Arsip Kategori: dosen ganteng

Menjadi Dosen di Indonesia #Edisi Revisi

(Seorang fans pembaca mengirim permintaan agar saya merevisi tulisan ini. Ditambah pula tetiba ada lonjakan traffic blog ini kemarin, khususnya di topik pendidikan tinggi. Saya putuskan pagi-pagi habis subuh merevisi tulisan berikut ini, agar tidak banyak yang tersesat tulisan lama, he he. Semoga bermanfaat terutama memberi gambaran awal dunia persilatan, eh perdosenan dari perspektif karir. Begitu pemirsah. )

Semua profesi tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangannya, pun menjadi dosen.

Salah satu hal baik menjadi dosen di Indonesia adalah kemudahannya menjadi dosen tetap/ tenure. Di beberapa negara lain, tak mudah menjadi dosen tetap. Kawan-kawan saya yang bergelar Doktor di Jepang atau Perancis, misalnya mesti mengikuti post-doc dulu, menerbitkan disertasi-nya menjadi buku, baru bisa melamar menjadi dosen tetap, itupun kalau ada lowongan (kabarnya semakin jarang). Kompetisi-nya juga cukup ketat karena portofolio di bidang akademik seperti publikasi ilmiah amat menentukan. Kalaupun ada kasus master menjadi dosen tetap, ini hal yang amat langka sekali, mungkin hanya untuk orang-orang super-cemerlang saja.

Di indonesia, syarat menjadi dosen hanya bergelar master saja, sedikit yang rekrutmen awalnya doktor. Bahkan beberapa tahun lalu, orang bergelar sarjana bisa menjadi dosen tetap. Saya menjadi dosen tetap PNS ketika masih sarjana di tahun 2006 Baca lebih lanjut

Iklan

Meluluskan Mahasiswa

Kemarin saya memposting beberapa foto sidang dan yudisium mahasiswa MAP Untirta di instagram.

Menyenangkan sekaligus mengharukan.

WhatsApp Image 2018-01-30 at 14.25.15

Sebagai Kaprodi, pembimbing sekaligus penguji untuk beberapa mahasiswa, saya tahu betul bagaimana teman-teman mahasiswa ini berjibaku dengan segala upayanya menyelesaikan studinya di MAP. Bahasa saya, lolos lubang jarum. Telat sedikit, mesti bayaran lagi ūüôā

Nah, karena saya mengajar di kelas sejak sebagian mereka semester satu, dan jumlah mahasiswa Pasca tidak banyak. Saya agak paham proses perjuangan mereka.

Kelulusan dan menyelesaikan studi, ternyata tidak begitu berkorelasi dengan nilai di transkrip, keaktifan bertanya atau berdiskusi di kelas, atau penguasaan mahasiswa terhadap materi perkuliahan. Bukan berarti aspek-aspek ini tidak penting, tapi ini mah sudah seharusnya melekat dengan sendirinya karena proses belajar. Baca lebih lanjut

Setelah Menjadi Doktor

 

Ini renungan di hari Jumat

Menjadi Doktor ini bukan pencapaian puncak di dunia akademik.

Ia adalah sebuah terminal saja, semacam mendapatkan lisensi untuk meneliti.

Seorang Doktor telah dianggap mampu untuk secara independen melakukan proses penelitian sampai selesai dalam bentuk laporan dengan kualitas tertentu, bahkan terpublikasi.

Soal kualitas pun tentu tidak dianggap sempurna. Karena itulah ada yang disebut Post-Doctoral, menyempurnakan riset atau karya ilmiah yang dibuat semasa S3.

Namun sayangnya¬† di negara tetangga, disertasi kerapkali dianggap puncak karya seseorang di bidang akademik. Begitu didapatkan gelar doktor, turun pula, kan udah sampe puncak ūüėČ

Baca lebih lanjut

Bagaimana Melanjutkan S3 ke Luar Negeri?

Tulisan ini¬†diilhami beberapa hal. Pertama, adanya kawan yang minta rekomendasi untuk sekolah ke luar negeri; kedua, teman yang bertanya tentang proses untuk bersekolah; ketiga, pertemuan dengan Ken Miichi Sensei yang juga menyinggung tentang kesempatan studi di Waseda; kelima, email Sensei beberapa waktu lalu yang minta rekomendasi tentang seorang pelamar; dan keenam, kamu. Ya tulisan ini dibuat untukmu ūüôā

***

Tentu saja tulisan ini memiliki beberapa keterbatasan, utamanya pengalaman, waktu dan tempat studi saya. Saya mulai studi S3 di Jepun tahun 2012 dan selesai di tahun 2015. Pasti ada beberapa perubahan yang terjadi.

