Review Pokepo Kafe

Malam ini saya tiba dengan lelah, perjalanan dari kampus molor sejam lebih, macet parah begitu menjelang keluar tol karawaci.

Nah begitu sampai rumah akhirnya memutuskan membawa bocils makan ke luar. Nah karena ada niat belanja maka diputuskan makan di pokepo cafe. Di bawahnya ada toko yang menjual berbagai sosis dengan harga diskon. Nah pokepo cafe di atasnya.

Harganya lebih masuk akal sih dibandingkan cafe yg kemarin. Harga nasi gorengnya lebih murah 50rb. Lagian, ke cafe kok beli nasgor 😅

Tempatnya sih cukup nyaman, kalau buat kerja. Colokan tersedia di setiap meja, internetnya juga lancar dan cepat. Hanya memang ruang di pokepo ini betul-betul tertutup, tanpa jendela. Jadi untuk penyandang claustrophobia ya agak gimana gitu.

Kopinya enak, saya mesen longblack, bukan americano 😅

Nah yang menarik tentu saja diskon. Ada diskon 10% jika posting dan follow akun instagram pokepo. Ditambah cashback 20% jika bayar pake go pay. Hanya posting harus 30 menit sebelum print bill, jadi kali ini ndak dapet larena udah kemaleman. Nah begitu bayar masih dikasih kupon diskon lagi untuk kedatangan berikutnya sebesar 20%.

Iklan

Review Kafe #1 Tanamera GS

Saya memutuskan untuk membuat review kafe di tempat-tempat di mana saya ngopi. Hal ini dirangsang oleh pengalaman ngopi beberapa waktu ini yang berkesan, baik kesan baik maupun buruk. Kebetulan saya tinggal di kawasan yang memamg banyak kafe. Saya juga termasuk orang yang suka bekerja di kafe, mencari mood, inspirasi dan kenyamanan.

Review ini subyektif saya sebagai penikmat kopi yang hanya tahu dua rasa: enak dan tidak enak. Dan karena ini review kafe, bukan review kopi, maka saya membuat beberapa indikator yaitu: 1. Rasa kopi, 2. Harga kopi dan makanan, 3. Suasana kafe, 4. Colokan listrik, 5. Internet, komentar lain tentu seputar pelayanan, diskon, dan sebagainya.

Baiklah kita mulai dengan

Tanamera Coffee Gading Serpong

Saya awalnya hendak ke kafe lain siang ini. Maklum, pagi ini bangun dengan kepala pening. Jelas butuh kopi enak. Ditambah ada beberapa proposal tesis yang harus saya periksa dengan cermat, gak enak sudah lama menunggu disentuh.

Tetiba ketika memgecek email, ada tawaran dari Tanamera, bisa ngopi satu cangkir gratis satu lagi. Menarik 👍👍👍

Tentu tidak bijak melewatkan diskon semacam ini, apalagi tanamera sedang ultah, tidak sopan menolak undangan orang ulang tahun.

Hmm sebagai tempat kerja Tanamera GS cukup nyaman. Ada beberapa meja panjang dan bisa menghadap ke Scientia Park yang hijau-hijau. Jadi bisa melepas lelah mata yang menatap monitor. Colokan listrik juga cukup banyak dan rapi di lantai, jadi untuk road warrior semacam saya yang bekerja berjam-jam di laptop ya amat membantu.

Sayangnya, entah kenapa dari dulu problem di Tanamera GS adalah koneksi internet yang tidak stabil. Saya selalu gagal terkoneksi, baik dengan wifi Tanamera maupun SDC. Untuk mereka yang ke kafe untuk bekerja, ini problem serius.

Alhasil selama beberapa jam kerja, saya tethering dengan henpon sendiri. Bete

Nah ketika memesan kopi, saya mesti menjelaskan dulu program promo yg mereka emailkan. Duh, ternyata program promo ini tidak tersosialisasi dengan baik. Kesannya gw minta gratisan, padahal emang bener 😅

Harusnya sih, mereka yg memberitahu ada promo ini dan itu kepada customer, sebagai kewajiban mereka dan hak saya.

Akhirnya sih tetep dapet promonya. Saya minum americano (35K IDR) dan dapet gratis cappucino. Tentu setelah memenuhi syarat dan ketentuan posting dan mention di instagram.

Nah soal rasa Tanamera mah juara. Ia bahkan punya roasting sendiri yang bisa kita lihat dari tempat ngopi. Hal ini sebanding dengan harga yang berada di atas rata-rata kafe lokal lain, namun tidak jauh berbeda dengan kafe internasional semacam putri duyung.

