Arsip Kategori: Karir Dosen

Menjadi Dosen di Indonesia #Edisi Revisi

(Seorang fans pembaca mengirim permintaan agar saya merevisi tulisan ini. Ditambah pula tetiba ada lonjakan traffic blog ini kemarin, khususnya di topik pendidikan tinggi. Saya putuskan pagi-pagi habis subuh merevisi tulisan berikut ini, agar tidak banyak yang tersesat tulisan lama, he he. Semoga bermanfaat terutama memberi gambaran awal dunia persilatan, eh perdosenan dari perspektif karir. Begitu pemirsah. )

Semua profesi tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya, pun menjadi dosen.

Salah satu hal baik menjadi dosen di Indonesia adalah kemudahannya menjadi dosen tetap/ tenure. Di beberapa negara lain, tak mudah menjadi dosen tetap. Kawan-kawan saya yang bergelar Doktor di Jepang atau Perancis, misalnya mesti mengikuti post-doc dulu, menerbitkan disertasi-nya menjadi buku, baru bisa melamar menjadi dosen tetap, itupun kalau ada lowongan (kabarnya semakin jarang). Kompetisi-nya juga cukup ketat karena portofolio di bidang akademik seperti publikasi ilmiah amat menentukan. Kalaupun ada kasus master menjadi dosen tetap, ini hal yang amat langka sekali, mungkin hanya untuk orang-orang super-cemerlang saja.

Di indonesia, syarat menjadi dosen hanya bergelar master saja, sedikit yang rekrutmen awalnya doktor. Bahkan beberapa tahun lalu, orang bergelar sarjana bisa menjadi dosen tetap. Saya menjadi dosen tetap PNS ketika masih sarjana di tahun 2006 Baca lebih lanjut

Iklan

Meluluskan Mahasiswa

Kemarin saya memposting beberapa foto sidang dan yudisium mahasiswa MAP Untirta di instagram.

Menyenangkan sekaligus mengharukan.

WhatsApp Image 2018-01-30 at 14.25.15

Sebagai Kaprodi, pembimbing sekaligus penguji untuk beberapa mahasiswa, saya tahu betul bagaimana teman-teman mahasiswa ini berjibaku dengan segala upayanya menyelesaikan studinya di MAP. Bahasa saya, lolos lubang jarum. Telat sedikit, mesti bayaran lagi 🙂

Nah, karena saya mengajar di kelas sejak sebagian mereka semester satu, dan jumlah mahasiswa Pasca tidak banyak. Saya agak paham proses perjuangan mereka.

Kelulusan dan menyelesaikan studi, ternyata tidak begitu berkorelasi dengan nilai di transkrip, keaktifan bertanya atau berdiskusi di kelas, atau penguasaan mahasiswa terhadap materi perkuliahan. Bukan berarti aspek-aspek ini tidak penting, tapi ini mah sudah seharusnya melekat dengan sendirinya karena proses belajar. Baca lebih lanjut

Bagaimana Melanjutkan S3 ke Luar Negeri?

Tulisan ini diilhami beberapa hal. Pertama, adanya kawan yang minta rekomendasi untuk sekolah ke luar negeri; kedua, teman yang bertanya tentang proses untuk bersekolah; ketiga, pertemuan dengan Ken Miichi Sensei yang juga menyinggung tentang kesempatan studi di Waseda; kelima, email Sensei beberapa waktu lalu yang minta rekomendasi tentang seorang pelamar; dan keenam, kamu. Ya tulisan ini dibuat untukmu 🙂

***

Tentu saja tulisan ini memiliki beberapa keterbatasan, utamanya pengalaman, waktu dan tempat studi saya. Saya mulai studi S3 di Jepun tahun 2012 dan selesai di tahun 2015. Pasti ada beberapa perubahan yang terjadi.