Baiklah kita mulai saja. Baca lebih lanjut

Darurat Pendidikan Tinggi

Akhirnya puzzle itu terjawab ketika seorang kawan mengirim pesan dengan lampiran, sebuah Universitas terkemuka memberhentikan (Baca:DO) 767 mahasiswa S3 dan 600 mahasiswa S2.

***

Beberapa waktu ini Pak Supriadi Rustad (SR) bermain tebak-tebakan. Ia  menulis di blognya bahwa bersama tim Eka, sedang melakukan sebuah operasi cesar besar, membenahi aktivitas akademik sebuah universitas besar. Tak tanggung-tanggung, judul tulisannya adalah: ROBOHNYA UNIVERSITAS KAMI (1): BILA UNIVERSITAS JADI SUAKA PLAGIASI.

Screenshot 2017-06-12 21.31.03

Dalam tulisannya ia menyampaikan:

Rekomendasi Tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) yang secara khusus ditujukan kepada Menteri terkait usulan sanksi kepada pelaku tindak plagiat telah bocor merembes mengalir ke mana-mana terutama grup-grup media sosial komunitas pendidikan tinggi. Saya menyadari kebocoran itu setelah ditunjukkan melalui wa oleh seorang teman (rektor) yang dulu sering sama-sama cari rendeng (batang tubuh dan daun kacang tanah sisa panen sebagai pakan ternak) di kampung. Kami bertemu pada upacara 1 Juni yang lalu di Kemdagri.

Saya baru menyadari juga kebocoran itulah yang kemudian memicu peristiwa sebelumnya dua minggu yang lalu.  Tampaknya pada hari itu pemimpin perguruan tinggi (PT) tersebut mengundang dan mengerahkan  alumni doktor untuk menyikapi rekomendasi SR (mestinya nama saya) kepada Menteri.  Di dalam undangan kepada alumni sang pemimpin menyatakan bahwa SR mengusulkan kepada Menteri agar seluruh ijazah doktor dari PT itu dibatalkan.

Saya sendiri tak paham Universitas yang dimaksud oleh Pak SR.  Sampai sebuah mini reuni dengan kawan zaman hidup susah di kampus dulu kebetulan bercerita tentang apa yang terjadi di kampusnya sekolah sekarang:767 mahasiswa S3 dan 600 mahasiswa S2. di-DO karena alasan-alasan akademik dan mereka sedang berjuang agar status DO tersebut dicabut.

Konon, sanksi akademik superberat ini juga dampak dari audit akademik dari Tim Pak SR. Collateral damage? wallahua’lam. Namun nampaknya Rektorat Universitas tersebut menghindari temuan atau sanksi lebih besar dari Kementerian.

Yang menarik adalah walaupun Pak SR di atas mengatakan bahwa kebocoran sudah ke-mana-mana, namun media masih adem ayem saja.

Mungkin bomnya memang belum meledak, masih petasan-petasan kecil.

Bomnya akan meledak ketika lulusan doktor kampus tersebut yang memang amat cepat lulus dan punya kedudukan penting melakukan fight-back terhadap pembongkaran plagiasi yang sedang dilakukan oleh Pak SR dan timnya. Baca saja lanjutan tulisan di blog Pak SR:

Dugaan awal terjadinya tindak plagiat dari sejumlah peserta doktor didasarkan kepada analisis meta data file disertasi yang menunjukan sejumlah disertasi diproduksi dari satu komputer dengan akun user yang sama. Sejumlah dokumen soft copy disertasi diperoleh secara resmi dari kiriman Direktur PPs terkait melalui email yang hingga kini tersimpan dan tercatat dengan baik. Berdasaran meta data tersebut diketahui pula bahwa file disertasi di ‚Äúcreate‚ÄĚ pertama kali sekitar 40 hari sebelum yang bersangkutan dinyatakan lulus. Saya berpendapat tidak perlu menjelaskan fakta ini karena saya yakin pembaca sudah dapat memahaminya dengan logika sederhana.

Mengerikan sekali bukan? saya membacanya saja mual

Tulisan ini juga hendaknya dibaca bersama tulisan-tulisan Pak SR sebelumnya.

Semoga nilai-nilai akademik betul-betul ditegakkan dan tak terjadi penyelesaian secara adat.

