Ketika Ayal Bertanya Soal Ahok

Selepas mengaji bakda maghrib, Ayal terlihat gelisah. Setahuku kutu di rambutnya sudah bersih setelah dicatok, jadi ini pasti bukan persoalan rambut indahnya. Pasti ada yang mengganggu pikiran putri mungilku.

13445712_10154354775259015_5075215379914806482_n

Sebelum aku bertanya, Ayal sudah bertanya duluan. “Bah, kenapa sih temen-temenku di sekolah bilang kalau Ahok bilang Al Qur’an bohong?”

Wah pertanyaan berat. Anak2 SD sekarang memang cihuy.

***

 Abah: “Mbak Ayal dalam pidato di Kepulauan Seribu, Ahok mengatakan ….dibohongi pake surat Al Maidah 51….. “

“Trus” kata Ayal?

“Ada orang namanya Buni Yani, bikin transkrip atau catatan menghilangkan kata “pakai” dan dijadikan status di facebook. Jadilah Ahok dituliskan mengatakan dibohongin Al Maidah 51. Nah Buni Yani sudah mengaku kalau dia mengilangkan kata “pakai”. Padahal statusnya Buni Yani sudah menyebar kemana-mana. Membuat banyak orang merasa Ahok menistakan agama Islam. Menimbulkan kemarahan di mana-mana. (http://metro.news.viva.co.id/news/read/833401-buni-yani-bicara-soal-transkrip-video-ahok-kutip-al-maidah)

Ayal menyambar “Lha memang bedanya dibohongi Al Maidah 51 dengan dibohongi pake Al Maidah 51 apa bah?”

Abah tersenyum “Mbak Ayal sudah makan?”

Ayal menjawab “Sudah Bah”

Abah: “Makan pake sendok atau makan sendok”

Ayal ketawa, “Makan pake sendok Bah, masak makan sendok”

Ilham menimpali “Kalau makan sendok, sakit dong peyutnya”

Abah : ”Nah, semudah perbedaan makan pake sendok dengan makan sendok, semudah pula kita membedakan dibohongi pake Al maidah 51 dan dibohongi Al Maidah 51”

Ayal: “Hmm sekarang aku mengerti “

Abah: “Jadi yang disebut bohong oleh Ahok bukanlah Al Maidah 51 tapi orang yang menggunakan Al Maidah 51. Jadi kalau mau dilaporkan ke Polisi, bukan menistakan agama, tapi pencemaran nama baik orang-orang yang merasa menggunakan Surat Al Maidah ayat 51 dalam ceramah atau pidato”

Ayal : “Lha emangnya di Al Maidah ayat 51 apa yang dipermasalahkan?”

Abah: “Nah yang dipermasalahkan adalah tafsir Awliya (Aulia), sebagian orang mengatakan maknanya adalah pemimpin nah sebagian mengatakan teman setia.”

Ayal : “Coba kita periksa Qur’an di rumah kita”

Ayal beringsut mengambil Al Qur’an dan terjemahannya di rak buku kami

mushaf

al-maidah-51Ayal: “Ternyata teman setia Bah?”

Abah : “Ya iya lah, kan teman setia Abah namanya Aulia, he he”

Ibun :”Iya nih, Ibun jadi terkenal”

Ayal : “Bah aku masih penasaran, trus kalau dilarang mengambil non muslim menjadi Aulia, maknanya gimana?

Abah : “Nah, segala sesuatu ada ilmunya, ini ada tulisan Om Himmi yang bisa kamu baca (http://www.ngopikhos.net/2016/10/31/mengambil-non-muslim-sebagai-auliya-haram/). Abah dulu nyantri gak selesai, kebanyakan belajar ilmu kesaktian, he he. Abah belajarnya Ilmu Politik sampai S3, jadi melihatnya dari sudut pandang ilmu politik.

Ayal : “Hmm trus temenku ada yang bilang, jangan-jangan Ahok dianggap Nabi, gak boleh disalahkan”

Abah: “Astaghfirullah, Nabi terakhir ya Nabi Muhammad nak, tolong ingatkan temanmu itu (Dengan nada bijak bestari). Ahok jelas punya banyak kekurangan: mulutnya sering asal bunyi, menggunakan pendekatan kurang manusiawi dalam penggusuran, trus sering kurang bijak dan reaktif, juga terkesan melakukan militerisme di Jakarta. Tapi lahir sebagai orang keturunan Cina jelas bukan kekurangan, kan orang gak bisa milih lahir jadi orang China, Jepang atau Banten. Nah soal agama, mending kita doakan Ahok dapet hidayah”

Ayal: Bener juga ya (Sambil garuk-garuk).

Abah: “Ya iyalah. Abah senang Mbak Ayal bertanya, jadi kita bisa mengecek bareng-bareng informasi dari sumbernya, gak jadi korban hoax. Kalau ada mahasiswa Abah yang bikin tesis ngambil sumber gak jelas, pake katanya-katanya padahal sumber yang jelas tersedia, pasti gak lulus, disuruh penelitian ulang sama Abah. Itu menunjukkan kemalasan berpikir, tidak mensyukuri nikmat Allah.

Ayal: “Untung aku gak jadi mahasiswa Abah”

***

Bapak dan Ibu, sentimen agama memang seringkali dipakai dalam politik. Nah jika ada yang tertarik  membaca, ada ulasan spesial Journal of Current Southeast Asian Affairs dari GIGA Hamburg. Rasanya kawan saya Ken Miichi menulis soal etnis dan agama dalam Pilkada Jakarta 2012. (https://journals.sub.uni-hamburg.de/giga/jsaa/issue/view/106)

Iklan

78 comments

  1. Assalamualaikum
    Bah mohon ijin, dulu sy diam2 suka masuk blog ini mengikuti berita “remunerasi”…
    Mohon ijin memberi tanggapan. Mungkin analisis oleh MUI bukan kata “pakai”nya, tetapi kata BOHONGnya. Mungkin jg bukan tentang alat, atau tafsir, tapi tentang makna. Menurut kbbi
    berbohong/ber•bo•hong/ v menyatakan sesuatu yang tidak benar
    Kalo ada kalimat DIBOHONGI PAKAI SURAT ALMAIDAH, …. kalimat lengkapnya jadi
    (Bapak/Ibu) DIBOHONGI (orang) PAKAI SURAT ALMAIDAH
    Merujuk pada arti berbohong sbg : menyatakan sesuatu yang tidak benar …. kalimat di atas dapat dimaknai
    1) “Sesuatu” yang disampaikan itu informasi yang tidak benar. Yang disampaikan itu surat Almaidah, maka surat Almaidah itu dianggap tidak benar/tidak mengandung kebenaran. (mungkin ini yg disebut penistaan)
    2) Orang yg menyampaikan surat Almaidah telah berbohong
    Orang yang menyampaikan surat itu dikatakan PEMBOHONG karena menyatakan sesuatu yang tidak benar. Yg biasa menyampaikan surat Almaidah itu kita tau siapa, Nabi, ulama, ustadz …. malah politisi. Politisi yg tukang bohong pun jika menyampaikan surat Almaidah mestinya tak mengubah nilai benar surat Almaidah, artinya dia tdk sedang berbohong.Maka dlm konteks apa pun mestinya si penyampai pesan tidaklah sedang berbohong.
    3) Jika diakhiri dengan kata “dibodohin”, maka si penerima pesan dianggap bodoh. Ummat Islam dianggap bodoh
    Maka kesimpulan MUI menyangkut 3 objek : pada Ulama (penghinaan), pada Surat Almaidah (penistaan), pada Umat (penghinaan)
    Jadi penggunaan kata pakai, atau perbedaan tafsir sepertinya bukan objek yg direspon MUI
    Wallahu ‘alam

    • Assalamualaikum..
      mohon ijin berbagi juga abah
      buat kita saling memberi fererensi
      “Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah UMMUL-KITAABI (pokok-pokok isi Al Quran) dan yang lain ayat-ayat mutasyaabihaat. Adapun orang orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta`wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta`wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (daripadanya) kecuali orang-orang yang berakal”. (Ali Imron : 7)

      lebih lengkap bisa dilihat dari sumber AL-Qur’an langsung
      juga untuk lebih penjelasan bisa kunjungi sumber dari web : https://muslimsaja.wordpress.com/2010/11/19/ayat-ayat-muhkamaat-dan-mutasyaabihaat/
      semoga Allah senantiasa memberikan kita Petunjuk sehingga kita tidak condong kepada kesesatan Amiin

      • padahal tidak ada yang mengetahui ta`wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”

        Tapi pak saya rasa artikel bapak ini seperti mengajak muslim untuk memilih ahok.. bapak berani mempertanggung jawabkannya?