Baiklah kita mulai saja. Baca lebih lanjut

Beberapa Pertanyaan tentang Jurnal Internasional

Dalam beberapa waktu ini saya menerima cukup banyak email yang berkonsultasi (Baca: mengajak diskusi) tentang jurnal internasional. Alhamdulillah, ada juga yang percaya sama (tulisan di blog) saya, he he. Padahal saya newbie dalam penulisan di jurnal internasional, baru punya empat tulisan sahaja itupun banyak dibantu orang2 hebat. Beberapa waktu lalu saya juga terlibat diskusi cukup seru soal jurnal internasional dengan Pak Darwis di ruang dosen.

Nah, secara bersamaan hari senin lalu saya beruntung ikut pelatihan tentang jurnal internasional di FISIP Untirta. Lumayan merefresh beberapa hal. Namun ada beberapa hal yang nampaknya menjadi isu-isu penting dalam kaitannya dengan jurnal internasional baik disampaikan melalui beberapa email japri ke saya maupun berkembang dalam diskusi kemarin dan belum terbahas secara mendalam.

Kemarin saya memilih lebih banyak menjadi pendengar yang manis, namun beberapa isu tersebut akan saya coba ulas dalam tulisan di blog ini. Metodenya seperti metode di buku2 jaman baheula dan kitab2 pesantren. Tanya jawab 😉

Pertanyaan pertama. Apakah jurnal yang diindeks oleh Thompson reuters lebih tinggi nilainya daripada jurnal yang diindeks oleh Scopus.

Lebih tinggi dalam pertanyaan ini merujuk kepada penghitungan akngka kredit. Maklumlah aktivitas (dan karier) dosen banyak ditentukan oleh hal ini. Wajar, namun tentu tak boleh semata-mata karena angka kredit bukan? Mesti berangkat dari keinginan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan.

Namun saya menjawabnya dalam konteks kacamata sistem dikti sahaja.

Pada dasarnya Dikti mengkategorikan jurnal kedalam empat kasta, dan masing-masing memiliki nilai angka kredit yang berbeda.

a. Jurnal Nasional

b. Jurnal Nasional Terakreditasi

c. Jurnal Internasional

d. Jurnal Internasional Bereputasi

Jurnal nasional adalah jurnal yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: (1) Karya ilmiah ditulis dengan memenuhi kaidah ilmiah dan etika keilmuan (2) Memiliki ISSN (3) Memiliki terbitan versi online (4) Bertujuan menampung/mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian ilmiah dan atau konsep ilmiah dalam disiplin ilmu tertentu  (5) Ditujukan kepada masyarakat ilmiah/peneliti yang mempunyai disiplin-disiplin keilmuan yang relevan. (6) Diterbitkan oleh Penerbit/ Badan Ilmiah/ Organisasi Profesi/ Organisasi Keilmuan/ Perguruan Tinggi dengan unit-unitnya. (7) Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia dan atau Bahasa Inggris dengan abstrak dalam Bahasa Indonesia. (8) Memuat karya ilmiah dari penulis yang berasal dari minimal dua institusi yang berbeda  (9) Mempunyai dewan redaksi/editor yang terdiri dari para ahli dalam bidangnya dan berasal dari minimal dua institusi yang berbeda. Nah angka kredit bagi tulisan di jurnal nasional adalah 10 sedangkan  tulisan di jurnal nasional yang memenuhi kriteria di atas dan terindeks oleh DOAJ (https://doaj.org/)   diberi nilai yang lebih tinggi dari jurnal nasional yaitu maksimal 15.

Jurnal nasional terakreditasi adalah majalah ilmiah yang memenuhi kriteria sebagai jurnal nasional dan mendapat status terakreditasi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dengan masa berlaku hasil akreditasi yang sesuai. Btw database Jurnal Terakreditasi Dikti yang masih berlaku bisa dibaca di: https://abdul-hamid.com/2015/05/01/edisi-lengkap-dan-terbaru-jurnal-terakreditasi-dikti/.

