Sikap-sikap Mahasiswa yang Tidak Disukai Dosen

Sekarang ini — right now — saya sedang menunggu mahasiswa menyiapkan laptopnya untuk presentasi. Ya presentasi dimulai terlambat karena mahasiswa terkendala hal teknis. Beberapa masalah yang sering (baca:selalu) muncul: laptop belum siap, bahan disimpan di handphone dan kesulitan membuka atau memindahkan ke laptop, koneksi proyektor dan laptop bermasalah, koneksi internet di laptop susah  dan yang paling sering adalah mahasiswa yang membawa makalah terlambat datang ke kelas. Macam-macam persoalan ini membuat waktu terbuang cukup lama. Kadang-kadang waktu menyiapkan hal-hal teknis lebih lama daripada presentasinya itu sendiri.

Teknologi malah jadi masalah, bukan solusi.

Pengen ngomel tapi lagi puasa….

WhatsApp Image 2019-05-15 at 08.39.28

Hal-hal di atas adalah salah satu sikap mahasiswa yang tidak disukai dosen. Semua dosen? rasanya sih iyes.

Saya pikir ini bagian dari kurangnya soft-skill yang entah kenapa menjadi masalah di hampir semua kelas yang saya ajar. Mahasiswa tidak memiliki kemampuan untuk menyiapkan diri sebaik-baiknya, semaksimal mungkin. Saya beberapa kali menyampaikan bahwa perkuliahan adalah bagian dari upaya mempersiapkan diri masuk ke dunia nyata.

Bayangkan kalau kelak misalnya harus presentasi depan Bos trus gak siap laptop atau bahannya? Apa ndak dipecat?

Nah, apa lagi sikap atau kebiasaan mahasiswa yang tidak disukai dosen?

  1. Terlambat masuk, terlambat tugas, dsb
  2. Tidak mendengarkan ketika dosen atau mahasiswa lain menyampaikan sesuatu
  3. Menghubungi di luar jam yang sepantasnya
  4. Googling ketika sedang kebagian presentasi untuk menjawab pertanyaan, atau bingung dan malah diskusi sendiri di kelompok
  5. Plagiat
  6. Nyontek

Hal-hal di atas membuat saya khawatir tentang masa depan mereka.

Duh apa saya mesti jadi dosen killer?

sexy-killers?

 

Iklan

Kenapa Netizen Menerima dan Menyangkal Informasi?

“Seperti kata Ustad, memilih presiden itu ya memilih antara malaikat dan iblis.”  (Tetangga, di sebuah grup Whatsapp)

 

Tulisan saya kemarin yang berjudul Membongkar hitungan excel situng KPU yang diduga merupakan kecurangan bukanlah sebuah tulisan yang canggih-canggih amat. Tulisan itu hanya memberikan penjelasan yang amat mendasar tentang kesalahan pemaknaan angka hasil copy-paste dari situs situng KPU ke spredsheet excel.  Saya yakin sebagian pembaca akan bilang, “Oh gitu doang“. Memang, “gitu doang” kok.

Problemnya adalah kenapa sebegitu banyak orang dengan tingkatan pendidikan beragam dan penguasaan excel yang lebih baik daripada saya bisa mengamini video tentang “kecurangan Situng KPU” tanpa mencoba memikirkan bahwa ada kesalahan sepele dalam video tersebut? Kenapa ada netizen yang masih membantah tulisan saya tanpa berusaha melakukan pembuktian ulang atas apa yang sudah saya lakukan?

Tenang, saya tidak menyuruh anda bertanya kepada rumput yang bergoyang

Kebetulan saya sedang membaca buku Matinya Kepakaran dari Tom Nichols (Bukan Jeffrey Nichols ya). Professor dari US Naval War College dan harvard Extension School itu sebetulnya sedang menjelaskan apa yang terjadi di Amerika. Kenapa otoritas pakar diabaikan dan ditentang oleh masyarakat. Sederhananya, kenapa pasien sekarang lebih aktif menceramahi dokter dan bukan sebaliknya? Atau kenapa masyarakat umum terlihat piawai menjelaskan berbagai fenomena politik dibanding mereka yang sekolah S1-S3nya Ilmu Politik? Yang lebih serius adalah beberapa selebritis mempercayai dan menganjurkan warga untuk tidak melakukan vaksinasi, melawan para pakar yang sudah melakukan riset puluhan tahun dengan biaya jutaan dolar.

Sebentar. Ini fenomena Amerika?

Yes, ini fenomena Amerika. Namun fenomena ini juga sedang terjadi di Indonesia. Gerakan anti vaksinasi, bumi datar, dan sebagainya juga menggejala belakangan ini.

