Arsip Kategori: Berita dan Kegiatan

Catatan dari Homecoming Day FISIP UI

Tanggal 19 April saya semestinya sudah kembali ke Kyoto.

Namun saya tunda sehari karena ada acara penting di alamamter, yaitu reuni alias home coming day.

Oh ya, padahal hari kamisnya saya udah nongol di kampus, pengen ketemu beberapa teman yang ngajar di sana. Ini dia penampakannya, saya terlihat paling kurus 😉

2015-04-16 13.44.44    x hcd2

Nah di tanggal 19 April, jam 9 kami udah nongol di kampus. Ya kami, karena saya dan istri memang alumni kampus ini. Wah senangnya, ketemu buanyak orang. Sementara istri ngantri pendaftaran, saya nongkrong di plaza fisip ui, itu lho ruang terbuka di tengah kampus yang ada pohon beringin gede. Aih nongol Bobby dan Uni membawa bayinya yang masih kecil (Ya iya lah, masak bayi gede).

Gak lama kemudian nongol Mas Arie Soesilo, Dekan FISIP UI. Dari jauh ia sudah melambaikan tangan dan begitu mendekat langsung menyapa “He Mid, kemana aja? wah kamu ini ya yang nulis surat terbuka buat Menteri ya? wah suratmu ini sampe dibahas di level eselon 1, dikiranya ini tulisan dosen senior. Saya bilang bukan, ini masih junior, waktu saya PD3, dia ketua senatnya”

dengan mas arie

Saya sampai bengong. Apalagi Mas Arie langsung menarik tangan saya, “Tuh ada Rektor, sini saya kenalin”. Langsung deh saya dibawa ketemu Pak Anis yang di sebelahnya ada Mas Gumilar. He he, lagi2 bahas itu surat.

Nggak lama para Boss kampus itu merapat ke sebuah ruangan untuk acara seremoni dan saya kembali nongkrong.

Tiba-tiba inget, dulu waktu masih ketua senat pernah dipanggil khusus ke ruangan Mas Arie, cuma buat ditawari dibeliin sepatu. Maklum waktu itu setiap hari pake sendal jepit swallow hijau 😉

Btw lucu juga kalau misalnya beberapa waktu ke depan bikin benchmarking dari FISIP Untirta ke FISIP UI ya? Berjejaring jadi sister faculty gitu.

Wah hari itu ketemu banyak kawan-kawan. Yang palng semangat dateng nampaknya para senior tahun tua, sampe pada bikin seragam segala.

Siangnya kami makan di Takor. Takor ini pengganti balsem, kantin untuk mahasiswa gitu.

Dulu sih ada balhut juga, tapi digusur karena menempati daerah resapan air. Duh saya dulu sempat advokasi teman2 pedagang balhut.

Mumpung ke kampus dan ketemu teman2 Abah dan Ibun, Ayu sempat bertanya ke Om Muhajir tentang kenapa di Indonesia banyak korupsi..

2015-04-19 11.56.51

Sayangnya karena persiapan pulang ke Jepun, sekitar jam 2 saya pamit pulang.

Hmm ini beberapa foto, diambil juga dari fesbuknya Aulia Chloridiany.

hcd4
hcd3

2015-04-19 12.54.32

Iklan

Tulisan di Koran Sindo

Setalah lamaaaaaaa banget puasa gak nulis di koran, akhirnya nulis lagi. Temanya soal pendidikan tinggi. Bagi pembaca setia blog ini, pasti familiar dengan gaya dan isi tulisannya. Mangga dibaca di http://nasional.sindonews.com/read/908899/18/mengawal-kementerian-riset-dan-pendidikan-tinggi. Nah versi cetaknya ada teman yang motoin, ganteng juga ya fotonya, ups salah fokus 😉

abah sindo

SBY di Kyoto

SBY akhirnya datang ke Kyoto tanggal 29 September untuk menerima Doktor kehormatan bidang demokrasi dan perdamaian dari Ritsumeikan University. Hal ini di tengah kecaman terhadap sikap SBY dan Partai demokrat dalam persoalan UU Pilkada.

