Arsip Bulanan: Oktober 2017

Sungai di Kota Beradab

Saya alhamdulillah berkesempatan mengunjungi beberapa kota besar di berbagai belahan dunia. Salah satu yang selalu saya perhatikan adalah sungai. Sungai menjadi  indikator penting peradaban sebuah kota.

Dalam tulisan ini saya mau menunjukkan sungai di dua kota. Kyoto, karena pernah lama di sana dan suka nongkie ngopie di sungainya. Serta beberapa sungai di Leiden yang hampir setiap hari dilewati. (Seorang kawan menyampaikan bahwa lebih tepat untuk di Belanda menyebutnya kanal, tapi fokus postingan ini lebih kepada bagaimana sungai dan kanal itu bersih dan cakep untuk difoto)

Kamogawa di Kyoto

cropped-cropped-kamo-momiji2.jpg

Gambar di atas adalah sungai Kamo di musim semi, difoto dan dipublish tanpa editan aplikasi. Keren ya.

2012-11-03 15.37.31

Maen Aer di Kali

IMG_0072

Nah karena bersih bisa dipake berkegiatan. Menariknya di Kamogawa kita akan sulit menemukan tempat sampah. Lha tanpa tempat sampah tapi bisa bersih? Yep, sampah ya di bawa pulang ke rumah 🙂

Di bawah ini semua sungai di Leiden kecuali yang pertama, rasanya di Denhaag.

WhatsApp Image 2017-10-31 at 05.24.12

WhatsApp Image 2017-10-31 at 05.24.13 (1)

Sungai di depan Perpustakaan Pusat Leiden

WhatsApp Image 2017-10-31 at 05.24.13 (2)WhatsApp Image 2017-10-31 at 05.24.13 (3)

WhatsApp Image 2017-10-31 at 05.24.13

Foto keren ini juga dibuat tanpa aplikasi

fotor_150937847791927417482847.jpg

Abaikan foto model ganteng gak jelas ini, sungainya bersih dan jadi moda transportasi.

Nah sementara itu yang lagi viral di tanah air…

Screenshot 2017-10-31 05.30.02

Viral di kampung saya…

Screenshot 2017-10-31 05.34.41

Iklan

Memundurkan Waktu

Kemarin, tanggal 29 Oktober, ketika terbangun saya mengambil jam dinding dan memundurkan jam, satu jam ke belakang.

WhatsApp Image 2017-10-30 at 05.39.16

Iseng? tentu saja bukan.

Stress karena banyak tugas? yaaa, bukan juga

Inilah yang disebut dengan Daylight saving time.

Jadi menandai masuk musim dingin, jam memang harus dimundurkan satu jam. Sebelumnya, di bulan maret, jam dimajukan satu jam, menandai masuk musim panas.

Selebihnya bisa dibaca di tautan ini ya.

Saya mau kembali mengerjakan tugas :I

Oh ya, kalau di Indonesia, usul saya, jam dimajukan menjelang bulan ramadhan saja, setuju kan? 🙂

Masih di Leiden

Di luar lamat-lamat terdengar anak kecil berlarian sambil cekikikan. Denis terlihat bermain dengan anak-anak yang lebih kecil. Mereka sedang melakukan trick and treating, merayakan halloween dengan berkeliling memakai kostum meminta kue dan cokelat ke rumah-rumah tetangga. Ah sayangnya kurang seram, tak ada yang pake kostum tuyul, pocong atau kuntilanak.

***

Hari ini kami pulang agak sore dari Leiden, tepatnya pasar sabtu (saturday market) di Leiden, yang kabarnya terbesar di Belanda. Ya sebelum ke pasar, kami melakukan kunjungan ke Rijkmuseum van Oudheden dekat kampus, ditemani Pak Ron Habiboe.

WhatsApp Image 2017-10-28 at 22.06.06

Angin bertiup kencang membawa udara dingin. Untunglah bawa antangin. Sayang bukan endorser berbayar, he he

WhatsApp Image 2017-10-28 at 12.02.40

Di museum ada spesial exhibition tentang Nineveh, yaitu kerajaan besar masa lampau yang berada di sekitar Suriah sekarang. Berbagai artefak terkumpul dan bisa disaksikan. Serius banget ya mereka.

