Arsip Kategori: Artikel

Perpustakaan Kampus

Saya beruntung pernah menikmati beberapa kampus dengan perpustaan yang luar biasa. Di Kyoto sewaktu saya studi S3 di Doshisha, perpustakaan adalah tempat saya menghabiskan waktu. Selain meminjam buku, juga untuk belajar. Perpustakaan berada beberapa lantai ke dalam bumi. Terdapat ruang baca di permukaan tempat membaca beberapa hardcopy jurnal dan buku. Di kampus terpisah terdapat ruang belajar yang bisa dipakai untuk berdiskusi, semacam study room, lengkap dengan layar besar untuk latihan pesentasi kelompok di setiap meja-nya. Nah di ruangan belajar tersebut saya dan Pak Ishaq membimbing beberapa mahasiswa master dari Afghanistan menyelesaikan tesisnya.

14171838312_ba76eb88ac_o

Oh ya, jika kita membutuhkan buku dan koleksinya tak tersedia, bahkan kita bisa memanfaatkan jaringan perpustakaan atau bahkan meminta perpustakaan untuk membelikan. Kadang minta Sensei membelikan juga sih pake anggarannya. What? Dosen diberi anggaran untuk beli buku? Ya begitulah…

Masih di Kyoto, selama dua kali menjadi Visiting Researcher di CSEAS Kyoto University, perpustakaan CSEAS menjadi tempat favorit untuk mendapatkan (baca: meminjam dan baca) koleksi buku-buku super lengkap tentang Asia tenggara, wabilkhusus Asia Tenggara. Kita bisa mendapatkan koleksi majalah Tempo atau bahkan Sabili lengkap. Karena itu, jika kita menulis tentang Indonesia, khususnya Indonesia modern, perpustakaan ini menjadi salah satu pilihan utama untuk studi pustaka.

Saya paham seriusnya perpustakaan CSEAS berburu bahan pustaka, karena pernah beberapa kali menemani Okamoto Sensei berburu buku langka. Kantor CSEAS-Jakarta di Kertanegara adalah tempat transit buku-buku tersebut sebelum dikapalkan ke Jepun.

Terakhir ketika saya short-course di Belanda, tentu saja perpustakaan Leiden menjadi tempat favorit. Sebagian besar waktu saya habis di perpustakaan universitas yang menyimpan koleksi amat lengkap, hardcopy maupun digital. Librarian mengatakan bahwa koleksi Indonesia jika disusun-panjang, sekitar 12km. Tentu inilah tempat terbaik di dunia untuk studi pustaka Indonesia.

whatsapp-image-2017-10-26-at-13-43-20

***

Saya tentu tidak mau mengeluh tentang kondisi perpustakaan di tanah air, apalagi di kampus tempat saya bekerja. Oh ya, kampus tempat saya dulu kuliah di Depok sejatinya punya konsep yang keren. Perpustakaannya seperti bukit telletubies yang ditutupi rumput-rumput. Ndilalah ketika bulan lalu ke sana, ternyata konstruksi bangunannya gak kuat, kabarnya bocor dan retak di beberapa tempat. jadilah tanah dan rumputnya dibuangin. Sayang banget ya

Perpustakaan_Universitas_Indonesia

Nah karena malam ini karena tidak bisa tidur, maka secara random saya searching foto-foto perpustakaan terbaik di dunia menurut beberapa website. Hmm, saya sepakat bahwa walaupun sebagian besar naskah yang dibutuhkan untuk belajar atau meneliti sekarang berbentuk digital, peran perpustakaan tidak bisa diremehkan, malah menjadi semakin penting.

Maka saya sudah tidak terkesima dengan perpustakaan kampus yang grande ala ruang makan di Hogwart, tapi lebih ke perpustakaan yang nyaman untuk belajar dan bekerja, dengan akses internet kecepatan tinggi serta menyediakan ruang untuk berdiskusi. Tentu tanpa mengganggu yang lain.

Ini dua tempat yang memberikan ide. Pertama adalah Walter C. Langsam Library – University of Cincinnati. (sumberfoto:http://www.collegerank.net/amazing-college-libraries/) Ini oke dan lucu banget, instagrammable. langsam-library-univ-cincinnati

Rasanya kok fresh banget ya. Suasana fresh begini penting, apalagi jika sedang menulis paper, skripsi, tesis atau disertasi. Pasti melancarkan peredaran darah di otak 😉

He he, sok tau ya?

Nah kalau satu lagi, Princeton University’s Julian Street Library (Sumberfoto: https://www.ecollegefinder.org/2014/04/28/worlds-coolest-college-libraries/)

Julian-Street-LibrarySaya kesengsem (baca: suka banget) sama sofa dan cahanya. Kayaknya tenaaang banget untuk membaca. Pasti membaca yang sulit-sulit jadi lebih mudah ya, he he, apalagi sambil minum kopi yang enak, hmmm

Tentu sudah ada kali ya, kampus dengan suasana macam begini di tanah air (CMIIW).  Yang jelas aspirasi saya sebagai dosen jelata millennial ya apa yang saya tulis di instagram:

Perpustakaan mestinya bisa menjadi tempat yang paling nyaman di kampus. Ia bisa digunakan untuk membaca, merenung, bekerja atau berdiskusi (ada ruang khusus yang privat). Koleksi yang lengkap dan berjaringan dengan kampus lain, akses internet kencang, ruangan sejuk, sofa empuk, meja dengan banyak colokan dan beberapa komputer siap akses koleksi digital.

