Arsip Kategori: dunia jepun

PRESS RELEASE: JAPAN’S FIRST MUSLIM-FRIENDLY APARTMENTS OPEN IN TOKYO

June 1, 2015 Screenshot 2015-06-02 18.36.56 To answer the needs of Japan’s growing Muslim community, Tokyo real estate agency SAKURA HOUSE announces the opening of Japan’s first Muslim-friendly apartments in Tokyo. SAKURA HOUSE’s ITABASHI MUSLIM-FRIENDLY APARTMENTS are the first Japanese apartments that are exclusively for Muslims who are going to, or are already in Japan. The apartments are located in Tokyo’s Itabashi ward, near Hasune Station on the subway Toei Mita Line, providing residents good access to central Tokyo, including the mosques in Otsuka and Okachimachi. All rooms are furnished, with fully-equipped kitchens; with two bedrooms, the rooms are suitable for stays by families and groups. Monthly fees start at 110,000 yen, covering costs for electricity, water, natural gas, furnishings, Internet Wi-Fi and maintenance. Web page: http://www.sakura-house.com/en/B00298/room

For further information or to make arrangements for a tour of the above residence, please contact: LUTFI BAKHTIYAR SAKURA HOUSE Public Relations Manager Tel: +81-3-5330-5250 Fax: +81-3-5330-5251 E-mail: lutfi@sakura-house.com About SAKURA HOUSE SAKURA HOUSE is a Tokyo real estate agency providing furnished monthly rooms for students, interns, working professionals and vacationers from around the world who are going to, or are already in Japan. 1,300 apartments, share house rooms and dormitory beds in 120 Tokyo area locations. Web site: http://www.sakura-house.com

Iklan

Jadwal ke Dokter Gigi

Wah untung gak lupa.

Tanggal 21 Mei jam 16.00 ini jadwal periksa gigi. Ya semenjak beberapa bulan lalu saya melakukan pemeriksaan gigi di Tsuji Dental Clinic. Sebetulnya ini dokter giginya Ayu dan Ilham dan Ibun. Saya ndak pernah mau diperiksa gigi. Saya suka membayangkan diperiksa gigi itu seperti tersangka diinterogasi CIA. Kalau gigi saya dicabut trus diganti batu akik gimana? Atau dipasangi penyadap?

Apalagi saya sebetulnya merasa gak punya masalah dengan gigi. Dulu waktu muda kalau sakit gigi biasanya cukup kumur-kumur dengan air garam. Lagipula lebih baik sakit gigi daripada sakit hati kan?

Nah setelah dua tahun diyakinkan dan saya kehabisan alasan konyol, akhirnya mau juga saya diperiksa. Oh ya, bersekolah di jepun memang salah satu kesempatan emas untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dan murah, apalagi buat anak-anak. Mereka membayar murah sekali karena hanya perlu membayar 30% dari biaya sesungguhnya. Ya, karena kita membayar asuransi kesehatan. Nah biaya asuransinya pun lebih murah dari seharusnya karena saya berstatus mahasiswa beasiswa dengan penghasilan rendah alias kismin. Jadilah saya sebagai pemegang kartu jepang sehat (baca: asuransi) bisa berobat dengan baik dan terjangkau.

Balik ke soal diperiksa gigi.

11258121_809370719178735_2072700107_n

Kartu Berobat Gigi dan Kartu Jepang Sehat

Sesuai dugaan saya, dokter menggeleng-gelengkan kepala ketika memeriksa gigi saya pertama kalinya. Ia kelihatan sedang menguatkan dirinya sebelum berkata : “Very dirty”. Wah saya jadi malu banget.

Ia kemudian bertanya juga berapa kali saya sikat gigi dan berapa menit setiap kali sikat gigi.

Ya saya jawab dua kali, setiap kalinya sekitar 2-3 menit.

Dokter gigi berkata lagi, “Sikat gigi sampai berdarah ya, gak ada darah gak bersih”.