      • Yang dijadikan acuan sesat itu apa? Kalau tidak memilih pemimpin nonmuslim apakah bisa dikatakan sesat? (dalam menafsirkan Surat Al-maidah)

    • Mohon maaf saya menpunyai pemikiran yang lain.
      Setelah saya mengamati ucapan ahok, lebih ke isi pembicaraannya adalah bahwa apabila orang tidak mau memilih dia, tidak usah orang lain mempengaruhi pemilih dengan membawa surat almaidah. Biarkan pemilih memilih berdasarkan pandangannya

      Seperti yang kita tau bahwa banyak yang provokatif dalam menolak ahok sebagai pemimpin yang non muslim. Dan dengan menyodorkan surat Almaidah tersebut.

      Dan sebagai orang jakarta saya tahu sekali banyak tekanan2 yang provokatif kepada ahok sebagai gubernur. Bahkan semua intrik politik.

      Jadi konten kata bohong memakai surat Almaidah ditujukan kepada orang yang tidak suka kepada ahok, dan digunakan alat mempengaruhi keputusan orang lain. Dalam arti kata bila orang tersebut tidak suka dengan ahok, katakan tidak suka. Bukan dengan menunjukan ketidaksukaan tapi surat almaidah yang dijadikan dasarnya. Dan orang tersebut membohongin diri sendiri yang pada dasarnya memang dia tidak suka, bukan atas dasar surat Almaidah. Maka dari itu seharusnya tidak sepantasnya orang yang memilih dipengaruhi hal hal yang berbau sara. Tapi harus dasar nurani.

      Saya harap kita sebagai pemeluk agama terbesar di indonesia ini bisa berbesar hati menerima permohonan maaf ahok. Walaupun ternyata secara hukum ternyata tidak ada unsur penistaan terhadap agama islam.

      Sekali lagi saya hanya warga jakarta yang ingin kehidupan lebih baik tanpa harus ada permusuhan dan kebencian.

      • Sepakat.
        Manusia (agama apapun, beragama atau tidak), pasti pernah ‘keseleo lidah’. Saya kira ini celah yg dimanfaatkan orang-orang yang benci. Momentum nya tepat, lalu dibombastis, digoreng, dibakar.. Saya muslim yang tidak ada urusannya dengan ahok dan jakarta.

      • Setuju dengan pendapat anda.Penjelasan yang berdasarkan common sense ,tidak rumit.Saya pikir kalau mendengar langsung dalam konteks suasana saat itu dimana kalimat yang menghebohkan itu hanya merupakan bagian sangat kecil dari perbincangan panjang, kita akan sampai pada kesimpulan anda .

      • dalam isi pembicaraan nya ahok di hadapan warga pulau seribu dan juga dengan kapasitasnnya beliau sebagai pejabat/pemimpin daerah (gubernur dki) yang juga diketahui oleh semua orang masyarakat indonesia bahwa beliau adalah seorang non muslim (bukan beragama islam)…beliau (ahok) berusaha menyampaikan pesan dan memberikan pemahaman pada warga pulau seribu yang menghadiri pertemuan dengan ahok bahwa ada sebagian yang menjadi lawan politik ahok dlm pilkada dki nanti berusaha tuk menggunakan kitab suci al quran sebagai alat politik tuk melawan ahok…

        jika ahok yang tidak meng-iman-i dan atau tidak pula meyakini dan percaya pada kebenaran kitab suci al quran dan beliau sebagai non muslim seharusnya tidak menyebut dan menggunakan dalam pidatonya satu ayat pun yang ada dalam al quran dalam hal ini adalah surat al maidah 51 (yang meskipun dalam konteks persaingan pilkada dki)…, bisa jadi niat umat islam demo 4 november nanti tidak akan pernah ada dan mungkin persoalannya akan jauh berbeda dgn yang telah terjadi sekarang ini…

        ada pepatah lama yang mungkin ahok lupa…”MULUT MU ADALAH HARIMAU MU”…!!!

      • Saya juga sangat setuju dengan pendapat anda…..kalau kita tidak suka dengan seseorang atau sesuatu yg bisa dilihat dengan mata awam jangan lah berkedok dengan menggunakan agama supaya di setujui dengan pihak lain yg dengan dasar pengetahuan agamanya sedikit dan dengan mudah terprovokasinya…….

    • tapi kan niat bohong nya itu dibuat oleh si pengguna tersebut.. kita ambil contoh
      Matius 5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang
      yang mau meminjam dari padamu

      anda diberikan ayat ini oleh seorang pengemis “lumpuh” apakah anda harus wajib memberi langsung/meminjamkan uang kepada pengemis yang “berpura2 lumpuh” kalo saya prefer pribadi melalui tempat ibadah karena pasti tepat sasaran karena kenyataannya anda nilai sendiri ya

      apakah hati nurani anda tetap sesuai dengan pernyataan tersebut atau ada alasan lain?

      gara” kata pakai orang2 kok ga bisa cerna..
      gue agama kristiani nih gue pake dengan kata gini:
      – jangan mau dibohongi PAKAI ALKITAB bla bla
      – jangan mau dibohongi ALKITAB atau jangan mau dibohongi oleh ALKITAB
      disini udah jelas ya,
      maksudnya dari kalimat 1 kan itu objeknya bukan alkitab melainkan seseorang yang berbohong memakai alkitab
      nah kalo kalimat kedua baru yah objek yang dimaksud adalah alkitab jadi ini baru mempersalahkan alkitab karena telah berbohong..

      contoh 2:
      – jangan mau dibohongi PAKAI KAFIR
      – jangan mau dibohongi oleh KAFIR / kafir
      kalimat pertama maksudnya, ada dalang yg menggunakan si kafir untuk bohong
      kalimat kedua maksudnya, ya si KAFIR itu yang langsung bohong atas kemauan dia sendiri
      betul kan?

      contoh 3 biar simple:
      – jangan mau dibodohi PAKAII buku
      – jangan mau dibodohi oleh buku / buku
      kalimat pertama, maksudnya si buku itu dijadikan alat untuk membodohi orang
      kalimat kedua, buku lah yang disalahkan karena telah membodohi

      jadi sebenarnya, untuk kasus yang nanti 4 november itu sebenarnya gara2 kata PAKAI aja
      yang sebenarnya udah jelas kelihatan arti dari kata tersebut betul kan??

      sisanya nilai sendiri aja yah, saya bukan pro ahok cuman meluruskan bahasa indonesia yang benar

      jika versi inggris:
      he crushed with car
      he crushed BY car

      what i mean, in first sentence someone use CAR to CURSH HIM . the suspect is someone who use the car
      in second sentence the suspect is the car and the cause can happen because brake broken?

      the ice melt by sun
      the ice melt with sun

      what i mean, in first sentence someone use SUN to melt ice . the suspect is someone who melt the ice with sun
      in second sentence the suspect is the sun and the cause can happen because its natural?

      well..
      5 contoh tersebut sih seharusnya sudah jelas ya arti dari yang dimaksud tidak ada kata OLEH yang ada hanyalah kata PAKAI
      karena si PAKAI itu penentu objek atau subjek

      nah kalo perlu kt belajar ulang SPOK
      SUBJEK – PREDIKAT – OBJEK – KETERANGAN

      • Saya mengutip penjelasan ini dari komentar netizen yg lain…

        Membedah Sisi Linguistik Kalimat Pak Basuki*

        Sebenarnya saya sudah malas untuk membahas hal ini. Namun nurani saya terusik saat pembela Pak Basuki berdalih tidak ada yang salah dengan kalimat Pak Basuki. Salah satu yang membuat saya heran adalah pernyataan Pak Nusron Wahid yang notabenya adalah tokoh NU.