Nah tentu saja, ini mesti jadi investasi terbesar ketika membangun sebuah kampus. Walaupun tentu saja jika sedikit kreatif bisa berkolaborasi dengan berbagai perusahaan sekitar kampus atas nama CSR. Masak sih nggak bisa?

 

Iklan

Home Coming Day FISIP UI

Sebenernya, dalam beberapa waktu ini saya sedang banyak berurusan dengan FISIP UI, he he

Sekira dua minggu lalu, saya dan Mas Arie Dekan FISIP UI sama-sama ketemu dan dilantik menjadi pengurus HIPIIS di Jakarta. Beberapa hari kemudian saya mengikuti pelatihan Metodologi Etnografi Jaringan Sosial di Puska Antrop. Di sela-sela kegiatan sempat ketemu Ipul, makan bareng habis solat jumat.

Nah hari ini, dateng juga ke HCD (Home Coming Day) FISIP UI, tergiur iming-iming ada paguyuban pengedar kafein FISIP UI bakal buka lapak di sana. Kalau ngumpul, yaaah pastinya angkatan senior yang semangat ngumpul mah, angkatan kita-kita mah masih pada (masa-nya) sibuk, struggle of life, ha ha. Jadilah gak ada ekspektasi yang gimanaaa gitu, kecuali rencana ngambil kaos teman2 yang banyak dititip ke emaknya anak2 yang juga nitip karena sedang TL. Semangatnya nunjukkin tempat kuliah yang bagus ke anak-anak, ngasuh

Sesuai woro-woro nyampe kampus jam 10 sama bocah-bocah. Alhamdulillah walaupun masih sepi, ketemu sama Marbot Mushola Al Hikmah, pedagang Takor darurat, beberapa staf FISIP yang masih kenal, beberapa dosen-dosen ketika kuliah dan teman seangkatan yang udah dateng beberapa biji dan lain angkatan. Karena masih sepi sempat banyak bikin foto sama Ayal dan Ilham

WhatsApp Image 2018-05-05 at 10.07.00

WhatsApp Image 2018-05-05 at 22.14.41Sesuai rencana sempat ngopi dua kali, di paguyuban kafein dan filosofi kopi, he he

WhatsApp Image 2018-05-05 at 22.15.12

WhatsApp Image 2018-05-05 at 13.50.30

WhatsApp Image 2018-05-05 at 22.14.23Makan di Takor, ngobrol cukup banyak sama beberapa kawan.

WhatsApp Image 2018-05-05 at 12.59.08

Nah, siangnya sempat lihat fashion show sebelum Ayal dan Ilham mulai bosan dan ngajak pulang. Seneng juga sih ketemu dan mengamati alumni FISIP UI lintas angkatan. Yang semangat memang angkatan senior-senior sesepuh, rame banget kayak cendol

WhatsApp Image 2018-05-05 at 22.14.00

WhatsApp Image 2018-05-05 at 22.13.54Hanya memang bocah-bocah udah pada bosen dan tepar, apalagi pada kecewa karena gak ada booth yang jual es kepal milo ;). Alhasil gak tega dan pulang. Gak sempet dah ngambil kaos, maksudnya gak sempet nunggu lebih lama lagi, dari sejak jam 10 sampe jam 3, kasihan bocah2. Nyamber kaos di booth merchandise aja akhirnya, kembaran lagi sama Ilham. Kayaknya begitu kita pulang bakalan rame, malam minggu soalnya..

WhatsApp Image 2018-05-05 at 22.13.45

Yang penting ngopi, dan kopi yang saya beli dari Paguyuban Pengedar Kafein dengan embel-embel Gayo Wine, emang enak banget. Rasa wine-nya mantap, eh

WhatsApp Image 2018-05-05 at 21.53.58

WhatsApp Image 2018-05-05 at 21.48.19

 

Respon-respon Terhadap Isu Dosen Asing

Media sosial menjadi sarana berkespresi yang menarik untuk melihat berbagai sudut pandang terhadap isu dosen asing yang mau digaji Kemeriting (Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi). Saya sendiri juga cukup aktif di medsos, sebagai sarana berbagi dan tukar pikiran.

Terdapat berbagai sudut pandang mengenai rencana masuknya dosen asing tersebut. Saya ambil tiga ekspresi yang menurut saya menarik. Oh ya satu sudut pandang dari HA sudah saya tampilkan di tulisan sebelumnya.

Ekspresi menarik datang dari Dr. Wahyu Prasteyawan, sahabat baik, Dosen UIN Syahid Jakarta yang dalam setahun, selama 3 bulan mengajar di GRIPS, Tokyo. Ia menulis

Screenshot 2018-04-24 08.51.02

Belakangan beliau Japri rencana bukunya yang segera terbit di NUS

Screenshot 2018-04-24 09.06.38

Nah itu Mas Wahyu, bisa ikut jawab pertanyaan beliau?

Apakah dosen lokal dengan kualifikasi setara dosen asing berhak atas gaji yang sama dengan dosen asing?

Nah pendapat Prof Arief Anshory Yusuf juga menarik,

Screenshot 2018-04-24 11.20.04

Yang lebih senior, Prof Khairurijal, role model saya di dunia ghoib akademik salah satu Ilmuwan Produktif Indonesia, Ketua LPPM ITB dan Awardee Habibie Award juga menyampaikan ekspresi yang hmm, provokatif 🙂

Screenshot 2018-04-24 09.08.52

Menarik ya..

