Arsip Bulanan: November 2017

Minggu-minggu Terakhir di Leiden

Tulisan ini mulai dibuat di tengah presentasi kawan-kawan yang hebat.

Dalam keseharian konyol, banyak becanda dan banyak belanja, ups. Tapi presentasinya hebat-hebat, memukau, fascinating !

Ini adalah akhir dari short course kami, menunjukkan kepada para pengajar bahwa kami belajar. Pak Wim, Prof. Susan, Prof.Henk, Dr. Ward dan Nancy hadir untuk bertanya dan memberikan masukan. Such as wonderful moment…

WhatsApp Image 2017-11-22 at 08.00.55

Judul tulisan ini memang minggu terakhir, tapi saya akan menceritakan kelas-kelas yang belum saya ceritakan dan ujungnya ya, malam perpisahan. Jadi sabar, ini akan jadi salah satu posting dengan foto terbanyak, itupun gak semua masuk, he he.

***

Pada tanggal enam November kami punya dua Dosen keren, Dr.David Kloss dan Dr. Yatun Sastramidjaja.

Dr David Kloss menyampaikan “Female islamic leadership in Southeast Asia and question of citizenship, a gender studies approach”. Kloss menyampaikan risetnya di Malaysia dan Aceh, serta observasinya di kegiatan KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia). Penyampaian Kloss amat menari, segera saja ia menjadi favorit para peserta short course dari kalangan Ibu-ibu 🙂

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.42

Kelas selanjutnya dari Bu Yatun, Ia menyampaikan kuliah: “Global youth and citizenship”. Terdapat diskusi panas tentang definisi pemuda, dan para peserta shortcourse harus menerima bahwa mereka tidak muda lagi, he he

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.42 (1)

Besoknya kami harus ke Vrije University (VU), dimana ada beberapa kelas yang akan kami dapatkan. Mbak Nancy dan Mbak Widya menjemput kami di Amsterdam Zuid. Makasih yaaa.

Trus kami jalan deh ke VU

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.42 (2)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.44

Nah di VU Prof. Thijl Sunier, menyampaikan kuliah:  “Islam in Europe in a comparative perspective”. Ia menyampaikan berbagai data dan persepektif tentang orang islam dan islam di Eropa.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.37.50

Setelah itu dilanjutkan dengan kelas dari Prof. Susan Legene: Lecture and skills lab on “Colonial histories, histories of imperialism, national historiographies: how we conceptualize and deal with its sources for citizenship problems” 

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.29.14

Kegiatan hari itu belum selesai, kami  menghadiri pengukuhan Prof. Wyne Modest yang akan menyampaikan orasi ilmiah berjudul: “Pressing Matter: Reckoning with Colonial Heritage”

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.43 (1)

Tak nampak karangan bunga besar-besar, atau kresek berisi bingkisan dan makanan kotak. Bahkan Professornya tetap dengan rambut gondrong reggae, he he. Tentu dilanjutkan dengan memberikan ucapan selamat dan makan-makan, walaupun tentu hanya minum jus dan snack dari snack bar.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.43 (2)

Ternyata belum selesai juga, beberapa kawan memutuskan melakukan observasi ke kawasan red-light. Observasi merupakan bagian penting untuk memahami kondisi sosial sebuah daerah (halah, alesan)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.43 (4)

Observasi diakhiri (atau diawali?) dengan makan ayam panas (hot chicken) yang enak sekali 🙂 Tenang saja, ayam beneran.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.54.40

***

Hari rabu ada dua kuliah lagi. Pertama dari Dr. Tom Hoogervorst, lecture on “Globalizing acces to manuscripts”. Tom menyampaikan bagaimana dunia digital berelasi dengan upayanya melestarikan naskah bagaimana naskah-naskah tersebut  dimanfaatkan. Sebelumnya saya sudah mendengar reputasi Tom sebagai social linguist terkemuka. Senang diajar beliau 🙂