Saya sebagai mahasiswa yang diundang memilih hadir. Di tengah polemik pilkada, saya ingin mendengar langsung dari mulut SBY sikapnya soal Pilkada. Ini konteks penting bagi disertasi saya soalnya. Ada seorang kawan yang memilih tak hadir karena takut tak bisa menahan diri untuk meneriaki SBY ketika berpidato. Saya dan dia saling menghormati 😉

Bagitu sampai kampus Rits, surprise juga, banyak sekali muka-muka Indonesia yang hilir mudik. Seorang kawan memberitahu kalau jumlah rombongan ada 150 orang, termasuk 8 menteri. Banyak bangeeeet

Kabarnya semua hal selama urusan di Jepun  juga didanai jakarta (baca: pajak rakyat Indonesia) : pesawat, hotel, transport darat, makan, dsb. Wah kita memang negara yang kaya banget 😦

Nah, sayangnya dengan rombongan sebanyak dan sepeting itu (Ada Presiden, Bu Ani, Mendikbud, Wamenlu, Mendag, MenPerin, MenKelautan, Menkoperekonomian, Menko polkam, Pak Emil Salim, dsb)  tak ada dialog antara Presiden dengan warga Indonesia di Kyoto. Padahal awalnya djadwalkan (baca tautan ini), namun entah kenapa batal.

SBY mempercepat kepulangan, awalnya tanggal 30, dipercepat menjadi tanggal 30 dini hari, dipercepat menjadi tanggal 29 sore harinya, setelah ketemu rombongan pengusaha Jepun.

Untunglah, sbagai hiburan, akhirnya dijadwalkan ada dialog antara mahasiswa dengan Mendikbud seusai acara pemberian gelar Doktor.

Di bawah ini profil Pak SBY, dua paragraf terakhir menarik, soal menulis karya ilmiah, puisi dan juga lagu, he he

2014-10-01 09.33.30-1

Acara berlangsung lancar, saya lihat di sudut juga ada kawan-kawan Indonesianis Jepang yang menyimak pidato SBY dengan serius. Pidato SBY juga nggak istimewa, biasa saja. Tentang demokrasi, demokrasi dan pertumbuhan ekonomi, demokrasi dan Islam. (Nanti saya upload pidatonya) Yang keren dan canggih justru alat teleprompter yang dipakai, seakan-akan SBY pidato tanpa text, padahal membaca text. Ini menipu, banyak yang berdecak kagum, dikira SBY menghafal text pidato 😉 (maap salah fokus)

Soal Pilkada, SBY menyatakan kecewa dengan apa yang terjadi di parlemen dan berjanji akan mengembalikan Pilkada langsung, walaupun 20 hari lagi pensiun sebagai presiden.

2014-09-29 11.54.00

Hmmm kita tunggu janjinya ya, semoga dipenuhi.

Nah, siangnya habis sholat ada dialog dengan Pak Nuh, soal pendidikan.

Pak Nuh menyampaikan beberapa persoalan pendidikan. Sayangnya di waktu yang terbatas malah banyak menyampaikan soal apakah 4X6=6X4. Ia juga menyampaikan komitmen presiden terhadap Pilkada langsung.

Dalam sesi dialog saya menyampaikan persoalan-persoalan pendidikan tinggi: ketertinggalan dengan malaysia, fasilitas dasar yang buruk, rendahnya kesejahteraan dosen, termasuk soal petisi, dsb. Saya menyampaikan, ini hasil menjaring aspirasi di facebook 😉