Maju terus Pak SR, Blogger bersatu tak bisa dikalahkan ūüėČ

Sumber:

Blog Pak SR

Pesan Seorang kawan beserta lampiran

Catatan: Data di tulisan ini dibetulkan berdasarkan info Kang Anton Rahmadi dan benar adanya setelah datanya saya telusuri. Saya kecepetan bacanya, ternyata lebih mengerikan.

Mediocre is Mentality

Mas Ishaq, sahabat saya beberapa waktu lalu dilantk menjadi Kepala Humas dan Protokoler Universitas Hasanudin. Saya sebagai teman ngopi, ikut bangga sekali.

Jadilah posting fesbuk kawan saya tersebut selanjutnya banyak tentang Unhas. Salah satunya mengabarkan tentang akreditasi berbagai Prodi di Unhas.

Screenshot 2017-05-27 10.55.08

Keren bingits, 50 dari 60 prodi S1 di Unhas terakreditasi A.

Nah kemarin juga kebetulan reuni di sebuah kegiatan di Bali dengan beberapa kawan dari Prodi Ilmu Politik UI. Kebetulan saya sempat mengajar juga di sana, hanya tak bertahan. Sementara Adit, Ipul dan Hurriyah, bertahan dan malahan menjadi para pejabat, he he. Iseng saya tanya Ipul, akreditasi prodi Ilmu Politik sudah A, bahkan sedang persiapan untuk akreditasi AUN. Maklumlah, jaman saya kuliah dulu beberapa kawan pernah memprotes prodi yang akreditasinya C dengan membuat kaos. Yang saya inget pake kaus itu adalah Eko.

Jadi kampus-kampus besar sekarang nampaknya sudah menjadikan akreditasi A sebagai standar minimal dan beranjak ke akreditasi internasional.

Sebagai Ketua Prodi S2 yang terakreditasi C, saya merasa tergugah juga. Saya kan ngajar di PTN juga, dan rasanya usia PTN kami udah gak muda-muda banget. Kebangetan selalu ngumpet dengan alasan ini.

Nah, kebetulan saya mengawas SBMPTN di STMIK Raharja, Kota Tangerang, sebagai Penanggungjawab lokasi. Saya sendiri tak terlalu mengenal kampus ini, walaupun lokasinya di pusat kota.

Namun saya kaget, ternyata 3 prodi di STMIK Raharja terakreditasi A. Mereka bahkan menerapkan ISO dalam tata kelola kampus. Obrol-obrol saya juga mendapatkan informasi bahwa Kaprodi mendapatkan pendapatan cukup besar untuk ukuran kampus di Banten.

Saya lantas ingat diskusi tahun lalu ketika mengawas di UMT dengan rektor UMT. Pak Rektor menyampaikan bahwa anggaran akreditasi untuk setiap Prodi mencapai 50 juta rupiah.

***

Hmm jadi mikir juga ya. Sekarang saya meniatkan merancang ini dan itu dengan anggaran amat minim. Menargetkan diri untuk mencapai akreditasi A, nyaris tanpa anggaran akreditasi. Duh.

Saya pikir kampus saya harus belajar. Jika kampus besar menargetkan A itu sudah biasa. Namun kampus yang tidak terlalu besar bisa mendapatkan akreditasi A untuk beberapa Prodi, itu hasil kerja keras dan tentu kebijakan anggaran yang berpihak.

Saya percaya, mediocre is not about position, it is mentality.

Meritokrasi di Kampus

Sekira satu bulan lalu saya berkesempatan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Komisi ASN dan Komisi ASN-nya Australia. Pelatihan tersebut nampaknya mempersiapkan para calon penyeleksi Jabatan Tinggi ASN baik di pusat maupun di daerah.


Hal yang cukup banyak didiskusikan adalah tentang merit sistem. Maklum selama ini ada banyak anggapan dan nampaknya benar terjadi bahwa promosi di kalangan ASN lebih karna faktor-faktor di luar kapasitas dan prestasi. Istilahnya PGPS : Pintar Goblok Pendapatan Sama.

Saya merefleksikan ini ke dunia kampus. Universitas tempat di mana orang belajar ilmu lebih banyak dibanding kebanyakan orang, harusnya menerapkan sistem meritokrasi ini by default. Orang dengan jejaring internasional yang luas dan dalam mustinya ngurusi kantor internasional, lembaga yang mengurusi riset ya mustinya diisi mereka yang punya reputasi penelitian, h index tinggi, ngerti persoalan jurnal dan punya publikasi di jurnal internasional bereputasi, urusan akademik ya musti diurus mereka yang sekolahnya sudah selesai (baca: doktor), dan sebagainya dan sebagainya.

