Jika Saya Menyetir

Saya selalu sibuk sendiri sebelum dan sesudah menyetir.

Bukan apa-apa, saya ndak bisa menyetir dalam keadaan beralas kaki, baik bersepatu maupun bersandal. Nggak sensitif gitu rasanya, khawatir kalau ngerem, ngegas dan ngopling. Maklum saya termasuk real men yang menggunakan three pedals, he he

real-men-use-three-pedals-600x600

Nah jadilah sebelum nyetir saya mesti buka sepatu, dan sesudah nyetir baru pake lagi sepatunya. Inilah rahasia kenapa saya paling suka sendal, karena memang praktis.

Yang repot kalau ke acara resmi atau ke kampus. Gak enak kalau sandalan, apalagi nenteng-nenteng sepatu 🙂

12915131_10154167379694015_538262685_o

 

Iklan

Blogger jadi Kaprodi

Tiga minggu sudah jadi kaprodi MAP.

Alhamdulillah, memiliki tim yang keren dan solid. Ya, gak butuh Superman di sini, butuhnya Superteam. He he, jadi inget masa-mas suka jadi motivator yang meracuni para audiens. Hadeuh.

Nah, masih berkaitan dengan dunia ngeblog.

Jadi ternyata belum ada Prodi S2 yang punya website. Bu Nia kabarnya menerima komplain dari mahasiswa, demikian juga Pak Riswanda yang mengajar E Government.

Saya sebagai blogger seriusan merasa malu.

Maka pake jurus eksekusi cepat. Saya minta Kang Mirza bikin surat ke Pusdainfo, minta domain. Sementara saya bikin website sementara pake wordpress, kalau dapet domain tinggal dimapping saja.

Alhamdulillah, besoknya gak sengaja ketemu Pak Adha, jadilah eksekusi berjalan cepat karena seninnya langsung dapet domain map.pasca.untirta.ac.id. Ternyata yang dikirim link cpanel. Wah jadilah mesti bikin ulang.

Beberapa hari termasuk akhir pekan mengotak-atik cpanel, belajar lagi dan memasukkan berbagai informasi.

Alhamdulillah, hasilnya walaupun ndak bagus, tapi cukup untuk menjadi sumber informasi bagi dosen, mahasiswa atau calon mahasiswa.

Nanti akan ada saatnya website ini dilaunching setelah mendapatkan sentuhan dan nasihat profesional. Lha kenapa ngaku kalau website dibikin sama Kaprodi? Biar kalau ada yang bilang website jelek, cukup saya yang disalahkan, he he

Mangga main-main ke map.pasca.untirta.ac.id

Screenshot 2016-03-26 11.30.21

 

 

Punya Meja Kerja

Ah, penting gitu?

Bagi saya penting banget.

Semejak jadi dosen tetap di tahun 2006, saya dua kali punya meja kerja. Pertama di tahun 2010-2012, saya punya meja kerja sebagai Kepala Lab Administrasi Negara di FISIP Untirta. Nah sekarang mulai bulan maret ini kembali punya meja kerja karena jadi Kaprodi Magister Administrasi Publik (MAP).

12422420_10154107542439015_1076950837_o (1)

Di sela-sela waktu itu saya tak punya meja. Mejanya bergiliran di ruang dosen: siapa cepat dia dapat.

Saya mensyukurinya dengan menumpuk buku di meja, maksudnya memaksimalkan guna meja untuk menulis dan membaca. Tapi bukunya numpuk, bacanya masih jarang. Eh malah bikin blog. Maksudnya sih website, cuma masih prototype dalam platform blog gratisan wordpress. nanti tinggal dicantolkan ke subdomain resminya. Sementara masih di https://mapuntirta.wordpress.com/.

Suruh siapa Blogger jadi Kaprodi 😉

Siklus Hidup

Enam bulan pertama pulang dari Jepun saya punya banyak waktu luang

Ya tentu saja melaksanakan kewajiban mengajar ke kampus. Namun tentu saja lebih punya waktu luang dibanding istri yang orang kantoran. Jadi di sela-sela mengerjakan pekerjaan yang bisa di rumah semacam membaca, menulis, mengoreksi dan menyiapkan bahan mengajar (lha di kampus waktu itu gak punya meja), jadilah saya memasak, menyapu, mencuci, menemani belajar dan mendongeng. Kebetulan di rumah memang juga tak ada asisten.

Screenshot 2016-03-05 10.38.43

Rasanya bangga misalnya ketika pisang goreng buatan abah habis diperebutkan teman-teman Ayal dan Ilham di sekolah. Atau logo ramu di baju pramuka yang aku jahit terpasang sempurna. Ketika temannya Ayal bertanya, “Siapa yang jahit?” Ayal menjawab, “Abahku, si bapak rumah tangga”.

Saya menikmati kehidupan domestik itu karena menyadari itu tak akan lama. Menghirup bau asem rambut ilham yang minta di-ut habis didongengi tentang Moni yang bertemu Jack The Ripper. Ah….

Betul saja, beberapa jam setelah dua pelantikan (baca dua tulisan sebelumnya) dunia publik langsung menyedotku.

Rapat, berbagai kegiatan dan pengambilan-pengambilan keputusan memaksaku keluar dari dunia domestik. Bisa pulang malam atau tak pulang dua tiga hari. Dan ini baru awal saja Man!

Tapi enam bulan memang kami siapkan untuk menyiapkan anak-anak: menggoreng telor, sholat pada waktunya, dan nggak berantem. Yang terakhir yang paling sulit !

 

 

Amanah di MAP

Berhasil itu bukanlah sampai ke posisi (baca: jabatan) tertentu. Tapi memberi nilai lebih bagi posisi tersebut ketika kita ada di sana.

***

Maka ketika saya dilantik yang kedua kalinya dalam seminggu saya lebih banyak tertegun sebenarnya. Nilai lebih apa yang bisa saya berikan ke dua posisi tersebut. Sebagai anggota DRD saya lebih banyak terikat aspek kelembagaan, menunggu terbentuknya struktur dan raker. Ya walaupun langsung bekerja juga, bisa dibaca di sini.

Sebagai Kaprodi MAP saya bergerak dalam diam, mikir kamsudnya. Saya langsung ke ruangan, mengobrol dengan Kang Mirza, apa kerja cepat yang bisa saya lakukan. Saya mencermati hasil raker (yang dilaksanakan sehari sebelum pelantikan) dan memeriksa daftar kegiatan 2016.

Hola, ada beberapa aktivitas yang bisa dieksekusi cantik, memberi nilai tambah terhadap MAP.

Ternyata semesta mendukung (mestakung) Sensei mengirim email akan ke Jakarta dan senang jika bisa ke kampus. Jadilah beliau akan menjadi pembicara dalam Studium generale tentang anti korupsi yang akan membuka perkuliahan MAP semester ini. Alhamdulillah.

Hal lain yang sedang kami (Saya, Bu Nia, dan Pak Mirza) bereskan adalah jadwal kuliah. Target kami zero complaint terhadap ketidakhadiran dosen. Saya berdiskusi satu persatu dengan para kolega, memastikan bahwa kami memiliki komitmen yang sama. InsyaAllah.

Banyak hal lain (akreditasi, semnas, dll) yang perlu dikerjakan, doakan berhasil !pelantikan2 map.jpg