Pak Nuh menyampaiakn bahwa persoalan utama fasilitas adalah anggaran. Persoalan rendahnya publikasi karena salah satunya soal budaya, karena itu mesti dipaksa, makanya ada surat edaran mewajibkan menulis jurnal bagi mahasiswa S1, S2 ( di jurnal terakreditasi) dan S3 (di jurnal internasional). Persoalan kesejahteraan ia menyampaikan bahwa dosen di PTN BLU mulai menerima tunjangan kinerja. Nah katanya, nanti giliran staf yang protes kalau dosen lebih baik kesejahteraannya karena mereka menganggap kerja dosen hanya mengajar sementara staf bekerja penuh waktu. Tapi Pak Nuh menyampaikan, semoga ada equilibrium. Kabar lain adalah adanya slot khusus bagi mahasiswa terbaik untuk ikut seleksi PNS dari jalur khusus.

Hmmmm, Pak Nuh nampaknya memang terlalu berkonsentrasi ke Dikdasmen, dan tidak terlalu fokus ke persoalan pendidikan tinggi ya.

Pak Ishaq menyampaikan persoalan beasiswa dikti : buruknya komunikasi, tunjangan keluarga, masalah perpanjangan dan berdirinya PKDLN (Perhimpunan Karyasiswa Dikti di Luar Negeri).

Pak Nuh menjawab dengan meminta maaf soal keterlambatan beasiswa. Soal tunjangan keluarga tidak disampaikan secara jelas, begitu juga dengan perpanjangan. Namun ia menyambut baik berdirinya PKDLN. Ia juga menekankan soal akan ditanganinya beasiswa di semua Direktorat di kemendikbud ke dalam satu Unit yang khusus menangani persoalan beasiswa.

Yang menarik adalah adanya pertanyaan dari seorang mahasiswa yang belajar Nano-Bio-Technology dan kesulitan bekerja di Indonesia. Pak Nuh menyampaikan bahwa lapangan kerja itu luas dan mengabdi bisa dimana saja, tak harus di Indonesia. Nasionalisme sudah melampaui locus.

Yah, walaupun dialog ini tidak memuaskan, tapi setidaknya ada masukan buat Pak Nuh. Walaupun juga Pak Nuh akan selesai jabatannya.

Hmm sorenya saya nongkrong di depan hotel Ritz Charlton, tempat SBY dan rombongan sedang bertemu dengan pengusaha Jepun. Tapi soal ini ceritanya lain kali saja ya…

(catatan: Saya sebenarnya sudah menulis cukup banyak dan baik tentang kedatangan SBY, namun naskahnya entah dimana, tak ada di draft. jadilah tulisan singkat ini yang ditayangkan. gomenasai)

Jadi Korban Kebakaran

Jika saya biasanya bercerita sesuatu yang nyaris, maka kali ini betul-betul terjadi. Di negeri orang pula.

Ceritanya kemarin sore, Aku dan Ilham memilih di rumah. Aku ada sedikit pekerjaan sambil istirahat karena sakit pinggang (hadooh, latihan split di usia segini hasilnya sakit pinggang, ampun). Ilham memilih bermain di rumah, menggambar, membuat kreasi dan menonton doraemon.

Nah ceritanya kita menunggu Ibun dan Ayu pulang. Mereka pergi ke pengajian Ibu-ibu di dekat Horkawa-Imadegawa. hari hujan gerimis, namun salju belum turun.

Jam lima lebih, Ibun dan Ayu datang. Ternyata tak membawa bungkusan makanan karena buru-buru gowes sepeda sambil kehujanan.  Aku lantas menghangatkan nasi dan menggoreng tempe. Oh ya, di Kyoto ada lho tempe enak buatan Pak Rustono. Orang Indonesia yang menetap di Jepun.

Ilham makan duluan karena sudah lapar banget di ruang tengah. Aku sendiri bolak-balik ruang tengah dan dapur. Biasa, masak sambil ngemil tempe, he he. Oh ya, karena pemanas dinyalakan, maka pintu kaca buram yang memisahkan dapur dan ruang tengah selalu ditutup.

Nah sambil ngemil tempe yang dikasih sambel, aku ngobrol sama Ilham, Ibun dan Ayu. Ceritanya soal pengajian tadi. Ayu rupanya sebel karena banyak yang memanggilnya kawaiiiiii.

