Dosen Milenial (2)

Baiklah, saya mau menggunakan kisaran waktu kelahiran 1981 – 2000 untuk menyebut generasi millenial. Generasi sebelumnya, yaitu yang lahir tahun 1965 – 1980 sebagai generasi X, dan yang lahir 1946 – 1964 sebagai generasi baby boomers. Generasi setelah milenial disebut generasi Z. Kenapa ini dipilih, karena saya lahir di tahun 1981, jadi bisa dengan belagu menyebut diri saya sebagai milenial senior 🙂

Berikut gambar dari hasil risetnya  Alvara :

Screenshot 2018-03-19 18.55.15

Nah berdasarkan kategorisasi di atas, maka generasi milenial sekarang berusia antara: 18 – 37 tahun. Nggak terlalu muda juga, tapi memang sedang ranum-ranumnya di bagian paling muda. Saya sendiri merupakan milenial senior karena lahir di tahun 1981, yah milenial muka kolonial, he he.

Generasi paling junior adalah generasi yang baru masuk kuliah. Jadi kalau saya mengajar, sesungguhnya itu adalah milenial mengajar milenial, bukan jeruk makan jeruk, he he

Screenshot 2018-03-19 19.33.57

Masih dari Alvara yang mengambil data dari BPS, maka jumlah perkiraan penduduk di tahun 2000 bisa digambarkan melalui piramida sebagai berikut:

Screenshot 2018-03-19 19.01.13Jumlah penduduk milenial pada tahun 2020 diperkirakan berjumlah 34% dari populasi. Lebih besar dari penduduk per-kategori, dan menariknya berada di usia yang lucu-lucunya produktif-produktifnya.

Nah bagaimana di dunia pendidikan tinggi?

Berikut data dari buku Buku-Statistik-Pendidikan-Tinggi-2017:

Screenshot 2018-03-19 18.49.03Dosen berusia di bawah 25 tahun sebanyak 1.892 orang, ditambah berusia 26-35 tahun sebanyak 73.223, jika dijumlahkan sebanyak 75.115 orang atau sebanyak 30.38% dari total 247.269 dosen di seluruh Indonesia. Sebagai catatan angka ini agak berbeda dengan angka 113.965 dosen milenial yang diumumkan Kemeriting (Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi) yang dikutip Pikiran Rakyat. 

Bisa jadi karena data yang diumumkan Kementerian mencakup juga Dosen di Kementerian agama dan sekolah kedinasan. Maklum di NKRI ini banyak sekali kategori perguruan tinggi. Sementara yang di buku Statistik Pendidikan Tinggi 2017 hanya Perguruan Tinggi di bawah Kemeriting saja.

Apapun, jumlah dosen milenial lebih banyak dibandingkan dengan dosen di kategori yang lain. Hal ini juga terkait status dosen. Perhatikan data berikut, masih dari statistik pendidikan tinggi

Screenshot 2018-03-19 18.45.55

Sayangnya saya tidak memiliki data usia dosen dibandingkan dengan tingkat pendidikan dan jabatan fungsional. Kalau kemeriting merilis data tersebut atau menyediakan data mentahnya, asik tuh.

Namun saya percaya bahwa kesadaran dosen milenial untuk melanjutkan studi ke jenjang doktoral dan berupaya mendapatkan gelar Profesor di usia lebih muda lebih besar dibandingkan kategori usia yang lain.

Beberapa milenial junior misalnya, begitu memutuskan menjadi dosen sebagai jalan hidup akan menyegerakan menempuh studi ke jenjang doktoral. Beda sekali dengan milenial senior apalagi generasi sebelumnya yang malah menyegerakan menikah.

Maka saya beruntung semenjak Bulan lalu diangkat menjadi Kaprodi Ilmu Pemerintahan Untirta, Prodi yang semua dosen tetapnya berada dalam kategori milenial. Menyenangkan berada di tengah-tengah anak-anak muda dan mengajar anak-anak muda.

Sebelumnya saya Kaprodi S2 Magister Administrasi Publik, selain mengajar juga belajar kearifan dan kebijaksanaan dari mahasiswa saya yang sebagian besar lebih senior usianya daripada saya.

kelas-gabriel

***

Hmm, dunia pendidikan tinggi memang sedang bergerak.

Dua hari lalu di sebuah acara kawinan, saya berkenalan dengan seseorang yang menjadi dosen setelah terlebih dahulu meraih gelar doktor di Eropa dalam usia di bawah 30 tahun. Seorang kawan menjadi doktor di usia 32 tahun, adiknya di usia 26 tahun. Adik kelas saya di UI meraih gelar doktor di Jepang di usia di bawah 30 (Lulus S1 lanjut S2 dan lanjut S3) dan sekarang menjadi Kaprodi di sana. Kawan se-almamater saya yang meraih gelar doktor di usia belia dan ditolak menjadi dosen di almamaternya sekarang menjadi associate Professor di Jepang, sama dengan kawan lain yang juga memilih menjadi associate Professor di Malaysia daripada di Depok. Kemarin ketika belanja di Lu-Lu, saya juga bertemu doktor muda belia ahli kebijakan-energi dari Jepang yang mengajar di perguruan tinggi khusus kebijakan. Sekitar tiga tahun lalu ketika menunggu kereta ke Kyoto saya bertemu anak muda yang baru wisuda S1 hari sabtu dan hari seninnya sudah berada di Jepang untuk memulai S2.

Hal-hal begini membuat saya merasa tua dan merinding dangdut bahagia.

Merasa tua karena saya merasa adik-adik saya, para milenial junior seperti berpacu dengan waktu menyelesaikan studi doktoral dan mencapainya jauh lebih muda dibandingkan saya yang meraih Ph.D (permanent head damage) di usia 34 tahun.

Merinding bahagia karena saya bisa sedikit optimis, merasa masa depan pendidikan tinggi Indonesia akan beranjak membaik. Bukan karena kebijakan Dikti yang memaksa para dosen publikasi dengan segala ancamannya, tapi karena generasi millenial ini pelan-pelan akan mengambil alih dunia pendidikan tinggi secara alamiah. Milenial muda ini produktif, jago bahasa Inggris, publikasinya banyak, serta memiliki jejaring internasional. Keren pokoknya.

Maka semenjak menempuh pendidikan S3 dan rajin menulis soal-soal pendidikan tinggi saya selalu memotivasi diri saya dan kawan-kawan untuk tidak abai dengan persoalan semacam jabatan fungsional. Saya mendorong generasi muda dosen Indonesia untuk mengurus jabatan fungsional dan jadi Profesor selekas mungkin, karena dengan begitu dunia pendidikan tinggi bisa berada di tangan generasi muda ini. Revolusi senyap, bahasa gagah-nya.

Revolusi bukan semacam berebutan jabatan. Tapi lebih ke arah membangun arus-utama pemikiran baru. Kira-kira begitu.

Yah, nasib milenial senior semacam saya memang jadi provokator untuk milenial junior yang lebih pintar, lebih berjaringan dan lebih produktif.

Milenial bersatu tak bisa dikalahkan !

Iklan

One thought on “Dosen Milenial (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s