Yang terasa mihil memang makanan. Karena sedang kadung kerja, maka saya pesan nasi goreng yang harganya lebih dari dua kali lipat harga americano. Rasanya: biasa. Mungkin ada baiknya pas lapar melipir dulu ke sol**ia di sebelah yang nasi gorengnya lebih enak dan murah.

Oh ya, Tanamera ini lokasinya ideal juga kalau lagi ngajak anak maen ke Scientia Park. Anak-anak bisa lari-larian atau panjat tebing di Scientia Park. Bapaknya bisa buka laptop atau baca koran (tersedia kompas, jakpos dan majalah2 komunitas) sambil minum kopi, seperti Bapak Budi.

Tips Ngopi Untuk Millennial

Sri Mulyani pernah mengkhawatirkan bahwa generasi millennial kebanyakan ngopi di kafe. Tentu bukan khawatir kalau-kalau paru-parunya jadi item, he he. Tapi pada konsumsi berlebih yang bisa menjebol kantong, bikin gak bisa nabung atau investasi.

screenshot 2019-01-20 17.15.36img_3089img_8035

Saya sebagai millennial sulung yang doyan ngopi sempat tercenung juga. Jangan-jangan kita kebanyakan ngopi dan gak bisa nabung atau investasi.

Hmm, walaupun dipikir-pikir mungkin juga karena gaji dosen juga gak gede, he he. Tapi tentu penting menghindari status biar tekor asal kesohor (di medsos).

Karena itulah tips ini saya buat, ehemmmm.

1.Ngopi itu harus hobby, bukan karena panjat sosial. Kalau gak suka ngopi jangan ngopi, mending ngelakuin hobby yang lain: nginang, masak, naik gunung, hidroponik atau yang lainnya.

2. Ngopi di rumah itu oke lho. Sebisa mungkin mempelajari kopi yang enak untuk dibuat sendiri. Banyak bertebaran di internet. Metode ngopi bisa ditubruk, pake v60, pake mesin kopi, french kiss press, dll. Nah biji kopi udah banyak yang jual, bahkan ada kopi rasa wine, cokelat, dsb. Saya biasa belanja di pasar modern BSD. Beli beragam biji dengan kuantitas sedikit. Dengan buat sendiri kita bisa berekspresi. Mesin buat giling kopi juga gak mahal lho.

screenshot 2019-01-20 17.47.39screenshot 2019-01-20 17.48.36

whatsapp image 2019-01-20 at 17.41.16whatsapp image 2019-01-20 at 17.41.17

whatsapp image 2019-01-20 at 17.41.17 (1)

3. Kalau nongkrong, upayakan di kafe lokal. Eksplor banyak kafe di sekitar anda, cari yang enak dan terjangkau. Ada? Pasti ada. Kafe lokal juga belum tentu enak dan harganya masuk akal. Tapi saya gak pernah menyesal sih, saya selalu menganggap ketika ngafe dan dapet zonk, ini pelajaran. gak akan ke sana dan cari tempat lain. Selama ini sih lebih banyak yang enak daripada yang zonk. Karena saya ngafe buat kerja, maka ada tiga pilar penting: kopinya enak, tempatnya enak, dan wifinya kenceng.

img_1303

img_3600

img_9059

img_1191

whatsapp image 2019-01-20 at 17.41.20

4. Kalau kafe berjaringan internasional ya boleh-boleh saja sih. Hanya mesti rasional. Nongkrong di kafe mahal seperti kafe putri duyung gak bikin anda lebih keren kok. Saya nongkrong di kafe apapun biasanya berdasarkan rasionalitas. Pertama, kalau ada kebutuhan menulis segera ketika kepala sedang cerah saya akan ke kafe. kalau di sana ada kafe lokal ya tentu ke sana, kalau adanya kafe putri duyung mau bagaimana lagi. Begitu juga ketika berjanji ketemu dengan seseorang membicarakan hal penting. Kalau nongkie-nongkie lala-lala doang mah, nyaris gak pernah.

img_9556

 

5. Rasionalitas lain tentu memanfaatkan diskon. Nasib membuat saya memiliki beberapa kartu kredit. Ndilalah itu berguna buat ngopi di tempat mihil. Kartu BCA krisflyer bisa saya pake ngopi gratis (Sebenernya Rp. 1,-) di kafe putri duyung Bandara dengan menunjukkan boarding pass. Nah kartu Mega selain saya pakai belanja di transmart carrefour karena diskon 10% saya pakai untuk ngopi, khususnya menjamu teman di Kafe Biji Kopi dan daun teh yang satu grup sama mereka. Lumayan, untuk harga tertentu diskonnya 50%.