Hadeuh.

Jadilah selama beberapa kali ke dokter gigi yang dilakukan adalah proses pembersihan karang.

Nah jika nanti saatnya pulang ke Indonesia, masih perlu ke dokter gigi nggak ya?

Ehmmm

Setelah Handphone Masuk Mesin Cuci di Jepun

Entah mungkin sudah pikun, smartphone dalam jaket hoodie ikut tercuci dalam mesin cuci. Sempurna sampai bersih, wangi dan kering karena dijemur, masih di dalam kantong.

Urusannya jadi panjang.

Smartphone di Jepun biasanya menggunakan sistem berlangganan. Nah kali ini saya memakai Samsul S4 dari docomo. Dulu hijrah dari softbank karena alasan pragmatis, dapet cashback 40.000 yen (empat puluh ribu yen). Dasar mahasiswa kismin mata duitan, langsung berpaling begitu saja (baca ceritanya di sini). Jadilah waktu itu menggunakan Samsul S4 menggantikan Ipin 4S. Oh ya, nomornya dengan sistem MNP bisa tetap sama, akhirannya sesuai tanggal lahir saya: 10481 😉

Begitu ketauan tercuci saya mencoba berbagai saran. Mulai dari dimasukkan ke dalam beras seperti buah alpukat, sampai dikeringkan di pemanas dan karpet hangat. Hasilnya, lampu berkedip dan batere membengkak. Layar tetap tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Akhirnya datanglah ke toko Docomo di Takano. Menunggu satu jam.

Untunglah ada mbak-mbak CS yang berbahasa Inggris. (Biasanya kalau tak bisa bahasa Inggris memaka penerjemah via telepon). Si Mbak membuka  handphone memeriksa bersama teknisi, dan menyatakan.

“Maaf Mas, ini ada tanda-tanda basah”

Dia menjelaskan bahwa ada stiker putih yang berubah menjadi ungu. Itu tanda handphonenya basah. Basah, mati total, batere menggelembung membuat Mbaknya mengatakan bahwa si Samsul tak bisa diselamatkan lagi.

Ia memeriksa asuransi, ternyata kami tak berlangganan asuransi.

Jadi pilihannya, menyudahi kontrak dengan membayar denda dan sisa cicilan handphone. Atau membeli handphone baru menggantikan handphone yang sudah almarhum.

Kalau berhenti dendanya 10.000 yen ditambah cicilan handphone sekitar 3.500 yen dikali lima bulan. Jadinya banyak. Ini ibarat sudah jatuh tertima tangga. Tapi apa boleh buat, itulah kontrak. Beli handphone baru di docomo juga mihil, bisa lebih murah kalau membuat kontrak baru dua tahun tapi teteup mesti menutup kontrak lama yang artinya bayar juga.

Si Mbak keukeuh walaupun kami menunjukkan wajah memelas “It’s promise”, katanya. Maksudnya “Ini adalah perjanjian”.

Mbulet banget pokoknya

Hmm akhirnya aku bertanya, bisa ndak kalau memakai handphone lain dan tetap melanjutkan sisa lima bulan tanpa kena denda? Ia menjawab : “Bisa, tapi mesti handphone docomo dan pastikan ndak punya tunggakan”.

Akhirnya kami mengakhiri pembicaraan tanpa keputusan.

Hmm sebenernya ada iphone bekas dulu softbank yang sudah diunlock dengan gevey card. Pake kartu telkomsel sih oke, tapi pake kartu docomo ini ndak mau jalan internetnya, hanya suara dan sms saja. Padahal biaya langganan terbesar ya internetnya, karena harga gadget samsulnya digratiskan. Kontraknya begitu, mbulet pokoknya.

Pulang kami kehujanan dan kemudian makan malam.

