Arsip Kategori: Dikdasmen

Guru, Pengabdian dan Kesejahteraan: Mengingatkan Mas Anies Baswedan

Ketika gerakan Indonesia mengajar diluncurkan dan dilaksanakan, saya mengapresiasi dan memiliki harapan yang agak berbeda dengan kawan-kawan lain. Pertama, program ini sungguh baik. Ya, baik sekali karena memberi kesempatan anak-anak di pelosok Indonesia untuk diajar oleh anak-anak bangsa terbaik. Kedua, memberi kesempatan anak-anak bangsa terbaik tersebut yang sejatinya bukan guru – kebanyakan kalangan profesional muda bergaji tinggi- untuk mengabdi kepada masyarakat di pelosok. Ketiga, karena gerakan ini berangkat dari persoalan dari sistem pendidikan kita (Kalau sistem pendidikan sudah baik, gerakan ini gak perlu toh), maka ketika Mas Anies jadi Mendikbuddikdasmen, gerakan Indonesia mengajar musti cepat-cepat diakhiri.

Saya mau memberi catatatan dulu untuk yang kedua: soal mengabdi. Ya, anak-anak muda profesional mengabdi, mengajar di berbagai pelosok Indonesia, tempat-tempat terpencil.

Ups kata mengabdi bagi saya kata amat ambigu.

Di satu sisi kata ini berkonotasi positif, artinya memberi tanpa pamrih. Menunjukkan kemuliaan mereka yang melakukannya.

Di sisi lain – tepatnya sisi penguasa – kata ini digunakan untuk mengeksploitasi profesi tertentu untuk bekerja keras dengan bayaran seadanya. Memberi ilusi dengan pahala dan kemuliaan.

Ternyata masih banyak orang yang menganggap bahwa ada profesi tertentu yang tugasnya mengabdi. Karena mengabdi dan mulia, maka tak elok membicarakan gaji. Dalam situasi ini, entah sadar atau tidak, orang-orang berprofesi mulia itu kemudian rentan menjadi korban kesewenang-wenangan.

Inilah yang terjadi bagi profesi pengajar di Republik ini, guru maupun dosen.

Tapi Indonesia mengajar rupanya punya perspektif sendiri dalam pengabdian.

Indonesia Mengajar (IM) adalah program pengiriman anak-anak bangsa terbaik untuk mengajar di sekolah-sekolah dasar di tempat-tempat terpencil di Indonesia. Ratusan anak-anak muda yang terseleksi secara ketat, sebagian sudah bekerja mapan, fasih berbahasa Inggris, merelakan waktu mudanya untuk mengabdi pada tanah air. Mereka dibekali keterampilan mengajar, kepemimpinan sampai pelatihan semi militer untuk bertahan di situasi ekstrim. Mereka diharapkan tak hanya jadi pengajar, namun mampu menjadi penggerak perubahan di tempat mereka tinggal selama setahun.

Anies Baswedan menyampaikan dalam suratnya:

Kami mengundang putra-putri terbaik republik ini untuk menjadi Pengajar Muda, menjadi guru SD selama 1 tahun. Satu tahun berada di tengah-tengah rakyat di pelosok negeri, di tengah anak-anak bangsa yang kelak akan meneruskan sejarah republik ini. Satu tahun berada bersama anak-anak di dekat keindahan alam, di pesisir pulau-pulau kecil, di puncak-puncak pegunungan dan di lembah-lembah hijau yang membentang sepanjang khatulistiwa. Saya yakin pengalaman satu tahun ini akan menjadi bagian dari sejarah hidup yang tidak mungkin bisa Anda lupakan: desa terpencil dan anak-anak didik itu akan selalu menjadi bagian dari diri Anda.

Di desa-desa terpencil itu para Pengajar Muda akan menorehkan jejak, menitipkan pahala; bagi para siswa SD di sana, alas kaki bisa jadi tidak ada, baju bisa jadi kumal dan ala kadarnya tapi mata mereka bisa berbinar karena kehadiran Anda. Anda hadir memberikan harapan. Anda hadir mendekatkan jarak mereka dengan pusat kemajuan. Anda hadir membuat anak-anak SD di pelosok negeri memiliki mimpi. Anda hadir membuat para orang tua di desa-desa terpencil ingin memiliki anak yang terdidik seperti anda. Ya, ketertinggalan adalah baju mereka sekarang, tapi Anda hadir merangsang mereka untuk punya cita-cita, puny mimpi. Mimpi adalah energi mereka untuk meraih baju baru di masa depan. Kemajuan dan kemandirian adalah baju anak-anak di masa depan. Anda hadir disana, di desa mereka, Anda hadir membukakan pintu menuju masa depan yang jauh lebih baik.

Sebagai Pengajar Muda, Anda adalah role model, Anda menjadi sumber inspirasi. Kita semua yakin, mengajar itu adalah memberi inspirasi, menggandakan semangat, menyebarkan harapan dan optimisme; hal-hal yang selama ini terlihat defisit di pelosok negeri ini.

