Arsip Bulanan: September 2017

Dikunjungi Sensei dan Senpai

Alhamdulillah, Oyamada Sensei fix menjadi salah satu pembicara dalam ICMS di Pascasarjana Untirta. Setelah proses menghubungi beliau yag penuh drama, dapat juga kepastian kehadiran beliau.

Nah, saya sendiri kebagian dua tugas utama: Pertama sebagai sopir tembak untuk mendampingi Sensei selama pelaksanaan ICMS, Kedua menjadi moderator dalam sesi dimana Sensei menjadi pembicara.

Kedua tugas ini saya jalankan dengan sungguh-sungguh. Selain karena saya bawahan yang baik hati, tidak sombong dan lutju, saya juga menghormati Sensei sebagai Guru dan Orang Tua. Beliau banyak sekali membantu tak hanya soal studi, tapi kehidupan kami di Kyoto, mulai dari sekolah anak-anak sampai membantu mempersiapkan diri menghadapi musim dingin di Jepang. Keluarga kami saling mengenal baik dan saya berkali-kali mampir ke rumahnya untuk memakan masakan Denise, istrinya Sensei serta bercengkarama dengan Jun, anaknya.

WhatsApp Image 2017-09-28 at 13.23.45

Saya menjemput Sensei dini hari, jam 24.10 Sensei tiba di Bandara. Sebagai murid yang baik, tentu saja setengah jam sebelumnya saya sudah tiba. Begitu Sensei mendarat dan keluar Bandara, kami segera menuju Serang. Sepanjang jalan kami me ngobrol, ngalor ngidul.  Wah Oyamada Sensei ternyata betul-betul meniatkan diri ke Indonesia hanya untuk bicara di seminar kami. Sepulang nanti dari Serang, ia akan langsung ke Cambridge untuk menjalankan program Sabbatical. Denis dan Jun sudah lebih dahulu berada di Cambridge.

Kami tiba di Serang pukul 2 dini hari, Sensei saya check-inkan di Hotel Le Dian dan saya sendiri menuju hotel murah lainnya untuk tidur. Kuliah hari ini ditiadakan karena terlalu mengantuk dan lelah.

Nah kegiatan esoknya hari ini agak santai. Sensei mempersiapkan materi, saya stand-by di Serang sambil menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Alhamdulillah juga, Pak Ishaq, senior di Doshisha dan teman sekamar, tiba di Serang dengan Damri dari Bandara.  Wah padahal beliau pasti sibuk sebagai Ka. Humas Universitas Hasanuddin.

Jadilah siangnya bersama Bu Nia yang baik, kami makan siang di SKI Ciracas, ngobrol ngalor ngidul tentang berbagai hal. Selepas makan Sensei kembali ke Hotel, saya dan Pak Ishaq ngopi-ngopi cantik ganteng di rumah kopi, lama gak ketemu soalnya. Dan kehidupan kami selama enam bulan tinggal bersama memang banyak dihabiskan berburu warung kopi di Kyoto.

WhatsApp Image 2017-09-28 at 13.23.44 (3)

Malamnya baru deh ada makan malam resmi di Frangipani. Tiga pembicara hadir: Oyamada Sensei, Takada Sensei, dan Prof. Yaya. Prof Khairurijal masih dalam perjalanan. Pimpinan Pasca, panitia dan staf juga hadir di sana. Hmm makanannya enak, ada angen lada yang isinya buntut ditambah nasi goreng.  Untung bisa menahan diri dengan lebih banyak memakan salad. Kalau ndak bisa bubrah, he he. 

Oh ya, kalau yang lain berpakaian agak resmi, saya dan Sensei hanya memakai kaos berkerah, padahal gak janjian 🙂

WhatsApp Image 2017-09-28 at 13.23.44 (2)

Acara inti berlangsung esoknya. Pada salah satu sesi, saya jadi moderator dan Sensei menjadi pembicara. Menarik juga tema presentasinya, Sensei bicara soal berbagai inovasi untuk “menghidupkan” berbagai kota di Jepang yang mulai berkurang penduduknya. Ada proyek “Farming Girls” segala, proyek dimana para gadis bertani sambil tetap berdandan dan menggunakan pakaian yang bagus. Keren.

Nah setelah itu serah terima cendera mata…

WhatsApp Image 2017-09-28 at 13.23.44

Sehabis Sensei presentasi. Saya kembali menjalankan tugas utama yang lain, yaitu menjadi sopir tembak. Sensei maunya diantar sampai Tangerang dan dari sana mau mencoba taksi online ke Bandara. Jadilah kami bertiga menuju Tangerang, rencananya mampir ngopi. Lah ternyata Sensei minta mampir ke rumah. Waduh, padahal gak ada orang di sana, hanya ada Ayal (Lha emang Ayal bukan orang?)

