Alhamdulillah, Semua Happy

Alhamdulillah semua Happy.

Di tengah pekerjaan rumah yang tak bisa ditinggalkan, senang rasanya mendengar kawan-kawan yang aksi di Jakarta, 4 November 2016. Ada yang melaporkan perjalanan dari kampungnya, ada yang mewartakan pasukan kebersihan, ada yang menyampaikan berbagai donasi logistik yang masuk, bahkan ada pula foto-foto demonstran berbaris rapi untuk tak menginjak rumput. Keren !

Tenang, tulisan ini tak ada tetapinya. Saya angkat peci setinggi-tingginya kepada mereka yang menyalurkan aspirasinya dengan tetap menjunjung tinggi akhlaq islami.

Lho kan ada kerusuhan?

Di manapun ada massa dalam jumlah besar, di situlah potensi terjadi tindakan agresif terjadi. Dan melihat massa yang luar biasa besar, sementara kerusuhan terjadi setelahnya dan hanya melibatkan jumlah yang amat kecil, bisa dikatakan demonstrasi berjalan baik sekali. Maka ketika istri saya jam 1 malam membangunkan menyampaikan kerusuhan terjadi di sekitar Penjaringan dengan nada khawatir, saya tak menggubris. Saya bilang, tenang saja, gak akan ada apa-apa. Saya akhirnya memang terbangun di sepertiga malam, melaksanakan ibadah dan memantau situasi. Benar, ada penjarahan kecil-kecilan, namun situasi terkontrol. Rasanya setelah pertemuan elit beberapa waktu lalu, tak ada yang mau jadi tertuduh jadi penunggang kuda di lebaran kuda bukan?

Justru yang mengganggu menurut saya sikap benar sendiri beberapa gelintir orang dengan sikapnya. Tak masalah jika tak mencela orang lain. Namun masalah besar dan tak menunjukkan kedewasaan jika mencela, menghina orang yang berbeda sikap dan pendapat.

Kata-kata munafiq misalnya bertebaran di media sosial, mecela mereka yang tidak menyetujui aksi kemarin. Saya menyayangkan sikap seperti ini. Jika memang beraksi demi membela Al Qur’an, sebaiknya tak dikotori dengan menuding teman seagama yang berbeda sikap.

Begitu juga dengan yang tak menyetujui dan bersikap nyinyir kepada peserta aksi. Tak usahlah bersikap seperti itu. Kekanak-kanakkan.

Dalam dua tulisan lalu, saya betul-betul menghindari kata-kata memojokkan mereka yang beraksi di tanggal 4 November, sekalipun saya tidak sepakat. Saya menghargai dan menganggap ini potensi besar ummat islam Indonesia untuk bangkit menjadi kekuatan yang disegani. Bukti bahwa demonstrasi berjalan lancar sekalipun jumlah massa amatlah besar menunjukkan hal tersebut.

Saya menahan diri ketika mulai banjir kata-kata munafiq di timeline facebook maupun komentar di blog saya. Oh ya kalau komentar di blog memang saya moderasi, yang keterlaluan saya tak munculkan, biar jadi bonus buat saya saja.

Kedewasaan kita memilih sikap terletak pada kemampuan menerima perbedaan pendapat dan mengedepankan persamaan daripada perbedaan. Jika kita ummat Islam saling mencibir, menghina, memojokkan, bukankah ini yang dikehendaki oleh mereka yang memusuhi Islam dan ingin Republik ini bubar?

Kita harus belajar melihat bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat. (Yang laknat adalah perbedaan pendapatan, he he)

Sikap pemerintah rasanya sudah jelas, Ahok akan diproses hukum. Hanya saja proses hukum bisa berujung dua hal, bersalah atau tidak bersalah? Saya berharap sebagai manusia dewasa kita bisa menerima dua konsekuensi ini, tidak memaksakan kehendak. Oh ya, Buni Yani rasanya juga harus diproses hukum karena menghilangkan satu kata dari ucapan Ahok yang berakibat kemarahan ummat islam. Kita juga rasanya harus menerima ketika Buni Yani diproses hukum, kemudian dinyatakan bersalah atau tidak.

Nah, ada juga yang meminta saya mengulas kenapa Pakde Djoko tidak menemui demonstran.

Waktu muda saya seorang demonstran.

Rasa-rasanya, sepanjang pengalaman saya demonstrasi, hampir tidak ada pengalaman bahwa ketika demo langsung ditemui oleh mereka yang didemo. Dan bagi mereka yang  paham merancang demo, pasti paham bahwa demonstrasi adalah penggalangan opini publik. Jika tujuannya ketemu namanya bukan demo, tapi audiensi.

Jika tujuannya ketemu dan dialog namanya bukan demo, tapi audiensi.

Jadi tak usah Baper jika memang tak ditemui Pakde Djoko, apalagi langsung membuat opini memojokkan Presiden di kasus ini. Biasa saja, kecuali tujuannya memang menggoyang istana. Nah, jika tujuannya membela Al Qur’an karena merasa dinistakan, insyaAllah penguasa bumi dan langit sudah mendengarkannya.

Begitu kira-kira.

***

Jadi satu-satunya yang nggak happy ya yang memang mau bikin ribut 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s