Penjelasan paling sederhana adalah karena berlimpahnya informasi. Internet menjadi outlet bagi berbagai informasi yang murah dan mudah. Sederhananya kalau anda deg-degan terus menerus, tentu saja paling mudah dan murah adalah bertanya ke dr. google yang akan memberi anda jutaan entry jawaban. Apakah jawabannya adalah deg-degan karena jatuh cinta, kebanyakan minum kopi, sakit jantung, atau masuk angin, semua tersedia. Anda memilih mana yang paling masuk akal, dan bisa jadi juga paling sesuai dengan harapan anda. Tentu saja anda menyukai jawaban bahwa anda deg-degan karena jatuh cinta daripada gejala awal sakit jantung bukan?

img_8698

Inilah secara sederhana yang disebut sebagai bias konfirmasi.

Bias konfirmasi mengacu pada kecenderungan mencari informasi yang hanya membenarkan apa yang kita percayai, menerima fakta yang hanya memperkuat penjelasan yang kita sukai dan menolak data yang menentang sesuatu yang sudah kita terima sebagai kebenaran. (Nichols, 2018:56)

Dalam politik juga begitu. Terbelahnya masyarakat kedalam pendukung 01 dan 02 membuat pendukung 01 akan mengalami bias konfirmasi ketika membaca berita dan informasi politik, demikian juga sebaliknya.

Itulah kenapa kelompok tertentu serta merta mempercayai bahkan membagi video “kecurangan KPU” yang ternyata salah. Itu juga yang menjelaskan sebagian mereka tidak mau menerima penjelasan yang saya tulis walaupun penjelasannya amat sederhana. Tulisan saya yang dishare beberapa situs berita bahkan dikomentari oleh netizen yang saya duga tidak membacanya sama sekali.

Inilah bias konfirmasi, yang tidak mengenal strata pendidikan. Mereka mempercayai junjungannya pasti menang dan hanya kecurangan yang bisa mengalahkannya. Akibatnya, informasi dan penjelasan selain itu akan disangkal.

Quick Count yang merupakan aktivitas biasa dari satu pemilu ke pemilu (termasuk pilpres dan pilkada) yang dilakukan dengan metode ilmiah yang ketat sekalipun misalnya, bahkan disangkal oleh mereka yang tidak hanya paham bahkan merupakan pengajar metode penelitian kuantitatif hanya karena hasilnya tidak sesuai harapan.

Bagaimana bias konfirmasi ini terjadi? Penjelasannya antara lain adalah karena masuknya aspek ideologis yang tidak lagi rasional dalam preferensi dan massifnya propaganda yang hanya berasal dari satu sisi. Ini juga disertai dengan strategi populisme yang dijalankan oleh calon presiden yang sukses membelah masyarakat antara in-group dan others. Akibatnya, sebagai contoh, seorang tetangga menulis di grup whatsapp bahwa: “Seperti kata Ustad, memilih presiden itu ya memilih antara malaikat dan iblis.”  Serem ya 😦

Hal ini terus menguat karena kita semakin lama semakin berkumpul dengan mereka yang memiliki kemiripan dengan diri kita. Nichols (2018: 155) mengatakan:

“…Internet dan media sosial membuat kita semakin tidak sosial dan lebih konfrontatif. Seperti di kehidupan nyata, di internet orang cenderung berkelompok di ruang gema (echo chamber). Orang-orang memilih hanya berbicara dengan mereka yang sudah sepakat.”

“Kita tidak hanya berhubungan dengan dengan orang-orang yang mirip dengan kita sendiri, tetapi juga secara aktif memutuskan hubungan dengan orang lain, terutama di media sosial.”

Bukankah ini yang sekarang terjadi?

Maka wajar jika kita dalam bawah sadar memilah informasi; menyetujui atau menyangkal tergantung dari harapan kita. Celakanya, harapan ini lama-kelamaan semakin mirip dengan keimanan.

Maka secara sarkas, saya sempat membuat status:

“…..Jangan sampai keimanan terhadap pasangan calon membuat kita melupakan pelajaran statistik.”

Salam tiga jari 🙂

Membongkar Hitungan Excel Situng KPU yang Diduga Merupakan Kecurangan

Di berbagai media sosial sedang viral metode menghitung angka yang ada dalam Situng KPU dengan menggunakan excel. Saya memperhatikan di Youtube ada beberapa video. Di berbagai media sosial, termasuk beberapa grup yang saya ikuti, video ini dibagi dengan caption bahwa jika dijumlahkan dengan Excel maka penjumlahan sistem hitung KPU salah bahkan diduga (atau dinyatakan) curang !!!

Screenshot 2019-04-21 12.08.47

Benarkah begitu pemirsah?