Sempat mengalami kemacetan superparah di kawasan Islamic (Pake nama Islamic tapi gak Islami, muacet dan semrawut poll) nyampe juga di rumah. Duh langsung disambut anak-anak kucing.

Ternyata memang Sensei ada oleh-oleh buat Ayal dan Ilham. Mereka mengobrol dalam Bahasa Jepun, duh ternyata Ayal sudah banyak lupa juga.

WhatsApp Image 2017-09-28 at 13.23.44 (1)Habis itu kami ke Bu Tjondro untuk makan. Ilham datang menyusul diantar Mang Komeng. Ilham senang juga dapat cha-cha bermerek disneyland.

Sensei dan Pak Ishaq buru-buru juga, setalah makan langsung berangkat ke Bandara, khawatir ketinggalan pesawat. Maklum seharian ini di mana-mana macet gara-gara hujan deras.

Ilham yang gak sempat berfoto bersama Sensei dan hanya ketemu sebentar terlihat sedih. Nah Abah tinggal teparnya aja :I

***

Nah, apa moral story dari cerita ini?

Hmm hubungan Sensei – Mahasiswa di Jepang memang unik. Ia melampaui aspek-aspek administrasi perkuliahan di kampus. Maka untuk calon mahasiswa khususnya master atau doktor yang mau sekolah ke Jepun, mendapatkan Sensei yang chemsitry-nya pas adalah tantangan tersendiri. Sensei akan menjadi orang tua kita selama studi dan membantu aspek-aspek di luar persoalan studi.

Maka jika berlaku tidak hormat dan melukai hati Sensei, bisa dipastikan akan ada persoalan dalam proses kuliah. Saya pernah menemukan cerita itu di sebuah kampus tempat saya studi dimana dosen yang mengajar saya cerita bahwa ia berkonflik dengan pembimbingnya. Akibatnya fatal, dicuekin sampai akhir masa studi, alias DO. Glek.

Sebaliknya, jika kita berkomunikasi dengan baik, disiplin dan cukup bisa membuktikan kapasitas dalam riset, bukan hanya studi yang selesai dengan lancar, tapi juga akan banyak kesempatan lain, seperti menjadi asisten riset, asisten mengajar, sampai terlibat di berbagai kegiatan, bahkan setelah lulus. Maklumlah calon Doktor yang dibimbing seorang Sensei di Jepun gak bakal banyak-banyak, apalagi nyampe ratusan 😉 

 

 

 

Iklan

Kepemimpinan Akademik dalam Gawat Darurat Pendidikan Tinggi

Dulu saya pernah bercita-cita mengubah dunia dan negara.  Maju menjadi politisi saya tidak cukup laku. Pada 2004 maju menjadi anggota DPD hanya mendapat seratusribuan pemilih saja. Gagal.

Sekarang saya sudah sebelas tahun di dunia akademik (2006 – 2017) , walaupun belum mendapat satyalencana 10 tahun, he he.

Nah, salah satu hal yang cukup menjadi perhatian saya adalah kepemimpinan akademik atau kepemimpinan di dunia akademik. Perhatikan bagan di bawah (Salmi, 2012)

Screenshot 2017-09-27 09.59.38

Kepemimpinan merupakan bagian dari tata kelola yang baik, salah satu dari tiga faktor utama dalam mewujudkan keunggulan sebuah Universitas, yang sering kita kenal sebagai World Class University atau Research University.

Dua lainnya adalah Konsentrasi Talent (Sumberdaya Manusia) yang bermutu, dan Sumber Daya yang melimpah (Abundant Resources).

Dalam tulisan ini saya mau fokus kepada kepemimpinan akademik.

Isu ini menjadi amat penting untuk dunia pendidikan tinggi di Indonesia di tengah derasnya arus perubahan. Saya sendiri sering mengatakan bahwa pendidikan tinggi kita berada dalam situasi gawat darurat.

