Saya jarang bawa mobil ke kampus. Selain karena menggunakan transportasi publik lebih mulia, juga karena parkirnya amat semrawut.

Bahkan suatu waktu, karena dulu parkir tergesa-gesa hendak mengajar, mobil yang saya parkir nampaknya menimbulkan kesulitan bagi orang lain. Jadilah ada yang mengirim surat cinta mengancam bikin baret.

Seorang dosen lain menceritakan bahwa rekannya akan memutari lapangan sebanyak tiga kali dan jika tak menemukan tempat parkir akan pulang dan tidak mengajar.

Parkir ini persoalan darurat yang diremehkan namun bisa menimbulkan banyak masalah turunan yang tidak kalah gawat. Seorang kolega menyampaikan bahwa di belakang sebuah gedung kuliah ia menemukan beberapa mahasiswa dan mahasiswi nongkrong-nongkrong sambil merokok. Lho apa hubungannya dengan parkir?

Satpam yang seharusnya melakukan pemantauan untuk menjamin ketertiban dan keamanan, nampaknya sibuk mengatur kendaraan yang parkir. Ditambah cctv yang seharusnya dipasang di pojok-pojok yang berpotensi menjadi tempat pelanggaran ketertiban dan keamanan, malah banyak terpasang di ruang kelas. Walaupun beberapa kolega dosen meragukan apakah cctv tersebut beneran berfungsi atau tidak.

Bagi saya soal parkir ini soal darurat yang harus diselesaikan. Perlu ada kebijakan dan implementasi yang serius.

Saya sendiri termasuk paling cerewet di Senat Universitas meminta hal ini diatasi. namun biasanya hal-hal begini sepi peminat komentar. Yang ramai jika ada yang ulang tahun dan atau meninggal saja, atau mau bulan puasa.

***

Problemnya memang tak ada kebijakan yang jelas, tuntas dan berkelanjutan.

Dahulu, ada stiker yang dibagikan ke dosen dan karyawan. Ini jadi tanda bagi kendaraan yang masuk, sehingga tak semua kendaraan boleh parkir. Tapi ternyata stiker hanya berlaku beberapa minggu saja, tak ada penerapannya. Semua tetap boleh parkir masuk di kampus.

Belakangan, tanah di depan kampus berhasil disewa untuk parkir. Ada kebijakan motor parkir di depan. walaupun sempat bergejolak akhirnya lumayan, parkir di depan dipakai mahasiswa, terutama roda dua. Ndilalah, suatu ketika parkir kembali ditutup, parkir kembali ke kampus dan semrawut.

Yang menarik adalah sebagian (besar?) mobil yang diparkir adalah mobil mahasiswa. Memakan penuh lahan yang seharusnya bisa untuk berbagai kegiatan. Motor, jangan ditanya, puenuh. Sehingga kalau mobil baret-baret harap maklum.

***

Saya ndak paham seberapa banyak yang menganggap persoalan ini bersifat darurat. Mudhorotnya banyak

  1. Keamanan dan ketertiban berkurang.
  2. Kualitas udara buruk
  3. Wajah kampus jadi kumuh
  4. Potensi konflik karena senggolan, ketabrak, keserempet, dsb
  5. Kualitas belajar memburuk, stress dahulu sebelum sampai kelas
  6. dll
  7. dsb
  8. etc
  9. silahkan tambahkan

Hadeuh bagaimana ini kampus mau menghasilkan ide-ide besar untuk perbaikan dunia transportasi ya?

 

salam,

AH

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s