Dan ekspresi tersebut tak berlebihan, karena prestasi akademik Prof. Khairurrijal memang wow banget. Beliau juga banyak membidani lahirnya berbagai upaya meningkatkan publikasi di banyak kampus, termasuk kampus tempat saya mengajar. Berikut profil Sinta Prof Khairurrijal…

Screenshot 2018-04-24 09.10.44

Ah saya gak tega membandingkan dengan screenshot profil Sinta Bos pengambil kebijakan pendidikan tinggi yang sedang ramai beredar karena tidak memiliki publikasi terindeks scopus padahal keras sekali menyuruh dosen publikasi terindeks scopus.

Ada komentar?

Atau masih nyuruh mingkem karena dianggap gagal paham?

 

Masih Soal Dosen Asing

Banyak yang tidak mengerti, seakan-akan akan dimasukannya dosen asing dengan gaji sekitar Rp.65 juta/bulan hanya sekedar persoalan keirian dosen pribumi terhadap mereka.

Padahal naiknya isu ini adalah gunung es dari persoalan manajemen SDM pendidikan tinggi kita yang betul-betul buruk.

Dengan isu ini, sebetulnya, semua sepakat bahwa gaji tinggi (baca: pantas) adalah prasyarat mutlak bagi dihasilkannya produktivitas ilmiah yang pantas. Sederhananya, dosen cukup ngurusi ngajar dan riset tanpa mencari penghasilan tambahan di luar sana. Sibuk jadi anggota komisi ini dan itu, bisa menolak tampil di TV untuk jadi komentator segala hal, atau gak mesti jadi calo tanah.

Kalau memang Kemeriting (Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi) memang menganggap gaji dosen kita sudah pantas, berikan saja gaji yang sama untuk dosen asing. Jika menganggap itu tak pantas dikaitkan dengan target yang hendak dicapai, berarti memang selama ini gaji dosen Indonesia tak pantas.

Gak mungkin kalau dosen asing protes soal gaji trus dibilang bahwa pintu rezeki itu banyak, silahkan ngobyek, harus ikhlas dan mari bersyukur kan?

Inilah ketidak adilan, mental inlander dan diskriminasi yang ada di bawah sadar para pengambil kebijakan pendidikan tinggi kita.

Alih-alih menaikkan tunjangan fungsional dosen yang sebelas tahun gak naik (Baca Perpres 65 tahun 2007), kebijakan terakhir terhadap dosen pribumi adalah mengancam menghentikan tunjangan sertifikasi dosen bagi lektor kepala (Baca Permenristekdikti 20 2017) terkait publikasi. Jadi mental inlandernya kentara sekali, menginjak bangsa sendiri dan memuja asing setinggi-tingginya.

Manajemen SDM pendidikan tinggi kita jadi terlihat betul-butul buruk, menggaji dosen pribumi terlalu rendah tapi mengharapkan mereka berproduksi seperti dosen asing yang (akan) dibayar tinggi.

Ada juga tanggapan di beberapa orang yang pernah mengajar di negara asing, bahwa angka segitu sudah pantas, tidak berlebihan. Misalnya orang ini:

Screenshot 2018-04-23 08.17.05

Lha kalau logika Kemeriting diaminin, maka jika gaji HA sebagai dosen asing sebesar 50-60 juta maka gaji dosen pribumi Jepangnya cuma seperlimanya atau  5-10 juta? Nggak kan Bro?

Itulah, butuh berpikir dan bukan hawa nafsu sebelum membuat posting atau berkomentar, jadinya ngawur.

Dosen asing yang masuk ya mestinya ikut sistem di mana dia bekerja. HA digaji segitu ya karena segitulah standard gaji dosen di level dia di Jepang. Kalaupun lebih tinggi karena kualifikasi, reputasi dan portofolio yang lebih baik, bukan karena soal asing dan pribumi.

Lantas bagaimana?

Tentu saja saya ndak menolak dosen asing. Tapi mereka musti terintegrasi dengan sistem yang ada. Bukan diistimewakan dengan kebijakan double standard seperti sekarang. Kalau situasinya masih seperti sekarang ya berikan gaji seperti kepada dosen Indonesia. Kalau sakit ya disuruh berobat pake BPJS 🙂

Saya yakin banyak anak-anak muda Indonesia yang punya potensi besar jadi promising top scientist di masa depan. Tapi mereka mungkin merinding dan melipir duluan melihat dunia pendidikan tinggi kita yang ajaib. Jadilah memilih kerja di perusahaan swasta, ngajar di kampus luar, dan tempat-tempat lain yang memperlakukan secara pantas.

Jadi tantangannya ya  dengan membuat profesi dosen menjadi atraktif, dan digaji pantas. Kalau ndak ya mereka-mereka yang terbaik (Katakanlah alumni lpdp yang lulus dari kampus-kampus terbaik di dunia dan dibiayai negara selama kuliah) pasti akan memilih bekerja di sektor yang memperlakukan mereka dengan lebih pantas.

Begitu, btw gak usah bikin tagar-tagaran kan?

 

 

 

Dosen Asing vs Dosen Pribumi

Screenshot 2018-04-20 22.35.30

Membaca berita bahwa dosen asing mau digaji 5000 US dolar (sekitar 65 juta rupiah)  (https://www.jpnn.com/news/datangkan-200-dosen-asing-gaji-hingga-rp-65-juta) oleh Kemeriting, dan itu pastinya pakek duit mbahmu rakyat , maka setelah geleng-geleng kepala, ada beberapa hal yang mau saya sampaikan, sebagai dosen pribumi (baca: WNI) yang merasa (lagi-lagi) terdiskriminasi.

