Dosen Asing vs Dosen Pribumi

Screenshot 2018-04-20 22.35.30

Membaca berita bahwa dosen asing mau digaji 5000 US dolar (sekitar 65 juta rupiah)  (https://www.jpnn.com/news/datangkan-200-dosen-asing-gaji-hingga-rp-65-juta) oleh Kemeriting, dan itu pastinya pakek duit mbahmu rakyat , maka setelah geleng-geleng kepala, ada beberapa hal yang mau saya sampaikan, sebagai dosen pribumi (baca: WNI) yang merasa (lagi-lagi) terdiskriminasi.

  1. Di dunia akademik mancanegara, sepemahaman saya yang terjadi adalah kesetaraan (CMIIW). Tak ada beda yang njomplang antara dosen asing dengan dosen pribumi. Kamsudnya, kalau dosen asing asal Indonesia jadi Associate Professor di Jepang, maka rate-nya akan mengikuti  standar take home pay Associate Professor di Jepang. Kalaupun dibayar agak istimewa, itu karena keahlian dan reputasi, bukan soal asing atau pribumi. Sampai sini paham?
  2. Ketika Kemeriting membuat ancer-ancer gaji hingga 65 juta rupiah untuk dosen asing, maka sesungguhnya Kemeriting paham bahwa pendapatan dosen pribumi di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan standar internasional. Karena kalau kemeriting tidak paham, maka dosen asing akan digaji sama seperti dosen universitas negeri (sebagai standar) di Indonesia. Yang kalau mau lebih sejahtera silahkan mengajukan jabatan fungsional yang besaran tunjangannya kecil banget dan gak naek-naek dari tahun 2007. Kalau masih kekecilan suruh dosen asing itu ikut ngantri sertifikasi dosen, termasuk ikut test bahasa inggrisnya. Lho kok test bahasa lagi? ya musti ikut, lha wong dosen pribumi alumni UK, USA atau Aussie juga mesti kok. Ini demi kesetaraan dan keadilan. Lha kalau dosen asing sudah dapet serdos masih merasa pendapatannya kecil, maka dipersilahkan saja ngobyek dan bersyukur. Lho nanti ngajar dan risetnya gak optimal? berarti bapak-bapak di kemeriting mulai paham toh problem kenapa pendidikan tinggi Indonesia gak maju?
  3. Kalau menganggap point nomor (2) berlebihan dan berpikir “wah dosen asing nggak bakalan mau”, dan tetep ngotot bahwa secara wajar mereka musti digaji sekitar 65 juta untuk menghasilkan riset dan publikasi berkualitas, saya punya solusi lebih menyenangkan. Jadikan gaji 65 juta sebagai standar gaji dosen yang wajar di Indonesia. Katakanlah dosen Asisten ahli (Instructor)THP-nya mulai 30 juta, dosen lektor (Assistant Professor) 40 juta, Lektor kepala (Associate Professor) 50 juta dan dosen Professor 65 juta. Asyik kan?
  4. Kalau usul nomor (3) dianggap aneh, ya berarti kemeriting yang aneh, berada dalam sesat pikir, berpikir a la  inlander, rendah diri dan selalu menganggap yang serba asing itu hebat dan tinggi.
  5. Hmm, trus piye? Saya kasih saran gratis. (1) Naikkan dulu standar pendapatan dosen Indonesia, katakanlah minimal dua kali lipat take home pay guru SD Negeri di Jakarta (https://megapolitan.kompas.com/read/2018/01/11/17331311/gaji-guru-pns-di-dki-maksimal-rp-14-juta-sebulan),  (2) Rekrut anak-anak bangsa sendiri menjadi dosen tetap, doktor-doktor alumni kampus-kampus terbaik dunia, katakanlah lulusan beasiswa LPDP yang kuliahnya dibiayai dari uang negara juga. (3) Proses rekrutmen tentu saja diperbaiki dengan mengedepankan portofolio akademik untuk mencari ilmuwan, bukan semacam tes yang sama untuk mencari pegawai Pemda.
  6. Tiga hal di nomor (5) saja dijalankan, kita tidak butuh mengimpor dosen asing, perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia akan berkembang secara cepat dan alamiah, tidak instant.
  7. Semoga kali ini Bapak-bapak di Kemeriting paham, rasanya saya sudah menjelaskan dengan bahasa dan logika yang sederhana.

Catatan: Penggunaan kata pribumi hanya untuk menaikkan tensi biar menjadi isu publik lebih luas dan menjadi kontras untuk kata “asing”. Makna pribumi di sini adalah Warga Negara Indonesia.

-AH

Iklan

2 thoughts on “Dosen Asing vs Dosen Pribumi

  1. A. Yousuf Kurniawan

    Sebenarnya dosen asing itu datang sebagai dosen tetap atau hanya datang selama beberapa bulan saja? Kalau hanya beberapa bulan saja saya kira bagus untuk tukar pengalaman dan menambah ilmu dan keahlian dosen pribumi (maaf ikut meminjam istilah pribumi-nya?
    Hanya kalau memang gajinya jomplang banget, ya bisa jadi kecemburuan.
    Selain itu (setuju dengan Pak Hamid), program ini juga perlu didampingi dengan perbaikan fasilitas, insentif, dll.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s