***

Bayangkan, sudah dua Rektor diberhentikan oleh KemenristekDikti, Rektor UNIMA dan Rektor UNJ. Rektor Unima Philoteus Tuerah diberhentikan karena membuka dua prodi tak berizin, Program Magister Pendidikan dengan jumlah mahasiswa 67 dan Program Administrasi Negara dengan 47 mahasiswa. Dua jurusan itu dibuka di Nabire, Papua. (Tempo, 2016)

Baru-baru ini, Rektor UNJ Djaali juga diberhentikan oleh Kementerian, karena merebaknya palgiarisme di Program Pascasarjana UNJ. Isu ini merebak karena juga terdapat dugaan nepotisme dan pelanggaran norma-norma akademik dalam penyelenggaraan kelas jauh.  (CNN Indonesia, 2017)

Laporan Tirto menyebutkan proses yang tidak wajar dalam pembimbingan calon doktor:

Djaali yang paling banyak menjadi promotor mahasiswa program doktoral. Selama empat tahun itu Djaali membimbing 327 mahasiswa. Emzir membimbing 110 mahasiswa. Ada pula Thamrin Abdullah, anggota Dewan Guru Besar, yang menjadi promotor 104 mahasiswa. (Tirto, 2017)

Informasi yang menarik sekaligus mengerikan juga bisa dibaca di investigasi tempo.   

Kasus UNIMA juga belum selesai, karena Rektor terpilih, Julyeta Runtunewe dilaporkan karena diduga menggunakan ijazah palsu. (RMOL, 2017). Di saat yang bersamaan, Rektor Universitas Halu Uleo yang baru terpilih diduga melakukan plagiasi sehingga dilaporkan ke Ombudsman. (Kumparan, 2017)

Screenshot 2017-09-27 10.38.55

Belum lagi dugaan tentang politik uang dalam pemilihan beberapa Rektor PTN. Persoalan ini sudah ditangani Ombudsman dan kabarnya diusut KPK juga. Terdapat tujuh PTN di Jawa, Sumatera dan Sulawesi yang informasinya berada di Ombudsman.

“Besarnya bervariasi, antara Rp 1,5 miliar sampai Rp 5 miliar. Hal yang dikhawatirkan adalah jika kemudian ada kelanjutan berupa brokering (percaloan) proyek-proyek di kampus,” (Kompas, 2016)

Namun kasus ini prosesnya entah bagaimana dan entah sampai ke mana.

Saya menduga jika saja Pak SR tidak membuka mata publik tentang apa yang ada di UNJ di blognya (Hidup Blogger !!!) dengan menerbitkan serial tulisan yang keren, kasusnya bisa mengendap seperti dugaan suap dalam pemilihan Rektor, yang naga-naganya diselesaikan secara adat.

Maklum kementerian sedang sibuk balapan publikasi di scopus dengan negara tetangga, hadeuh…

Untunglah dalam kasus UNJ, media-media berpengaruh seperti Tempo, Kompas, CNN Indonesia, Tirto dan media-media lain memberitakan. Sehingga sanksi terhadap Rektor UNJ dijatuhkan.

***

Jadi pada akhirnya memang problem utama kepemimpinan akademik terletak pada hal yang amat mendasar, tentang integritas.

Integritas adalah inti dari semua proses belajar dan riset. Civitas akademika pasti pernah mendengar jargon ini: Boleh salah, tapi tidak boleh bohong.

Sesungguhnya ini tak hanya ada alam pengajaran dan penelitian belaka, tapi justru ada dalam bagaimana sebuah perguruan tinggi dikelola.

Jika tidak, habislah.


Catatan:

  1. Penjelasan bagan Salmi dan bagaimana mewujudkan WCU akan ditulis nanti ya
  2. Maaf kalau tidak ada hubungan antara kalimat2 pertama tulisan ini dengan isi utama tulisan.

 

Sumber:

  1. Salmi,  J  (2012).    “Attracting talent  in  a  global  academic  world:  How  emerging  research universities can benefit from brain circulation.”  The Academic Executive Brief.  June 2012.http://academicexecutives.elsevier.com/articles/attracting-talent-in-a-global-academic-world-how-emergin-research-universities-can-benefit
  2. https://nasional.tempo.co/read/770880/buka-jurusan-bodong-rektor-unima-dipecat-kemenristekdikti#DkVAK5XO11tLQ5Kw.99dccdc.
  3. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170926173228-20-244190/plagiarisme-tinggi-menristekdikti-berhentikan-rektor-unj/
  4. http://www.rmol.co/read/2017/04/06/286616/Laporan-Dugaan-Ijazah-Palsu-Rektor-Unima-Dikirim-Ke-Istana-
  5. https://kumparan.com/teuku-muhammad-valdy-arief/diduga-plagiat-rektor-universitas-halu-oleo-dilapoorkan-ke-ombudsman
  6. http://nasional.kompas.com/read/2016/10/26/11092611/kpk.usut.dugaan.korupsi.pemilihan.rektor.sejumlah.ptn
  7. https://tirto.id/bau-tak-sedap-program-studi-pascasarjana-unj-cvr1
  8. https://investigasi.tempo.co/141/doktor-karbitan-universitas-negeri-jakarta
  9. http://supriadirustad.blog.dinus.ac.id/

 

Leiden dan Tokyo

Masih inget postingan saya tentang ikut seleksi Short Course Social Humanity-nya Kemristekdikti?