        Baik, dalam tulisan ini saya tidak akan berpolemik masalah agamanya (jelas saya bukan ahlinya). Tulisan ini akan lebih difokuskan untuk membedah sisi linguistik, sisi kaidah bahasa yang beliau gunakan.

        Ini adalah potongan kalimat beliau :

        “Dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macam-macam..”

        Sengaja saya fokuskan pada kalimat yang menimbulkan polemik ini. Saya sudah melihat keseluruhan video, dan memang masalahnya ada pada frasa ini.

        Terjemahan versi sebagian besar orang : Pak Basuki menistakan surat Al Maidah. Al Maidah 51 dibilang bohong oleh Pak Basuki.

        Terjemahan versi pembela Pak Basuki : Pak Basuki tidak menistakan Al Maidah 51. Dia menyoroti orang yang membawa surat Al Maidah 51 untuk berbohong.

        Mari kita bedah dengan kepala dingin. Jika kita ubah kalimat di atas dengan struktur yang lengkap maka akan menjadi seperti ini :

        “Anda dibohongin orang pakai surat Al Maidah 51” – Ini adalah kalimat pasif.

        Anda : Objek
        Dibohongin : Predikat
        Orang : Subjek
        Pakai surat Al Maidah 51 : Keterangan Alat

        Dengan struktur kalimat seperti ini, jelas yang disasar dalam kalimat Pak Basuki adalah SUBYEK nya. Yaitu “orang”. Dalam hal ini orang yang menggunakan surat Al Maidah 51.

        Karena Surat Al Maidah 51 di sini hanya sebagai keterangan alat yang sifatnya NETRAL. Saya analogikan dengan struktur kalimat yang sama seperti ini :

        “Anda dipukul orang pakai penggaris.”

        Struktur kalimat di atas sama, yaitu : OPSK . Jenis kalimat pasif. Subyek ada pada orang. Sedangkan penggaris merupakan keterangan alat yang bersifat netral.

        Di sini menariknya.

        Penggaris memang bersifat netral. Bisa dipakai menggaris, memukul dan yang lainnya tergantung predikatnya. Yang menentukan apakah si penggaris ini fungsinya menjadi positif atau negatif adalah predikatnya.

        Nah masalahnya adalah apakah Surat Al Maidah 51 bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong?

        Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bohong/bo·hong/ berarti tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya; dusta:

        Dan inilah arti dari surat Al Maidah 51 tersebut : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

        Makna dari surat Al Maidah 51 tersebut sudah sangat jelas. Bukan kalimat bersayap yang bisa dimultitafsirkan. Tanpa dibacakan oleh orang lain, seseorang yang membaca langsung Surat Al Maidah 51 pun mampu memahami artinya.

        Kesimpulan saya, dengan makna sejelas ini surat Al Maidah 51 TIDAK BISA DIJADIKAN ALAT UNTUK BERBOHONG. Jadi ketika Pak Basuki berkata dengan kalimat seperti itu, sudah pasti dia menyakiti umat islam karena menempatkan Al Maidah 51 sebagai “keterangan alat” yang didahului oleh predikat bohong. Menempelkan sesuatu yang suci dengan sebuah kata negatif, itulah kesalahannya.

        Sebuah logika yang sama dengan kasus seperti ini :

        Seseorang Ustadz menghimbau jamaahnya : “Jangan makan babi, Allah mengharamkannya dalam Surat Al Maidah ayat 3”.

        Pedagang babi lalu komplain. “Anda jangan mau dibohongi Ustadz pake Surat Al Maidah Ayat 3″.

        atau

        Seseorang Ustadz menghimbau jamaahnya, ” Al Quran mengharamkan khamr dan judi dalam Surat Al Maidah ayat 90″.

        Bandar judi dan produsen vodka pun protes, “Anda jangan mau dibohongi Ustadz pakai Surat Al Maidah Ayat 90. ”

        Jika Anda sudah membaca arti Surat Al Maidah Ayat 3 dan 90 , mana yang akan Anda percaya? Ustadz yang memberitahu Anda atau Pedagang Babi, Khamr, dan Bandar Judinya ?

        Itu pilihan Anda. Namun sebagai orang yang mengaku muslim, jika Al Qur’an dan As Sunnah tidak menjadi pegangan utama kita, apakah kita masih layak menyebut diri kita muslim?

        Pak Basuki yang terhormat, selama tinggal di Jakarta saya mengalami dua periode gubernur. Pak Fauzi Bowo dan Pak Basuki. Secara kinerja, saya angkat topi terhadap Anda yang sudah membuat banyak perubahan di kota tercinta kami ini.

        Katakanlah kinerja Pak Basuki ibarat makanan yang sangat enak (walaupun tentu saja ini debatable) , bungkus makanan ini sangat kotor. Saya ambil analogi makanan kesukaan saya adalah Mie Ayam. Saya akan menolak memakan mie ayam itu jika dibungkus memakai kulit babi yang busuk. Namun saya akan memakan mie ayam tersebut jika dibungkus dengan wadah yang bersih dan halal.

        Jika ada dua pilihan untuk masyarakat Jakarta :

        1. Makanan enak namun bungkusnya kotor dan haram

        2. Makanan enak dan bungkusnya bersih dan halal

        Maka saya yakin masayakat Jakarta ini akan memilih yang kedua. Bagaimana dengan Anda?

        Jakarta, 7 Oktober 2016
        Brili Agung
        Penulis 23 Buku⁠⁠⁠⁠

  2. DARI sejak Jokowi-Ahok TERDENGAR oleh kuping saya yang JAUH disebrang ini… saya BANYAK mendengar SERANGAN bertubi2 pada Jokowi dan Ahok ini… TETAPI sejauh PENGAMATAN saya melalui BERITA2 yang masuk… HANYA decak KAGUM yang saya RASAKAN… dan sejak MENGIKUTI serangan2 dari LAWAN politik Jokowi-Ahok… HANYA decak BINGUNG yang saya rasakan… BINGUNG kok ADA yah lawan politik yang semakin NGOMONG… TAMBAH kelihatan BEGO nya…. Ampunnnnn

  3. sendok itu alat makan.
    al maidah 51 bukan alat untuk bohong.
    dan tidak ada yg mau pake al maidah 51 untuk bohongi orang.

    “kata Allah babi haram menurut al maidah 3”
    “mau aja dibohongi pake al maidah 3, macem2 itu, dibodohin”
    dibohongin dan dibodohin siapa?
    Allah? Malaikat? Nabi? KItab? Ulama?

    kesian anakmu pak…

    • ceritanya si ahok kampanye dan menegaskn kpda si pemilih agar tidak terpengaruh sama orang yg menyebarkan berita pakai surat almaidah ayat5.. artinya dia hnya mengingatkn agar si pemilih tdk gampang dibodohin sama orang itu atau lawan politiknya.. tidak bermaksud untuk menistakan kalam Allah.. cerna maksud dan tujuannya.. dan jgn berpikir dgn emosi tpi awalilah dgn bismillah

    • Yang bisa mengetahui penafsiran/kata-kata tsb pada al maidah siapa..?? Allah atau bukan..? Bukan HABIB.. BUKAN ULAMA… BUKAN USTAD… DAN LAINNYA.. Sama seperti siapa yang mengetahui isi alkitab persisnya..?? Allah atau bukan..? BUKAN PENDETA, BUKAN PAUS, BUKAN ROMO, DAN LAINNYA..

      Nah jadi yang tau maksud kata-kata ahok berkata seperti itu ya siapa…? Ahok atau siapa..? Ya PAK AHOK.. BUKAN SI HABIB, BUKAN RATNA SARUMPAET, BUKAN AHMAD DHANI, BUKAN KI HAJI DAN SETERUSNYA…

      INI NEGARA PANCASILA DIMANA WARGA NEGARA BERBEDA-BEDA TETAP SATU YANG MEMILIKI HUKUM… JADI KALAU KITA WARGA NEGARA BAIK YA TAATILAH HUKUM.. LAH KALAU POLISI SEDANG MENYELIDIKI MASA MAU ANARKIS SUPAYA DIPENJARA.. KALAU GA PERCAYA KEPADA POLISI TERUS MAU SIAPA YG DI PERCAYA…? ITU NAMANYA “POLITIK BERBUNGKUS AGAMA”… COBA ANDA LIHAT BAIK BAIK DI INTERNET.. NEGARA MUSLIM YANG MEMPUNYAI PEMIMPIN WILAYAH SEPERTI GUBERNUR NON MUSLIM ADA ATAU TIDAK..? KENAPA KITA YANG PANCASILA BILANG ITU HARAM/DILARANG..?? AGAMA YA AGAMA TAPI JANGAN CAMPUR ADUKKAN AGAMA DENGAN SOSIAL.. AGAMA ITU MENUMBUHKAN IMAN DAN HATI..

