Bagaimana Melanjutkan S3 ke Luar Negeri?

Tulisan ini diilhami beberapa hal. Pertama, adanya kawan yang minta rekomendasi untuk sekolah ke luar negeri; kedua, teman yang bertanya tentang proses untuk bersekolah; ketiga, pertemuan dengan Ken Miichi Sensei yang juga menyinggung tentang kesempatan studi di Waseda; kelima, email Sensei beberapa waktu lalu yang minta rekomendasi tentang seorang pelamar; dan keenam, kamu. Ya tulisan ini dibuat untukmu 🙂

***

Tentu saja tulisan ini memiliki beberapa keterbatasan, utamanya pengalaman, waktu dan tempat studi saya. Saya mulai studi S3 di Jepun tahun 2012 dan selesai di tahun 2015. Pasti ada beberapa perubahan yang terjadi.

Baiklah kita mulai saja.

1. Siapkan CV, proposal, kemampuan bahasa Inggris dan rekomendasi.

Hal-hal ini mutlak dipersiapkan sebelum memburu beasiswa. Jangan membuatnya buru-buru sehingga hasilnya buruk. Buat dalam Bahasa Inggris yang baik, dan diedit secara baik oleh mereka yang bahasa Inggrisnya yahud (gak pake i).

CV harus menunjukkan portofolio kita di bidang akademik: pendidikan, pekerjaan (jika sudah bekerja, terutama di bidang akademik), dan publikasi. Hal-hal lain seperti hobby, no KTP atau no rekening lupakan saja dulu. Lebih singkat lebih baik, karena pembaca gak punya waktu banyak, upayakan ia jatuh cinta di pandangan pertama begitu membaca CV-mu.

Proposal dibuat singkat, isinya harus menunjukkan pertanyaan penelitian yang jelas, dan introductionnya sebisa mungkin menunjukkan kualitas bacaan kita. Bukan kumpulan kutipan, tapi elaborasi berbagai referensi terkait rencana riset. Biasanya, proposal ini bukanlah proposal yang belasan atau puluhan halaman, tapi hanya 3-5 halaman yang menunjukkan bahwa kita cukup berkualitas untuk menjadi Ph.D candidate di bawah bimbingan Professor tersebut. Oh ya, topik riset tentu harus visioner, memiliki kebaruan dalam ilmu pengetahuan dan menggunakan referensi terkini.

Kemampuan bahasa Inggris tidak bisa instant, mesti dipersiapkan jauh-jauh hari. Perhatikan requirement kampus yang dituju, karena walaupun kita diterima oleh Professor untuk menjadi bimbingannya. Tetap saja harus memenuhi aspek administrasi, termasuk kemampuan bahasa Inggris. Dan kemampuan berbahasa Inggris bukan sekedar administrasi, ia jadi alat terpenting karena kita akan menulis dan membaca, atau berkomunikasi dengan Professor, sebagian besar (jika tidak semua) dalam bahasa Inggris.

Rekomendasi adalah juga hal penting, selain dari atasan bisa juga minta dari mereka yang mendapatkan gelar Doktor dari negara tersebut atau bahkan alumni dari kampus tersebut, tentu yang memiliki reputasi atau posisi yang baik. Salah satu trik juga adalah dalam proposal bisa mengutip karya pemberi rekomendasi atau karya si Professor. Saya pernah ditanya oleh seorang Professor tentang seorang pelamar karena ia mencantumkan karya saya sebagai referensi.

2. Memilih Professor atau Kampus?

Setelah hal-hal di atas siap? mana dulu yang prioritas, mencari Professor atau kampus?