Setelah itu berbincang dan akhirnya memutuskan, beli handphone bekas secara online di sofmap. Harga handphone bekas di Jepun cukup murah karena dikunci oleh operator. Jadi tidak terlalu laku. Oh ya, untuk gadget sofmap rasanya lebih murah daripada ikut lelang di Yahoo Auction.

Waktu berlalu, tak sampai satu purnama.

Di suatu pagi bel berbunyi, ternyata mas-mas Kuro Neko datang membawa paket, isinya Samsul Note3 batangan dari sofmap.

Dicoba, semua berjalan lancar jaya, termasuk internet dan telepon.

Case closed, saatnya bayar tagihan kartu kreditnya 😉

Jika Residence Card Hilang di Jepang

Saya mau berbagi pengalaman ceritanya.

Dua minggu lalu, residence card (KTP buat penduduk asing alias alien atau gaijin) ketelisut entah dimana. Sudah dicari di sana dimari tidak ketemu-ketemu. Di miscall juga tak diangkat 😉

20150106_162041Akhirnya, kemarin saya memutuskan membuat residence card yang baru. Hmm ini urutannya…

1. Lapor ke Koban atau Police box

Di sini si bapak polisi akan menanyakan soal kapan dan di mana kartu itu hilang dan akan membuat surat pengantar untuk dibawa ke kantor polisi terdekat. Nah saya dirujuk ke Kantor polisi Kawabata dekat kantor imigrasi. Surat pengantar tidak diberikan ke saya, hanya tanda terimanya saja.

2. Membawa Surat Pengantar ke Kantor Polisi

Di kantor polisi Kawabata, saya menunjukkan tanda terima lapor di Koban. Langsung diarahkan ke bagian kehilangan dan ajaibnya surat yang ditulis Pak polisi di Koban sudah ada di sini. Oh ternyata difax 😉

Di sini saya mengisi dua macam formulir tentang kehilangan sebagai bahan surat pengantar ke Kantor imigrasi. Isiannya pake bahasa Jepun pula, hadeuh. Oh ya, ada biaya administrasinya lho, seikhlasnya 400 yen. Namun nggak seperti di negara tetangga, biaya administrasinya digunakan untuk membeli materai, seperti kalau kita mengurus perpanjangan visa. Menunggu beberapa saat, surat kelar. Langsung ngebut ke kantor imigrasi.

3. Kantor Imigrasi Kyoto

DI kantor imigrasi, saya menyerahkan surat pengantar dari kantor polisi. Mas-mas petugasnya meminta paspor dan foto (Jangan lupa bawa foto daripada mesti foto lagi di photobox….) dan meminta saya mengisi formulir. Formulir diisi dengan romanji dan kemudian diserahkan. Saya kemudian diberi nomor antrian.

Sekitar lima belas menit kemudian saya dipanggil, dan mbak-mbak petugas loket menyerahkan residence card yang baru dengan muka serius sambil berkata: “Jangan hilang lagi ya”.

Kampus, Internet, AC dan Makanan yang Berlimpah ;)

Pagi-pagi saya sudah di kampus.

Sebenernya belum terlalu pagi sih, jam 10.

Tapi parkir sepeda masih sepi dan saya orang pertama di lab.

Musim panas memang mesti begini, apalagi kalau bukan demi alasan penghematan. 

Bisa sih bertahan di rumah, tapi Kyoto musim panas sumuknya ampun-ampunan.  Badan gelisah (geli-geli basah) karena berkeringat. Nah, menyalakan AC terntu saja menyenangkan, tapi hati bisa jadi gelisah, karena biaya listrik melonjak tinggi. Yups, musim dingin dan panas memang musim listrik mahal. Pelan namun pasti merangkak terus. 

Apalagi belum ada kepastian kapan beasiswa dikti akan turun. bahaya

Kampus menjadi tempat melarikan diri yang nyaman. Ada AC, internet, kopi dan makanan yang berlimpah. Maklum saya dan teman-teman memang sama-sama rajin. Teman-teman saya rajin membawa makanan, sementara saya rajin menghabiskan 😉 Adil kan?

