Ibuku Sayang

Hari ini 20 April, genap 69 tahun usia Ibuku.

Namanya Mursinah, nama kecilnya Bayi, jadi lengkapnya: Bayi Mursinah. Jangan heran ya, di Menes memang banyak nama Bayi. Lha urang menes mah menyebut dirinya Orok Menes ;).

Dari rahimnya telah dilahirkan tiga orang doktor, dua master dan dua lainnya sarjana. Satu orang meninggal dunia semasa kuliah. Ini bukan soal menyombongkan, tapi memang inilah nilai yang dianut di keluarga kami. Pendidikan menjadi prioritas paling utama, diatas segalanya. Karena memang hanya pendidikan yang diberikan sebagai bekal, karena tak ada sawah, ladang ataupun perhiasan yang bisa diwariskan.

abah 1989
Tebak, saya yang mana? hintnya: awak sampayan 😉

Jadi ketika banyak orang meributkan peran Ibu, apakah dia seharusnya berada di rumah mengurus anak atau di kantor mencari nafkah, bagi kami ini debat yang sudah selesai sejak puluhan tahun lalu .

Mamah (begitu kami memanggilnya) menyandang peran ganda. Ia mengajar di SMP 2 Pandeglang sekaligus mengurusi kami, delapan anak-anaknya. Dan rasa-rasanya cukup berhasil di kedua bidang tersebut.

Ibu saya mencari nafkah karena memang tak mungkin penghasilan Apa (panggilan untuk almarhum Bapak saya) sebagai Guru di MAN Cihideung Pandeglang mencukupi. Apa dan Mamah memang punya niat kuat, anak-anaknya mesti jadi sarjana. Mamah hanya lulusan SMEA dan Apa berstatus DO dari IAIN Syarif Hidayatullah karena persoalan biaya.

Dulu, di rumah, walaupun tak ada TV berwarna, sepeda atau mainan yang ngehits, selalu ada majalah Panji Masyarakat, Intisari atau kadang-kadang Majalah Bobo yang bisa dibaca. Membaca di goah (bahasa sunda utk gudang) adalah kegiatan favorit saya  untuk melarikan diri dari perintah Apa bekerja di kebon.

Mamah juga tempat pelarian ketika Apa marah-marah. Mamah penyabar dan selalu berusaha memberikan pengertian. Mamah juga suka memujiku sebagai awak sampayan, ha ha.

Mamah bangun sebelum subuh, menyiapkan sarapan, bekerja ke sekolah, pulang lantas memasak atau beberes. Rambut panjang yang disisir serit nampaknya menjadi simbol kesabarannya. Karena itulah Ayal bercita-cita memberikan kado sisir untuk neneknya itu.

ultah

Kini Mamah sudah sepuh dan pensiun. Kegiatannya hanya mengaji, ke pengajian, nonton pengajian atau sinetron di TV, mengasuh cucu, ikan dan kucing-kucing di belakang rumah. Anak mantunya sudah beranak pinak, sedang belajar jadi orang.

Selamat ulang tahun dan tetap sehat ya…

 

DSC_0209

 

 

Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s