Seorang mahasiswi berkeluh kesah dengan manja di kelas. Ia meyampaikan bahwa selepas demo 4 November, Fesbuk tak lagi menyenangkan. Kawan-kawannya terbelah seperti amuba dalam menyikapi kasus Ahok. Masalahnya mereka yang berbeda saling memaki, mencaci, dan minimal menyindir.

Yang demo mengatakan yang tidak demo adalah kelompok munafik. Demo adalah pembeda antara yang munafik dan yang beriman.

Nah yang dituding membalas dengan mengatakan bahwa yang demo korban pembodohan aktor-aktor politik.

Demikian saling membalas.

Suasana panas, sosial media tidak lagi menyenangkan.

Celakanya mereka yang saling memaki juga mengatakan bahwa mengunfriend atau mengunfollow adalah bentuk memutuskan silaturahim.

###

Sebagai dosen yang baik hati dan tidak sombong. Pusinglah awak menjawabnya. Karena situasinya terjadi juga di teman-teman sayah. Saling kecam sana-sini.

Akhirnya setelah minum kopi Bali Kintamani, tiba-tiba ada jawaban.

Ya, jawabannya di judul tulisan ini.

Sosial media adalah wadah untuk ketemu. Seperti tempat nongkrong, pasar, cafe, dll. Jadi kita bisa nongkrong di sana atau juga di tempat lain.

Nah bedanya ini hanya terjadi di dunia maya. Di mana interaksi dibatasi oleh tulisan, paling banter emoticon. Akibatnya, suasana panas sulit diredakan.

Padahal di dunia nyata, suasana panas bisa diredakan dengan minum es teh manis misalnya. Berantem bisa diakhiri dengan salaman dan sholat berjamaah dan terus berpelukan. Suasana bisa dibikin cair dengan kedipan mata.

Nah, yang seringkali terjadi pertemanan yang tidak berkualitas bahkan destruktif berdampak pada hubungan di dunia nyata. Tak lagi ngopi bareng atau bertegur sapa.

Padahal di luar urusan Ahok-Non Ahok, mereka bisa jadi adalah kawan yang baik, saling tolong menolong, sama-sama suka drama korea, teman sekelas di kampus atau hobi nonton sepakbola.  Serta sama-sama jelek nilai pelajaran atau mata kuliah Bahasa Indonesia.

Jadi, jika kamu merasa hubunganmu di dunia maya tak sehat bahkan merusak hubunganmu di dunia maya, unfriend saja. Sambil kirim pesan japri:

“Say, daripada kita berantem di fesbuk, kita ketemu ngopi darat yuks”.

Begitu kira-kira.

Jadi unfriend menyelamatkan silaturahim, sebelum semuanya terbakar.

Unfriend dan media sosial kembali menyenangkan.

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Unfriend Untuk Menyelamatkan Silaturahim

  1. Salam Pak HAmid,

    Perkenalkan saya Dina, dosen PTN di Universitas Lampung. Saat ini saya sedang menyiapkan proposal disertasi untuk S3 saya, dengan fokus ke Sumberdaya Manusia. Saya ingin meneliti tentang dampak SKSR atau remunerasi terhadap seluruh dosen PNS di Indonesia. Saya ingin menanyakan apakah remunerasi ini berlaku untuk seluruh PTN di Indonesia? Karena jika iya diberlakukan serupa, maka saya bisa meneruskan proposal saya. Terima kasih untuk info Bapak.
    Dina Safitri, FEB Unila, email: dsafitri1510@yahoo.com, 0812-72922074

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s