Tengok saja meja belajar kami…

20140820_095646

 

Nah saya mau fesbukan dulu mengerjakan disertasi dulu ya, bye

 

Jika Mendapat Surat Keriting

Tahukah anda apa yang paling menyulitkan tinggal di Jepun?

Ya, ketika ada surat dari pihak lain, entah itu pemerintah, bank, dan yang paling sering sekolah anak.

Maklum, setiap hari kami di sini punya kebiasaan buka kotak surat tiga kali sehari, berharap ada surat pemberitahuan kalau beasiswa dikti sudah ditranfer 😉

Namun surat yang ditunggu nggak datang-datang, telat (maaf curcol). Yang rutin datang malah surat yang ditulis dalam bahasa kanji yang keriting, masih asing walaupun sudah dua tahun tinggal di sini.

Misalnya ini, baru saya temukan dalam kotak surat:

2014-08-19 13.18.01

Sampai botak sariawan membacanya tetup nggak paham-paham.

Tentu saja ada solusi sih, bertanya ke teman Jepun, orang Indonesia yang paham kanji, atau kalau  perasaan mengatakan suratnya kurang penting abaikan saja.

Nah, masalahnya perasaan saya sering salah 😉

Kue-Kue Lucu di Jepun

Dalam seminggu ini saya berkesempatan makan kue-kue yang tak hanya enak, namun juga lucu. Kue ini tentu saja temannya kopi atau teh, jadi dimakan sambil menyeruput kopi atau teh, hmm uenak. Lebih enak sebetulnya karena ditraktir 😉

Kue pertama dinikmati di kedai teh ippodo. Bentuknya seperti Gunung Daimonji, lengkap dengan kanji Dai (大)

2014-08-08 15.12.30

Nah ini dia gunung Daimonji yang asli:

kalau yang ini, cheese cake yang dimakan semalam di Ninja Restaurant. Bentuknya seperti kodok, lengkap dengan payung daun sebagai hiasan.

2014-08-09 21.31.51

Ini brosur Restoran ninja

2014-08-09 21.08.41

Oh ya, di tempat ini Pak Ishaq memesan kue yang cukup aneh namanya:”Merchant and Corrupt Officer”, ini bentuknya:

Ada Alay di Gunung Fuji

Tulisan Cla-X Indonesia dan Rudai/Rudal di beberapa batu di Fujisan sungguh membuat hati saya dongkol.

Ya, anak yang menulis graffiti ini betul-betul sukses membuat malu orang Indonesia, khususnya di Jepang. Kami setidaknya mesti mempersiapkan diri menjawab berbagai pertanyaan yang akan muncul. Ayu, yang tadi pagi ikut melihat berita ini sudah khawatir “teman-temanku tahu tidak ya?”. Maklum, Ayu minoritas di sekolahnya, hanya ia dan adiknya Ilham, anak Indonesia yang bersekolah di SD-nya.

Untunglah sekarang masih liburan musim panas.

Screenshot 2014-08-08 09.56.08

Saya sendiri tidak menunjuk hidung siapa-siapa. Jikalau istilah “Alay” digunakan dalam judul, itu merujuk pada gaya bahasa dalam graffiti: Cla-X yang menurut beberapa kawan di facebook bisa dibaca Kla-10 alias Kla-Ten. Bisa jadi merujuk pada dari mana si pembuat heboh ini berasal. Jika benar, ini secara khusus mempermalukan Klaten di seluruh dunia.

Padahal hubungan Jepang dan Indonesia dalam konteks negara dan masyarakat semakin lama semakin baik. Jika tidak ada aral melintang, akan ada kebijakan bebas visa bagi WNI untuk datang ke Jepang. Ini menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi dari Jepang ke Indonesia maupun ke masyarakat Indonesia.

