Kebohongan (di Dunia Akademik) Untuk Apa?

Saya baru membaca surat permintaan maaf seorang mahasiswa doktor asal Indonesia di TU Delft Belanda. Isinya permohonan maaf atas aksi ngibul-ngibul yang dilakukannya. Yang menakjubkan, ngibulnya luar biasa. Saking hebatnya ngibul, ia diundang mata najwa, bertemu BJ Habibie (sebagai ahli Spacecraft Research and Development gadungan) dan bahkan ikut program Visiting World Class Professor karena mengaku assistant professor di bidang kedirgantaraan. (Suratnya klik di sini)

Saya membaca satu berita bohongnya ketika bertemu Habibie dan klaim-klaim karya akademiknya, nyesek membacanya

Screenshot 2017-10-08 10.25.19

Kasus mahasiswa mengaku sudah doktor ini bukan yang pertama. Saya pernah ikut cawe-cawe menyelesaikan kasus serupa dengan kadar yang lebih rendah sewaktu sekolah di Jepun. Alhamdulillah bisa selesai atas kebaikan hati pembimbingnya, tidak sampai dibawa ke mahkamah etik atau menggugurkan posisinya sebagai mahasiswa tingkat akhir yang hampir lulus.

Sampai saat ini saya betul-betul belum habis pikir dengan orang-orang yang berusaha tampil lebih hebat dari wujud aslinya. Jangan-jangan ini adalah refleksi dari ketidakpercayaan diri. Atau kecanduan ketenaran?

Padahal orang dengan bergelar doktor seharusnya paham, belajar sampai jenjang doktoral membuat kita sebetulnya semakin fokus ke bidang yang kita dalami dengan riset, dan semakin tidak tahu atau tidak sok tahu bidang-bidang lain. Jadi kalau sampai mengaku doktor padahal belum di bidang yang bukan keahliannya pasti ada yang salah, ada yang konslet.

Halloween-Dewasa-Badut-Kostum-badut-sirkus-berpakaian-sesuai-dengan-rainbow-wig-dan-hidung-merah-tinggi-165
Sumber Foto: https://ae01.alicdn.com/kf/HTB18QzmNpXXXXXIapXXq6xXFXXXf/Halloween-Dewasa-Badut-Kostum-badut-sirkus-berpakaian-sesuai-dengan-rainbow-wig-dan-hidung-merah-tinggi-165.jpg

Namun kadang-kadang dunia panggung memang candu bagi sebagian akademisi. Dianggap keren, masuk berita, diwawancarai, atau mencantumkan embel-embel pehade di belakang namanya.

Padahal saya haqul yakin, memakai gelar pehade tidak membuat kegantengan seseorang bertambah beberapa derajat 🙂

***

Saya jadi ingat nasihat Okamoto Sensei dalam kegiatan pembekalan Field School di Ujung Kulon beberapa tahun lalu:

“Tujuan menjadi akademisi bukanlah mengejar keterkenalan, tapi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala kita. Tanpa curiousity, seseorang tak mungkin cocok berada di dunia akademik”

Sekali lagi, jangan-jangan bagi sebagian orang, hidup di dunia akademik bukanlah upaya mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan atau memberikan kontribusi buat masyarakat, tapi ingin jadi bintang panggung.

Kalau begitu mah jadi badut sirkus saja.

Salam

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s