Arsip Kategori: Curhat

Kabar Gembira dan Kabar Sedih

Hmmm, mau kabar gembira dulu atau kabar sedih?

Sedih dulu aja ya, biar diakhiri dengan gembira.

Kabar sedihnya tentu saja ketika proposal riset PKLN saya dan kawan-kawan tak berhasil lolos seleksi. Sedih? Ya iya lah, manusiawi, udah berusaha pake keras.

2014-10-09 18.24.38

Cappucino dengan latte Art Sedih

 

Tapi gak usah pembelaan macam-macam. Gagal ya gagal saja, seorang kawan mengatakan, “Belum rejeki X (baca= kali)”. Temen saya ini memang kalau WA singkat-singkat 🙂

Ya, rejeki tak akan tertukar, emang putri pake tertukar segala, he he

***

Tapi duka lara ini terkurangi beberapa kabar gembira. Baca lebih lanjut

Iklan

Menulis Kopi

Saya membutuhkan kopi enak setiap hari, utamanya pagi.

Ya, kopi enak membuat kepala jadi segar dan perasaan menjadi tenang.

Apakah itu semacam kecanduan, entahlah.

Yang jelas begitu melihat blog dan merasa malu karena jarang ngeblog, saya memutuskan harus minum kopi enak dan menulis tentangnya.

Beruntung hoby ngopi di Kyoto bisa dilanjutkan di Gading Serpong. Ada banyak tempat ngopi enak dan gak mainstream.

Mencari suasana untuk tulisan-tulisan baru. Walaupun betapa memalukannya jika yang tereksekusi hanyalah tulisan (baca posting) di facebook. duh.

dc5ffb8d-5171-4787-9c41-500bd2c7b984

Jika Saya Menyetir

Saya selalu sibuk sendiri sebelum dan sesudah menyetir.

Bukan apa-apa, saya ndak bisa menyetir dalam keadaan beralas kaki, baik bersepatu maupun bersandal. Nggak sensitif gitu rasanya, khawatir kalau ngerem, ngegas dan ngopling. Maklum saya termasuk real men yang menggunakan three pedals, he he

real-men-use-three-pedals-600x600

Nah jadilah sebelum nyetir saya mesti buka sepatu, dan sesudah nyetir baru pake lagi sepatunya. Inilah rahasia kenapa saya paling suka sendal, karena memang praktis.

Yang repot kalau ke acara resmi atau ke kampus. Gak enak kalau sandalan, apalagi nenteng-nenteng sepatu 🙂

12915131_10154167379694015_538262685_o

 

Seminggu Setelah Sidang Disertasi

Saya punya kebiasaan buruk. Menulis sebuah refleksi ketika momentum sudah lewat.

Selain itu menulis di blog berbanding lurus dengan stress. Semakin stress semakin piawai dan rajin saya menulis. Jadi ketika seminggu ini tak menulis, sesungguhnya saya sudah agak tidak stress :).

***

Minggu lalu, 30 Juni merupakan salah satu tonggak terpenting dalam kehidupan (akademik) saya. Saya melaksanakan sidang disertasi. Ini seperti klimaks dalam proses belajar saya dalam 3 tahun terakhir ini di Jepun. Proses yang melelahkan, lahir dan batin. Lebih khusus dalam tiga bulan terakhir, dimana segala upaya dikerahkan menuju penyelesaian disertasi.

Apalagi keluarga sudah pulang duluan ke tanah air. Jadilah malam-malam sibuk dengan laptop sambil mendengarkan lagu yang liriknya “di dalam keramaian aku merasa sepi…“. Pas banget dah dengan suasana hati. Untunglah Ayu menghibur dan mendoakan “Semoga sidangnya lancar ya Bah, Abah nggak ditahan“. Dikiranya sidangnya sidang pengadilan dan saya jadi terdakwa, kebanyakan nonton tipi.