Selain itu, berbagai kebijakan yang ramah terhadap kaum muslimin juga semakin banyak. Pemerintah dan asosiasi misalnya, mulai menyediakan informasi makanan halal bagi pengunjung muslim. Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar, ini tentu menyenangkan bukan? Sebagai contoh silahkan buka situs ini yang menyediakan info makanan halal di Kyoto. Oh ya, sarana ibadah juga mulai diperhatikan. Di kampus saya misalnya, tersedia mushola untuk melaksanakan sholat lima waktu.

Screenshot 2014-08-08 09.35.00

Di sisi lain, ada banyak orang Indonesia yang berada di Jepang untuk sekolah maupun bekerja. Saya sering mendengar cerita, pekerja dari Indonesia disukai di Jepang, karena baik dan pekerja keras. Mahasiswa dari Indonesia juga cukup disukai karena biasanya pintar dan ramah.

Amat disayangkan jika kepercayaan yang didapatkan dengan tidak mudah dihancurkan begitu saja oleh mahluk semacam “Cla-X” ini dengan melakukan vandalisme di tempat yang dianggap suci dan merupakan warisan dunia (world heritage).

Terakhir, bagi saya ini soal pendidikan. Pendidikan berhasil mengantarkan seorang Cla-X ke Jepang, entah sebagai turis, pekerja atau anak sekolah. Namun pendidikan gagal mengajarkan anak ini cara berperilaku yang baik dan menghormati alam dan budaya orang lain.

Kepada warga Jepang saya mohon maaf sedalam-dalamnya.

 

Anime-anime Terbaik dan Menyenangkan (Menurut saya)

Ada yang menanyakan, apa saja anime yang menyenangkan?

Tentu saja banyak. Namun menurut saya, salah satu yang terbaik adalah anime-anime karya studio ghibli. Ceritanya bagus dan gambarnya indah. Serta biasanya memiliki kedalaman makna yang, entahlah… sulit diceritakan, namun bisa dirasakan setelah nonton. Hayao Miyazaki — orang di belakang karya-karya tersebut – memang jenius.

Memang ada yang suram seperti Grave of the Firefly, namun selain itu, rasanya menyenangkan. Kecuali mungkin Kaze Tachinu yang ceritanya terlalu advanced buat anak-anak, namun tetap OK.

Berikut 9 daftar anime yang OK. Beberapa belum saya tonton juga. Favorit saya Totoro dan Spirited Away, keren banget. Ponyo juga menarik, tsunami digambarkan dengan amat indah disana. Oh ya, link-nya ke situs IMDb, bukan ke link streaming. Jika mau streaming bisa ke sini, disana tinggal cari nama anime-anime dibawah dan bisa dilihat online.

1. Tonari no Totoro

2. Ponyo

3. Kiky’s Delivery Service

4. Spirited Away

5. Princess Mononoke

6. The Cat Returns atau Neko no ongaeshi

7. Kaze Tachinu atau The Wind Rises

8. Castle in The Sky

9. How’l Moving castle

Foto-foto Kunjungan Ke Sekolah Ayu dan Ilham

Hari ini mendapat kesempatan mengunjungi sekolah Ayu dan Ilham. Ya, pada waktu-waktu tertentu SD Negeri Yotouku memang mengundang orang tua untuk melihat langsung bagaimana anaknya dididik. Waktu kami datang Ayu sedang belajar di kelas, sementara Ilham sedang pelajaran berenang.

Ini sekolah dasar negeri gan.

Dengan membenahi tata kelola pemerintahan, memberantas korupsi dengan serius, mensejahterakan guru tanpa proses yang ribet (Ibu, alm.bapak, teteh2 saya guru), menjadikan pendidikan sebagai prioritas diatas semua yang lain, saya yakin kita juga bisa menjadikan SD Negeri kita tidak kalah dengan apa yang saya lihat hari ini. Semoga pemerintahan baru nanti memberikan kita optimisme untuk pembenahan pendidikan dasar kita.

Klik gambarnya biar besar 😉

Artikel terkait: Membangun manusianya.