Jurnal internasional adalah jurnal yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: (1) Karya ilmiah yang diterbitkan ditulis dengan memenuhi kaidah ilmiah dan etika keilmuan (2) Memiliki ISSN. (3) Ditulis dengan menggunakan bahasa resmi PBB (Arab, Inggris, Perancis, Rusia, Spanyol dan Tiongkok). (4) Memiliki terbitan versi online. (5) Dewan Redaksi (Editorial Board) adalah pakar di bidangnya paling sedikit berasal dari 4 (empat) negara. (6) Artikel ilmiah yang diterbitkan dalam 1 (satu) terbitan paling sedikit penulisnya berasal dari 4 (empat) negara. (7) Terindek oleh database internasional: Web of Science, Scopus, Microsoft Academic Search, dan/atau laman sesuai dengan pertimbangan Ditjen Dikti.

Nah jadi jelas, bahwa ada tiga database yang sampai sekarang digunakan Dikti yaitu: Web of Science (Thomson Reuters), Scopus, Microsoft Academic Search. Adapun laman lain yang digunakan Dikti antara lain http://www.scholarlyoa.com untuk memastikan apakah sebuah jurnal merupakan predator atau tidak.

Yag menentukan besar tidaknya nilai angka kredit bukan soal di indeks mana sebuah jurnal bisa ditemukan, tapi apakah tulisan tersebut memiliki faktor dampak (impact factor) dari ISI Web of Science (Thomson Reuters) atau Scimago Journal Rank (SJR) dari Scopus.

Jurnal internasional bereputasi adalah jurnal yang memenuhi kriteria jurnal internasional di atas, dengan kriteria tambahan terindek pada Web of Science dan/atau Scopus serta mempunyai faktor dampak (impact factor) dari ISI Web of Science (Thomson Reuters) atau Scimago Journal Rank (SJR) mempunyai urutan tertinggi dalam penilaian karya ilmiah dan dinilai paling tinggi 40.

Impact factor didefinisikan sebagai:

…….Average number of times articles from the journal published in the past two years have been cited in the JCR year. (http://admin-apps.webofknowledge.com/JCR/help/h_glossary.htm#JCR_year_g)

Sementara SJR didefinisikan sebagai

The SJR indicator measures the scientific influence of the average article in a journal, it expresses how central to the global scientific discussion an average article of the journal is. Cites per Doc. (2y) measures the scientific impact of an average article published in the journal, it is computed using the same formula that journal impact factor ™ (Thomson Reuters). (http://www.scimagojr.com/journalsearch.php?q=28773&tip=sid&clean=0)

Sehingga tidak benar kalau jurnal yang terindeks Thomson Reuters lebih tinggi daripada jurnal terindeks Scopus karena posisi Impact factor dan Scimago Journal Rank adalah sama, sama-sama dapat dinilai paling tinggi 40.

Namun lebih jelasnya dalam konteks penghitungan angka kredit ketentuannya adalah:

(1) Jurnal yang memenuhi kriteria jurnal internasional pada butir 8 dan terindek oleh database internasional (Web of Science, Scopus, atau Microsoft Academic Search) namun belum mempunyai faktor dampak (impact factor) dari ISI Web of Science (Thomson Reuters) atau Scimago Journal Rank (SJR) dalam penilaian karya ilmiah dan dinilai paling tinggi 30.

(2) Jurnal yang memenuhi kriteria jurnal internasional pada butir 8 yang belum terindek pada database internasional bereputasi (Web of Science, Scopus, atau Microsoft Academic Search) namun telah terindek pada database internasional seperti DOAJ, CABI, Copernicus, dan/atau laman sesuai dengan pertimbangan Ditjen Dikti dan dapat dinilai karya ilmiah paling tinggi 20.

Pertanyaan kedua. Jika saya memasukkan paper ke sebuah konferensi yang menjanjikan tulisannya terbit di jurnal, bagaimana memastikan jurnalnya berkualitas atau tidak?

Mesti dipahami bahwa tujuan mengikuti konferensi pada hakikatnya adalah untuk menyampaikan progress hasil penelitian dan mendapatkan feedback dari pembicara/peserta yang hadir. Nah karena itulah paper yang disampaikan tidak bersifat final dalam arti masih terbuka kepada berbagai masukan dan kritik. Masih bisa meluas, menyempit atau malah dibongkar.