9aba4377-fb63-48ee-b615-48e0dee03605

6. Upayakan ketika di kafe kita menghasilkan sesuatu yang nilainya lebih dari harga kopinya. Buat saya kafe adalah ruang kerja yang saya sewa seharga kopi. Murah kan? Dari duduk di kafe ada paper yang beres, ide yang dituliskan, kerjasama tertentu, dan sebagainya. Produktif secara santai, termasuk tulisan di blog ini.

Begitu deh tipsnya. Ada yang mau menambahkan?

Catatan: tulisan ini tidak disponsori cafe manapun. Tapi kalau ada yang mau mengundang untuk direview, mangga saja. pembaca blog ini sekitar 700-1000 perhari.

Kenapa Saya Belum Pensiun dari Facebook

Kenapa saya belum pensiun dari Facebook? Kamsudnya sebagai pengguna facebook?

Sebagian besar millennial dan generasi yang lebih muda mulai beralih ke media sosial yang lebih segar. Sebagian bermain kata-kata di twitter, sebagian bermain gambar di instagram.

Saya pun punya akun di keduanya.

Namun bagi saya facebook ini seperti rumah rakyat kebanyakan. Facebook tempat saya mengecek arus, ombak dan angin bertiup. Terkadang saya menceburkan diri ke berbagai komunitas aneh-aneh untuk sekedar testing the water tadi. Kadang sanggup bertahan lama sebagai silent rider. Kadang gak kuat juga lalu keluar.

Di facebook juga saya suka membaca orang. Ada yang jago segalanya. Segala isu dikomentari, hebat pokoknya.

Ada yang narsia banget. Kapanpun-dimanapun diposting.

Ada yang hobinya menebar jempol dan dijempoli. Bahkan menjempoli statusnya sendiri dan membalas setiap jempol dengan mengatakan: thanks jempolnya.

Facebook juga mengajarkan bahwa kebijaksanaan (wisdom) dan kecendekiaan tidak tergantung usia dan pendidikan. Ada tua-tua keladi penebar hoax, walaupun ada yang muda. Yang kacau ha itu, sudah tua, pendidikan tinggi pula tapi hobby berkomentar nyinyir sambil membagi berita-berita dari sumber tidak jelas.

Anda dan saya masuk kategori yang mana?

Ngopi sesudah Ngajar

Saya menutup hari ini di emmetropia. Ia adalah kedai kopi yang menyajikan kopi enak di bilangan gading serpong. Maunya sih langsung pulang. Tapi kalau sampe rumah biasanya paling enak naro laptop, mulai beberes, maen sama kucing atau menggoreng pisang. Bisa gak kelar tulisan yang musti dibikin.

Oh ya sore ini saya memilih manual brew Flores Honey. Enak pisan.

whatsapp image 2019-01-14 at 15.15.12

Pagi tadi sampai siang saya ngajar di Sentul, School of Government and Public Policy (SGPP).  SGPP ini sudah lama saya dengar, namun baru sekali ini ke sini.  Lokasinya berada di bukit, satu kawasan dengan BNPT, BNPB, Indonesia Peace and Security Center, dan juga UNHAN.

Saya diminta jadi dosen tamu oleh Kang Doktor Erry, menyajikan salah satu kasus kebijakan publik. Nah karena bosen dengan isu politik, saya bawa tema: Research and Academic Career in Indonesian Higher Education. Tema ini saya kembangkan dari materi serupa yang saya sampaikan dalam konferensi soal Higher Education di Hiroshima tahun lalu. Kebeneran sedang menulis juga satu kolom untuk buku yang akan diterbitkan JETRO.

screenshot 2019-01-14 15.35.19

Jadilah cuap-cuap dalam bahasa Inggris selama hampir 2.5 jam: jam 9 – 11.30. Lumayan juga, biasanya konferensi hanya presentasi maksimal 15 menit. Untunglah suasana kelas sangat aktif. Para mahasiswa merespon dengan berbagai pertanyaan dan opini yang amat konstruktif. Oh ya, SGPP ini kampus untuk level master. Jadi para mahasiswa memang sebagian besar memiliki latarbelakang pekerjaan yang beragam: ada dosen, pegawai swasta, aktivis NGO, pegawai pemerintah, dsb. Yang juga menarik semua perkuliahan diberikan dalam Bahasa Inggris. Oh ya, semua mahasiswa di sini kuliahnya dengan beasiswa lho.

whatsapp image 2019-01-14 at 15.15.20

Jadi selama  2.5 jam kita membincang berbagai persoalan pendidikan tinggi secara terbuka. Saya senang sekali, bisa membawa masalah dunia pendidikan tinggi ke fora akademik semacam ini. Maklum, sebelumnya lebih banyak saya tulis dalam blog ini.

