencampur kaldu dengan beberapa sendok makan tepung beras. Hanya karena di dapur tak ada tepung beras, akhirnya pakai tepung takoyaki yang tersedia. Adonannya nggak terlalu kental dan cair, sedang-sedang saja.  Setelah ayam selesai digoreng, baru kremes digoreng. Nah adonan dimasukkan kedalam wajan sedikit demi sedikit dalam api sedang sambil terus diaduk-aduk, jangan sampai menggumpal kayak bakwan. Mengaduk2nya mirip kalau kita bikin telur orak-arik. Nah mesti sabar sampai berwarna coklat keemasan, kemudian disaring agar garing dan minyaknya hilang. Jadi deh ..

Penampilan dan rasanya oke, puas rasanya. Begitu anak-anak pulang, kami sholat duhur berjamaah dan dilanjutkan makan siang. Ayam dan kremesnya habis tak bersisa… 🙂