Tiba-tiba  terdengar alarm asap menyalak. Dibalik pintu kaca dapur, terlihat semburat orange. Aku langsung melompat ke dapur, api sudah membumbung dari kompor, menjilat atap dan wallpaper dinding serta membakar exhaust fan. Aku segera mematikan gas, membuka pintu menyuruh anak-anak keluar dan mengambil jaket ayu dan membasahinya di keran. Ibun juga sigap mengambil celana Ayu dan membasahinya. Kami lantas memukuli api dengan jaket dan celana Ayu. Alhamdulillah, api lantas padam.

Semua gemetar. Tetangga dari lantai atas juga datang menemui dan bertanya “daijobu?” Ibun menjawab “daijobu”, sambil gemeteran. Tetangga berinisiatif menelepon Oya San (pemilik apartemen) mengabarkan kejadian ini.

Kami segera membuka semua jendela, membiarkan asap yang memenuhi ruang apartemen kami pergi.

Huff, setelah asap pergi Ayu dan Ilham baru boleh masuk.

Terpaksalah kami membereskan sisa-sisa kebakaran. Untunglah api belum menguasai dapur. Ada banyak bahan mudah terbakar disana, bahkan dindingnya pun dari kayu.

2013-12-22 11.17.37

Kabel sisa exhaust fan juga masih terjulur. Ketika aku pegang, langsung terasa setrumnya. Untunglah aku orang Banten, jadi tak apa-apa (ha ha, gak nyambung ya, tetep aja kaget). Wah kalau listriknya meledak bisa berabe ya, syukurlah tidak terjadi.

Malamnya Oya San menelepon, dan dia berjanji datang besok, maunya malam ini, tapi semua kecapekan. J juga menelepon, karena Oya San menelepon. Oh ya, J adalah sahabat yang jago bahasa Jepang, yang memang waktu aku mulai mengisi Apato ini dia banyak membantu.

Pagi-pagi J datang disusul oleh Oya San. Oya San memeriksa, bertanya apa yang terjadi dan kami menjelaskan. Oya San kemudian pergi dan menyatakan akan menghubungi Pemadam Kebakaran. Ia membutuhkan surat keterangan untuk mengurus asuransi.

Kami lantas ngobrol sambil minum teh, menunggu petugas pemadam yang akan datang membuat surat keterangan.

Tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar. Astaga, jangan-jangan….

Aku membuka jendela dan langsung kaget.

20131222_104545

Yang datang bukan seorang petugas, tapi sepasukan pemadam kebakaran berseragam lengkap dengan mobil besar Haduh kok jadi heboh begini.

Beberapa petugas langsung masuk ke dapur. Satu orang mewawancarai, menanyakan identitas dan peristiwa yang terjadi. Satu orang membuat sketsa dapur. Satu orang sibuk memotret. Dua orang memeriksa setiap sudut dapur, menggunakan berbagai perlatan, bahkan mengukur segala hal seperti lobang jendela dan mencatat segala merek barang yang ada.

20131222_102621

Aku dibantu J lama juga ditanya-tanya, ia bertanya kejadian, penyebab, kerugian, dan sebagainya. Mereka juga meminta beberapa “artefak” seperti jaket dan celana Ayu, penggorengan, serta bekas exhaust fan yang terbakar hebat sebagai bukti.

20131222_102901

Bahkan mereka menanyakan jenis minyak goreng dan jenis makanan yang dimasak. Ketika aku bilang tempe, mereka kaget, apa itu. Lantas aku tunjukkan tempe yang masih terbungkus, mereka memeriksanya dengan cermat, termasuk daftar kandungan di bungkus bagian belakang.

tempeh

Tak lama kemudian polisi muncul di tangga. Haduh, tambah ruwet nih.

