Kepemimpinan Akademik dalam Gawat Darurat Pendidikan Tinggi

Dulu saya pernah bercita-cita mengubah dunia dan negara.  Maju menjadi politisi saya tidak cukup laku. Pada 2004 maju menjadi anggota DPD hanya mendapat seratusribuan pemilih saja. Gagal.

Sekarang saya sudah sebelas tahun di dunia akademik (2006 – 2017) , walaupun belum mendapat satyalencana 10 tahun, he he.

Nah, salah satu hal yang cukup menjadi perhatian saya adalah kepemimpinan akademik atau kepemimpinan di dunia akademik. Perhatikan bagan di bawah (Salmi, 2012)

Screenshot 2017-09-27 09.59.38

Kepemimpinan merupakan bagian dari tata kelola yang baik, salah satu dari tiga faktor utama dalam mewujudkan keunggulan sebuah Universitas, yang sering kita kenal sebagai World Class University atau Research University.

Dua lainnya adalah Konsentrasi Talent (Sumberdaya Manusia) yang bermutu, dan Sumber Daya yang melimpah (Abundant Resources).

Dalam tulisan ini saya mau fokus kepada kepemimpinan akademik.

Isu ini menjadi amat penting untuk dunia pendidikan tinggi di Indonesia di tengah derasnya arus perubahan. Saya sendiri sering mengatakan bahwa pendidikan tinggi kita berada dalam situasi gawat darurat.

***

Bayangkan, sudah dua Rektor diberhentikan oleh KemenristekDikti, Rektor UNIMA dan Rektor UNJ. Rektor Unima Philoteus Tuerah diberhentikan karena membuka dua prodi tak berizin, Program Magister Pendidikan dengan jumlah mahasiswa 67 dan Program Administrasi Negara dengan 47 mahasiswa. Dua jurusan itu dibuka di Nabire, Papua. (Tempo, 2016)

Baru-baru ini, Rektor UNJ Djaali juga diberhentikan oleh Kementerian, karena merebaknya palgiarisme di Program Pascasarjana UNJ. Isu ini merebak karena juga terdapat dugaan nepotisme dan pelanggaran norma-norma akademik dalam penyelenggaraan kelas jauh.  (CNN Indonesia, 2017)

Laporan Tirto menyebutkan proses yang tidak wajar dalam pembimbingan calon doktor:

Djaali yang paling banyak menjadi promotor mahasiswa program doktoral. Selama empat tahun itu Djaali membimbing 327 mahasiswa. Emzir membimbing 110 mahasiswa. Ada pula Thamrin Abdullah, anggota Dewan Guru Besar, yang menjadi promotor 104 mahasiswa. (Tirto, 2017)

Informasi yang menarik sekaligus mengerikan juga bisa dibaca di investigasi tempo.   

Kasus UNIMA juga belum selesai, karena Rektor terpilih, Julyeta Runtunewe dilaporkan karena diduga menggunakan ijazah palsu. (RMOL, 2017). Di saat yang bersamaan, Rektor Universitas Halu Uleo yang baru terpilih diduga melakukan plagiasi sehingga dilaporkan ke Ombudsman. (Kumparan, 2017)

Screenshot 2017-09-27 10.38.55

Belum lagi dugaan tentang politik uang dalam pemilihan beberapa Rektor PTN. Persoalan ini sudah ditangani Ombudsman dan kabarnya diusut KPK juga. Terdapat tujuh PTN di Jawa, Sumatera dan Sulawesi yang informasinya berada di Ombudsman.

“Besarnya bervariasi, antara Rp 1,5 miliar sampai Rp 5 miliar. Hal yang dikhawatirkan adalah jika kemudian ada kelanjutan berupa brokering (percaloan) proyek-proyek di kampus,” (Kompas, 2016)

Namun kasus ini prosesnya entah bagaimana dan entah sampai ke mana.

Saya menduga jika saja Pak SR tidak membuka mata publik tentang apa yang ada di UNJ di blognya (Hidup Blogger !!!) dengan menerbitkan serial tulisan yang keren, kasusnya bisa mengendap seperti dugaan suap dalam pemilihan Rektor, yang naga-naganya diselesaikan secara adat.

Maklum kementerian sedang sibuk balapan publikasi di scopus dengan negara tetangga, hadeuh…

Untunglah dalam kasus UNJ, media-media berpengaruh seperti Tempo, Kompas, CNN Indonesia, Tirto dan media-media lain memberitakan. Sehingga sanksi terhadap Rektor UNJ dijatuhkan.

***

Jadi pada akhirnya memang problem utama kepemimpinan akademik terletak pada hal yang amat mendasar, tentang integritas.

Integritas adalah inti dari semua proses belajar dan riset. Civitas akademika pasti pernah mendengar jargon ini: Boleh salah, tapi tidak boleh bohong.

Sesungguhnya ini tak hanya ada alam pengajaran dan penelitian belaka, tapi justru ada dalam bagaimana sebuah perguruan tinggi dikelola.

Jika tidak, habislah.


Catatan:

  1. Penjelasan bagan Salmi dan bagaimana mewujudkan WCU akan ditulis nanti ya
  2. Maaf kalau tidak ada hubungan antara kalimat2 pertama tulisan ini dengan isi utama tulisan.

 

Sumber:

  1. Salmi,  J  (2012).    “Attracting talent  in  a  global  academic  world:  How  emerging  research universities can benefit from brain circulation.”  The Academic Executive Brief.  June 2012.http://academicexecutives.elsevier.com/articles/attracting-talent-in-a-global-academic-world-how-emergin-research-universities-can-benefit
  2. https://nasional.tempo.co/read/770880/buka-jurusan-bodong-rektor-unima-dipecat-kemenristekdikti#DkVAK5XO11tLQ5Kw.99dccdc.
  3. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170926173228-20-244190/plagiarisme-tinggi-menristekdikti-berhentikan-rektor-unj/
  4. http://www.rmol.co/read/2017/04/06/286616/Laporan-Dugaan-Ijazah-Palsu-Rektor-Unima-Dikirim-Ke-Istana-
  5. https://kumparan.com/teuku-muhammad-valdy-arief/diduga-plagiat-rektor-universitas-halu-oleo-dilapoorkan-ke-ombudsman
  6. http://nasional.kompas.com/read/2016/10/26/11092611/kpk.usut.dugaan.korupsi.pemilihan.rektor.sejumlah.ptn
  7. https://tirto.id/bau-tak-sedap-program-studi-pascasarjana-unj-cvr1
  8. https://investigasi.tempo.co/141/doktor-karbitan-universitas-negeri-jakarta
  9. http://supriadirustad.blog.dinus.ac.id/

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s