      • Bagi kami yg bukan orang jakarta, bukan pula politikus, dan gak punya kepentingan apapun atas pilkada DKI.. dalam kasus ini JUSTRU AHOK yg duluan melampaui batas masuk wilayah agama lain….shingga seolah campur aduk.

      • Artikel bapak mengajak orang memilih ahok.. tapi dilain pihak bapak bilang ” Yang bisa mengetahui penafsiran/kata-kata tsb pada al maidah siapa..?? Allah atau bukan..? Bukan HABIB.. BUKAN ULAMA… BUKAN USTAD… DAN LAINNYA.
        Kalau bapak ga percaya sama habib, ustad dan lainnya bapak mau percaya sama siapa lagi..
        Ahok?
        .

    • Seandainya sikap toleransi sdh menjadi darah dan daging tdk akan ada permasalahan ini, sayang lebih banyak sikap curiga dan perbedaan yg didengungkan sehingga terjadi gap diantara masing2 penganut, dan sayangnya hukum berkeadilan pun lambat mengantisipasi, serta politik dan kekuasaan meracuni kebhinekaan, masihkah kita anak2 bangsa Indonesia hidup dalam kebhinekaan semu, atau kita bangun dari tidur mewujudkan cita2 Sumpah Pemuda yg menjadi cikal bakal Bangsa Indonesia… Salam Satu Bangsa Indonesia

    • Abu Kalash Al A’raf. Anda pasti kacung, office boy, Supir atau cleaning service? Tingkat pendidikan anda rendah sekali ya. Atau emang IQ anda jongkok?

    • Saya tanya kepada saudara.

      Mobil alat apa? Transportasi setuju ya?
      Pisau dapur alat apa? Memotong bahan makan setuju ya?

      Apakah mobil bisa dipakai membunuh orang? Bisa. Tinggal tabrak aja

      Apakah pisau dapur bisa dipakai membunuh orang? Bisa. Tinggal tusuk aha

      Apakah tulisan/ilmu/pengetahuan/tafsir agama bisa dipakai membohongi orang? Bisa. Tafsirkan saja sesuai kebutuhanmu

      Jadi pendapat anda kurang tepat. Semua bisa dipakai untuk apapun tergantung penggunanya

  4. Untuk mas abi, memang pada dasarnya pemikiran manusia itu ada bermacam2 namun sebaiknya kita berpikir baik2 maksud dan tujuan dari perkataan ahok, dia merujuk kepada orang2 yg selama ini ramai mengatakan bahwa ahok itu tidak pantas menjadi gubernur dikarenakan surat al – maidah, seharusnya kita sebagai umat islam meskipun benar ada atau tidak nya hal tsb di surat al – maidah tidak secara terbuka dan jor joran mengatakan hal tsb karena kita juga harus menjaga perasaan kandidat non muslim yg ikut bersaing juga, coba anda bayangkan bila anda diposisi ahok dan anda dikatakan seperti itu di depan publik langsung yg dilihat banyak orang? Pasti anda juga sakit hati bukan, jadi alangkah baiknya kita sebagai umat muslim lebih bisa dewasa dan menjaga perasaan non muslim lainnya

    • Seandainya sikap toleransi sdh menjadi darah dan daging tdk akan ada permasalahan ini, sayang lebih banyak sikap curiga dan perbedaan yg didengungkan sehingga terjadi gap diantara masing2 penganut, dan sayangnya hukum berkeadilan pun lambat mengantisipasi, serta politik dan kekuasaan meracuni kebhinekaan, masihkah kita anak2 bangsa Indonesia hidup dalam kebhinekaan semu, atau kita bangun dari tidur mewujudkan cita2 Sumpah Pemuda yg menjadi cikal bakal Bangsa Indonesia… Salam Satu Bangsa Indonesia

    • Kalo sy ada diposisi ahok mka sy akan mengundurkan diri dari pilgub dan pergi dari indonesia..biarkan jakarta dipimpin oleh orang2 yang hanya gemar di sembah…kesalahan ahok adalah :
      1. Dia hidup di indonesia
      2. Dia dilahirkan sebagai cina
      3. Dia bukan islam/muslim
      4. Dia bukan orang jawa

      Sy ini islam/muslim yg merasa bingung melihat dan mendengar tanggapan orang islam di luar sana yg dengan mudah dihasut oleh isu sara terkait pilgub Dki mereka mau saja terbawa oleh arus politik di DKI
      Sy sendiri bingung dibagian mana dr video itu yg di sebut menistakan agama..?? #savejakarta

  5. Kalau sja kata pakai yg diucapkan ahok tidak dihilangkan maka tidak ada yg salah menafsirkan, krn kata pakai dihilang oleh sumber infomasi makah ahok langsung disalahkan, trus sumbet informasi yg membuat susana nkri gaduh, dia diapakan, sedangkan sumber infomasi sudah mengakui bahwa ada kata yg di hilanglankan, berarti ada unsur kesengajaan untuk menyalahkan orang lain. Nah fpi hrs lihat dgan mata hati yg bersih dan tidak ada muatan politik, kalau saya ya simber informasi yg harus diadili krh merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara,

  6. Analoginya cukup pandai menggiring opini. Coba telaah dgn teliti lagi struktur kalimatnya.
    Dibohongi pakai Al Maidah 51 ,
    ini kalimat passif,
    sementara
    Makan pakai sendok, ini kalimat aktif.
    Jadi kalau mau bandingkan analogi secara ‘aple to aple’ harusnya dgn kalimat ini:
    Dimakan pakai mulut,
    coba hilangkan kata ‘pakai’ jadinya:
    Dimakan mulut,

    artinya sama saja kan.

    Mohon yang punya tulisan di atas memahami, sekuat apapun anda menggiring opini untuk membenarkan pernyataan ahok, kami umat Islam cukup cerdas koq memahaminya sendiri bahwa itu memang salah . Biarlah proses hukum berjalan.
    Saya prinadi sudah memaafkan ahok.

  7. Untuk kajian2 yang menyimpulkan bahwa kata “orang” dari kalimat “jangan mau dibohongin orang” dalam persoalan Al-Maidah ini adalah berarti merujuk pada Nabi, ulama, dsb. Perlu diingat:
    1. Ahok tidak menyebutkan dengan spesifik bahwa Nabi & para ulama yg beliau maksud.
    2. Sebelum sampai pada topik Al-Maidah, Ahok mengatakan “ini konteksnya pilkada ya” (jelas ranahnya politik, bukan keagamaan)
    3. Ahok dalam klarifikasinya, menyebutkan bahwa sudah menjadi pengalamannya sejak menjabat dari tahun 2003 dia di serang menggunakan ayat tersebut OLEH LAWAN POLITIK yang pengecut (bukan adu program & prestasi)
    4. Karena “orang” yang dimaksud Ahok dlm penggunaan Al-Maidah ini sudah jelas konteksnya bukan semua orang.
    Sebagai perenungan:

    “Kambing adalah hewan berkaki empat,
    Tapi tidak berarti semua hewan berkaki empat adalah kambing.”

    Begitu pula,
    “Orang yang dimaksud Ahok adalah yang menggunakan Al-Maidah,
    Tapi tidak berarti semua orang yang menggunakan Al-Maidah adalah orang yang dimaksud Ahok.

    Sekian untuk pertimbangan pihak-pihak yang dengan ceroboh menyimpulkan kajiannya bahwa semua orang yang menyampaikan Al-Maidah adalah yang Ahok sindir. Sekali lagi bukan.