Sebagai nubitol yang di rumah sedang arisan ibu-ibu, maka saya kabur meniatkan diri melakukan simulasi sambil ngopi. Menghitung dengan excel, data yang ada di https://pemilu2019.kpu.go.id/#/ppwp/hitung-suara/ pada pukul 11.00. Ini lah screenshotnya:

Screenshot 2019-04-21 11.31.00

Screenshot 2019-04-21 11.26.27

Nah dengan metode yang sama yang ada di video yang beredar, maka saya pindahkan ke excel. Saya jumlahkan juga dengan auto sum, ini hasilnya:

Screenshot 2019-04-21 10.50.23

Di Situs KPU ditulis bahwa suara pasangan 01 sebanyak 7 032 163, sementara di Excell 5510.996

Di situs KPU ditulis bahwa suara pasangan 02 sebanyak 5 928 855 sementara di Excell tertulis 6471.312

Apakah KPU curang? Curang? Curang?

Sebentar…

Sabar Bapak dan Ibu, ternyata ada kesalahan mendasar banget.

Angka di tabel di situs KPU ternyata menggunakan titik (.) yang jika dibaca di excell maka dianggap desimal. Makna terhadap angka tentu berubah. Paling mudah lihat, tabel no 2 memiliki beberapa angka 0 di belakang yang di excell menjadi hilang ketika di copy-paste di sana.

Misalnya:

Sumatera Utara untuk pasangan 02 , di Situs KPU ditulis 348.110 tapi begitu dicopy ke excel jadi 348.11

Lampung untuk pasangan 02 , di Situs KPU ditulis 220.710 tapi begitu dicopy ke excel jadi 220.71

Bali  untuk pasangan 02 , di Situs KPU ditulis 13.780 tapi begitu dicopy ke excel jadi 13.78

Paling parah kalimantan Barat, untuk pasangan 02 , di Situs KPU ditulis 174.600 tapi begitu dicopy ke excel jadi 174.6

Sementara Maluku untuk pasangan 02 , di Situs KPU ditulis 19.330 tapi begitu dicopy ke excel jadi 19.33

Enol di belakang angka hilang semua, padahal maknanya besar.

Ya secara keseluruhan angka ketika diubah jadi desimal memang maknanya berubah.

Sampai sini semoga paham …

Nah berarti kita harus mengganti angka desimalnya karena ini orang, gak pake desimal (Gak ada toh orang sepotong, atau satu koma dua orang, semuanya bilangan bulat).

Jadi hilangkan titik (.) yang ada di tengah-tengah angka dan tambahkan enol (0) yang hilang.

Nah jadinya seperti tabel di bawah ini. Silahkan di bandingkan dengan tabel KPU di atas pelan-pelan. Sudah sesuai kan? Nah kalau sudah sesuai silahkan dijumlahkan.

Screenshot 2019-04-21 11.29.48

Screenshot 2019-04-21 10.58.53

Kita setelah dijumlahkan hasilnya persis sama dengan hitungan di situs KPU, begitu juga prosentasenya yang digambarkan dengan diagram, pasangan 01 mendapat 7 032 163 (54%) dan pasangan 02 mendapat 5 928 855 (46%).

Demikian pelajaran bilangan bulat dan desimal dari Abah untuk hari ini !

Jika mau mencoba dengan kalkulator juga silahkan 🙂

Salam Akal sehat !

Edisi Lengkap dan Terbaru Jurnal Terakreditasi Dikti (Update 11 April 2019)

Pada hari ini untuk kesekian saya mengupdate tulisan ini di blog. Bangga juga sih, posting ini bertahan bertahun-tahun, diupdate berkala dan menyediakan daftar jurnal akreditasi terlengkap, mungkin di Indonesia.

Istimewanya adalah, dalam update kali ini, jurnal yang dikelola oleh institusi saya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Untirta masuk ke dalam daftar jurnal terakreditasi. Lumayan banget, Sinta 4. Ini juga jurnal pertama di FISIP Untirta yang terakreditasi.

Sebagai Kaprodi saya mengucapkan selamat dan terima kasih kepada tim Jurnal IP yang sudah bekerja keras. Jadi inget bahwa awal-awal diskusi di Prodi IP adalah memutuskan langkah akreditasi Jurnal sambil foto pre-wedding, eh foto Profil untuk website. Tengkyu buat Bung Dian, Mbak Ika, Pak Anis, Kang Godjali, Mbak Tiko, Teh Santi, para dosen dan tim mahasiswa yang membantu Jurnal. Serta para Reviewer, ilmuwan sosial-politik terkemuka yang dalam keterbatasan waktu sudah membantu mereview naskah-naskah yang masuk

 

 

Mangga disimak daftar lengkapnya ya

Lanjutkan membaca “Edisi Lengkap dan Terbaru Jurnal Terakreditasi Dikti (Update 11 April 2019)”

Hai hai

Selamat siaaang

Saya menulis dari kampus yang sepi banget. UTS sudah selesai sementara perkuliahan baru akan mulai minggu depan.

img_0008

Agenda hari ini menyerahkan SPPD ke Rektorat sehabis menguji mentee yang lagi prajabatan, serta membimbing dua mahasiswa S2 UT dan satu mahasiswa IP. Selebihnya? menghabiskan waktu ngotak-ngatik password dan koordinasi pelaksanaan ICDeSA.