Akhirnya sambil terus diwawancarai Pemadam kebakaran, polisi juga ikut nimbrung, menanyakan identitas dan sebagainya.  Polisi hanya sebentar saja di lokasi.

Akhirnya setelah sekitar satu jam, selesai juga. Pemadam kebakaran menyelesaikan tugasnya dengan membereskan kabel listrik bersetrum yang masih terjulur dan juga membawa sepelastik besar barang bukti berisi penggorengan, jaket ayu dan juga celana Ayu, setelah sebelumnya berkata kami keberatan atau tidak. Oh ya, ia juga mengatakan jika ada masalah kesehatan akibat kebakaran bisa menelepon 119, maka Ambulance akan segera datang. Sip deh Bapak.

Huaaa, tinggal teparnya…..

Karangantu

Setelah enam bulan lebih tak bersua, akhirnya Mazhab Pakupatan bisa bertemu kembali.

Kami menuju Karangantu untuk berburu sunset yang keburu pergi sebelum kami datang.

Karangantu tempat menarik, tempat dulu Kesultanan Banten berdiri beratus tahun.

Hmm jika saya jadi Walikota Serang atau Gubernur Banten, nampaknya saya akan menjadikan daerah ini sebagai salah satu pusat kegiatan di Banten. Bolehlah jadi pusat pemerintahan atau pusat wisata, yang penting tertata apik dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.

Lihat, Gunung Karang terlihat gagah dari karangantu.

Mega Senja juga nampak mempesona

IMG_3073

Integritas

Saya akhirnya menemukan jawaban, mengapa Indonesia sulit untuk beranjak untuk maju menjadi salah satu kekuatan dunia, meskipun banyak ramalan mengatakan itu. Jawabannya adalah karena bangsa kita, masyarakat dan elit tak memiliki cukup integritas. (Sebagian besar) elit kita sibuk menggemukkan diri, keluarga dan kroni-nya sekalipun itu mengambil hak orang lain. Cukuplah kasus suap daging sapi menunjukkan hal itu. Seorang pemimpin partai islam yang tentunya paham dan bahkan mengajarkan sifat dan tindak-tanduk Rasulullah mengambil sesuatu yang bukan haknya. Bukan hanya itu, ia mengakibatkan harga daging sapi membumbung tinggi sehingga rakyat tak bisa mendapatkan gizi yang baik atau menikmati bakso yang enak. Ia pun–  jika kelak terbukti — mesti bertanggungjawab atas dikonsumsinya daging celeng dalam bakso oleh ummat Islam.

Kasus ini seperti puncak gunung es, hanya contoh kecil bagaimana partai politik menjadikan kementrian yang dipimpin kadernya menjadi ATM. Tentu saja kasus-kasus lain harus diungkap dan dibawa ke pengadilan. Belum lagi di level lokal, elit-elit politisi dan birokrasi lokal berpesta diatas jalan rusak dan jeleknya fasilitas umum. Rakyat membayar pajak yang harusnya dikembalikan kepada mereka dalam bentuk fasilitas umum yang baik, namun para penjahat itu mengambil keuntungan dan membiarkan rakyat tetap kesusahan.

Bagaimana dengan masyarakat kita? Masyarakat juga punya persoalan dengan integritas. Serobot-menyerobot trotoar, parkir sembarangan, buang sampah di sungai adalah contoh bagaimana integritas masyarakat kita berantakan. Hal ini berangkat dari kegagalan pendidikan kita menanamkan integritas sebagai pilar dasar dalam pembentukan karakter. Maka ketika bodoh menjadi preman jalanan dan ketika pintar menjadi penjahat berdasi.

 

Dari Jendela

Inilah pemandangan dari lounge kampus lantai 2. Gedungnya baru dibangun, tiga lantai dengan arsitektur unik. Bentuknya seperti O dengan theatre di tengan yang bisa dipakai untuk berbagai kegiatan. Pindah kesini sejak Desember lalu. Tempat belajarnya nyaman dengan fasilitas memadai, termasuk mushola a.k.a meditation room yang dilempati tempat wudhu. Yang kurang hanya kantin yang terlampau sederhana dan perpustakaan yang belum pindah semua bukunya.