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.21.03

Kuliah selanjutnya yang tidak kalah menarik adalah kuliah Dr. Guno Jones, lecture on “The instability of postcolonial citizenship”

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.21.03 (1)

Hari jumatnya kuliah di VU lagi, Dr. Ratna Saptari memberikan kuliah  “Gendering research on Southeast Asian citizenship”. Bu Ratna membongkar pemikiran kami tentang kultur dan identitas. Bu Laxmi saking semangatnya sampai menangis terharu ketika  menyampaikan pandangannya.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.43 (5)

Nah  setelah makan siang Prof. Ruard Ganzevoort, menyampaikan kuliah “Global interaction and citizenship, interrelegious studies approach. Ruard ini selain Professor, juga Dekan Fakultas Teologi dan Anggota Senat di Belanda.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.44 (1)

Hari sabtu, bersama Susan Legene, Nancy Jouwe, dan Pak Ron Habiboe,  berangkat ke Brussel visiting House of European history and Europalia. Di House of European History kami utamanya melihat perkembangan peradaban Eropa. Setiap lantai menunjukkan kurun tertentu. Berikut beberapa fotonya.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.44 (3)WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.44 (2)

Sementara di Europalia, kami menyaksikan dua pameran: Ancestor and Ritual and Power and Other Thing

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.44 (4)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.03.06 (1)WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.03.06 (2)WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.03.06

***

Nah 14 November 2017, kami kembali bertemu dengan Prof Susan Legene, on “Photography skills lab” di VU Amsterdam. Kami mendiskusikan hasil kunjungan lapangan ke Belgia dan juga mempelajari bagaimana menggunakan foto dalam riset.

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.45

Kelas dari Susan mengakhir kelas-kelas yang kami harus lalui.

***

Namun kegiatan masih harus diikuti dengan kunjungan ke Denhaag, menuju Pusat Pemerintahan Belanda (Binnenhof), Mahkamah Internasional dan Institut of Social Studies (ISS)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.47WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.46 (2)WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.47 (1)WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.46 (1)WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.45 (2)WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.45 (1)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.45 (3)

WhatsApp Image 2017-11-22 at 12.07.46

***

Nah, hari ini kami menghadapi final presentation. Berikut beberapa foto peserta yang presentasi. Mohon maaf jika belum semua masuk…

WhatsApp Image 2017-11-22 at 23.33.32

Fitri dari ISI Surakarta

 

WhatsApp Image 2017-11-22 at 23.52.11

Lilis, UNNES

 

 

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.18

Monika dari UNS

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.19

Netty dari UnLam

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.20

Iqbal dari UPI

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.21

Natalia dari Univ Kristen Satya Wacana

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.22

Angga dari UM

WhatsApp Image 2017-11-21 at 16.14.23

Adityo dari UNIB

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.16.18

Laxmi dari UnHalu

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.16.19 (2)

Abah dari Untirta

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.16.19 (3)

Rakhmat dari UNJ

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.16.19 (4)

Shofa dari Univ. HamzanWadi

WhatsApp Image 2017-11-22 at 15.01.11 (1)

Abdul Aziz dari UNMUH Makassar

 

WhatsApp Image 2017-11-22 at 22.55.58

Matrissya, Universitas Gunadarma

WhatsApp Image 2017-11-22 at 15.01.11

Juhansar, UTY

WhatsApp Image 2017-11-22 at 21.31.54

Dina, Univ. Dayanu Ihsanudin

 