  8. Saya sering mendengar para ustad melarang umat nya memilih pak ahok, nanti masuk neraka dll. Suara terdengar dimana mana karena pakai speaker. Bukan saya membela pak ahok. Tapi waktu sebelum ada berita yang di tulis buni yani saya lebih dulu menonton you tube nya. Saya malah ngak tahu ada kata kata almaidah tersebut krn memang saya lihat begitu akrab perbincangan nya. Jd tidak perhatikan.
    Karena pemotongan video itu dan di hilangkan kata 2 nya apapun penjelasan orang lain tidak membawa perbedaan . Orang yang berfikir negatif dan tidak suka dengan ras china sudah langsung melabel bahwa itu memang penistaan…
    Saya sudah bukan warga jakarta jadi tidak ada kepentingan apa 2. Hanya saya kasihan dengan wajah indonesia yang jadi jelek di mata org luar.
    Terima kasih 🙂

  9. Allah SWT memberi Kecerdasaan yang luar biasa kepada beberapa manusia yang ada di dunia ini,
    Lalu Kecerdasan yang Luar biasa itu menjadi Ujian bagi manusia tersebut. untuk di gunakan kepada yang ada Manfaatnya, atau justru di bawa kepada kekufuran.
    dan Ada beberapa manusia karena terlalu cerdas melampaui batas. jadinya IDIOT, Seperti admin blog ini dan para Pendukung KAFIR AHOK.

  10. Mau dikaji ini itu, kalau dilihat masing2 pembelaan ada benarnya. Tp menurut saya dilihat dari awalnya saja, masalah ini kan jadi besar karena yang mengucapkan itu seseorang yang memang sedang diincar diamat-amati untuk dijatuhkan. Jadi pastilah akan dicari pembenaran2, teori2, apapun namanya itu supaya si orang ini bisa disalahkan dan dihukum.

    • Saya kira justru apabila Ahok bukan Gubernur … Rakyat biasa saja.. yg omong hal serupa (dibohongi pakai Al Maidah) didepan umum. .saya yakin 100℅ dia jadi buron itu… Tanpa muatan politik…

  11. Buat yg komen Alquran bukan alat untuk berbohong coba dipikir lagi… Apa bukan sudah banyak Alquran dipakai untuk berbohong demi kepentingan tertentu? Isis, Dimas Taat, Gatot Brajamusti dll

  12. Saya mengutip penjelasan ini dari komentar netizen yg lain…

    Membedah Sisi Linguistik Kalimat Pak Basuki*

    Sebenarnya saya sudah malas untuk membahas hal ini. Namun nurani saya terusik saat pembela Pak Basuki berdalih tidak ada yang salah dengan kalimat Pak Basuki. Salah satu yang membuat saya heran adalah pernyataan Pak Nusron Wahid yang notabenya adalah tokoh NU.

    Baik, dalam tulisan ini saya tidak akan berpolemik masalah agamanya (jelas saya bukan ahlinya). Tulisan ini akan lebih difokuskan untuk membedah sisi linguistik, sisi kaidah bahasa yang beliau gunakan.

    Ini adalah potongan kalimat beliau :

    “Dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macam-macam..”

    Sengaja saya fokuskan pada kalimat yang menimbulkan polemik ini. Saya sudah melihat keseluruhan video, dan memang masalahnya ada pada frasa ini.

    Terjemahan versi sebagian besar orang : Pak Basuki menistakan surat Al Maidah. Al Maidah 51 dibilang bohong oleh Pak Basuki.

    Terjemahan versi pembela Pak Basuki : Pak Basuki tidak menistakan Al Maidah 51. Dia menyoroti orang yang membawa surat Al Maidah 51 untuk berbohong.

    Mari kita bedah dengan kepala dingin. Jika kita ubah kalimat di atas dengan struktur yang lengkap maka akan menjadi seperti ini :

    “Anda dibohongin orang pakai surat Al Maidah 51” – Ini adalah kalimat pasif.

    Anda : Objek
    Dibohongin : Predikat
    Orang : Subjek
    Pakai surat Al Maidah 51 : Keterangan Alat

    Dengan struktur kalimat seperti ini, jelas yang disasar dalam kalimat Pak Basuki adalah SUBYEK nya. Yaitu “orang”. Dalam hal ini orang yang menggunakan surat Al Maidah 51.

    Karena Surat Al Maidah 51 di sini hanya sebagai keterangan alat yang sifatnya NETRAL. Saya analogikan dengan struktur kalimat yang sama seperti ini :

    “Anda dipukul orang pakai penggaris.”

    Struktur kalimat di atas sama, yaitu : OPSK . Jenis kalimat pasif. Subyek ada pada orang. Sedangkan penggaris merupakan keterangan alat yang bersifat netral.

    Di sini menariknya.

    Penggaris memang bersifat netral. Bisa dipakai menggaris, memukul dan yang lainnya tergantung predikatnya. Yang menentukan apakah si penggaris ini fungsinya menjadi positif atau negatif adalah predikatnya.

    Nah masalahnya adalah apakah Surat Al Maidah 51 bisa digunakan sebagai alat untuk berbohong?

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bohong/bo·hong/ berarti tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya; dusta:

    Dan inilah arti dari surat Al Maidah 51 tersebut : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

    Makna dari surat Al Maidah 51 tersebut sudah sangat jelas. Bukan kalimat bersayap yang bisa dimultitafsirkan. Tanpa dibacakan oleh orang lain, seseorang yang membaca langsung Surat Al Maidah 51 pun mampu memahami artinya.

    Kesimpulan saya, dengan makna sejelas ini surat Al Maidah 51 TIDAK BISA DIJADIKAN ALAT UNTUK BERBOHONG. Jadi ketika Pak Basuki berkata dengan kalimat seperti itu, sudah pasti dia menyakiti umat islam karena menempatkan Al Maidah 51 sebagai “keterangan alat” yang didahului oleh predikat bohong. Menempelkan sesuatu yang suci dengan sebuah kata negatif, itulah kesalahannya.

    Sebuah logika yang sama dengan kasus seperti ini :

    Seseorang Ustadz menghimbau jamaahnya : “Jangan makan babi, Allah mengharamkannya dalam Surat Al Maidah ayat 3”.

    Pedagang babi lalu komplain. “Anda jangan mau dibohongi Ustadz pake Surat Al Maidah Ayat 3″.

    atau

    Seseorang Ustadz menghimbau jamaahnya, ” Al Quran mengharamkan khamr dan judi dalam Surat Al Maidah ayat 90″.

    Bandar judi dan produsen vodka pun protes, “Anda jangan mau dibohongi Ustadz pakai Surat Al Maidah Ayat 90. ”

    Jika Anda sudah membaca arti Surat Al Maidah Ayat 3 dan 90 , mana yang akan Anda percaya? Ustadz yang memberitahu Anda atau Pedagang Babi, Khamr, dan Bandar Judinya ?

    Itu pilihan Anda. Namun sebagai orang yang mengaku muslim, jika Al Qur’an dan As Sunnah tidak menjadi pegangan utama kita, apakah kita masih layak menyebut diri kita muslim?

    Pak Basuki yang terhormat, selama tinggal di Jakarta saya mengalami dua periode gubernur. Pak Fauzi Bowo dan Pak Basuki. Secara kinerja, saya angkat topi terhadap Anda yang sudah membuat banyak perubahan di kota tercinta kami ini.

    Katakanlah kinerja Pak Basuki ibarat makanan yang sangat enak (walaupun tentu saja ini debatable) , bungkus makanan ini sangat kotor. Saya ambil analogi makanan kesukaan saya adalah Mie Ayam. Saya akan menolak memakan mie ayam itu jika dibungkus memakai kulit babi yang busuk. Namun saya akan memakan mie ayam tersebut jika dibungkus dengan wadah yang bersih dan halal.

    Jika ada dua pilihan untuk masyarakat Jakarta :

    1. Makanan enak namun bungkusnya kotor dan haram

    2. Makanan enak dan bungkusnya bersih dan halal

    Maka saya yakin masayakat Jakarta ini akan memilih yang kedua. Bagaimana dengan Anda?

