Tahun 2018

Tahun 2018 akan menjadi tahun terberat di dunia akademik saya. Ia akan menentukan apa yang akan terjadi di tahun-tahun setelahnya. Mungkin juga tak hanya di dunia akademik, tapi dunia yang lainnya. Entahlah…

WhatsApp Image 2016-09-24 at 4.44.11 AM

Saya sering mengatakan, bahwa musuh terbesar seorang akademisi adalah dirinya sendiri. Zona nyaman itu melenakan, seakan-akan tidak banyak pekerjaan, padahal bertumpuk dan bisa membunuhmu. Jika dalam dunia ekonomi ada middle-income trap, dalam dunia karir akademik, saya menyebutnya mediocre trap.

Dalam beberapa tulisan terdahulu, saya menyebut kampus yang tak terkelola dengan baik –apalagi hanya mempertontonkan keserakahan — akan menjadi kampus medioker bahkan kampus dinosaurus, pun untuk orang-orang di dalamnya.

Bagi dosen, jika hanya menjadi kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) dan sibuk dengan kegiatan lain mencari penghasilan tambahan di bisnis palugada (apa elo mau gw ada), maka sulit untuk bisa sampai ke puncak, paling hanya jadi medioker.

Apalagi posisi kejepit seperti saya ini di lektor kepala. Ancaman berpenghasilan lebih rendah daripada dosen dengan jabatan fungsional lektor terus membayangi. Jadi Guru Besar, diancam tunjangan dicabutpun worth-it. Ada tunjangan kehormatan. Kalau dicabut paling jadi Guru Besar tanpa (tunjangan) kehormatan.

Lha jadi Lektor kepala, diancam iya, tunjangan cuma beda 200rebu dengan Lektor. Malah secara keseluruhan lebih kecil karena PPN-nya 15% πŸ™‚ Dunia kebalik kalau kata salah satu episode Doraemon-mah.

Dan tolong jangan dipahami sebatas urusan dompet, ini soal bagaimana situasi semacam ini hanya mengekalkan keterbelakangan pendidikan tinggi kita. Pernah dengar brain-drain kan?

Jadilah pilihannya hanya satu buat saya, riset dan publikasi, secepatnya jadi Guru Besar. Kalau perlu jadi Guru Besarnya di Malaysia, Brunei, Jepang, Swahili, Timbuktu,Β  atau Eropa saja, he he

Saya tidak sedang mengatakannya dengan gagah berani dan membusungkan dada, tapi sambil meneguk ludah, menghela nafas dan geleng2 kepala.

Ini bukan persoalan saya, tapi pendidikan tinggi negara ini.

Saya rasanya sudah maksimal menyampaikan (baca: memprotes) sampai ke Dirjen, kami bahkan berbalas pantun vlog. Tapi birokrasi memang selalu mempertontonkan keangkuhannya sendiri, merasa gagah justru kalau harus menindas protes. Soal logika urusan belakangan.

Semua orang hanya butuh panggung dan pamer angka statistik toh !

Jadi tahun depan saya akan fokus ke akademik dan diri sendiri dulu. Ada banyak yang harus diselesaikan Brader !

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s