WhatsApp Image 2017-10-28 at 11.47.16

Yang menarik adalah kisah Bangsa Nineveh termuat dalam Injil dan Al Qur`an sebagai kaum Jonah atau Nabi Yunus. Termasuk kisah dimakan ikan paus, digambarkan dalam lukisan sebuah lukisan.

***

Nah setelah makan siang dengan bekal dari rumah masing-masing, sebagian melanjutkan ke pasar sabtu tadi. Bermacam-macam hal dijual: pakaian, makanan, minuman, buah-buahan, sayuran, dan termasuk keju. Keju-nya besar-besar sebesar ban bemo di Jakarta.

WhatsApp Image 2017-10-28 at 10.34.00

WhatsApp Image 2017-10-28 at 22.29.55 (1)WhatsApp Image 2017-10-28 at 22.29.55

Sempat mencoba ikan hearing yang katanya jadi favorit ditraktir Bu Lely. Mau borong keju sih, tapi ntar aja deh pas mau pulang.

***

Sebetulnya hari sibuk ya kemarin (27/10), dimulai dari pelatihan penggunaan fasilitas di perpustakaan Universitas Leiden, membuat kartu anggota perpustakaan, dapet kuliah dari Prof Henk Schulte Nordholt, dan sesi persiapan program dari Prof. Bambang dan Mbak Nancy.

Dan sepertinya agenda di sini bakal padet sekaleh sodara-sodara. Ada perkuliahan yang lumayan banyak ditambah tugas. Dan karena itulah kami ada di sini. Jadi kalau foto-foto nampak bahagia, ya itulah upaya pengalihan isu saja. Percayalah 🙂

WhatsApp Image 2017-10-28 at 14.19.29

Bahan Marketing Politik #1

Hello mahasiswa pemasaran politik, berikut adalah materi pertama pengganti perkuliahan selama saya melaksanakan short-course di Belanda. Saya akan melaksanakan short-course sampai akhir November. Jadi akan ada empat bahan yang saya sampaikan.
Selain membaca bahan, silahkan juga melakukan absen. Caranya mudah, isi kolom komentar dengan nama lengkap dan kelas.
Misalnya: Ben Stiller (IP 6C)
Nah saya mendoakan para mahasiswa juga semoga bisa menyusul saya ke Belanda untuk studi master kelak nanti.
WhatsApp Image 2017-10-28 at 14.19.29
Persiapkan diri dengan menulis skripsi secara serius dalam minat yang spesifik dan dalam serta tingkatkan kualitas bahasa Inggris.
Oke,di bawah ini bahannya:

Bahan di atas bisa didownload di sini.The political brand: A consumer perspective

Kali ini cukup di baca saja, semoga untuk minggu depan saya bisa membuat materi audio-visual.

Sampai jumpa…

Bahan #1 Partisipasi Politik

Para mahasiswa dan mahasiswi yang baik, berikut bahan pertama pengganti kehadiran saya untuk kuliah PIP. Untuk mengabsen, silahkan tulis nama di kolom komentar beserta kelas dan Prodi.
Misal: Ahmad Albar (IP 1A)
Nama lengkap ya karena akan dicocokkan dengan absen. Wajib ini, untuk semua mahasiswa

Nah, saya sebenarnya berniat membuat content video, tapi belum sempat karena padatnya jadwal shortcourse. Kemarin saya dapat kelas dari Henk Schulte Nordholt, salah satu Indonesianis terkemuka.
Untuk pertemuan pertama tugasnya baca dulu saja, khususnya bagian partisipasi politik. Sesuai tema kita. Untuk bahan di atas bisa didownload juga di
partisipasi politik
Partisipasi Politik, diambil dari Buku Studi Ilmu Politik, Sebuah Pengantar oleh Abdul Hamid (Segera terbit)

Salam dari negara kincir bambu, eh kincir angin.
WhatsApp Image 2017-10-26 at 13.43.20

Tiba di Belanda: Jet-lag

Malam ini saya terbangun pukul 3 dan tak bisa tidur lagi. Berarti di Indonesia sekitar pukul 8 pagi. Ini berarti tubuh biologis saya masih menganut jam Indonesia, bukan jam belanda. Ini yang disebut jet-lag.

