Jangan buru-buru menuduh saya agen wahyudi atau remason ya sebelum membaca tulisan ini !

***

Salah satu alasan mengapa dosen di luar negeri bisa menghasilkan karya ilmiah berkualitas, adalah berbagai kebijakan yang serba mendukung. Penghasilan cukup, ruang kerja yang nyaman, dana riset memadai, dan akses ke pustaka mutakhir (bahkan bisa request).

Nah satu hal yang juga lazim adalah sabbatical. Sabbatical atau lengkapnya sabbatical leave adalah kebijakan cuti, meninggalkan tugas akademik dan administratif dalam satu kurun tertentu untuk kepentingan riset atau menulis karya akademik dengan tetap mendapatkan penghasilan dari intitusi tempatnya bekerja.

Seorang kawan misalnya, peneliti Islam asal Jepun selama setahun ini berada di Indonesia. Ia tinggal di Jakarta dan beberapa kota lain untuk mengumpulkan data dan menulis hasil penelitiannya terdahulu.

Nah karena cukup waktu dan dana, biasanya peneliti yang sehabis sabbatical menghasilkan riset-riset yang menarik dan berkualitas.

Seperti judul tulisan ini, apakah sabbatical leave diatur bagi dosen di Indonesia?

Ada sodara-sodara.

Silahkan simak pasal 32 PP37 tentang Dosen Screenshot 2015-11-03 10.01.40

Nah, tinggal bagaimana Dikti dan kampus tentunya membuat aturan lebih lanjut. Atau kalau sudah ada tolong beri tahu saya di kolom komentar, soalnya Sensei menawarkan menulis buku di kampus tempat saya sekolah dulu 🙂

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s