Bukan hanya itu, selama 1 tahun para Pengajar Muda ini sebenarnya akan belajar. Pengalaman berada di pelosok Indonesia, tinggal di rumah rakyat kebanyakan, berinteraksi dekat dengan rakyat. Menghadapi tantangan mulai dari sekolah yang minim fasilitas, desa tanpa listrik, masyarakat yang jauh dari informasi sampai dengan kemiskinan yang merata; itu semua adalah wahana tempaan, itu pengembangan diri yang luar biasa. Anda dibenturkan dengan kenyataan republik ini. Anda ditantang untuk mengeluarkan seluruh potensi energi Anda untuk mendorong kemajuan. Satu tahun ini menjadi leadership training yang luar biasa. Sukses itu sering bukan karena berhasil meraih sesuatu, tetapi karena Anda berhasil menyelesaikan dan melampaui tantangan dan kesulitan. Setahun Anda berpeluang membekali diri sendiri dengan resep untuk sukses.

Keberhasilan Anda menjadi leader di hadapan anak-anak SD adalah pengalaman leadership yang kongkrit. Biarkan anak-anak itu memiliki Anda, mencintai Anda, menyerap ilmu Anda, mengambil inspirasi dari Anda. Anda mengajar selama setahun, tapi kehadiran Anda dalam hidup mereka adalah seumur hidup, dampak positifnya seumur hidup.

Program ini luar biasa, dan pengabdian mereka,  juga luar biasa.

Namun apakah karena mereka mengabdi lantas mereka juga harus hidup prihatin, serba berkekurangan dan menderita? Karena mengabdi lantas harus dibilang “Dahulu guru-guru hidup susah tapi mereka semangat, ayo semangat dan mari hidup susah”?

Tidak, Anies Baswedan melanjutkan suratnya:

…………..Gerakan Indonesia Mengajar membuka peluang bagi bakat-bakat muda terbaik bangsa seperti Anda, dari berbagai disiplin ilmu dan dari dalam negeri maupun dari luar negeri, untuk menjadi Pengajar Muda. Sarjana yang direkrut oleh Gerakan Indonesia Mengajar hanyalah best graduate, sarjana-sarjana terbaik: berprestasi akademik, berjiwa kepemimpinan, aktif bermasyarakat, kemampuan yang komunikasi baik.

Sebelum berangkat, Anda akan dibekali dengan pelatihan yang komplit sebagai bekal untuk mengajar, untuk hidup dan untuk berperan di pelosok negeri. Selama menjadi Pengajar Muda, Anda akan mendapatkan gaji yang memadai dan kompetitif dibandingkan kawan Anda yang bekerja di sektor swasta. Anda akan dibekali dengan teknologi penunjang selama program dan jaringan yang luas untuk memilih karier sesudah selesai mengabdi sebagai Pengajar Muda. Selama menjadi Pengajar Muda, Anda tidak akan dibiarkan sendirian. Kami akan hadir dekat dengan Anda.

Bagian kedua penggalan surat ini menegaskan bahwa memanggil anak-anak muda terbaik untuk mengabdi bukan menjadikan mereka menderita. Memanggil mereka yang terbaik untuk mengabdi juga berarti menghargai kapasitas, kualitas dan pengabdian mereka secara layak.

Bagi saya gerakan Indonesia mengajar sudah selayaknya dihapus.

Lho?

Ya, Mas Anies Baswedan sudah jadi Menteri yang mengurusi pendidikan dasar, menengah dan kebudayaan.

Jika ia mampu membangun Gerakan Indonesia mengajar sebagai aktor di luar pemerintahan, saatnya gerakan ini menjadi bagian dari pemerintahan. Bukan merekrut anak-anak bangsa terbaik  untuk mengajar secara temporer, tapi menjadikan para guru -pengajar permanen – di berbagai sekolah di seluruh pelosok Indonesia memiliki kualitas setara atau lebih baik dari para pengajar Indonesia mengajar juga dengan konsep kesejahteraan yang juga tidak kalah dengan gerakan Indonesia mengajar.

Mas Anies pasti sudah tahu peta persoalan pendidikan di Indonesia: kekurangan pengajar di kawasan terpencil, persoalan kualifikasi, gap antara urban-rural, politisasi guru di daerah,  terhambatnya pembayaran sertifikasi guru, dan sampai minimnya penghasilan guru, terutama guru-guru sekolah swasta kecil.

Kembali ke soal pengabdian dan kesejahteraan, saya berharap dua istilah yang selalu dipertentangkan ini kemudian berangkulan. Mengabdi dengan tulus dan bekerja keras di sektor pendidikan tak mesti tak sejahtera. Ini saya pelajari dari gerakan Indonesia mengajar lho 😉

Kalau sistem pendidikan Indonesia sudah bener, kita tak butuh gerakan Indonesia mengajar  🙂

~@abdul hamid untirta

Sumber:

1. Surat untuk Anak-anak Muda Indonesia, dari Anies Baswedan, 21 Juli 2010

Iklan

Kualitas Pendidikan dan Pendapatan Guru, Apakah Berhubungan?

Di tulisan ini, saya menunjukkan sebuah tabel peringkat kemampuan matematika murid berusia 15 tahun di 65 negara/kota. Indonesia berada di peringkat buncit.

Di akhir tulisan, saya bertanya, apa yang mesti diperbaiki?