  1. Di dunia akademik mancanegara, sepemahaman saya yang terjadi adalah kesetaraan (CMIIW). Tak ada beda yang njomplang antara dosen asing dengan dosen pribumi. Kamsudnya, kalau dosen asing asal Indonesia jadi Associate Professor di Jepang, maka rate-nya akan mengikuti  standar take home pay Associate Professor di Jepang. Kalaupun dibayar agak istimewa, itu karena keahlian dan reputasi, bukan soal asing atau pribumi. Sampai sini paham?
  2. Ketika Kemeriting membuat ancer-ancer gaji hingga 65 juta rupiah untuk dosen asing, maka sesungguhnya Kemeriting paham bahwa pendapatan dosen pribumi di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan standar internasional. Karena kalau kemeriting tidak paham, maka dosen asing akan digaji sama seperti dosen universitas negeri (sebagai standar) di Indonesia. Yang kalau mau lebih sejahtera silahkan mengajukan jabatan fungsional yang besaran tunjangannya kecil banget dan gak naek-naek dari tahun 2007. Kalau masih kekecilan suruh dosen asing itu ikut ngantri sertifikasi dosen, termasuk ikut test bahasa inggrisnya. Lho kok test bahasa lagi? ya musti ikut, lha wong dosen pribumi alumni UK, USA atau Aussie juga mesti kok. Ini demi kesetaraan dan keadilan. Lha kalau dosen asing sudah dapet serdos masih merasa pendapatannya kecil, maka dipersilahkan saja ngobyek dan bersyukur. Lho nanti ngajar dan risetnya gak optimal? berarti bapak-bapak di kemeriting mulai paham toh problem kenapa pendidikan tinggi Indonesia gak maju?
  3. Kalau menganggap point nomor (2) berlebihan dan berpikir “wah dosen asing nggak bakalan mau”, dan tetep ngotot bahwa secara wajar mereka musti digaji sekitar 65 juta untuk menghasilkan riset dan publikasi berkualitas, saya punya solusi lebih menyenangkan. Jadikan gaji 65 juta sebagai standar gaji dosen yang wajar di Indonesia. Katakanlah dosen Asisten ahli (Instructor)THP-nya mulai 30 juta, dosen lektor (Assistant Professor) 40 juta, Lektor kepala (Associate Professor) 50 juta dan dosen Professor 65 juta. Asyik kan?
  4. Kalau usul nomor (3) dianggap aneh, ya berarti kemeriting yang aneh, berada dalam sesat pikir, berpikir a la  inlander, rendah diri dan selalu menganggap yang serba asing itu hebat dan tinggi.
  5. Hmm, trus piye? Saya kasih saran gratis. (1) Naikkan dulu standar pendapatan dosen Indonesia, katakanlah minimal dua kali lipat take home pay guru SD Negeri di Jakarta (https://megapolitan.kompas.com/read/2018/01/11/17331311/gaji-guru-pns-di-dki-maksimal-rp-14-juta-sebulan),  (2) Rekrut anak-anak bangsa sendiri menjadi dosen tetap, doktor-doktor alumni kampus-kampus terbaik dunia, katakanlah lulusan beasiswa LPDP yang kuliahnya dibiayai dari uang negara juga. (3) Proses rekrutmen tentu saja diperbaiki dengan mengedepankan portofolio akademik untuk mencari ilmuwan, bukan semacam tes yang sama untuk mencari pegawai Pemda.
  6. Tiga hal di nomor (5) saja dijalankan, kita tidak butuh mengimpor dosen asing, perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia akan berkembang secara cepat dan alamiah, tidak instant.
  7. Semoga kali ini Bapak-bapak di Kemeriting paham, rasanya saya sudah menjelaskan dengan bahasa dan logika yang sederhana.

Catatan: Penggunaan kata pribumi hanya untuk menaikkan tensi biar menjadi isu publik lebih luas dan menjadi kontras untuk kata “asing”. Makna pribumi di sini adalah Warga Negara Indonesia.

-AH

Diaspora Indonesia Dipermudah Jadi Dosen PNS? Yang Bener aja ;)

Lagi-lagi saya geleng-geleng kepala.

Kemeriting (Kementerian Riset, teknologi dan perguruan tinggi) ini memang sedang demen-demennya bikin aturan instant, tidak berbasis persoalan riil yang ada di dunia pendidikan tinggi, dalam hal ini negeri.

Sebagaimana judul tulisan ini, beberapa media melansir kesepakatan KeMenPAN RB dan Kemeriting tentang rekrutmen diaspora Indonesia menjadi dosen PNS tanpa test.

Baca: JPNN, Okezone, dan Republika.

Screenshot 2018-03-27 19.46.08.png

Ada beberapa komentar saya tentang hal ini.

  1. Rekrutmen dosen PNS memang secara keseluruhan bermasalah, penekanan kepada test dan bukan portofolio di bidang akademik bidang yang spesifik, hanya akan menghasilkan rookie dan bukan ilmuwan yang sudah jadi. Seleksi dosen PNS cenderung menghasilkan birokrat yang kemudian ditempatkan sebagai dosen, bukan mencari ilmuwan.
  2. Pemerintah terutama Kemeriting harusnya mencari tahu, mengapa talenta-talenta terbaik tidak tertarik menjadi dosen, tapi memilih bekerja di sektor swasta atau memilih menjadi dosen di luar negeri. Kenapa pekerjaan dosen di Indonesia less atractive?
  3. Salah satu jawaban untuk nomor (2) adalah rendahnya penghargaan terhadap dosen di Indonesia. Dengan requirement minimal master dan didorong untuk doktor, tingkat penghasilan tidak berbeda, bahkan bisa lebih rendah dibandingkan guru yang requirementnya S1. Untuk daerah seperti DKI Jakarta, di mana guru mendapatkan tunjangan daerah yang amat besar, pendapatan dosen PNS jauh lebih kecil. Sebagai catatan, tunjangan profesi dosen persis sama dengan tunjangan profesi guru, padahal jelas requirement, tugas dan kewajiban berbeda.
  4. Pemerintah dalam hal ini utamanya Kemeriting cenderung memaksakan target-targetnya dipenuhi dosen dan memberikan ancaman, tapi tidak memberikan reward sepadan. Sebagai contoh, dosen berjabatan fungsional lektor kepala (Associate Professor) diharuskan menghasilkan publikasi internasional dan atau di jurnal terakreditasi, dan jika tidak maka tunjangan profesi dosennya dihentikan (baca permenristek dikti 20 2017). Padahal tidak ada reward atau tunjangan khusus bagi lektor kepala.
  5. Tunjangan fungsional lektorkepala (Associate Professor) hanya Rp. 900.000,-. Jadi jika tunjangan profesi dosen dihentikan, pendapatannya jelas lebih kecil dari lektor atau asisten ahli. Diskriminasi dan aneh banget serta gak masuk akal. Gemes deh…
Screenshot 2018-03-27 19.15.23

