Arsip Bulanan: Desember 2017

Publikasi Jurnal Internasional Bereputasi Semasa Sekolah Diakui, Horeee !

Kemarin, Dekan FISIP Untirta membagikan file pdf berjudul “Arah Kebijakan Jabatan Akademik Dosen”. Nah karena file presentasi tersebut bentuk pdfnya agak tidak jelas, saya mencari ppt aslinya. Dapat ! Sila baca presentasi lengkap dengan membaca secara daring di bawah atau mengklik  tautan ini.


Ada beberapa hal menarik di sana, terutama terkait pertanyaan-pertanyaan yang masih menggantung dan belum kunjung mendapat jawabannya.

Utamanya adalah soal apakah paper di jurnal terakreditasi dan jurnal internasional berputasi yang dihasilkan selama kuliah S2/S3 yang merupakan bagian dari tesis/disertasi diakui atau tidak?

Jawabannya adalah diakui, bisa dilihat di halaman 60

Screenshot 2017-12-28 09.23.21

Hal ini melegakkan dan seharusnya membuat para reviewer/Tim PAK memiliki perspektif yang sama dalam menilai publikasi yang dihasilkan selama sekolah.

Oh ya, hal ini memberikan penguatan terhadap sebuah surat edaran yang menjelaskan bahwa karya ketika tugas belajar diakui.Screenshot 2017-12-29 07.35.46

Nah penjelasan dalam paparan Prof. Bunyamin tidak hanya memperkuat surat di atas, tapi membuat jelas bahwa paper dalam jurnal internasional dan terakreditasi yang merupakan bagian atau sintesis dari tesis dan disertasi diakui dan dapat dipergunakan untuk kenaikan pangkat/jabatan setelah selesai pendidikan.

Ah lega…

Iklan

Keteladanan

Beberapa hari sebelum keberangkatan ke Belanda,  pada tanggal 20 Oktober Himpunan Mahasiswa MAP menggelar diskusi publik bertajuk Policy Forum. Temanya tentang arah pendidikan tinggi di Indonesia. Saya bareng Prof. Dodi Nandika dan Dr. Fatah Sulaiman menjadi pembicara.

IMG_20171020_170222

Yang menarik dari keseluruhan acara adalah pertanyaan dari salah satu peserta, Dr. Firmanul. Ia menanyakan tentang role-model di kampus. Adakah sosok dosen/peneliti/ilmuwan yang bisa menjadi role model, baik dari produktivitas, integritas, karakter yang bisa menjadi contoh bagi para dosen muda?

Ini pertanyaan ringan dan berat, dan tercetus di saat yang tepat.

Pertanyaan ini menghantui saya cukup lama sampai saya memutuskan berhenti mencari dan memulai saja, dari diri sendiri.

***

Namun sesungguhnya saya bohong jika tidak menemukan role model.

Kebetulan dalam dua tahun belakangan, saya beruntung bisa menjadi kolega di dari tiga orang senior di DRD provinsi Banten yang tentu tidak hanya umur, tapi pengalaman, pengetahuan dan kebijaksanaan. Semua bertemu dalam satu kata: keteladanan.

Prof. Tihami atau Prof. Imat adalah ketua kami. Ia mantan Rektor IAIN SMH Banten. Prof Imat adalah pemimpin berkelas: santun, sederhana, dan ketika bicara selalu penuh makna. Namun demikian, ada satu kata yg menggambarkan ketaatan berbasis respek ke Prof Imat, yaitu: parentah. Jika ada tugas tertentu dari Prof. Imat, maka itu adalah parentah, harus dilaksanakan.

Namun aspek humor tak bisa terlepas dari beliau. Dari Prof. Imat saya mengenal istilah semacam Sakinah (Sanajan Aki-aki geh ngeunah) atau dongeng Demang Ciruas yang ngerjain para Jaro.

Tihami

***

Yang kedua adalah Kak Masduki. Saya memanggilnya Kakak bukan karena saya kurang ajar. Beliau adalah Ketua Kwarda Gerakan Pramuka, dan tentu saja kami memanggilnya Kakak. Pramuka selalu muda bukan?