Saya sendiri cenderung mencari Professor dulu. Kita harus mencari calon pembimbing yang betul-betul akan menjadi pembimbing di bidang riset yang akan kita geluti. Tentu bisa juga sambil mengincar kampusnya, sambil mempertimbangkan requirementnya, katakanlah skor IELTS/TOEFL yang diminta. Misalnya kita menargetkan 10 kampus. Kita buat listnya dan telusuri profil pengajar di departemen yang kita incar. Nanti akan terkumpul shortlist yang bisa kita mulai email. Biasanya, tidak mudah mendapatkan respon dari Professor yang kita incar, karena kesibukan mereka. Mulai perkenalan dengan soft, menunjukkan antusiasme kita terhadap kepakaran dan karya mereka, dan berharap kita bersedia dibimbing, sambil menyampaikan portofolio kita, termasuk kemungkinan beasiswa untuk pembiayaan. Jika mereka merespon, respon balik, sampai betul-betul mereka menerima kita sebagai mahasiswa yang siap dibimbing.

Nah dalam kasus di Jepun, setelah oke, Professor biasanya akan mengeluarkan Letter of Acceptance (LoA) yang bersifat informal yang harus ditindaklanjuti dengan proses formal, sampai keluar LoA formal dari Universitas. Ada beberapa kampus yang mensyaratkan kita ikut oral test di Jepang, ya kita harus ke Jepang. Ada yang mensyaratkan kita jadi research student selama 6 bulan. Nah jika beruntung ada juga yang hanya mensyaratkan seleksi berbasis dokumen atau oral testnya via skype saja.

flash

share_tempory

3. Mendaftar dan Mencari Beasiswa

Nah setelah LoA resmi didapatkan, kita bisa mencari beasiswa. Dalam kasus saya, LoA ini syarat mutlak untuk mendapat beasiswa Dikti, sekarang BPPLN. Saya pikir juga sama untuk mendaftar LPDP. Tentu agak berbeda dengan beasiswa yang diberikan oleh negara tujuan, mungkin di kolom komentar ada yang bisa cerita.

4. Mulai Sekolah

Nah jika pendaftaran OK dan beasiswa OK, maka kita bisa mulai sekolah. Disinilah pengalaman baru akan dimulai. Sekolah S3 betul-betul mengandalkan kedisplinan pribadi dan kerja keras. Tahun pertama biasanya akan dimulai dengan menulis proposal. Lho kok menulis proposal lagi? Proposal 3-5 halaman yang kita kirimkan ke calon pembimbing hanyalah menunjukkan kita cukup layak untuk dibimbing. Tentu proposal sesungguhnya akan lebih kompleks, lengkap, dan ditulis dibawah bimbingan Professor.

2013-11-12 20.40.57_2_1

Oh ya, di Jepun biasanya salah satu syarat lulus adalah publikasi jurnal yang merupakan bagian dari disertasi. Maka dari awal ini harus direncanakan. Ketika diskusi awal dengan Sensei, buat kesepakatan yang wajar, jangan terlalu ambisius atau juga sebaliknya. Dua paper selama studi tiga tahun wajar, juga apakah jurnalnya ditentukan atau tidak? Ada seorang kawan sekolah di kampus terkemuka di Jepang namun belum bisa selesai karena Seseinya mensyaratkan publikasi di jurnal yang t.o.p b.g.t, sulit dilakukan. Jadi segala hal perlu diukur.

Nah menurut Prof Bunyamin di paparannya, publikasi selama studi walaupun bagian dari tesis/ disertasi bisa diajukan utk angka kredit selulus sekolah, jadi manfaatkan seluas-luasnya kesempatan studi untuk membaca dan menulis dengan segala fasilitas dan sumber yang berlimpah.

Sebagai tambahan, kesiapan finansial pribadi juga penting. Walaupun sudah mendapatkan beasiswa, ada baiknya kita harus mempersiapkan kemungkinan terburuk keterlambatan. Saya dulu menyiapkan uang pribadi sebesar dua bulan biaya hidup wajar ketika berangkat pertama di Jepun, 150rb yen X 2.

Gitu deh, kalau ada yang punya pengalaman berbeda, mangga disampaikan di kolom komentar 🙂

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s