Tunjangan Fungsional Dosen, Perpres 65 2007

6. Nah tunjangan di point (5) diatur dalam Perpres No. 65 2007, aturan yang sudah berumur 11 tahun. Padahal tunjangan fungsional peneliti terbaru di tahun 2012. Mendesak bagi pemerintah dalam hal ini Kemeriting mengusulkan revisi PP No. 65 2007 jika memang memperhatikan kesejahteraan dosen.

screen-shot-2013-11-27-at-6-42-33-pm

Tunjangan Fungsional Peneliti

7. Jadi sebelum memanggil pulang diaspora untuk menjadi dosen di Indonesia, saran saya perbaiki tingkat kesejahteraan dosen PNS. Paling tidak tunjukkan niat baik dengan menaikkan tunjangan fungsional dosen minimal sebesar peneliti. Atau kalau mau langsung bikin survey ke Malaysia atau Brunei, buat kesejahteraan dosen minimal sebesar di negara-negara itu. Kalau ndak  mereka (baca: diaspora) akan balik lagi ke negara tempat mereka sekarang bekerja. Percayalah.

8. Atau setelah membaca tulisan saya ini, para diaspora gak jadi dan gak mau balik ke Indonesia? he he, jangan marahin saya ya Pak Menteri dan Pak Dirjen, maklum saya hanya nubitol.

catatan: tulisan ini terinspirasi demo ojek online (27/3) yang bisa memaksa presiden menemui mereka. Hal yang belum pernah bisa dilakukan sekelompok “intelektual” yang berprofesi sebagai dosen.

Dosen Milenial (2)

Baiklah, saya mau menggunakan kisaran waktu kelahiran 1981 – 2000 untuk menyebut generasi millenial. Generasi sebelumnya, yaitu yang lahir tahun 1965 – 1980 sebagai generasi X, dan yang lahir 1946 – 1964 sebagai generasi baby boomers. Generasi setelah milenial disebut generasi Z. Kenapa ini dipilih, karena saya lahir di tahun 1981, jadi bisa dengan belagu menyebut diri saya sebagai milenial senior 🙂

Berikut gambar dari hasil risetnya  Alvara :

Screenshot 2018-03-19 18.55.15

Nah berdasarkan kategorisasi di atas, maka generasi milenial sekarang berusia antara: 18 – 37 tahun. Nggak terlalu muda juga, tapi memang sedang ranum-ranumnya di bagian paling muda. Saya sendiri merupakan milenial senior karena lahir di tahun 1981, yah milenial muka kolonial, he he.

Generasi paling junior adalah generasi yang baru masuk kuliah. Jadi kalau saya mengajar, sesungguhnya itu adalah milenial mengajar milenial, bukan jeruk makan jeruk, he he

Screenshot 2018-03-19 19.33.57

Masih dari Alvara yang mengambil data dari BPS, maka jumlah perkiraan penduduk di tahun 2000 bisa digambarkan melalui piramida sebagai berikut:

Screenshot 2018-03-19 19.01.13Jumlah penduduk milenial pada tahun 2020 diperkirakan berjumlah 34% dari populasi. Lebih besar dari penduduk per-kategori, dan menariknya berada di usia yang lucu-lucunya produktif-produktifnya.

Nah bagaimana di dunia pendidikan tinggi?

Berikut data dari buku Buku-Statistik-Pendidikan-Tinggi-2017:

Screenshot 2018-03-19 18.49.03Dosen berusia di bawah 25 tahun sebanyak 1.892 orang, ditambah berusia 26-35 tahun sebanyak 73.223, jika dijumlahkan sebanyak 75.115 orang atau sebanyak 30.38% dari total 247.269 dosen di seluruh Indonesia. Sebagai catatan angka ini agak berbeda dengan angka 113.965 dosen milenial yang diumumkan Kemeriting (Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi) yang dikutip Pikiran Rakyat. 

Bisa jadi karena data yang diumumkan Kementerian mencakup juga Dosen di Kementerian agama dan sekolah kedinasan. Maklum di NKRI ini banyak sekali kategori perguruan tinggi. Sementara yang di buku Statistik Pendidikan Tinggi 2017 hanya Perguruan Tinggi di bawah Kemeriting saja.

Apapun, jumlah dosen milenial lebih banyak dibandingkan dengan dosen di kategori yang lain. Hal ini juga terkait status dosen. Perhatikan data berikut, masih dari statistik pendidikan tinggi

Screenshot 2018-03-19 18.45.55

Sayangnya saya tidak memiliki data usia dosen dibandingkan dengan tingkat pendidikan dan jabatan fungsional. Kalau kemeriting merilis data tersebut atau menyediakan data mentahnya, asik tuh.