Hmm, ternyata ada tulisan lain, masih di web the economist. Tabel dalam tulisan ini mepersandingkan antara nilai/peringkat kemampuan matematika di test PISA dengan rata-rata pendapatan tahunan Guru. Hasilnya? silahkan dibaca sendiri

gaji dan hasil kerja

Jika anda mau berkomentar bahwa pendapatan di atas tentu saja tak sesuai dengan biaya hidup yang di beberapa negara tentu lebih besar dibandingkan Indonesia. Tunggu dulu, angka pendapatan di atas sudah menggunakan dolar PPP, Purchasing Power Parity (Keseimbangan kemampuan belanja) untuk mengukur seberapa banyak sebuah mata uang dapat membeli sebuah barang dalam ukuran internasional. Jadi tingkat kemahalan dalam tabel di atas sudah dianggap sama untuk semua negara.

Memang kalau dibaca tulisannya, penulis artikel justru mengkritik negara-negara yang membayar gaji besar bagi guru namun menghasilkan prestasi yang tidak terlalu memuaskan sehingga dikategorikan inefficient. Namun tengoklah Indonesia yang berada di peringkat kedua paling bawah soal efisiensi dan peringkat bawah skor matematika PISA.

Dan peringkat penghasilan guru menurut tabel di atas juga paling rendah dibandingkan negara-negara lain yang disurvey 😦

Jadi, apakah untuk meningkatkan kualitas pendidikan, (salah satunya) apakah Gaji Guru mesti dinaikkan?

Sumber:

1. http://www.economist.com/news/international/21616978-higher-teacher-pay-and-smaller-classes-are-not-best-education-policies-new-school

2. http://id.wikipedia.org/wiki/Keseimbangan_kemampuan_berbelanja

Indonesia, Juara dari Bawah dalam Kemampuan Matematika

PISA (Programme for International Student Assessment) dari OECD setiap tiga tahun menyelenggarakan test matematika, membaca dan IPA untuk siswa berusia 15 tahun. Pada tahun 2012 sebanyak 500.000 murid mengikuti test tersebut, tersebar di 65 negara atau kota. Hasilnya dipublikasikan pada Bulan Desember. Ini dia hasil test untuk matematika. Indonesia berada di peringkat terbawah. the economist education

Kira-kira apa yang harus diperbaiki oleh sistem pendidikan kita ya?

Sumber: http://www.economist.com/news/international/21591195-fall-former-nordic-education-star-latest-pisa-tests-focusing-interest

Guru SD Berprestasi: Cecep Arief Rahman alias Assassin di The Raid2 Berandal

Ada banyak pemilihan sosok berprestasi, pun di kalangan pendidik.

Namun bagi saya, sosok berprestasi adalah mereka yang bisa memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Cecep Arif Rahman, Guru SDN 3 Tegal Panjang, Sucina Raja, Garut mewakili definisi tersebut. Anda kenal Cecep?

Nah pertanyaan diubah, anda tahu film The Raid2 Berandal? Anda tahu Assassin, lawan paling tangguh Rama di film tersebut? Anda kenal orang di poster film di bawah ini?

Ya, sosok di sebelah kanan adalah Kang Cecep. Ia guru sekaligus pendekar pencak silat dari perguruan Panglipur, pemeran Assassin yang piawai memainkan Kerambit.

Tentulah ada kontroversi soal kekerasan dalam film tersebut. Namun bagi saya, kehadiran Kang Cecep menaikkan marwah pencak silat di mata dunia.

Ia tetaplah Kang Cecep, Guru SD yang sebelum diangkat menjadi PNS mengabdi sebagai Guru Bantu selama 5 tahun. Sosok yang mengajar selama 3-4 hari di kelas dan kemudian mengurusi perpustakaan dan administrasi di dua hari yang lain.

Bagi kita, untuk menjadi sosok berprestasi tentu saja bukan dengan main film atau latihan pencak silat, tapi dengan fokus di bidang kita sedalam-dalamnya. Ya, anda yang mengajar komputer bisa mendalami ilmu komputer, mengambil berbagai sertifikasi dan mengikuti berbagai pelatihan. Anda yang guru agama bisa ikut kompetisi Da’i agar bisa melakukan Dakwah lebih luas. Anda yang Guru Tata Negara bisa mempelajari ilmu anda lebih dalam sehingga bisa menjadi panutan dan referensi bagi teman-teman dan masyarakat di tengah carut marutnya dunia politik kita.
Kang Cecep sendiri amat mencintai pekerjaannya sebagai Guru, apakah tertarik menjadi artis? Ia menjawab

“Nasib orang siapa yang tahu. Saya sangat mencintai pekerjaan saya sebagai guru dan saya hanya ingin bermain silat dan memperkenalkan silat sejauh mana saya bisa,”

Ya, Kang Cecep aktif memperkenalkan Silat ke berbagai negara, terutama Perancis. Hmm saya jadi ingat, di negara ini Silat berkembang cukup pesat. Sahabat saya Gabriel orang Perancis, adalah salah satu Pendekar Silat TTKDH, pembimbing studi doktoralnya, Prof. Jean Marc ternyata pendiri Merpati Putih di Perancis. Saya pernah menginap di rumahnya di Marseille. Oh ya, dulu Gabriel pernah memberikan saya satu rekaman gerakan silat Panglipur yang diperagakan Kang Cecep.
Kembali ke Kang Cecep, ini video beliau mengajar Pencak Silat ke murid-muridnya dari mancanegara,

