“Seperti kata Ustad, memilih presiden itu ya memilih antara malaikat dan iblis.”  (Tetangga, di sebuah grup Whatsapp)

 

Tulisan saya kemarin yang berjudul Membongkar hitungan excel situng KPU yang diduga merupakan kecurangan bukanlah sebuah tulisan yang canggih-canggih amat. Tulisan itu hanya memberikan penjelasan yang amat mendasar tentang kesalahan pemaknaan angka hasil copy-paste dari situs situng KPU ke spredsheet excel.  Saya yakin sebagian pembaca akan bilang, “Oh gitu doang“. Memang, “gitu doang” kok.

Problemnya adalah kenapa sebegitu banyak orang dengan tingkatan pendidikan beragam dan penguasaan excel yang lebih baik daripada saya bisa mengamini video tentang “kecurangan Situng KPU” tanpa mencoba memikirkan bahwa ada kesalahan sepele dalam video tersebut? Kenapa ada netizen yang masih membantah tulisan saya tanpa berusaha melakukan pembuktian ulang atas apa yang sudah saya lakukan?

Tenang, saya tidak menyuruh anda bertanya kepada rumput yang bergoyang

Kebetulan saya sedang membaca buku Matinya Kepakaran dari Tom Nichols (Bukan Jeffrey Nichols ya). Professor dari US Naval War College dan harvard Extension School itu sebetulnya sedang menjelaskan apa yang terjadi di Amerika. Kenapa otoritas pakar diabaikan dan ditentang oleh masyarakat. Sederhananya, kenapa pasien sekarang lebih aktif menceramahi dokter dan bukan sebaliknya? Atau kenapa masyarakat umum terlihat piawai menjelaskan berbagai fenomena politik dibanding mereka yang sekolah S1-S3nya Ilmu Politik? Yang lebih serius adalah beberapa selebritis mempercayai dan menganjurkan warga untuk tidak melakukan vaksinasi, melawan para pakar yang sudah melakukan riset puluhan tahun dengan biaya jutaan dolar.

Sebentar. Ini fenomena Amerika?

Yes, ini fenomena Amerika. Namun fenomena ini juga sedang terjadi di Indonesia. Gerakan anti vaksinasi, bumi datar, dan sebagainya juga menggejala belakangan ini.

Penjelasan paling sederhana adalah karena berlimpahnya informasi. Internet menjadi outlet bagi berbagai informasi yang murah dan mudah. Sederhananya kalau anda deg-degan terus menerus, tentu saja paling mudah dan murah adalah bertanya ke dr. google yang akan memberi anda jutaan entry jawaban. Apakah jawabannya adalah deg-degan karena jatuh cinta, kebanyakan minum kopi, sakit jantung, atau masuk angin, semua tersedia. Anda memilih mana yang paling masuk akal, dan bisa jadi juga paling sesuai dengan harapan anda. Tentu saja anda menyukai jawaban bahwa anda deg-degan karena jatuh cinta daripada gejala awal sakit jantung bukan?

img_8698

Inilah secara sederhana yang disebut sebagai bias konfirmasi.

Bias konfirmasi mengacu pada kecenderungan mencari informasi yang hanya membenarkan apa yang kita percayai, menerima fakta yang hanya memperkuat penjelasan yang kita sukai dan menolak data yang menentang sesuatu yang sudah kita terima sebagai kebenaran. (Nichols, 2018:56)

Dalam politik juga begitu. Terbelahnya masyarakat kedalam pendukung 01 dan 02 membuat pendukung 01 akan mengalami bias konfirmasi ketika membaca berita dan informasi politik, demikian juga sebaliknya.

Itulah kenapa kelompok tertentu serta merta mempercayai bahkan membagi video “kecurangan KPU” yang ternyata salah. Itu juga yang menjelaskan sebagian mereka tidak mau menerima penjelasan yang saya tulis walaupun penjelasannya amat sederhana. Tulisan saya yang dishare beberapa situs berita bahkan dikomentari oleh netizen yang saya duga tidak membacanya sama sekali.

Inilah bias konfirmasi, yang tidak mengenal strata pendidikan. Mereka mempercayai junjungannya pasti menang dan hanya kecurangan yang bisa mengalahkannya. Akibatnya, informasi dan penjelasan selain itu akan disangkal.

Quick Count yang merupakan aktivitas biasa dari satu pemilu ke pemilu (termasuk pilpres dan pilkada) yang dilakukan dengan metode ilmiah yang ketat sekalipun misalnya, bahkan disangkal oleh mereka yang tidak hanya paham bahkan merupakan pengajar metode penelitian kuantitatif hanya karena hasilnya tidak sesuai harapan.

Bagaimana bias konfirmasi ini terjadi? Penjelasannya antara lain adalah karena masuknya aspek ideologis yang tidak lagi rasional dalam preferensi dan massifnya propaganda yang hanya berasal dari satu sisi. Ini juga disertai dengan strategi populisme yang dijalankan oleh calon presiden yang sukses membelah masyarakat antara in-group dan others. Akibatnya, sebagai contoh, seorang tetangga menulis di grup whatsapp bahwa: “Seperti kata Ustad, memilih presiden itu ya memilih antara malaikat dan iblis.”  Serem ya 😦

Hal ini terus menguat karena kita semakin lama semakin berkumpul dengan mereka yang memiliki kemiripan dengan diri kita. Nichols (2018: 155) mengatakan:

“…Internet dan media sosial membuat kita semakin tidak sosial dan lebih konfrontatif. Seperti di kehidupan nyata, di internet orang cenderung berkelompok di ruang gema (echo chamber). Orang-orang memilih hanya berbicara dengan mereka yang sudah sepakat.”

“Kita tidak hanya berhubungan dengan dengan orang-orang yang mirip dengan kita sendiri, tetapi juga secara aktif memutuskan hubungan dengan orang lain, terutama di media sosial.”

Bukankah ini yang sekarang terjadi?

Maka wajar jika kita dalam bawah sadar memilah informasi; menyetujui atau menyangkal tergantung dari harapan kita. Celakanya, harapan ini lama-kelamaan semakin mirip dengan keimanan.

Maka secara sarkas, saya sempat membuat status:

“…..Jangan sampai keimanan terhadap pasangan calon membuat kita melupakan pelajaran statistik.”

Salam tiga jari 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.