WhatsApp Image 2017-11-22 at 13.16.19

Lely dari UnSyiah

Nah, sorenya diadakan penyerahan sertifikat gelar M.Sc (Master of Short Course, he he) oleh Prof. Susan dari VU. Saya memiliki kesan mendalam terhadap Prof. Susan ini, berkharisma, berilmu, tapi nampak sederhana. Ia paginya mengatakan bahwa ia naik sepeda dari Leiden Centraal ke kampus. Oh ya kami punya kesamaan, sama-sama punya tas kanken, he he

whatsapp-image-2017-11-22-at-20-54-24-e1511388603725.jpeg

WhatsApp Image 2017-11-22 at 16.21.24

WhatsApp Image 2017-11-22 at 16.21.40WhatsApp Image 2017-11-22 at 16.21.25

Malamnya kami makan-makan di the Sumatera House. Ada penyerahan bingkisan untuk para Tutor. Kebetulan yang hadir Pak Ron, Pak Wim dan Mbak Nancy. Dilanjutkan tentu saja foto-foto

WhatsApp Image 2017-11-22 at 20.53.51WhatsApp Image 2017-11-22 at 20.53.27WhatsApp Image 2017-11-22 at 20.51.50WhatsApp Image 2017-11-22 at 20.50.32

Waaaaaah selesai sudah. Sampai ketemu di Tanah air. Saya mau tidur dulu, badan minta haknya untuk diperhatikan.

Iklan

BAHAN BACAAN IV PIP: POLITIK LUAR NEGERI

Ini masuk minggu terakhir saya di Leiden. Hari ini saya akan menyampaikan presentasi final di hadapan para pengajar. Deg-degan juga ya…

WhatsApp Image 2017-11-22 at 08.00.55
Btw, di bawah ini adalah bahan bacaan untuk pertemuan kita di minggu ini, tulisan dari Prof. Yanyan, UNPAD.
Selebihnya, kita akan bertemu di kelas minggu depan..
Screenshot 2017-11-22 07.51.48

Bahannya bisa didownload di sini: politik_luar_negeri

Absen seperti biasa ya. Bedanya, tampikan beberapa kalimat, apa yg anda pelajari dari tulisan ini di kolom komentar.

Salam

Tugas Marketing Politik (IV)

Akhirnya, sampailah ke penghujung minggu saya di Leiden. Artinya minggu depan kita akan bertemu lagi, di kelas 🙂

WhatsApp Image 2017-10-28 at 12.02.40

Nah Obama, adalah salah satu ikon dalam dunia marekting politik. Sebagai produk politik, Obama mengubah pola dalam marketing politik.

Nah tugas minggu ini adalah menonton video ini, dan akan kita diskusikan minggu depan.
Salam dari Perpustakaan Leiden 🙂

Seperti biasa, absen ya.

Oh ya, berikan komentar substantif ttg isi video tsb sambil absen, saya imgin memastikan anda menonton, gak sekedar absen 😉

Bahan #3 PIP, Demokrasi dan Demokratisasi

Para mahasiswa yang baik, berikut ini merupakan pengganti kehadiran saya. Silahkan dibaca bahan berikut: Demokrasi dan Demokratisasi

Screenshot 2017-11-13 19.35.45Tugasnya adalah membuat ringkasan dan memberikan contoh satu aspek saja dari bahan bacaan ini. Maksimal dua halaman ya, tapi dikumpulannya di ketua kelas saja karena email saya sudah kewalahan menampung banyak sekali tugas dari mahasiswa.

Jangan lupa absen.

Salam,

Bahan #3 Political Marketing

Dear teman2 mahasiswa Marketing Politik.

Terima kasih blognya. Saya sedang berusaha mengunjungi semua dan memberi catatan di kolom komentar. Belum semua terpantau ini,

Maaf, karena kesibukan agak tersendat. Berikut terlampir bacaan sebagai pengganti kehadiran di minggu ke-3:

Screenshot 2017-11-13 19.25.46Bahannya silahkan dibaca di sini: Obama and the power of Social Media and Technology. 

Dari bacaan tersebut buat catatan satu halaman dalam bahasa Indonesia, apa yang anda pelajari. Kumpulkan di ketua kelas saja ya, akan saya periksa ketika saya pulang.

Btw seperti biasa, jangan lupa absen.