Oh ya, ngomong-ngomong di Program Studi Ilmu Pemerintahan Untirta, semester depan juga akan ada mata kuliah pilihan Citizenship yang akan disampaikan dalam Bahasa Inggris. Pengajarnya team teaching, dosen-dosen millennial Prodi IP 😉

Dilema Dosen Millennial Memberi Nilai

Tahukah anda saat-saat tersulit seorang Dosen?

Ya, ketika Ia harus memberi nilai kepada mahasiswa-mahasiswi-nya. Maklum dosen masa kini (baca: millennial) tentu harus memberi nilai dengan cara sebaik-baiknya. Bukan jamannya jadi dosen diktator: jual diktat terus beli motor, trus ngasih nilai bagus untuk yang beli diktat.

Nah, kesulitan menilai ini terbentang dalam dua aspek sekaligus. Pertama, kesulitan teknis dan Kedua, kesulitan substansial plus perasaan.

Kesulitan pertama tentu saja menyangkut membaca dan memberikan nilai bagi sekian puluh sampai sekian ratus mahasiswa/i dengan beragam kualitas tulisan tangan, mulai dari yang bagus banget sampai yang aduhai. Butuh kemampuan tersendiri membaca dan memahami, plus tentu saja memberikan nilai yang diupayakan seobyektif mungkin. Bagi dosen serius ini makan waktu berhari-hari, apalagi jika ditambah tugas yang juga harus dibaca. Pokoknya teler

Kesulitan kedua terkait dengan substansi nilainya itu sendiri. Jika soalnya pilihan ganda tentu saja lebih mudah. Tinggal bikin kunci jawaban dan diperiksa dengan mudah, bahkan oleh siapapun. Teknik jadulnya adalah buat lembar jawaban yang dibolongin pake obat nyamuk, he he. Trus dilihat di lobangnya jawaban yang betul, diitung, beres dah.

Lah tapi mosok soal Pengantar Ilmu Politik atau Metode Penelitian Sosial pilihan ganda? Saya bisa diomelin Ibu Miriam Budiardjo. Jadi tentu saja soal essay. Dan meriksanya tentu saja penuh subyektivitas, walaupun tentu saja dibuat seobyektif mungkin. Dan ada saja dinamika yang mungkin terjadi. Mulai dari contek-mencontek, tulisan gak kebaca, salah menilai, dan sebagainya.

Yang menghibur, kadang-kadang mahasiswa juga suka-suka memanggil dosennya, mulai dari yang sok akrab sampai yang mengganti nama saya, Hamid jadi Hamit, untung gak amit-amit

13575636_10154406973579015_509502139_o13570341_10154406973754015_342669792_o13569845_10154406973594015_370113997_o13549145_10154406973714015_1476789773_o

Yang susah adalah contek mencontek. Jika ada beberapa jawaban yang plek-uplek sama, saya pasti kasih diskon cukup besar. Masalahnya terkadang kita gak tau, siapa mencontek siapa. Dan apakah contek mencontek dilakukan atas dasar suka sama suka atau terpaksa. Gimana coba memberi nilainya? Sementara ini sih saya memberi diskon yang sama besarnya untuk lembar jawaban yang sama .

Nah, karena dosen juga manusia, dan sebagai #dosenngopi banyak juga mahasiswa datang memberi sesajen kopi saya menegaskan bahwa pemberian nilai tidak terkait hal-hal tersebut. Ya kadang sih terbersit, tapi saya coba tepis. Nilai ya nilai, kopi ya kopi he he.

Nah bagaimana jika salah memberikan nilai? Saya menganggap bahwa prinsip utamanya adalah mahasiswa tidak boleh dirugikan. Jadi kalau ada kebingungan, ya harus disesuaikan tanpa merugikan mereka.

Walaupun yang saya tidak sukai adalah soal tekanan sesudah memberikan nilai.

Entah kenapa setelah era smartphone ini, segera sesudah album nilai dirilis, akan ada banyak WA masuk menanyakan nilai, bahkan meminta tugas. Jawabannya: sepanjang tidak ada kesalahan input nilai, ya nilai harus diterima apa adanya. Seperti cinta 🙂

Begitu kira-kira