Selama tiga tahun ke belakang saya memang serius studi. Terlalu serius malah, termasuk memutuskan untuk tidak aktif berorganisasi selama jadi pelajar di Kyoto. Fokus ke riset sehingga nggak serius belajar bahasa Jepang (Ini mah ngeles kayaknya). Menahan diri untuk tidak terlalu muncul di publik karena memang belum saatnya, terutama ketika isu korupsi di Banten mengemuka. Mengeluarkan segala upaya agar syarat kelulusan seperti publikasi dua peer review jurnal bisa selekasnya dipenuhi. Menarik diri dari ikut cawe-cawe urusan politik, termasuk politik kampus. Termasuk mengurangi jalan-jalan yang sering bikin Ibun sebel. Saya sadar diri, sebagai orang yang nggak pinter-pinter banget saya mesti berusaha berkali-kali lipat daripada mereka yang pinter.

Selama tiga bulan terakhir, malam jadi siang, pagi jadi malam. Hidup saya seperti hidupnya Bruce Wayne, melek di malam hari, tak bisa tidur karena tertekan dan memang harus menyelesaikan menulis dan mengedit bagian demi bagian dari disertasi sambil diselingi main Marvel Contest of Champions. Melelahkan juga secara finansial, karena harus menempuh proofreading untuk manuskrip dalam waktu hanya sebulan dari waktu normal sekitar tiga sampai empat bulan. Proofreading harus diselesaikan karena manuskrip yang disubmit adalah final dan tak boleh direvisi lagi. Jadilah keluar biaya ekstra karena kampus hanya menanggung biaya normal proofreading. Tak apa-apa, jer besuki mawa beya.

Saya memang ngotot untuk selesai karena semester ini hanya punya satu skenario: lulus.

Sensei memang sempat mengajak bicara soal beberapa skenario: (1) lulus atau (2) menunda kelulusan satu semester.

Saya menolak skenario kedua, saya mesti selesai:  “I have something to do“.

Sensei mengira karena saya mau maju jadi Dekan selepas lulus, padahal saya tak tahan ingin mencium bau kecut rambut Ilham yang tak bisa dirasakan lewat skype 🙂

Jadilah Sensei sepakat mencoret plan (2) dan mendorong saya selesai dengan pertemuan intensif, membahas draft secara teliti dan cepat.

Hidup saya kemudian seperti apa yang saya tulis di awal, hidup seperti Batman yang celakanya terbawa sampai sekarang.

Alhamdulillah, naskah selesai beberapa hari sebelum jadwal submit 29 Mei. Begitu juga dengan berbagai dokumen dan aplikasi yang bolak-balik mesti diperbaiki. Tanggal 28 Mei, saya menyerahkan ke GS (Global Studies) office. Fiuh.

***

Sidang berjalan lancar. Saya tampil dengan keren, memakai jas dan dasi (Bener gak ya cara make kancing jasnya?). Rambut yang saya cukur sendiri sekitar dua minggu lalu juga sudah agak tumbuh walaupun malu-malu.

Sidang dimulai jam satu, selepas saya sholat zuhur di mushola kampus. Hadirin yang datang sekitar 10 orang saja. Saya, penguji 3 orang (termasuk Sensei pembimbing), dan penonton sekitar 6 orang, termasuk Okamoto Sensei dari CSEAS yang sibuk memotret :). Tak ada karangan bunga atau prosesi seremonial. Juga tak ada konsumsi, bukan karena menghormati kami yang berpuasa, tapi itulah sidang disertasi di Jepun.

Acaranya seperti seminar biasa. Sensei membuka sekaligus jadi moderator, mempersilahkan saya presentasi selama 40 menit. Dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan tajam dari dua penguji yang menguliti isi disertasi. tanya jawab juga selama 40 menit saja, tanpa perpanjangan waktu.  Alhamdulillah, rasanya (jangan-jangan perasaan Dek Hamid saja) semua pertanyaan bisa diberikan jawabannya, dan semua masukan bisa diterima tanpa membongkar apa yang sudah saya tuliskan.

20150630_140153   share_tempory

Setelah selesai, saya dan semua hadirin diminta keluar. Sensei dan dua penguji rapat, memutuskan nasib saya.