Salam dari Leiden

 

Bunda Fitri…

Saya jarang mengagumi orang lain.  Tapi sosok kali ini luar biasa.

Tulisan ini saya posting ulang (dengan beberapa editan) setelah kemarin berdiskusi dengan seorang sahabat dan nama beliau disebut. Saya tersenyum, teringat bahwa saya pernah menulis tulisan ini. Kebetulan momentumnya hari Pahlawan, di Belanda masih pk. 20.13, 10 November 🙂

Ibu Fitri, Bunda Fitri atau Holly Chaniago, itulah beberapa nickname yang digunakan beliau. Saya sendiri cuma terhubung di dunia maya, di milis evaluasi pendidikan dan Group Dosen Indonesia.

Sepengakuan beliau sendiri, Bu Fitri bukanlah dosen. ia bekerja di sebuah perusahaan dagang, membiayai keluarga dan juga dua orang mama-nya, mama kandung dan mama mertua. Berikut cerita beliau tentang masuknya beliau membantu dunia pendidikan tinggi:

Maret 2009 saya buta total tehadap dunia pendidikan tinggi (maklum dari 1984 setelah selesai kuliah saya di dunia bisnis terus), mendengar nama Kopertis dan Dikti aja baru saat itu. Anak bungsu kami, yang lahir dengan kondisi kecerdasan jauh di bawah rata-rata (menulis angka 2 di usia 5 tahun aja butuh waktu 2 tahun), dengan segala usaha yang diRidho Allah dengan tangan ini saya bimbing dan arahkan dia sampai selesai Bachelor of Arts di Monash University, Clayton, Melbourne, lulus dengan nilai memuaskan. Dia sudah tak betah lagi di Melben ingin lanjut S2 di PT kita. Terbentur karena ijazah disetarakan dengan D3. Dari Feb 2009 s/d April 2009 saya berjuang melawan SK penyetaraan ini, saya bisa buktikan SKS yang dia peroleh sudah di atas 144, (Canadian Foundation di KL 1 tahun + Monash college Melben 1 tahun + di Monash U 2 1/2 tahun, tanpa pernah ada nilai fail, total dana dari hasil keringat saya buat studi lanjut dia terpakai 1, 3 miliar rupiah dari KL sampai selesai di Melben). 

Saat itu banyak orang termasuk Koordinator Kopertis di wilayah kami menasihati saya batalkan niat melawan keputusan Dikti, kata mereka anak Koordinator koperits aja ada yang lulusan Malaysia ijazah disetarankan dengan D3 tidak berhasil setelah ajukan banding, apalagi saya yang tidak ada kenalan sama sekali di Dikti. Suami dan Bungsu juga sudah pasrah tak yakin usaha saya akan berhasil apalagi saya ini saat itu gaptek dan buta peraturan perundang-undangan. 

Saya self-studi cara pergunakan laptop dan email, saya lahap semua peraturan yang bisa saya temukan yang berkaitan dengan pendidikan tinggi, saya telusuri web mana yang memungkinkan saya kirim email ke Dikti. Selama 2 bulan saya kirim sekitar 300 email dan 20 surat resmi melalui jasa post kilat khusus dan jasa titipan kilat ke para pejabat terkait. Alhamdulillah usahaku berhasil, tanpa pernah injak kaki ini ke gedung Dikti, Bu Illah Sailah yang baik (saat itu beliau baru 2 bulan diangkat jadi Direktur Akademik Ditjen Dikti) pelajari kasus anak, besama team penilai terkait mereka banding kembali hasil penyetaran sebelumnya, Alhamdulillah hasil penyetaraan bungsu direvisi menjadi setara dengan S1.