2013-01-30 11.14.00 HDR

Mencari Apato

Bagi mahasiswa yang kuliah di Jepang, mencari apato itu gampang-gampang sulit. Beberapa kampus menawarkan hunian sementara berupa guest house atau asrama untuk beberapa bulan. Sebagian memiliki kerjasama dengan beberapa agen yang menawarkan kemudahan. Kampus biasanya menjadi guarantor bagi (calon) mahasiswa tersebut. Maklumlah sistem yang umum di Jepang adalah, orang asing mesti memiliki guarantor untuk dapat menyewa apato. Guarantor lazimnya adalah orang Jepang asli yang memberikan jaminan bahwa si penyewa melunasi kewajiban finansial terhadap pihak yang disewa. Kalau sudah ada kerjasama dengan kampus, kampus menjadi guarantor. Selain biaya sewa bulanan, biasanya ada juga deposit (jaminan, dikembalikan ketika selesai menyewa) dan atau key money (biaya yang tidak dikembalikan). besaran deposit dan key money tidak bisa diperkirakan, bisa sebesar uang sewa, setengahnya atau malah dua kali lipat dari uang sewa bulanan.

Mahasiswa single biasanya tidak terlalu sulit untuk mencari Apato. Cukup menyesuaikan dengan budget dan fasilitas. Range harga-nya mulai dari 20.000-50.000 yen per-bulan. Nah keluarga lain lagi, jumlah kamar, fasilitas, akses ke sekolah, akses ke pasar dan suparemarket, jarak se stasiun, semua mesti dipertimbangkan masak-masak.

Sebagaimana diceritakan di postingan sebelumnya. Saya juga gagal membawa keluarga dari awal. Ada beberapa alasan, pertama, kampus tidak bersedia menguruskan CoE. CoE adalah surat untuk mengundang orang yang akan menetap di jepang. Kampus saya hanya bersedia mengundang si calon mahasiswa saja. Akibatnya memang, keluarga tak bisa berangkat langsung. Kedua, soal biaya, beasiswa belum turun sampai saya berangkat ke Jepang. Akibatnya membawa keluarga hanya akan menyengsarakan mereka. Ketiga, akomodasi di Jepan belum siap sampai saya berangkat. Teman-teman di Kyoto bukannya tak mau mencarikan, tapi khawatir soal selera, kecocokan, dll. Belum lagi, proses kontrak tak bisa diwakilkan oleh siapapun, mesti orangnya sendiri. Apalagi kontrak biasanya berkisar dua tahun. Kalo gak cocok bisa ruwed juga.

Alhamdulillah, saya bisa berangkat bareng sama J, kawan lama. Dia tak hanya bersedia berangkat bareng dari Indonesia, tapi juga bersedia saya menetap di Apato-nya sampai saya mendapatkan Apato yang sesuai untuk keluarga. Nah begitu di Kyoto, kami juga tak membuang waktu. Melalui internet kita berburu Apato sampai menemukan beberapa alternatif yang cocok. Kita juga berburu ke agen agar bisa meihat rumahnya langsung. Ada rumah dua lantai dekat kampus. Dia berlantai parket, jadi tidak dingin (Menurut J, tatami dingin sekali di musim dingin) dan cukup lapang. Celakanya harganya mahal sekali. Per-bulan 75.000 yen dan uang awalnya amat mahal. Saya harus membayar Deposit sebesar 150.000 yen dan juga Key Money sebesar 150.000 yen. Jadi uang minimal yang harus disiapkan adalah 375.000 yen, belum ditambah fee agen, cleaning fee, dll. Bisa sampai 500.000 yen. Uang darimana?