Namun saya percaya bahwa kesadaran dosen milenial untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral dan berupaya mendapatkan gelar Profesor di usia lebih muda lebih besar dibandingkan kategori usia yang lain.

Beberapa milenial junior misalnya, begitu memutuskan menjadi dosen sebagai jalan hidup akan menyegerakan menempuh studi ke jenjang doktoral. Beda sekali dengan milenial senior apalagi generasi sebelumnya yang malah menyegerakan menikah.

Maka saya beruntung semenjak Bulan lalu diangkat menjadi Kaprodi Ilmu Pemerintahan Untirta, Prodi yang semua dosen tetapnya berada dalam kategori milenial. Menyenangkan berada di tengah-tengah anak-anak muda dan mengajar anak-anak muda.

Sebelumnya saya Kaprodi S2 Magister Administrasi Publik, selain mengajar juga belajar kearifan dan kebijaksanaan dari mahasiswa saya yang sebagian besar lebih senior usianya daripada saya.

kelas-gabriel

***

Hmm, dunia pendidikan tinggi memang sedang bergerak.

Dua hari lalu di sebuah acara kawinan, saya berkenalan dengan seseorang yang menjadi dosen setelah terlebih dahulu meraih gelar doktor di Eropa dalam usia di bawah 30 tahun. Seorang kawan menjadi doktor di usia 32 tahun, adiknya di usia 26 tahun. Adik kelas saya di UI meraih gelar doktor di Jepang di usia di bawah 30 (Lulus S1 lanjut S2 dan lanjut S3) dan sekarang menjadi Kaprodi di sana. Kawan se-almamater saya yang meraih gelar doktor di usia belia dan ditolak menjadi dosen di almamaternya sekarang menjadi associate Professor di Jepang, sama dengan kawan lain yang juga memilih menjadi associate Professor di Malaysia daripada di Depok. Kemarin ketika belanja di Lu-Lu, saya juga bertemu doktor muda belia ahli kebijakan-energi dari Jepang yang mengajar di perguruan tinggi khusus kebijakan. Sekitar tiga tahun lalu ketika menunggu kereta ke Kyoto saya bertemu anak muda yang baru wisuda S1 hari sabtu dan hari seninnya sudah berada di Jepang untuk memulai S2.

Hal-hal begini membuat saya merasa tua dan merinding dangdut bahagia.

Merasa tua karena saya merasa adik-adik saya, para milenial junior seperti berpacu dengan waktu menyelesaikan studi doktoral dan mencapainya jauh lebih muda dibandingkan saya yang meraih Ph.D (permanent head damage) di usia 34 tahun.

Merinding bahagia karena saya bisa sedikit optimis, merasa masa depan pendidikan tinggi Indonesia akan beranjak membaik. Bukan karena kebijakan Dikti yang memaksa para dosen publikasi dengan segala ancamannya, tapi karena generasi millenial ini pelan-pelan akan mengambil alih dunia pendidikan tinggi secara alamiah. Milenial muda ini produktif, jago bahasa Inggris, publikasinya banyak, serta memiliki jejaring internasional. Keren pokoknya.

Maka semenjak menempuh pendidikan S3 dan rajin menulis soal-soal pendidikan tinggi saya selalu memotivasi diri saya dan kawan-kawan untuk tidak abai dengan persoalan semacam jabatan fungsional. Saya mendorong generasi muda dosen Indonesia untuk mengurus jabatan fungsional dan jadi Profesor selekas mungkin, karena dengan begitu dunia pendidikan tinggi bisa berada di tangan generasi muda ini. Revolusi senyap, bahasa gagah-nya.

Revolusi bukan semacam berebutan jabatan. Tapi lebih ke arah membangun arus-utama pemikiran baru. Kira-kira begitu.

Yah, nasib milenial senior semacam saya memang jadi provokator untuk milenial junior yang lebih pintar, lebih berjaringan dan lebih produktif.

Milenial bersatu tak bisa dikalahkan !

Peringkat Untirta Menurut KemristekDikti

Tuisan ini merupakan catatan yang saya titipkan di blog ini. Musababnya saya ingin tahu peringkat Untirta, kampus tempat saya mengajar secara pasti.

Peringkat ini versi Kemristekdikti dulu saja ya, ingin tahu fluktuasinya dan sesuai yang ada di laman http://pemeringkatan.ristekdikti.go.id/index.php/

Nah di laman tersebut hanya ada 3 tahun pemeringkatan, 2015, 2016 dan 2017.

  1. Tahun 2015

Tahun 2015 belum ada mekanisme searching (pemeringkatan) dengan menggunakan kolom search. Jadi berbasis dokumen pemeringkatan yang dikeluarkan Kementerian. Dokumennya bisa diklik di sini.

Untirta berada di peringkat 194.

Screenshot 2018-03-15 14.32.56

2. Tahun 2016

Tahun 2016 Untirta sudah menggunakan halaman khusus pencarian peringkat. Jika diklik dan dimasukkan Kode Untirta 0001042 maka didapatkan peringkatnya naik ke 74.

Screenshot 2018-03-15 14.06.45

3. Tahun 2017

Sama mekanismenya dengan tahun 2016. Hasilnya tahun 2017 turun ke peringkat 83

Screenshot 2018-03-15 14.06.57

Nah semoga peringkat tahun ini (2018) bisa melompat naik ya…

Dosen Milenial

Saya masih bingung sebenarnya, Dosen Millennial atau Milenial. Tapi karena beberapa media menggunakan milenial (dengan satu n san satu l), judul tulisan ini jadinya Dosen Milenial.

