Sekira satu bulan lalu saya berkesempatan mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh Komisi ASN dan Komisi ASN-nya Australia. Pelatihan tersebut nampaknya mempersiapkan para calon penyeleksi Jabatan Tinggi ASN baik di pusat maupun di daerah.


Hal yang cukup banyak didiskusikan adalah tentang merit sistem. Maklum selama ini ada banyak anggapan dan nampaknya benar terjadi bahwa promosi di kalangan ASN lebih karna faktor-faktor di luar kapasitas dan prestasi. Istilahnya PGPS : Pintar Goblok Pendapatan Sama.

Saya merefleksikan ini ke dunia kampus. Universitas tempat di mana orang belajar ilmu lebih banyak dibanding kebanyakan orang, harusnya menerapkan sistem meritokrasi ini by default. Orang dengan jejaring internasional yang luas dan dalam mustinya ngurusi kantor internasional, lembaga yang mengurusi riset ya mustinya diisi mereka yang punya reputasi penelitian, h index tinggi, ngerti persoalan jurnal dan punya publikasi di jurnal internasional bereputasi, urusan akademik ya musti diurus mereka yang sekolahnya sudah selesai (baca: doktor), dan sebagainya dan sebagainya.

Simpel, dan dengan demikian sebuah Universitas akan berkembang.

Jika menggunakan pendekatan kekuasaan, balas jasa, transaksional atau koncoisme, yang berkembang hanyalah perut sebagian orang saja. Institusi jalan, di tempat.

Ok, selanjutnya kita bahas talent pool di kampus.
Salam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s