    Jakarta, 7 Oktober 2016
    Brili Agung
    Penulis 23 Buku⁠⁠⁠⁠

  13. dalam isi pembicaraan nya ahok di hadapan warga pulau seribu dan juga dengan kapasitasnnya beliau sebagai pejabat/pemimpin daerah (gubernur dki) yang juga diketahui oleh semua orang masyarakat indonesia bahwa beliau adalah seorang non muslim (bukan beragama islam)…beliau (ahok) berusaha menyampaikan pesan dan memberikan pemahaman pada warga pulau seribu yang menghadiri pertemuan dengan ahok bahwa ada sebagian yang menjadi lawan politik ahok dlm pilkada dki nanti berusaha tuk menggunakan kitab suci al quran sebagai alat politik tuk melawan ahok…

    jika ahok yang tidak meng-iman-i dan atau tidak pula meyakini dan percaya pada kebenaran kitab suci al quran dan beliau sebagai non muslim seharusnya tidak menyebut dan menggunakan dalam pidatonya satu ayat pun yang ada dalam al quran dalam hal ini adalah surat al maidah 51 (yang meskipun dalam konteks persaingan pilkada dki)…, bisa jadi niat umat islam demo 4 november nanti tidak akan pernah ada dan mungkin persoalannya akan jauh berbeda dgn yang telah terjadi sekarang ini…

    ada pepatah lama yang mungkin ahok lupa…”MULUT MU ADALAH HARIMAU MU”…!!!⁠⁠⁠⁠

  14. Luar biasa sekali adek Ayal ya, pertanyaannya sekualitas orang dewasa.
    Saya disini ingin sedikit mengkritisi perumpaan yang dipakai di kalimat : “Jangan mau dibohongi pakai Al-Maidah 51” dengan “Jangan makan pakai sendok”.
    Jelas sangat berbeda. Yang satu memakai kata kerja “di-bohong-i” sedangkan satunya lagi “makan” tanpa tambahan “di-i”. Tidak bisa disamakan.
    Kalau mau, pakai perumpaan lain. Misal “Jangan mau dipukuli pakai sendok”.
    Pertanyaan yg muncul :
    1. Siapa sih orang yang mau mukuli pakai sendok, jahat banget.
    2. Kenapa tidak mau dipukul pakai sendok? Mungkin karena sendok keras, bisa bikin sakit atau luka. Atau sendoknya tajam.. dll. Yang jelas enggak mau dipukul pakai sendok karena ada yang tidak benar.
    Kalau kita kembalikan ke masalah perkataan pak Ahok, berarti juga bisa dimunculkan 2 persepsi :
    1. Siapa sih yang mau berbohong pakai Al-Maidah 51? Jahat banget
    2. Kenapa enggak mau dibohongi pakai Al-Maidah 51? Berarti ada yg tidak benar dg Al-Maidah 51. Karena bisa bikin masalah, bikin perpecahan antar-umat, dll.
    MARI KITA BERFIKIR DENGAN LEBIH JERNIH. PAKAILAH PERUMPAAN YANG BENAR, SEHINGGA KELIHATAN MANA YG BENAR DAN MANA YANG SALAH.
    salam…
    oiya abah, kalau boleh, minta dek Ayalnya dijelaskan ulang dengan perumpaan kalimat yang setara ya 🙂

    • Sangat setuju dengan pendapat anda. Perumpamaan kalimat yg disampaikan abah dengan kalimat yang disampaikan oleh Pak Ahok sangatlah berbeda:
      “Jangan mau dibohongi pakai Al-Maidah 51”; kalimat ini menggunakan Kata Kerja tidak Langsung (dibohongi)
      sedangkan kalimat yang disampaikan abah “Makan pakai sendok/makan sendok” merupakan kata kerja langsung (makan). Jadi alangkah baiknya Abah selaku Bapak Dosen & seorang ayah yang bijak tidak hanya memberikan perumpamaan yang asal-asalan tapi membuat perumpamaan kalimat yang sepadan sehingga tidak salah tafsir. Jika sudah mendapatkan kalimat perumpamaan yang sepadan silahkan abah telisik kembali maknanya secara seksama 😄

    • Di konteks kalimat Ahok sejalan dengan :
      “anak kecil itu dibujuk pakai permen”
      Pada kalimat tersebut, permen tidak membujuk dan permen tetap manis.
      Pada kalimat Ahok, Ayat suci tidak membohongi, Ayat suci tetap suci,
      yang dikritisi adalah mereka yang menggunakan ayat suci untuk kepentingan politik, tanpa ada nama kelompok tertentu. Kalau ada yang marah, jangan jangan mereka merasa.

      • Salam
        Hahahaha jadi pepatah ada benar juga ya seperti kena air jadi basah, kena api jadi panas, kena sindir jadi marah…..

    • Repot amat. Pengen keliatan cerdas? Segala aja dicari-cari kesalahannya. Dasar picik. Jadi orang harus open-minded lah. Pinter gak susah kok.
      Kalo mau perumpamaan yang “disama-samain” karena situ otak udang pikiran sempit, coba pake ini.

      “dibohongi novel Harry Potter” sama “dibohongi pake novel Harry Potter”

      “dibohongi anaknya” sama “dibohongi pake anaknya”

      “dibohongi artikel pak Abdul Hamid” sama “dibohongi pake artikel pak Abdul Hamid”

      jelas, kan, bedanya?

  15. Aulia di terjemahan bisa pemimpin bisa teman setia. Jangan baca terjemahan, tp pelajari tafsir. Al Quran bukan buku bacaan seperti textbook. Tapi kitab suci, setiap kata ada makna yg hrs dipahami. Jangan ajari anakmu memahami Al Quran dari terjemahan Pak. Pelajari maknanya, pelajati tafsirnya. Jangan sia2kan kepintaran anakmu.

  16. Assalamualaikum bagi pembaca yang islam…… Sangat betul sekali apa yang dikataka oleh saudara hanif…..
    “Kata “dibohongi pakai” yang dipakai ahox laknatullah itu adalah betul menghina Alquran karena:
    1. Dia memakai kata dibohongi pakai Almaidah ayata 51
    2. Sampai sekarang saya belum pernah membohongi orang pakai sesuatu hal atau data yang benar
    3. Ahok memakai kata dibohongi pakai qs. Almaidah 51 berarti Ahok mengatakan surat tersebut salah atau bohong, apakah hal tersebut belum menghina Alquran……
    Wallahu A’lam….. Wassalam

  17. Mohon maaf sebelumnya pa Abah, saya tak bermaksud berdebat di room ini. Saya hanya mencoba memahami sikap mui soal ini. Kebanyakan komen fokus di kata sambung PAKAI, kata BOHONGnya yang merupakan verb/predikatnya malah dilupakan.
    Dua kata yg jadi bahan bahasan di banyak kolom komen ialah DIBOHONGIN PAKAI. Sayangnya dalam banyak analogi biasanya yg diganti kata diBOHONGin, sementara kata PAKAI dibuat tetap. Maka hasilnya: makan pakai, dipukul pakai, ditampar pakai, dibunuh pakai ….. .artinya bahwa sesuatu itu bernilai relatif tergantung pada si pemakai sesuatu itu.
    Tapi begitu kita alihkan perhatian pada kata DIBOHONGIN (mis: dibohongin pakai, dibohongin dengan), maka saya terkejut, artinya jd dalam jg. Sebab kata bohong punya arti : menyatakan sesuatu yang tidak benar (kbbi).
    Jadi kalo si X mengatakan: “Bapak/ibu dibohongin pakai/dengan” .., maka si X sedang menilai/menjudge bahwa “Bapak/ibu sedang diceritakan sesuatu yang tidak benar”.
    Jika sesuatu yang diceritakan orang itu Firman Tuhan, maka si X sedang menjudge bahwa Firman Tuhannya si audiens itu tidak benar…. atau dusta