Belakangan istilah milenial ramai diperbincangkan di mana-mana. Istilah ini merujuk kepada sebuah generasi yang lahir di akhir 70-an atau awal 80-an sampai tahun 1995. Perhatikan infografik dari Tirto berikut ini:

Screenshot 2018-03-04 16.07.26

Atau infografik di bawah ini:

 

millenial-3

Sumber: https://thefrontofthejersey.com/2015/01/01/welcome-to-the-new-millenials-4-ways-the-generation-gap-can-be-leaped/

 

Hmm di lingkungan kerja, ini dia

 

Millennial_Printable_960

Sumber: https://www.onwardsearch.com/career-center/hiring-millennials/

 

Yang jelas nampaknya generasi ini akan menjadi generasi dominan dalam beberapa waktu ke depan, menggantikan emak-bapaknya, generasi X.

Saya akan membuat serangkaian tulisan tentang dosen milenial. Topik ini penting karena Menristekdikti menganggap dosen milenial siap melaksanakan revolusi. Kamsudnya revolusi 4.0, salah satunya melalui pembelajaran daring.

Perguruan tinggi nasional memiliki sebanyak 113.965 dosen ‘milenial’ (rentan usia 18-36 tahun) yang siap melaksanakan sistem perkuliahan jarak jauh berbasis internet (daring). (http://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/02/28/indonesia-miliki-113965-dosen-milenial-420337)

Sebenernya sebal juga sih melihat pernyataan di atas, seakan-akan dosen millenial hanya berada dalam posisi “siap online”.

Maka saya berencana menulis serangkaian tulisan soal dosen milenial dan wajah masa depan perguruan tinggi di Indonesia.

Karena mestinya berubahnya gak cuma perubahan kelas konvensional trus jadi online, simple amat ya mikirnya mbah-mbah kita di Kemristekdikti, he he

Baiklah, nantikan tulisan-tulisan berikutnya ya 🙂

Masih Tentang Kepemimpinan

Dari sekian banyak kisah kepemimpinan, ada dua kisah yang sampai sekarang menjadi pedoman saya.

***

1

Kisah pertama adalah kisah Rasulullah Muhammad dan Pengemis Buta Yahudi.

Sebagai pemimpin, Rasulullah tentu bisa saja memaksa siapapun di Madinah untuk memeluk Islam. Namun itu tidak dilakukannya.

Pembuktiannya sederhana. Ada seorang pengemis Yahudi yang mengemis di tepi jalan yang setiap hari dilalui Rasulullah. Dan setiap hari Rasulullah melewati tempat itu, Beliau menyuapi pengemis buta tersebut. Si pengemis, pembenci Rasulullah tidak tahu yang menyuapinya adalah Rasulullah. Ia seringkali mengungkapkan kebenciannya kepada Rasulullah dalam bentuk makian.

Sampai suatu hari, tidak ada lagi yang menyuapinya.

Tetiba ada yang datang menyuapinya, dan si pengemis sadar bahwa yang menyuapinya bukanlah orang yang biasanya. Ia adalah Abu Bakar yang hendak mengamalkan kebiasaan-kebiasaan Rasulullah.

Ketika pengemis buta tersebut complain bahwa ia bukanlah orang yang biasa menyuapinya, Abu Bakar menangis, menyampaikan bahwa yang biasa menyuapi si pengemis adalah Rasulullah yang baru saja meninggal.

Si pengemis buta menangis dan spontan mengucapkan syahadat. Ia tak sadar selama ini menerima kebaikan dari orang yang dibencinya.

***

Dari kisah ini jelas bahwa kepemimpinan dan seruan kepada Islam memang ditegakkan Rasulullah dengan akhlak, bukan dengan paksaan, kekerasan, apalagi bersikap nyinyir.

Kepemimpinannya adalah kepemimpinan dengan kasih sayang, kepemimpinan berkelas.

 

***

2

Kisah kedua adalah kisah Khalid bin Walid.

Ia adalah musuh terbesar Ummat islam sebelum akhirnya bergabung dengan Rasululllah.

Khalid pertama menjadi Komandan pasukan muslim ketika tiga komandan lain yang ditunjuk Rasulullah gugur dalam Perang Mu’tah: Zaid bin Haritsah, Ja`far bin Abu Thalib dan Abdullah bin Rawahah. Setelah tiga sahabat tersebut gugur, Rasulullah mempersilahkan pasukan untuk memilih pemimpinnya. Khalid terpilih dan berhasil menyelamatkan pasukan muslim dari kehancuran, maklum 3 ribu pasukan muslim musti berhadapan dengan 200 ribu pasukan Romawi.

Masa-masa setelah itu adalah kegemilangan Khalid sebagai Jenderal pasukan muslimin di berbagai medan tempur. Tak terkalahkan, keren pokoknya Gan.

Namun yang menarik adalah akhir kariernya.

Khalid dicopot oleh Khalifah Umar bin Khatab justru di puncak kejayaannya sebagai Panglima. Di tengah puja-puji keberhasilannya sebagai Syaifullah, Pedang Allah.

Marahkah Khalid? Tidak

Ia tidak mengalami post power syndrom, apalagi menyiapkan kudeta. he he. Biasa aja. Ia tetap berperang sebagai prajurit biasa.

Walaupun tentu saja, yang menyedihkan bagi Khalid adalah kematiannya, tidak di medan perang, tapi di atas tempat tidur.

***

begitu gan…

 

Tentang Kepemimpinan

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.47 (1)Saya pernah berdiskusi tentang kepemimpinan dengan seorang sahabat.