(saya kutip dari comment beliau di fb dalam thread soal kasus dipaksa mundurnya seorang CPNS dosen di salah satu PTN di surabaya)

hero-image-row

Jika di dunia pendidikan tinggi ada ensiklopedia berjalan Bunda Fitri-lah orangnya. Ia akan menjelaskan dengan panjang-lebar dan cermat berbagai pertanyaan seputar dunia pendidikan tinggi. Buah karyanya bisa dinikmati di http://www.kopertis12.or.id, website yang menyediakan data paling lengkap seputar dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Jauh lebih lengkap daripada website resmi berdana besar milik pemerintah.

Tak hanya itu, beliau juga tak segan membantu dosen yang memiliki persoalan. Sekarang Bunda Fitri sedang membantu seorang dosen yang diminta mengundurkan diri dari proses seleksi CPNS di sebuah PTN ternama di Surabaya. Melalui jaringannya Bunda Fitri membantu calon dosen tersebut untuk maju terus pantang mundur. Ia juga berhasil membantu beberapa dosen yang NIDN-nya terganti dengan NUPN. Secara pribadi, Ibu Fitri pernah membantu saya menyebarluaskan informasi tentang seorang kawan, yang tempo hari membutuhkan biaya besar untuk pengobatan anaknya.

Jika, dunia pendidikan tinggi memerlukan contoh baik, Pahlawan dunia pendidikan, Ibu Fitri-lah orangnya. Bukan para pengumpul gelar, pengincar jabatan dan pengambil kebijakan pendidikan yang bersoal dengan kapasitas dan integritas.

Jika anda tanya apakah Saya kenal Ibu Fitri? saya hanya kenal di dunia maya, bertemu muka saja tidak pernah, foto tak pernah lihat dan nama asli beliau saja tidak tahu. Tapi saya adalah salah satu orang yang terinspirasi sekaligus menikmati kerja keras beliau, kepahlawanan beliau.

Bukankah esensi kepahlawanan adalah bekerja dalam sepi?

Note: Mungkin Ibu Fitri tak setuju dengan ditulisnya catatan ini, tapi tulisan ini dibuat untuk jadi penyemangat ditengah keputus-asaan terhadap buruknya pengelolaan pendidikan tingi di Indonesia dan langka-nya keteladanan.

~@ abdul hamid Untirta

Mencicil

Bukan mencicil hutang ya, ini mencicil pekerjaan.

Dunia digital zaman now membuat arus pekerjaan tetap memaksa mengalir via WA dan Email walaupun saya sedang berada di benua biru. Koreksian skripsi, tesis, dan manuskrip jurnal yang harus direview tetap masuk. Termasuk tetap menyampaikan perkuliahan secara online kepada kelas Pengantar Ilmu Politik dan Pemasaran Politik yang saya ampu.

Sementara, short-course ini berjalan dengan amat sangat serius. Kami dalam seminggu bisa memiliki sampai enam sesi di Leiden atau Amsterdam ditambah kegiatan-kegiatan lain seperti trip ke museum (even di hari sabtu), belajar mandiri, membuat proposal riset, dan mengumpulkan tugas. Ya, mengumpulkan review artikel mingguan dengan standar tinggi dari Prof. Bambang, pembimbing kami yang baik.

Sedikit jalan-jalan dan makan bekal bersama tentu saja sebagai pelipur lara, karena ada saja yang baik hati memasak makanan enak.

WhatsApp Image 2017-11-10 at 06.54.44

WhatsApp Image 2017-11-10 at 07.04.52

Karena itu saya mencicil pekerjaan-pekerjaan dari tanah air. Mohon maaf untuk yang belum terespon dengan baik. Sabar ya sayang. Pekerjaan dari Indonesia memang sebagian besar saya kerjakan satu jam atau dua jam sebelum dan sesudah subuh, sambil kedinginan tentu saja.

Dan sambil menunggu subuh tadi, saya sudah mereview dan dengan berat hati menolak dua artikel untuk diterbitkan di sebuah jurnal di mana saya jadi reviewer. Sebelum saya membuat postingan ini.