Sekitar sepuluh menit, Sensei keluar dari ruangan dengan senyum terkembang “Good job“, katanya. “Mereka agree untuk merekomendasikan kamu lulus, tinggal nanti hasil resmi faculty meeting 21 Juli” (Sensei memang suka campur bahasa Indonesia dan Inggris karena lama dulu di Indonesia).

Wah saya senang sekali, membuncah. Namun harus tetap kelihatan cool bukan? Saya tersenyum tipis “Domo Arigatou Sensei”.

***

Sorenya, sahabat saya Pak Ishaq teman satu Sensei, satu Lab, satu Apato, sesama tukang ngopi dan begadang juga melaksanakan sidang Preliminary Examination dengan amat sukses, menuai pujian dari para pengujinya. Saya bergantian jadi fotografernya sidang beliau. Jadilah kebahagiaan kami waktu itu berlipat-lipat. Sensei juga nampak sumringah dan tersenyum terus, padahal pagi hari dan hari-hari sebelumnya, dahinya yang selalu berlipat.

***

Kebahagiaan kami dirayakan Doshisha. Lepas maghrib Doshisha melaksanakan Iftar Party. Tentu saja bukan khusus merayakan sidang kami, tapi memang kebetulan waktunya berurutan di hari yang sama. Jadilah tak perlu bikin pesta sendiri 🙂

20150630_185038

20150630_190125

Ketika iftar party berlangsung, seorang Sensei dari Turki menyampaikan selamat atas sidang, dan bertanya “Bagaimana perasaanmu?” Ia menjawab sendiri pertanyaannya “Ya, saya bisa merasakan apa yang kamu rasakan, dulu ketika selesai sidang, rasanya lega bukan main“.

***

Alhamdulillah.

Satu proses terpenting sudah selesai. Semoga tanggal 21 Juli nanti faculty meeting memutuskan saya berhak memakai gelar Ph.D. Sebelum gelar didapat toh saya memang sudah Ph.D: Permanent Head Damage yang ditandai dengan insomnia sampai hari ini.

Bulan Penentuan

Bulan ini amat menentukan arah hidup saya.

Naskah disertasi sudah di tangan proofreader dan oleh Sensei sebagian masih harus diperbaiki substansinya.

Ini seperti mission impossible karena tanggal 29 adalah deadline submit disertasi final.

Itu jika mau lulus September.

Bagi saya, September harus pulang, apapun yang terjadi.

Banyak hal yang harus dilakukan di tanah air, misalnya mengasuh Miko.

Aih, sudah pada kenal Miko?

Orang Gila di Ciceri

Ini cerita lanjutan dari mengurus paspor.

Seberesnya mengambil paspor, saya dan Ilham menuju Ciceri menggunakan ojek. Genangan dimana-mana karena hujan besar. Eh nyalahkan hujan, mestinya nyalahin  walikota ya?

Nah begitu mendarat di Ciceri Ilham minta makan, uangnya ada di ATM di Carrefour jadi kami mesti menyeberang.

Melihat ada jembatan penyeberangan orang (JPO) kami lantas naik ke tangga.

Ndilalah baru sepertiga tangga aku lantas turun. Ada orang gila di sana, telanjang pula.

Orang gila semacam ini juga sepertinya terlihat di beberapa titik di kota serang.

Aku lantas menyeberang dan mengambil gambar dengan tele. Ini penampakannya

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Reuni

Semalam istriku bercerita tentang reuni teman-teman sekolahnya di sebuah mal di kawasan Tangerang.

Bagi saya reuni selalu menjadi hal yang menarik dibicarakan.

Mulai dengan pertanyaan dulu, jika teman SD, SMP, SMA atau kuliah mengajak reuni, anda bahagia atau tidak?

Ya, selalu ada yang senang dan sebaliknya, dengan beragam alasan.

Abdul Hamid waktu jadi Ketua Senat Mahasiswa FISIP UI

Yang senang juga memiliki beberapa tipe. Pertama, bisa jadi memang karena tulus ingin bertemu dengan sahabat-sahabat lama yang terpisah jarak. Bisa bertemu dan saling menanyakan kabar adalah hal yang menyenangkan bukan?

