Keteladanan

Beberapa hari sebelum keberangkatan ke Belanda,  pada tanggal 20 Oktober Himpunan Mahasiswa MAP menggelar diskusi publik bertajuk Policy Forum. Temanya tentang arah pendidikan tinggi di Indonesia. Saya bareng Prof. Dodi Nandika dan Dr. Fatah Sulaiman menjadi pembicara.

IMG_20171020_170222

Yang menarik dari keseluruhan acara adalah pertanyaan dari salah satu peserta, Dr. Firmanul. Ia menanyakan tentang role-model di kampus. Adakah sosok dosen/peneliti/ilmuwan yang bisa menjadi role model, baik dari produktivitas, integritas, karakter yang bisa menjadi contoh bagi para dosen muda?

Ini pertanyaan ringan dan berat, dan tercetus di saat yang tepat.

Pertanyaan ini menghantui saya cukup lama sampai saya memutuskan berhenti mencari dan memulai saja, dari diri sendiri.

***

Namun sesungguhnya saya bohong jika tidak menemukan role model.

Kebetulan dalam dua tahun belakangan, saya beruntung bisa menjadi kolega di dari tiga orang senior di DRD provinsi Banten yang tentu tidak hanya umur, tapi pengalaman, pengetahuan dan kebijaksanaan. Semua bertemu dalam satu kata: keteladanan.

Prof. Tihami atau Prof. Imat adalah ketua kami. Ia mantan Rektor IAIN SMH Banten. Prof Imat adalah pemimpin berkelas: santun, sederhana, dan ketika bicara selalu penuh makna. Namun demikian, ada satu kata yg menggambarkan ketaatan berbasis respek ke Prof Imat, yaitu: parentah. Jika ada tugas tertentu dari Prof. Imat, maka itu adalah parentah, harus dilaksanakan.

Namun aspek humor tak bisa terlepas dari beliau. Dari Prof. Imat saya mengenal istilah semacam Sakinah (Sanajan Aki-aki geh ngeunah) atau dongeng Demang Ciruas yang ngerjain para Jaro.

Tihami

***

Yang kedua adalah Kak Masduki. Saya memanggilnya Kakak bukan karena saya kurang ajar. Beliau adalah Ketua Kwarda Gerakan Pramuka, dan tentu saja kami memanggilnya Kakak. Pramuka selalu muda bukan?

Kak Masduki ini juga mantan Wagub Provinsi Banten dan birokrat yang sarat pengalaman. Namun kebesaran Kak Masduki justru membuatnya amat berwibawa dan bersahaja. Beliau salah satu sosok paling rajin di DRD, paling berkontribusi terutama ketika menemukan sumbatan-sumbatan administrasi dan birokrasi. Bagi saya, beliau tetaplah Wagub. Yang lain penggantinya, he he

masduki

***

Yang ketiga adalah Prof. Dodi Nandika. Tenang Prof, ini urutan penulisan saja, bukan kehebatan, he he

Prof. Dodi tentu saja sosok yang amat bereputasi di bidang akademik sebagai Guru Besar IPB ahli rayap, yang mengaku kalau malam hari ahli merayap :).  Ia juga mantan Sekjen Kementerian Pendidikan Nasional.

Satu hal yang menonjol dan saya pelajari, beliau perfeksionis. Segala hal dilakukan dengan detail, sempurna dan segera. Walaupun tinggal di Bogor, Prof. Dodi seringkali datang paling awal di rapat minggon DRD setiap hari jumat jam 8. Jam berapa berangkat dari Bogor?

Satu hal yang terpenting, Prof. Dodi selalu memberikan nilai lebih dari apapun substansi yang kami kerjakan. Terobosan, ide-ide baru, dan penguatan.

Dodi

***

Hemm, cerita di atas tentu saja tak bisa menggambarkan bagaimana trio senior DRD tersebut memberikan pelajaran keteladanan. Bagi saya yang jauuuuh lebih muda, ini dua tahun belajar, sesuatu yang tak bisa dipelajari di bangku kampus, di jepun sekalipun.

Karena itulah kemarin saya berpose dengan beliau-beliau, berharap barokah dan keteladanannya nempel 🙂

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s