Simpel, dan dengan demikian sebuah Universitas akan berkembang.

Jika menggunakan pendekatan kekuasaan, balas jasa, transaksional atau koncoisme, yang berkembang hanyalah perut sebagian orang saja. Institusi jalan, di tempat.

Ok, selanjutnya kita bahas talent pool di kampus.
Salam.

Pulang dari Singapore

Rombongan dengan bis kampus sudah meluncur pulang dari Bandara. Saya masih terpaku di bangku besi, menunggu istri yang akan mendarat beberapa jam lagi dari Beijing. Sejam lalu saya pulang dari Singapore, bersama Bu Nia membawa mahasiswa MAP sebanyak 26 orang menengok Merlion yang kesepian.

WhatsApp Image 2017-05-11 at 10.07.27 PM

***

Kegiatan ini tak sepenuhnya studi dan tak sepenuhnya jalan-jalan. Fifty-fifty lah begitu. Bahasa kerennya company visit. Kalau dulu disebut study tour, kalau DPR menyebutnya study banding. Suka-suka.

Namun kunjungan ini penting dan sesuai saran Prof Rhenald Kasali yang termasyhur itu di tulisannya yang berjudul paspor. Mengajak mahasiswa untuk melihat negara lain, ke luar dari tempurung dan zona nyaman. Kami juga tak main-main, menginjakkan kaki ke kampus nomor satu di Asia, National University of Singapore, berdiskusi dengan civitas akademika di sana dan mendapat banyak pencerahan. Siapa tahu kampus kami, Untirta bisa ikut maju pula. Jika keluarga Riady yang domisilinya di Banten (Karawaci banten tho) bisa menyumbang banyak untuk NUS, masak ndak bisa untuk Untirta, he he. Mosok nunggu saya jadi Rektor dulu ūüėČ

WhatsApp Image 2017-05-11 at 8.39.18 PM

WhatsApp Image 2017-05-10 at 7.39.31 PM

Saya amaaat menikmati reuni dan diskusi dengan Mbak Ai, kandidat Doktor di NUS, senior saya di FISIP UI (Kami sama-sama mantan Ketua Senat FISIP UI, cie cie) yang memang pintar. Ia mampu menjelaskan bagaimana Singapore bisa survive dengan cara membangun manusia-manusia unggul dengan kompetisi sejak pra-sekolah. Sebagai sosiolog, Mbak Ai membuat saya dan mahasiswa saya jadi cukup paham konstruksi bangunan sosial masyarakat Singapore.

WhatsApp Image 2017-05-10 at 7.38.09 PM

WhatsApp Image 2017-05-10 at 6.28.25 PM

Dari kunjungan ke NUS tersebut, tentu mahasiswa saya juga bisa melihat keseriusan pemerintah dalam pendidikan tinggi tercermin juga dari apa yang bisa disaksikan dengan mata: fasilitas belajar yang aduhai, kampus yang luas, fasilitas olahraga yang setara olimpiade, dan lain-lain tak bisa disebutkan di sini.

Oh ya, penjelasan tentang pelayanan publik juga mengesankan. Harap maklum, tujuan utama ke Singapore memang untuk belajar (baca: melihat dan merasakan) bagaimana pelayanan publik diberikan oleh pemerintah. Itu mata kuliahnya Bu Nia, sekprodi sekaligus pimpinan rombongan.  Bahasa kerennya Participatory Observation. Melihat bagaimana layanan transportasi, fasilitas khusus difabel, dan tentu saja pendidikan.

Tentu juga membuktikan kalau denda untuk yang makan minum atau merokok di kereta itu memang tidak hoax, termasuk untuk memberi makan burung sembarangan.

WhatsApp Image 2017-05-11 at 10.08.08 PM

***

Alhamdulillah semua sudah sampai ke tanah air dengan selamat. Pasti ada banyak manfaat lain. Ada yang phobia pesawat sudah bisa menumpak (ini bahasa Pandeglang artinya naik tapi secara harafiah) pesawat di dekat jendela, ada yang sudah punya keberanian mempraktekkan bahasa inggris (walaupun bahasa inggris salah paham: biar salah yang penting paham), ada yang sudah paham bagaimana membeli tiket MRT via mesin dan membaca peta jaringan MRT, ada pula yang terus berusaha tidak menjomblo lagi, eh.