Ya, jumat minggu lalu pengumumannya sudah keluar dan alhamdulillah saya dinyatakan terpilih.

WhatsApp Image 2017-09-20 at 05.17.47 (1)

Tentu saja menyenangkan membayangkan bisa berada di Leiden, pusat dokumentasi pustaka tentang Indonesia, siapa tahu terselip gambar atau sketsa Sultan Ageng Tirtayasa.

Tapi kepastian jadwal ternyata baru didapatkan saat pembekalan kemarin. Berangkatnya tanggal 18 Oktober, selama 4 minggu.

Lha, padahal tanggal 10 November ada jadwal di Tokyo, menyampaikan presentasi untuk sebuah penelitian. Pusing pala barbie…

Harus memilih…

Dengan segala kehati-hatian saya memilih ke Leiden. Kuncinya karena di Leiden selama satu sebulan saya memiliki kesempatan lebih banyak untuk belajar. Di Tokyo rencananya selain konferensi sebenernya ke Gunung Fuji, dulu selama 3 tahun sebagai mahasiswa kismin belum pernah. Cuma lewat saja dari atas Shinkansen…

cropped-cropped-wpid-20150211_1022061.jpg

Tapi bismillah, keputusan sudah ditetapkan. Semoga berkah…

Assalamualaikum Leiden…

 

 

Games on Cafe

Kali ini tentang Cafe lain di Gading Serpong.

Nah lebih baik ngopi daripada make narkoba sodara-sodara

Nama Cafe-nya Games on Cafe.

Mampir kemari karena harus mengerjakan sesuatu…

Seperti namanya, terdapat banyak Board Game yang bisa dimainkan sambil menyeruput kopi. Inilah yang membedakan Cafe ini dengan cafe-cafe yang lain.

WhatsApp Image 2017-09-14 at 15.13.50

 

Walaupun kalau buat sayah, ngopi di cafe ya musti kerja, menghasilkan sesuatu. Jadi tetetup liatin layar laptop.

WhatsApp Image 2017-09-14 at 15.13.50 (2)

Tapi buat yang doyan Board Game semacam monopoli (saya mah tauny itu doang), bisa ketemu saya di sini 🙂

Ngopi di Putri Duyung Tol Balaraja

Terpaksa mampir deh

Pagi-pagi nyetir dengan mata sepet dan beberapa kali oleng, rasanya butuh kafein.

Nah jadilah mampir rest area balaraja arah Serang. Ada kafe putri duyung. Kebetulan sudah buka dan kelihatannya ndak terlalu rame.

Mampirlah untuk minum americano.

Rasanya yah ndak usah dibahas, standard kopi putri duyung.

Saya banyak menghabiskan waktu di kedai kopi ini sewaktu di Kyoto, menulis disertasi sambil menyeruput kopi, soalnya nyaman dan ada wifi gratis.

Screenshot 2017-09-21 07.55.27

Nah kalau di tanah air jarang banget. Ini mampit karena nguantuk sambil mengumpulkan mood di hari senin.

Tempatnya nyaman, lutju juga kalau buat ketemuan di jalan tol sebelum ke Serang dan sekitarnya.

 

 

Supriadi Rustad

Pak SR ini sedang terkenal karena memimpin tim EKA yang sibuk membenahi kebobrokan integritas di berbagai perguruan tinggi.

Namun yang sedang menarik perhatian saya bukan itu.

Sebagai Guru Besar Pak SR sukses pindah menjadi Dosen di Udinus dari sebelumnya di UNNES.

Screenshot 2017-09-21 07.56.30

Tentu saja pindahnya memang setelah ramai-ramai Pemilihan Rektor yang ada lapor-laporan ke Polisi itu dan ramai di media.

