Dilema Dosen Millennial Memberi Nilai

Tahukah anda saat-saat tersulit seorang Dosen?

Ya, ketika Ia harus memberi nilai kepada mahasiswa-mahasiswi-nya. Maklum dosen masa kini (baca: millennial) tentu harus memberi nilai dengan cara sebaik-baiknya. Bukan jamannya jadi dosen diktator: jual diktat terus beli motor, trus ngasih nilai bagus untuk yang beli diktat.

Nah, kesulitan menilai ini terbentang dalam dua aspek sekaligus. Pertama, kesulitan teknis dan Kedua, kesulitan substansial plus perasaan.

Kesulitan pertama tentu saja menyangkut membaca dan memberikan nilai bagi sekian puluh sampai sekian ratus mahasiswa/i dengan beragam kualitas tulisan tangan, mulai dari yang bagus banget sampai yang aduhai. Butuh kemampuan tersendiri membaca dan memahami, plus tentu saja memberikan nilai yang diupayakan seobyektif mungkin. Bagi dosen serius ini makan waktu berhari-hari, apalagi jika ditambah tugas yang juga harus dibaca. Pokoknya teler

Kesulitan kedua terkait dengan substansi nilainya itu sendiri. Jika soalnya pilihan ganda tentu saja lebih mudah. Tinggal bikin kunci jawaban dan diperiksa dengan mudah, bahkan oleh siapapun. Teknik jadulnya adalah buat lembar jawaban yang dibolongin pake obat nyamuk, he he. Trus dilihat di lobangnya jawaban yang betul, diitung, beres dah.

Lah tapi mosok soal Pengantar Ilmu Politik atau Metode Penelitian Sosial pilihan ganda? Saya bisa diomelin Ibu Miriam Budiardjo. Jadi tentu saja soal essay. Dan meriksanya tentu saja penuh subyektivitas, walaupun tentu saja dibuat seobyektif mungkin. Dan ada saja dinamika yang mungkin terjadi. Mulai dari contek-mencontek, tulisan gak kebaca, salah menilai, dan sebagainya.

Yang menghibur, kadang-kadang mahasiswa juga suka-suka memanggil dosennya, mulai dari yang sok akrab sampai yang mengganti nama saya, Hamid jadi Hamit, untung gak amit-amit

13575636_10154406973579015_509502139_o13570341_10154406973754015_342669792_o13569845_10154406973594015_370113997_o13549145_10154406973714015_1476789773_o

Yang susah adalah contek mencontek. Jika ada beberapa jawaban yang plek-uplek sama, saya pasti kasih diskon cukup besar. Masalahnya terkadang kita gak tau, siapa mencontek siapa. Dan apakah contek mencontek dilakukan atas dasar suka sama suka atau terpaksa. Gimana coba memberi nilainya? Sementara ini sih saya memberi diskon yang sama besarnya untuk lembar jawaban yang sama .

Nah, karena dosen juga manusia, dan sebagai #dosenngopi banyak juga mahasiswa datang memberi sesajen kopi saya menegaskan bahwa pemberian nilai tidak terkait hal-hal tersebut. Ya kadang sih terbersit, tapi saya coba tepis. Nilai ya nilai, kopi ya kopi he he.

Nah bagaimana jika salah memberikan nilai? Saya menganggap bahwa prinsip utamanya adalah mahasiswa tidak boleh dirugikan. Jadi kalau ada kebingungan, ya harus disesuaikan tanpa merugikan mereka.

Walaupun yang saya tidak sukai adalah soal tekanan sesudah memberikan nilai.

Entah kenapa setelah era smartphone ini, segera sesudah album nilai dirilis, akan ada banyak WA masuk menanyakan nilai, bahkan meminta tugas. Jawabannya: sepanjang tidak ada kesalahan input nilai, ya nilai harus diterima apa adanya. Seperti cinta 🙂

Begitu kira-kira

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.