Sebetulnya minggu ini adalah minggu-minggu yang berat. Sekitar dua minggu lalu kami menyelesaikan program nyebelin, yaitu upload borang akreditasi. Sebetulnya menyenangkan sih, karena kami cukup optimis dengan hasilnya. Hanya prosesnya yang melelahkan dan banyak drama. Biasa. Doakan dapet A ya 🙂

Seminggu sebelumnya saya juga submit berkas ke Professor. Akhirnya, he he. Ya bagaimana lagi, daripada berkas numpuk di rumah dimakan rayap? ya disubmit saja. Lagipula menurut hitungan sendiri mah sudah cukup. Kalau ternyata gak lolos? ya berusaha lagi aja sih. Namanya juga usaha. Yang jelas ini upaya yang cukup melelahkan: mengumpulkan berkas kedalam sebuah berkas yang terkategori dengan rapi, ciyee

Nah sesudah upload borang kami juga sedang mempersiapkan dengan serius ICDeSA. Itu lho, konferensi tentang demokrasi di Asia Tenggara. Menurut terawangan saya, masyarakat Indonesia termasuk masyarakat kampus kurang mau dan mampu mengenal tetangganya. Karena itulah konferensi ini pintu masuk untuk mengenal tetangga dengan lebih baik. Bukankah tak kenal maka tak sayang?

Nah kerennya, konferensi ini akan dibantu penuh oleh CSEAS Kyoto University. jadi kira-kira ini jaringan personal yang diinstitusionalkan. Yah gak mampu sedekah harta, sedekah jaringan saja, he he. Doakan sukses ya.

Yang jelas pakar-pakar Asia Tenggara akan hadir. Keynotesnya aja ada 7, and counting. Hari ini saja mau nambah lagi satu. Delapan dong. Eh kalau delapan masih bisa dibilang keynotes?

jadilah dengan kesibukan di atas masih belum sempat buat tulisan tentang pemilihan presiden. Lagipula, malesin sih. Udah kebanyakan orang pinter politik sekarang. jago-jago banget. Saking jagonya analisisnya aja diterbitkan di facebook, he he.

Kita yang belajarnya politik S1 sampe S3 biar postingannya soal kopi saja, biar dibilang alay.

Btw udah dulu ya, harus ngejar shuttle jam 3…

Senin di Emmetropia

Selamat pagi senin

Entah kenapa merasa harus ngeblog

Pertama menunaikan kewajiban mereview cafe tempat dimana saya ngopi. Nah kali ini ngopi di emmetropia, kafe yang kopinya salah satu terenak di kawasan gading serpong. Saya minum cappucino dan takarannya betul-betul pas. Tempatnya nyaman untuk kerja, tersedia banyak colokan dan wifinya kenceng. Posisinya di belakang polsek kelapa dua, ruko-ruko sebelah kiri jalan.

Saya harus pindah kerja ke luar rumah karena ada pemadaman listrik. Duh padahal sedang banyak yang harus dikerjakan. Oh ya, saya sekarang menulis postingan ini kembali pake apel coak. Macbook pro yang sempat ngambek berhasil sembuh. Selama kurang lebih tiga hari saya oprek. Hari sabtu malem malah sampe jam 2 dini hari. Fiuh..

Mulai pelan-pelan mengecek berbagai aplikasi dan uninstall yang gede-gede semacam acrobat pro. Trus mengecek hardware sampe bongkar siapa tau ada sambungan yang kurang pas sambil ditiup-tiupin. Dan ndilalah, kepikiran untuk ngecek aplikasi yang selama ini jadi andelan untuk bersihin junk files, clean my mac. Bener aja, setelah diuninstall, tiba-tiba macbook kembali gegas. Gimana ya, ibarat sapu, tapi kok bikin kotor.

Alhamdulillah, gak jadi deh #2019gantimacbook pengen tau juga ini macbook early 2011 kuat ampe berapa tahun, sekarang tahun ke-8.

Jadi kalau di postingan terakhir saya curhat dengan suasana sedih. Kali  ini agak gembira gimana gitu. Macbook air juga sudah terdeteksi masalahna, problemnya hanya di keyboard saja. Sekarang terpaksa pake keyboard eksternal alias keyboard komputer. Sekedar mengakses file di sana sih gak masalah, mindahin mereka semua ke awan.

