Ikut Seleksi Short Course Dikti

Ini cerita pengalaman saja.

Tahun ini saya mendaftar untuk ikut Short Course untuk Social Science dan Humaniora yang dibiayai Dikti. Karena lokasinya di Univ. Leiden dan KITLV, maka saya bersemangat sekali untuk mendaftar. Sekira bulan Juni atau Juli berkasnya selesai dikirim. Dan laaamaaa tidak ada kabar. Jadi sudah lupa juga apa yang ditulis waktu itu.

Ndilalah hari Idul Adha dapat panggilan untuk wawancara. Wah surprise juga, terseleksi dokumen dari 159 pelamar menjadi 40 pelamar saja. Dari 40 ini akan disaring menjadi 20 pelamar. Jadi peluangnya fifty-fifty.

Maka datanglah saya hari selasa lalu ke Grand Mercure Harmoni untuk wawancara. Bertemu dengan para pelamar, para kolega dosen yang nampaknya hebat-hebat. Beberapa sudah doktor, sebagian besar masih S2. Menariknya pelamar untuk kategori Social Science and Humanities ternyata dari berbagai bidang ilmu: Politik, HI, Psikologi, Sejarah, Ekonomi sampai sastra Inggris dan Geografi.

Sementara bidang lain seperti Biologi Molekuler, Spiritual Pedagogik, dan lain-lain kabarnya sepi pelamar, mungkin karena amat fokus.

Sumber:http://www.hscm.ur.ac.rw/sites/default/files/styles/atom_news_full/public/news_image/imagescholarship.jpg?itok=tx9FismP

Wawancara berlangsung lancar dan gayeng, dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Selain meningkatkan publikasi dan riset, membangun network, yang saya tekankan sebetulnya adalah implementasi MoU antara Untirta dan Leiden University. Selama ini implementasinya masih enol (0). Saya tertantang untuk jadi hub bagi peneliti di Untirta dan Leiden untuk berkolaborasi.

Motivasi tambahannya ya mencari sketsa atau lukisan Sultan Ageng Tirtayasa di KITLV 😉 Siapa tahu keselip di sana. Maklum walaupun Pahlawan nasional dan jadi nama kampus, citra wajah dalam bentuk sketsa atau foto tidak ada. Yang selama ini diajarkan di buku sejarah bahkan dipajang di Pesarean Sultan Ageng Tirtayasa adalah Foto atau lukisan Sultan Agung Mataram. Betapa memalukan…

Namun saya juga ditanya sekaligus ditembak, “Sudah Pehade? Harusnya ambil Postdoc, bukan shortcourse !”

Wah saya jelaskan saya punya jabatan kecil yaitu Kaprodi, di panduan ndak boleh. Kata Bapak pewawancara kalau hanya Kaprodi boleh. Tapi seorang kawan di UPI kabarnya mundur sebagai Kaprodi karena dapat postdoc ke Jerman.

Jadi sekarang menunggu kabar pengumuman.

Kalau dapat semoga tidak bentrok dengan jadwal ke Tokyo tanggal 8 November.

Kalau tidak berarti harus berjuang lagi tahun depan. Dan intip-intip Aminef juga lag buka, mungkin sekalian apply JASSO.

Mau shortcourse harus berjuang sekeras-kerasnya?

Maklumlah hanya remah rengginang. Sebetulnya ada shortcourse luar negeri juga di kampus dari IDB, tapi tidak (ada seleksi) terbuka, mungkin hanya (reward) bagi yang punya jabatan saja.

Kaprodi mah bukan Pejabat, he he

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s