Sumber: 
1. http://hot.detik.com/movie/read/2014/04/11/145907/2552375/229/mengenal-lebih-dekat-cecep-arief-rahman-pembunuh-di-the-raid-2-berandal
2. http://bandung.bisnis.com/read/20130320/34247/326203/aktor-baru-film-the-raid-2-jagoan-silat-dari-garut

Klarifikasi Tentang lama kuliah S2 Menjadi 4 Tahun

Belakangan ini dunia pendidikan tinggi dihebohkan oleh berbagai pemberitaan bahwa lama kuliah S2 dan S3 menjadi lebih lama dari sebelumnya. Hal ini dikarenakan oleh diterbitkannya Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2014 Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Nah dalam peraturan tersebut dinyatakan dalam pasal 17 ayat 2 dan 3

(2) Untuk memenuhi capaian pembelajaran lulusan program sebagaimana  dimaksud dalam Pasal 5, mahasiswa wajib menempuh beban belajar paling sedikit: a. 36 sks untuk program diploma satu; b. 72 sks untuk program diploma dua; c. 108 sks untuk program diploma tiga; d. 144 sks untuk program diploma empat dan program sarjana; e. 36 sks untuk program profesi; f. 72 sks untuk program magister, magister terapan, dan spesialis satu; dan g. 72 sks untuk program doktor, doktor terapan, dan spesialis dua. (3) Masa studi terpakai bagi mahasiswa dengan beban belajar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebagai berikut: a. 1 (satu) sampai 2 (dua) tahun untuk program diploma satu; b. 2 (dua) sampai 3 (tiga) tahun untuk program diploma dua; c. 3 (tiga) sampai 4 (empat) tahun untuk program diploma tiga; d. 4 (empat) sampai 5 (lima) tahun untuk program diploma empat dan program sarjana; e. 1 (satu) sampai 2 (dua) tahun untuk program profesi setelah menyelesaikan program sarjana atau diploma empat; f. 1,5 (satu koma lima) sampai 4 (empat) tahun untuk program magister, program magister terapan, dan program spesialis satu setelah menyelesaikan program sarjana atau diploma empat; dan g. paling sedikit 3 (tiga) tahun untuk program doktor, program doktor terapan, dan program spesialis dua.

Nah ramailah dunia persilatan pendidikan membahas kedua hal di atas. Kebanyakan beritanya adalah lama kuliah Master menjadi 4 tahun dan beban kuliah Doktor yang amat berat, 72 SKS. Tentu saja ini menimbulkan kekhawatiran mereka yang akan mengambil program Pascasarjana. Screenshot 2014-09-13 22.43.41 Nah, untunglah tak lama kemudian DIkti membuat klarifikasi dalam bentuk surat ke PTN maupun Kopertis, isinya bahwa sebagian besar jumlah SKS yang membengkak adalah untuk keperluan penelitian dan publikasi:

Untuk magister beban 72 sks sebagaian besar digunakan oleh mahasiswa untuk melaksanakan penelitian, sehingga sebagai contoh proporsinya: – Perkuliahan : ±32 sks – Proposal Thesis : ± 5 sks – Penelitian dan Penulisan Thesis : ±20 sks – Seminar : ± 5 sks – Karya Ilmiah : ±10 sks Berdasarkan CP pada butir 3, maka untuk Doktor 72 sks sebagian besar digunakan oleh mahasiswa untuk melaksanakan penelitian, sehingga sebagai contoh proporsinya: – Perkuliahan : ±12 sks – Proposal Disertasi : ± 5 sks – Penelitian dan Penulisan Disertasi : ±30 sks – Seminar : ± 5 sks – Karya Ilmiah Internasional : ±20 sks

Jadi kekhawatiran bahwa kuliah S2 akan mencapai 4 tahun sudah terbantahkan. Lengkapnya silahkan baca suratnya di bawah ini. Semoga bermanfaat. Lazada Indonesia Silahkan download surat resmi dengan stempel Dikti di sini

(Memakai) Buku Sekolah Elektronik Kurikulum 2013

Ilham sudah kelas 1 SD. Pun teman-teman seumurannya di Indonesia.

Karena tahun depan kembali ke Indonesia, Ayal dan Ilham tetap belajar kurikulum nasional. Sebagai perantauan, kami mengandalkan Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang tersedia aplikasinya di internet.

Di aplikasi BSE, sudah tersedia juga buku kurikulum 2013 yang kontroversial itu, hehehe…. Seperti mungkin teman-teman tahu, kurikulum 2013 ini konsepnya tematik. Misalnya Buku Kelas 1 terdiri dari tema “Diriku”, “Kegemaranku”, “Kegiatanku”, “Keluargaku”, “Pengalamanku”, dsb. Tema “Diriku” itu nanti ada kegiatan kenalan sama teman, menyanyi, dan nulis kartu nama. Terus habis itu, suruh hitung, temannya ada berapa? Seru juga, ya! Jadi pelajaran PPKN, Bahasa Indonesia, dan Matematika dikombinasikan tanpa terasa.