Selain jadi teknisi laptop, sekitar dua minggu ini saya juga sedang jadi tukang fotocopy. Jadi jika tak ada yang sifatnya darurat, saya bekerja di rumah. Sedang asyik mengumpulkan, menyusun, menggandakan, dan men-scan semua aktivitas saya sebagai dosen dari tahun 2013. Sedang dikumpul-kumpul, bukan mau dikiloin, tapi rasanya sudah kelamaan jadi lektor kepala. Pengen naek sedikit lah. Hanya memang yang beginian ini mental game. Butuh ketabahan luar biasa.

Jadi ini seperti perjalanan yang tak tahu hasilnya. Lha misalnya ndilalah pedoman pernghitungan angka kredit kemeriting  yang baru tiba-tiba muncul seminggu lalu. Isinya menambah sulit saja jalan saya jadi Professor.

Bikin pusing. Tapi pelan-pelan kita cicil. Hasilnya psrahkan ke Allah, sambil terus berupaya keras.

 

 

Doain ya…

 

Cerita Hari Ini di Clean and Slate

Setelah berputar-putar di gading serpong, akhirnya nemu juga cafe yang buka, clean and slate, yang dulu namanya tobi’s cafe. Sebelumnya melewati voyage, joy’s gelato, headshot, dan emmetropia, semuanya masih tutup jam 9 ini.

WhatsApp Image 2019-02-23 at 11.15.04 AM

Clean and Slate salah satu cafe yang kopinya enak, dan diracik dengan serius. Entah kenapa ganti nama. Yang jelas terakhir ke sini ketika baru ganti nama ada bonus pesan makan gratis kopi apa saja. Review singkatnya: kopi enak, colokan banyak, wifi kenceng, pelayanan baik. Makanannya juga lumayan dengan harga standar. Kekurangannya untuk parkir harus masuk area parkir berbayar.

Saya sedang butuh ngopi enak. Biji kopi di rumah habis dan pikiran sedang setres berat. Ini akibat 3 macbook yang saya miliki rusak di saat bersamaan padahal sedang butuh banget untuk mengerjakan review jurnal baik tulisan sendiri maupun mereview tulisan orang, menyempurnakan borang akreditasi dan menyiapkan angka kredit yang datanya ada di dalem macbook.

Selain itu sakitnya para macbooks juga menyedihkan karena banyak kenangan bersama mantan mereka yang sudah menemani 5-8 tahun lamanya. Kenapa rusak bareng arrrrgh

WhatsApp Image 2019-02-23 at 11.00.39 AM

Macbook pertama yang dibeli di Thailand tahun 2011 (wow sekarang 2019) atas bujukan Mas Suaedy tetiba sering ngehang. Macbook ini sebetulnya sudah uzur, berkali-kali sakit namun selalu berhasil saya perbaiki. Hardisknya sudah saya ganti jadi SSD, RAM-nya diupgrade jadi 16GB, wifi-nya sudah pake eksternal karena yang internal mati, dan baru saja ganti batere. Sementara sedang penyelamatan data dan rencananya install ulang. Moga-moga bisa. Ini andalan bekerja di rumah mengerjakan aplikasi berat, selain karena belakangan tidak bisa tersambung ke proyektor, entah kenapa.

Yang kedua adalah macbook air yang dibeli di Yahoo Auction di Jepun dengan harga amat murah keyboardnya ngadat gara-gara kesiram kopi. Sebetulnya bukan kesiram kopi tumpah, tapi kecipratan saja sih. Untuk login saja tidak bisa. Sepertinya harus ganti keyboard. Ini andalan untuk mobilitas, khususnya ngajar.

Macbook ketiga yang pro 15inch memang sudah lama sakit. Sudah dibawa ke rumah sakit  tempat reparasi dan mereka menyerah. Sudah kena mesinnya katanya, jadi gak bisa dicharge. Padahal ini jarang dipakai. Justru mungkin karena jarang dipakai ya? macbooknya sedih terus depresi. Macbook ini dibeli dari kawan dengan harga persahabatan ketika macbook pertama sakit dan saya depresi karena di tengah mengerjakan disertasi di Jepun.

Oh ya satu lagi, ipad yang sering dipakai untuk membaca ebook juga raib entah ke mana. Terakhir memang seringnya dipakai Iham untuk maen minecraft. Saya biarkan karena permainannya menantang dan Iham jadi suka bikin koding-koding tertentu. Eh sekarang ipadnya nyelip entah di mana.

Maka jadilah saya kalau mengajar pake iphone yang dipasangkan ke proyektor. Bukan gagah-gagahan, tapi cara inilah yang tersedia untuk melayani mahasiswa dan mahasiswi sehingga mereka puas tetap dapat belajar dari materi yang sudah saya siapkan.

Dan sekarang saya menulis di blog ini pake panasonic punya Bayal 🙂

Belajar lagi pake os jendela setelah sekian lama pake apel coak.