  18. Kita bisa melihat seseorang itu beragama atau tidak, bukan dari jubahnya, bukan dari sorbannya, juga bukan dari jenggotnya, tetapi dari AKHLAK DAN PERILAKUNYA SEHARI-HARI. Tidak peduli itu muslim atau non muslim. Semua mengajarkan kedamaian. Namun karena keegoan manusia, agama mulai dijadikan alat. Semua merasa diri paling benar hingga akhirnya timbul perbedaan pendapat sampai pada puncaknya perpecahan dan peperangan. Tidak sedikit manusia yang mengatasnamakan agama untuk mendapatkan sesuatu. Untuk menunjukkan eksistensi mereka didepan umum. Bahkan untuk mencari kekuasaan. Lalu untuk apa ada agama kalau ujung-ujungnya terpecah belah. Tuhan menciptakan agama agar umatnya bisa mencapai kedamaian dan tidak tersesat dalam menjalani kehidupan. Agama itu adalah urusan pribadi seseorang dengan sang pencipta. Kita tidak perlu menunjukkan kekuatan iman kita agar diketahui orang – orang, cukup hanya kita sendiri dan Tuhan yang tahu. Beribadah tidak hanya dengan rajin sembahyang, tetapi bekerja dengan baik dan menciptakan kedamain itu juga termasuk ibadah. Apakah salah kalo orang lain menganut agama yg berbeda, jika diibaratkan perjalanan menuju ke suatu tempat yang sama, apakah dilarang memilih jalan yg berbeda tetapi tujuannya sama. Begitu juga agama yang bermuara pada kedamain hati bukan kemurkaan. Membela agama tidak perlu dengan pertumpahan darah, karena agama tidak mengajarkan kebencian. Bayangkan kalau setiap agama mengajarkan perang, membenarkan membunuh manusia hanya karena dianggap melecehkan. Dapat dipastikan perang tak berkesudahan. Apakah itu inti sari dari agama? seperti saat ini menjelang pilkada DKI, provokasi menggunakan agama mulai mencuat. Saya harap rekan-rekan dapat lebih bijak dalam menanggapi kejadian dan info-info yang menyinggung masalah SARA. Apakah anda menyukai pemimpin yang sopan, santun namun korupsi, atau bergaya koboi tapi anti korupsi, atau kombinasi keduanya. Itu terserah anda untuk memilih.

    Saya tidak bermaksud menggurui, tetapi saya hanya berusaha menenangkan suasana, dan mengingatkan kita semua bahwasanya musuh utama agama itu ada dalam diri kita masing-masing yaitu : kebencian, iri hati, amarah, dan fitnah. Jangan menilai orang dari agamanya, tapi nilailah dari perilakunya dan apa yang telah dia lakukan.

  19. Al-Qur’an adalah wahyu dari Allah SWT (umat islam) dan Al-Qur’an itu isinya memang benar (tentang sains saja sudah ada bukti kebenarannya), seperti surah Al-Ma’idah ayat 51 itu perintah Allah SWT melarang memilih Aulia’ (Pemimin ataupun teman setia) dari kalangan non muslim dan tidak ada unsur kebohongan dari sana.

    Dan orang yang menyampaikan baik Nabi, Ulama, Ki’yai, Wali, Ustadz, masyarakat, orang individu tidak ada unsur membohongi pakai surah Al Ma’idah ayat 51 itu, sebab memang benar isi surah Al Ma’idah ayat 51 itu melarang memilih Aulia’ (Pemimin ataupun teman setia) non muslim. Jadi Ahok mengatakan “…bapak ibu nggak bisa pilih saya karena dibohongi pakai surat Al Maidah 51, macem-macem itu….” mengartikan :
    1. Wahyu yang disampaikan malaikat jibril ke nabi muhammad saw itu bohong (karena kata “pakai” mengacu pada orang yang menggunakan ayat itu dan menyampaikannya, maka ahok telah menghina Malaikat Jibril & Nabi besar Muhammad SAW)
    2. Juga mengatakan Para Wali, Ulama, Kyiai, Ustadz, Masyarakat, dll yang menyampaikan itu berbohong. Akan tetapi apa yang dibohongi Para Wali, Ulama, Kyiai, Ustadz, Masyarakat, dll? Yang mereka sampaikankan benar dari Al-Qur’an langsung. mereka menyatakan jangan memilih Aulia’ (Pemimin ataupun teman setia) no muslim .
    * klo dari awal turunnya surah saat perang, maka saat itu Aulia’ = teman setia, pemimpin perang,dll. karena al-qur’an itu isinya sampai akhir jaman, maka di jaman ini Aulia’ = Pemimin ataupun teman setia , baik saat perang, politik, kehidupan, dll.

    maka, dari situ sdh jelas AHOK menghina Malaikat Jibril (Malaikat istemewa Allah yang menyampaikan wahyunya), Nabi besar Muhammad SAW (sebagai penyebar wahyu), Para Wali, Ulama, Kyiai, Ustadz, Masyarakat, dll (yang memberitahu dan menyebarkan pelarangan memilih ahok pakai surah Al Ma’idah ayat 51, kan emang surah Al Ma’idah ayat 51 melarang memilih Aulia’ (Pemimin ataupun teman setia) non muslim, baik saat perang, politik, kehidupan, dll.)

    Jadi, saya tegaskan ulang kata Ahok jika ditambahkan “…bapak ibu nggak bisa pilih saya karena dibohongi (orang) pakai surat Al Maidah 51, macem-macem itu….”
    kata orang merujuk : Malaikat Jibril, Nabi Muhammad SAW, Para : Wali, Ulama, Kyiai, Ustadz, Masyarakat, dll. maka Ahok menghina penyampai wahyu Allah, mengina utusan Allah. dari 2 itu akan menjadi penistaan agama, karena menghina penyampai wahyu Allah, mengina utusan Allah yang merupakan satu-kesatuan agama Allah (islam) bisa ada.

    Kesimpulannya, Ahok telah menistakan agama islam karena menghina Nabi & Malaikat Allah yang menyampaikan wahyu Allah SWT, juga penyampai kepada umat sampai sekarang yaitu Para Wali, Ulama, Kyiai, Ustadz, Masyarakat, dll. mereka menyebarkan ayat telah sesuai isinya kepada umat/masyarakat, jadi mereka tidak menyebarkan unsur kebohongan apalagi kebodohan.

    Maka intinya Ahok telah Menista agama, karena memfitnah orang-orang yang menyebarkan ayat Al-Ma’idah 51 itu bohong. Orang yang mempercayainya jadi terbodohi. Padahal orang-orang yang menyebarkan ayat Al-Ma’idah 51 sudah sesuai isi ayat tersebut. Juga Nabi utusan Allah menyampaikan ayat itu membohongi umat islam agar tidak memilihnya. Padahal nabi ini penting dalam adanya agama. Apabila nabi itu bohong, maka agama juga terikut dalam hal kebohongan. Sebab nabi lah hingga ada agama ini (islam).

      • “…bapak ibu nggak bisa pilih saya karena dibohongi (orang) pakai surat Al Maidah 51, macem-macem itu….”
        Klo dibohongi orang (merujuk Para : Wali, Ulama, Kyiai, Ustadz, Masyarakat Islam, dll.) maka ahok telah menghina Para Wali, Ulama, Kyiai, Ustadz, dll. Apakah kita tinggal diam Para Wali, Ulama, Kyiai, Ustadz, Masyarakat Islam, dll. kita dihina? Para Wali, Ulama, Kyiai, Ustadz, dll.telah menyebarkan sesuai isi dari ayat tersebut (Al Ma’idah 51), tidak mungkin mereka membohongi umat islam.
        Jadi Ahok pantas di hukum karena banyak menghina orang-orang yang ingin menyebarkan ajaran agama, sebab menghina orang yang menyebarkan ajaran agama melanggar hukum. dan hukumannya harus berat sebab mana ada Para Wali, Ulama, Kyiai, Ustadz, Umat islam, dll. tidak mungkin menyebarkan isi surah Al-Ma’idah ayat 51 diluar/jauh dari hal-hal yang ada didalamnya.
        Jadi intinya, jangan menghina orang yang menyampaikan ajaran agama sesuai dari kitab-kitabnya.
        Karena ahok menghina dengan mengatakan Para Wali, Ulama, Kyiai, Ustadz, dll. membohongi umat islam. maka hukumannya lebih berat dari pembunuhan. sebab Lidah/perkataan itu lebih tajam dari pedang.
        Imam Ghazali berkata pada murid-muridnya :

        “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”. Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang… Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah “lidah manusia”. Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukaiperasaan saudaranya sendiri.”