Nah, proceeding adalah kumpulan dari paper-paper yang dipresentasikan (Internasional angka kreditnya 15, nasional 10) dalam sebuah konferensi.

Jika kemudian paper-paper tersebut hendak dipublikasikan dalam sebuah jurnal, maka proses penerbitannya sesungguhnya tidak berbeda dengan proses memasukkan kedalam jurnal seperti biasa. paper yang telah dipresentasikan diperbaiki berdasarkan berbagai masukan dan kritik kemudian dikirimkan ke pengelola jurnal. Walaupun bisa saja pihak panitia konferensi/panel bekerjasama dengan satu penerbit jurnal tertentu untuk menerbitkan satu edisi jurnal.

Jika jurnalnya merupakan jurnal edisi khusus, maka penilaiannya sama dengan jurnal internasional di atas (baca jawaban nomor satu) namun tidak bisa digunakan untuk memenuhi persyaratan khusus (Misalnya syarat khusus menerbitkan tulisan di jurnal internasional bereputasi sebagai calon guru besar).

Nah mengetahui predator atau bukan, gampangnya adalah memastikan apakah jurnal atau penerbitnya masuk kedalam daftar di http://scholarlyoa.com/publishers/. Kriteria jurnal predator versi Jeffrey Beal bisa dibaca di sini: https://scholarlyoa.files.wordpress.com/2015/01/criteria-2015.pdf.

Yups terdapat banyak debat soal predatory journal ini, namun ciri yang paling mudah adalah proses review yang tak masuk akal (bahkan mungkin tapa proses review langsung accepted) dan juga fee yang tidak masuk akal, mahal dan beberapa minta dibayarkan sebelum sebuah jurnal dinyatakan accepted (baca: processing fee). Beberapa kriteria lain juga adalah juga ketidakjelasan editorial board dan institusi. Sebagai contoh misalnya, beberapa bulan lalu seorang kawan pernah menanyakan jurnal yang dari namanya seakan-akan berafiliasi dengan Oxford University.

Screenshot 2015-10-13 11.17.33

Menurut penelusuran saya akhirnya saya menemukan bahwa jurnal tersebut tidak berafiliasi dengan Oxford University dan dikategorikan sebagai “Potential, possible, or probable predatory scholarly open-access publishers” oleh Jeffrey Beal.

Nah ketika hari ini saya mengecek laman jurnal tersebut, ternyata hasilnya:

Screenshot 2015-10-13 11.21.41

Ndilalah nama publisher beserta lamat websitenya telah berubah. Saya sendiri tak mengikuti apakah karena pihak Oxford melakukan protes. Ini dia website terbarunya.
Screenshot 2015-10-13 11.17.49

Nah satu masalah lagi ada di pertanyaan ketiga. Bagaimana menghadapi jurnal predator yang ternyata terindeks di Scopus atau Thomson Reuters?

Saran saya: lupakan saja, cari yang lain. OASP/Oxford ASP di atas juga mengaku (saya ndak mengecek) bahwa mereka terindeks Thomson Reuters.

Dan dalam kacamata Dikti, sepertinya jurnal yang terindikasi predator tak dapat dinilai walaupun mereka terindeks scopus/Thomson reuters.  Saya pernah mengikuti perdebatan (baca: komplain) dari seorang calon guru besar yag merasa karya tulisnya terindeks scopus namun ternyata masuk kedalam list predatory journal juga sehingga tidak bisa dinilai.

***

Nah biasanya sahabat saya protes: “Mid kok elu kayak juru bicara Dikti atau Gubermen aja”

Saya menjawab: “Biarin ah, gw cuma mau meluruskan banyak tahayul”

Sumber:

Antara lain Pedoman Operasional PAK Dosen.

Serang, 13 Oktober 2015. Sambil menunggu Ketoprak.