Tapi turunan dari tipe tulus ini bisa jadi kategori kedua, senang karena ingin reuni hati. Ups, masa-masa sekolah tentu saja masa yang penuh semangat dan gelora muda kan? Nah reuni tentu saja kesempatan terbaik untuk bertemu dengan lelaki atau perempuan dari masa lalu itu. Bisa berbahaya jika orangnya sama-sama atau salah satu sudah bersuami/beristri atau berbuntut.  Pertemuan di reuni bisa berlanjut dengan bertukar akun fesbuk, line, whatsupp, nomor telepon, pin bb dan sebagainya. Reuni hati ini bisa merusak stabilitas, memporak-porandakan keutuhan rumah tangga dan menghancurkan masa depan si buntut. Tapi kalau sama-sama single dan berjodoh ketika reuni ya alhamdulillah.

Tipe senang reuni ketiga adalah tipe pebisnis sejati. Reuni adalah kesempatan memperluas jejaring, menambah downline, klien atau customer. Ya siapa tahu teman reuni sudah jadi angel investor yang bisa mendanai startup yang sedang mencari dana segar. Kita sedang punya masalah hukum bisa bertemu kawan yang jadi pengacara, kapan lagi konsultasi gratis. Atau jika kita saudagar beras organik kan bisa juga mendapatkan customer baru sambil promosi hidup sehat. Nah ini sesuai dengan hadits:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

Tipe keempat mereka yang senang reuni ya tipe pamer. Biasanya ada saja orang yang ketika reuni ingin menunjukkan sesuatu: gelar, kendaraan, gadget, arloji, pasangan, tas branded atau batu akik. Nah tipe ini repot banget ketika mau reuni karena berusaha tampil TIDAK apa adanya. Punya avanza tapi mau dateng bawa pajero sport yang dipinjem dari mertua misalnya, he he.

Nah bagaimana kalau yang tipe ndak suka reuni?

Tipe pertama ya mereka yang merasa tidak aman dan nyaman dengan dirinya, selalu mengukur baju yang dipakai dengan baju orang lain. Malu datang karena belum punya pasangan atau belum punya momongan atau belum punya kendaraan. Tidak siap menghadapi “tatapan meremehkan” dari orang lain. Padahal “tatapan meremehkan” itu kadangkala hanya ada dalam pikiran saja. Jikapun ada yang rewel begitu dan bertanya: “kapan nikah?”, “kapan punya anak” atau “kok masih naek angkot?” ya tinggalkan saja, masih ada banyak teman lain kan?

Jika berpikir sedikit positif justru dengan reuni bisa ketemu jodoh, atau ketemu kawan yang bisa memberi tips manjur mendapatkan momongan atau teman yang menawarkan kendaraan dengan diskon 90% 😉

Tipe kedua ya tipe pendendam. Ada saja orang yang menganggap masa sekolah bukanlah masa-masa terbaik, dianggap aneh, dibully atau tidak punya teman. Nah biasanya reuni dianggap bisa jadi siksaan. Bertemu orang yang dulu men-jahati. Jadi dicarilah alasan menolak reuni.

Hmm percayalah, orang berubah kok. Kalau nggak percaya coba kepo di fesbuk, perhatikan ada teman yang nakal sudah jadi alim dan sebaliknya. Datang ke reuni membuka kesempatan mengobati luka lama dengan saling meminta maaf.

Tipe ketiga menghindari reuni karena takut bertemu dengan mantan. Ya, pacaran enam tahun SMP sampe SMA terus dia berjodohnya dengan orang lain gimana ya? Apalagi masih suka. Coba bayangkan ketika reuni menyaksikan mantan menggandeng suami yang ganteng dan bergelar doktor serta keturunan keraton, turun dari mobil mewah dan bawa anak tiga biji. Beuh Sakitnya tuh di sini 😉

Kalau single merasa tersiksa itu normal. Tapi kalau sudah menikah dan berbuntut dan masih tersiksa, waduh. Mengatasinya bangunlah larut malam, solat tahajud, pandangi istri/suami dan anak-anak yang sedang lelap selama tiga menit sembil mencium rambut dan menghirup bau acemnya. Menurut Mbah Hamid itu menaikkan kadar kecintaan terhadap keluarga sebesar tiga ratus persen.