Yang jelas masih ada tugas tersisa: menerbitkan buku tentang pelayanan publik berbasis pengalaman dan tentu teori di perkuliahan. Ini akan menjadi buku pertama yang diterbitkan MAP Untirta.

Oh ya, sepanjang perjalanan juga terjadi interaksi dan diskusi-diskusi yang dalam dan berkesan. Sudah dua mahasiswa MAP yang bertekad untuk study lanjut ke S3 luar negeri selepas lulus S2. Ada diskusi panjang yang dalam soal isu-isu agraria, pendidikan, politik dan kampus, sambil makan nasi briyani. Saya belajar banyak. Ada juga mahasiswa yang curi-curi waktu mendiskusikan tema tesisnya. We time ini sungguh berkualitas. Bahkan ada yang nekad nitip barang ke Kaprodinya karena belanja banyak sekali, he he

Btw..

Mau punya pengalaman seperti mahasiswa MAP di atas? ayo daftar ke MAP Untirta: Link Penerimaan Mahasiswa Baru. 

Up to the next level…

 

 

Edisi Lengkap dan Terbaru Jurnal Terakreditasi Dikti (Update 15 Januari 2018)

Dear rekan-rekan semua, secara mengejutkan di laman simlitabmas terdapat surat Keputusan Dirjen Penguatan Risbang Kemeriting (Kementerian Ristek dan Perguruan Tinggi) yang mengubah lampiran 48a/Kpt/2017 yang sempat diposting di blog ini.

Nah, jadilah surat keputusan tersebut saya posting menggantikan yang sebelumnya. Monggo disimak

Baca lebih lanjut

Potensi Bahaya Dosen Menulis Paper di Jurnal dari Skripsi Mahasiswa

Lazada Indonesia
Judulnya sudah pas belum ya?

Hmm begini awal mula kenapa tulisan ini dibuat.

Awalnya adalah perbincangan dengan seorang kawan di tepi Kamo sambil makan liwet.

Ia menyampaikan bahwa banyak dosen yang mempublikasikan artikel di jurnal yang bersumber dari skripsi mahasiswa. Lho kok bisa?

Ya bisa, lha wong entah atas dasar wangsit dari mana ada kewajiban menulis jurnal bagi mahasiswa S1, S2 dan S3. Kewajiban ini berdasarkan SE152/E/T/2012.  Nah, SE-nya itu sampe nyebut-nyebut negara tetangga segala saking bersemangatnya, he he. (Sila unduh di sini)

Jadilah kemudian, tugas membimbing skripsi termasuk juga menjadikan skripsi tersebut ke dalam format artikel di jurnal dan diterbitkan, biasanya di jurnal milik internal kampus. Nah, di banyak kampus, nama pembimbing dimasukkan menjadi salah satu penulis. Jadi jika mahasiswanya namanya Udin, pembimbing 1 Durno dan pembimbing 2 Dasamuko, maka penulis dalam jurnal akan ditulis: Udin, Durno, dan Dasamuko.

Hal ini konon juga kelaziman di beberapa negara, di mana pembimbing tesis atau disertasi juga namanya ditulis sebagai penulis ke sekian, yang jelas tidak pertama.

Nah sekilas memang semua baik-baik saja. Banyak dosen menikmati benefit ini. Namanya tercantum di banyak publikasi yang notabene berasal dari skripsi mahasiswa. Jika IT kampus rajin dan publikasi2 tersebut dimasukkan ke dalam repository yang tersambung ke garuda dikti atau google, bisa jadi karya ilmiah yang diproduksi dengan cara begini lebih banyak dari yang betul2 ditulis sendiri.

Tapi teman saya tersebut mengingatkan, ada potensi persoalan besar, ini seperti pisau bermata dua. betul memang sekilas kuantitas tulisan banyak. Tapi bagaimana jika artikel jurnalnya tidak berkualitas? Bagaimana jika ada plagiasi dalam karya tersebut? Bagaimana jika proses pengeditannya tidak tuntas? Mengubah karya tulis dari format skripsi menjadi artikel jurnal tidak semudah menggunakan fitur find and replace kata “skripsi” menjadi “paper” atau “artikel”.

Jika hal-hal tersebut terjadi, kiamatlah karir sang dosen. Ia yang tak cermat memeriksa (karena load skripsi banyak) bisa tersangkut persoalan plagiarisme.  Plagiarism by accident. Mengerikan bukan?