Sekian

Kelas-kelas

Sambil menunggu mesin cuci mengerjakan tugasnya catatan ini saya buat. Diselingi lagu “Akad” dari payung teduh, he he. Walaupun sesungguhnya lagu “Resah” lebih pas. Ups sudah sudah 🙂 Siang ini saya hendak ke Amsterdam, menemui Hana dan Bowo, menyampaikan beberapa hal yang di bawa dari tanah air. Mungkin tak lama karena minggu ini beberapa sesi akan dilaksanakan di VU.

***

Sudah kurang lebih sepuluh hari ini kami belajar dengan para scholars yang amat terpelajar. Kesempatan mengikuti shortcourse ini tentu kesempatan yang amat baik, tidak hanya untuk mendapatkan ilmu baru, tapi juga persepktif dan trend baru di dunia ilmu pengetahuan. Bagi dosen lutju seperti saya, hal ini amat berharga dan saya merasa amat beruntung. Apalagi bisa belajar juga dari para peserta lain yang hebat-hebat, dari 20 kampus di Indonesia.

WhatsApp Image 2017-10-30 at 20.14.37

Kelas pertama adalah dengan Pak Henk. Kalau anda belajar ilmu sosial dan ilmu politik pasti setidaknya pernah mengenal namanya, Henk Schulte Nordholt. Ia seorang Indonesianis dan banyak menulis tentang politik di Indonesia. Sekarang Henk menjabat Direktur Riset di KITLV. Nah Henk menyambut kami dan menyampaikan kuliah tentang memformulasikan pertanyaan penelitian. Henk menyampaikan untuk menghindari pertanyaan deskriptif menggunakan kata tanya, “How”, tapi lebih baik menggunakan what atau why?

WhatsApp Image 2017-10-28 at 22.06.07 (3)

Kelas selanjutnya adalah kelasnya Prof. Bambang dan Nancy Joew. Kedua orang ini merupakan orang-tua kami selama di Belanda, mengatur semua aktivitas akademik. Mereka menyampaikan jadwal, rules, dan juga gambar besar kegiatan kami. Termasuk menekankan kewajiban: Review artikel yang dikumpulkan setiap senin, he he

WhatsApp Image 2017-10-28 at 22.06.07 (2)

Nah kelas ketiga adalah kelas Dr. Ward Berenschot, ia menyampaikan materi  “Current issues on the citizenship in Indonesia”. Catatan penting dari kuliah ini bagi saya adalah bahwa citizenship bisa menjadi framework yang digunakan untuk cukup banyak riset. Hmm.

WhatsApp Image 2017-11-05 at 09.49.42

Nah selanjutnya adalah klinik publikasi ilmiah oleh Dr. Freek Colombijn: “How to publish peer reviewed articles and academic publishing”. Karena Freek adalah editor ijdragen tot de Taal-, Land en Volkenkunde, an interdisciplinary journal on Southeast Asia academic journal, maka apa yang disampaikannya amat otoritatif. Sebagai catatan jurnal yang digawangi Freek ini mulai terbit pada tahun 1853. Wow…

WhatsApp Image 2017-11-05 at 09.51.34

Kelas besoknya dimulai dengan  kelasnya Dr. Bart Barendregt, lecture on “Popular culture, global interaction and citizenship issues in Southeast Asia, topics and methodologies”. Bart ini adalah ahli pop culture dan mantan supervisornya Buni Yani ;). Ia menyampaikan kuliahnya dengan bersemangat, mengawali dengan cerita soal Rhoma Irama, he he

WhatsApp Image 2017-11-05 at 09.49.43

Nah kelas selanjutnya disajikan oleh Prof. Fridus Steijlen. Ia menyampaikan materi: “Audio, audiovisual, oral history, and social media; problem of methodologies in social sciences and humanities research”

WhatsApp Image 2017-11-05 at 09.57.56

Sebagai antropolog, Fridus menyampaikan bagaimana riset yang dilakukannya tentang komunitas Ambon di Belanda, juga tentang proyek audio -visual yang sedang dikerjakannya di beberapa lokasi di Indonesia.