Tipe keempat ya tipe sibuk. Ya mau bagaimana lagi, pada saat jadwal reuni di Aceh mesti mengajar di Melbourne. Penjadwalan jauh-jauh hari bisa menolong tipe sibuk ini. Walaupun entah kenapa, biasanya reuni dadakan kadangkala lebih berhasil daripada reuni yang direncanakan jauh-jauh hari.

He he, sudahlah. Kok saya promosi reuni….

Anda masuk tipe yang mana? atau punya tipe sendiri?

Catatan: Kategorisasi di atas berdasarkan pengamatan belaka dan satu orang bisa tergabung di satu tipe atau lebih.

Rubuhnya Kampus Kami

Sudah dua kali setidaknya seorang sahabat saya mengeluh di media sosial. Kampusnya tak memberi dukungan untuk aktivitas pengembangan akademik: menjadi pembicara di sebuah seminar level asia di Taiwan dan mengikuti summer camp di Belanda.
Ini persoalan kronis sebetulnya. Kampus tak memiliki visi akademik dan pengembangan ilmu pengetahuan, namun cenderung hanya menjadi gedung sekolahan plus lembaga birokrasi.
Betul, kegiatan belajar-mengajar memang penting. Namun jika ini yang menjadi satu-satunya aktivitas yang dianggap penting dan menihilkan aktivitas akademik yang lain, apa bedanya dengan SMP dan SMA?
Sebagai lembaga birokrasi, kampus juga terjebak pada kegiatan-kegiatan administratif, menghabiskan banyak anggaran untuk seremonial atau rapat, namun mengabaikan pentingnya civitas akademika berdialog dalam kegiatan-kegiatan ilmiah bertaraf internasional.
Sederhananya, pertanyaan ini mesti dijawab, lebih penting mana, memberikan dana SPPD bagi dosen yang akan menjadi pemakalah di sebuah seminar internasional atau bagi pejabat kampus untuk rapat atau studi banding?
Jawaban atas pertanyaan ini menunjukkan apakah kampus cukup punya visi akademik atau tidak.
Atau lebih keras lagi, apakah visi yang dimiliki World Class University (Universitas Kelas Dunia) atau Word Class University (Universitas Kelas Omongan doang).
Sekali lagi, visi – misi yang hebat, mesti diuji dalam praktek nyata.
Begitu kira-kira

Maju Terus

Baru hari ini ngeblog lagi setelah beberapa hari menghilang dari dunia maya.
Setelah ujian akhir bulan lalu rasanya seperti kelelahan saja.
Tapi agenda betul-betul padat: nulis disertasi, persiapan memulangkan keluarga, proofread, submit, sidang. Hadeuh semuanya cuma dalam hitungan bulan.
Mau mulai menulis ini dia yang susah. Bahan sudah dikumpulkan sebenarnya, cuma jarang disentuh saja. Sibuknya menyentuh yang lain 😉
Doakan ya pemirsa, moga2 bisa menyelesaikan yang sudah dimulai sehingga khusnul khatimah.

Alhamdulillah

Alhamdulillah, satu step lagi sudah dilalui dengan cukup lancar. Walaupun persiapannya disambi ngeblog soal remunerasi dosen dan bikin bakso 😉

Pe OK

PE sudah dilalui, ada banyak catatan dari examiners, tinggal revisi dan menulis bab yang tersisa sebelum jadi doktor beneran.

Sementara masih jadi kandidat dulu 😉

Sudah bisa tidur nyenyak.

Tentunya untuk dua hari saja karena selanjutnya kembali bekerja keras.

Fiuh…

Saatnya Mborong (?)

Iman memang betul-betul diuji di akhir tahun.

Bukan soal mengucapkan natal atau tidak. Tapi bagaimana bertahan menghadapi serbuan diskon yang gila-gilaan, he he.

Kalau ndak, panas sepanjang tahun bisa dikalahkan hujan sehari.

Tapi saya punya cara pandang lain. Bagaimanapun, jika anda punya cukup strategi pengelolaan keuangan yang baik, disiplin dan teratur, anda berhak menikmati diskon akhir tahun.