Apa yang terjadi dengan salah satu artikel di jurnal Phinisi dimana masih ada kata-kata:‚Äúadapun permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah merupakan‚Ķ‚ÄĚ ¬†adalah gunung es dari sekian banyak kasus yang saya yakin akan banyak terjadi. ¬†Sila ke TKP di¬†http://pak.dikti.go.id/portal/?p=193.

Screenshot 2015-06-13 11.16.05

Sumber:

Bisa jadi memang artikel tersebut tak berasal dari modus di tulisan ini, karena bisa jadi artikel di Phinisi memang didapatkan dari skripsi penulis duluuuu waktu S1, diambil begitu saja dari skripsi mahasiswa tanpa permisi atau menurut seorang kawan bisa saja diambil dari biro jasa pengerjaan skripsi. Fiuh.

Namun modus menjadikan skripsi sebagai artikel jurnal (yang dibenarkan dan legal oleh banyak kampus) dan kemudian menjadi bagian dari PAK berpotensi menimbulkan persoalan di kemudian hari dan membahayakan karir Bapak/Ibu Dosen.

jadi saya ingin mengatakan: Berhati-hatilah !
Lazada Indonesia

Perbandingan Gaji Dosen Indonesia dan Negara-negara Lain

Lazada IndonesiaKalau di tulisan ini saya menulis soal perbandingan produktivitas riset Indonesia, maka saya mau membandingkan hal lain dan sedikit bersimulasi.

Belakangan ini kalangan akademisi di berbagai belahan dunia banyak berdiskusi soal pendapatan mereka. Di Jepun, persoalan ini mengemuka beberapa kali di Japan Times (Silahkan baca tulisan ini dan itu). Namun sebuah artikel Faculty Pay, Around The World oleh Scott Jaschik di Inside Higher Education memaksa saya menulis tulisan ini.

Dalam tulisan tersebut terdapat sebuah tabel, menggambarkan perbandingan gaji dosen di berbagai negara berdasarkan tiga kategori: Entry, Average, dan Top. Entry maksudnya mereka yang baru jadi dosen, Average itu rata-rata, dan Top adalah mereka di posisi puncak, Full Professor yang senior, begitu kira-kira.

Oke, kita lihat dulu tabelnya:

Monthly Average Salaries of Public Higher Education Faculty,

Using U.S. PPP Dollars

 Country Entry Average Top
Armenia    $405    $538    $665
Russia    433    617    910
China    259    720 1,107
Ethiopia    864 1,207 1,580
Kazakhstan 1,037 1,553 2,304
Latvia 1,087 1,785 2,654
Mexico 1,336 1,941 2,730
Czech Republic 1,655 2,495 3,967
Turkey 2,173 2,597 3,898
Colombia 1,965 2,702 4,058
Brazil 1,858 3,179 4,550
Japan 2,897 3,473 4,604
France 1,973 3,484 4,775
Argentina 3,151 3,755 4,385
Malaysia 2,824 4,628 7,864
Nigeria 2,758 4,629 6,229
Israel 3,525 4,747 6,377
Norway 4,491 4,940 5,847
Germany 4,885 5,141 6,383
Netherlands 3,472 5,313 7,123
Australia 3,930 5,713 7,499
United Kingdom 4,077 5,943 8,369
Saudi Arabia 3,457 6,002 8,524
United States 4,950 6,054 7,358
India 3,954 6,070 7,433
South Africa 3,927 6,531 9,330
Italy 3,525 6,955 9,118
Canada 5,733 7,196 9,485

Sayangnya Indonesia gak ada ya?

Oke, kita lupakan dulu Indonesia. Mesti kita pahami dulu bahwa angka-angka di atas memakai PPP (Purchasing Power parity) dolar, yaitu kurs yang mengukur berapa banyak sebuah mata uang dapat membeli dalam pengukuran internasional (biasanya dolar), karena barang dan jasa memiliki harga berbeda di beberapa negara. Ini memastikan perbandingan di atas setara karena tentu saja harga kontrakan di Karawaci Tangerang dengan Kawaramachi Kyoto itu berbeda, he he (Lihat di sini penjelasan tambahannya).

Nah, menurut data di atas, ternyata Kanada juaranya (horeee, tepuk tangan). Dia teratas baik di level entry, average maupun top. Malaysia, tetangga baik kita berada dalam posisi menengah, namun ternyata berada di atas Jepang.

Nah bagaimana dengan Indonesia?

Hmm saya mencoba menghitung menggunakan PPP conversion factor yang dikeluarkan world bank. Tahun 2013, index PPP Indonesia sebesar 3.800,35 (tiga ribu delapan ratus koma tiga lima).