Lowongan Dosen di Universitas Brunei Darussalam

Seorang sahabat mengirimkan pesan, jika hendak berkarir di dunia akademik, UBD sedang membuka lowongan. Ya Brunei Darussalam nampaknya sedang membenahi pendidikan tingginya. Salah satu caranya adalah membuka peluang bagi orang-orang dengan portofolio bagus di dunia akademik untuk bergabung.

Hmm ini juga nampaknya kesempatan bagi akademisi cemerlang Indonesia untuk mengembangkan diri dan memperoleh penghasilan layak, sesuai dengan kapasitas.

Entry level untuk Education Officer saja sebesar 27240 BND (Kurang lebih sebesar Rp. 259.654.062,80) setahun. Nah jika anda punya gelar doktor bisa melamar jadi dosen dengan gaji bagi dosen pemula minimal sebesar 40,680 BND, kira-kira sebesar Rp. 387.765.318,46 setahun atau sekitar tiga puluh juta rupiah sebulan. Belum termasuk bonus tahunan, tunjangan  pendidikan anak  (sampai 4 orang, 5-21 tahun), bebas biaya kesehatan, mendapatkan tunjangan sewa rumah, dll.

Tertarik?

Sila baca info di bawah, atau klik tautan ini.

Oh ya jangan tanya ke saya soal proses penerimaan dan sebagainya ya, saya hanya meneruskan kabar ini.

***************************************

Brunei Darussalam’s Premier National University, UBD invites suitably qualified candidates to join us in shaping global future leaders and contribute as a Centre of Excellence in Teaching and Research.

UBD SALARY AND FRINGE BENEFITS

Salary range per annum: –

Education Officer between BND27,240 to BND50,880
Lecturer (with PhD) between BND40,680 to BND53,280
Assistant Professor/ Senior Assistant Professor between BND49,560 to BND76, 920
Associate Professor between BND87,600 to BND90,120
Professor between BND105,600 to BND230,400

Bonus payment after each 12 months of satisfactory service.

Gratuity payment of 25% of last drawn basic monthly salary x 36 months. Payable at the end of the contract.

No personal income tax scheme in Brunei Darussalam on income earned.

Among the other benefits

  • Education allowance for up to 4 children between the age of 5 and 21.
  • Subsidised housing rental.
  • Free medical service at Government hospitals and health centres.
  • Travel passages at the beginning, middle and end of the contract.

APPLICATION SUBMISSION

Completed application forms together with copies of academic certificates and comprehensive curriculum vitae with the names and addresses of three referees should be sent to: –

Registrar & Secretary
Universiti Brunei Darussalam
Jalan Tungku Link

Gadong BE1410
BRUNEI DARUSSALAM

Email: office.recruit@ubd.edu.bn

Application forms can be downloaded here and completed applications must reach us by 30 May 2015.

Only shortlisted candidates will be contacted and called for interview.

Lecturer | Assistant Professor | Senior Assistant Professor | Associate Professor | Professor

UBD School of Business and Economics

Finance | Financial Accounting and Reporting / Management Accounting | Human Resource Management | Management | Entrepreneurship | International Business | Logistics Management | Transportation Management | Regional / Urban Economics | Islamic Economics | Labour Economics | Environmental Resource / Energy Economics | Taxation and Auditing

Pengiran Anak Puteri Rashidah Sa’adatul Bolkiah Institute of Health Sciences

Clinical Pharmacy | Academia in Dentistry | Academia in Physiotherapy | Pathology | Clinical Academia | Anatomy | Physiology | Cardiac Care Nursing | Midwifery | Haematology and Blood Transfusion | Public Health | Epidemiology | Biostatistics | Microbiology | Proteomics (Biochemistry) | Hispathology (Pathology)

Sultan Hassanal Bolkiah Institute of Education

Humanities Education | Social Science Education | Malay Language and Literacy Education | Mathematics Education | Science Education | English Language and Literacy Education | Counselling | Special Education / Inclusive Education | Early Childhood Education