Tapi bagi saya ada perspektif lain. Karir sebagai dosen memang seharusnya tidak boleh mentok di satu perguruan tinggi saja. Ia seharusnya bisa mobile, tergantung tawaran karir dan salary yang lebih baik atau pengembangan ilmu. Jadi katakanlah kalau Universitas Pertamina meminta saya mengembangkan ilmu politik di sana dengan menawarkan iklim akademik yang baik, ruangan memadai, salary yang aduhai dan pengembangan karir yang jelas, maka saya bisa pindah dari kampus saya sekarang tanpa harus kehilangan Lektor Kepala saya.

Nah tinggal bagaimana prosedurnya agar tidak repot. Lolos butuh memang perlu tapi tanpa harus menyulitkan. Tidak boleh ada kekangan terhadap mobilisasi dosen.

Kalau ini diterapkan maka makna “naiknya harga dosen” seperti ditulis Om Rhenald, barulah ada benarnya. Selama ini pindah PTS-PTS saja sudah sulit karena ada banyak kasus NIDN ditahan kampus awal. Nah bagaimana prosedur PTN – PTS?

Saya tulis di blog ini untuk mempersiapkan diri, siapa tahu siapa tahu…

Saatnya tiba tinggal bertanya ke Pak Supriadi Rustad.

Eh ada yang punya nomor beliau?

 

Ikut Seleksi Short Course Dikti

Ini cerita pengalaman saja.

Tahun ini saya mendaftar untuk ikut Short Course untuk Social Science dan Humaniora yang dibiayai Dikti. Karena lokasinya di Univ. Leiden dan KITLV, maka saya bersemangat sekali untuk mendaftar. Sekira bulan Juni atau Juli berkasnya selesai dikirim. Dan laaamaaa tidak ada kabar. Jadi sudah lupa juga apa yang ditulis waktu itu.

Ndilalah hari Idul Adha dapat panggilan untuk wawancara. Wah surprise juga, terseleksi dokumen dari 159 pelamar menjadi 40 pelamar saja. Dari 40 ini akan disaring menjadi 20 pelamar. Jadi peluangnya fifty-fifty.

Maka datanglah saya hari selasa lalu ke Grand Mercure Harmoni untuk wawancara. Bertemu dengan para pelamar, para kolega dosen yang nampaknya hebat-hebat. Beberapa sudah doktor, sebagian besar masih S2. Menariknya pelamar untuk kategori Social Science and Humanities ternyata dari berbagai bidang ilmu: Politik, HI, Psikologi, Sejarah, Ekonomi sampai sastra Inggris dan Geografi.

Sementara bidang lain seperti Biologi Molekuler, Spiritual Pedagogik, dan lain-lain kabarnya sepi pelamar, mungkin karena amat fokus.

Wawancara berlangsung lancar dan gayeng, dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Selain meningkatkan publikasi dan riset, membangun network, yang saya tekankan sebetulnya adalah implementasi MoU antara Untirta dan Leiden University. Selama ini implementasinya masih enol (0). Saya tertantang untuk jadi hub bagi peneliti di Untirta dan Leiden untuk berkolaborasi.

Motivasi tambahannya ya mencari sketsa atau lukisan Sultan Ageng Tirtayasa di KITLV 😉 Siapa tahu keselip di sana. Maklum walaupun Pahlawan nasional dan jadi nama kampus, citra wajah dalam bentuk sketsa atau foto tidak ada. Yang selama ini diajarkan di buku sejarah bahkan dipajang di Pesarean Sultan Ageng Tirtayasa adalah Foto atau lukisan Sultan Agung Mataram. Betapa memalukan…

Namun saya juga ditanya sekaligus ditembak, “Sudah Pehade? Harusnya ambil Postdoc, bukan shortcourse !”

Wah saya jelaskan saya punya jabatan kecil yaitu Kaprodi, di panduan ndak boleh. Kata Bapak pewawancara kalau hanya Kaprodi boleh. Tapi seorang kawan di UPI kabarnya mundur sebagai Kaprodi karena dapat postdoc ke Jerman.

Jadi sekarang menunggu kabar pengumuman.

Kalau dapat semoga tidak bentrok dengan jadwal ke Tokyo tanggal 8 November.

Kalau tidak berarti harus berjuang lagi tahun depan. Dan intip-intip Aminef juga lag buka, mungkin sekalian apply JASSO.

Mau shortcourse harus berjuang sekeras-kerasnya?

Maklumlah hanya remah rengginang. Sebetulnya ada shortcourse luar negeri juga di kampus dari IDB, tapi tidak (ada seleksi) terbuka, mungkin hanya (reward) bagi yang punya jabatan saja.

Kaprodi mah bukan Pejabat, he he