Kapan dan mengapa kita mesti menjadi pemimpin?

Kira-kira itu topiknya.

Saya sendiri selalu menganggap bahwa pemimpin itu tak selalu harus bermahkota. Ia adalah tindakan, bukan jabatan.

Perhatikan saja. Kadangkala dalam sebuah organisasi, kalaupun ada pemimpin formal di sana, seringkali kita menemukan ada orang yang lebih dihormati, lebih didengar, atau kadang lebih dituakan, dibandingkan sang pemimpin formal.

Inilah yang disebut pemimpin tanpa mahkota.

Nah kadang-kadang efektivitas pemimpin tanpa mahkota ini terhambat karena tidak adanya otoritas (keabsahan). Dan kadangkala otoritas ini berada di tangan yang salah. Katakanlah seperti DPR di tangan Setya Novanto.

Jadi dalam situasi tertentu, kepemimpinan formal terpaksa harus kita yang mengisi. Saya seringkali menyebutnya keterpanggilan.

Ukurannya adalah ketika situasi bisa menjadi lebih baik ketika kita yang memimpin, bukan orang lain. Jika masih ada orang lain yang lebih baik? Serahkan saja atau biarkan saja. Kerjakan hal-hal lain yang bermanfaat. Seperti kata Dilan Parlan, amanah itu berat, lebih berat daripada rindu. Karena kita akan diminta pertanggungjawabannya.

Trus kenapa bisa merasa diri layak? narsis dong?

Hmm sulit sih menjawabnya. Ini gabungan antara thinking sama feeling gitu. Tentu ada proses mengamati rekam jejak, membandingkan, dan juga merasakan. Apalagi jika ada keterikatan dengan organisasinya.

Jika perenungan mendalam, diskusi dengan kawan dan mengadu pada Allah memang membulatkan dirimu harus memimpin, ya bismillah saja.

Nah bagaimana menyiapkan diri jadi pemimpin?

Memantaskan diri dengan selalu belajar, itu kuncinya. Pemimpin organisasi sopir, ya mesti bisa nyopir dengan baik tho? Memimpin organisasi nelayan ya musti bisa nangkep ikan. Kalau bukan pengusaha ya gak usah mimpin organisasi pengusaha. Di dunia akademik? ya sama juga…

itu kuncinya, terus berusaha memantaskan diri. Jika terus belajar, ujungnya akan ada satu titik: keteladanan. Orang lain melihat kita sebagai referensi, kira-kira begitu.

Begitu pemirsah…

 

 

Ngopi Enak

Orang punya gaya ngopi yang berbeda-beda.

Mulai dari mau kopi yang digiling apa disobek?

Kopi hitam atau kopi berwarna?

Kopi pahit, pake gula merah, atau pake gula putih?

Kopi panas, sedang, atau pake es?

(NG)opi di ruangan ber-AC atau ruangan berkeringat?

Kopi Arabika atau Robusta?

de el el.. de es be

Saya mau cerita gaya ngopi saya aja yaa, lagi bosen nulis yang serius-serius

Oh ya, ini nulisnya di Voyage, salah satu cafe nyaman di Gading Serpong, sepelemparan batu dari Mesjid Asmaul Husna.

WhatsApp Image 2018-02-02 at 13.46.43WhatsApp Image 2018-02-02 at 13.47.05

Pertama, saya suka kopi panas, panas banget. Walupun para Barista bilang 90-96 derajat adalah suhu terbaik, saya masih pake gaya abah-abah: Mulai dari 100 derajat. Disesep pelan-pelan. Nah ada suhu tertentu yang menurut saya sempurna banget. Rasanya kayak dapet jackpot, he he. Jika lagi pas dapet, maka saya akan sesep terus menerus sampai habis. Nah saya sendiri belum pernah mengukur suhu berapa itu. Yang jelas, suhu-nya bisa membuat rasanya terasa sempurna, dan menghangatkan (baca: memansakan) kepala sampai perut. Pas gitu lah. Lebih dikit atau kurang dikit, gak dapet sensasinya.

Kedua, saya suka kopi pahit, kalaupun manis pake gula merah saja. Ya kopi pahit akan terasa manis jika memandangmu toh? he he. Nggak lah, hidup saya udah manis, jadi minumnya kopi pahit saja. Nggak juga lah, pengen menikmati manisnya sehat, bukan manisnya gula. Jika udah kebanyakan ngopi item, saya ganti cappucino, pahit gak pake gula sama sekali.

Ketiga, belakangan ini suka arabika. Asemnya, asal gak terlalu asem, enak. Kalau lebih spesifik, single origin model gayo, bali atau wamena, enak. Garut juga boleh.

WhatsApp Image 2018-01-31 at 11.13.22

Keempat, ngopi di ruangan ber-AC yang meja-nya dekat colokan dan wifi-nya kencang lebih menyenangkan. Bukan karena saya sok cihuy. Buat saya semedi di Cafe sambil bercumbu dengan laptop adalah saat-saat paling menyenangkan. Kafein bisa membuat inspirasi saya meluap-luap, dan dituliskan. Skripsi, Tesis, dan Disertasi saya dibuat di Cafe, sambil menikmati kopi, tentu saja. Mulai dari Cafe Buku di Margonda, Cafe F1 di Menteng, sampai Cafe Putri Duyung di Kyoto.

cropped-20150524_135725.jpg

Tapi ngopi di pasar juga gak keberatan kok, he he. Di pasar Sinpasa, ada Rumah Kopi Celebes yang juga enaaak es kopi susunya.

WhatsApp Image 2017-07-03 at 19.07.03

Ah….

Yuks ngopi 🙂