Hari Kamis 2 November, hari belajar dari persepktif sejarah. Dimulai dengan Dr. Marieke Bloembergen yang menyampaikan “Imagining India in Asia in global perspective, a cultural citizenship issue”.


Dalam paparannya, Marieke menyampaikan relasi besar India dan Indonesia di masa lalu dalam konteks the Greater India. Borobudur menjadi contoh yang amat menarik. Daikhiri dengan risetnya soal Suyono, tokoh penghayat kepercayaan yang dipengaruhi ajaran dari India.

Nah kelas terakhir di minggu lalu adalah kelas Nancy Jouwe. Ia menyampaikan kuliah berjudul  “Mapping slavery, global interaction and citizenship”. Menarik bahwa peradaban Eropa khususnya Belanda tak bisa dilepaskan dari sejarah perbudakan. Terdapat setidaknya tiga monumen memperingati hal tersebut.

WhatsApp Image 2017-11-05 at 09.49.43 (2).jpeg

Nah, di atas adalah kegiatan di kelas. Selain kelas kami punya “research day” di mana kami menghabiskan waktu di perpustakaan untuk mengobrol belajar mandiri. Kesempatan menulis, mencari literatur dan mempelajari cara kerja perpustakaan yang, wah keren banget.

Sampai mikir. Dari sekian banyak pejabat atau pengambil keputusan yang sudah pernah mampir ke Leiden, adakah yang pernah serius membuat perpustakaan serius? Ah sudahlah.

#2 Tugas Marketing Politik: Digital Marketing and Personal Branding

Selamat pagi teman-teman, pagi ini 8 derajat celcius di Wassenaar. Oh ya, saya tinggal sekitar 20 menit naik Bus 43 ke Kampus Univesitas Leiden. Nah Universitas Leiden adalah kampus terbaik di dunia untuk belajar tentang Asia, khususnya Asia Tenggara. Banyak naskah tersimpan, yang walaupun tentang Indonesia, tak ada di Indonesia. Manurut Marie, petugas perpustakaan, panjang koleksi tentang Indonesia sepanjang 12 kilometer.

Saya doakan anda semua bisa sampai ke sini ya 🙂

Salah satu materi kita adalah political digital marketing. Bagaimana menggunakan internet untuk melakukan pemasaran politik. Dalam sesi ini, digital marketing akan tersambung kepada materi kemarin, (personal) branding. Jadi bagaimana personal branding dibentuk melalui digital marketing. Kira-kira begitu.

Ada beberapa bahan yang bisa di baca:

  1. Is there Personal Branding in Politics.
  2. The complete guide to building personal branding.
  3. 11 Digital Marketing tips.

Nah saya akan memberikan tugas yang menantang, yaitu membuat personal blog anda sendiri dan membangun personal branding anda sendiri. Kenapa tentang anda? katakanlah ini sebagai portofolio sebelum anda menjadi konsultan untuk orang lain atau organisasi. Dunia digital adalah masa depan.

Berikut langkah-langkahnya:

  1. Buat Blog baru, boleh di blogspot atau wordpress, ambil yang gratisan dengan memilih nama yang oke, diakhiri .blogspot.com atau .wordpress.com. Pilihan nama harus betul-betul menampilkan brand apa yang mau anda bangun. Anda bisa membangun brand yang serius, lucu, konyol, aktivis, religius, dsb. Yang terpenting adalah: otentik.
  2. Buat satu page/posting yang berisi profil anda, sebaik mungkin. Isinya menggambarkan profil diri anda. Boleh keseluruhan aspek, maupun satu aspek tertentu. Nah perhatikan, ketika anda menulis profil, pikirkan kira-kira siapa yang baca atau anda harapkan baca (segmenting, targetting) dan tentukan profil seperti apa yang anda akan buat (positioning). Gunakan foto terbaik yang menggambarkan diri anda. Terbaik bukan berarti terganteng atau tercantik, tapi relevan dengan brand yang dibangun.
  3. Pilih keyword yang sesuai. Keyword adalah salah satu yang terpenting untuk membangun brand. Penguasaan keyword akan membuat anda eksis di dunia maya, yang ditunjukkan dengan hadirnya blog anda di halaman nomor satu google. Coba deh cari dosen ganteng di mbah google, maka foto saya (yang posenya nggak ganteng) dan blog saya (www.abdul-hamid.com) akan nangkring di halaman satu pencarian google. Tentu saya muncul di google bukan karena semata ganteng, tapi karena menggunakan keyword dengan tepat. Apakah keyword “dosen mesum” juga bisa digunakan? bisa !
  4. Setelah langkah sampai nomor 3 selesai, silahkan sambungkan blog anda dengan sosial media yang anda miliki, setidaknya facebook. Seharusnya bisa otomatis di setting. Nah kalau tidak bisa , copy url dan paste di postingan facebook.
  5. Nah setelah selesai, silahkan posting di kolom komentar mulai minggu depan (Tgl. 7 November): nama, kelas, nama blog, dan keywords yang digunakan. Misalnya:

John Rambo (VIA), http://www.rambojagomasak.blogspot.com. Keywords: Mahasiswa Jago Masak, Resep Enak Ala Mahasiswa, Masakan Mahasiswa.

Oh ya, saya mewajibkan anda memfollow blog ini, lihat sebelah kanan, ada ikuti http://www.abdul-hamid.com, dan juga membaca https://abdul-hamid.com/profil-abdul-hamid/ sebagai contoh. Anda bisa melihat bahwa audiens utama blog ini adalah mereka yang ada di dunia pendidikan tinggi (dosen, mahasiswa) dan pengunjung blog ini sekitar 1000 orang perhari. Maka profil yang saya buat lebih menunjukkan aspek akademik, bukan aspek lain misalnya tentang hobi saya memelihara kucing atau memasak. Lantas kenapa saya memilih nama Abah Hamid? karena Abdul Hamid nama pasaran, dan posisi Sultan Abdul Hamid dari Ottoman di dunia maya sudah terlalu kuat.

Silahkan juga membuka-buka blog/personal website politisi, baik luar negeri (Obama, Trump, Macron) atau Indonesia.

Tentang panduan membuat blog, rasanya banyak bertebaran di internet ya.

Baik, saya tunggu pelaksanaan tugas ini. Setelah membaca postingan ini, silahkan absen di kolom komentar seperti biasa. Pengumpulan tugas blog adalah absen untuk minggu depan.

Catatan penting: Jangan Seadanya ya, buat sebaik mungkin dengan kemampuan sendiri. Dunia digital adalah masa depan, anda harus mau belajar dan beradaptasi.

Sebagai reward, akan ada 3 souvenir dari Belanda untuk 3 blog terbaik 🙂

Kalau ada pertanyaan juga silahkan di kolom komentar.

Salam dari Belanda 🙂

WhatsApp Image 2017-10-31 at 19.21.52

 

Bahan PIP#2 Komunikasi Politik

Dear Mahasiswa/i PIP yang bageur, cageur dan pinteur

Hari ini jam 5.43, sebentar lagi waktu subuh di Wassenaar.

Nah berikut ini materi kuliah kita, Komunikasi Politik.

 
Selamat belajar ya 🙂
Oh ya, silahkan baca-baca juga postingan lain yang ada di blog ini, insyaAllah sebagian menginspirasi teman-teman untuk terbang tinggi.
Oh ya untuk memudahkan mendapatkan update materi, silahkan klik “ikuti abdul-hamid.com” di sebelah kanan. Jadi akan ada pemberitahuan otomatis jika ada materi baru.
Btw jangan lupa absen di kolom komentar.
WhatsApp Image 2017-10-31 at 19.21.52 (2)