 

Review Pokepo Kafe

Malam ini saya tiba dengan lelah, perjalanan dari kampus molor sejam lebih, macet parah begitu menjelang keluar tol karawaci.

Nah begitu sampai rumah akhirnya memutuskan membawa bocils makan ke luar. Nah karena ada niat belanja maka diputuskan makan di pokepo cafe. Di bawahnya ada toko yang menjual berbagai sosis dengan harga diskon. Nah pokepo cafe di atasnya.

Harganya lebih masuk akal sih dibandingkan cafe yg kemarin. Harga nasi gorengnya lebih murah 50rb. Lagian, ke cafe kok beli nasgor 😅

Tempatnya sih cukup nyaman, kalau buat kerja. Colokan tersedia di setiap meja, internetnya juga lancar dan cepat. Hanya memang ruang di pokepo ini betul-betul tertutup, tanpa jendela. Jadi untuk penyandang claustrophobia ya agak gimana gitu.

Kopinya enak, saya mesen longblack, bukan americano 😅

Nah yang menarik tentu saja diskon. Ada diskon 10% jika posting dan follow akun instagram pokepo. Ditambah cashback 20% jika bayar pake go pay. Hanya posting harus 30 menit sebelum print bill, jadi kali ini ndak dapet larena udah kemaleman. Nah begitu bayar masih dikasih kupon diskon lagi untuk kedatangan berikutnya sebesar 20%.

Review Kafe #1 Tanamera GS

Saya memutuskan untuk membuat review kafe di tempat-tempat di mana saya ngopi. Hal ini dirangsang oleh pengalaman ngopi beberapa waktu ini yang berkesan, baik kesan baik maupun buruk. Kebetulan saya tinggal di kawasan yang memamg banyak kafe. Saya juga termasuk orang yang suka bekerja di kafe, mencari mood, inspirasi dan kenyamanan.

Review ini subyektif saya sebagai penikmat kopi yang hanya tahu dua rasa: enak dan tidak enak. Dan karena ini review kafe, bukan review kopi, maka saya membuat beberapa indikator yaitu: 1. Rasa kopi, 2. Harga kopi dan makanan, 3. Suasana kafe, 4. Colokan listrik, 5. Internet, komentar lain tentu seputar pelayanan, diskon, dan sebagainya.

Baiklah kita mulai dengan

Tanamera Coffee Gading Serpong

Saya awalnya hendak ke kafe lain siang ini. Maklum, pagi ini bangun dengan kepala pening. Jelas butuh kopi enak. Ditambah ada beberapa proposal tesis yang harus saya periksa dengan cermat, gak enak sudah lama menunggu disentuh.

Tetiba ketika memgecek email, ada tawaran dari Tanamera, bisa ngopi satu cangkir gratis satu lagi. Menarik 👍👍👍

Tentu tidak bijak melewatkan diskon semacam ini, apalagi tanamera sedang ultah, tidak sopan menolak undangan orang ulang tahun.

Hmm sebagai tempat kerja Tanamera GS cukup nyaman. Ada beberapa meja panjang dan bisa menghadap ke Scientia Park yang hijau-hijau. Jadi bisa melepas lelah mata yang menatap monitor. Colokan listrik juga cukup banyak dan rapi di lantai, jadi untuk road warrior semacam saya yang bekerja berjam-jam di laptop ya amat membantu.

Sayangnya, entah kenapa dari dulu problem di Tanamera GS adalah koneksi internet yang tidak stabil. Saya selalu gagal terkoneksi, baik dengan wifi Tanamera maupun SDC. Untuk mereka yang ke kafe untuk bekerja, ini problem serius.

Alhasil selama beberapa jam kerja, saya tethering dengan henpon sendiri. Bete

Nah ketika memesan kopi, saya mesti menjelaskan dulu program promo yg mereka emailkan. Duh, ternyata program promo ini tidak tersosialisasi dengan baik. Kesannya gw minta gratisan, padahal emang bener 😅

Harusnya sih, mereka yg memberitahu ada promo ini dan itu kepada customer, sebagai kewajiban mereka dan hak saya.

Akhirnya sih tetep dapet promonya. Saya minum americano (35K IDR) dan dapet gratis cappucino. Tentu setelah memenuhi syarat dan ketentuan posting dan mention di instagram.

Nah soal rasa Tanamera mah juara. Ia bahkan punya roasting sendiri yang bisa kita lihat dari tempat ngopi. Hal ini sebanding dengan harga yang berada di atas rata-rata kafe lokal lain, namun tidak jauh berbeda dengan kafe internasional semacam putri duyung.

