Ide Baru: Rencana Memulai Zemi Bulan April

Ini hari ketiga saya di Bangkok.

Sejak kemarin, sudah banyak diskusi yang dilakukan. Karena kantor CSEAS Bangkok merangkap apartemen, maka segala sesuatunya cukup dilakukan di sini saja. Bangun tidur, bikin sarapan dan sarapan langsung diskusi membahas buku yang mau kami tulis. Setelah itu bekerja masing-masing. Siang makan bareng lagi. Kemarin sore kami pijat refleksi di kaki, ampun sakit sekali.

Nah malamnya ada tamu sekitar sembilan orang datang untuk makan dan berdiskusi. Ada dosen Chula, mantan dosen Thammasat yang juga pimpinan NGO, peneliti Jepang, seniman, dan mahasiswa Jepang yang sedang belajar di Jepang. Kami makan dan berbincang sampai malam.

Hari ini ada pemberitahuan kalau ada pemutusan listrik di gedung tempat kami tinggal. Jadilah saya, Okamoto dan pengurus kantor ke luar untuk belanja dan makan siang. Saya cukup kaget karena harga barang-barang di Hypermarket besar lebih murah daripada di Indonesia. Setidaknya ada kaus kaki seharga (dikurskan) sekitar Rp. 10.000,- dan kaos sekitar Rp. 50.000. Saya malah beli kotak pos untuk dipasang di depan rumah. GeJe pokoknya.

Habis itu kita makan di Usman Halal Thai Restaurant. Makanannya mirip dengan makanan Thai, hanya tentu saja tanpa babi dan lebih pedas. Ajaibnya setelah makan, migrain yang muncul dari sejak bangun tidur mendadak hilang. Alhamdulillah. Pelayan restaurannya juga baik dan ramah serta berbahasa melayu, mereka muslim dari Thailand Selatan.

WhatsApp Image 2017-03-14 at 3.48.54 PM

Setelah itu kami pulang ke kantor. Namun ternyata listrik belum menyala. Karena itulah saya dan Okamoto melipir untuk minum kopi. Tentu saja sambil berbincang banyak hal, mulai dari riset masing-masing, rencana seminar internasional, rencana buku yang akan kami tulis, rencana nonton muaythai, dan dunia pendidikan tinggi.

Okamoto menanyakan apakah saya bertemu rutin dengan mahasiswa yang saya bimbing?

Duh, pertanyaan sederhana namun mengingatkan saya akan rutinitas saya dan Oyamada Sensei di kampus dulu. Ya, sistem Zemi di mana pembimbing dan mahasiswa bertemu rutin setiap minggu, dan mahasiswa bergantian presentasi sebetulnya amat bagus. Sistem ini melatih (baca: memaksa) mahasiswa untuk datang ke kampus, bertemu dosen dan teman-temannya. Di sana mereka dipaksa untuk membuat presentasi, berargumentasi, berdialog dan saling belajar.

Biasanya di Jepang dulu, zemi diakhiri dengan sama-sama pergi ke Restoran untuk makan dan minum-minum. Saya biasanya ikut minum-minum juga, tapi gak pernah mabuk karena yang diminum orange juice atau ocha.

Karena itulah ikatan Sensei (Dosen pembimbing) dan mahasiswa baik Senpai (Senior) maupun Kohai (Junior) terbangun erat. Sekejam apapun dosen pembimbing di kelas, mencair ketika makan dan minum-minum. Saya ingat selain di restoran, kami beberapa kali makan-makan dan minum-minum di rumah Sensei.

Jadi berpikir keras. Bagaimana jika tradisi baik ini saya mulai. Kebetulan saya punya amanah sebagai Kaprodi di Pascasarjana?

Saya juga bertanya di hati. Kenapa selama ini tidak saya lakukan ya? trus apakah sudah ada alumni Jepun yang memulainya?

Jadi gak sabar untuk memulai di Bulan April nanti. Siap-siap ya, kita makan-makan, eh kamsudnya presentasi πŸ˜‰ Zemi Hamid Sensei.

Pertemuan pertama biar saya yang traktir, kan saya ulang tahun πŸ™‚

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s