Faculty of Arts and Social Sciences

Computer Graphics and Art and Design Foundation | Animation and Digital Media | Film Production and Film Studies | Communication, Advertising and Photography | English Literature (Drama & Theatre Studies) | International Studies / International Relations / Diplomatic History | History of the Malay World / History of Islam | Phonology, Discourse Analysis, Methodology of Linguistics Research and Pragmatics | Modern Malay Literature / Comparative Literature | Brunei Literature and Philology / Traditional Malay Literature (Classical / Oral) Theory (Poetics / Aesthetics) | Malay Poetry / Literature / Islamic Literature | Literary Theory and Criticism / Modern Brunei Literature / Literature and The Media / Applied Literature / Folklore Studies / Malay Drama and Theatre | Urban Studies / Urban Planning / Land Administration / Financial Networks | Environmental Technology / Industrial Ecology / Ecological Design / Environmental Sustainability | Geomatics / Environmental Informatics / Geospatial Technology | Industrial Ecology / Ecological Economics / Sustainable Systems Ecology | Sociology / Anthropology

Faculty of Science

Physical Chemistry | Analytical Chemistry | Natural Product Chemistry / Drug Discovery / Bioavailability / Pharmacokinetics of Biomolecules from Plants Sources | Industrial and Applied Chemistry | Microbiology | Bioinformatics and Comparative Genomics | Enzyme Engineering and Bioprocess Technology | Environmental Science | Lower Plant Biology / Taxonomy and Diversity | Vertebrate Biology / Ecology (or Mammalian Biology) | Biochemistry | Food Science | Financial / Actuarial Mathematics (Specifically Financial / Actuarial Modelling) | Numerical Analysis | Databases and Security | Wireless and Mobile Computing | Atomic and Nuclear Physics | Polymer Physics | Physics in energy and Environment | Semiconductor Physics | Reservoir Modelling | Hydrogeology | Analytical Geoscience | Engineering Geology | Environmental Geology | Marine Geology / Oceanography

Institute for Biodiversity and Environmental Research

Conservation Biology

Sultan Omar ‘Ali Saifuddien Centre for Islamic Studies

Islam and Economic Thought | Islam and the ASEAN Community

Centre for Advanced Materials & Energy Sciences

Analytical Physics / Chemistry | Nano Materials / Nano Technology

Institute of Asian Studies

Environmental Studies | Anthropology | East Asian Studies | Comparative Literature and Film Studies

Academy of Brunei Studies

Malay Islamic Civilisation | Economics with Emphasis on Islamic Economics | Sociology Anthropology | Islamic Law

Institute of Policy Studies

Energy and Environment Policy and Management | Public Policy / Policy analysis / Policy Writing for Decision Makers | Public Management | International Relations / Global Governance

Faculty of Integrated Technologies

Mechanical Systems Engineering | Energy Systems Engineering | Telecommunication Systems Engineering | Embedded Systems Engineering

Centre for Advanced Research

Social Science / Sociology / Psychology / Economics / Policy Studies | Survey Methodology, Statistics / Sampling

UBD | IBM

Analytics and Computational/ High Performance Computing

Education Officer | Assistant Lecturer | Lecturer | Assistant Professor

Language Centre

English as a Second Language (ESL) and / or English for Specific Purposes (ESP) and / or English Communication Skill | French Language | Japanese Language | Spanish Language | Borneo Language

***************

Informasi dan pendaftaran di sini ya

Terbit Juga Secara Resmi: Pedoman Operasional PAK Kenaikan Pangkat/Jabatan Akademik Dosen

Akhrnya setelah beredar presentasi dan draftnya, yang ditunggu muncul juga, Pedoman  Operasional PAK Kenaikan Pangkat/Jabatan Akademik Dosen yang secara resmi diedarkan Dirjen Dikti, lengkap dengan tanda tangan Pak Djoko. Oh ya, lagi-lagi sumbernya Bunda Fitri yang baik 🙂

Monggo jika mau didownload di sini, atau langsung dibaca di bawah ini.