Mentalitas Fanboys

Hari ini saya posting sesuatu yang serius sekali. Hal yang terpendam yang akhirnya dikeluarkan juga daripada jadi jerawat.

Screenshot 2017-06-12 21.09.45

Walaupun terkesan sarkas, saya sedang mencoba menasihati sahabat-sahabat bermental fanboys.

Apa itu mentalitas fanboys?

***

Di laman website teknologi, saya suka tebahak-bahak menyimak komentar-komentar berita antara fanboys berbagai merek teknologi terkenal seperti Samsul atau Apel. Mereka biasanya keras betul membela merk gadget kesukaannya sekaligus sebisa mungkin menistakan merek gadget yang lain. Kalau sudah begitu tak penting spek sebuah produk lagi, yang ada pembelaan mati-matian. Kualitas gadget, spek, tidak penting lagi. Otak disimpan baik-baik di tempat yang aman, tidak digunakan.

Inilah yang saya sebut sebagai mentalitas fanboys.

Ternyata hal ini menular ke dunia politik. Keterbelahan masyarakat Indonesia pasca Pilpres membuat masyarakat membela tokoh atau politisinya mati-matian. Apapun yang dilakukan idolanya selalu benar, dan yang dilakukan (orang yang diimajinasikan sebagai) lawan politik selalu salah.

Media sosial memperparah dengan produksi hoax alias berita bohong yang bukan sekedar dipercaya sebagai kebenaran, tapi diimani sebagai kebenaran walaupun salah. Artinya jika fakta menyatakan informasinya salah, maka faktanya yang dianggap salah. Nilai kebenaran dan pengetahuan terbenam sedalam-dalamnya. Membagi informasi, betul atau salah jadi kewajiban yang seakan menjanjikan kemuliaan, ketenaran bahkan surga sekaligus. Mengerikan.

Otak disimpan baik-baik di tempat yang aman, tidak digunakan.

***

Maka ketika mengajar saya selalu mengajarkan para mahasiswa untuk berpikir. Saya khawatir kita hanya pandai memberikan jempol dan membagikan informasi berjudul sesuai nafsu kita belaka yang bahkan isi tulisannya tidak dibaca.

Bahkan sebagian orang saya amati sudah tak lagi menulis statusnya sendiri, hanya bisa membagikan dan memberikan jempolnya saja. Mengerikan bukan?

Oh ya hal-hal begini tak kenal usia, pendidikan, bahkan status sosial kok. Ada yang anak alay (bukan ayal), mahasiswa bahkan doktor sekalipun.

***

Demikian,

Jadi milih Sultan Erdogan atau Raja Salman?

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s