Sebenarnya konsep semacam ini, sih, nggak baru-baru banget. Di beberapa sekolah swasta di Indonesia seperti sekolah Ayal di Jakarta, pendekatan cara belajarnya juga nggak terlalu textbook. Belajar dikaitkan sama hal sehari-hari, dengan riang gembira,

Well, kami sebagai orang tua, sih, bukan ahli pendidikan ataupun pakar homeschooling, jadi nggak bisa komentar banyak-banyak soal kontennya. Yang pasti, anak-anak yang buku bukunya langsung antusias aja.

Terutama Ayal. Mukanya langsung sumringah dan nggak berhenti-berhenti baca (dan praktek) isi si buku baru. Di buku kelas 4, dia langsung pilih buku bertema “Pekerjaan”. Terus dia praktek wawancara apa cita-cita ibunya (rrrr….). Hari-hari ini Ayal memang lagi bercita-cita jadi wartawan.

photo

Ya, yang merasakan langsung perbedaan kurikulum ini tentu saja Ayal. Dia bilang, kurikulum baru ini jauh lebih menyenangkan daripada kurikulum lama. Biasanya Ayal suka ngomel mengomentari pelajaran PPKN yang terlalu teoritis, nggak sesuai kenyataan moral orang Indonesia (halah). Terus pelajaran IPA-nya kurang praktek kayak di Jepang, jadi nggak fun. Pelajaran Bahasa Indonesia yang paling disukai pun gak lepas dari kritik, tanda bacanya salah lah, apaan, lah. Nah, kalau Matematika jelas sasaran tembak utama lah, hehe. Soalnya banyak dan relatif sulit, apalagi dibandingkan kurikulum Jepang. Nah, pelajaran matematika kurikulum baru ini menurut Ayal kelihatannya lebih gampang. Kalau menurut ibunya, sih, soalnya dikaitkan sama kegiatan sehari-hari aja itu, jadi kelihatan lebih applicaple. 

Sebagai orang tua, jujur kami kaget, nggak menyangka kurikulum baru semenarik ini. Too good to be true (lebay).  Terus terang saja sebelumnya ibunya anak-anak mengalami kesulitan menyampaikan materi matematika yang seabrek-abrek itu. Maklum, nggak punya latar belakang pendidik (alesan hehe). Ibunya aja malas lihatnya, apalagi anaknya, hehe. Nah, di kurikulum baru ini justru anak-anak yang semangat. Kami tinggal menemani dan memberi rangsangan saja. Misalnya waktu main wawancara-wawancaraan itu. Jadi ikut semangat, deh.

Tapi, ya, ini baru beberapa hari kami menghadapi kurikulum baru. Moga-moga bisa konsisten. Kami juga sadar, pelaksanaan di sekolah-sekolah di Indonesia mungkin gak semudah itu. Benar-benar beda sama model kita dulu sekolah, jeh. Guru-guru shock kali, ya. Emang enak punya anak/murid kritis….. *nyengir nglirik anak*

Untuk pengguna Ios (iphone, ipad) klik tautan ini untuk mendownload program BSE dari Mahoni Global. Gratiss. Setelah diinstall, maka bisa mendownload buku-buku, baik kurikulum lama maupun kurikulum 2013.

Screenshot 2014-08-16 09.15.55

Nah aplikasi BSE dari mahoni untuk android juga tersedia di tautan berikut ini.
Screenshot 2014-08-16 09.18.22

Sayang kalau tablet cuma buat maen games kan?

***

Penulis tamu: Ibun

Tulisan terkait: https://abdul-hamid.com/2013/08/26/buku-sekolah-elektronik-di-ipad/

Catatan: Aplikasi di atas saya pakai dalam Ipad yang menggunakan aplikasi Ios dan appstore Indonesia. Saya ndak pernah coba jika appstore-nya di luar Indonesia. Nah, aplikasi di atas ternyata tidak tersedia di toko aplikasi android (playstore) Jepun yang dipakai di android saya, mungkin hanya tersedia untuk toko aplikasi Indonesia saja. Jadi silahkan coba alternatif lain, misalnya buku sekolah elektronik dari dsoft. Thanks buat Kang Ahmad Mughni buat infonya.

Memang Kenapa Pendidikan Dasar Kita?

Mungkin saja ada kesan tidak bersyukur dan menganggap saya “gumunan” ketika membandingkan SD negeri di Jepun dan di Indonesia.

Mungkin juga betul.

Saya memang mengalami kekagetan ketika pertama kali mengurus daftar sekolah anak-anak di Jepun. Ketika tak ada proses yang ribet dan anak bisa langsung masuk sekolah. Gak ada test calistung dan biaya pendaftaran 😉

Tapi sudahlah, saya terlalu banyak membicarakan soal SD di Jepun, nanti malah nambah “gumun”, he he.

Saya bukan pendidik di SD. Saya Dosen di perguruan tinggi. Tapi saya paham betul bahwa perilaku mahasiswa yang saya ajar di kelas banyak terbentuk sejak kecil, dan pendidikan di SD memberikan porsi yang cukup besar. Tak hanya perilaku di ruang kelas, tapi perilaku di jalan raya, membuang sampah, bahkan di dunia kerja.