Kebingungan akan waktu memang terjadi ketika perjalanan panjang. Di atas pesawat menuju Doha, ketika waktu di jam tangan menunjukkan jam 5, otomatis saya melaksanakan sholat subuh. Namun ketika sampai Doha untuk transit, ternyata jam setempat menunjukkan pukul 6. Jadilah saya sholat subuh lagi di Mushola. Jadi sholat subuh dua kali. Malaikat pasti bingung mencatat pahala saya, he he. Tapi sarapan juga dua kali, sebelum mendarat dapat menu breakfast, begitu pesawat naik lagi menuju Amsterdam, dapat menu breakfast lagi.

Jet-lag dan pantat tepos karena terlalu lama duduk membuat berbaring terasa nikmat. Sore jam 5 perut sudah lapar, maklum di Indonesia sekitar ja 10 malam. Jadilah makan dan tidur. Beberapa kawan mengabari  kalau sudah lebih dulu jalan-jalan ke pusat kota.

***

Alhamdulillah, saya terseleksi untuk mengikuti short-course Social Humanity Dikti. Ada 20 orang yang terpilih dari 159 pelamar dari seluruh Indonesia. Seleksinya lumayan berat. Pertama desk evaluation, dari 159 menjadi 40 saja. Nah dari 40 kemudian diwawancarai sampai terpilih 20 orang saja. 20 orang ini mewakili 20 Universitas di seluruh Indonesia. Karena bidang sosial-humaniora amat luas, maka peserta berasal dari berbagai bidang ilmu, ada sosiologi, ilmu politik, psikologi, sastra inggris,antropologi,  administrasi publik dan komunikasi.

WhatsApp Image 2017-10-25 at 09.42.49

Sebagai Dosen Zaman Now, berfoto sebelum berangkat dengan spanduk, he he

 

Saya mau cerita sedikit tentang seleksi ya. Peserta bisa dibagi ke dalam dua kategori, ada yang sudah doktor dan ada yang belum doktor. Untuk yang belum doktor (ini mayoritas), tujuan kegiatan ini adalah untuk mendapatkan kesempatan lebih luas untuk studi lanjut. Jadi teman2 dalam kategori ini dalam aplikasi maupun wawancara memang arahnya akan ke sana. Sementara untuk yang sudah doktor, arahnya untuk kolaborasi riset dan (utamanya) publikasi.

Kelihatannya, aspek tujuan ini menjadi yang terpenting.

Syarat lain ya administratif: izin rektor, kemampuan bahasa, proposal riset, surat izin rektor, action plan, CV, dsb.

Proses seleksi yang lengkap bisa di klik di sini, blognya Kang Iqbal, dosen UPI anu kasep, teman sekamar saya 🙂

WhatsApp Image 2017-10-25 at 09.54.53

Berpose ala ala terdampar di Bandara Hamad, Doha

 

***

Nah kami-kami yang terpilih (cie cie) kemudian akan menetap sebulan di Belanda, dengan kegiatan utama belajar soal citizenship dan globalization, di bawah asuhan Prof. Bambang Purwanto dengan para tutor seperti Henk Schulte Nordholt, Ward Berenschot, dan lain-lain. Wah lumayan banget ya, menyegarkan otak yang selama beberapa waktu terakhir banyak disibukkan dengan urusan administrasi perkampusan 🙂

Alhamdulillah beberapa PR bisa selesai sebelum berangkat: menyidang tesis, acc bimbingan, membuat beberapa laporan untuk Dewan Riset daerah,  termasuk yang terpenting presentasi proposal hibah Penelitian Kerjasama Luar Negeri, karena kalau Ketua Peneliti tidak hadir, gugur sudah proposalnya.

Namun mohon maaf juga untuk yang belum terkejar, untuk mahasiswa di MAP maupun S1, baik yang bimbingan maupun perkuliahan yang saya tinggalkan selama sebulan. InsyaAllah kita akan bertemu lagi 🙂

***

WhatsApp Image 2017-10-26 at 09.34.01

 

WhatsApp Image 2017-10-25 at 19.28.22

Beberapa peserta ganteng bersama Prof. Bambang

 

 

WhatsApp Image 2017-10-26 at 08.15.23

Dijemput Prof. Bambang dan Ron Habiboe di Bandara Schipol. Mendapatkan pengarahan awal.