Yang terasa mihil memang makanan. Karena sedang kadung kerja, maka saya pesan nasi goreng yang harganya lebih dari dua kali lipat harga americano. Rasanya: biasa. Mungkin ada baiknya pas lapar melipir dulu ke sol**ia di sebelah yang nasi gorengnya lebih enak dan murah.

Oh ya, Tanamera ini lokasinya ideal juga kalau lagi ngajak anak maen ke Scientia Park. Anak-anak bisa lari-larian atau panjat tebing di Scientia Park. Bapaknya bisa buka laptop atau baca koran (tersedia kompas, jakpos dan majalah2 komunitas) sambil minum kopi, seperti Bapak Budi.

Tips Ngopi Untuk Millennial

Sri Mulyani pernah mengkhawatirkan bahwa generasi millennial kebanyakan ngopi di kafe. Tentu bukan khawatir kalau-kalau paru-parunya jadi item, he he. Tapi pada konsumsi berlebih yang bisa menjebol kantong, bikin gak bisa nabung atau investasi.

screenshot 2019-01-20 17.15.36img_3089img_8035

Saya sebagai millennial sulung yang doyan ngopi sempat tercenung juga. Jangan-jangan kita kebanyakan ngopi dan gak bisa nabung atau investasi.

Hmm, walaupun dipikir-pikir mungkin juga karena gaji dosen juga gak gede, he he. Tapi tentu penting menghindari status biar tekor asal kesohor (di medsos).

Karena itulah tips ini saya buat, ehemmmm.

1.Ngopi itu harus hobby, bukan karena panjat sosial. Kalau gak suka ngopi jangan ngopi, mending ngelakuin hobby yang lain: nginang, masak, naik gunung, hidroponik atau yang lainnya.

2. Ngopi di rumah itu oke lho. Sebisa mungkin mempelajari kopi yang enak untuk dibuat sendiri. Banyak bertebaran di internet. Metode ngopi bisa ditubruk, pake v60, pake mesin kopi, french kiss press, dll. Nah biji kopi udah banyak yang jual, bahkan ada kopi rasa wine, cokelat, dsb. Saya biasa belanja di pasar modern BSD. Beli beragam biji dengan kuantitas sedikit. Dengan buat sendiri kita bisa berekspresi. Mesin buat giling kopi juga gak mahal lho.

screenshot 2019-01-20 17.47.39screenshot 2019-01-20 17.48.36

whatsapp image 2019-01-20 at 17.41.16whatsapp image 2019-01-20 at 17.41.17

whatsapp image 2019-01-20 at 17.41.17 (1)

3. Kalau nongkrong, upayakan di kafe lokal. Eksplor banyak kafe di sekitar anda, cari yang enak dan terjangkau. Ada? Pasti ada. Kafe lokal juga belum tentu enak dan harganya masuk akal. Tapi saya gak pernah menyesal sih, saya selalu menganggap ketika ngafe dan dapet zonk, ini pelajaran. gak akan ke sana dan cari tempat lain. Selama ini sih lebih banyak yang enak daripada yang zonk. Karena saya ngafe buat kerja, maka ada tiga pilar penting: kopinya enak, tempatnya enak, dan wifinya kenceng.

img_1303

img_3600

img_9059

img_1191

whatsapp image 2019-01-20 at 17.41.20

4. Kalau kafe berjaringan internasional ya boleh-boleh saja sih. Hanya mesti rasional. Nongkrong di kafe mahal seperti kafe putri duyung gak bikin anda lebih keren kok. Saya nongkrong di kafe apapun biasanya berdasarkan rasionalitas. Pertama, kalau ada kebutuhan menulis segera ketika kepala sedang cerah saya akan ke kafe. kalau di sana ada kafe lokal ya tentu ke sana, kalau adanya kafe putri duyung mau bagaimana lagi. Begitu juga ketika berjanji ketemu dengan seseorang membicarakan hal penting. Kalau nongkie-nongkie lala-lala doang mah, nyaris gak pernah.

img_9556

 

5. Rasionalitas lain tentu memanfaatkan diskon. Nasib membuat saya memiliki beberapa kartu kredit. Ndilalah itu berguna buat ngopi di tempat mihil. Kartu BCA krisflyer bisa saya pake ngopi gratis (Sebenernya Rp. 1,-) di kafe putri duyung Bandara dengan menunjukkan boarding pass. Nah kartu Mega selain saya pakai belanja di transmart carrefour karena diskon 10% saya pakai untuk ngopi, khususnya menjamu teman di Kafe Biji Kopi dan daun teh yang satu grup sama mereka. Lumayan, untuk harga tertentu diskonnya 50%.

9aba4377-fb63-48ee-b615-48e0dee03605

6. Upayakan ketika di kafe kita menghasilkan sesuatu yang nilainya lebih dari harga kopinya. Buat saya kafe adalah ruang kerja yang saya sewa seharga kopi. Murah kan? Dari duduk di kafe ada paper yang beres, ide yang dituliskan, kerjasama tertentu, dan sebagainya. Produktif secara santai, termasuk tulisan di blog ini.

