Senin di Emmetropia

Selamat pagi senin

Entah kenapa merasa harus ngeblog

Pertama menunaikan kewajiban mereview cafe tempat dimana saya ngopi. Nah kali ini ngopi di emmetropia, kafe yang kopinya salah satu terenak di kawasan gading serpong. Saya minum cappucino dan takarannya betul-betul pas. Tempatnya nyaman untuk kerja, tersedia banyak colokan dan wifinya kenceng. Posisinya di belakang polsek kelapa dua, ruko-ruko sebelah kiri jalan.

Saya harus pindah kerja ke luar rumah karena ada pemadaman listrik. Duh padahal sedang banyak yang harus dikerjakan. Oh ya, saya sekarang menulis postingan ini kembali pake apel coak. Macbook pro yang sempat ngambek berhasil sembuh. Selama kurang lebih tiga hari saya oprek. Hari sabtu malem malah sampe jam 2 dini hari. Fiuh..

Mulai pelan-pelan mengecek berbagai aplikasi dan uninstall yang gede-gede semacam acrobat pro. Trus mengecek hardware sampe bongkar siapa tau ada sambungan yang kurang pas sambil ditiup-tiupin. Dan ndilalah, kepikiran untuk ngecek aplikasi yang selama ini jadi andelan untuk bersihin junk files, clean my mac. Bener aja, setelah diuninstall, tiba-tiba macbook kembali gegas. Gimana ya, ibarat sapu, tapi kok bikin kotor.

Alhamdulillah, gak jadi deh #2019gantimacbook pengen tau juga ini macbook early 2011 kuat ampe berapa tahun, sekarang tahun ke-8.

Jadi kalau di postingan terakhir saya curhat dengan suasana sedih. Kali  ini agak gembira gimana gitu. Macbook air juga sudah terdeteksi masalahna, problemnya hanya di keyboard saja. Sekarang terpaksa pake keyboard eksternal alias keyboard komputer. Sekedar mengakses file di sana sih gak masalah, mindahin mereka semua ke awan.

Selain jadi teknisi laptop, sekitar dua minggu ini saya juga sedang jadi tukang fotocopy. Jadi jika tak ada yang sifatnya darurat, saya bekerja di rumah. Sedang asyik mengumpulkan, menyusun, menggandakan, dan men-scan semua aktivitas saya sebagai dosen dari tahun 2013. Sedang dikumpul-kumpul, bukan mau dikiloin, tapi rasanya sudah kelamaan jadi lektor kepala. Pengen naek sedikit lah. Hanya memang yang beginian ini mental game. Butuh ketabahan luar biasa.

Jadi ini seperti perjalanan yang tak tahu hasilnya. Lha misalnya ndilalah pedoman pernghitungan angka kredit kemeriting  yang baru tiba-tiba muncul seminggu lalu. Isinya menambah sulit saja jalan saya jadi Professor.

Bikin pusing. Tapi pelan-pelan kita cicil. Hasilnya psrahkan ke Allah, sambil terus berupaya keras.

 

 

Doain ya…

 

Iklan

Cerita Hari Ini di Clean and Slate

Setelah berputar-putar di gading serpong, akhirnya nemu juga cafe yang buka, clean and slate, yang dulu namanya tobi’s cafe. Sebelumnya melewati voyage, joy’s gelato, headshot, dan emmetropia, semuanya masih tutup jam 9 ini.

WhatsApp Image 2019-02-23 at 11.15.04 AM

Clean and Slate salah satu cafe yang kopinya enak, dan diracik dengan serius. Entah kenapa ganti nama. Yang jelas terakhir ke sini ketika baru ganti nama ada bonus pesan makan gratis kopi apa saja. Review singkatnya: kopi enak, colokan banyak, wifi kenceng, pelayanan baik. Makanannya juga lumayan dengan harga standar. Kekurangannya untuk parkir harus masuk area parkir berbayar.

Saya sedang butuh ngopi enak. Biji kopi di rumah habis dan pikiran sedang setres berat. Ini akibat 3 macbook yang saya miliki rusak di saat bersamaan padahal sedang butuh banget untuk mengerjakan review jurnal baik tulisan sendiri maupun mereview tulisan orang, menyempurnakan borang akreditasi dan menyiapkan angka kredit yang datanya ada di dalem macbook.

Selain itu sakitnya para macbooks juga menyedihkan karena banyak kenangan bersama mantan mereka yang sudah menemani 5-8 tahun lamanya. Kenapa rusak bareng arrrrgh

WhatsApp Image 2019-02-23 at 11.00.39 AM

Macbook pertama yang dibeli di Thailand tahun 2011 (wow sekarang 2019) atas bujukan Mas Suaedy tetiba sering ngehang. Macbook ini sebetulnya sudah uzur, berkali-kali sakit namun selalu berhasil saya perbaiki. Hardisknya sudah saya ganti jadi SSD, RAM-nya diupgrade jadi 16GB, wifi-nya sudah pake eksternal karena yang internal mati, dan baru saja ganti batere. Sementara sedang penyelamatan data dan rencananya install ulang. Moga-moga bisa. Ini andalan bekerja di rumah mengerjakan aplikasi berat, selain karena belakangan tidak bisa tersambung ke proyektor, entah kenapa.

Yang kedua adalah macbook air yang dibeli di Yahoo Auction di Jepun dengan harga amat murah keyboardnya ngadat gara-gara kesiram kopi. Sebetulnya bukan kesiram kopi tumpah, tapi kecipratan saja sih. Untuk login saja tidak bisa. Sepertinya harus ganti keyboard. Ini andalan untuk mobilitas, khususnya ngajar.

Macbook ketiga yang pro 15inch memang sudah lama sakit. Sudah dibawa ke rumah sakit  tempat reparasi dan mereka menyerah. Sudah kena mesinnya katanya, jadi gak bisa dicharge. Padahal ini jarang dipakai. Justru mungkin karena jarang dipakai ya? macbooknya sedih terus depresi. Macbook ini dibeli dari kawan dengan harga persahabatan ketika macbook pertama sakit dan saya depresi karena di tengah mengerjakan disertasi di Jepun.

Oh ya satu lagi, ipad yang sering dipakai untuk membaca ebook juga raib entah ke mana. Terakhir memang seringnya dipakai Iham untuk maen minecraft. Saya biarkan karena permainannya menantang dan Iham jadi suka bikin koding-koding tertentu. Eh sekarang ipadnya nyelip entah di mana.

Maka jadilah saya kalau mengajar pake iphone yang dipasangkan ke proyektor. Bukan gagah-gagahan, tapi cara inilah yang tersedia untuk melayani mahasiswa dan mahasiswi sehingga mereka puas tetap dapat belajar dari materi yang sudah saya siapkan.

Dan sekarang saya menulis di blog ini pake panasonic punya Bayal 🙂

Belajar lagi pake os jendela setelah sekian lama pake apel coak.