Kemudian bagaimana mendefinisikan early, average dan top.

1. Early saya definisikan dosen yang baru diangkat. Dia saya definisikan PNS Dosen golongan IIIB, Masa kerja 0 tahun S2, belum memiliki jabatan fungsional,  belum sertifikasi dan single. Gajinya berdasarkan PP 34 2014 adalah sebesar Rp. 2.415.600. Katakanlah memiliki pendapatan lain-lain (uang makan, dll) sebesar Rp. 500.000, maka total Rp. 2. 915.600,-.

Menggunakan indeks PPP maka didapatkan: 2915600:3.800,35 =  767 (hasil pembulatan).

2. Average, terus terang sulit mencari angka rata-ratanya. Nah saya menggunakan PNS Dosen IIID masa kerja 10 tahun, Lektor, sudah sertifikasi. Maka gaji pokok sebesar Rp. 3.064.400,- ditambah sertifikasi satu kali gaji (3.064.400,-) ditambah fungsional lektor Rp.700.000,- dan tunjangan keluarga, dll katakanlah Rp.500.000,-. Nah dijumlahkan menjadi sebesar Rp.7.328.800,-, dibagi dengan indeks PPP, dihasilkan angka 1927 (hasil pembulatan)

3. Top. Nah profil dosen top markotop adalah golongan IVD, profesor, tentu tersertifikasi dan masa kerja paling poll yaitu selama Soeharto berkuasa: 32 tahun. Maka gaji pokok Rp.5,302,100, ditambah tunjangan serdos satu kali gaji pokok dan tunjangan kehormatan dua kali gaji pokok, dan tunjangan fungsional Rp.1.300.000,- ditambah katakanlah pendapatan lain, Rp.500.000,-. Nah didapatkan angka Rp. 22.958.000,-. Angka yang mantap, namun karena di puncak dan masa kerja sudah 32 tahun mungkin sudah mau pensiun juga, he he. Berapa jika dibagi PPP index, hasilnya 6036 (Hasil pembulatan).

Nah, bagaimana analisisnya:

Yang kasihan memang yang baru jadi dosen alias kategori early, cuma dapet 767. Dibandingkan dengan negara lain di tabel di atas, maka didapatkan posisinya empat terbawah, berada di bawah Eithopia, walaupun berada di atas China dan Rusia. Namun jauh berada di bawah Malaysia (seperempatnya) yang untuk kategori early mendapatkan angka nominal 2.824.

Untuk kategori average, angka 1.927 hampir sama dengan Meksiko, masih berada di klasemen bawah. Angka ini kurang dari setengahnya dibandingkan dengan Malaysia yang mendapatkan 4.628.

Nah, untuk top, kita cukup boleh gembira. Angka 6.036 ini berada di klasemen tengah, dekat dengan Nigeria 6.229 atau israel 6.377. Juga tidak terpaut jauh dengan Malaysia 7.864

Yang jelas menjadi catatan saya adalah gap yang teramat tinggi antara top Рaverage Рearly di Indonesia: 6.036:1.927:767. Perbandingan terendah dengan tertinggi, kira-kira 8:3:1. Bandingkan dengan Malaysia: 7.864:4.628:2.824 yang kira-kira perbandingan antar kategorinya: 4:2:1, rendah sekali gapnya.

Sekedar mengingatkan, berdasarkan data dikti sendiri, jumlah Profesor di Indonesia hanya 3% dari keseluruhan dosen di Indonesia, super minoritas. Terbesar adalah dosen berstatus tenaga pengajar alias belum punya fungsional sebesar 34%, lektor 25%, asisten ahli 21%, lektor kepala 17% (Cek tautan ini).

Catatan lain adalah, dosen yang sudah tersertifikasi juga baru 43%, sebanyak 57% belum tersertifikasi.

Oh ya, kenapa Malaysia dari tadi jadi contoh melulu, soalnya tulisan saya sebelumnya juga membandingkan produktivitas riset Indonesia dan Malaysia, kita tertinggal enam kali lipat.

Atau Indonesia gak perlu dibandingkan? Bagaimana kalau bikin kompetisi membangun Univeristas Kelas Akhirat saja, jangan Universitas Kelas Dunia?