Begitu deh tipsnya. Ada yang mau menambahkan?

Catatan: tulisan ini tidak disponsori cafe manapun. Tapi kalau ada yang mau mengundang untuk direview, mangga saja. pembaca blog ini sekitar 700-1000 perhari.

Kenapa Saya Belum Pensiun dari Facebook

Kenapa saya belum pensiun dari Facebook? Kamsudnya sebagai pengguna facebook?

Sebagian besar millennial dan generasi yang lebih muda mulai beralih ke media sosial yang lebih segar. Sebagian bermain kata-kata di twitter, sebagian bermain gambar di instagram.

Saya pun punya akun di keduanya.

Namun bagi saya facebook ini seperti rumah rakyat kebanyakan. Facebook tempat saya mengecek arus, ombak dan angin bertiup. Terkadang saya menceburkan diri ke berbagai komunitas aneh-aneh untuk sekedar testing the water tadi. Kadang sanggup bertahan lama sebagai silent rider. Kadang gak kuat juga lalu keluar.

Di facebook juga saya suka membaca orang. Ada yang jago segalanya. Segala isu dikomentari, hebat pokoknya.

Ada yang narsia banget. Kapanpun-dimanapun diposting.

Ada yang hobinya menebar jempol dan dijempoli. Bahkan menjempoli statusnya sendiri dan membalas setiap jempol dengan mengatakan: thanks jempolnya.

Facebook juga mengajarkan bahwa kebijaksanaan (wisdom) dan kecendekiaan tidak tergantung usia dan pendidikan. Ada tua-tua keladi penebar hoax, walaupun ada yang muda. Yang kacau ha itu, sudah tua, pendidikan tinggi pula tapi hobby berkomentar nyinyir sambil membagi berita-berita dari sumber tidak jelas.

Anda dan saya masuk kategori yang mana?

Ngopi sesudah Ngajar

Saya menutup hari ini di emmetropia. Ia adalah kedai kopi yang menyajikan kopi enak di bilangan gading serpong. Maunya sih langsung pulang. Tapi kalau sampe rumah biasanya paling enak naro laptop, mulai beberes, maen sama kucing atau menggoreng pisang. Bisa gak kelar tulisan yang musti dibikin.

Oh ya sore ini saya memilih manual brew Flores Honey. Enak pisan.

whatsapp image 2019-01-14 at 15.15.12

Pagi tadi sampai siang saya ngajar di Sentul, School of Government and Public Policy (SGPP).  SGPP ini sudah lama saya dengar, namun baru sekali ini ke sini.  Lokasinya berada di bukit, satu kawasan dengan BNPT, BNPB, Indonesia Peace and Security Center, dan juga UNHAN.

Saya diminta jadi dosen tamu oleh Kang Doktor Erry, menyajikan salah satu kasus kebijakan publik. Nah karena bosen dengan isu politik, saya bawa tema: Research and Academic Career in Indonesian Higher Education. Tema ini saya kembangkan dari materi serupa yang saya sampaikan dalam konferensi soal Higher Education di Hiroshima tahun lalu. Kebeneran sedang menulis juga satu kolom untuk buku yang akan diterbitkan JETRO.

screenshot 2019-01-14 15.35.19

Jadilah cuap-cuap dalam bahasa Inggris selama hampir 2.5 jam: jam 9 – 11.30. Lumayan juga, biasanya konferensi hanya presentasi maksimal 15 menit. Untunglah suasana kelas sangat aktif. Para mahasiswa merespon dengan berbagai pertanyaan dan opini yang amat konstruktif. Oh ya, SGPP ini kampus untuk level master. Jadi para mahasiswa memang sebagian besar memiliki latarbelakang pekerjaan yang beragam: ada dosen, pegawai swasta, aktivis NGO, pegawai pemerintah, dsb. Yang juga menarik semua perkuliahan diberikan dalam Bahasa Inggris. Oh ya, semua mahasiswa di sini kuliahnya dengan beasiswa lho.

whatsapp image 2019-01-14 at 15.15.20

Jadi selama  2.5 jam kita membincang berbagai persoalan pendidikan tinggi secara terbuka. Saya senang sekali, bisa membawa masalah dunia pendidikan tinggi ke fora akademik semacam ini. Maklum, sebelumnya lebih banyak saya tulis dalam blog ini.

Oh ya, ngomong-ngomong di Program Studi Ilmu Pemerintahan Untirta, semester depan juga akan ada mata kuliah pilihan Citizenship yang akan disampaikan dalam Bahasa Inggris. Pengajarnya team teaching, dosen-dosen millennial Prodi IP 😉