Demo di Hari Lebaran Kuda

Tulisan saya soal Ahok nge-hits dan di-share lebih dari sepuluh ribu orang. Walaupun belum mengalahkan tulisan soal AADC2, Surat Trian untuk Cinta.

Nah problemnya adalah tulisan itu juga ternyata di-share oleh akun facebook Teman Ahok dan disana di-share ribuan orang lagi. Bisa dikira pendukung Ahok nih, gawat.

Maka setelah Sholat Subuh berjamaah di mushola depan rumah dan merenung-renung, rasanya perlu membuat tulisan kedua ini.

***

Posisi saya dalam Pilkada DKI sebagai pengamat, tak punya kecenderungan ke Ahok, Anies apalagi Agus. Saya memperhatikan politik jakarta sebagai bagian dari tim riset Local Politics in Capital City in Southeast Asia bersama beberapa kawan dari Jepang dan Indonesia. Publikasi kami soal Pilkada Jakarta 2012 sudah terbit di open access journal yang sudah saya berikan link-nya di tulisan lalu. Isu agama dan etnis, dibahas di sana. Soal pilkada sekarang ya belum selesai ditulis.

Jadi ketika kemudian isu agama naik lagi menjelang Pilkada DKI, saya memang sudah memprediksinya. Ini pola yang nggak baru, Bro. Hanya momentum atau pencetusnya saja yang berbeda.

Prediksi ini saya sampaikan bulan lalu di Taipei: isu agama dan etnis akan naik karena Ahok bukan lagi wakilnya Jokowi yang Islam dan Jawa. Ahok ini double minority: Cina dan Kristen.

Lha wong dalam Pilkada DKI 2012 lalu saja Bang Rhoma berkeliling menyampaikan ceramah untuk memilih pemimpin seiman, apalagi sekarang? Selebaran gelap dengan isu serupa juga beredar di berbagai tempat.

selebaran-gelap_pilkada-dki
Sumber:tribunnews.com

Nah ketika itu saya juga menyampaikan kalau umat Islam cenderung anti Ahok yang kafir atau non-muslim. Hal yang kemudian secara cermat ditanyakan oleh Arai Sensei, umat Islam yang mana? Apakah NU dan Muhammadiyah juga?

Pertanyaan yang bagus dan menohok saya, membuat saya lebih hati-hati.

Dan ternyata memang kelompok Islam yang kemudian menjadi motor aksi hari ini adalah mereka yang menolak Ahok secara konsisten, membaiat KH. Fachrurozi Ishaq sebagai Gubernur tandingan dan mencoba melaksanakan konvensi Gubernur Muslim Jakarta yang tidak berhasil menyodorkan calonnya untuk dijadikan kandidat resmi oleh Partai Politik atau melaju secara independen.

NU dan Muhammadiyah sejauh ini tidak mendukung atau menolak aksi 4 november. Malah melarang penggunaan simbol-simbol organisasi digunakan.

bakal-calon-gubernur-muslim_20160508_140950
http://www.kabarna.id

Jadi ketika kemudian pidato Ahok dibuatkan transkrip yang salah oleh Buni Yani, ini jadi momentum bagi kelompok yang sejatinya tidak besar di Jakarta untuk kemudian membesar dan menaikkan skalanya menjadi nasional dengan tema yang heroik: Penistaan Agama. Kenapa nasional, karena kalau cuma dari Jakarta, massanya sulit untuk banyak banget.

Sebetulnya sinyalemen ada pemain besar di belakang terihat dari pertemuan antar elite beberapa hari kemarin, ada yang main kuda-kudaan, ada juga yang gak diajak sehingga ngambek. Yang ngambek curhat soal lebaran kuda dan demo hari ini, seakan-akan memberi kode untuk kita semua.

Kode bahwa memang ada yang bermain dalam isu ini.

Namun saya akui, yang mendesign hebat sehingga Ilusi Ahok vs umat Islam yang awalnya realitas di media sosial menjadi seakan-akan betul-betul nyata.