***

Nah, pasti ada yang berkomentar bahwa angka pendapatan tidaklah riil karena dosen kebanyakan hanya mengajar dan memiliki pekerjaan dan pendapatan sampingan lain. Saya bilang, inilah biang keladi ketertinggalan dunia pendidikan tinggi kita ūüėČ

Jangan kira saya mau rekomendasikan kenaikan gaji atau tunjangan, sudah capex. Kalau pembaca mau, boleh-boleh saja sih, he he. Saya cuma mau bilang ke dosen-dosen muda dan pinter, ayo berkaryalah maksimal dan jujur biar cepat jadi Profesor dan hidup layak bersama keluarga tanpa melalaikan kewajiban pekerjaan. Nggak ngurus jabatan fungsional berarti mendzolimi keluarga lho.

Salam

@Abah Hamid

Catatan: Simulasi ini menggunakan kriteria penulis untuk setiap kategori namun berdasarkan angka yang sebisa mungkin valid (gaji pokok, tunjangan fungsional, dll), dipersilahkan sekali mensimulasikan dengan kategori yang lebih anda sepakati.
Lazada Indonesia

Klarifikasi Tentang lama kuliah S2 Menjadi 4 Tahun

Belakangan ini dunia pendidikan tinggi dihebohkan oleh berbagai pemberitaan bahwa lama kuliah S2 dan S3 menjadi lebih lama dari sebelumnya. Hal ini dikarenakan oleh diterbitkannya Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Nah dalam peraturan tersebut dinyatakan dalam pasal 17 ayat 2 dan 3

(2) Untuk memenuhi capaian pembelajaran lulusan program sebagaimana  dimaksud dalam Pasal 5, mahasiswa wajib menempuh beban belajar paling sedikit: a. 36 sks untuk program diploma satu; b. 72 sks untuk program diploma dua; c. 108 sks untuk program diploma tiga; d. 144 sks untuk program diploma empat dan program sarjana; e. 36 sks untuk program profesi; f. 72 sks untuk program magister, magister terapan, dan spesialis satu; dan g. 72 sks untuk program doktor, doktor terapan, dan spesialis dua. (3) Masa studi terpakai bagi mahasiswa dengan beban belajar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebagai berikut: a. 1 (satu) sampai 2 (dua) tahun untuk program diploma satu; b. 2 (dua) sampai 3 (tiga) tahun untuk program diploma dua; c. 3 (tiga) sampai 4 (empat) tahun untuk program diploma tiga; d. 4 (empat) sampai 5 (lima) tahun untuk program diploma empat dan program sarjana; e. 1 (satu) sampai 2 (dua) tahun untuk program profesi setelah menyelesaikan program sarjana atau diploma empat; f. 1,5 (satu koma lima) sampai 4 (empat) tahun untuk program magister, program magister terapan, dan program spesialis satu setelah menyelesaikan program sarjana atau diploma empat; dan g. paling sedikit 3 (tiga) tahun untuk program doktor, program doktor terapan, dan program spesialis dua.

Nah ramailah dunia persilatan pendidikan membahas kedua hal di atas. Kebanyakan beritanya adalah lama kuliah Master menjadi 4 tahun dan beban kuliah Doktor yang amat berat, 72 SKS. Tentu saja ini menimbulkan kekhawatiran mereka yang akan mengambil program Pascasarjana. Screenshot 2014-09-13 22.43.41 Nah, untunglah tak lama kemudian DIkti membuat klarifikasi dalam bentuk surat ke PTN maupun Kopertis, isinya bahwa sebagian besar jumlah SKS yang membengkak adalah untuk keperluan penelitian dan publikasi:

Untuk magister beban 72 sks sebagaian besar digunakan oleh mahasiswa untuk melaksanakan penelitian, sehingga sebagai contoh proporsinya: – Perkuliahan : ¬Ī32 sks – Proposal Thesis : ¬Ī 5 sks – Penelitian dan Penulisan Thesis : ¬Ī20 sks – Seminar : ¬Ī 5 sks – Karya Ilmiah : ¬Ī10 sks Berdasarkan CP pada butir 3, maka untuk Doktor 72 sks sebagian besar digunakan oleh mahasiswa untuk melaksanakan penelitian, sehingga sebagai contoh proporsinya: – Perkuliahan : ¬Ī12 sks – Proposal Disertasi : ¬Ī 5 sks – Penelitian dan Penulisan Disertasi : ¬Ī30 sks – Seminar : ¬Ī 5 sks – Karya Ilmiah Internasional : ¬Ī20 sks

Jadi kekhawatiran bahwa kuliah S2 akan mencapai 4 tahun sudah terbantahkan. Lengkapnya silahkan baca suratnya di bawah ini. Semoga bermanfaat. Lazada Indonesia Silahkan download surat resmi dengan stempel Dikti di sini