Katakanlah begini, anda menunda membeli sepatu idaman dan bertahan memakai sepatu yang agak kumal di musim normal dan kemudian memilih membelinya di musim diskon. Menurut saya ini cara yang cerdas. Sisa duitnya masih bisa beli bakso atau nambah tabungan haji toh.

Tapi kalau anda sudah tiap hari belanja tanpa peduli perlu atau ndak barangnya dan diskon atau ndak, ya mesti dipikir-pikir dulu. Seni berburu diskon adalah kegembiraan mendapatkan barang idaman berkualitas dengan harga serendah-rendahnya, he he.

Di Jepun, diskon bisa muncul dengan berbagai cara dan bentuk. Di pusat perbelanjaan secara normal sejak minggu terakhir desember harga-harga sudah diskon gila-gilaan. Seorang sahabat baru saja mendapatkan sebuah jaket keren seharga 3000 yen dari harga 28.000 yen.

Nah di toko online juga begitu, sudah sejak beberapa hari lalu amazon juga menyediakan halaman diskon yang cukup gila-gilaan.

Screenshot 2014-12-26 14.25.42

Tapi tentu saja, lakukan survey selalu untuk membandingkannya dengan harga normal. Jangan sampai belanja barang yang sebetulnya tidak diskon (dinaikkan trus diturunkan) atau diskonnya tidak signifikan.

Selain itu, pastikan jangan menuruti nafsu. Jika saatnya beli gadget, pastikan gadget memberi manfaat buat pekerjaan atau kualitas kehidupan kita, bukan sebaliknya.

Oh ya, tulisan selanjutnya soal lucky bag atau fukubukuro di Jepun ya. Ini salah satu bentuk diskon juga, tuh lihat gambar di bawah, orang ngantri di apple store tanggal 2 Januari setiap tahunnya. Mereka sampe nginep di kursi lho walaupun musim dingin.

apple-2012-lucky-bag-fukubukuro

Ketika Pulang Nanti

Tiba-tiba saja kepikiran, ketika pulang nanti mau ngapain ya?

Masak ngebon doang, he he.

Yups tentunya ngajar sih, kan sudah kangen sama mahasiswi dan mahasiswa. Mengajar di kampus itu bikin pikiran selalu muda. Kalo rambut sih teteup gak bisa bohong, mundur ke belakang dan tambah banyak yang putih. Nggak mungkin sulam rambut kan?

Terbayang nanti menyesuaikan diri. Di sini sudah terbiasa tiap hari ngampus dan bekerja di meja sendiri dengan akses internet cepat dan akses pustaka yang baik. Nanti bahkan belum tahu akan punya meja sendiri atau tidak. Mungkin masih akan bareng-bareng di meja bundar yang besar sambil minum kopi hitam dan makan cucuwer atau pasung yang dibawa emak-emak datang dari Menes. Juga biasanya ada saja kawan yang gelar dagangan. Maklum dosen sekarang mesti survive makanya ada yang join asuransi, jualan brownies, bros, bontot, dan lain-lain. Yang penting halal tho?

Hmm sekarang yang kepikiran sih bagaimana teteup bisa riset dan publikasi.

Jika selama kuliah bisa terbit tiga tulisan di jurnal, mestinya ketika aktif kembali di tanah air mesti lebih baik lagi. Ya masak sih nggak bisa setahun satu jurnal, he he.

15307106724_1e79496bd3_o

Tapi memikirkan riset dengan skema dana APBN memang bikin mules. Bukan soal isi risetnya sih, tapi soal aspek administrasi keuangannya. Cerita mesti bohong, mencari dana talangan atau potongan masih ramai saja di grup dosen. Ndak heran kalau kata KPK banyak doktor atau profesor kena kasus korupsi. Lha wong sistem pelaporan riset memaksa banyak kawan melakukan itu.

Hmm semoga situasi akan membaik ketika aku pulang nanti. Atau terpaksa nanti bikin riset mandiri atau cari jaringan riset dari luar kampus.

Sekarang sih fokus dulu menulis disertasi.