Alternatif satu lagi di Kuramaguchi. Masih dekat dari kampus juga. Terletak di lantai dua, ada dua kamar, dapur dan kamar mandi dan toilet terpisah. Lingkungannya juga asri, sekeliling hijau-hijau begitu. Dekat dengan taman bermain dan rumah sakit, serta stasiun. Harganya juga murah, sebulan 58.000 (biaya sewa)+5000(kebersihan)+4000(air) jadi total 65.000 yen/bulan. uang di awal juga hanya masing-masing satu kali sewa, uang deposit 58.000 + key money 58.000.

Nah sekembalinya ke kantor agen si agen minta kami menyiapkan guarantor. Sip, saya kira tak akan sulit, secara ngerasa cukup banyak teman disini. Apalagi, Sensei pasti mau.

nah, malamnya saya email Sensei, minta beliau menjadi guarantor. Namun apa yang terjadi, beberapa jam kemudian Sensei mengirim email bahwa beliau ternyata tak bisa menjadi guarantor  oleh karena aturan di universitas dan aku diminta menghubungi bagian administrasi untuk minta bantuan. Besok ketika ketemu administrasi disampaikan bahwa memang itu aturan universitas. Waduh kaget juga.

Akhirnya mengirim email ke seorang kawan Dosen di Kyoto Daigaku. Syukurlah beliau bersedia jadi Guarantor. Namun cilakanya, dia berada di Amerika dan baru akan pulang sebulan lagi. He he, tambah runyam.

Nah sambil pusing aku ikut acara PPI di Biwako Lake. sambil ngobrol ngalor ngidul, Mas Mayong ketua PPI memberi tahu kalo ada mahasiswa yang baru selesai dan apato-nya akan kosong, family pula.Hmm boleh juga pikirku, tempatnya di Moto Tanaka.

Pulang dari Biwako, aku sampaikan info tersebut ke J. J dengan bersemangat langsung mengajak survey, saat itu juga. Dengan lelah, belon ganti baju dan masih bau, akhirnya kami bersepeda ke Moto Tanaka. Nah di lokasi langsung pencet bel. Lucu juga, karena gak biasanya bertamu gak janjian, lha wong gak punya nomor telponnya.

Tuan rumah kaget juga ada tamu tak diundang. Tapi setelah dijelaskan maksud kedatangan, dia langsung berseri-seri. “Nah kebetulan saya juga lagi pusing, sudah mau pulang tapi barang-barang masih banyak, mesti dibuang. jadi kalo mas hamid gak keberatan, kalo jadi pindah ke sini sekalian semua barang saja.”

Wah ini namanya gayung bersambut. Saya dateng gak punya “apa-apa”, pak fadjar mau pindah bingung kebanyakan “apa-apa”.

Singkat cerita, kami membuat janji dengan Oya-San (sebutan utk pemilik rumah), menyepakati proses peralihan dan saya bayar 50.000 (key money) + 50.000 (deposit) + 50.000 (uang bulan pertama). Saya masuk ke apato baru, bertepatan dengan hari mas Fadjar berangkat ke Osaka sebelum ke Indonesia. Pagi-nya kami juga mengesahkan perpindahan ke petugas Gas dan listrik, sehingga tagihan sudah beralih menjadi atas nama Abdul Hamid.

Beberapa hari sebelum sebelum saya pindah, Mas fadjar juga mengajak observasi lingkungan sekitar, pasar, sekolah, kantor pos, bank-atm, dan mall. Juga mengobservasi cara memakai remote TV, remote AC, dan beberapa peralatan elektronik yang tombolnya memakai kanji.

Alhamdulillah, tanggal 25 September pindah deh dari Hotel J ke Okumura Mansion. Langsung kaya raya, punya segala, kecuali cermin besar, ha ha ha. Untung saya gak narsis dan gak pernah nyisir, jadi gak perlu barang itu pula 😉

Oh ya, ini foto saya bersama Mas Fadjar, persis sebelum beliau berangkat pulang ke Indonesia dan Saya masuk ke Apato. Sayangnya J selalu menolak difoto.