        Jadi, bila pedang melukai tubuh, mungkin masih ada harapan sembuh . Namun kemanakah obat hendak dicari bila lidah melukai hati? . “Lidah itu lebih tajam dari pedang, bahkan pedang tertajam di dunia sekalipun karena lidah dapat melukai hati tanpa menyentuhnya…”

        Ahok telah menghina mereka sehingga hati mereka terluka, semua umat islam hatinya terluka, termasuk saya. bukan 1-2 orang saja, tapi jutaan orang hatinya terluka karena ahok telah menghina Para Wali, Ulama, Kyiai, Ustadz, dll. Sebab merekalah yang menyebarkan ajaran yang damai ini.

        Jadi, apabila hati anda tidak terluka akibat ahok menghina Para Wali, Ulama, Kyiai, Ustadz, dll. maka bersihkanlah hati anda.Sebab mungkin saya hati anda tertutup. Semoga hati anda terbuka.

      • Setahu saya hanya sedikit orang yang mengkampanyekan untuk tidak memilih Ahok menggunakan ayat dimaksud. Jikapun harus ada yang tersinggung ya hanya mereka. Bukan para wali, ulama, kiyai, ustadz, dll yang menganjurkan kebaikan dan mejaga diri dari menggunakan ayat-ayat untuk kepentingan politik. Mohon dipahami konteksnya. Seperti halnya ada mereka yang menggunakan ayat-ayat tertentu untuk mengajak anak-anak muda “berjihad” ke suriah atau menjadi pengantin bom bunuh diri. Ayatnya tidak salah, mereka yang menggunakannya secara keliru yang bermasalah. Semoga bisa memahami.

      • Jadi, apabila hati anda tidak terluka akibat ahok menghina Para Wali, Ulama, Kyiai, Ustadz, dll. maka bersihkanlah hati anda.Sebab mungkin SAJA hati anda tertutup. Semoga hati anda terbuka.

      • Insya Allah saya juga berusaha terus membersihkan serta menyeimbangkan otak & hati. juga menyeimbangkan dunia-akhirat. O y, menurut saya dalam berpolitik pun kita harus berlandaskan agama, tanpa berlandaskan agama, bisa-bisa orang terpilih pemimpin yang jauh dari pandangan islam dan bisa membuat kekacauan. (menurut saya)

        Jika saja semua hal dipemerintahan berlandaskan serta dengan aturan agama, dan dilakukan secara penuh, maka masalah-masalah pemerintahan sekarang ini bisa teratasi, bahkan tidak ada masalah, sebab dari isi dari Al-Qur’an serta Kitab-kitab islam lainnya memiliki nilai moral & ahlaq’ yang sangat tinggi. Hal Korupsi & kemiskinanpun bisa tidak ada lagi. klo hal korupsi itu terjadi akibat moral & ahlaq’ yang buruk / tidak terdidik dengan baik. makanya pemimpin islampun ada yang korupsi.

        **saya tidak memihak salah satu partai, maupun calon pemimpin
        ***saya tidak menggunakan ayat-ayat untuk kepentingan politik
        ****saya menggunakan ayat-ayat untuk kepentingan dalam segala unsur kehidupan, agar kehidupan kita semua lebih baik kedepannya, baik berteman, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, bernegara, beribadah,dll.
        ————————————————
        Juga soal ada orang yang menggunakan ayat-ayat tertentu untuk mengajak anak-anak muda “berjihad” ke suriah atau menjadi pengantin bom bunuh diri. dari yang saya teliti :
        1. Orang itu mungkin pikirannya sudah di luar batas (sehingga ahlaq’/moralnya menjadi buruk), dan orang yang terpengaruh karena dicuci otaknya.
        2. Orang itu sebenarnya Non-muslim/kafir yang sangat memusuhi islam, ia membuat skandal dengan mengatakan ia islam dan menyatakan ini itu, agar islam dikenal dunia sebagai teroris, juga orang-orang yang ikut mungkin orang bayaran yang bersedia mati, atau juga orang yang dicuci otaknya.
        itu-lah yang saya ketahui tentang ISIS, jadi ISIS itu diluar islam sdh, soalnya Islam tidak pernah mengajarkan perbuatan yang sangat keji itu. klo soal asal usul adanya ISIS saya belum bisa memastikan apakah yang tercantum seperti di No.1, 2, ataupun diluar kedua itu.

      • Sepakat Pak, PR ummat ini masih banyak. Maka di kedua tulisan terakhir saya menekankan bahwa nilai2 islam secara kaffah mesti diimplementasikan dgn menjadikan aksi 4 november kemarin sebagai momentumnya. Banyak agenda yg mesti dibenahi :kemiskinan, korupsi, kekumuhan, dsb.

  20. MasyaAllah, artikel ini penjelesannya sangat logika dan akan sangat membantu orang2 seperti saya yang sangat kurang ilmunya. semoga kita umat islam mendapat berkah atas kasus ini. amiin ya robbal alamin.

  21. Apapun alasannya, entah itu ditilik dari tatanan bahasa atau apa, kesalahan di awal itu dari Pak Ahoknya.
    Dia bukan muslim, TAK PAHAM ajaran Islam/Al-Qur’an. Tapi dia “menyerempet” tentang Al-Qur’an/penyampainya dalam pidatonya itu.
    Intinya, kalau memang bukan ahli dalam bidangnya, jangan SOK TAHU, lebih baik diam.
    & juga kata-katanya itu seolah MENUDUH ada sesuatu yang berbohong, padahal dia belum memiliki BUKTInya.
    Andai Pak Ahok mau bijaksana, kata-katanya bisa diganti seperti ini:
    “… Jika bapak ibu enggak bisa pilih saya karena agama yang dianut bapak ibu melarang demikian, enggak apa-apa. …”
    Kan jadi adem dengarnya.

    • Kalau saya biasa mendengarkan diskusi atau debat antar agama sejak kecil. Saya pikir kristolog seperti Zakir Naik atau Ahmad Deedat juga biasa berpendapat atau menyampaikan tanggapan tentang ajaran kristen. Alhamdulillah sampai sekarang tak ada yg kena pasal penistaan agama.

  22. jangan samakan ahok dengan DR zakir naik tw ahmad dedat….dia lebih sangat paham akan injil……
    apakah kami DIBOHONGI PAKAI tulisan tulisan anda……
    silahkan jawab sendiri ya abah……
    hubungkan dengan pembahasan diatas…

      • Salam
        Mungkin si ahok itu bukan manusia sehingga tdk dapat disamakan,
        atau sebaliknya. Atau seperti ini si A boleh bicara tentang si b dan si b tidak boleh bicara tentang si A, serta hanya si A yang bokeh menafsirkan, kayak gitu ya pak, mohon pencerahan, Terimakasih.

  23. Ass.ww Abah…
    Mohon maaf ..Abah warga DKI bukan ya ?
    Kalau saya orang luar DKi… Jogja tepatnya. Saya juga bukan politikus…hanya rakyat biasa saja yg alhamdulillah pernah Ngaji dan sekolah meskipun rendahan saja. Jadi sebelumnya saya gak punya kepentingan apapun atas status ahok.
    SAAT PERTAMA KALI saya dengar pidato ahok dlm versi panjang di youtube.. (Masalah belum meluas) .. begitu sampai pada ucapan dibohongin pake al Maidah …dst.
    … Dibodohin ..
    Saya lgsung berfikir “Ahok melampauui batas” dan menyakitkan hati dan telinga saya… Dan dlm hati saya berkata. “dia harus segera diproses hukum….mgkin juga diburu rame2″…..Jadi tanpa Ahok menyebut khusus siapa yg berbohong pakai Al Maidah, .. TETEP MENYAKITI BANYAK KAUM MUSLIMIN DILUAR DKI JAKARTA …

    Oo ya ABAH… soal perumpamaan MAKAN SENDOK itu…saya setuju …setuju sekali kalau putrinya Ayal dikasih penjelasan ulang… Kasihan dia kalau terlanjur terekam di memorinya yg masih ori.

  24. Ijin sharing…

    Struktur Kalimat yang abah contohkan ke anak abah berbeda strukturnya dengan struktur kalimat yang dipakai Ahok.

    Struktur kalimat yang dipakai Ahok, kalimat pasif… “dibohongin Almaida51” atau “dibohongin pakai almaidah51”..

    Jadi,

    Kalau misal abah kasoh contoh ke anak abah juga harus pakai kalimat pasif..

    Jafi bunyinya seperti ini.. “dimakan sendok” atau “dimakan pakai sendok”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s