Maka ketika mendapati foto ini

1797478_10153861840530331_1165604998_n

 

Bagi saya, ini bukti bahwa ada persoalan dengan pendidikan kita.

Begitu juga dengan perilaku di media sosial. Ketika dengan mudahnya kita membagi informasi buruk tentang seseorang atau menganggap hal tersebut justru berpahala, maka ada yang salah dengan pendidikan kita.

Ya, hasil sebuah pendidikan justru terlihat dari ketika anak didik berada di masyarakat. Saya sering mengatakan kepada mahasiswa yang aktivis

“Tantangan terbesar kamu bukanlah ketika demo dan berhadapan dengan aparat. Tantangan sebenarnya adalah ketika kamu lulus dan ada tawaran menjadi PNS dengan membayar sekian puluh juta. Itulah tantangan sesungguhnya terhadap sebuah integritas”.

Kembali ke SD, memang ada masalah apa? Misalnya gambar di bawah ini, kita merasa ini masalah atau bukan?

Anak mesti bersaing ketat, belajar keras hanya untuk masuk Sekolah Dasar. Berkali-kali hal tersebut dibantah pemerintah, tapi dalam setiap penerimaan siswa baru, hal tersebut selalu menjadi isu, terutama di kalangan orang tua.

Masih menganggap hal tersebut biasa? bagaimana dengan foto di bawah ini?

Masih menganggap dunia pendidikan kita tidak sakit?

Ya sudahlah, semoga hal di atas dibenahi oleh pemerintah baru.

Bagaimana dengan guru?

Bersyukurlah ada sertifikasi guru, guru mendapatkan tambahan satu kali gaji.

Namun jangan senang dulu. Pertama, belum semua guru tersertifikasi. Saya tak punya jumlah persisnya, namun dalam blog ini disampaikan

Sampai dengan 2014, Guru PNS di lingkungan Kemdikbud yang sudah bersertifikat pendidik sebanyak 1.236.540. Tapi, berdasarkan persyaratan, guru bersertifikat yang layak mendapatkan SK TPP hanya 904.481 (73%). Sisanya, perlu verifikasi data dan sebagian tidak layak mendapatkan SK TPP.

Kedua, pembayaran sangat tak lancar. Sampai Maret 2014 misalnya, 8,3 triliun uang sertifikasi guru belum terbayarkan kepada yang berhak, mengendap di kas daerah. Ketiga, pembayaran tunjangan sertifikasi yang tidak menyatu kepada gaji membuat tunjangan ini rawan pemotongan. Di sebuah daerah, seorang guru SD bercerita kalau mesti setor beberapa ratus ribu rupiah kepada pejabat setiap kali menerima tunjangan sebagai ucapan terima kasih.

Politik lokal juga kerap menghantui guru. Guru senantiasa menjadi korban mobilisasi politik. Ancaman mutasi jika tak mendukung calon tertentu kerap terjadi dalam pilkada di berbagai daerah di Indonesia.

Belum lagi jika ada proyek di sekolah dan guru terlibat. Mereka mesti menghadapi atasan, kontraktor, aparat, LSM atau wartawan bodrek. Guru seringkali berada dalam tekanan.  Jika anda membaca blog ini dan tidak percaya, silahkan datang ke SD terdekat yang sedang melaksanakan proyek tertentu. Coba mengobrol dari hati ke hati.

Dengan semua problematika di atas, maka jangan harap guru-guru kita bisa tenang mendidik para muridnya.

Oh ya, bicara sekolah di Indonesia, kita juga musti bicara soal akses. Tak cuma soal bagaimana terdaftar dan belajar, tapi betul-betul soal akses yang berarti berangkat dari rumah ke sekolah dan sebaliknya. Ingat jembatan Indiana Jones yang bahkan menghebohkan dunia?

Ya, persoalan semacam ini masih banyak di seantero Indonesia.

Maka tak salah jika perlua kerja keras membenahi pendidikan di Indonesia, dari semua aspek.

Untunglah ada orang semacam Butet Manurung (Sokola Rimba), Anies Baswedan (Indonesia Mengajar) atau Arief Kirdiat (Relawan Kampung-1000 jembatan) yang berada di luar pemerintahan namun memberikan kontribusi besar terhadap dunia pendidikan.

Semoga pemerintah baru bisa bekerja keras menyelesaikan persoalan-persoalan pendidikan kita ini.

Bukankah pendidikan dasar dibiayai dari pajak kita ?

 

 

Foto-foto Kunjungan Ke Sekolah Ayu dan Ilham

Hari ini mendapat kesempatan mengunjungi sekolah Ayu dan Ilham. Ya, pada waktu-waktu tertentu SD Negeri Yotouku memang mengundang orang tua untuk melihat langsung bagaimana anaknya dididik. Waktu kami datang Ayu sedang belajar di kelas, sementara Ilham sedang pelajaran berenang.

Ini sekolah dasar negeri gan.

