Dok .. dok .. dok

Kemarin beberapa kawan dari KPU Banten memanggilku dengan sebutan Dok. Tentu saja bukan singkatan dari Kodok, tapi Doktor.

Ya, bulan puasa dua tahun lalu saya memang resmi jadi Doktor. Lewat sebuah sidang yang dihadiri hanya sekitar 15 orang termasuk saya dan tiga penguji. Tanpa konsumsi, bukan karena bulan puasa, tapi karena memang gak ada aturan mesti menyiapkan konsumsi. Singkat, padat, fokus ke substansi riset. Lewat tanya – jawab yang menyenangkan, alhamdulillah gelar Doktor diraih.

11701002_10153512644469015_5883690641642036619_o

Gelarnya Ph.D (Doctor of Philosophy) dalam Contemporary Asian Studies. Nah, surat pengaktifan di kampus menulisnya: Doktor dalam Filsafat. Gak apa-apa, he he

Yang jelas, gelar ini masih suka ditulis secara keliru, kadang PHD (Pizza Hut delivery), P.Hd (Paeh <geh> hade), atau kadang ditulis: Dr. Abdul Hamid, Ph.D. Padahal saya gak punya dua gelar doktor. Hmm ada sih kawan yang kerajinan lulus S3 dari UI dan Harvard sekaligus yang pake dua gelar S3 sekaligus tersebut.

Baiklah, ada yang mau saya ceritakan, maafkan kalau agak sombong. InsyaAllah semangatnya pencitraan menebar motivasi.

***

Di keluarga kami terdapat empat doktor.

Saya adalah Doktor ke-3. Gelar doktor pertama diraih kakak saya, Zainal Muttaqin diikuti istrinya Tri Lestari. Mereka meraih Ph.D-nya di Jepang. Zainal di Hiroshima University, Istrinya di Kobe University. Selisihnya satu semester. Nah saya di Doshisha University, di semester berikutnya, jadi berurut-urutan.

424145_10151355365109015_1035295221_n

Jadilah kami bertiga sempat merasakan tinggal di Jepang, di tiga Kota berbeda dalam waktu yang bersamaan. Kami kadang ngumpul di Kobe, Hiroshima, Kyoto atau pernah juga di Tokyo. Kadang-kadang hanami, main ski atau sekedar babacakan. Kami bertiga mendapat beasiswa: Zaenal dari Bappenas, saya dan Mbak Tri dari Dikti. Alhamdulillah, semua selesai 3 tahun.

Doktor keempat di keluarga kami yaitu Abdul Malik yang meraih gelar Doktor dari Universitas Sahid. Gelar ini diraih sambil menjalankan amanah sebagai Dekan di FISIP UNSERA. Dekan jalan, gelar doktor diraih. Disertasinya bahkan sudah jadi buku.

1785_41463034014_8098_n

Selebihnya di keluarga kami: master dan sarjana.

***

Nilai pendidikan sebagai hal terpenting memang diajarkan (alm.) Apa dan Mamah. Saya paham perjuangan membesarkan 8 anak sampai sarjana (lebih dari sarjana usaha sendiri) tidak mudah bagi suami-istri yang keduanya kebetulan berprofesi sebagai guru. Apa di MAN Cihideung dan Mamah di SMPN 2 Pandeglang. Berat, dan saya sering curi dengar mereka betul-betul memaksakan diri, gali lobang-tutup lobang, pontang-panting kesana-kemari untuk sekolah kami, anak-anaknya. Maka hidup kami betul-betul sederhana, lha uangnya buat biaya sekolah.

Belakangan saya paham, ini semacam dendam kesumat (alm.) Apa yang terpaksa DO dari kuliahnya di IAIN Ciputat karena persoalan biaya. Ia membalas dengan mati-matian men-sarjana-kan anak-anaknya, at all cost.

Dari aspek harta tak ada yang bisa diwariskan orangtua kami, kecuali sebuah rumah yang menjadi rumah induk di Pandeglang. Untuk Mamah tinggal dan tempat kami berkumpul ketika liburan. Ada juga sih, satu lemari buku-buku, mulai dari tulisan Hamka, beberapa tafsir, sampai buku Sayid Qutb.

Jadi ketika Apa meninggal sekalipun, tak ada perdebatan apapun soal harta peninggalan harus dibagaimanakan, lha wong gak ada, he he.

Warisan yang terbesar dan terpenting justru melekat di diri masing-masing anaknya: pendidikan, nilai kerja keras, dan semangat memberi manfaat.

Inilah yang dipercaya mengubah nasib, dan hal tersebut terbukti.

Setidaknya di keluarga kami.

Salam Super duper

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Doktor-doktor di Keluarga Kami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s