 

***

Alhamdulillah sekarang sudah di Belanda. Kami menetap di berbagai rumah yang berbeda-beda. Saya dan Kang Iqbal dari UPI menetap di rumah Bu Eva yang bersuamikan John, orang Belanda. Rumahnya agak jauh dari Leiden Uni, di Waasenaar. Tapi saya sendiri senang, bisa mengenal kehidupan keluarga pribumi belanda. Rumahnya tidak terlalu luas, tapi apik tenan.

Okeh, saya masih harus mengoreksi 2 paper untuk Jurnal Sawala. Nantikan update secara (tidak) berkala ya, he he

Salam dari Wassenaar

 

 

 

Kebohongan (di Dunia Akademik) Untuk Apa?

Saya baru membaca surat permintaan maaf seorang mahasiswa doktor asal Indonesia di TU Delft Belanda. Isinya permohonan maaf atas aksi ngibul-ngibul yang dilakukannya. Yang menakjubkan, ngibulnya luar biasa. Saking hebatnya ngibul, ia diundang mata najwa, bertemu BJ Habibie (sebagai ahli Spacecraft Research and Development gadungan) dan bahkan ikut program Visiting World Class Professor karena mengaku assistant professor di bidang kedirgantaraan. (Suratnya klik di sini)

Saya membaca satu berita bohongnya ketika bertemu Habibie dan klaim-klaim karya akademiknya, nyesek membacanya

Screenshot 2017-10-08 10.25.19

Kasus mahasiswa mengaku sudah doktor ini bukan yang pertama. Saya pernah ikut cawe-cawe menyelesaikan kasus serupa dengan kadar yang lebih rendah sewaktu sekolah di Jepun. Alhamdulillah bisa selesai atas kebaikan hati pembimbingnya, tidak sampai dibawa ke mahkamah etik atau menggugurkan posisinya sebagai mahasiswa tingkat akhir yang hampir lulus.

Sampai saat ini saya betul-betul belum habis pikir dengan orang-orang yang berusaha tampil lebih hebat dari wujud aslinya. Jangan-jangan ini adalah refleksi dari ketidakpercayaan diri. Atau kecanduan ketenaran?

Padahal orang dengan bergelar doktor seharusnya paham, belajar sampai jenjang doktoral membuat kita sebetulnya semakin fokus ke bidang yang kita dalami dengan riset, dan semakin tidak tahu atau tidak sok tahu bidang-bidang lain. Jadi kalau sampai mengaku doktor padahal belum di bidang yang bukan keahliannya pasti ada yang salah, ada yang konslet.

Namun kadang-kadang dunia panggung memang candu bagi sebagian akademisi. Dianggap keren, masuk berita, diwawancarai, atau mencantumkan embel-embel pehade di belakang namanya.

Padahal saya haqul yakin, memakai gelar pehade tidak membuat kegantengan seseorang bertambah beberapa derajat 🙂

***

Saya jadi ingat nasihat Okamoto Sensei dalam kegiatan pembekalan Field School di Ujung Kulon beberapa tahun lalu:

“Tujuan menjadi akademisi bukanlah mengejar keterkenalan, tapi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepala kita. Tanpa curiousity, seseorang tak mungkin cocok berada di dunia akademik”

Sekali lagi, jangan-jangan bagi sebagian orang, hidup di dunia akademik bukanlah upaya mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan atau memberikan kontribusi buat masyarakat, tapi ingin jadi bintang panggung.

Kalau begitu mah jadi badut sirkus saja.

Salam

Togmol

Togmol bukanlah temannya paracetamol 😉

Ia adalah cara berkomunikasi khas orang Banten, khususnya orang Pandeglang dalam merespon sebuah masalah.

cropped-cropped-14686500_10154713214404015_427541260_n.jpg

Togmol artinya bicara apa adanya, merespon dengan jujur, langsung ke pokok persoalan, tanpa tedeng aling-aling.

Terkesan kasar dan kurang sopan bagi sebagian orang, tapi bagi orang Pandeglang, ini adalah simbol ketulusan dan kejujuran tanpa perlu menyembunyikan apapun.