Dengan membenahi tata kelola pemerintahan, memberantas korupsi dengan serius, mensejahterakan guru tanpa proses yang ribet (Ibu, alm.bapak, teteh2 saya guru), menjadikan pendidikan sebagai prioritas diatas semua yang lain, saya yakin kita juga bisa menjadikan SD Negeri kita tidak kalah dengan apa yang saya lihat hari ini. Semoga pemerintahan baru nanti memberikan kita optimisme untuk pembenahan pendidikan dasar kita.

Klik gambarnya biar besar 😉

Artikel terkait: Membangun manusianya.

Membangun Manusianya

Suatu ketika, saya pernah menulis status:

Screenshot 2014-07-05 07.32.36

 

 

 

 

Saat itu saya pulang dari kampus dalam kondisi sepi, hujan rintik-rintik, perut lapar, jalanan lengang, dan jelas tidak ada polisi lalu lintas. Saya ingat, sempat mempertimbangkan menerobos, namun akhirnya memilih menunggu saja lampu merah berubah warna menjadi hijau. Saya mencoba melawan diri sendiri yang ingin cepat sampai rumah, lekas makan makanan hangat, terbebas dari rintik hujan, apalagi tidak ada polisi.

Adalah sebuah keberuntungan saya bisa tinggal di Jepun untuk studi. Saya jatuh cinta kepada negeri ini sejak pandangan pertama datang pertama kali tahun 2008 untuk sebuah seminar. Bukan karena banyak gadis berkimono yang membuat saya takjub, tapi bagaimana manusia-manusia di sini berintegritas dalam hidup.

Ya, jika anda bertanya duluan mana ayam atau telor manusia atau sistem yang dibangun, saya sekarang sudah tahu jawabannya.  Jawabannya jelas: manusia. Manusia yang membentuk keluarga, komunitas, masyarakat, negara dan dunia. Walaupun secara simultan, sistem dibenahi.

Di sini kualitas manusia bisa dilihat dari tertib membuang sampah, cara berlalu lintas, etika menemukan barang hilang, dan sebagainya.

Bertahun lalu, Pak Uga Praceka, putra dari Ajip Rosidi yang tinggal di Kobe bercerita bahwa dia beberapa kali kehilangan dompet, dan selalu berhasil ditemukan lengkap dengan isinya, entah dikembalikan atau dia ambil ke kantor polisi. Istri saya pernah ketinggalan tas dalam bis kota, dan bisa kembali. Saya pernah kehilangan kamera DSLR bersama dua lensa, dan diselamatkan seseorang yang kemudian menitipkannya di kantor satpam kampus.  Oh ya, ini salah satu tulisan soal bagaimana polisi Jepun berinteraksi dengan masyarakat. 

Berkendara juga menarik, trotoar cukup lebar dan biasanya terbagi dua, sebagian untuk pejalan kaki, sebagian untuk sepeda. Menariknya, walaupun lebar dan datar, tak ada cerita trotoar dikuasai oleh pedagang kaki lima, mobil atau motor yang saling serobot seperti di trotoar sepanjang jalan raya kalibata di pagi hari. Trotoar tetap menjadi tempat yang nyaman, dimana pejalan kaki dan pesepeda saling menghormati.

2013-09-23 09.22.20

Saya dan keluarga seringkali menghabiskan waktu di sungai yang tak hanya bersih karena dirawat oleh pemerintah, tapi juga karena semua orang disana membawa pulang sampahnya. Ya, karena disana tidak ada tempat sampah. Jadi kami harus memasukkan sampah ke kantong plastik dan membawanya pulang, dimasukan ke tempat sampah di rumah masing-masing. Hal yang sama yang harus dilakukan di semua tempat publik lainnya.

Ini jelas soal manusianya.

Ini jelas hasil dari pendidikan. Pendidikan yang memanusiakan manusia.

Ya, saya bisa mengatakan itu, karena kedua anak saya masuk sekolah negeri di Jepun, dalam kondisi awal tidak bisa bahasa Jepun, termasuk buta huruf hiragana, katakana apalagi kanji.

Pertama saya dan keluarga datang ke Jepun, langsung mendapatkan KTP (Residence Card) di bandara. Tak pakai lama dan ribet, apalagi menyogok. Pokoknya keluar bandara, langsung pegang kartu itu.

Beberapa hari kemudian, kami mendaftarkan alamat di Sakyo Ward Office (Semacam Kecamatan), langsung dilayani, sekaligus mendaftar asuransi (semacam kartu Jepang Sehat yang kalau berobat di klinik semahal apapun cukup bayar maksimal 30%), mendaftar subsidi anak (anak dapat subsidi setiap bulan 10.000 yen/bulan, kartu penerima dikirim setiap tahun),  juga yang terpenting mendaftar sekolah Ayu.

Ya, tak ada keribetan, pihak Ward Office langsung melayani pendaftaran sekolah, menunjukkan alamat sekolah dasar terdekat yang harus didatangi dua hari kemudian. Tanpa ribet, tanpa harus lobby sana-sini, tanpa sogok.

Dua hari kemudian, kami ke sekolah, disambut oleh Wakil Kepala Sekolah dan beberapa guru, mengobrol hangat, ditanyakan berbagai preferensi (karena kami muslim), dan Ayu tentu saja langsung ditunjukkan kelas dan teman-temannya. Tak ada test calistung.