Kak Masduki ini juga mantan Wagub Provinsi Banten dan birokrat yang sarat pengalaman. Namun kebesaran Kak Masduki justru membuatnya amat berwibawa dan bersahaja. Beliau salah satu sosok paling rajin di DRD, paling berkontribusi terutama ketika menemukan sumbatan-sumbatan administrasi dan birokrasi. Bagi saya, beliau tetaplah Wagub. Yang lain penggantinya, he he

masduki

***

Yang ketiga adalah Prof. Dodi Nandika. Tenang Prof, ini urutan penulisan saja, bukan kehebatan, he he

Prof. Dodi tentu saja sosok yang amat bereputasi di bidang akademik sebagai Guru Besar IPB ahli rayap, yang mengaku kalau malam hari ahli merayap :).  Ia juga mantan Sekjen Kementerian Pendidikan Nasional.

Satu hal yang menonjol dan saya pelajari, beliau perfeksionis. Segala hal dilakukan dengan detail, sempurna dan segera. Walaupun tinggal di Bogor, Prof. Dodi seringkali datang paling awal di rapat minggon DRD setiap hari jumat jam 8. Jam berapa berangkat dari Bogor?

Satu hal yang terpenting, Prof. Dodi selalu memberikan nilai lebih dari apapun substansi yang kami kerjakan. Terobosan, ide-ide baru, dan penguatan.

Dodi

***

Hemm, cerita di atas tentu saja tak bisa menggambarkan bagaimana trio senior DRD tersebut memberikan pelajaran keteladanan. Bagi saya yang jauuuuh lebih muda, ini dua tahun belajar, sesuatu yang tak bisa dipelajari di bangku kampus, di jepun sekalipun.

Karena itulah kemarin saya berpose dengan beliau-beliau, berharap barokah dan keteladanannya nempel 🙂

 

 

 

 

 

Tahun 2018

Tahun 2018 akan menjadi tahun terberat di dunia akademik saya. Ia akan menentukan apa yang akan terjadi di tahun-tahun setelahnya. Mungkin juga tak hanya di dunia akademik, tapi dunia yang lainnya. Entahlah…

WhatsApp Image 2016-09-24 at 4.44.11 AM

Saya sering mengatakan, bahwa musuh terbesar seorang akademisi adalah dirinya sendiri. Zona nyaman itu melenakan, seakan-akan tidak banyak pekerjaan, padahal bertumpuk dan bisa membunuhmu. Jika dalam dunia ekonomi ada middle-income trap, dalam dunia karir akademik, saya menyebutnya mediocre trap.

Dalam beberapa tulisan terdahulu, saya menyebut kampus yang tak terkelola dengan baik –apalagi hanya mempertontonkan keserakahan — akan menjadi kampus medioker bahkan kampus dinosaurus, pun untuk orang-orang di dalamnya.

Bagi dosen, jika hanya menjadi kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) dan sibuk dengan kegiatan lain mencari penghasilan tambahan di bisnis palugada (apa elo mau gw ada), maka sulit untuk bisa sampai ke puncak, paling hanya jadi medioker.

Apalagi posisi kejepit seperti saya ini di lektor kepala. Ancaman berpenghasilan lebih rendah daripada dosen dengan jabatan fungsional lektor terus membayangi. Jadi Guru Besar, diancam tunjangan dicabutpun worth-it. Ada tunjangan kehormatan. Kalau dicabut paling jadi Guru Besar tanpa (tunjangan) kehormatan.

Lha jadi Lektor kepala, diancam iya, tunjangan cuma beda 200rebu dengan Lektor. Malah secara keseluruhan lebih kecil karena PPN-nya 15% 🙂 Dunia kebalik kalau kata salah satu episode Doraemon-mah.

Dan tolong jangan dipahami sebatas urusan dompet, ini soal bagaimana situasi semacam ini hanya mengekalkan keterbelakangan pendidikan tinggi kita. Pernah dengar brain-drain kan?

Jadilah pilihannya hanya satu buat saya, riset dan publikasi, secepatnya jadi Guru Besar. Kalau perlu jadi Guru Besarnya di Malaysia, Brunei, Jepang, Swahili, Timbuktu,  atau Eropa saja, he he

Saya tidak sedang mengatakannya dengan gagah berani dan membusungkan dada, tapi sambil meneguk ludah, menghela nafas dan geleng2 kepala.

Ini bukan persoalan saya, tapi pendidikan tinggi negara ini.

Saya rasanya sudah maksimal menyampaikan (baca: memprotes) sampai ke Dirjen, kami bahkan berbalas pantun vlog. Tapi birokrasi memang selalu mempertontonkan keangkuhannya sendiri, merasa gagah justru kalau harus menindas protes. Soal logika urusan belakangan.

Semua orang hanya butuh panggung dan pamer angka statistik toh !

Jadi tahun depan saya akan fokus ke akademik dan diri sendiri dulu. Ada banyak yang harus diselesaikan Brader !