Ini yang menggelisahkan saya sehingga tulisan yang lalu muncul. Dan saya pikir saya menyuarakan suara mereka yang diam, gamang dan tidak berani berbicara, takut di-bully.

Kalau saya mah santai saja. Sudah beberapa yang bilang munafiq, Islam KTP, atau meyuruh saya jualan cendol. Hardikan mereka menambah pundi-pundi pahala buat saya. Lha, jangankan saya yang hanya remah-remah rengginang, ulama sekaliber Quraish Shihab atau Buya Syafii saja di-bully. (Yang bikin saya sedih, gak ada yang bikin isu penistaan ulama ketika beliau-beliau dibully)

Bapak/Ibu yang budiman.

Ketika saya mengatakan bahwa sulit mencari point penistaan agama dalam pidato Ahok di Kepulauan Seribu bukan berarti Ahok pemimpin yang gak punya masalah.

Dalam presentasi saya di Taipei, saya menyampaikan beberapa catatan tentang Ahok. Gaya kepemimpinan yang keras dan reaktif, ditambah mulut yang suka asal bunyi misalnya. Ini persoalan penting yang membuat Ahok nampak arogan. Belum lagi penggusuran yang tidak manusiawi. Ahok gagal melanjutkan cara Jokowi membenahi Jakarta dengan cara memanusiakan-manusia Jakarta. Pendekatannya keras, ditambah penggunaan TNI dan Polri dalam penggusuran. Dan catatan terakhir dan terpenting tentu saja soal reklamasi.

Jadi saya sampaikan ke Ayal, bahwa bagi seorang pemimpin, bekerja dengan benar (membenahi birokrasi, membersihkan sungai, dsb) tidaklah cukup, ia harus mampu tampil santun dan menjaga ucapan. Kinerja baik bisa tertutup semua. Ini saya pikir catatan juga untuk Ahok dan kita semua. Ahok mestinya belajar dari Foke yang popularitasnya anjlok dalam pilkada 2012 setelah terekam marah-marah kepada korban penggusuran di karet tengsin dan dishare di Youtube.

Nah, bagaimana dengan demo?

Mantan sudah menyampaikan kalau demo hari ini akan berakhir pada Lebaran Kuda. Hanya mantan yang tahu kapan lebaran kuda akan dilaksanakan. Apakah kita harus bertanya pada kuda yang bergoyang?

Begini. Terlepas saya tak menyetujui agenda aksi hari ini. Saya selalu memiliki harapan besar. Banyak teman-teman saya yang berangkat berdemo. semoga selamat dan tetap sehat. Teman-teman yang berangkat aksi hari ini berangkat dengan semangat jihad, ghirah yang amat tinggi, meluap-luap.

Ini potensi.

Jika ghirah ini kemudian bisa disalurkan dalam aspek-aspek konstruktif dengan agenda keumatan yang terukur dengan jelas. Maka akan ada banyak persoalan keumatan seperti korupsi, kemiskinan, pengangguran, kekotoran (baca: masalah kebersihan), dan lain-lain juga bisa ikut selesai.

Jika pemimpin umat bisa mengatakan bahwa menjaga kebersihan (Gak cuma pada saat aksi, tapi di lingkungan sehari-hari) adalah urusan keimanan kepada Allah sama bersemangatnya dengan mengatakan bahwa demo hari ini adalah urusan kadar keimanan, maka Indonesia Raya sebagai negara dengan jumlah penganut agama Islam terbesar di dunia akan menjelma menjadi negara paling bersih di dunia mengalahkan Jepang. Bukankah jelas kebersihan sebagian dari Iman?

Atau menyampaikan haramnya korupsi segarang menyampaikan haramnya memilih Ahok dalam pilkada misalnya.

Jadi ini potensi besar (semoga) menuju kebangkitan Umat Islam di aspek-aspek substansial.

Wallahul Muwafiq Ila Aqwamith Thariq.

Wassalamualaikum Wr.Wb

 

Iklan

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s