Tapi, apakah ada pembicaraan soal duit?

Ya, ADA. Kami diharuskan membayar biaya makan siang 4000 yen (monggo dikalikan 120 rupiah) setiap bulannya. Namun uang itu akan digantikan juga setiap bulannya, melalui skema subsidi, karena Abahnya Ayu berpendapatan kurang dari garis kemiskinan di Jepun. Malah ada subsidi macam-macam dari pemerintah kota dan provinsi yang secara berkala dikirim ke rekening kami.

Meminjam bahasa media, kami terpelongo. Menyekolahkan anak, bukannya keluar duit, malah dapat duit.

Sekolah Ayu juga menyediakan seorang Sensei yang mengajari bahasa Jepang setelah jam sekolah, seminggu dua kali. Gratis.

Ketika Ilham masuk SD Negeri selulus TK, prosesnya hampir sama. Tak ada keribetan berurusan dengan birokrasi. Aturannya jelas, anak masuk SD Negeri yang terdekat dengan tempat tinggal. Tak ada SD Negeri favorit, semua memiliki fasilitas standard: ruang kelas ber-AC, lapangan luas yang cukup bermain bola, kolam renang, dan perpustakaan yang baik.

Ya, ini jelas bukan hanya soal sistem, tapi juga soal integritas manusia yang menjalankan sistem. Kalau wakil kepala sekolah mau mbohongi, kami juga ndak tau toh?

Dari cerita Ayu tentang sekolahnya kami lantas belajar bagaimana integritas dibangun.

Dengan segenap kemajuan teknologi, anak-anak sejak sekolah dasar justru dibangun mental dan semangatnya, dan bukan dimanjakan.

13997910542_6bd1295941_b

Ini beberapa cerita dari sekolah Ayu dan Ilham:

  • Ayu dan Ilham harus berangkat jalan kaki ke sekolah, tak ada cerita diantar pake kendaraan atau ojek. 😉
  • Ayu dan Ilham bersama teman-teman sekolah kebagian membersihkan kelas (menyapu, mengepel, mengelap meja) bersama-sama setiap siang. Di jam tersebut, semua murid kelas 1-6 tanpa terkecuali harus beres-beres.
  • Ayu bercerita bahwa Kepala Sekolah memegang kunci sekolah, datang paling pagi dan pulang paling sore/malam. Oh ya, Kepala Sekolah juga harus mencicipi makanan yang disajikan untuk makan siang, menjamin tidak beracun.
  • Ayu secara berkala mendapat giliran kebagian mengurusi (mengambil, menyajikan dan membereskan) makan siang teman-temannya.
  • Sekolah memberi tanda di jadwal makan mingguan, mana saja makanan yang terkategorikan haram, sehingga Ayu dan Ilham membawa bento (bekal).
  • Kadangkala guru bahkan kepala sekolah datang ke Apato (rumah) kami hanya untuk menyapa, menyampaikan pengumuman, atau bahkan minta maaf. Ya, jam 8 malam, kepala sekolah pernah datang membungkuk berkali-kali minta maaf soal kesalahan menandai makanan mengandung babi di menu. itupun sebetulnya tak masalah karena Ayu dan Ilham tak memakannya setelah diberitahu guru.
  • Oh satu lagi, yang paling menyentuh adalah bagaimana anak-anak berkebutuhan khusus (di kelas khusus Himawari) diperlakukan dengan amat baik di sekolah. Dalam Undokai (Semacam porseni), bahkan guru dan anak Himawari berada dalam satu tim, melakukan kegiatan olahraga.
Ayu in Classroom

Ayu Beres-beres di Sekolah

Masih banyak cerita lain.

Tulisan ini tak hendak mengajak anda pindah ke Jepun. Kami juga akan pulang tahun depan dan anak-anak akan bersekolah di Indonesia.

Tulisan ini hanya mengingatkan bahwa jika kita mau, kita juga bisa membangun hal yang sama di negeri kita.

Ya, membangun manusianya.

Saya masih bermimpi bahwa sekolah bisa jadi tempat anak-anak belajar membangun integritas. Sekolah memiliki guru dan kepala yang berintegritas. Proses mendaftarkan juga berintegritas, sesuai aturan dan tidak ada main belakang.

Saya masih berharap bahwa di sekolah anak-anak belajar tentang menjadi manusia bertanggung jawab, membuang sampah pada tempatnya, menyayangi teman, menghormati guru dan orang tua.

Sekolah yang baik akan menghasilkan manusia yang baik sehingga kita bisa memiliki petani yang baik, nelayan yang baik, PNS yang baik, tentara yang baik, polisi yang baik, pengendara motor dan mobil yang baik, pedagang yang baik, menantu yang baik, pokoknya manusia yang baik.

Ini menjadi awal bagi terwujudnya harapan memiliki birokrasi dan polisi yang baik, sehingga berurusan dengan mereka bukanlah mimpi buruk karena harus menyiapkan uang terima kasih dan prosedur tidak jelas lainnya.

Ya, membangun manusianya.

Semoga kita dikaruniai pemimpin baru yang punya keinginan, program, dan kemampuan melakukan pembenahan manusia Indonesia. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?